Jumat, 18 November 2016

War

Lelah rasanya melihat timeline media sosial dan media konvensional dalam satu bulan terakhir, temanya hanya mengorbit pada dua nama, Donald Trump dan Ahok. Terus terang saya sebenarnya tidak peduli dengan semua persoalan yang saat ini terkait dengan kedua orang tersebut. Kalaupun saya peduli, apa yang bisa saya lakukan untuk kedua orang tersebut? Donald Trump sudah terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat, yang mana itu bukanlah negaraku dan Ahok adalah kandidat Gubernur Jakarta, yang juga bukanlah daerah pemilihanku. Jadi mau bagaimana lagi? Terpilihnya Trump mungkin akan memicu timbulnya perang dunia ketiga dan terpilihnya atau tidak terpilihnya Ahok mungkin akan memicu kemarahan partisan bahkan mungkin perang antar-golongan, kalau hanya daerah Jakarta saja yang perang, mungkin daerah lain bisa turut prihatin saja namun perang antar-golongan jarang terlokalisasi kadang merembet hingga ke daerah lain, dan tentu saja itu berbahaya. Tapi sekali lagi, apakah saya memiliki kuasa untuk mengubah semua hal tersebut? Tak ada yang bisa dilakukan. Saya hanya bisa diam saja dan tidak memperkeruh suasana dengan membuat status-status media sosial yang menyudutkan kelompok-kelompok tertentu.
Dengan semua sejarah yang panjang mengenai betapa buruknya konflik partisan dan perang terhadap umat manusia, saya sungguh tidak mengerti mengapa begitu banyak manusia zaman sekarang yang masih terlihat begitu mendambakan peperangan.
Manusia memang mahluk yang aneh. Begitu kedamaian datang, mereka menginginkan perang namun saat perang terjadi, mereka merindukan kedamaian.
Belum sampai 100 tahun bumi terlepas dari perang besar antara Tentara Sekutu versus Jerman-Jepang-Italia-Turki, kini manusia sedang dalam perjalanan untuk menuju peperangan yang baru. Saat itu, Jerman dkk. kalah perang, sehingga mereka yang jadi penjahatnya. Dunia mungkin akan berbeda jika tentara sekutu yang kalah. Tujuh puluh tahun yang lalu hanya Amerika Serikat yang memiliki nuklir, kini sudah banyak negara yang memilikinya. Jika perang dunia terjadi lagi, mungkin takkan ada lagi yang tersisa bagi para pemenang perang.

War

Lelah rasanya melihat timeline media sosial dan media konvensional dalam satu bulan terakhir, temanya hanya mengorbit pada dua nama, Donald Trump dan Ahok. Terus terang saya sebenarnya tidak peduli dengan semua persoalan yang saat ini terkait dengan kedua orang tersebut. Kalaupun saya peduli, apa yang bisa saya lakukan untuk kedua orang tersebut? Donald Trump sudah terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat, yang mana itu bukanlah negaraku dan Ahok adalah kandidat Gubernur Jakarta, yang juga bukanlah daerah pemilihanku. Jadi mau bagaimana lagi? Terpilihnya Trump mungkin akan memicu timbulnya perang dunia ketiga dan terpilihnya atau tidak terpilihnya Ahok mungkin akan memicu kemarahan partisan bahkan mungkin perang antar-golongan, kalau hanya daerah Jakarta saja yang perang, mungkin daerah lain bisa turut prihatin saja namun perang antar-golongan jarang terlokalisasi kadang merembet hingga ke daerah lain, dan tentu saja itu berbahaya. Tapi sekali lagi, apakah saya memiliki kuasa untuk mengubah semua hal tersebut? Tak ada yang bisa dilakukan. Saya hanya bisa diam saja dan tidak memperkeruh suasana dengan membuat status-status media sosial yang menyudutkan kelompok-kelompok tertentu.
Dengan semua sejarah yang panjang mengenai betapa buruknya konflik partisan dan perang terhadap umat manusia, saya sungguh tidak mengerti mengapa begitu banyak manusia zaman sekarang yang masih terlihat begitu mendambakan peperangan.
Manusia memang mahluk yang aneh. Begitu kedamaian datang, mereka menginginkan perang namun saat perang terjadi, mereka merindukan kedamaian.
Belum sampai 100 tahun bumi terlepas dari perang besar antara Tentara Sekutu versus Jerman-Jepang-Italia-Turki, kini manusia sedang dalam perjalanan untuk menuju peperangan yang baru. Saat itu, Jerman dkk. kalah perang, sehingga mereka yang jadi penjahatnya. Dunia mungkin akan berbeda jika tentara sekutu yang kalah. Tujuh puluh tahun yang lalu hanya Amerika Serikat yang memiliki nuklir, kini sudah banyak negara yang memilikinya. Jika perang dunia terjadi lagi, mungkin takkan ada lagi yang tersisa bagi para pemenang perang.

Sabtu, 12 November 2016

Semuanya

Apa yang akan kamu lakukan dengan hidupmu?
Saya tidak tahu dengan orang lain, tapi saya menganggap jika itu pertanyaan yang masuk dalam kategori sangat sulit. Mungkin hal itu setara dengan pertanyaan, bagaimana cara mengawinkan teori relativitas dengan teori mekanika kuantum? Sampai sekarang saya belum menemukan jawabannya. Mungkin ini terdengar aneh, mengapa seorang manusia yang telah berusia dua puluh enam tahun belum mengetahui apa yang harus dilakukan dengan hidupnya. Tapi sejujurnya, saya benar-benar tidak mengerti dengan kehidupan ini. Tak ada yang pernah memberikan contekan ataupun petunjuk spesifik mengenai harus apa, mengapa, dan bagaimana saya harus menjalani hidupku atau harus dengan siapa dan di mana aku harus hidup? Saya pernah berharap seorang kakek tua tiba-tiba turun dari langit, menemuiku, lalu berkata, "Hai Nak, kamu harus melakukan hal ini dalam hidupmu di tahun depan bersama Si Anu di sana dan di situ dengan cara begini karena sudah seharusnya seperti begitu adanya. Jalanilah takdirmu, Nak." Tapi kemudian saya sadar tayangan televisi dan bacaan fiksi telah mendistorsi realitas dan fantasiku sehingga secara acak otakku merasionalisasi hal-hal yang bersifat mustahil. Tak ada sesuatu berwujud kakek tua yang hidup di langit, maksudku, apa yang dilakukan seorang kakek tua di langit, tidakkah dia butuh makan seperti kakek-kakek lainnya yang hidup di daratan, kalaupun dia makan, kira-kira dia makan apa di sana? Kehidupan nyata tidaklah seperti lakon Star Wars, di mana tiap orang adalah Luke Skywalker yang memiliki Obi Wan Kenobi-nya sendiri yang dapat menunjukkan jalan untuk menjadi seorang Jedi.

Jumat, 04 November 2016

Tua

Saya melihat orang-orang di sekitarku mengalami penuaan. Yang paling nampak terlihat adalah ibuku. Mungkin karena sebelum kuliah saya jadi anak rumahan yang tidak pernah ke mana-mana, tiap hari yang dilihat adalah bapak dan ibu, lalu tiba-tiba saja selama 9 tahun terakhir saya jadi petualang yang tak tentu arah, kuliah di Makassar lalu bekerja di Kalimantan Selatan, Jakarta, dan kini Nusa Tenggara Timur, sehingga ketika bertemu kembali tanda-tanda penuaan terlihat jelas di wajah ibuku. Saya nyaris tak dapat mengenalinya. Kantong mata yang semakin membesar karena kolagen yang mengendor dan kerutan yang semakin banyak adalah beberapa perubahan yang paling nampak kasat mata. Seandainya saya lebih sering berada di rumah, transformasi tersebut mungkin sulit kuperhatikan karena proses habituasi. Pamanku, bibiku, tetanggaku, termasuk Jokowi yang jauh di sana juga kelihatan mulai menua. Mereka semua menua dengan cara yang sama. Alami, terstandarisasi, sesuai dengan asas mortalitas gen. Telomer yang berada dalam sel mereka sudah lelah karena terus-menerus dipotong terus oleh enzim telomerase lalu hal ini diperparah oleh akumulasi radikal bebas serta kerusakan jaringan yang ditimbulkan oleh berbagai faktor eksternal seperti sinar matahari, bakteri, virus, hingga oksigen. Bahkan elemen yang kita hirup sehari-hari untuk bertahan hidup sejak masa neonatal turut berkonspirasi agar manusia tak awet muda. Manusia paling tua di dunia yang tercatat dalam sejarah dipanggil ajal ketika berusia 122 tahun, dan itu terjadi sekitar dua puluh tahun yang lalu. Sampai sekarang, belum ada manusia yang melewati limit tersebut, kebanyakan manusia mati sebelum usia 70 tahun, bahkan untuk tempat-tempat tertentu seperti Papua, mereka lebih banyak mati sejak dalam kandungan karena akses kesehatan yang buruk.

Di tempatku bertugas saat ini, Ndao, saya banyak bertemu orang berusia lanjut. Mereka terlihat bahagia di usia tua mungkin karena tidak terlalu banyak stressor yang mereka temui di pulau ini. Meskipun tak ada uang, mereka masih bisa hidup dengan cukup layak. Jika tak ada rumah, mereka bisa menebang pohon lalu membuat rumah bebak. Jika tak ada pakaian, mereka dapat menenunnya sendiri. Bila tak ada makanan, mereka memanjat pohon lontar untuk diambil niranya. Satu jergen nira bisa menjadi sumber karbohidrat selama satu bulan. Bila ingin protein, mereka bisa ke laut untuk mencari ikan dan kerang. Alam telah menyediakan semua kebutuhan primer untuk masyarakat di sini. Yang perlu mereka lakukan hanyalah menyatu dengan alam untuk mencarinya. Setelah melihat cara hidup orang-orang di sini, saya jadi berpikir tentang kehidupan orang di kota, yang semua hal membutuhkan uang, yang perlu kita lakukan sebetulnya sama persis dengan yang dilakukan oleh orang di Ndao, yakni mencarinya. Tapi entah mengapa saya merasa jika kehidupan di kota terasa lebih berat jika dibandingkan dengan kehidupan di Ndao. Mungkinkah iklim kompetisi yang ketat dan terbatasnya sumber daya menjadi penyebabnya? Saya juga tidak mengerti. Beratnya hidup di kota betul - betul terasa ketika angkot yang saya tumpangi terjebak macet selama dua jam lalu gerombolan pengamen dan pengemis silih berganti naik ke angkot yang tidak beranjak ke mana-mana untuk mencari nafkah. Beberapa dari mereka masih sopan meminta dan ini tak jadi soal, namun ada juga yang memaksa bahkan mulai mendekati definisi mengancam, yang mana hal ini secara otomatis langsung membuat jengkel hati yang sebelumnya sudah terlanjur terluka oleh buruknya lalu lintas. Saya sulit membayangkan jika harus menghabiskan sisa hidup hanya untuk merasakan pengalaman menjengkelkan seperti itu setiap hari. Mungkin hal inilah yang menjadi pemicu mengapa banyak orang lebih memilih untuk memiliki mobil sendiri meskipun harus bayar kredit selama 20 tahun. Memang hal ini tidak menuntaskan masalah macet malah sebenarnya makin memperburuknya tapi setidaknya saat macet menyerang, mereka tidak harus merasakan secara langsung proses pemerasan halus yang berkedok pengamen dan pengemis. Yang para pemilik mobil pribadi perlu lakukan selama kemacetan hanyalah memastikan AC mobil berfungsi agar tidak kepanasan dalam penantian dan menaikkan kaca jendela supaya ademnya awet lalu pura-pura tidak melihat pada semua pengamen dan pengemis yang mengintai di titik - titik lampu merah.

Setelah beberapa tahun hidup di kota Makassar yang sarana dan prasaranya begitu komplit lalu kini bertugas di sebuah pulau kecil di Samudera Hindia yang sangat kontras kondisinya, saya merasa kalau sebuah kota tidaklah didirikan untuk menjadi tempat hidup orang - orang miskin. Bangunan - bangunan menjulang yang mengisi setiap ruang kota yang harga sewanya begitu mahal untuk pekerja dengan gaji UMR dan jalan - jalan lebar yang berada di sela - selanya yang tidak diperuntukkan bagi para pejalan kaki yang tak sanggup membeli kendaraan sendiri, terasa begitu sempit secara psikologis meskipun sebenarnya itu semua adalah megastruktur.

Keluhan-keluhan seperti ini memang takkan pernah bisa mengubah realitas yang ada. Pada akhirnya kehidupan akan terus berjalan dan kehidupan sudah pasti menua lalu kerutan wajah, uban, dan berbagai jenis penyakit degeneratif seperti diabetes, katarak, dan osteoarthritis akan memberitahukan bahwa masa penderitaan manusia di dunia suatu hari nanti akan berakhir. Pastilah aneh jika ada manusia yang menua dengan cara berbeda seperti yang terjadi di film Curious Case of Benjamin Button atau malah mereka tidak menua sama sekali seperti halnya yang dialami oleh tokoh di film Age of Adaline. Saya merasa jika penuaan adalah hal yang menakutkan. Perlahan-lahan semua kekuatan dan kesehatan yang menjadi kebanggaan masa muda memudar hingga nyaris tak bersisa. Beberapa orang yang saya sering temui saat masih kecil seperti tukang bakso di depan rumah sakit, guru kimia di SMA, atau aci-aci pemilik toko dekat pelabuhan, sudah tak bisa lagi kukenal karena tubuh mereka yang dulu muda dan penuh vitalitas kini dihiasi oleh alopesia androgenik, hiperpigmentasi senilis, pengendoran kolagen, dan kerutan. Mereka semua mulai mendekati Hayflick limit, sel-sel mereka tak mampu lagi membelah diri.

Selasa, 04 Oktober 2016

Writer's block

Nasib seorang penulis amatir yang kehilangan inspirasi menulis mungkin tidaklah lebih buruk dari seorang Napoleon yang kehilangan harga diri di pertempuran Waterloo. Meskipun sebenarnya kedua hal tersebut tidak dapat dikomparasikan. Seorang penulis amatir tidak harus bertanggung jawab menghantarkan 25.000 jiwa ke liang lahat serta tak mesti melepaskan sebuah kekaisaran hanya karena tak mampu menghasilkan suatu karya, tidak halnya dengan seorang Napoleon yang harus diasingkan ke Santa Helena. Kekalahan di Waterloo menjadi awal nadir Sang Kaisar karena akhir dari perang yang terjadi di tanggal 18 Juni 1815 tersebut, secara resmi kejayaan Napoleon ikut berakhir, Eropa memasuki masa yang relatif damai selama 40 tahun. Memang sih, Napoleon tidak sampai dihukum mati oleh Duke Wellington dan koalisinya tapi kekalahan tersebut memaksanya untuk menyerahkan tahta kepada Louis XVIII. Penulis amatir tak punya tahta dan pasukan, he has nothing except his own life.

Sheading

Dulu saya selalu berpikir bahwa kematian seseorang tidak akan terlalu berpengaruh pada kehidupan orang-orang yang masih menghirup oksigen di muka bumi karena pada akhirnya mereka yang hidup akan tetap menjalani hari-harinya seperti biasa, makan nasi, beli pulsa, internetan, dan hal trivial lainnya tanpa ada konsekuensi psikologis dan sosiologis yang menyertainya. Mungkin kesedihan ataupun kedukaan akan sempat bergelayut di sanubari orang-orang yang hidup namun itu semua akan berlalu seperti pusaran debu yang tersapu oleh hujan di bulan Desember begitu kebahagiaan-kebahagiaan baru satu persatu datang memasuki ruang emosi. Saya sempat menganggap jika kebahagiaan dan kesedihan menyerupai formula penjumlahan dan pengurangan. Jika dua jenis kebahagiaan dan satu jenis kesedihan datang menyapamu dalam sehari, itu artinya hari itu kamu sedang berbahagia. Begitu pula sebaliknya, jika dua kesedihan datang lalu diikuti oleh satu kebahagiaan, efek bersihnya adalah hari itu kamu akan merasakan kesedihan.

Tapi ternyata, emosi manusia tak sesederhana itu. Saya selalu berharap agar emosi dapat sederhana seperti sebuah persamanaan matematika namun nampaknya itu hanyalah sebuah harapan kosong. Kesedihan yang diakibatkan oleh kehilangan seseorang yang sangat dekat secara emosional dan personal sangatlah sulit untuk terhapuskan oleh luapan kebahagiaan, sebagaimanapun banyaknya banjir tawa yang menyertainya. Beberapa saat mungkin kesedihan itu dapat terlupakan tapi itu hanya sejenak. Seringkali kesedihan tiba-tiba saja menyeruak ketika momen kebersamaan di masa lalu telintas entah itu saat makan, berbaring, duduk di kendaraan, bahkan saat tidur pun, kesedihan kadang datang dalam bentuk mimpi. Mungkin secara evolusi, manusia memang didesain untuk bersedih. Entah di mana fungsi bertahan hidup pada air mata yang mengalir dan rasa sesak di dada yang terjadi saat kesedihan melanda.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...