Sabtu, 26 Agustus 2017

When You Take a Bath

Di masa lalu, saya pernah beberapa kali menulis artikel disorientatif yang temanya adalah mandi. Namun jika ditelisik lebih jauh sebenarnya tema mandi bukanlah hal yang terlalu urgent untuk dibahas karena hampir semua orang yang pernah mendengarkan penyuluhan sanitasi, sudah mempraktikan ritual mandi tanpa pernah sekalipun menemui rintangan ataupun ujian yang berat ketika melakukannya. Memangnya siapa sih orang yang ketika mandi tiba-tiba harus menghadapi ujian berupa soal matematika yang isinya rumus integral dan diferensial. Bahkan Isaac Newton yang menjadi teladan di dunia matematika tidak pernah bertemu hal macam itu. Kalau ada yang tiba-tiba bertanya, "Kok bisa tahu tentang urusan mandi Newton sih?"(meskipun rasanya mustahil akan ada orang yang mengajukan pertanyaan konyol seperti ini) Jawabannya sih simpel, dari hasil baca buku (semoga ini bukan congkak terselubung). Hal incredible seperti mengerjakan ujian matematika ketika sedang mandi semestinya dicatat dalam buku-buku biografi Newton, tapi  sejak masih muda dulu, saya tidak pernah menemukan adanya catatan mengenai hal ini. Paling banter sih catatan anekdot tentang bagaimana apel bisa menjadi inspirasi teori gravitasi Newton atau tentang kontroversi kalkulus Newton-Leibniz.
Mungkin dulu saya bukanlah seorang penganjur mandi teratur karena saya selalu menganggap mandi teratur hanyalah suatu cara yang tidak efektif dalam memanfaatkan air. Namun setelah beberapa tahun menjalani kehidupan dengan mandi teratur, saya menyadari bahwa ternyata tiap kali selesai mandi, bad mood tiba-tiba bisa sedikit berkurang. Dan saya semakin yakin dengan efek tersebut setelah membaca beberapa penelitian mengenai hydrotherapy. Sejak zaman dulu, air sudah digunakan oleh manusia sebagai media terapi dan mandi merupakan salah satu metode untuk melakukan hydroterapi. Untuk sementara itu saja dulu perkara mandi yang akan saya bahas di blog ini guna mengisi kekosongan.

Blog ini sudah terlalu lama tidak diupdate.

Sabtu, 10 Juni 2017

Chekovesque

Kembali ke modernitas sepertinya telah menciptakan suatu fraktur psikologis dalam diriku. Dua tahunku yang penuh kedamaian, tanpa kebisingan dan huru-hara yang menyibukkan, tiba-tiba saja hancur berkeping - keping seperti cermin yang bertemu godam tatkala kakiku menjejak Bandara Soekarno Hatta. Pandanganku teralihkan oleh semua orang yang nampak terburu-buru mengejar sesuatu yang tak mampu kupahami. Hilir mudik para penumpang pesawat dengan berbagai aneka busana dan koper serta dentingan bermacam-macam notifikasi dari smartphone yang membahana di seluruh penjuru bandara membuatku benar - benar terbangun dari tidur panjang yang kubawa dari Pulau Ndao.
Mungkin hal seperti ini juga dirasakan oleh Anton Chekov begitu keluar dari Pulau Sakhalin di abad ke-19. Saat itu Chekov memang belum punya smartphone android, paket data internet, akun Facebook, maupun Twitter namun hal itu tidak membuatnya terbebas dari cultural shock yang terlihat sangat jelas begitu dia kembali ke dunia asalnya. Sakhalin adalah dunia yang betul-betul berbeda bagi Chekov, seperti halnya Ndao untukku. Di sana Chekov mewawancarai semua narapidana Russia dan warga pribumi Sakhalin yang hidup berdampingan tanpa perdamaian karena kekerasan, pelacuran anak, pembantaian, dan berbagai bentuk dosa dunia yang ada dalam kitab injil, dapat ditemukan di sana. Untungnya saat di Pulau Ndao saya justru menemukan sepotong surga karena tak ada yang namanya pelacuran, pembantaian, dan pembunuhan. Semua orang hidup berdampingan dalam harmoni, saling tolong menolong dan peduli satu sama lain. Dan yang terpenting, ikan murah atau malah gratis bisa didapat dengan mudah.
Setelah Chekov kembali, dia berubah. Karya-karyanya pasca-Sakhalin cenderung lebih gelap dan tragis.
Saya sendiri belum tahu perubahan apa yang akan dibawa oleh Pulau Ndao pada kehidupanku di tempat yang baru. Saya berharap itu tak gelap seperti yang dirasakan oleh Chekov yang hidup ketika antibiotik dan smartphone belum terpikirkan oleh manusia.

Jumat, 02 Juni 2017

Day 1: TOEFL

Hari ini saya membeli buku latihan TOEFL karena saya merasa sudah saatnya untuk mengasah otakku yang mengalami penumpulan sejak berada di Samudera Hindia.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut