Jumat, 16 Oktober 2009

Setia, omong kosong

Kamu bicara soal kesetiaan dan cinta. Saya tertawa dan bertanya,"apa hal seperti itu memang ada"? Kamu jawab,"ya, ada". Itu aneh, menurut seorang yang skeptis, kesetiaan itu omong kosong, toh, banyak yang mengatakan dirinya orang setia, entah pada negara, kekasih, band ataupun kartun yang diputar tiap minggu, tapi semuanya tidak terbukti begitu negaranya tidak memberi kesejahtraan, kekasihnya mencari kekasih yang lain ataupun jam tayang kartun diubah jadi hari sabtu, dengan mudah mereka berpaling setelah ada perubahan.

Timbul pertanyaannya, kamu setia pada apa? Negara, kekasih, kartun, ketika dengan mudahnya kamu meninggalkan mereka ketika ada perubahan? Setia itu omong kosong, sama seperti cinta.

Jadi buat apa cerita tentang mereka dalam berlembar-lembar buku, skenario drama dan kisah nyata kalau itu omong kosong? Anggap saja pengisi waktu luang, sebelum buku, TV, hidup dilarang terbit.

Kamis, 15 Oktober 2009

Bicara pada yang Pesimis

Ada seorang teman bertanya pada orang yang pesimis tentang lembaga dan pengkaderan. Dia bertanya soal perubahan. Teman yang ditanya jawabnya, tidak akan ada yang berubah, semua akan sama saja seperti dulu. Baik sebelum dan sesudah dikader, semua mahasiswa baru itu tidak akan berubah seperti yang diinginkan pengkaderan buatannya.

Kalau kamu membuat pengkaderan dengan konsep lama soal pergerakan mahasiswa dan sejarahnya, apa kau pikir itu bisa membuat mahasiswa baru mau melakukan hal yang sama dengan mahasiswa lama dalam sejarah? Meninggalkan kuliah untuk demo, berdiskusi hingga larut, mendebat pihak penindas, membuat perubahan, apa kamu yakin, mereka mau melakukannya dengan resiko akademik, waktu dan jiwa mereka terganggu?

Kamu bilang, mau buat pengkaderan yang nyaman. Kamu mau pakai standar nyaman siapa? Standarmu atau mereka? Mereka tidak mungkin bisa merasa benar-benar nyaman, karena kesan yang kamu tanamkan sejak awal pengkaderan pada mereka tidak mencerminkan kenyamanan. Jadi tidak usah pikirkan kenyamanan pengkaderan kalau paradigma senior-junior masih mau kamu ajarkan. Kontradiksi. Logika junior tidak akan pernah sejalan dengan logika senior. Seperti logika kacung yang senantiasa bertabrakan dengan logika majikan.

Lagipula, kalaupun kenyamanan bisa kamu ciptakan, apa kamu pikir itu cukup? Selama kamu tidak memberikan sesuatu yang mahasiswa baru butuh dan inginkan dalam pengkaderanmu, jangan pernah harapkan antusiasme.

Mahasiswa sekarang, mayoritas anhistoris, tidak punya lagi ikatan sejarah dengan masa lalu. Apa kamu pikir mereka akan peduli dengan kisah salemba '66 ketika mahasiswa saat ini berbahagia dengan WiFi yang dipakai buat facebookan?

Kebanyakan mahasiswa saat ini hanya butuh nilai A dan segera lulus. Kalau kamu bisa menyediakan sarana buat mereka mencapai hal itu dalam pengkaderan, yakin saja, antusiasme itu pasti ada. Tapi kayaknya itu akan menyerupai kursus, bukan pengkaderan mahasiswa lagi.

Meskipun begitu, tidak ada salahnya kan, berubah menjadi sesuatu yang lain. Bagaimana memformulasikan pengkaderan berbasis intelektual, untuk menghasilkan mahasiswa yang peka secara sosial tapi tidak goblok.

Entahlah...

(Tertawa saja...pengkaderan bukan urusan mereka yang pesimis)

Selasa, 13 Oktober 2009

Listrik 2

Ditemani Lionel Richie dan Koes Ploes berwujud pria kribo masa kini ketika PLN menunjukkan kedigdayaan sebagai Dewa Listrik. Dalam kesederhanaan seragamnya, PLN memang jadi semacam dewa yang bisa mengatur kapan seorang mahasiswa harus kerja tugas, pacaran dan melakukan sejumlah kegiatan sampingan lainnya yang butuh pergerakan elektron.

Tak ada yang bisa menuntut pasukan berlambang kilat ini, Presiden pun tidak. Dengan tameng alasan teknis atau musim kemarau, listrik mati, siapa yang bisa menuntut? Tuhan? Tidak perlu dijawab. Tidak penting.

Biarkan semua orang Makassar mengumpat dan menyumpah, listrik memang begitu. Urusan PLN. Nikmatilah...

Senin, 05 Oktober 2009

Listrik

Tiga malam sudah, PLN jadi penjahat paling dibenci mahasiswa kawasan Tamalanrea. Entah karena alasan apa, akhir-akhir ini pemadaman menjadi kegemaran institusi berlambang petir yang bengkoknya sedikit (berdasar analisis gambar).

Akibat pemadaman tanpa pengumuman di Facebook dan Twitter ini, mahasiswa-mahasiswa merasa teraniaya dan terintimidasi. Beberapa oknum yang pikirannya mulai tidak beres bahkan berencana menabrakkan motornya yang sudah disulut api ke gedung mesin PLN. Katanya, mengekspresikan kejengkelan. Untung saja, ketika sedang cari motor yang mau dijadikan korban, listrik kembali pulih. Tampaknya, pegawai PLN punya firasat khusus mengenai hal ini.

Semoga saja malam ini, pikiran oknum mahasiswa yang rencana gilanya gagal terlaksana kemarin bisa sedikit beres, karena PLN kembali melakukan kebiasaan lamanya. Pemadaman.

Kalau tiap malam begini keadaannya, bisa jadi, jumlah mahasiswa yang pikirannya kacau akan bertambah.

Listrik, organ tubuh manusia yang terpisah

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut