Sabtu, 14 Februari 2009

New Entry

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Itu adalah keniscayaan, tidak ada yang bisa terulang.

Jumat, 13 Februari 2009

Hidup! Hari Libur

Hari libur, siapa yang tidak senang mendengarkan kata ini. Kata sederhana dengan daya mistis luar biasa. Mampu menghipnotis siapapun, terutama mereka yang sudah kelelahan dengan rutinitas mencekik. Tidak dapat dipungkiri, penulis juga sangat cinta kata ini.

Meskipun kecintaan Penulis pada hari libur sulit terungkapkan dengan kata (pakai gambar mungkin saja bisa), namun kebencian Penulis pada hari ini justru lebih dari sekadar sulit terungkapkan dengan kata (pakai video sepertinya memungkinkan untuk ini). Libur tidak selamanya bebas dri tugas, itu masalahnya. Banyaknya kesalahpahaman pada mayoritas manusia dalam menanggapi hari libur juga menjadi salah satu dari banyak alasan kebencian Penulis pada hari libur.

Urusan libur bukanlah persoalan sepele yang dapat diselesaikan hanya dengan serangkaian diskusi, dialog atau seminar belaka. Lebih dari itu, libur adalah permasalahn genting yang tataran pembahasannya sampai menjurus ke arah ideologi (terkesan dipaksakan, tapi itu memang realitasnya). Andre Gorz, bahkan sempat membicarakan masalah libur sebagai hal esensial yang paling menentukan keberhasilan suatu ideologi yang memberikan pembebasan pada manusia dari kungkungan alienasi.

Hanya saja dalam sejumlah tulisannya, Tuan Andre lebih suka menyebut kata libur sebagai waktu luang. Tapi tak apalah, dengan sedikit interpretasi, kata waktu luang mirip dengan kata libur.

Sudahlah....
Sampai jumpa! (kenapa tiap kali ketik sampai jumpa selalu salah, ya?)

Kamis, 12 Februari 2009

Epilog -- Kebosanan

Tidak ada manusia yang mampu bertahan dalam kondisi yang mengharuskan dirinya melakukan suatu usaha secara berulang sepanjang hidupnya tanpa adanya suatu motif. Tanpa motif cerita kebosanan akan kembali terjadi. Dalam tahapan ini, epilog kebosanan kita putar kembali.

Bicara mengenai kebosanan...


Penulis bosan.

Kita akhiri saja epilog ini seperti halnya prolog sebelumnya. Tidak ada alasan khusus untuk pengehentian ini. Sekadar untuk mempertegas aksioma, kebosanan tidak mengenal waktu hingga manusia sendiri tidak mengenalinya.

Bingung dengan aksioma ini? Jangan terlalu dipikirkan karena penulis sendiri tidak terlalu paham dengan apa maksud aksioma tersebut. Sepertinya penulis tengah mengalami trans ketika menuliskannya.

Samoai jumpa!

Kebosanan -- Prolog

Lanjutan dari tulisan sebelumnya mengenai kebosanan. Seharusnya, ini bukanlah topik yang menarik karena kebosanan adalah lumrah bagi manusia. Membahas setiap aspek yang berhubungan dengannya dapat memperluas wawasan kita mengenai sis gelap terdalam manusia. Bahasan psikologis saja tidak cukup untuk hal ini. Bahkan dengan analisis akademik berlapis pun, matematika, fisika, kimia, biologi, sosiologi dan semua mata pelajaran yang pernah dipelajari oleh siswa - siswa di seluruh Indonesia, tidaklah cukup untuk membedah satu hal ini, kebosanan.

Karena kebosanan tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, maka secara otomatis tingkat kerumitan untuk dapat menjabarkannya dalam bahasa manusia adalah sebuah hal yang mustahil. Oleh karena itu ada baiknya kalu kita tidak membicarakannya lebih jauh lagi. Kita bisa terjebak dalam kengawuran.

Kita akhiri saja prolog kebosanan ini karena saya sendiri bosan untuk membicarakannya.

Sekali lagi, jangan marah. Jangan pernah bosan untuk tidak marah seandainya Anda muak melihat tulisan ini.

Salam!
Peace!

Minggu, 08 Februari 2009

Blog rest tidak berguna. Setelah berhari - hari "bersemedi" mencari inspirasi, membaca "beberapa" referensi hingga bertanya pada sejumlah expert mengenai cara mengatasi masalah rekonsilidasi pikiran berantakan, aku mendapati semua itu sia - sia. Tidak berguna. Buang-buang waktu.

Untuk mencapai hal - hal besar dalam hidup, manusia harus berhadapan dengan banyak sampah. Sejak awal penciptaannya, sudah menjadi semacam kodrat bagi manusia untuk menghadapi "sampah". Baik itu datangnya dari alam sekitar yang memang sejak dulu tidak suka manusia ada di sekitarnya hingga dari kalangan manusia sendiri. Homo Homini Lupus. Saya tidak dapat menyimpulkan paragraf ini.

Jadi kita lanjutkan dengan bahasan lain.

Kita bicara mengenai kebosanan. Apakah sebenarnya kebosanan itu?

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut