Sabtu, 10 Juni 2017

Chekovesque

Kembali ke modernitas sepertinya telah menciptakan suatu fraktur psikologis dalam diriku. Dua tahunku yang penuh kedamaian, tanpa kebisingan dan huru-hara yang menyibukkan, tiba-tiba saja hancur berkeping - keping seperti cermin yang bertemu godam tatkala kakiku menjejak Bandara Soekarno Hatta. Pandanganku teralihkan oleh semua orang yang nampak terburu-buru mengejar sesuatu yang tak mampu kupahami. Hilir mudik para penumpang pesawat dengan berbagai aneka busana dan koper serta dentingan bermacam-macam notifikasi dari smartphone yang membahana di seluruh penjuru bandara membuatku benar - benar terbangun dari tidur panjang yang kubawa dari Pulau Ndao.
Mungkin hal seperti ini juga dirasakan oleh Anton Chekov begitu keluar dari Pulau Sakhalin di abad ke-19. Saat itu Chekov memang belum punya smartphone android, paket data internet, akun Facebook, maupun Twitter namun hal itu tidak membuatnya terbebas dari cultural shock yang terlihat sangat jelas begitu dia kembali ke dunia asalnya. Sakhalin adalah dunia yang betul-betul berbeda bagi Chekov, seperti halnya Ndao untukku. Di sana Chekov mewawancarai semua narapidana Russia dan warga pribumi Sakhalin yang hidup berdampingan tanpa perdamaian karena kekerasan, pelacuran anak, pembantaian, dan berbagai bentuk dosa dunia yang ada dalam kitab injil, dapat ditemukan di sana. Untungnya saat di Pulau Ndao saya justru menemukan sepotong surga karena tak ada yang namanya pelacuran, pembantaian, dan pembunuhan. Semua orang hidup berdampingan dalam harmoni, saling tolong menolong dan peduli satu sama lain. Dan yang terpenting, ikan murah atau malah gratis bisa didapat dengan mudah.
Setelah Chekov kembali, dia berubah. Karya-karyanya pasca-Sakhalin cenderung lebih gelap dan tragis.
Saya sendiri belum tahu perubahan apa yang akan dibawa oleh Pulau Ndao pada kehidupanku di tempat yang baru. Saya berharap itu tak gelap seperti yang dirasakan oleh Chekov yang hidup ketika antibiotik dan smartphone belum terpikirkan oleh manusia.

Jumat, 02 Juni 2017

Day 1: TOEFL

Hari ini saya membeli buku latihan TOEFL karena saya merasa sudah saatnya untuk mengasah otakku yang mengalami penumpulan sejak berada di Samudera Hindia.

Rabu, 10 Mei 2017

Rabu, 10 Mei 2017: Mengisi Kekosongan

5 Mei 2017, sekelompok anak SMA yang baru saja merayakan kelulusan berencana liburan di Pulau Ndao. Mereka bersepuluh datang hanya dengan menggunakan sebuah perahu kayu kecil tanpa tahu kondisi arus laut Ndao yang sedang ganas-ganasnya. Perahu tersebut dikemudikan oleh teman mereka sendiri yang belum pernah sekalipun datang ke Ndao. Mungkin dia berpikir kalau laut di semua tempat sama saja, hanya ada basah dan gelombang. Pukul 10.40 sebuah ombak besar menghantam dan langsung membalikkan perahu mereka. Sekitar pukul 14.00 salah satu dari mereka berhasil berenang mencapai pulau Ndao lalu meminta tolong warga. Penduduk pun langsung melakukan pencarian 9 siswa yang masih belum diketahui nasibnya.

Pukul 15.30, Kepala Puskesmas (Kapus) mengetuk pintu kamarku. Saat itu, saya sedang makan siang yang dijamak juga sebagai makan malam, dengan tujuan diet dan sekaligus menghemat logistik karena di cuaca buruk seperti saat ini bahan makanan seperti sayur, buah, dan ikan sulit untuk ditemukan oleh sebab penduduk takut melaut. Kepala Puskesmas mengabarkan bahwa ada tujuh korban perahu karam yang sedang dievakuasi di Pos Polisi dan meminta bantuan padaku untuk melihat kondisi mereka. Sebenarnya dalam kondisi normal, semua korban perahu tenggelam harus dirawat di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit atau minimal Puskesmas seperti yang menjadi tempatku bertugas saat ini. Namun situasi kerja di Puskesmas Ndao tidak pernah bisa dikatakan normal karena saat Pak Kapus mengetuk pintuku, ada seorang ibu hamil yang sedang berjuang untuk meningkatkan statusnya menjadi ibu nifas dengan bantuan bidan di ruang bersalin yang juga punya fungsi rangkap sebagai ruang rawat inap (ranap) dan unit gawat darurat (UGD). Secara matematis, tujuh korban perahu tenggelam tidak akan muat ditampung di ruang bersalin-rawat inap-UGD yang sedang berpenghuni. Apalagi sudah menjadi tradisi di Pulau Ndao, jika ada orang yang melahirkan atau rawat inap, maka pengunjungnya bukan satu-dua orang saja, tapi satu sampai empat desa sekaligus yang datang membesuk, seolah-olah pasien ranap, UGD, dan bersalin adalah sebuah pertandingan sepakbola antara Barcelona vs Real Madrid.

Saat sampai di Pos Polisi, penduduk sudah berjubel memenuhi setiap ruang kosong yang ada di tempat itu hingga nyaris tak ada tempat untuk lewat. Para korban tenggelam tampak duduk sambil berselimut di teras pos polisi dan warga Ndao duduk di depan mereka bersusun-susun memandangi para korban ibaratnya anak kecil yang sedang menanti pesulap mengeluarkan burung dari topi. Melihat mereka duduk begitu saya bersyukur, itu artinya kondisi mereka sudah tidak terlalu kritis. Setelah memeriksa mereka dan tidak menemukan masalah medis yang kritis, saya pun langsung meminta tolong pada warga untuk menyediakan pakaian ganti, minuman dan bubur hangat untuk mereka karena mereka sudah terombang-ambing di lautan lebih dari 2 jam yang dapat berakibat pada hipotermia. Untungnya warga cukup sigap dengan permintaan seperti itu. Mereka langsung menyediakan semua hal tersebut sekaligus menyediakan tempat tinggal dan akomodasi lainnya untuk para korban tanpa sekalipun meminta bayaran. Tampaknya rasa kepedulian orang-orang di Ndao masih lumayan tinggi.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut