Selasa, 31 Maret 2009

Melankolia

Manusia kalau mau bermelankolis ria, ada - ada saja keanehan yang diperbuatnya. Buat puisi tentang raga, cerita tentang asa hingga meraba makna jiwa. Pokoknya segala kebijakan ada padanya. Tapi kalau sudah mulai terpercik asam hedon, sudah, tidak ada lagi yang namanya raga, asa dan jiwa. Semua amblas ditelan kesenangan.

Keanehan inilah yang selalu buat saya jengkel pada manusia. Tidak ada konsistensi dalam setiap sikap dan tingkah laku. Seolah apa yang dikatakan Sartre, yang selalu membingungkan itu, benar. Manusia dan kehidupan itu absurd. Esensi manusia tidak lebih dari sekadar komitmen dan janji masa lalu yang dapat berubah kapanpun ketika itu tidak lagi sesuai dengan tuntunan zaman. Bahkan meskipun perubahan itu harus melawan komitmen di masa lalu. Aneh, karena saya harus menjadi manusia dalam defenisi Sartre.

Seorang kekasih saat ini dengan mudahnya mengatakan rindu, sayang dan cinta. Namun beberapa saat berlalu, segala keindahan itu sontak berganti hinaan dan cercaan. What's the hell. Apa itu yang namanya kasih sayang?

Seandainya dunia ini diisi melankolia, orang - orang seperti Zarathustra dalam karya Nietzsche dapat hidup dalam realitas. Mungkin saja hidup tidak harus absurd. Relativitas tidak harus menjadi penghalang untuk memutlakkan bahwa kebenaran itu hanya satu, tidak boleh bercabang.

Sayang perasaan itu sendiri sudah absurd sejak awal. Tidak mungkin ada melankolia yang abadi.

Selamat tinggal Maret!

Feeling Stupid

Menjadi seseorang yang berbeda dari orang kebanyakan harusnya membanggakan. Karena tidak banyak orang di dunia ini yang berani melawan arus hegemoni kelompok dominan. Biasanya seseorang akan mengikuti apa yang dilakukan oleh orang banyak ataupun sesuatu yang sudah diwariskan dari zaman sebelumnya. Takut pada perubahan.

Bayangkan seperti ini, bisakah Anda pergi ke McD membawa nasi bungkus agar tidak perlu memesan hamburger. Atau pernahkah Anda bertanya, mengapa harus simpan uang di bank? Mengapa harus membeli mobil ketika uang kita melimpah? Atau haruskah Presiden tinggal di Istana Negara? Mengapa anggota DPR harus digaji lebih banyak dari pegawai negeri?

Atau untuk pertanyaan yang lebih relevan dengan kondisi PEMILU saat, beranikah Anda bertanya pada para caleg, mengapa kampanye harus ada musik dangdut? Mengapa harus memilih dalam PEMILU?

Saya merasa sangat bodoh ketika harus mengikuti suatu aktivitas yang sudah menjadi kebiasaan namun hal tersebut tidak saya sukai. Sungguh terasa menjengkelkan.

Saya harus menemukan teori yang dapat menjelaskan perasaan aneh ini.

Senin, 30 Maret 2009

Foto Masa Depresi






Ini adalah kumpulan foto - foto yang saya ambil saat depresi melanda. Lihat saja sudut pengambilan fotonya, tidak karuan. Maklumlah, tidak fokus. Di antara foto - foto ini ada juga yang mengandung nilai sejarah, sebab waktu pengambilan fotonya bertepatan dengan situasi kelembagaan yang saat itu sedang tidak stabil (sebetulnya hingga saat ini tidak stabil).

Yah, mungkin saya harus belajar lebih banyak lagi untuk dapat menghasilkan gambar peristiwa yang lebih berkualitas.

Kerusakan Laptop

Kemarin saya kedatangan seorang tamu. Dia meminta saya memperbaiki laptopnya yang sedang mengalami gangguan. Awalnya saya pikir gangguannya hanya akan berkisar pada masalah virus atau software lainnya. Ternyata dugaanku salah. Sesaat setelah proses booting, saya sudah melihat gelagat aneh pada laptop tersebut. Layarnya hanya menampilkan setengah gambar grafis dari yang seharusnya tampil. Dari tampilan awal ini, saya mulai merasa masalah laptop tamu saya ini sudah menyerempet hardware.

Dan ini terbukti karena setelah prosedur format ulang dan instalasi OS dilakukan, tampilan layar setengah ini tidak juga berubah. Melihat kondisi ini saya hanya bisa menyarankan pada tamu tersebut untuk segera menyelamatkan data - data pentingnya. Tidak mungkin bagiku memperbaiki tampilan grafis jika itu berhubungan dengan hardware. Saya tidak tahu apa - apa mengenai perangkat keras.

Akhir - akhir ini banyak sekali teman yang mengalami masalah yang sama dengan tamu kemarin. Kerusakan hardware grafis. Entah mengapa hal itu bisa terjadi. Mungkin karena benturan, atau ada bug dalam komponen laptop.

Semoga saja tidak terjadi padaku.

Minggu, 29 Maret 2009

Tidak Butuh Identitas

Hal aneh lain yang sering ditemukan dalam situs jejaring sosial adalah ada begitu banyak pengguna yang tidak memakai nama asli ketika mendaftarkan diri. Lalu hal ini berlanjut pada pencantuman profil yang tidak sesuai. Seolah - olah mereka hendak menciptakan identitas baru yang berbeda dengan pribadi sejati mereka sendiri.

Sebetulnya ada banyak alasan lain, para pengguna berbuat seperti ini. Biasanya alasan privasi maupun sekedar senang - senang mendominasi. Tapi apapun alasannya, biasanya pengguna semacam ini jarang mendapatkan perhatian di dunia maya. Karena biasanya pengguna situs jejaring sosial hanya akan menambahkan seseorang sebagai temannya jika orang tersebut memiliki profil yang jelas.

Tapi kecenderungan saat ini berbeda. Orang - orang kini mulai asal saja dalam mencari kawan dalam situs jejaring sosial. Mereka tidak peduli apakah orang tersebut dikenalnya atau tidak. Kondisi seperti inilah yang saya alami selama 3 bulan bertualang di Facebook.

Saya mendaftarkan diri di situs ini tanpa nama asli, foto, maupun profil jelas. Tapi tetap saja ada juga orang yang mengirim undangan pertemanan padaku. Tanpa perkenalan mendalam atau hal semacamnya, saya pun secara asal menjadikan mereka sebagai teman. Dan alhasil, 1000 orang lebih jadi kawanku di FB.

Ironisnya, tidak sampai 1/3 dari mereka yang jadi temanku mengenalku.

I Did It

Ternyata tidak butuh lama bagiku untuk mendapatkan teman sebanyak 1000 orang di situs jejaring Facebook. Terhitung sejak akhir Januari lalu hingga bulan ini saya melakukan perburuan teman di Facebook, untuk memastikan bahwa bahwa mencari kawan di situs jejaring sosial itu semudah membalikan telapak tangan.

Fenomena aneh memang. Dalam pergaulan konvensional, sangatlah tidak mungkin mendapatkan teman sebanyak 1000 orang dalam waktu yang sangat singkat. Kalaupun itu memungkinkan, hanya kondisi luar biasa yang dapat mewujudkannya. Dan saya tidak termasuk orang yang "terjebak" dalam situasi seperti itu ketika berada dalam ranah pergaulan konvensional. Sepertinya hanya artis atau mahluk bernama public figure yang mampu menempatkan diri dalam jebakan luar biasa.

Namun ketika kita sudah melibatkan diri dalam situs jejaring sosial, siapapun dapat mengalami pengalaman yang sama luar biasanya dengan public figure. Kita tidak perlu menjadi seorang yang luar biasa untuk mendapatkan perhatian dalam dunia maya. Siapapun dapat menjadi pusat perhatian. Bahkan hingga paling remeh temeh pun dapat menarik perhatian.


nb: tambahan, update...i quit from fb...

Jumat, 27 Maret 2009

Saatnya Berubah

Edisi Khusus

Harapan untuk tahun yang baru, menjadi orang yang lebih baik. Akhir - akhir ini, terlalu banyak keanehan yang terjadi di sekitarku. Saya merasa semua orang menjadi musuh. Tapi tak apalah, perasaan ini sepertinya sangat dibutuhkan untuk melatih tingkat kewaspadaan.

Apalagi sejak tidak ada kompetisi ketat yang melibatkan diriku, tingkat keawasanku terhadap segala fenomena di sekitarku memang berkurang secara drastis. Tapi biarlah. Tidak perlu ada yang namanya kompetisi lagi, karena itu terlalu banyak menyedot tenagaku.

Sudahlah, saatnya mencari kehidupan yang lebih baik.

Rabu, 25 Maret 2009

Nuke

Tadi pagi saya melihat sebuah berita menarik di TV, Prancis akan mengadakan uji coba nuklir. Rencananya, uji coba ini menelan biaya yang cukup besar. Tidak tahu berapa jumlah pastinya. Awalnya saya menyangka, besarnya biaya uji coba disebabkan oleh faktor mahalnya teknologi. Namun kemudian saya terkejut, karena ternyata biaya mahal itu ada sebagai kompensasi atas dampak uji coba terhadap lingkungan. Dipekirakan, kerusakan lingkungan yang timbul karena uji coba ini bakalan lebih dahsyat dibanding ledakan bom di Hiroshima dulu.

Selasa, 24 Maret 2009

Mengantisipasi Masa Depan

Zona Kenyamanan

Kemarin sore, saya memangkas rambut. Setelah melihat potongan rambut baruku, teman - teman banyak sekali yang berkomentar. Pada umumnya mereka menganggap style rambutku yang sekarang lebih baik dari yang dulu. Katanya lebih rapi, ganteng dan banyak lagi komentar lain(maunya). Namun ada juga yang menyayangkan perubahan ini. Ada yang bilang, fakultasku telah kehilangan trend setter (dialih istilahkan).

Terlepas dari semua komentar tadi, alasanku pangkas rambut sebenarnya sederhana. Hari ini saya ada kegiatan praktikum, dosennya sudah memberikan ultimatum mengenai sanksi bagi yang berambut luar biasa. Soal ganteng tidaknya, trend-setter atau apalah istilahnya, saya tidak peduli. Tapi saya cukup terkesan pada perhatian teman - teman terhadap diriku (GR). Sebenarnya hal ini cukup membingungkan bagiku.
Membingungkan di sini tidak ada hubungannya dengan diriku, tapi lebih pada pertanyaan mengapa teman - teman di fakultasku, cenderung sangat perhatian pada hal - hal yang sifatnya remeh temeh? Giliran diperhadapkan pada permasalahan yang lebih besar seperti persoalan Jamkesmas, BHP ataupun dinamika kelembagaan, mereka cenderung tidak berminat.

Ketika saya menanyakan ini pada salah seorang teman pemerhati lainnya, dia menjawab, saat ini kita berada di Zona Kenyamanan. Baik dirinya, diriku, maupun teman - teman lainnya, telah kehilangan kepekaan terhadap persoalan sosial yang terjadi saat ini. Kita terlalu dimanjakan oleh berbagai fasilitas yang ada di kampus.

Efek kebutaan sosial karena terpenuhinya kebutuhan sepertinya memang mengerikan. Ketidakpedulian individu terhadap segala persoalan yang tidak berhubungan langsung dengan kepentingannya adalah penyebabnya, begitu lanjut temanku. Lalu saya bertanya "Jadi, apa yang hendak kita perbuat terhadap fenomena itu?"

Dia tak menjawab. Sepertinya dia berpikir seperti apa yang saya pikirkan. Kita bukanlah peramal ataupun pembaca pikiran.

Sabtu, 21 Maret 2009

Hidupku Berantakan

Sudah berapa hari ini hidupku berantakan. Tidak tahu harus mulai dari mana untuk kembali merangkai puing - puing hidupku agar normal kembali. Sebenarnya saya memiliki sejumlah pilihan untuk memulai memperbaiki keadaan ini: merapikan kamar, mengerjakan tugas, mencuci pakaian, lari dari organisasi atau mangkir dari tugas. Semua pilihan yang sepele. Hanya karena saya tidak tahu harus memilih yang mana, hidupku terberangus.

Untuk memilih saja, sebenarnya perkara yang mudah. Namun saya meragukan kelanjutan dari pilihan itu. Terlalu sering diriku berada pada posisi seperti ini. Tidak sekali aku memilih dan akhirnya aku jatuh lagi pada kondisi yang sama.

Saya terjebak pada spiral pilihan. Sudah saatnya memilih untuk menjauhi ini. Tidak semestinya saya berada pada tempat seperti ini selamanya. Jiwaku ingin bebas dari rutinitas gila seperti ini.

Peace is beautiful candy, i can't bite it. But i really hope it.

Jumat, 20 Maret 2009

BPM Akan Menyelenggarakan Muktamar Istimewa

Setelah melalui peninjauan dan analisis yang mendalam selama berhari - hari, akhirnya BPM memutuskan sebuah ketetapan yang isinya adalah Muktamar Istimewa akan segera digelar.



This is past...

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut