Jumat, 19 Agustus 2016

Death's

Dua bulan terakhir di tahun ini merupakan periode yang saya anggap paling intens dalam kehidupanku selama dua dasawarsa terakhir. Kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti mengisi relung jiwaku dalam interval yang sangat singkat. Jika saya menuruti apa yang perasaanku inginkan, mengikuti semua fluktuasi mood dengan segenap jiwa dan raga, dapat dipastikan hingga saat ini saya sedang lumpuh, tenggelam dalam gelombang histeria yang mematikan. Sempat selama beberapa hari saya memang kelimpungan, disibukkan dengan pertanyaan, "mengapa harus saya, mengapa harus sekarang?" Sampai akhirnya saya lelah bertanya tanpa menemukan jawaban. Dan di momen itu saya memutuskan untuk mematikan saklar perasaan lalu berjalan sepenuhnya dengan hanya mengandalkan logika. Saat itu terjadi, saya memang berhasil mengusir kesedihan dan melanjutkan lagi hidupku seolah-olah tak ada apa-apa namun sebagai gantinya, saya menjadi manusia yang tanpa sejarah dan memori emosional. Tapi saya tidak peduli lagi. Siapa yang butuh memori jika itu hanya melahirkan kesedihan.

Entah mengapa manusia harus hidup dengan bergelimpangan kesedihan dan kematian, sejak dalam kandungan hingga berusia lanjut. Napas yang dihirup maupun makanan yang ditelan, semuanya itu dilakukan hanya untuk membuat manusia merasakan kesedihan yang lebih lama di dunia. Meskipun kelahiran dan kematian datang secara bergantian dalam kehidupan ini, mengapa saya selalu merasa jika pada akhirnya kematian lah yang akan menang?

Minggu, 14 Agustus 2016

Tied Writing

Sudah lama tak menulis. Rasanya otak ini tidak lagi terbiasa dengan aksara dan semantik.

Senin, 25 Juli 2016

Karbon Dioksida

Ketika senyawa karbon dioksida pertama kali berhasil diisolasi di laboratorium untuk pertama kalinya di tahun 1754, para kimiawan sungguh berbahagia. Hal tersebut dianggap sebagai suatu pencapaian ilmu pengetahuan yang luar biasa karena karbon dioksida adalah sebuah senyawa yang dapat ditemukan di manapun di muka bumi ini, sudah ada sejak zaman dulu kala bahkan mungkin ketika manusia belum ada di muka bumi ini karbon dioksida sudah terlebih dahulu menari-nari di atmosfer, berpindah dari satu tanaman ke tanaman lain dalam proses fotosintesis dan respirasi tetapi selama ribuan tahun setelah terhembus dari paru-paru Adam, Firaun, Cleopatra, Caesar, Nabi Muhammad, dan Genghis Khan, karbon dioksida tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang penting. Mungkin sudah menjadi takdir manusia untuk terlambat mengetahui signifikansi suatu objek atau malah justru meng-overestimate suatu objek, seperti yang pernah terjadi pada aluminum yang dulunya pernah dianggap lebih berharga dari emas lalu yang terbaru adalah pada kasus batu akik yang dulu saking signifikannya sampai harganya mencapai milyaran namun kini diobral seperti permen karena tak lagi dianggap signifikan.

Kamis, 30 Juni 2016

Selamat Jalan

Tak ada kata yang dapat mengungkapkan betapa mendalamnya kesedihan yang kurasakan saat ini.
Terimakasih atas kasih sayang dan perhatianmu kepadaku selama 26 tahun terakhir. Maafkan aku yang tak bisa membalasnya ketika kita masih berada di dimensi ruang waktu yang sama.
Aku akan berusaha untuk menjadi orang baik seperti yang selalu engkau sampaikan lewat pesan-pesanmu.
Selamat jalan, Ayah.

Kamis, 26 Mei 2016

Potato Chip

Setelah mencoba beberapa jenis potato chip, yang saya rasa sangat cocok dengan seleraku adalah Chitato.
Di masa depan, kecocokan selera ini mungkin bisa berubah karena berbagai faktor. Tapi untuk sementara ini, saya ingin menikmati dulu momen yang ada.

Rabu, 11 Mei 2016

Incidentally Back

Di awal 2016, saya memutuskan untuk tidak lagi menggunakan Facebook. Saya menganggap Facebook telah menjadi sejenis diktator saat perusahaan dari Silicone Valley tersebut menggunakan algoritma yang dapat memanipulasi perilaku penggunanya lewat Newsfeed. Hanya dengan mengetik beberapa kode, Zuckerberg dan koleganya dapat menentukan siapa yang bisa menjadi presiden di sebuah negara. Dan itu adalah hal yang menakutkan.

Selama berbulan-bulan tak menggunakan Facebook, saya merasa hidupku baik-baik saja. Malahan saya telah mengkonversi semua waktu yang dulunya kupakai untuk melihat Newsfeed ke kegiatan lain seperti belajar berenang, membaca Dostoevsky, dan memainkan salah satu Game Action RPG yang saya anggap paling sulit di PSP, Monster Hunter. Memang sih semua kegiatan itu tak menghasilkan uang sama sekali tapi setidaknya ada kepuasan yang sulit dinilai dengan uang ketika setelah berkali-kali percobaan akhirnya bisa juga berenang di Samudera Hindia tanpa alat bantu meskipun hanya sejauh 10 meter, saat saya mulai memaklumi apa yang dipikirkan Dostoevsky ketika menulis bahwa di neraka pastilah ada langit-langit agar penjaga neraka dapat mengikat tali untuk menggantung para pendosa, ataupun ketika saya berhasil mengalahkan monster Khezu dan Blangonga yang menjengkelkan. Pencapaian-pencapaian seperti itu tidak akan pernah bisa diliput ataupun dirayakan seperti yang dilakukan oleh dunia pada klub sepakbola Leicester City yang berhasil menjadi juara Liga Inggris dengan probabilitas 5000:1, sebuah probabilitas matematis yang semestinya mustahil tercapai di alam nyata.

Setelah beberapa bulan bebas dari adiksi Facebook, kemarin saya sempat mengintip lagi Facebook karena game Champ Man 16 memaksaku untuk melakukannya. Saya install lagi Facebook Lite, log in, lalu melihat timeline dan saya pun mengalami momen sureal selama beberapa menit. Saya seperti tak mengenali lagi Facebook. Tak mengenal bukannya karena ada perubahan warna tema ataupun desain pada medsos buatan Zuckerberg tapi merasa asing pada semua postingan yang disharing oleh semua "teman" Facebook-ku. Saya seperti tak mengenali lagi mereka. Mungkin saya terlalu lama di pedalaman hingga tak lagi mengenal modernisasi.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...