Kamis, 31 Desember 2009

Push Up

Kita tidak butuh bulan untuk bisa menikmati malam ini. Hanya kesadaran yang kita butuhkan saat ini. Karena memangnya apalagi hal paling menyenangkan di dunia ini selain sadar bahwa saat ini saya sedang push up di hitungan ke-50, sambil terus mendengar ocehan seorang sahabat yang sedang gelisah karena tidak juga mendapat pacar.

Saya sudah katakan padanya, tidak perlu memikirkan hal seperti itu terlalu lama kalau hanya membuat pikiranmu rusak. Tapi nampaknya, teman gelisahku ini tidak mau mendengarkan nasehat dari temannya yang mau-mau saja meladeni pembicaraan tidak penting saat sedang beraktifitas fisik berat. Aku memikirkan ini pada hitungan ke-62, otot bisepku terpelintir dan temanku masih persisten dengan curahan hatinya. Teman yang tak tahu keadaan. Mungkin saya harus mengatakan apa yang saat ini terlintas dipikiranku, "ke laut aja lu...". Lenganku sedang tidak ingin mendengar keluhan apapun dari pecundang yang buta hati.

Kuhentikan push upku. Hari ini 98 kali, nyaris memecahkan rekor lama, 103. Saya yakin dapat memecahkan rekor yang kubuat setahun lalu seandainya pengganggu yang terus mengoceh di hadapanku saat ini tewas tertimpa runtuhan plafon kamar yang nampaknya sudah tidak tahan juga mendengar keluhan, aku melihat bisa melihat getaran di plafon kuning. Tapi setelah kupikir-pikir, plafon runtuh bukan ide bagus, saat ini saya berada di bawah plafon yang sama.

Harus ada yang disalahkan atas kejadian tidak mengenakan ini. Tidak mungkin menyalahkan teman pecundangku, kesalahan tidak murni berasal dari dirinya, sejak awal penciptaan, wajahnya memang tidak mendukung jadi penjahat cinta. Menyalahkan orang karena tampangnya itu tidak adil.

Selalu Saja

Sudah akhir tahun, dan majalh belum juga terbit. What a troublesome (mulai terpengaruh istilah asing). sudah didesak petinggi untuk segera menerbitkannya.Tersisa 3 hari untuk mengumpulkan sisa majalah yang belum rampung (tapi kayaknya belum ada yang rampung).


Usaha kecil lebih baik dari niat yang besar. Tidak ada masalah kalau semua hal ternyata tidak berjalan sebagaimana mestinya.Yang penting sudah ada usaha.

Sudah takdirnya, rencana berjalan tidak berjalan mulus.


Yang penting....semua senang.

Nietzsche bilang, Tuhan sudah mati, tapi masalahnya, saat ini saya sedang butuh Dia.

Jadi bagaimana ini Pak Nietzsche yang terhormat, apa Anda punya solusi alternatif selain membunuh Tuhan?

Rabu, 30 Desember 2009

Lupa Judulnya Apa



Hari ini hujan. Itu berita baik buat semua. Mahasiswa, siswa dan karyawan bisa beralasan telat datang ke tempat aktiftas rutin.Manteri-manteri dapat beralasan mencoba mobil baru yang harganya semilyar lebih. Hujan selalu mengandung berkah, meskipun ujung-ujungnya bisa berakhir banjir, longsor dan cacian kurang ajar karena becek. Karena di manapun mata memandang saat hujan, tidak ada air mata yang terlihat. Alasan bodoh untuk mencintai hujan.

Taman Carabelli FKG pagi ini terlihat indah. Dan jadi lebih indah lagi karena duduk berhadapan dengan Bung Hendrik yang lagi menjajal laptop barunya sambil mendownload Nobuta wo Produce dengan kecepatan transfer 300 kbps.

Berpikir, apakah pagi ini tepat untuk melakukan reseksi dan rapat lomba jurnalistik? Entahlah. Kita lihat saja.


"Hendrik, bagaimana mi laptopmu itu? sudah bisa internetan?"
jawabnya,"oh, sh*t..sh*t... pejabat dapat mobil harga semilyar lebih. kurang ajar"

"kayaknya sudah bisa connect laptop barumu itu, di!"

Jumat, 25 Desember 2009

Berpikir Sombong




Sekali lagi, pagi ini diriku terbangun sebagai seekor sapi. Setelah kemarin beraktifitas seharian seperti yang sudah kurencanakan dalam pikiranku, hari ini pun rencananya akan seperti itu lagi. Keluar kandang, makan rerumputan, ke sungai, berteduh sambil memamah rumput lalu kembali ke kandang. Rencana yang sempurna.
 

Mungkin perulangan aktifitas seperti itu membosankan di mata kebanyakan mahluk lain, terutama bagi manusia. Tapi apa yang bisa kau harapkan dari menjadi seekor sapi yang hidup di sebuah peternakan tak bertuan. Meskipun diriku adalah sapi yang dapat dibilang punya tingkat intelektualitas dan imajinasi sedikit lebih baik dibanding sapi – sapi lain yang seumuran denganku, tidak mungkin bagiku berimajinasi punya aktifitas seperti seekor harimau yang seharian keliling hutan, menerjang apa saja yang bergerak untuk sekedar mengisi lambung. Kesadaranku tidak mengizinkanku berimajinasi seperti itu. Kalau kau tanyakan alasannya, akan kukatakan padamu, harimau itu mahluk menyedihkan, tidak bermaksud menghina spesies lain, karena sapi lain pun yang tidak hidup sepertiku akan dengan senang hati kukatakan hal yang sama seperti kataku pada harimau. Aku bukan rasialis (belum kutemukan istilah yang tepat untuk menyatakan diskriminasi antara spesies, terpaksa kugunakan istilah yang biasa kudengar di TV peternakan. Jangan heran kalau ada TV di peternakan tanpa tuan ini. Nanti kuceritakan asal-usulnya), tapi memang begitulah yang terjadi pada mahluk lain. Harimau meskipun jadi hewan yang paling dikagumi manusia entah karena otot-otot dan corak lorengnya atau mungkin karena keberingasannya memangsa manusia, mau tak mau harus melakukan usaha lebih dalam memperjuangkan hidupnya, buah kekaguman manusia serta keberingasan pribadi yang menyengsarakan. Begitu juga dengan sapi lain di luar diriku tidak jauh beda dengan harimau, meskipun mereka tidak harus berlari dan mengendap sepanjang hari untuk sekedar mendapat nutrisi, nasib mereka rata-rata bertahan sekitar 2 hingga 4 tahun karena sudah tercatat rumah jagal adalah terminal. Mereka tidak bisa memilih tempat dan waktu kematian sendiri.sebenarnya diriku pun tidak bisa memilih tapi setidaknya yang kutahu, ada banyak pilihan tempat kematian bagiku selain rumah jagal dan usiaku, ini yang terpenting, sudah 5 musim kemarau kulewati, yang kutahu, ini melebihi ekspektasi usia sapi normal peternakan. Jadi wajar saja kukatakan pada kalian semua, aku spesial. Mahluk lain punya kehidupan yang menyedihkan. Pernyataan yang arogan, tapi memang begitu adanya.

Iblis terusir dari surga karena kesombongan seperti yang kulakukan saat ini. Tapi diriku belum juga terusir dari peternakan tak bertuan ini sejak kearogananku timbul bersama kematian tuanku. Aku jadi berpikir, tidak semua prinsip umum berlaku secara umum. Malah, kesombongan ini membuatku merasakan nikmatnya kehidupan. Saya tidak menyarankan kalian mencontohku terutama jika kalian yang membaca tulisan ini berasal dari golongan manusia. Tampaknya Tuhan punya hukum yang berbeda untuk hewan.


Sapi: Prolog, Awal Kisah


Pagi ini aku terbangun, dan berpikir untuk melakukan aktivitas seperti biasanya, mengunyah rerumputan hijau seharian, berendam di sungai kecil berlumpur, berteduh di bawah rindang pepohonan sambil sesekali melenguh dan  kembali ke kandang ketika malam tiba. Sebuah pikiran yang sempurna untuk seekor sapi muda sepertiku. Saya yakin, pikiran sempurna seperti ini sulit dipikirkan sapi – sapi muda lain ketika di saat diriku sedang memamah zat berselulosa tinggi, sapi-sapi muda lain bergidik ketakutan menyaksikan sapi-sapi tua digiring paksa ke truk-truk besar untuk menuju ke suatu tempat yang bernama rumah jagal. Menurut rumor di antara sapi-sapi betina, sapi-sapi tua itu, yang telah menghuni kandang  lebih dari 2 tahun harus menghadapi vonis mati karena sebuah kesalahan primordial yang tak termaafkan, lahir sebagai sapi ternak.

Menurut beberapa sapi tua yang pernah kembali dengan selamat ke kandang setelah dibawa ke rumah jagal-meskipun keselamatan itu hanya berlangsung selama sehari karena katanya sedang ada perbaikan mesin jagal saat itu-menjadi sapi ternak tidak pernah menyenangkan selama rumah jagal itu masih berdiri. Ketika ditanya kenapa, sapi-sapi tua dengan wajah suram menceritakan hal yang mereka saksikan di rumah jagal. Setelah bercerita begitu, sapi-sapi tua itu kemudian meratap dengan lenguhan panjang yang menyedihkan. Betapa kehidupan begitu singkat untuk seekor sapi.

Untung saja aku lahir di sebuah peternakan yang pemiliknya sudah mati bertahun-tahun yang lalu. Dan untungnya lagi, pemilik lama itu tidak punya keluarga yang mewarisi peternakan. Dan sekali lagi untung, peternakan ini terletak di atas gunung tanpa manusia. Jadi aku, secara tidak resmi sudah menjadi sapi merdeka. Tidak ada rumah jagal yang harus ditakuti. Tidak ada mimpi buruk yang harus dijadikan hantu. Tidak ada kehidupan singkat yang perlu diratapi. Setelah sekian lama tinggal di peternakan tanpa tuan ini, rasanya tingkat inteletualitasku meningkat drastis. Aku jadi merasa seperti Nabi Adam, sayang aku bukan manusia, yang diturunkan Tuhan ke bumi untuk melakukan sesuatu dalam dimensi ruang berbentuk bulat ini.

Rabu, 09 Desember 2009

Atoderus

Terus-menerus melakukan kesalahan yang sama bukan hal yang bijak. Tapi itu manusiawi. Kebijaksanaan itu manusiawi juga tapi tidak selamanya bisa dilakukan manusia.

Selasa, 01 Desember 2009

Promotheon


Dan dunia tercipta. Lalu dihancurkan. Takdir.



Kalimat yang tepat untuk mengucapkan perpisahan dengan dunia ini.


Selamat tinggal.

Senin, 30 November 2009

Gastroenterohepatologi (GEH): Falling in Love Again


Mungkin ini kumpulan fakta yang tidak penting (memangnya, sejak kapan ada hal penting yang dibahas blog ini). Tapi ada baiknya diinformasikan saja.


Sebagai pendahuluan, Gastroenterohepatologi adalah salah satu mata kuliah sistem di Fakultas Kedokteran yang mengajarkan pada mahasiswa mengenai ilmu dasar dalam mengidentifikasi dan mendiagnosis penyakit serta hal lain yang berkaitan dengan organ pencernaan. (meskipun ini semua rasanya mengawang-awang, karena belajar dari teksbuk tanpa melihat langsung kasusnya). Kuliahnya berlangsung 4 minggu. Praktikum selama 1 minggu. PBL (diskusi kasus) dan CSL (keterampilan klinik) di sela-sela kuliah. Lalu masa ujian dalam 1 minggu akhir. Semua prosesi itu berakhir hari Jum'at 26 November 2009 yang lalu.


GEH itu mata kuliah yang menarik. Selain karena materinya mudah dan tidak terlampau bertumpuk, pengajarnya juga mumpuni serta murah senyum. Mata kuliah ini secara tampilan superfisial adalah salah satu mata kuliah sistem yang nyangar karena jumlah kreditnya maksimal, 7 SKS. Oleh karena itu, saat sistem ini berlangsung, hampir semua mahasiswa memasang antena paling sensitif untuk menangkap materi pengajaran. Dan banyak mahasiswa membeli buku yang berkaitan dengan materi, buku-buku yang mahal dan tebal. (jarang mahasiswa yang mengandalkan buku perpustakaan karena berbahasa Inggris. Padahal semua yang ada di situ gratis dan buku-bukunya punya materi komprehensif). Penampilan luar selalu menipu.


Bagi mahasiswa angkatan 2007, mata kuliah GEH adalah mata kuliah sistem ke-15 setelah LS-IT, BIOMEDIK, BMD, DDT, IMUNOLOGI, ENDOKRINOLOGI, MUSKULOSKELETAL, NEUROPSIKIATRI, KARDIOVASKULER, HEMATOLOGI, RESPIRASI, UROGENITALIA, REPRODUKSI, dan SS.
(wow, ternyata sudah banyak ilmu yang harusnya masuk di kepala)


Cukup pendahuluannya. Sekarang ke intinya. 

Fakta Gastroenterohepatologi (GEH): 

1. Tahun 2009 adalah tahun pertama sistem GEH menerapkan pleno sebanyak 4 kali. Biasanya, sistem terdahulu, pleno hanya berlangsung 2 kali. Akibatnya, harus belajar dan kerja laporan ekstra.


Pleno adalah semacam pertemuan akbar antara mahasiswa dan pakar, di mana ada beberapa mahasiswa bertugas menjelaskan suatu kasus lalu kemudian dibantai dengan pertanyaan dari mereka yang hadir. Selalu menyenangkan berada dalam sesi pembantaian ini, terutama kalau kita yang jadi pembantainya. 


Di sesi pleno kita bisa bermain drama. Itu menarik. 


2. Barusan sistem GEH yang berani memberikan 120 nomor soal dalam ujian Final teori. Sistem lain biasanya hanya mampu membuat 100 nomor soal. Tapi biarpun banyak begitu, kita bisa menyelesaikan soal itu dalam 45 menit, karena kebanyakan soalnya mudah dijawab.


3. Di antara semua sistem yang punya praktikum, GEH adalah satu dari 2 sistem angkatan 2007(sistem lain, BMD) yang tidak memberlakukan ujian remedial praktikum. (skrg BMD sdh py ujian remedial jg)


4. Praktikum sistem GEH adalah yang terbanyak dari semua sistem. Tercatat 9 buah praktikum harus dilalui mahasiswa dalam sistem ini. Anatomi, Histologi, Mikrobiologi, Parasitologi, Patologi Anatomi, Patologi Klinik, Biokimia, dan Gizi. Untung saja tidak ada praktikum Farmakologi dan Fisiologi, kalau tidak, lengkap sudah semua penderitaan praktikum. Meskipun praktikumnya sebanyak itu, materi dan laporan praktikumnya tidak menyita waktu. Rasanya seperti liburan. Sama sekali tidak melelahkan.


5. Karena sedang dalam masa renovasi, laboratorium terpadu tidak dapat dipergunakan. Sehingga ujian praktikum terpaksa dilakukan di laboratorium biokimia dan laboratorium farmakologi. Ini adalah kali ketiga, ujian praktikum sistem diadakan bukan di laboratorium terpadu.


Sebelumnya sistem Muskuloskeletal dan Hematologi yang lebih dulu melakukan hal ini. Tapi alasan kedua sistem ini berbeda dengan GEH. Preparat yang rumit untuk dipindahkan adalah alasan utama kedua sistem itu.


6. Meskipun banyak materi yang diajarkan selama kuliah, tidak semua masuk dalam ujian. Banyak sekali kasus penyakit yang harus diketahui tapi setiap tahunnya, soal ujian GEH tidak pernah lari dari materi dasar praktikum. Hal ini tidak pernah berubah hingga kini.


7. Salah satu dosen pengampu sistem GEH meninggal dunia saat sistem ini sementara berlangsung, Prof. Rifai Amiruddin. Beliau sempat mengajarkan tentang hepatitis sebelum akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir di Jakarta. Semoga Allah memberkatinya. 

 

Itu faktanya, dan ini opininya. 

1. Malam sebelum ujian bacalah novel. Dan itu tidak mempengaruhi hasil ujian. Siapa pun bisa lulus ujian. Belajar pada malam sebelum ujian tidaklah efektif. Belajar sejak awal sistem adalah yang terbaik.


Pelajari semua bahan sedikit demi sedikit. Nikmati kehidupan. Dan saat ujian, voila, tinggal bergumam dan memikirkan jalan cerita novel, dan biarkan tanganmu menari sendiri di lembar jawaban. Dan setelah itu kumpul. Nikmati gumam kekaguman orang-orang yang melihatmu keluar lebih dahulu.


2. Semua dosen pengampu di sistem GEH punya antusiasme. Mereka mudah diajak berdiskusi dan menghargai pendapat. Bahkan pendapat paling bodoh pun mereka apresiasi agar mahasiswa tetap semangat belajar. Dan itu bagus untuk perkembangan mental mahasiswa


3. Bangun kerjasama kelompok belajar dengan penuh kehangatan. Itu sangat membantu proses belajar.
I have good group. Not the best. But they always make me feel like in home. We respect each other, exchange information, help each other. It's really nice.


Dunia tidak pernah sama.




Ini sistem terbaik yang pernah ada selain BMD dan DDT.

Aerdeus

20 menit, itu waktu yang terlampau singkat untuk memikirkan semuanya. Tentang alam dan kesadaran yang luas mengenainya. Tentang di belahan bumi yang jauh di sana. Tentang roti yang tak sempat termakan. Tentang penjual yang lupa membayar kembaliannya.

Tapi sebenarnya tak perlu memikirkan semua itu. Karena waktu kita tak cukup. Jadi pikirkan saja apa yang perlu dipikirkan berdasar konteks. Jika saat ini kita harus berurusan dengan kejahatan, pikirkan saja itu, tidak perlu dihindari dengan memikirkan hal lain. Tapi kalau memang itu sulit, alihkan saja pikiranmu. Yang penting dirimu bahagia.

Minggu, 29 November 2009

Pengetahuan

Ada begitu banyak kesenangan dan hal luar biasa di dunia ini. Tapi tidak perlu memaksa badan untuk merasakan semuanya. Menara Eifil, Tembok Raksasa, Piala Dunia, Ferrari, untuk standar kesejahtraan Indonesia saat ini, hal seperti itu terlampau mewah.

Begitu pula dengan buku. Ada jutaan buku di dunia yang menawarkan beragam pengetahuan. Tapi sekali lagi, badan tak perlu dipaksakan untuk membaca semuanya.

Memang menyenangkan bisa tahu segalanya. Tapi untuk ukuran manusia, ada satu hal yang perlu dicamkan tentang pengetahuan,

karena pengetahuan tidak hanya terdiri dari mengetahui apa yang harus diketahui, melainkan juga mengetahui apa yang dapat kita lakukan, tapi mungkin tidak harus dilakukan.

Book

Fascinated again by reading. Find mysterous, weird words. Try to break them in to rhymes or meanings. Fulfill my mind with high elations of happiness. Made someone laugh and think alone about everything. "Is this the real world?" Man with book as his fun thing seems boring.

But in fact, they always live their lifes with imagination. Do the different pattern of lifestyle.

Book. Back. Beat.

Got One Thousand

Dalam sepuluh hari 1000 pesan masuk via sms. Nice record. Dan sepertinya masih akan terus bertambah. Buku IPD selalu punya bahan yang bisa didiskusikan lewat sms. Entah itu soal penanganan diare, tumor marker ataupun mekanisme kerja obat. Terimakasih pada semua orang yang mau berdiskusi lewat pesan pendek.

Rasanya aneh memang, berdiskusi tanpa tatap muka. Tapi itu rasanya lebih baik, tatap muka saat diskusi bisa menginterferensi pertukaran informasi. Entah itu karena emosi atau hal semacamnya. Apalagi untuk orang yang bisa melihat kebohongan hanya dengan menatap dan membaca bahasa tubuh, interaksi langsung kadang tidak memberikan kenyamanan. Bayangkan, saat tahu kebohongan, tapi kita tidak ingin membongkarnya karena tidak mau menyinggung, mempermalukan, we have to play some dramas. Acting like a fool, and pretending don't know anything. It's hard. But we have to. For peace.

Our religion means peace. We have to realize that.

Jadi dari pada berpura-pura, diskusi lewat pesan pendek adalah opsi terbaik untuk berbincang. Tanpa harus akting. Buka saja semua. Tidak ada yang akan tersinggung atau merasa tak nyaman.

Sabtu, 28 November 2009

Coba 6

Membaca memang butuh mood dan suasana yang mendukung.

Tanpa asupan nutrisi yang bervariasi seperti libur hari raya saat ini, bisa menghambat kinerja otak dalam menganalisis isi buku.

Kamar tanpa kipas angin saat suasana panas juga kurang baik untuk membaca.

Godaan untuk menghabiskan bonus 450 sms gratis juga bisa menghambat keinginan membaca.

Membaca butuh perjuangan.

Preferensi membaca itu penting.

Coba 5

Memaafkan. Itu sulit. Tapi lakukan saja. Untuk kedamaian.

Libur dari semua perang.

Jumat, 27 November 2009

Selamat Idul Adha

Selama ini rasanya sudah banyak kekurangajaran telah saya lakukan di dunia maya dengan jalan mengomentari blog maupun note orang secara asal dan serampangan.

Meskipun begitu, tidak pernah ada maksud sedikit pun untuk melecehkan ataupun menghina. Semua itu dilakukan kadang tanpa tendensi apapun selain untuk menjalin silaturahmi.

Sorry coy, bro, sis, cing, cang, dll atas semua kekurangajaran selama ini, semoga kita semua tetap bersatu untuk Indonesa yang lebih baik. Buru korupsi. Tegakkan keadilan. (NYAMBUNG COY TEMANYA)

Selamat idul adha,
mohon maaf lahir batin.

From the deepest black side of my mind.

Kamis, 26 November 2009

Mordeum

Membaca buku-buku pesimistis mungkin bukan cara yang tepat untuk mengalihkan ketegangan.

Karena menampar optimisme saat hal itu betul-betul dibutuhkan untuk menghadapi ketegangan bukanlah tindakan yang terlalu bijak. (Mungkin bijak bagi beberapa orang)

Tapi, kalau itu sudah terlanjur terjadi, tidak perlu mengutuk buku pesimis sebagai penjahat berdosa tanpa ampun. Buku seperti itu penting juga untuk dibaca, menambah wawasan, membongkar kerangkeng pikiran.

Bukankah semua ilmu berasal dari Tuhan, dan manusia juga bersumber dari hal yang sama? Baca saja semua buku. Dengan atau tanpa ketegangan.

UN Akan Dihapus?

Berita pagi SCTV:

MA memutuskan, Ujian Nasional tidak boleh dilaksanakan lagi karena dianggap melanggar hak asasi manusia dan tidak memperhatikan kesejahteraan guru. Adakah korelasinya? Entahlah. Tapi yang pasti, pemerintah akan mengajukan banding atas kasasi ini.

Mendengar kabar ini pasti, anak SMA mungkin akan mengadakan pesta besar-besaran. Karena kegiatan tahunan yang dilakukan depdiknas untuk menyeleksi lulusan ini, dianggap terlalu menjajah. Kabar baik bagi mereka.

Tapi bagi wajah pendidikan nasional kita, apakah kabar ini bisa menambah ketebalan lipstik kebaikan di dunia pendidikan? Entahlah.
Mungkin sebaiknya, kita perlu bertanya lagi mengenai visi pendidikan nasional, apakah kita akan menciptakan robot - robot berchips dan memori sama ataukah kita akan menghasilkan boneka lilin yang bebas dibentuk sesuai kebutuhan? Dan ada baiknya kita bertanya kembali, perlukah standarisasi? Sejauh mana standarisasi itu perlu diterapkan, karena perlu diingat, ekspansi standar biasanya mengekang kreatifitas.

Biarkan ahli pendidikan yang memikirkannya, kita mungkin perlu merengek saja melihat semuanya terjadi. Terserah.

Minggu, 22 November 2009

231109

Ujian teori GEH berakhir. Dengan persiapan hanya membaca novel Umberto Eco ujian dihadapi tanpa ragu sedikit pun. Padahal ujian meminta penguasaan materi kuliah yang terdiri dari pembahasan hepatitis, bedah digestif, tukak peptik dan kawan-kawannya. Umberto Eco mengajarkan semiotika dan enigma kata. Luar biasa, dari mana datangnya kepercayaan diri tadi saat ujian.

Tapi sungguh, ujian tadi adalah salah satu ujian tercepat yang pernah kulakukan. 120 nomor dalam 45 menit. Menjawab soal nyaris tanpa jeda. Hanya ditemani do'a yang senantiasa bergaung di kepala, semua soal terlahap habis.

Saat keluar, salah seorang supervisor bedah memanggil dan bertanya,"kenapa cepat keluar?"
"tidak tahu mau bikin apalagi di dalam, dok?" jawabku.

Dan perjalanan berlanjut. Malam ini Umberto Eco dan Putu Wijaya sudah menanti.

Sabtu, 21 November 2009

Perang Melawan Plastik

ARES

Perjuangan tanpa plastik adalah perjuangan paling konyol yang harus tetap diperjuangkan. Dunia yang sudah nyaman plastifikasi dan silikonifikasi bukanlah dunia yang nyaman bagi seorang pecinta lingkungan.

Setiap saat mereka harus dibuat bimbang oleh kenyataan bahwa handphone yang digunakannya untuk menghubungi keluarga, piring dan gelas yang disodorkan di warung makan, sapu yang dipakai bukan untuk mencuci, dan banyak alat-alat mendasar lain yang memberi kemudahan dan kenyamanan hidup terbuat dari plastik. Nyaris tak ada yang bisa mengalahkan plastik dalam memberikan kebahagiaan modern. Ringan, murah, multi-fungsi. Bagi kaum utilitarian, tidak ada yang kurang dari kumpulan karbon ini. Tapi bagi pecinta alam, ciptaan DuPont ini adalah iblis dari dunia lain. Durabilitasnya yang mampu bertahan ratusan tahun adalah duri bagi bumi. Produksinya yang banyak memakai karbon adalah kompor bagi ozon. Sungguh, tak ada kebaikan padanya, di mata pecinta alam sejati.

REAL

Plastik memang punya banyak manfaat. Tapi penggunaannya yang eksesif, punya dampak buruk yang lebih banyak ruginya. Pemanasan global, limbah tanah yang bukan hanya manusia akan merasakan dampak buruknya. Tapi juga seluruh mahluk lain. Tidak terkecuali setan dan iblis yang harus bekerja lebih keras menggoda karena makin banyak manusia yang musti dikawal agar terus-terusan marah akibat panas yang tak kunjung padam atau karena banjir yang tak juga surut.

Kita harus temukan alternatif plastik. Masalahnya saat ini, semua hal diplastikan. Makanan kecil plastik, minuman kecil adakah? Minuman, plastik. Baju, plastik. Tas, nilon, temannya plastik. Untuk hal-hal sepele macam ini sebaiknya, plastik ditiadakan saja karena tidak menyangkut hajat hidup orang banyak serta masa penggunaannya terlampau singkat. Begitu mudahnya orang buang sampah plastik setelah makan snack. Tidak sampai semenit makan, tapi efek plastiknya nyaris abadi terhadap tanah.

Plastik sebaiknya digunakan untuk peralatan yang menyangkut hajat hidup banyak orang dan bisa dipakai dalam waktu lama. Seperti pada mesin produksi baju, pangan, papan.

Susah melepaskan diri dari plastik. Tapi perjuangan harus tetap dilakukan. Hidup dengan plastik minimal.

Vivid

EPILOGISTRA

Mahasiswa dalam lembaga adalah pemimpi yang membebankan segala tanggung jawab sosial di pundaknya. Hampir semua persoalan kebangsaan ingin diurusnya. Dan apapun dilakukan demi melihat kesejahteraan, keadilan tumbuh di sekitarnya. Walaupun mungkin, para mahasiswa itu tidak pernah tahu apa yang perjuangan mereka, akan berikan pada diri mereka sendiri. Kejayaan atau kehancuran, keadilan atau kecurangan, kesejahteraan atau kemelaratan. Karena tidak selamanya cita-cita kolektif yang dicapai akibat perjuangan akan memberikan efek yang sama pada para individunya. Danton dan Robespiere saat revolusi Prancis sudah pernah merasakan kegetiran ini ketika kepala mereka harus terpisah dari badan oleh pisau Guillotine. Padahal mereka adalah pejuang revolusi awal. Tapi mereka justru jadi korban revolusi itu sendiri. Tragis.

Mimpi hanyalah mimpi. Kenyataan punya caranya sendiri untuk menceritakannya.

CASECORISNUS

Kalau mau berpikir rasional, tidak bakal banyak mahasiswa yang ingin berlembaga. Secara ekonomi, mahasiswa lembaga harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mendanai kebutuhan yang secara tiba-tiba mendesak untuk dipenuhi saat berlembaga, entah itu pulsa, bensin, cemilan dan lain-lain. Dan biaya pengeluaran itu tanpa dibarengi pemasukan yang sesuai. Mahasiswa dalam lembaga selalu dikuasai paradigma, jangan mengambil keuntungan ekonomi dalam lembaga. Paradigma yang mungkin perlu ditinjau kembali.

Secara sosiologi pun sebenarnya berlembaga menciptakan sebuah kerangkeng pergaulan selektif. Secara tidak langsung, orang-orang yang berkecimpung dalam lembaga menjadi komunitas eksklusif yang terpisah dari pergaulan mahasiswa non-lembaga.

Kondisi seperti ini bisa jadi baik jika mahasiswa yang berlembaga adalah kelompok mayoritas. Tidak akan ada pengucilan. Namun jika mahasiswa yang berlembaga adalah kelompok minoritas. Ini bisa berarti bencana.

Secara psikologis, mahasiswa yang berlembaga bisa jadi mengalami proses individuasi paling matang di antara mahasiswa lain karena gemblengan masalah dan konflik. Tapi kondisi seperti ini bisa juga jadi bumerang yang dapat menghancurkan mental mahasiswa. Apalagi ketika mahasiswa harus diperhadapkan dengan persoalan pelik yang berkaitan dengan pilihan-pilihan sulit. Kapasitansi persoalan tidak sebanding dengan ketahanan mental mahasiswa, akibatnya, kemarahan yang meluap, kebrutalan, pengrusakan. Wajar, kalau mahasiswa demo berakhir ricuh. Walaupun katanya, aparat selalu yang memancing lebih dahulu, mahasiswa yang sejak awal sudah punya masalah mental pasti dengan mudahnya tersulut kemarahan.

Kombinasi masalah ekonomi, sosiologi dan psikologi sudah cukup membuat pelik lembaga. Apalagi kalau ditinjau dari sisi agama, pendidikan, budaya dan lain-lain.

Dunia mahasiswa yang militan memang terlihat indah. Tapi selalu ada kejahatan dalam setiap kebaikan.

SOLUSIO

Entahlah.

Selasa, 17 November 2009

Ceramah

Ceramah di tempat ibadah selalu saja panjang. Mungkin sebaiknya dibuat aturan agar ceramah tidak lebih dari 10 menit. Karena rasanya hampir semua isi ceramah bisa dihafal oleh jamaahnya karena topik yang dibahas selalu itu-itu saja dan jarang menyinggung persoalan kekinian.

Para penceramah biasanya hanya fokus pada topik ritual keagamaan yang tekstual, sehingga fenomena sosial seperti kemiskinan, sampah, dan lain-lain beserta solusinya jarang mendapat perhatian.

Para pejuang moral semestinya tidak terjebak pada spesialisasi yang dibentuk tradisi. Mereka sebaiknya memiliki pemahaman komprehensif dalam semua bidang ilmu, tidak cuma pada bidang agama. Sebab moralitas butuh konteks agar dapat menjadi jalan hidup. Namun sekali lagi, hal seperti ini tidak semestinya digodok di tempat ibadah dalam bentuk ceramah panjang. Karena hal itu justru menyebabkan kejenuhan dan menanamkan formalitas kaku pada alam bawah sadar pendengar.

Agama adalah soal praktek dan aturan di semua ruang kehidupan. Bukan cuma ceramah panjang tentang kebaikan tanpa bukti nyata.

Senin, 16 November 2009

Ilusi

Kebaikan itu ilusi. Dia tidak pernah ada selain dalam bentuk topeng yang menipu. Karena itu, agar tidak lagi menipu, jangan pernah menjadi orang baik kalau itu tidak lagi sesuai kondisi ideal.

Orang lain dengan mudah meninggalkanmu setelah memanfaatkanmu hingga tidak ada lagi bagian dari dirimu yang berharga.

Karena itu jangan menangis atau kecewa dengan perlakuan seperti itu. Balaslah perbuatan mereka dengan kejahatan yang lebih parah dari itu. Persetan dengan kebaikan. Omong kosong kejahatan dibalas dengan kebaikan.

Jagalah kebencian yang menggelegak seperti reaktor nuklir dalam perawatan yang menyerupai penjagaan pada lilin dalam badai November.

Rusak orang-orang yang menyakitimu dengan segenap kemampuanmu. Pecahkan bibir mereka, potong lidahnya, congkel matanya, iris setiap senti tubuhnya hingga mereka tidak bisa lagi membedakan sensasi sakit dengan kengerian.

Jangan pernah memaafkan. Mereka yang sudah meninggalkan, menyakiti hati, mengkhianatimu, tidak pantas mendapat maaf darimu. Sumpah serapah, umpatan, makian, kutukan lebih pantas bagi mereka.

Do'akan kecelakaan bagi orang-orang yang sudah menyakiti hatimu dan menempatkan dirimu dalam kesulitan. Do'akan kematian menggenaskan untuk mereka yang menganiayamu. Jangan sungkan.

Bencilah mereka hingga dunia ini berakhir.

Kebaikan itu palsu. Kesetiaan itu bohong. Jangan pernah percaya. Karena semua orang hanya ingin memanfaatkan kebaikanmu. Lalu membuangmu setelah puas atau kalau kamu tidak selevel dengan mereka.
Jangan lagi jadi orang baik.

Drama: Monolog Panjang, Jangan Dibaca

EPILOG
Sepertinya sulit memecahkan rekor April, 41 postingan dalam sebulan. Itu jumlah yang luar biasa banyak. 41:30=1,3 postingan dalam sehari. Dalam kondisi seperti saat ini, melakukan hal gila seperti itu, tidak mungkin lagi. Inspirasi tidak mengalir seperti sungai yang tiap detik debitnya konstan membanjir, tanpa butuh pikiran dan rasa dalam aliran. Seandainya manusia bisa seperti itu...

INSPIRASI
saat ini inspirasi datang dari teori probabilitas. Teori tentang seberapa besar peluang seseorang bisa menjadi gitaris terkenal di antara jutaan manusia, dan hal-hal semacam itu.

Sebenarnya, peluang seperti itu tidak sekecil apa yang ditulis teori, 1:6 milyar manusia. Bisa jadi scope-nya lebih kecil, karena terkenal itu relatif. Selain itu, banyak faktor lain yang bisa membiaskan kenyataan hingga melenceng jauh dari teori.

KLAUSUL
lari dari masalah awal karena nampaknya kebingungan pada teori lama selalu memenangkan pertarungan melawan kegigihan. Klausul baru menawarkan pembahasan tentang keberhasilan, perjuangan dan korelasinya.

Orang-orang yang empiris selalu beranggapan bahwa perjuangan selalu punya korelasi dengan keberhasilan. Padahal sebenarnya, itu tidak ada hubungannya sama sekali.

Lihat saja kisah Firaun yang berjuang menjadi Tuhan, akhirnya dia hanya bisa jadi mumi. Atau tentang bangsa Palestina yang berjuang melawan Israel, mereka justru makin didesak hingga saat ini, tempat tinggal mereka tidak lebih luas dari kompleks Pentagon.

Atau lihat perjuangan para da'i, mubaligh, pastor, pendeta, biksu dan saudara-saudara sejenisnya dalam membina akhlak. Bukannya berhasil, demoralisasi dan keasusilaan justru makin menjadi.

Atau contoh lain tentang upaya pencerdasan. Ini juga contoh lain kegagalan teori tentang perjuangan selalu berbuah keberhasilan.

Banyak orang yang termakan pada teorema bodoh ini. Kekasih yang lelah mencinta lalu terdepak. Mahasiswa yang letih belajar dan kecewa. Orang tua yang menyayangi lalu meringis.

Perjuangan dan usaha tidak punya hubungan apa-apa. Mereka seperti beberapa jalur kereta yang terpisah. Menyatu dan memotong pada beberapa tempat saja. Selebihnya, mereka selalu berjalan sendiri, tak pernah melirik.

Karena itu, jangan pernah terlalu berharap pada perjuangan sendiri karena saat itu berujung gagal, kecewa pasti menyayat.

Ada banyak keterhubungan di dunia ini padahal sesungguhnya keterhubungan itu tidak pernah ada. Begitu pula sebaliknya. Ada pula anomali dan kekacauan. Kemarin terhubung, besok putus. Vice versa.

Jangan percaya common sense. Jangan berharap padanya. Karena dia bukan Tuhan. Itu tidak pernah bisa jadi Tuhan.

MEMOAR
Dan Tuhan menciptakan. Lalu apa? Menyaksikan mahluk ciptaanNYA berjuang, menyakiti dan merusak? Membantu mahluknya yang lemah tak berdaya dan menghukum yang kuat menganiaya? Untuk apa? Menunjukkan kekuasaanNYA? Menguji umatNYA? Buat apa? Tanpa ada manusia pun, Tuhan sudah Maha Agung. Tidak ada semesta pun, Tuhan sejak dulu Maha Kuasa.

Manusia ataupun alam semesta tidak akan pernah bisa memenuhi kategori Tuhan yang seperti dijelaskan pada awal memoar. Monisme yang menyatakan bahwa Tuhan ada dan menyatu dalam mahluk, terlalu lemah untuk menjadi Tuhan. Tapi yang terlalu hebat juga, jadi sulit dibayangkan.

Jumat, 13 November 2009

Destroy Humanity Tomorrow

Kau bercerita tentang kemanusiaan. Seolah kemanusiaan itu pernah ada. Kukatakan padamu, kemanusiaan tidak ada.

Kamu manusia tidak pernah punya kemanusiaan. Kalian bodoh bicara tentang kemanusiaan, karena sebenarnya tidak ada bedanya manusia dengan binatang. Sama jahatnya, mirip beringasnya, tidak beda rakusnya. Jadi hentikan saja semua ocehan bodoh itu. Kemanusian itu sampah.

Kamis, 12 November 2009

Lakukan Saja

Orang yang suka berdebat dan mempelajari logika meski hanya sekelumit, akan senang hati menjebak dan mendebatmu dengan pertanyaan ontologis tentang, kenapa kamu melakukan sesuatu? Apa alasannya? Jika kamu tidak menjawabnya entah karena tidak tahu, sakit gigi atau lagi malas saja, dengan senyum licik menghiasi wajah sok filosofis, dia akan menceramahimu panjang lebar tentang hakikat manusia, alasan penciptaan, upaya penggunaan akal secara optimal dan banyak teorema lain yang sebenarnya tidak harus mengisi sejumlah tempat kosong di otakmu.

Kamu bisa mengabaikan semua pertanyaan itu. Sepertihalnya mengabaikan tulisan ini.

Kita manusia punya kebebasan bertindak dan berpikir. Terserah kamu mau berbuat apa saja, dengan atau tanpa alasan, disadari, tidak disadari. Lakukan saja semaumu.

Terserah dirimu mau bebas ke mana saja. Terserah kamu juga memilih untuk diperintah dan terpenjara. Terserah Anda tidak memikirkan semua itu.

Lakukan saja. Selama itu berasal dari dirimu sendiri.

Otherside

If there are a lot of people hate you because of your ability, intelegence, handsome, attraction or anything good sake of you, don't worry. There will be another bunch of humans in the other side of the world could like that.

Keep your weird as your normality. Be proud of that. Sometime normal is abnormal.

Last N€sc@f€, Last Plastic

I did it again. Bought something in plastic packet. By doing that, i've made a further effort for destructing my own planet. What a fool action.

Soon or later, i'll die, then newborn or something will replace me on this planet. It's the certainty i couldn't change. I don't want leave my planet with some ruins because of my plastic rubish.

This is the last Nesc@f€. After this, there is no another plastic for my stomach. Love your planet.

Sudah terlampau banyak sampah yang dihasilkan. Begitu banyak penderitaan yang mungkin menanti karenanya. Tidak boleh lagi menambah tumpukan sampah baru. Planet ini sudah cukup meradang akibat kegilaan manusia. Kopi yang diminum hari ini harus menjadi sampah plastik terakhir yang dihasilkan untuk kesenangan organ penuh otot penghasil asam di abdomen. Kalau tidak jadi yang terakhir, anggap saja sebagai langkah awal demi kehidupan yang lebih baik.

Manusia tak selamanya hidup, namun kehancuran yang dihasilkannya senantiasa hidup sebagai sebuah tarian mematikan tanpa garis akhir yang jelas. Mungkin kiamat akan menunjukan garis itu. Entah kapan itu.

Hentikan penggunaan plastik.

Rabu, 11 November 2009

If you hate to hear a voice from something. Otherwise, kill the voice, just hear it and kill everyone around you.

Minggu, 08 November 2009

Kepanasan dan Efeknya: Perspektif Mental

Jangan pernah dekati seseorang yang tengah kepanasan karena konspirasi suhu, kelembaban dan suasana hati. Orang yang dalam keadaan seperti itu bisa menerkam siapa saja yang coba mendekat. Rasio orang semacam ini, dikaburkan oleh insting pertahanan diri paling rendah, sehingga satu-satunya kesimpulan yang dapat ditarik atas semua pengindraannya adalah apapun yang mengusik, hancurkan.

Seperti anjing gila di stadium paling gila, orang yang panas karena faktor fisik dan mental, akan meraung-raung, menggonggongkan segala keluhan, dari yang paling sepele seperti ketombe, hingga hal yang lebih mendasar, panas. Ini mungkin sangat mengganggu, tapi sekali lagi, perlu dicamkan, jangan mengusik. Potensi dekstruktifnya bila diusik lebih mengancam jiwa dibanding rongrongan keluhannya yang bisa bikin tuli konduktif.

Berteman dengan orang yang sering kepanasan adalah ujian kesabaran. Jika bisa melaluinya tanpa ikut-ikutan panas--kepanasan sangat menular, jadi, hati-hatilah--maka percaya saja, apapun cobaan mental yang menghadang, (mungkin) akan mudah diatasi. Percayalah. Kalaupun premis akhir, soal efek, sulit diterima, cobalah untuk percaya. Sekadar motivasi, agar sabar menghadapi orang yang kepanasan.

Sabtu, 07 November 2009

Tidak Harus Terwujud

Banyak sekali mimpi yang ingin diwujudkan manusia. Meskipun kadang impian-impian itu aneh dan tidak masuk akal, bisa jadi sepele dan tidak penting, atau luar biasa hingga nyaris omong kosong, manusia akan terus menambah perbendaharaan mimpinya. Entah karena itu memang harus diwujudkan atau hanya sekedar dijadikan impian tanpa perlu realisasi. Motivasi belaka. Toh, pada akhirnya kenyataan akan bercerita tentang impian-impian itu dengan caranya sendiri.

Karena itu bermimpi saja, beberapa tahun nanti kita bisa mengelilingi dunia, meraih hadiah Nobel, punya keluarga harmonis, jadi orang paling dermawan yang dengan entengnya menyumbang tanpa keluhan.
Memang terdengar omong kosong. Tapi itulah impian. Tidak butuh rasio untuk membenarkannya. Yakini saja.

Kita mungkin bukanlah orang-orang yang terlahir di dunia dalam kondisi yang memungkinkan untuk mewujudkan mimpi-mimpi liar. Mungkin, kita tidak akan pernah berkeliling dunia, memenangkan Nobel dalam kategori apapun, hidup sendiri hingga akhir hayat, selalu meradang saat berderma. Tapi tak perlu menyesali hal seperti itu selama perjuangan mencapai mimpi belum dimulai.

Walaupun kita bukanlah orang yang bisa mewujudkan semua mimpi, entah karena status sosial dan ekonomi yang memang tidak mendukung, penentangan dan pengkerdilan, tidak perlu ada penyesalan. Di luar sana, ada jutaan orang yang terpaksa lahir di daerah perang, tandus, suram, tidak bisa merayakan hidup seperti yang pernah kita lakukan. Tapi mereka tetap bermimpi, dan berjuang untuk mewujudkannya.

Percaya saja, impian yang belum terwujud akan menunggu waktu. Dan yang tidak terwujud, pasti punya pengganti, entah itu dari apa yang kita hirup, ataupun yang kita rasa.

Percaya saja, orang yang bermimpi lalu berani berjuang mengejarnya selalu punya hadiah yang menanti. Meskipun mungkin hadiahnya tidak sesuai harapan. Jangan pernah takut pada kecewa, sakit hati, marah, terhina dan terbuang karena perjuangan.

Bersyukur saja, tidak semua keinginan dapat terwujud.

Stop Crying Your Heart Out

Don't be scared. You'll never change what's been and gone. May your smile, shine on. Your destiny may keep you warm.

Because all the stars are fading away. Just try not to worry, you'll see them someday. Take what you need and be on your way and stop crying your heart out.

Don't worry about something we can't change.

Don't Look Back in Anger

Load up your gun and kill all creatures that have hurt you.

After that, look what you've done. Does your act heal your wounds?

There is no cure in anger. It just made another pain.

Never look back in anger. And stop chain of hatred.
Salah satu hal yang paling menjengkelkan di dunia ini adalah ketika harus membenci seseorang yang pantas untuk dibenci dengan kebencian paling hitam dan paling jahat, namun ternyata hal tersebut tidak bisa dilakukan karena terlalu banyak alasan yang mendasari.

Balaslah semua perbuatan orang lain dengan balasan yang setimpal atau lebih.

Hatred II

Ada yang bilang, balaslah kebencian dengan kebaikan. Itu salah. Terlalu lemah. Bodoh sekali. Kebencian harus dibalas dengan kebencian. Seperti halnya cinta harus dibalas cinta, maka kejahatan harus dibalas dengan kejahatan. Karena untuk menciptakan keadilan, harus ada yang dapat dipertukarkan. Omong kosong, pengorbanan yang tanpa motivasi pribadi. Bohong, perjuangan demi kepentingan bersama yang tidak dicemari keuntungan pribadi.

Banyak yang ragu memilih jalan ketika harus bersikap untuk menyikapi kemarahan. Ada yang memilih untuk melupakannya, ada juga yang terus menyimpannya. Jangan setengah-setengah dalam bersikap. Pilih salah satunya.

Kalau memilih untuk melupakan, jangan pernah lagi mengungkit semuanya. Kalau itu berkaitan dengan seorang individu, lupakan dia hingga tidak punya bekas. Jangan jadikan dia sebagai sesuatu dalam relasi, bukan kawan, bukan lawan, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Seolah dia tidak pernah ada di muka bumi ini. Tidak sedetik pun dalam fase hidupmu, ada peristiwa pertemuan dengannya.

Kalau memilih untuk benci. Maka nyalakan kebencian itu dengan api keabadian yang tak akan pernah padam hingga maut meniupnya. Suburkan dendam, hingga tidak ada satu bagian dalam hati, tunas kasihan dan akar maaf boleh tumbuh. Matikan semua kebaikan menujunya. Ucapkan kutukan di setiap do'a. Sumpah serapah dalam setiap hela nafas. Sabotase orang yang kau benci. Ingat semua kejahatan mereka lalu rusak mereka. Serang mereka. Kebencian dibalas dengan kebencian yang lebih besar.

Jadi, mau pilih yang mana? Kedua pilihan itu memang jahat. Tapi disakiti orang lain lebih jahat dari itu. Maka, pilihlah.


ingatan visual yang baik dan rasa cinta berlebihan bisa menyulitkan pilihan. Kadang, kita tidak harus memilih apapun.

Jumat, 06 November 2009

Hatred

Tidak butuh komentar untuk semua yang sudah kita lakukan. Apalagi perhatian, simpan saja itu untuk pakaianmu yang tidak pernah kau setrika.

Kita tidak butuh belas kasihan seperti yang dibutuhkan para pengemis di lampu merah. Lebih baik memeras dan menipu daripada harus meminta-minta. Itu memang jahat, tapi setidaknya dengan melakukannya, kita sudah punya usaha, ada sesuatu yang kita berdayakan, otak, akal, kreatifitas kita. Tapi sekali lagi, itu jahat. Tapi manusia memang jahat, kita manusia. Wajar kalau kita jahat. Our origin.

Tak perlu mengelak dari hal ini. Berapa banyak padi yang harus dibabat, ayam yang mesti digilas, sayur yang terpaksa dicerabuti, buah yang aborsi, hanya untuk memenuhi kebutuhan makanmu dalam sehari. Dan sampah plastik yang sebar di bumi, apa kamu mau bilang, itu semua baik? Memang baik, bagi kita.

Terima saja, kita jahat. Dan jangan sungkan melakukan kejahatan. Jangan sungkan menerimanya. Jangan sungkan dijahati manusia. Sudah fitrah. Jangan sedih karena mendapat kejahatan. Kamu bisa membalas. Dan balaslah dengan kejahatan yang lebih besar, jangan ragu dan takut terjebak lingkaran setan balas dendam. Manusia sering melakukannya. Dan itu menyenangkan.

Bencilah semua orang kalau kamu mau. Itu memang jahat, tapi apa lagi yang bisa kau harapkan dari seorang manusia?
Apa yang mungkin dapat terjadi. Tak mungkin bagimu mengetahui. Apa yang pasti terpikirkan. Sulit untukmu memahaminya. Kamu itu penderita agnosia parah. Tidak ada masa depan bagi orang sepertimu. Terima itu.

Mengamuk saja kalau kau bisa. Kamu juga tidak bakal mengerti apa yang harus diamuk.

Manusia, kamu bukan mahluk seperti itu. Terlalu banyak yang kamu tidak ketahui tentang mereka. Licik, manipulatif, munafik, kamu takkan mungkin seperti mereka. Tidak akan pernah bisa.

Agnosia selalu bodoh. Kamu bahkan tidak tahu apa yang otakmu sedang pikirkan.

Rabu, 04 November 2009

Writing to Reach You

Every day I wake up and it's Sunday
Whatever's in my eye won't go away
The radio is playing all the usual
And what's a Wonderwall anyway
Because my inside is outside
My right side's on my left side
Cause I'm writing to reach you now
but I might never reach you
Only want to teach you
About you
But that's not you

Maybe then tomorrow will be Monday
And whatever's in my eye should go away
But still the radio is playing all the usual

Selasa, 03 November 2009

KPK vs Polisi? Tak Peduli?

Kasus KPK VS Polisi, mulai punya efek menjengkelkan. Hanya karena tidak mau tahu hal yang berkaitan dengan kasus setan itu dan tidak ikut aksi, orang-orang yang sok tahu masalah dan sok simpati dengan seenaknya menvonis tidak nasionalis. Masa bodoh dengan tuduhan tak berdasar seperti itu. Kita semua punya urusan dan kesibukan masing-masing. Persoalan hukum punya dunia yang paralel dan jarang menyentuh urusan mencari makan orang kecil, membuat tugas mahasiswa dan semua masalah sepele lainnya. Buat apa mengurusi KPK VS Polisi? Sudah ada orang-orang yang berwenang untuk mengurusinya.
Buang-buang waktu saja. Lagian mereka yang terlibat dalam kasus itu tidak peduli pada mahasiswa yang lagi bersusah payah dengan tugasnya.

Kebebasan kita untuk memilih mana yang pantas dipikirkan. Tidak ada yang bisa mencurinya.

Kalau semua orang bisa mengurusi dirinya sesuai dengan hukum yang berlaku, tidak bakal ada kasus seperti itu.

Kasus aneh.
Kenapa harus masuk di kepala? Buang-buang memori.

Tidak Perlu Dibaca

Di dunia ini, ada begitu banyak tulisan dan buku. Untung saja Tuhan tidak pernah memaksa kita membaca semuanya.

Saat ini, semua orang ingin diperhatikan, jadi wajar saja banyak manusia yang otaknya tiba-tiba selalu kreatif dan tidak beres tiap kali OL. Status FB dan Friendster dibuat aneh-aneh. Note MP dan Twitter ditulis eksentrik. Isi blog dibuat semarak. Pokoknya apapun dilakukan untuk mendapat perhatian. That's stupid.

Semua orang nampaknya terjebak pada paradigma bahwa jejaring sosial dibuat untuk berbagi segalanya. Bahkan kejelekan dan aib pun dibagi demi mendapat perhatian. Fool.

You don't have to read everything that you want.
Because in many case, they don't have any worth.
You have choices to ignore or delete them.

Never flood your thought with craps.

Senin, 02 November 2009

Brengsek

Di mana bumi dipijak, di situ orang brengsek bersemayam. Kalau bukan orang lain, pasti kamu yang brengsek. Harus ada yang berperan jadi orang brengsek, untuk kedamaian dunia.

Jumat, 16 Oktober 2009

Setia, omong kosong

Kamu bicara soal kesetiaan dan cinta. Saya tertawa dan bertanya,"apa hal seperti itu memang ada"? Kamu jawab,"ya, ada". Itu aneh, menurut seorang yang skeptis, kesetiaan itu omong kosong, toh, banyak yang mengatakan dirinya orang setia, entah pada negara, kekasih, band ataupun kartun yang diputar tiap minggu, tapi semuanya tidak terbukti begitu negaranya tidak memberi kesejahtraan, kekasihnya mencari kekasih yang lain ataupun jam tayang kartun diubah jadi hari sabtu, dengan mudah mereka berpaling setelah ada perubahan.

Timbul pertanyaannya, kamu setia pada apa? Negara, kekasih, kartun, ketika dengan mudahnya kamu meninggalkan mereka ketika ada perubahan? Setia itu omong kosong, sama seperti cinta.

Jadi buat apa cerita tentang mereka dalam berlembar-lembar buku, skenario drama dan kisah nyata kalau itu omong kosong? Anggap saja pengisi waktu luang, sebelum buku, TV, hidup dilarang terbit.

Kamis, 15 Oktober 2009

Bicara pada yang Pesimis

Ada seorang teman bertanya pada orang yang pesimis tentang lembaga dan pengkaderan. Dia bertanya soal perubahan. Teman yang ditanya jawabnya, tidak akan ada yang berubah, semua akan sama saja seperti dulu. Baik sebelum dan sesudah dikader, semua mahasiswa baru itu tidak akan berubah seperti yang diinginkan pengkaderan buatannya.

Kalau kamu membuat pengkaderan dengan konsep lama soal pergerakan mahasiswa dan sejarahnya, apa kau pikir itu bisa membuat mahasiswa baru mau melakukan hal yang sama dengan mahasiswa lama dalam sejarah? Meninggalkan kuliah untuk demo, berdiskusi hingga larut, mendebat pihak penindas, membuat perubahan, apa kamu yakin, mereka mau melakukannya dengan resiko akademik, waktu dan jiwa mereka terganggu?

Kamu bilang, mau buat pengkaderan yang nyaman. Kamu mau pakai standar nyaman siapa? Standarmu atau mereka? Mereka tidak mungkin bisa merasa benar-benar nyaman, karena kesan yang kamu tanamkan sejak awal pengkaderan pada mereka tidak mencerminkan kenyamanan. Jadi tidak usah pikirkan kenyamanan pengkaderan kalau paradigma senior-junior masih mau kamu ajarkan. Kontradiksi. Logika junior tidak akan pernah sejalan dengan logika senior. Seperti logika kacung yang senantiasa bertabrakan dengan logika majikan.

Lagipula, kalaupun kenyamanan bisa kamu ciptakan, apa kamu pikir itu cukup? Selama kamu tidak memberikan sesuatu yang mahasiswa baru butuh dan inginkan dalam pengkaderanmu, jangan pernah harapkan antusiasme.

Mahasiswa sekarang, mayoritas anhistoris, tidak punya lagi ikatan sejarah dengan masa lalu. Apa kamu pikir mereka akan peduli dengan kisah salemba '66 ketika mahasiswa saat ini berbahagia dengan WiFi yang dipakai buat facebookan?

Kebanyakan mahasiswa saat ini hanya butuh nilai A dan segera lulus. Kalau kamu bisa menyediakan sarana buat mereka mencapai hal itu dalam pengkaderan, yakin saja, antusiasme itu pasti ada. Tapi kayaknya itu akan menyerupai kursus, bukan pengkaderan mahasiswa lagi.

Meskipun begitu, tidak ada salahnya kan, berubah menjadi sesuatu yang lain. Bagaimana memformulasikan pengkaderan berbasis intelektual, untuk menghasilkan mahasiswa yang peka secara sosial tapi tidak goblok.

Entahlah...

(Tertawa saja...pengkaderan bukan urusan mereka yang pesimis)

Selasa, 13 Oktober 2009

Listrik 2

Ditemani Lionel Richie dan Koes Ploes berwujud pria kribo masa kini ketika PLN menunjukkan kedigdayaan sebagai Dewa Listrik. Dalam kesederhanaan seragamnya, PLN memang jadi semacam dewa yang bisa mengatur kapan seorang mahasiswa harus kerja tugas, pacaran dan melakukan sejumlah kegiatan sampingan lainnya yang butuh pergerakan elektron.

Tak ada yang bisa menuntut pasukan berlambang kilat ini, Presiden pun tidak. Dengan tameng alasan teknis atau musim kemarau, listrik mati, siapa yang bisa menuntut? Tuhan? Tidak perlu dijawab. Tidak penting.

Biarkan semua orang Makassar mengumpat dan menyumpah, listrik memang begitu. Urusan PLN. Nikmatilah...

Senin, 05 Oktober 2009

Listrik

Tiga malam sudah, PLN jadi penjahat paling dibenci mahasiswa kawasan Tamalanrea. Entah karena alasan apa, akhir-akhir ini pemadaman menjadi kegemaran institusi berlambang petir yang bengkoknya sedikit (berdasar analisis gambar).

Akibat pemadaman tanpa pengumuman di Facebook dan Twitter ini, mahasiswa-mahasiswa merasa teraniaya dan terintimidasi. Beberapa oknum yang pikirannya mulai tidak beres bahkan berencana menabrakkan motornya yang sudah disulut api ke gedung mesin PLN. Katanya, mengekspresikan kejengkelan. Untung saja, ketika sedang cari motor yang mau dijadikan korban, listrik kembali pulih. Tampaknya, pegawai PLN punya firasat khusus mengenai hal ini.

Semoga saja malam ini, pikiran oknum mahasiswa yang rencana gilanya gagal terlaksana kemarin bisa sedikit beres, karena PLN kembali melakukan kebiasaan lamanya. Pemadaman.

Kalau tiap malam begini keadaannya, bisa jadi, jumlah mahasiswa yang pikirannya kacau akan bertambah.

Listrik, organ tubuh manusia yang terpisah

Minggu, 27 September 2009

Out of orbit.

Bangsa dan Solusi

Bangsa ini, mayoritas membenci kapitalisme karena alasan, penjajah yang dulu pernah mengobrak-abrik negeri berpulau terbanyak di dunia ini, punya paham kapitalisme. Penderitaan mayoritas penduduk (karena ada juga minoritas yang bahagia selama masa penjajahan) yang diturunkan dari kakek buyut hingga cicit terkini, meninggalkan jejas dalam alam bawah sadar bangsa. Jejas yang bermanifestasi menjadi sebuah premis "jika penjajah itu kejam maka semua yang berhubungan dengannya pasti kejam". Premis yang bisa benar, bisa salah, tapi dipercayai oleh hampir semua bangsa yang pernah terjajah.

Dengan landasan premis seperti itu, bapak pendiri bangsa ini, Soekarno dan kawan-kawannya yang kini terpampang di buku sejarah sebagai pahlawan, secara tidak sadar (harus dianggap seperti ini karena motivasi keadaan sadar para pendiri bangsa ini bisa jadi tidak seperti ini), mencoba merumuskan sebuah konsep kebangsaan Indonesia yang diupayakan berbeda dengan konsep kebangsaan penjajahnya dulu. Konsep kerajaan dan kekaisaran ditolak, paham kapitalisme dijauhkan dan paham kontranya, sosialisme dibiakan (meskipun akhirnya paham ini dibabat juga pada tahun 1965), pokoknya, hampir semua yang berbau penjajah disingkirkan dari konstitusi.(anehnya hingga sekarang, hukum pidana dan perdata negeri ini masih merujuk undang-undang penjajah kita. Padahal sudah kuno sekali, dan tidak sesuai kondisi kekinian)

Gambaran ekstrim penyingkiran sisa masa lalu kelam ini ditunjukan oleh Soekarno. Pada bulan Juli 1945 ketika penyusunan konstitusi bangsa tengah digodok, dengan permohonan yang memelas hingga ingin menangis, agar hak kebebasan individu-yang lekat dengan kapitalisme- ditiadakan dari UUD.
"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya yang terhormat!", katanya penuh gelora. "Kita rancangkan UUD dengan kedaulatan rakyat, dan bukan kedaulatan individu".

Alasan Bapak Bangsa kita dulu berpendapat seperti itu adalah kebebasan individu yang membuat dunia Eropa dan Amerika menjadi dunia penuh konflik, pertikaian dan perang.

Luar biasa kalau pidato Bung Karno yang seperti ini diperdengarkan kembali pada 10 Desember saat peringatan Hari HAM atau ketika amandemen UUD 45 yang lalu. Bisa timbul perdebatan sengit yang bakal menyerempet soal ideologi dan kroni-kroninya.

Terlepas dari perdebatan seperti itu, sebagai bangsa, kita memang perlu menentukan, masihkah relevan semua isi konstitusi dengan kondisi psikologis bangsa ini yang sudah merdeka 60 tahun lebih.

Masihkah kita butuh semua undang-undang itu?

Abad Soekarno dan penjajahan ada buat untuk suatu masa, tapi tidak untuk sepanjang masa. Bangsa ini lebih aman untuk tidak merenungkan kembali prestasi dan nostalgia masa lalu. Karena begitu satu soal bangsa terpecahkan, soal-soal lain muncul, seiring dengan datangnya pemecahan soal terdahulu. Undang-undang, sejarah, tokoh kharismatik, kondisi psikologis, itu hanyalah bahan mentah untuk membentuk solusi-solusi baru. Pemecahan yang terbaik hanya akan bersifat sementara.

Karena itu, bergerak atau diam?

Palu yang Tak Memecahkan

Kontempelasi berhari-hari ini tidak ada artinya. Hasil yang diharapkan tak kunjung terbentuk. Pikiran belum mampu menjangkau solusi. Terlalu banyak ketakutan yang menyelubung pemecahan cangkang soal. Palu itu ada. Namun keengganan merusak hubungan, interkoneksitas emosi yang lama terjalin, lebih diktator dibanding keinginan lepas dari masalah yang serumit puzzle tanpa pola ini.

Sepertinya harus berhenti memikirkan ini. Meskipun jawaban untuk semua pertanyaan sudah ada, tidak juga ada solusi untuk menyampaikannya.

Persoalan ini seperti perjalanan yang tanpa akhir,

Aku telah temukan jejak
aku telah mencapai jalan
tapi belum sampai solusi

berapa banyak abad lewat
berapa banyak arloji pergi
berapa banyak isyarat dapat
berapa banyak jejak menapak
agar sampai padamu?

Solusi dan padamu, Tuhan yang punya, begitu tulis Sutardji dalam syairnya.

Ya, Tuhan yang dibutuhkan saat ini. Untuk memilih jalan yang benar.

Sabtu, 26 September 2009

Libur

Apa jadinya media yang kehilangan narasumber untuk diwawancarai? Kalau ditanyakan pada redaktur lembaga pers mahasiswa, jawabannya,"kita libur saja, belajar, ada ujian menanti". Ini peristiwa konyol yang nyata terjadi, tapi sulit dihindari. Di tengah stressor karena ujian yang menanti, deadline yang menukik, narasumber tidak ada, rasanya mustahil untuk merampungkan buletin dengan hasil maksimal. Semoga libur beberapa hari bisa mendatangkan pikiran jernih sekaligus sebagai masa menanti perubahan sikap narasumber.

Dalam rangka penyusunan buletin edisi khusus mengenai pemilihan dekan, lembaga pers mahasiswa kampus, berencana mengadakan wawancara dengan kandidat dekan, guru-guru besar yang akan memilih nantinya, panitia pemilihan dekan dan warga KEMA. Tapi apa lacur, dari semua narasumber target, yang bersedia dan punya kesempatan diwawancarai hanya seorang kandidat dan warga KEMA, sisanya gelap. Kondisi seperti lalat yang menceburkan diri dalam kubangan minyak pekat, mengerikan, mematikan.

Aneh memang, niat LPM untuk menyebarkan ke semua civitas akademik tentang pemilihan dekan dan seluk beluknya, nampaknya belum direstui Yang Maha Kuasa. Ada-ada saja kendala yang dihadapi, ada narasumber yang sedang liburan, umrah dan perjalanan dinas hingga tak bisa ditemui, ada juga yang sejak awal menolak dan hebatnya ini dilakukan oleh beberapa orang dengan alasan yang sama. What a coincidence... Pikiran paranoid akan mengatakan there must be a conspiracy. Tapi, sudahlah, anggap saja itu memang kebetulan.

Pemilihan dekan sepertinya memang bukan konsumsi umum. Hanya untuk kalangan tertentu saja. Kesannya benar-benar elitis. Jadi biarlah itu berjalan dengan sendirinya tanpa harus diketahui. Seperti agen rahasia yang menyelinap di markas musuh, tunggu saja hasilnya.

Saatnya belajar.

Kamis, 24 September 2009

Mati Tenggelam di Air Tawar dan Air Asin

Jika Anda mencari artikel mengenai bahan kuliah forensik yang berkaitan dengan tenggelam di air tawar dan air laut, silahkan download klik di sini.

Atau Anda bisa juga klik gambar buaya yang ada di bawah ini. (bahan kuliah dari Unair)



Ada dua ekor buaya, satu dari sungai dan sisanya dari laut, mereka, seperti halnya manusia, sering mempertengkarkan urusan primordial. Entah itu status, keturunan, dan asal. Padahal kalau merunut sejarah, buaya adalah buaya, mau di darat atau di laut, mereka harus sama-sama merayap saat di darat dan "terpaksa" berenang jika di air, dari mana pun asal mereka. Binatang di kisah ini memang aneh, mau-maunya mencontoh manusia ketika bicara asal-muasal, seolah dengan asal itu, mereka jadi mulia karenanya.

Sebelum melenceng jauh ke arah perdebatan ontologis, ada baiknya, fokus kembali diarahkan ke pembicaraan buaya-buaya ini.

Buaya laut dan sungai, masing-masing dari mereka, membanggakan lingkungan tempat mereka hidup berdasarkan komparasi tingkat ketersiksaan manusia hidup di lingkungan mereka. Makin banyak siksaan yang di rasa manusia di suatu lingkungan, makin tinggi kebanggaan. Manusia yang membaca ini, harap jangan memasukannya ke dalam hati. Kedua buaya ini sejak dulu benci manusia yang telah merusak lingkungan mereka, jadi mereka juga ingin manusia menderita, alasan klasik untuk marah. Tapi, manusia yang membaca ini, agar tidak sakit hati karena disumpahi buaya, jangan hiraukan alasan mereka, bersikaplah seperti manusia - manusia yang tidak peduli alamnya, masa bodoh dengan binatang, biar saja mereka punah, yang penting kebahagiaan senantiasa menari di kantung dan pikiran. Itu hanyalah opini segelintir orang, terserah mau diikuti atau tidak.

Kembali ke percakapan buaya. Mereka berdua, memperkarakan soal lingkungan air apa yang bisa mempercepat kematian manusia akibat tenggelam?
Buaya laut bilang, sudah jelas tenggelam di laut, manusia lebih cepat mati, karena efek ombak, volume air yang masif dan keluasannya, laut membawa dampak fisik dan psikologis yang bisa mempercepat kematian.
Tentu saja, pernyataan seperti itu di sanggah buaya sungai, tenggelam di sungai yang airnya tawar bisa membunuh lebih cepat karena kelokan dan panjang sungai bisa membawa efek ketegangan seperti rally F1 yang tikungannya tajam dan jaraknya panjang, ini mematikan.

Alasan kedua buaya ini tidak masuk akal dan menyesatkan.

Pada kenyataannya, tenggelam di air tawar memang dapat membunuh lebih cepat dibanding tenggelam di air laut. Tenggelam di air tawar dapat menyebabkan sejumlah peristiwa kimiawi yang lebih mematikan dibanding ketika tenggelam di air laut.

Saat tenggelam di air tawar, air yang tertelan bersifat hipotonis karena kandungan elektrolit seperti Na+ dan K+ sangat minim, nama saja air tawar. Cairan yang hipotonis seperti air tawar dapat menyebabkan pengenceran hingga pemecahan sel darah. Jika hal ini terjadi, elektrolit seperti Na+ dan K+ yang awalnya terikat kuat pada sel darah, dapat mengalir bebas seperti napi yang bebas dari tahanan (sel darah yang mengikat sudah pecah). Kelebihan K+ dalam darah dapat mengganggu fungsi konduksi jantung, sehingga jantung tidak bisa memompa dengan baik. Bila sudah sampai pada kondisi ini, otomatis sirkulasi darah ke organ akan terganggu, terutama yang menuju otak. Beberapa menit saja otak tidak mendapat suplai darah, kematian sudah menanti.

Sedangkan kematian di air laut berbeda tekniknya. Kematian lebih disebabkan oleh edema paru. Sebab air laut yang tertelan saat tenggelam, banyak mengandung elektrolit yang sifatnya menyerap air, sehingga setelah ada di paru-paru, air laut akan menyerap semua cairan yang ada di sekitarnya. Proses edema membunuh seperti ini butuh waktu yang lebih lama dibanding tenggelam di air tawar.

Perdebatan selesai.




*dari kuliah forensik dengan sejumlah interpretasi ulang di sana-sini

Rabu, 23 September 2009

Mahasiswa, Dekan, Drum-drum-drum

Drum-drum-drum,
beberapa hari ke depan, akan ada sebuah pertarungan yang (semoga) tidak harus menumpahkan darah dan menerbangkan nyawa. Pertarungan yang bisa jadi sedahsyat pertempuran Arjuna melawan Kurawa di padang Kurusetra, hanya saja tanpa ditemani properti Gandawa berbusur seribu serta Gada sebesar kaki gajah. (Sederhananya), pertarungan ini diupayakan tidak melibatkan kontak fisik ataupun kontak senjata. Hanya perang ide, visi dan misi.

Dan (kebetulan) para petarungnya memang tidaklah sedigdaya Bima dalam kekuatan fisik maupun semumpuni Karna dalam bersenjata. Mereka, para petarungnya, hanyalah segelintir manusia hasil saringan ketat yang diproyeksikan akan memimpin sebuah institusi penghasil manusia-manusia setengah dewa,- (tapi tampaknya, kedewaan itu, tidak sampai lagi setengah, setelah sejumlah previllegenya dipancung undang-undang)- Fakultas Kedokteran.

Semestinya pertarungan seperti ini dapat diketahui khalayak ramai, seperti ketika Chris John mempertahankan gelar dunianya, atau seperti Barcelona yang memenangkan Piala Champion. Meski tidak semua ikut memukul dan melabrak seperti Bang Chris atau menggocek dan mendrible seperti Kang Messi, toh, semua orang yang memiliki kepentingan di dalamnya dapat ikut merasakan atmosfer persaingan maupun perayaan kemenangan mereka, entah itu penonton yang membeli tiket pertandingan, petaruh yang memasang taruhan, bandar yang mengumpulkannya, komentator yang mengoceh dan kru TV yang menyiarkannya. Semua larut dalam keriuhan dan gema yang sama.

Mungkin kasar untuk menyamakan pertarungan yang mengandalkan kekuatan fisik seperti tinju dan sepak bola dengan pertarungan intelektualitas para calon dekan. Tapi ada semangat yang setidaknya bisa dicontoh dari pertarungan fisik yang hanya butuh tangan berotot dan kaki sehat. Setidaknya, dipertarungan seperti itu, ada keterbukaan, tidak ada rahasia, semua penonton dan yang merasa bagian dari pertarungan dapat melihat, bersorak dan menyemangati petarung idolanya.

Keramaian seperti itu kemungkinan besar tidak akan pernah ditemukan pada pemilihan dekan. Karena pada pemilihan dekan memang tidak diwarnai aksi tonjok-tonjokan dan gol-gol menarik yang bisa mengundang decak kagum. Mungkin hanya akan ada retorika, pidato dan konsolidasi tentang masa depan fakultas, mahasiswa dan dokter. Semua persoalan pelik akan dibahas, karena itu sebisa mungkin, jiwa-jiwa yang dianggap primitif, seperti mahasiswa yang meledak-ledak bagai nitrogliserin, sedapat mungkin dihindarkan dari kancah pemilihan. Mahasiswa yang tahunya hanya facebook, shopping, anatomi batu dan lempar-lemparan mana tahu persoalan pendidikan, bangsa atau negara. Dan akhirnya, mahasiswa memang tidak dibutuhkan dalam kancah seperti ini, meskipun nantinya dekan yang terpilih akan mengurusi segala tetek bengek mahasiswa.

Pemilihan dekan, alih-alih menjadi semacam pesta bersama, sepertinya akan menjadi acara demokrasi elitis di era Guizot, di mana pengambilan keputusan hanya perlu melibatkan orang-orang tertentu, dengan previllege khusus. Kalau di masa Guizot dulu, previllege itu milik mereka yang kaya, dan membayar pajak lebih dari 200 franc. Di masa kini hal seperti itu memang sudah jarang ditemukan, orang-orang masa kini, terutama mahasiswa, senantiasa mengharapkan demokrasi yang tidak diskriminatif seperti itu. Karena itu mahasiswa merasa, wajar saja jika mereka selalu ribut ketika sebuah keputusan yang langsung menyentuh kantung belanja dan pikiran mereka, dibuat tanpa "minta persetujuan" terlebih dahulu. Undang-undang BHP salah satu contohnya, langsung menyentuh kantung, dan mendapat reaksi. Pemilihan dekan bisa saja mendapat reaksi yang sama, tapi nampaknya, mahasiswa sejak awal memang tidak merasa harus terlibat pada kegiatan birokrasi seperti itu.

Biarpun tidak harus tahu kandidat, prosesi, dan hasil pemilihan dekan nantinya, mahasiswa masih bisa kuliah. Dan kisah berlanjut hingga 5 tahun yang akan datang, hingga dekan baru terpilih lagi.

*disorientasi lagi

Selasa, 22 September 2009

Dewa, dokter, manusia

Seorang mahasiswa kedokteran mengeluh pada temannya yang kuliah di sastra. Dia mengeluhkan kebingungan yang telah menyerangnya semenjak dirinya menjejakkan kaki di institusi yang katanya akan menjadi kawah candradimuka dewa-dewa penyembuh. Berlebihan memang anggapan seperti itu, tapi itulah opini yang tersemat di kepala teman kedokteran kita. Teman sastranya, mengomentari opini itu dengan ucapan,"kamu terlalu sering nonton tayangan berkualitas karbit, baca buku beranalisis jongkok. Tapi harapanmu melebihi tingginya gunung-gunung semesta. Apa kau pikir jadi dokter itu segala-galanya?"
Pada beberapa kondisi, jadi dokter bagi teman kedokteran kita memang segala-galanya, bayangkan, nyawa (bukan jiwa) dan raga seorang pasien dapat diberikan intervensi aneh-aneh, entah itu suntik, potong, jahit dengan alasan sesuai prosedur, lege artis demi kepentingan pasien. Tidakkah itu luar biasa? Memang luar biasa.

Tapi teman sastra kita mengingatkan tentang sisi manusia seorang dokter."Dokter juga manusia. Sedewa apapun tindakannya dalam memperlakukan nyawa manusia, toh, itu tindak menjamin moralitasnya akan seperti dewa pula. Manusia akan selalu jadi manusia yang pikirannya bisa melayang ke tempat setan, yang nafsunya lebih sering berteman dengan setan. Apa kau mengharapkan lahirnya sejenis mahluk suci dari ciptaan bernama manusia? Kukatakan padamu, selama dokter adalah manusia, profesi itu tidak akan pernah jadi segala-galanya"
teman sastra kita mungkin saja benar, tapi itu hanyalah opini yang kebenarannya sulit dibuktikan, apalagi itu menyangkut soal setan. Apa benar, setan sering berteman dengan nafsu? Pernyataan ini menjadi semacam tuduhan tak berdasar, bisa menuai tuntutan hukum dari golongan setan jika dianggap sebagai pencemaran nama baik. Semoga saja pengacara tidak pernah bertemu setan untuk menuntut hal ini.

Kisah ini hampir berakhir, tapi teman kedokteran kita belum juga mengutarakan apa kebingungannya. Perlukah kita mengetahuinya? Teman sastra kita tidak lagi bersuara, dia merasa itu pertanyaan yang sengaja dibuat untuk menyinggungnya. Dia meninggalkan teman kedokterannya, sambil bergumam,"seorang (yang merasa dirinya) dewa masa kini tidak akan pernah merasa bingung. Kebingungan dewa hanya ada di mitologi kuno. Bukankah dewa yang menyingkirkan kebingungan?"
gumaman yang juga bertanya.

Perihal Demokrasi

Seandainya Montesqieu dan Thomas Jeferson serta ribuan pejuang demokrasi lainnya dilahirkan dalam satu negara yang sama, apakah mungkin mereka dapat menciptakan sebuah negara paling demokratis yang pernah ada di muka bumi ini? Sulit untuk menjawabnya, bahkan mungkin pertanyaan seperti itu tidak akan pernah bisa terjawab meskipun nanti, perkembangan IPTEK memungkinkan kita untuk terbang di udara tanpa kendaraan.

Variabel demokrasi dan kekuasaan terlampau acak, sehingga sulit untuk meramalkan jalannya suatu pemerintahan di awal masa terbentuknya. Bahkan menebak angka lotre masih lebih mudah dibanding meramal kebijakan pemerintahan produk demokrasi. Lotre tidak butuh banyak mimpi untuk memasang taruhan, cukup mimpi seorang pengharap yang terobsesi pada kekayaan lalu raga seorang penjudi ulung, taruhan sudah dapat diciptakan. Tapi demokrasi, kita bicara soal mimpi ribuan orang yang tidak sama satu sama lain dengan tingkat keculasan yang juga berbeda-beda. Sulit membayangkan sebuah kebijakan lahir dari tumpukan orang seperti itu.

Dan sejarah sudah membuktikannya, utopia demokrasi yang didengungkan serta dicanangkan oleh orang-orang yang dialiri semangat liberte, egalite, fraternite dalam darahnya, di Prancis saat revolusi dulu, justru melahirkan Napoleon yang diktator dan totalitarian. Demokrasi yang aneh.

Sekali lagi, sulit membayangkan sebuah negara demokrasi yang murni berasal dari konsensus semua warga negara.
Lebih mudah membayangkan keadaan di akhirat kelak saat Thomas Jeferson, Voltaire, Montesqieu kebingungan karena ternyata di alam baka, tidak ada demokrasi. Memangnya, siapa yang berhak memilih dan dipilih jadi Tuhan?

Sabtu, 19 September 2009

Perihal Mimpi

Kita bermimpi tentang sebuah masa depan yang lebih manis dari semangkuk es krim coklat di teriknya siang. Dan kita terus menciptakan paradoks seperti itu tiap saat meskipun sejak dulu kamu dan aku tidak pernah bisa mempercayai dua hal bertentangan pada satu wujud yang sama dapat harmonis.

Kita bermimpi tapi tidak pernah benar-benar ada dalam mimpi yang semestinya bebas. Kita masih diikat oleh dharma, aturan sebab-akibat sehingga mimpimu dan mimpiku selalu sama, mimpi yang artifisial, tidak ada kebebasan di situ.

Padahal kita berdua selalu meyakini bahwa mimpi adalah satu-satunya kegiatan yang kebebasannya mutlak tanpa terkecuali. Seharusnya di situ saya bisa jadi superman yang tak terkalahkan dan kamu bisa memerankan monster yang juga tak terkalahkan. Tapi sekali lagi, tidak ada mimpi seperti itu.

Kita hidup di sebuah dunia yang masih menjunjung status sosial dan ekonomi di atas yang lain, di mana orang dinilai berdasar pintu keluar awalnya di dunia, dan kemapanan tidak pernah mau menyentuh kekurangan, mimpimu dan mimpiku akan terus sama selamanya, tentang pangeran berkuda, yang kepayahan dalam menyelamatkan sang puteri karena harus membiayai ongkos perawatan kuda. Mimpi tidak ada yang bebas.

Tulis Saja Apapun Itu

Semakin hari tulisan di blog ini makin menunjukkan kekacauan berpikir penulisnya. Ungkapan yang menyatakan, apa yang dituliskan seseorang menggambarkan seperti apa kehidupannya, nampaknya dapat diterima sebagai sebuah kebenaran empiris oleh pemilik blog ini.

Dari semua tulisan yang telah diposting, tidak ada satu pun topik yang bisa memberikan pemahaman dan ilmu berguna pada pembacanya. Ini seperti suatu penyelewengan halus terhadap tujuan awal pembuatan blog, sharing, berbagi sesuatu yang bermanfaat kepada orang yang membaca.

Tapi sudahlah, hal seperti itu tidak akan dipikirkan pemilik blog terlalu dalam. Ini persoalan sepele.

Selama masih bisa menulis, tidak usah pedulikan apa yang orang pikirkan tentang tulisan kita, diri kita dan apapun tentang kita.

Yang penting bisa membahagiakan hati penulisnya, tulis saja apapun itu. Jangan pedulikan tata bahasa formal kalau keinformalan sudah cukup dimengerti. Jangan persusah diri dengan teori menulis.

Menulis, sarana untuk menciptakan simple life without suffer.

Kamis, 17 September 2009

Berantakan 4


Orang-orang yang tidak lagi punya masa lalu hanya bisa meringis kerinduan melihat orang-orang yang sibuk mengurusi perlengkapan dan persiapan kembali ke rumah, ke tempat di mana masa lalu bertaut.


Mereka yang tercerabut dari masa lalu hanya bisa menganga gersang, menerawang sebuah masa di mana mereka pernah ada di situ sebelumnya, di suatu tempat yang pernah menjadikan mereka sebagai salah satu penghuninya.Tapi semakin jauh mereka menerawang, tidak ada masa dan tempat seperti itu yang hadir dalam impresi mereka. Hal seperti itu tidak pernah ada.



Mereka yang terputus dari masa lalu punya kondisi yang lebih menggenaskan untuk menjadi sebuah kisah. Lebih memprihatinkan dibanding kaum Yahudi Diaspora yang senantiasa terusir dan terjajah tanpa sebuah negeri pun rela menerima di masa ketika Israel belum berdiri, lebih menyayat sukma dibanding kematian Bhisma di padang Kurusetra.


Tapi apa lagi yang dapat mereka harapkan dari keadaan mereka selain bisa menyaksikan kebahagiaan orang-orang yang masih memiliki jalan pulang. Ikut bahagia melihatnya, tanpa boleh sedikitpun ada kedengkian. Karena dengki pun...mereka  tidak bisa menemukan apa - apa di ujung kedengkian itu, selain kosong, dan rantai kedengkian yang baru.


Masa lalu...
Apakah itu memang penting untuk dikenang? Apakah itu diperlukan untuk sebuah eksistensi yang baru? Mereka yang tercerabut, tidak bisa menjawabnya. Karena sekarang pun mereka tengah dilanda kebingungan. Apakah mungkin bagi mereka terus-menerus hidup seperti ini yang tanpa masa lalu? Atau mereka harus menciptakan sebuah masa lalu baru?


Pertanyaan yang mudah sebenarnya bagi mereka yang sudah lelah. Tapi mereka yang tercerabut, belum juga lelah untuk terus bertanya-mengira-menerawang tentang masa lalu yang tidak pernah ada.

Untung saja, melakukan kegilaan terus-menerus menerawang, tidak butuh perang seperti Mahabharata dan Ramayana. Berpikir saja...dan orang - orang tidak peduli.

Jumat, 11 September 2009

Disorientasi 4

too stupid too understand what's going on...

masa lalu mengajarkan manusia banyak hal. salah satunya...adalah...jangan pernah belajar.

Bersenang-senanglah lalu ulangi lagi kesalahan yang sama. Karena masa lalu selalu lebih terliaht menyenangkan dibanding sekarang.

Seluar biasa apapun masa kini, semegah apapun bentuknya, masa lalu selalu hadir dengan wajah yang lebih indah.


Mereka bilang, dulu tidak begini...kenapa sekarang seperti itu? Dengan berpendapat seperti itu, mereka sudah menjadi alien, mahluk asing yang tidak pernah punya tempat untuk masa kini.

Mereka berteriak soal nostalgia. Meradang soal jalan kembali. Apa mungkin itu? Tidak pernah ada jalan balik....

Kita harus terus berjalan...tidak mungkin menunggu yang tertinggal.

Kamis, 10 September 2009

Bilik kecil


Bilik kecil ini menimbulkan keposesifan. Padahal tidak ada materi yang bisa dibanggakan dari ruang geometri tak jelas ini. Sebuah komputer tua yang sering hang, dua buah lemari buku hasil jarahan dan sebuah TV hasil klaim, hanya itu barang-barang yang bisa dijual dari bilik kecil ini. Tidak ada lagi yang lain. Tidak mungkin menjual AC rusak yang sudah menggantung dan mengotori bilik kecil pengap ini selama dua tahun terakhir. Walaupun ada rencana menjual, selalu saja urung dieksekusi karena baru membicarakannya saja, para penghuni bilik sudah merasa sakit mengingat semua kejahatan, kebasahan, kelembaban dan keapekan yang telah diperbuat AC tua itu. Kata salah satu penghuni,"biarkan saja dia di situ. Prestise. Untuk ukuran keindonesiaan, AC adalah barang mewah. Mungkin saja dia bisa membawa aura kemewahan di mata para tamu Indonesia". Sebuah alasan mati untuk menyembunyikan rasa muak.



Tapi memang mengherankan. Bilik kecil ini bisa menimbulkan daya magis yang lebih kuat menarik dan mengikat terhadap penghuninya dibanding kawat gigi terhadap gigi. Padahal tidak ada upah yang didapat para penghuninya dari menjagai bilik tak berbentuk ini selain rasa pengap karena keringat dan panas tubuh. "Ini perkara di luar logika", begitu jawab salah satu penghuni ketika ditanyai soal alasannya bertahan di bilik kecil.



Banyak hal di dunia ini yang berjalan di luar logika, terutama jika itu berkaitan dengan keposesifan. Tapi apa para penghuni bilik kecil itu tahu hal ini? Mereka tahu dan sangat menyadarinya, bahwa saat ini mereka sudah berjalan menjauhi realitas. Tapi mereka sudah tidak bisa lagi mundur. Ada sesuatu yang harus mereka tuntaskan namun tidak mungkin diputuskan tentang mereka terhadap bilik kecil ini. Kata orang-orang di zaman, batu masih jadi barang berharga, para penghuni bilik kecil itu tengah dimabuk cinta. Cinta pada bilik tak jelas.



Pasti ada sesuatu pada bilik itu yang membuat penghuninya jatuh cinta. Penulis bilang, itu kenangan. Nostalgia dengan masa lalu.



Nostalgia yang merekatkan generasi-generasi berbeda menjadi sebuah keutuhan di bilik kecil ini.

Selasa, 08 September 2009

Anjing Kampus


Selama beberapa hari terkahir ini, telah terjadi sejumlah fenomena aneh di lingkungan kampus Unhas. Fenomena-fenomena aneh itu bisa jadi hal yang biasa saja di mata orang lain yang sudah lama tinggal di Makassar, tapi orang yang baru menginjakkan kakinya di Makassar dalam durasi 2 tahun terakhir, fenomena yang terjadi kampus Unhas baru - baru ini adalah fenomena yang luar biasa karena kejadian seperti itu baru kali ini "lagi" terjadi, setelah dua tahun berselang.

Selama dua tahun terakhir, terhitung sejak 2007, kampus Unhas adlah kampus yang bebas anjing. Penulis sudah membuktikannya setelah melakukan penjelajahan kampus ketika dia lagi tidak punya kegiatan signifkan. Tidak pernah sekalipun dirinya melihat gerombolan anjing yang lebih dari 3 ekor eksis di muka bumi Unhas mulai dari ujung Fakultas Hukum hingga Fakultas Teknik. Kalaupun ada anjing, itu hanya seekor yang sepertinya kesasar karena mungkin lupa rumahnya. Tapi frekuensi menemukan anjng kesasar sperti itu selama 2 tahun yang lalu sangat minimal, mendekati 0% dalam sebulan.

Praktis, dengan keadaan seperti itu, rasa aman dan tentram dapat dirasakan oleh para penjelajah kampus seperti penulis yang hampir tiap malam keluyuran keliling kampus, entah untuk mencari hotspot, warung atau hanya sekedar jalan-jalan tidak jelas. Yang pasti, kekhawatiran terkena rabies tidak ada.

Tapi dalam sebulan terkahir, keadaan sudah berubah. Gerombolan anjing mulai terlihat melakukan invasi di kampus - kampus. Mereka mulai melakukan agravasasi, melolong dan menggonggong, sungguh mengganggu kenyamanan telinga dan ketentraman jiwa. Pertama kali, penulis melihatgerombolan anjing yang lebih dari tiga ekor di sekitaran geologi. dengan gaya mereka yang keanjing-anjingan, mereka membuat sejumlah pejalan kaki wanita ketakutan. Sungguh kondisi yang patut disayangkan.

Awalnya, penulis mengira, gerombolan seperti itu hanya akan terbentuk di fakultas geologi, ternyata tidak, anjing-anjing itu meulai mebuka cabang di mana-mana. Mereka mulai berseliweran di fakultas-fakultas lain. Kondisi ini mulai membahayakan.

Entah kenapa, tiba - tiba gerombolan anjing ini mulai bermunculan di kampus. Ada sejumlah asumsi dan perkiraan yang dianggap berhubungan dengan fenomena ini. Faktor banyaknya kegiatan buka puasa bersama di kampus yang biasanya menghasilkan banyak produk sisa berhamburan dianggap menjadi salah satu faktor pemicu datangnya anjing ke kampus. Tapi hal ini masih diragukan keabsahannya, karena 2 tahun lalu pun, kegiatan buka puasa bersama sudah dilakukan, tapi kejadian ini tidak pernah terjadi. Faktor lain yang dianggap jadi salah satu pemicu adalah, peristiwa pembataian anjing di sejumlah wilayah Sulsel. Baru-baru ini populasi anjing di Sulselmemang meningkat, sehingga sejumlah daerah melakukan pembantaian anjing-anjing agar resiko rabies dan ketentraman warga dapat terjamin. Meskipun ini disayangkan oleh sejumlah pihak.

Bisa jadi, anjing-anjing yang tidak mau dibantai, melakukan pengembaraan hingga ke Unhas untuk menyelamatkan diri. Ditambah lagi dengan banyaknya sumber nutrisi di sekitaran kampus. Sungguh kondisi ideal untuk anjing.

Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Kira-kira, solusi apa yang bagus untuk mengatasi masalah ini? Selain membunuhi anjing-anjing?

Passion

Sebuah kejayaan dibangun bukan berdasar metodologi, teknik, ataupun teknologi. Pada kenyatannya semua itu hanyalah produk situasi.

Sejarah mencatat orang-orang seperti Gandhi yang katanya metodologi swadeshi, ahimsa, satyagraha dalam melawan penjajahan ternyata tidakbenar-benar bisa seutuhnya melaksanakan semua prinsip dasar itu. Metodologi itu hampir saja lumpuh total ketika terjadi konflik agama di India. Untung saja, Gandhi punya satu senjata rahasia yang membuatnya tetap bertahan, meradang dan berteriak, "it's me. stop massacring". Dan dengan rahasia itu, konflik itu bisa mereda.

Jenghis Khan menggunakan rahasia itu untuk meletakkan dunia di bawah kakinya. Hitler memakainya untuk menerbangkan bangsa Jerman menuju awang-awang keagungan semu. Edison meresapinya dalam ribuan penemuan. Dan Hegel menyebutnya, passion, hasrat. Penggerak utama manusia menuju kejayaan.

Sabtu, 05 September 2009

Materialisme 1

Berpikir materialisme mungkin akan terdengar kejam di telinga orang-orang yang idealis. Kencenderungan pesimis dan kebiasaan yang kerap dianggap jauh dari nilai kemanusiaan selalu disematkan pada para materialis.

Padahal sesungguhnya, materialisme memiliki keoptimisan tersendiri karena pengabaiannya terhadap keidealan angan. Keoptimisan materialisme sangat realistis karena orientasi pemikiran yang berbasis pengalaman empiris, menjadikan para materialis tertahan pada melankolia dan nostalgia yang terlampau indah. Tidak ada waktu untuk bertahan dengan keindahan abstrak yang dibangun oleh pemikiran.



Dan tentang kemanusiaan, materialisme justru sangat manusiawi. Alih-alih menganggap manusia sebagai mahluk sempurna yang harus terus-menerus berbuat kebajikan, materialisme lebih suka memandang manusia apa adanya dengan segala kebusukan dan keburukannya, seperti apa yang terlihat.



Tapi untuk saat ini, dikotomi materialis-idealis sudah kabur, dan ada baiknya, hal tersebut kabur selamanya. Sudah saatnya berhenti membagi-bagi ideologi dan pemikirin ke dalam kotak-kotak sempit yang hanya akan menghantarkan manusia ke dalam pertikaian. Sudah cukup jutaan nyawa dan harta melayang karena perang kapitalisme-sosialisme. Dendam-dendam yang telah tersemat mungkin tidak akan bisa terlepas, karena itu jangan menambah sematan yang baru.



Setiap ideologi dan pemikiran punya kebaikan dan keburukan. Jangan memilih keburukan dan kebaikan yang tidak manusiawi. Kaburkan dikotomi.

Jumat, 04 September 2009

It's Time For Making Movement

All night in the same patterns. I think it's crazy.

Sepanjang malam melakukan hal yang sama berulang-ulang, lagi dan lagi.

Kamis, 03 September 2009

Orang Baik dan Dunianya


Banyak kisah epik dunia yang menceritakan tentang bodohnya menjadi orang baik. Mahabhrata adalah salah satu contohnya. Hampir semua jalinan cerita dalam epos sepanjang masa ini membeberkan akibat buruk yang harus ditanggung seseorang karena kebaikannya.

Destatra karena kebaikan terhadap anak-anaknya, terpaksa harus menerima kehancuran dinastinya. Karna yang karena kedermawanan memberikan senjatanya pada yang membutuhkan, harus rela mati di bawah terjangan panah Arjuna. Durna dan Bhisma yang loyal terhadap tradisi serta janji, mau tak mau harus rela meregang nyawa di tangan orang-orang terdekat mereka sendiri. Mereka semua adalah orang - orang yang memiliki motif untuk berbuat baik. Tapi apa yang mereka dapat dari kebaikan seperti itu? Tidak ada.(untuk gambaran dunia)

Sungguh aneh memang, Mahabharata lebih banyak mengisahkan kemenangan orang-orang licik yang pandai memanfaatkan situasi bodoh orang yang ingin berbuat baik. Niatan untuk menjadi orang baik menurut Machivielli memang identik dengan kebodohan, jadi, hal seperti itu sebaiknya ditekan jika seseorang ingin memperoleh kemenangan gemilang. Perbuatan baik karena niat di luar kebaikan lebih berguna dan bermanfaat dibanding perbuatan baik karena motif kebaikan. Machiavelli dan buku Il Principe-nya serta Mpu Wiyasa dan Mahabharata-nya, mungkin terdengar kejam dengan kisah - kisah mereka. Tapi itulah kenyataan di lapangan. Mereka menceritakan apa yang terjadi, bukan apa yang seharusnya terjadi. Sehingga, tidak ada gunanya mengutuk Machiavelli karena pemikiran gilanya. Toh, pemikirannya itu hanyalah refleksi pengalamannya saat menjadi orang pemerintahan. Dan tidak perlu senantiasa menyanjung tokoh Pandawa dalam karya Mpu Wiyasa, karena pada akhirnya, mereka tidak berbeda dengan manusia biasa.

Tidak ada orang yang benar-benar baik karena mereka sadar, dunia belum siap menerima orang yang terlalu baik.




Rabu, 02 September 2009

Jumat, 21 Agustus 2009

Kebutuhan

Perang ideologi dunia telah usai. Pemenangnya sudah ada. Kapitalisme dan derivatnya. Meskipun begitu, pembicaraan seperti ini masih menarik untuk digali. Seperti cerita anjing dan lubangnya. Pada satu momen, hal seperti ini dikubur, ketika mayoritas penduduk dunia atau mungkin segelintir penguasa dunia merasa sejahtera. Tapi pada momen yang lain, persoalan seperti ini digali lagi, seperti anjing yang mencari lubang tempat tulangnya bersemayam. Mengendus ke sana kemari, mencari-cari kesalahan ideologi pemenang. Lalu memberi solusi ideologi lama, yang sudah menyerupai tulang usang.

Anjing mencari tulang karena kebutuhan, begitu juga dengan dunia dalam pencarian ideologi. Mungkin saat ini tidak relevan lagi, pembicaraan mengenai kemerdekaan buruh, buruh bersatu, ataupun perang melawan borjuis. Saat ini kita tidak butuh hal seperti itu. Karena buruh sudah punya penghidupan yang layak, dapat upah cukup (meskipun ini kondisi ini belum bisa dirasakan semua buruh, setidaknya, sudah ada yang bersyukur dan terselamatkan di antara jutaan buruh lain yang tertindas). Mungkin nanti, jika kebutuhan memaksa, kita akan sampai pada kondisi, uang tidak lagi dibutuhkan. Seperti halnya kondisi saat ini yang tidak butuh lagi komunisme ekstrim. Dunia terus berubah.

Manusia tidak butuh ideologi. Yang manusia butuh hanya sandang, pangan, papan. Tidak lebih dari itu. Sisanya, gengsi.

Selamat berpuasa, bagi yang menjalankan.

Nb: dan selamat mengirimkan SMS, bagi orang-orang yang membuat traffic jaringan macet. Sungguh malam yang indah untuk merenungkan arti puasa bagi ideologi. Tapi tidak ada hasil. Selain perulangan masa lalu, dunia tetap sama.

Rabu, 19 Agustus 2009

Hitler mungkin tidak pernah bertemu Maynard Keyness, sepertihalnya skydrugz yang tidak pernah bertemu Jengis Khan...

Tapi apa yang diharapkan dari pertemuan ini? Tidak jelas.



Selasa, 18 Agustus 2009

Indonesia, apa arti kata itu bagi manusia - manusia yang menghuni pulau yang berada di antara dua Benua dan dua Samudra ini?

Entahlah...




Senin, 17 Agustus 2009

Kapitalisme, Masuk Akal



Dunia terbagi atas dua kutub utama, kapitalisme dan komunisme. Satunya mengandalkan kemampuan individu dalam menguasai semua sumber - sumber produksi sedangkan satunya menekankan ketidakberdayaan individu sebagai penguasa atas alat produksi, hanya negara, partai, kelompok yang dapat mengatur hal itu. Dari kedua kutub berbeda itu, yang pantas mendapat pujian atas ketahanannya menghadapi ujian zaman adalah kapitalisme. Paham ekonomi ini seolah tidak memiliki celah untuk dihancurkan, kecacatan yang dapat meruntuhkan paham ini hanyalah moralitas para penganutnya. Namun kecacatan seperti ini dapat dicegah dengan memasang regulasi hukum yang ketat sehingga setiap pemilik modal tidak semena - mena dalam meraup keuntungan. Tercatat, paham ini mengalami beberapa kali revisi sejak Adam Smith memperkenalkan hukum pasar bebas, Keynes yang menganjurkan kombinasi peran pemerintah untuk mengatasi depresi ekonomi di 1930 lalu yang terbaru, kapitalisme nampaknya siap bertransformasi lagi mencari bentuk baru untuk melepaskan dunia dari jeratan resesi ekonomi.

Paham kapitalisme mampu bertahan hingga selama ini buknnya tanpa alasan. Paham ini secara esensi mampu menjanjikan kebutuhan paling dasar manusia, menjadi sesuatu yang lebih besar. Individu diperkenankan menjadi kaya. Berbeda dengan komunisme yang mengekang individu hingga tidak boleh menjadi sesuatu yang berbeda dari lingkungannya. Kapitalisme menghargai privasi, penggunaan pribadi dan bakat alami manusia untuk terus-menerus maju. Komunisme yang mengandalkan kolektifitas, mengalami sedikit kesulitan dalam mengembangkan hal ini, karena sekuat apapun seorang individu berusaha menjadi sesuatu yang extraordinary, lingkungan atau dalam hal ini institusi pemerintah tidak terlalu menghiraukan keluarbiasaan itu. Kasarnya dapat dikatakan gaji seorang buruh kasar akan disamakan jumlahnya dengan gaji seorang dokter.

Kekurangan utama kapitalisme adalah paham ini membuka jalan bagi seorang manusia untuk menjadi individu yang serakah, individualis, egois. Setiap individu dapat berkompetisi secara bebas melumat pesaing lain hingga tidak tersisa jika tidak ada regulasi yang dapat menghambat hal ini. Oleh karena itu, sekali lagi, Kapitalisme hanya butuh moralitas dan aturan yang ketat untuk menjaganya tetap masuk akal.

Yang Paling Masuk Akal yang Akan Bertahan--Hegel
Dan untuk saat ini, yang paling masuk akal adalah kapitalisme. Kapitalisme mampu merangkul semua kalangan atheis, theis, agnostik. Kapitalisme mampu menyesuaikan diri dengan semua keadaan. Karena prinsip dasar kapitalisme memang sesuai dengan fitrah manusia yang senantiasa berupaya memenuhi kebutuhannya. Dan ini sangat masuk di akal semua manusia. Siapa manusia normal yang tidak mau memenuhi kebutuhannya?

Hampir semua kenyamanan yang dirasakan manusia modern di era ini merupakan produk kapitalisme. Listrik, air, internet, dan hampir semua kemajuan di bidang IPTEK mendapatkan sokongan finansial dari para kapitalis ulung. Blog yang digunakan untuk menulis ini pun adalah produk kapitalisme. Karena itu sungguh tidak etis menyapu rata semua kapitalis adalah lintah pengisap nyawa dan jiwa, Sergey Bin dan Bill Gates yang kapitalis ulung itu patut diancungi jempol. Karena kreasi dan pemikiran mereka, kita bisa melihat dunia baru ini. Masuk akal kalau kapitalisme bertahan beberapa tahun lagi. Semua orang masih ingin kaya dan hidup nyaman. Sulit untuk merusak stabilitas ini tanpa huru-hara berkepanjangan.

-Novus Ordo Seclorum-
Eclogue-Virgil

Tahun

Hari ini, Senin, tanggal 17 Agustus 2009. Apa ada yang istimewa dengan hari ini? Tidak ada yang istimewa ataupun luar biasa. Perhelatan Piala Dunia di Afrika masih setahun lagi, dan Bom Ritz-Charlton sudah lewat beberapa pekan meledak. Jadi hari ini, sama sekali bukan hari yang pantas untuk dibicarakan.Sama seperti hari - hari sebelumnya, hari ini diawali oleh gelapnya malam dan akan berakhir pada keadaan yang juga sama. Matahari masih bergantung di cakrawala, bulan pun begitu, jadi tidak perlu mengistimewakan hari, karena hari sendiri tidak pernah mengistimewakan manusia.

Apa yang terjadi di masa lalu, tidak perlu lagi diungkit seperti tukang batu yang mengungkit karang, kadang kayu pengungkitnya lebih besar dibanding karang yang hendak diungkit, pekerjaan yang mengerahkan banyak sumber daya tapi menghasilkan kesia-siaan.

Bangsa yang terlalu asyik dengan nostalgia kejayaan masa lalu tidak pernah bertahan lama.

Minggu, 16 Agustus 2009

Thanks, Read More

Akhirnya, blog ini bisa juga dimodifikasi. Setelah berjuang keras melakukan copy paste script, error beberapa kali dan mengklak-klik sana-sini, tampilan Read More kini menghiasi blog Ultra Vital.


Ucapan terimakasih kepada Roshita yang bersedia membagikan ilmunya, sehingga semua ini bisa terjadi.

Rasanya itu saja untuk saat ini.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut