Selasa, 28 April 2009

Pembicaraan Kita

Kamu selalu bicara padaku tentang mengakhiri kebodohan tiap hari bila kita bertemu. Seolah - olah topik lain seperti peperangan, kemiskinan, ekonomi, politik atau kemanusiaan tidaklah pantas untuk kita perbincangkan meski hanya sebagai selingan. Hingga kini, tidak juga kumengerti alasanmu tertarik pada kebodohan. Tidak sekalipun kamu memberitahu aku, padahal dialog kebodohan ini adalah penyita seluruh komunikasi kita selama ini disamping basa - basi, "bagaimana kabarmu?".

Setelah sekian lama berbincang tentang topik ini, saya selalu berharap akan timbul niatan dalam dirimu untuk bertanya, "sudah berapa lama kita membicarakan hal ini?" Atau, sampai kapan kita akan membicarakan hal ini?"

Saya bisa mengajukan pertanyaan seperti itu padamu. Mudah saja bagiku melakukannya, tinggal mengucap saja, sekali helaan nafas. Tapi bodohnya, tidak pernah sekalipun kulakukan.

Sepertinya saya sudah seperti dirimu, satu penyakit, kecanduan. Kita sama - sama terjebak rutinitas yang membuat indera kita mati rasa terhadap lingkungan. Bedanya, kamu melakukan hal ini atas kemauan sendiri, saya dijebak olehmu. Dialog kebodohan kita adalah kebodohan itu sendiri, semoga dapat kita akhiri, segera!

Minggu, 26 April 2009

Bicara Sedikit Tentang Cinta

Coba baca puisi cinta yang indah tentang keabadian dan kegombalannya yang lain. Saat lantunannya telah menguasai alam bawah sadar, coba sangsikan semua ungkapan puitis itu, lalu tanya apa benar begitu? Benarkah cinta adalah jawaban semua kekacauan dunia saat ini? Betulkah cinta yang akan tersisa dari kita setelah semuanya berakhir?

Tidak ada salahnya bertanya seperti itu. Tidak mungkin ada yang melarang. Dan akan melegakan rasanya jika ternyata, kesimpulan semua pertanyaan itu adalah betul (meski tidak selamanya jawabannya begitu. Orang yang lagi stres karena utang sepertinya akan menjawabnya dengan cara berbeda). Bukankah menyenangkan rasanya bila berpikiran bahwa cinta akan menjadi pembangkit energi yang akan terus bersinar setelah kematian kita. Seperti kata puisi "cinta ini akan abadi selamanya", benar-benar fantasi yang menggembirakan.

Ilmu pengetahuan mengungkapkan, suatu bintang yang akan mati, sebelum kematiannya Si Bintang akan meledak, membentuk supernova. Ledakannya menghasilkan sinar paling indah dan terang sejagad, lalu perlahan meredup hingga tidak tersisa lagi cahaya. Si Bintang menjadi lubang hitam yang mengisap segala yang ada disekitarnya.

Bayangkan cinta seperti itu tapi jangan ikut sertakan lubang hitam. Kita bicara mengenai keindahan cinta, akan menjadi penghujatan jika mengatakan cinta hanya menyedot orang - orang ke arah kegelapan.

Tapi dalam kenyataannya, tidak ada analogi yang pantas untuk mengandaikan cinta. Karena cinta adalah realitas yang berbeda dengan apa yang diada-adakan manusia ketika menutupi muslihat dan tipu daya dalam hubungan sosial. Cinta bukan materi yang berbentuk dan interpretasinya di mata tiap orang berbeda.

Satu hal yang pasti, cinta tidaklah seabadi puisi ataupun karya sastra lain yang berisikan kata cinta. Faktanya, ketika seseorang menyusul mati kekasihnya, cinta pun mati. Bila ada yang tersisa, mungkin itu sesuatu yang lain. Pakaian, rumah, atau tulisan. Yang tersisa dari penyair cinta bukanlah cinta, melainkan syairnya: itu sudah jelas.

Tiap kali membaca puisi tentang cinta, Julian Barnes selalu teringat pada William Huskisson. Dia seorang politisi dan penyandang dana, sangat dikenal pada masanya. Tapi momen yang melekat dalam memorinya mengenai Tuan William ini adalah pada 15 September 1830, dalam peresmian Jalan Kereta Api Liverpool dan Manchester, dia menjadi orang pertama yang tewas ditabrak kereta api. Lalu apakah William Huskisson mencintai? Apakah cintanya abadi? Tidak tahu. Yang tersisa darinya hanyalah momen kecerobohannya yang terakhir; maut membekukan dia sebagai perlambang yang mengingatkan kita hakikat perubahan zaman. Lalu di mana cinta dalam situasi ini?
Tidak ada.

-inspirator: Julian Barnes, Sejarah Dunia dalam 10 1/2 Bab-dengan perubahan di sana - sini.

Sabtu, 25 April 2009

Berisik: Suasana FK Unhas Hari Ini

Hari ini, Sabtu (25/04/09), tidak ada peristiwa besar yang terjadi. Seperti hari - hari Sabtu sebelumnya, di lingkungan FK Unhas hanya terlihat kegiatan kemahasiswaan rutin seperti Taman Baca Sinovia, Dikdas TBM dan Upgrading MYRC.

Selain mahasiswa FK Unhas, yang terlihat sibuk mewarnai ruang kampus adalah para tukang yang tengah sibuk merenovasi Masjid Al Afiyat dan Ruang Koordinator PPDS, lalu penyiar VOM yang asyik bercuap - cuap di udara serta pengurus ICT yang selalu saja setia menunggui ruang ICT Center. Semuanya tampak bahagia menjalani kegiatannya.

Tapi kedamaian tidak menyelimuti semua wajah. Di ruang kuliah PPDS, wajah - wajah tegang memenuhi atmosfer ruangan. Semua peserta di ruangan ini sedang berdebat sengit mengenai kelangsungan lembaga. Meski kesemua peserta adalah wajah - wajah lama yang selalu saja hadir di kegiatan seperti ini, antusiasme mereka tidak kunjung padam.

Tidak jelas bagaimana akhir lokakarya hari ini. Lembaga bubar atau tetap jalan. Kalaupun jalan, bagaimana modelnya? Tidak tahu.

Rencananya besok lokakarya akan dilanjutkan lagi. Semoga saja antusiasme tidak padam.

Jumat, 24 April 2009

Info: Persiapan Ujian Urogenitalia

Hari Rabu nanti (29/04/09), jika tidak ada aral melintang, Epigl07tica, angkatan 2007, akan melakoni ujian Final Urogenitalia. Mengingat standar kelulusan yang cukup tinggi, 67, sejak beberapa hari terakhir, Epigl07icans mulai sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi perang teori Urogenitalia.

Mereka mulai berkutat dengan diktat, catatan kuliah, serta soal - soal tahun sebelumnya untuk memaksimalkan pengetahuan. Segala cara mereka lakukan. Namun sebagian besar mahasiswa lebih cenderung melakukan analisis soal untuk mempersiapkan diri. Selain lebih sederhana dan singkat, dipercaya soal - soal final yang akan keluar nantinya biasanya sama dengan soal tahun sebelumnya. Siapapun pasti menyukai cara instan seperti ini.

Namun tidak semua terlihat sibuk, ada sejumlah mahasiswa yang nampak tenang saja di tengah kesibukan ini. Tidak ada pergerakan terlihat yang mereka lakukan. Ibarat pusat topan saat badai, mereka yang terlihat damai dalam situasi seperti ini kemungkinan besar "terjebak" dalam tiga kondisi berikut ini;
1) Persiapan mereka sudah maksimal
2) Berencana melakukan manuver mengintai saat ujian nanti, atau
3) Mereka tidak peduli
Semoga saja, mereka lebih cenderung pada kondisi 1). Masa depan bangsa ini terancam kalau semua mahasiswa terjebak dalam kondisi 2) dan 3).

Selamat berusaha semua!

Breaking News: Pengumuman Ujian CSL

Akhirnya hasil ujian CSL Urogenitalia angkatan 2007. Selang beberapa menit setelah berita sebelumnya diterbitkan, seorang dokter penanggung jawab ujian keluar dari ruang MEU sambil membawa beberapa lembar hasil pengumuman.

Melihat hal tersebut, segera saja mahasiswa yang tadinya sdh menunggu di depan ruangan bergerombol mengelilingi dokter penanggung jawab. Situasinya mirip fans yang melihat artis idola, riuh namun diiringi ketegangan. Beberapa mahasiswa memperlihatkan wajah cemas, seolah tengah menunggu vonis pengadilan.

Dokter yang dikerubungi tidak mempedulikan keriuhan yang dibuat mahasiswa. Dengan gerakan efisien dia menempelkan hasil pengumuman setelah itu bergerak menjauhi kerumunan mahasiswa yang mirip antrian BLT.

Total ada 3 lembar kertas pengumuman berisikan nama mahasiswa yang harus mengikuti remedial pada hari ini (24/04/09). Setelah melihat pengumuman itu timbul gelombang tranformasi baru di kalangan penanti, mahasiswa. Ada yang berwajah kecewa karena harus remedial, ada juga yang kesengsem hingga tertawa lepas karena lulus. Tapi secara umum semua mahasiswa lega setelah melihat hasil pengumuman karena penantian panjang mereka tidak harus berlanjut.

Kepastian itu memang penting. Selamat buat yang lulus!

Berita Singkat: Pengumuman CSL Molor

Pukul 8.30 hari ini (24/04/09), seharusnya pengumuman ujian CSL Urogenitalia untuk angkatan 2007 sudah terpampang di papan pengumuman. Tapi hingga pukul 8.00, pengumuman yang dinanti tidak kunjung ada. Sejumlah mahasiswa terlihat kecewa setelah mengetahui kondisi ini. Kekecewaan ini timbul karena mereka sudah menunggu lebih dari setengah jam namun belum juga mendapat kepastian waktu pengumuman.

Pelaksanaan ujian CSL Urogenitalia tahun ini memang jauh berbeda dengan tahun - tahun sebelumnya, baik dari segi konten maupun prosedur. Beberapa mahasiswa mengatakan sangat grogi ketika ujian berlangsung, sehingga merasa tidak yakin dengan hasil yang mereka capai. Oleh karena itu, mereka harap - harap cemas menanti pengumuman.

Sayangnya, hingga saat ini tanda - tanda pengumuman tidak kunjung ada. Selamat menunggu!

Ingin tahu

Kamu menatap handphone tipis di tanganmu, lalu berpikir apa orang di zaman batu pernah memikirkan hal ini?
Rasa ingin tahumu tidak berguna karena sesuatu yg bs menjawab pertanyaanmu mustahil ditemukan. Preasumsi dpt digunakan utk hal ini, tp apa itu bs memuaskan rasa ingin tahumu?
Tidak tahu.
Rasa ingin tahu penanya, tidak perlu dipuaskan.

Manusia hidup dalam rasa ingin tahu. Melakukan apa saja demi memuaskannya. Meretas aturan, bersembunyi, memaksa, apa pun itu. Setelah itu terpuaskan, manusia mencari rasa ingin tahu yg lain. Selalu ada alasan untuk itu. Menjengkelkan adalah kata yg tepat untuk kelakuan seperti ini. Ada yang mau komplain? Jelas ada, dan dia juga bernama manusia.

Manusia, ambivalensi alam.

Absurd

Setiap orang bebas memilih menjadi apa dirinya.
Bahkan kebebasan tersebut tidak seharusnya terkekang oleh budaya serta semangat primordialisme.
Imaji.
Manusia memilikinya sehingga kapanpun diinginkanya, manusia dapat melewati batasan - batasan fisik yang dimilikinya.
Terlepas ke alam raya sebebas bintang-bintang penjelajah.

Meski bintang penjelajah bukan contoh tepat kebebasan karena masih terikat oleh sejumlah aturan gaya dan energi alami yang tak terlihat. Tapi setidaknya itu sudah memadai untuk jadi metafora keluasan pergerakan.

Tidak ada kebebasan mutlak. Semua tunduk pada aturan tak terlihat. Ada pola untuk setiap peristiwa tapi tidak ada yang identik. Dan kebebasan yang diperjuangkan manusia adalah ketidakidentikan ini.

Manusia rela menangis dan menderita untuk hal ini, bahkan meregang nyawa pun rela dilakukan demi absurditas ketidakpersisan.

Manusia memang absurd. Nasibnya hanya berkisar dalam dua hal, bahagia dan menderita, tapi dari keduanya itu lahir begitu banyak kisah dan peristiwa yang serupa tapi tak sama.

Konstelasi bintang, hidup dan kematian.

Asal saja menulis

Menulis jadi pekerjaan yang mengasyikan jika kita sudah larut di dalamnya. Tidak peduli waktu dan tempat, tulisan dapat lahir dalam bentukan yang beragam. Tidak harus terikat emosi ketika menulis. Bahkan tidak dibutuhkan aturan baku dalam menulis <kecuali karya ilmiah>.

Aturan dan emosi eksplosif, lupakan keduanya ketika menulis karena bisa mengganggu kreativitas. Lupakan semuanya kalau itu menghalangi. Intinya menulis adalah proses kreatif yang menjadikan kita sebagai pencipta.

Sehingga aturan yang berlaku saat itu adalah aturan kita.

Ketakutan

Ketakutan pada diri sendiri lebih berbahaya dibanding semua ketakutan nyata lainnya. Itu melumpuhkan raga hingga menembus sumsum, tidak menyisakan ketenangan sedikitpun hingga membayangkannya saja sulit.
Kita bisa mempercayai apapun untuk menghilangkan ketakutan. Berdo'a, meratap atau menjampi. Tapi begitu berurusan dengan rasa takut pada diri sendiri, tidak perlu memikirkan hal - hal seperti itu, sia - sia. Karena ketakutan seperti ini berbeda dengan ketakutan yang muncul dalam wujud wajah menyeramkan atau bahaya mematikan. Takut pada diri sendiri lebih sederhana.

ia menelusup ke dalam pikiran, memodifikasi logika ke arah pseudonormorasio. Seolah dirimu masih berpikir waras. Tapi kenyataan tidaklah begitu. Engkau sudah berjalan jauh dari kenormalan bepikir dan bertindak.

Ketakutan itu dimulai oleh ketidakpercayaan, skeptis. Lalu bertransformasi agar sulit terdeteksi, saking lihainya, kamu bisa menganggapnya sebagai bagian dirimu, yang hidup dan dinamis.

Ketakutan normal adalah rasa tidak nyaman yang dirasakan sebagai ketika sesuatu mengancam jiwa. Ketakutan pada diri sendiri pun masih menganut hal ini. Hanya saja, polimorfis lebih dominan padanya sehingga kita tidak akan mengenalinya semudah melihat langit biru di siang bolong.

Nb: Cukup bicaranya, tidak ada solusi. Hanya percobaan posting pakai handphone

Oldie note 1

Note: Kawan,
perubahan bukanlah mimpi yang harus kau wujudkan.
Perubahan tidak pernah menjadi seperti drama yang dengan mudah kau atur dalam skenario keinginan. Tidak akan pernah seperti itu. Perubahan adalah bagian dari kehidupan. Dan perubahan hidup tidak pernah semudah angan. Dalam waktu yang sama, kehidupan tidak pernah sesulit pikiranmu.
Kedengaran tidak logis. Tapi disinilah letak kelogisannya, kawan.
Kehidupan berjalan tidak logis dalam cara-cara yang tidak logis. Kompleks,kawan. Tapi di situlah letak menariknya hidup. Dimensi yang meliputinya terangkai dalam bingkai ruang-waktu. Kedinamisannya indah. Tidak akan pernah ada kehidupan yang sama, kawan.
Setiap saat adalah kehidupan. Dan setiap kehidupan itu indah sekaligus menyakitkan, probabilitas.

Kamis, 23 April 2009

Film Lama


Film Jackie Chan yang dirilis tahun 2006. Mengisahkan dua orang penculik bayi yang terpaksa harus berurusan dengan polisi dan mafia dalam waktu yang bersamaan. Niat hati memperoleh keuntungan dari tebusan, justru masalah bertubi yang mereka tuai. Alhasil, mereka harus memutar akal untuk meloloskan diri dari semua kesulitan yang mendera.

Ironi dihadirkan film ini ketika Jackie Chan yang notabene penculik justru sayang pada bayi yang mereka culik. Hal yang sering juga terjadi pada kehidupan nyata meskipun tidak selalu dalam bentuk skenario penculikan. Perubahan persepsi akibat resistensi yang berlangsung lama. Contoh paling nyata dapat disaksikan dalam panggung politik.

Hari ini lawan politik bisa membunuh, esok hari mungkin saja lawan itu yang menyelamatkan. Tapi ini lebih disebabkan oleh motif kepentingan.





Posted by Picasa

Rabu, 22 April 2009

Kelakar Pikiran

Roh bersabda, "Aku adalah manusia. Tanpaku manusia bukanlah manusia." Manusia tidak percaya itu. Dapat dimengerti ketidakpercayaan itu. Semenjak manusia mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi, segala hal yang melibatkan spirit atau roh tidak lagi menarik minat. Rasio mengambil porsi yang terlampau banyak dalam diri manusia sehingga segala hal yang tidak terdeteksi indra dianggap bukan bagian realitas.

Jadi terlalu rasional memang kering. Tidak ada mimpi dan khayalan tidak masuk akal. Berbicara realitas hanya pada apa yang dapat dilakukan dan common senses, sedangkan fenomena di luar itu tidak nyata. Sempit. Coba berbicang sedikit dengan Hume, kamu akan tahu nikmatnya empirisme yang mematikan.

Tapi menjadi masuk akal itu sebenarnya bagus juga, karena tidak harus menunggu sesuatu turun dari langit untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Tidak harus berpikir, tugas tidak selesai karena ada seekor kucing hitam yang lewat di depan rumah.

Melihat kondisi manusia sekarang yang tidak percaya lagi hal gaib namun masih takut pada film horor bisa membuat roh - roh tertawa. Aneh memang, karena komponen rasa takut akan selalu menyertai manusia kemanapun pikiran mereka melayang. Dasar, manusia.

Pada Akhirnya Semua Harus Tumbang


Bagi para pecinta sosialisme, berita resesi ekonomi di Amerika merupakan sebuah berkah yang sangat membesarkan hati. Bagaimana tidak, sejak keruntuhan Soviet di awal 90'an, praktis sosialisme kehilangan muka di mata dunia karena Soviet yang menjadi poros utama pergerakan sosialisme akhirnya harus terpecah belah menjadi beberapa negara yang memilih memerdekakan diri karena merasa tidak mampu mempertahankan kebijakan sosialisme yang cenderung dianggap diktator.

Di lain pihak, Amerika yang memenangkan pertarungan ideologis itu, semakin menjadi - jadi kepongahannya di hampir semua forum internasional. Tidak di NATO dan organisasi regional Amerika, bahkan di PBB yang merupakan organisasi dunia mau tidak mau harus ikut takluk di bawah "jajahan" Amerika. Kapitalisme ala Amerika tak ayal, menjadi model ekonomi yang kemudian berlomba - lomba ditiru oleh semua negara berkembang. Tujuan semua negara plagiator kapitalisme itu hanya satu. Memakmurkan rakyat. Sungguh suatu niatan yang mulia.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, pada akhirnya, ungkapan Hegel menjadi kenyataan kembali. "Yang Paling Masuk Akal Yang Akan Bertahan". Setelah sosialisme tumbang karena tidak masuk akal menurut sejumlah kalangan. Kapitalisme juga mulai menunjukkan ketidakmasuk akalnnya. Satu persatu, perusahaan-perusahaan megamilyuner bertumbangan karena bobroknya sistem pengamanan ekonomi kapitalisme. Di mulai dari Lehman Brothers sampai AIG. Dan daftar panjang perusahaan berbasis kapitalisme sudah bersiap menunggu panggilan kebangkrutan.

Sungguh suatu hal yang cukup disayangkan, runtuhnya kapitalisme menciptakan fenomena pusaran air. Kapitalisme ikut menyeret sektor lain di luar ekonomi dalam keruntuhan itu. Dunia sepakbola dan perfileman ikut dibuat berguncang karena resesi ekonomi. Dan tampaknya, sektor - sekor lain bisa terkena imbasnya jika hal ini dibiarkan berkepanjangan. Indikasi ini terlihat dari perubahan pola konsumsi bangsa Amerika pra dan pasca resesi. Budaya kartu kredit tiba - tiba tidak lagi menjadi hal yang populer setelah banyak Bank yang gulung tikar akibat kredit macet yang menunggak. Dan positifnya, budaya Banal (konsumsi remeh temeh) sepertinya akan ikut mati bila hal ini terus berkepanjangan.

Budha pernah mengajarkan pada umatnya mengenai siklus kehidupan. Suatu kehidupan pasti ada pasang dan surutnya. Sosialisme dan Kapitalisme juga akan mengalami hal yang sama. Namun yang perlu menjadi perhatian adalah menganalisis sebab dan akibat dari pasang surut tersebut. Meskipun para ahli ekonomi sudah mengeluarkan banyak pendapat mengenai hal ini berdasarkan perspektif mereka, saya lebih suka melihatnya dari sudut pandang moral. Saya selalu beranggapan bahwa Sosialisme, Kapitalisme serta banyak peradaban manusia lainnya merupakan hal yang paling luar biasa yang pernah tercipta di muka bumi ini (selain keberadaan manusia itu sendiri), semua peradaban tersebut mempunyai potensi untuk bertahan hingga akhir zaman selama moralitas setiap peradaban tersebut dapat dijaga oleh para penggunanya.


"Kamu tidak dapat berjalan di muka bumi ini tanpa suatu moralitas"
--Edward Newgate a.k.a Shirohige-- (One Piece)


Source: skyunhas

Selasa, 21 April 2009

How Stupid Are Human?

Manusia tidak bisa dikatakan mahluk yang pintar, mengingat begitu banyak kesalahan yang telah diperbuatnya sepanjang sejarah dunia ini semenjak dirinya diciptakan.

Tapi melihat begitu banyak pencapaian yang telah dihasilkan manusia, seperti perangnya, pertengkarannya. Mmm, itu bukan pencapaian yang bagus. Keahlian arsitektur, filsafat, dan kebudayaan yang ada saat ini bukanlah kesia-siaan yang sengaja dibuat untuk mencerminkan kebodohan manusia, meskipun sebagian memang terlihat bodoh.

Hanya mahluk seperti manusia yang rela menghabiskan malam - malamnya tanpa tidur untuk satu hal bernama tugas, gengsi, belajar. Cari seekor ayam yang mau melakukan hal seperti itu. Atau adakah kambing yang rela mengorbankan waktu tidurnya untuk membantu manusia demi gengsi? Jelas, kambing tidak butuh gengsi di mata manusia. Apa guna gengsi, kata kambing. Saya butuh istirahat, seru ayam. Manusia menjawab apa? Saya butuh gengsi untuk makan?

Senin, 20 April 2009

Terjebak Siklus

Diberondong kegiatan yang menyita waktu, tenaga dan pikiran yang berulang terus - menerus bukanlah pengalaman yang buruk. Malahan kalau ini dapat terjadi sepanjang hidup bisa menjadi sebuah hal yang luar biasa hebatnya. Bersyukurlah orang - orang yang dapat menjalani hidup seperti ini dengan ikhlas tanpa depresi dan kebosanan.

Karena begitu hebatnya kehidupan seperti ini, mestinya semua orang dapat menerapkannya dalam kehidupan masing - masing. Sayang kondisi seperti ini sulit terwujud. Seandainya semua orang tiba - tiba saja menjadi manusia - manusia membosankan seperti yang diharapkan dalam paragraf sampah ini, dapatkah imajinasimu menjangkaunya? Jika tidak, biarkan diri Anda dituntun ilustrasi berantakan ini; bayangkan sebuah dunia yang di dalamnya berisi manusia yang pola pikirnya sama dan aktivitas, yang sayangnya serupa pula. Di mana aktivitas semua manusia di dunia yang semoga tidak ada ini juga seragam yakni, sekolah atau putus saja kalau tidak memungkinkan, lalu cari uang sebanyak - banyaknya. Lalu setelah memperoleh uang sebanyak pasir di laut, setiap orang berkompetsi memamerkan apa yang sudah diraihnya.

Semua dipertandingkan kendaraan, rumah dan suami/istri (jender) atau mungkin juga hewan peliharaan sekalian saja disertakan agar dapat menyenangkan para pecinta binatang. Dan secara periodik, kompetisi seperti ini dilaksanakan secara berkala. Bukan setahun dua tahun, sebulan dua bulan tapi tidak tanggung - tanggung, tiap hari kompetisi seperti ini dilakukan. Tidak kenal lelah dan sepertinya tidak akan berakhir kecuali kiamat terjadi saat itu juga.

Bayangkan itu sebagai sebuah siklus yang terus terjadi di sekitar kita. Hebat. Orang miskin menjalani siklus makan, kerja, makan, kerja sepertihalnya orang kaya hidup meski hanya berbeda konten.

Forget about cycles, it's a stupid reason for writing. Hidup seperti apa adanya, modifikasi bila perlu.

Minggu, 19 April 2009

Arctic Monkeys





Grup band asal Inggris. Cuma itu tidak lebih. Mengajarkan kesederhaan dalam setiap lirik lagunya. Cuek terhadap kerumitan. Memang apalagi yang bisa diharapkan dari kehidupan ini?

Biasanya mereka membuat lagu yang durasinya tidak lebih dari 3 menit. Begitu singkat namun sangat padat akan kreasi. Simak saja Old Yellow Bricks atau Teddy Picker, begitu mendengarnya, sulit untuk mempercayai kedua lagu itu berdurasi sangat singkat. Kebiasaan Si Vokalis yang tidak diketahui namanya ketika menyanyikan lirik lagu dalam tempo tinggi bisa mendisorientasi waktu. Hingga banyak pendengarnya bisa lupa waktu. Sayangnya akhir - akhir ini mereka mulai meninggalkan kebiasaan unik ini. Mereka mulai membuat lagu berdurasi panjang. Ada yang menganggap perubahan ini disengaja agar dapat sinkron dengan video klip. (rumor). Tapi mereka tidak peduli dengan perubahan itu. Seolah tersinpirasi dari album mereka sendiri, Whatever People Say I Am, That's What I'm Not. Apapun orang bilang tentang mereka, itu bukan mereka.

Ketenaran grup band ini memang masih kalah dari kakak - kakak mereka, U2 dan Coldplay. Tapi sebagai band yang masih cukup baru (baru beberapa tahun buat album), prestasi mereka cukup fenomenal. Rekor penjualan copy album debut mereka saat pertama kali diluncurkan hingga saat ini masih menjadi yang terbanyak sepanjang masa di Inggris. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai menyita perhatian dunia, meski belum sehebat Coldplay yang menyabet Grammy Award, penghargaan Grup Band Terbaik dan Album Terbaik di BritAward dirasa sudah cukup menjadi ajang pembuktian bagi mereka.

Terdongkrak karena demo tape, kata sejumlah pengamat. Padahal mereka tidak pernah membuat iklan dan upaya pencitraan diri lainnya, mereka tetap saja mampu meraup sukses. Karena itulah mereka menjadi semacam Black Swan dalam dunia musik. Prestasi mereka ini sekaligus mematahkan anggapan, bahwa musik hanya berbicara upaya pencitraan diri. Kualitas nomor sekian.

Hebatnya lagi, di album mereka yang Whatever People Say I Am, That's What I'm Not ini, mereka memecahkan rekor penjualan album tercepat sepanjang masa di Inggris. Padahal sebelum resmi dirilis, mereka sudah membagi - bagikannya secara gratis di internet. Bukannya rugi mereka malah lebih untung. Sepertinya mereka mendapat berkah berbagi. Dan kini mereka menjadi prodigy dalam dunia musik.

Sudahlah. Biarkan saja grup band ini terus melaju. Bukan urusan kita.

Back to Old School

My blog resurrection. Akhirnya blogku kembali normal seperti dulu. Widgetnya kembali dan layoutnya pun kembali (tidak ada yang bisa dibanggakan). Di tulisan terdahulu, memang ada cerita bodoh mengenai seorang anak yang terlampau jenius dalam bermain web hingga tidak sadar kecerdasannya yang berlebihan itu telah memusnahkan layout blognya.

Tapi cerita masih memiliki lanjutan. Si Bocah bertemu sisi bijak dirinya (maunya), dengan sedikit ketekunan kisah sedih itu ditransformasi menjadi cerita bahagia. Blognya yang dulu kembali. Selamat buat Si Bocah.

Ternyata bermain blog itu sangat mudah. Tidak perlu takut melakukan kesalahan. Karena di sini tidak ada dosen yang memberi nilai dan polisi yang bakal menghukum (kecuali dalam kasus tertentu) jika kita melakukan kesalahan membuat blog. Apalagi kemarahan, tidak akan didapatkan di sini.

Itulah hebatnya Web 2.0, membuat kita menjadi sentral dunia. Apapun dapat kita perbuat di sini. Alih - alih menjadi sekadar Joker, kita bisa memperoleh keuntungan melalui platform Web seperti ini. yang penting ada kemauan. (Saya tidak mau).

Saatnya kembali menjalani masa lalu. Revel with nostalgia.

Internet



Foto di atas tidak ada hubungannya dengan rencana pemerintah menurunkan tarif internet dalam negeri. Jadi jangan coba - coba cari korelasi antara keduanya. Kalaupun mau dikaitkan, ada yang lebih patas melakukannya, Mbah Dukun.

Soal berita penurunan biaya internet, hal ini sudah di konfirmasi oleh Menteri Komunikasi dan apaan gitu, saat diwawancarai Kompas.

Tidak tahu apa ini ada hubungannya dengan mahasiswa yang kekayaannya tidak terlalu mendekati Bill Gates. Sepertinya dari dulu hingga kini biaya internet di Indonesia memang mahal. Jadi meskipun katanya mengalami penurunan, sepertinya tidak bakal membuat orang Indonesia dapat menikmatinya.

Mau Volume Based atau Time Based, sama saja, mahal.

Jadi buat apa ada pohon jika tanpa buah? Tebang saja, jadikan kayu bakar. Habis perkara.

Sampah

Dunia tanpa sampah? Itu mimpi sampah. Tidak akan pernah ada kenyataan seindah itu. Sejak manusia diciptakan, tidak ada keahlian yang paling dikuasai manusia selain meproduksi sampah. Tak perlu menelak dari kenyataan ini. Apalagi sampai menganggap diri sebagai mahluk bersih. Manusia bersih? Coba tanya bakteri yang menginap di kolonmu, sebersih apa manusia.

Kita buat dunia utopia, dunia yang tanpa sampah. Hanya kita dan benda - benda. Semoga benda - benda itu tidak dianggap sampah. Rasanya sulit, tidak perlu mengkhayalakannya karena itu memang tidak mungkin. Model idela untuk dunia tanpa sampah hanya satu. Buat dunia tanpa manusia.

Ekstrim? Tidak. Dunia tanpa manusia akan menghasilkan dunia tanpa sampah. Itu kenyataannya. Coba tebak siapa yang mebuat istilah sampah? Manusia. Jadi kalau tidak ada yang membuat istilahnya, kenapa harus ada sampah?

Sudahlah, sampah kadang berguna.

Ribut

Apa mahasiswa memang selalu membawa keributan di dalam kantung mereka? Kemana mereka melangkah, keriuhan selalu saja menyertai. Tidak bisakah mereka diam sejenak, mengenang begitu banyak caleg yang lebih memilih kedamaian sejati setelah kalah dalam PEMILU. Mungkin sebaiknya mahasiswa diikutsertakan dalam ajang seperti ini agar mereka tahu, bahwa hidup tidak sepantasnya diisi dengan keributan.

Mahasiswa, mahluk macam apa mereka ini. Tidak henti - hentinya membuat keributan. Berteriak tidak karuan di tengah jalan, dalam ruangan. Tertawa lepas seolah tidak ada kemiskinan dan kesedihan di dunia ini. Melempar batu, membakar barang, seperti mereka saja yang membuatnya.

Perubahan apa yang mereka inginkan dengan keributan? Revolusi macam apa itu?

Mahasiswa sebaiknya menjadi pendiam yang berkualitas. Tidak perlu bicara tapi membuat gebrakan. Seperti ini, menulis tanpa pergerakan, sampah.

Lupakanlah.
Masih banyak yang bisa dibanggakan dari mahasiswa. Meski itu hanya sepetak kulitnya.

Freaking Fast

Hidup berjalan terlalu cepat dan berbahaya. Kata penyair kacangan di TV, hidup itu indah. Bisa dipastikan, apa yang dikatakannya bohong besar. Paling, itu cuma syair sampah yang digunakan untuk menggaet pendengar. Atau itu sekedar pencitraan bahwa Si Penyair adalah orang yang tegar. Dasar aneh. Mana mungkin bisa menikmati hidup di atas kereta ekspress yang tidak memiliki dinding? Yang ada justru bahaya, tidak perlu analisis mendalam untuk mengetahui hal ini.

Seekor lalat pun bisa membunuh. Itu fakta kehidupan. Jadi, buat apa berjuang untuk sebuah kematian yang sudah pasti? Untuk dipertontonkan? Pamer? Atau pasrah karena memang tidak ada pilihan lain?

Sudahlah, kita semua hidup untuk mati. Jadi tidak perlu banyak basa-basi. Kapan Anda mau mati?

Sabtu, 18 April 2009

Gagal di Adsense

Niat untuk mencari uang melalui blog gagal. Google terlalu banyak bikin syarat aneh. Sudahlah, memang dunia blog bukan duniaku.

Kamis, 16 April 2009

Successful Cancer Detection From a Single Drop of Blood

Technological advancements in the field of cancer detection may soon end the need for use of surgical biopsies to remove lumps of tissue for lab analysis and pave the way for the use of a simple prick of the finger instead. New technology has now made it possible for cancer proteins to be analyzed from just a tiny drop of blood or minute tissue sample that is equivalent to four nanograms, which is smaller in size than the dot of the punctuation mark commonly called a period.

The use of the same procedure may also enhance cancer therapy by allowing for fast and easy monitoring of patient response to treatment. Although current research has analyzed only blood cancers with the use of the new methodology, scientists are optimistic that they will also be able to apply the technique to solid tumors and have already begun testing it on head and neck tumors.

Researchers from Stanford University in California have developed a machine capable of separating cancer-associated proteins by means of their electric charge. This varies according to modifications on the protein's surface. Since immune system agents known as antibodies bind to specific molecules, they can be used to identify comparative amounts and positions of various proteins. This technique allowed researchers to detect varying levels of activity of common cancer genes in human lymphoma samples as well as to distinguish between different types of lymphoma. The team found that the procedure worked on lymphoma samples drawn from laboratory mice as well as on cultured tumor cells. The system is called nanofluidic proteomic immunoassay (NIA).

According to researcher, Dr Dean Feisher, “This technology allows us to analyze cancer-associated proteins on a very small scale. Not only can we detect picogram levels—one trillionth of a gram—of protein, but we can also see very subtle changes in the ways the protein is modified.”

The research team was also able to confirm the anti-cancer effect of a cholesterol-lowering statin drug on one lymphoma patient. Regarding this accomplishment, Feisher noted, “This is the first time we have been able to see that this compound affects the biology of cancer cells in patients.” He also acknowledged, “Now we have a tool that will really help us look at what's happening in cells over time.” The findings of the analysis were published in the online version of the journal Nature Medicine.

Alice Fan, a clinical instructor in the division of oncology at Stanford’s medical school, believes the technique offers hope of a major advancement in tracking tumor cells during treatment. She said, “The standard way we measure if a treatment is working is to wait several weeks to see if the tumor mass shrinks. It would really be a leap forward if we could detect what is happening at a cellular level.” However, the researchers cautioned that more research would be necessary before the methodology will be clinically available.

Heart Problems + Depression = Increased Heart Failure Risks

Patients who have heart problems and become depressed have increased odds of heart failure, according to new data. Previous research has shown risks of depression increases nearly three times following an initial heart attack and also increases the risk of a second heart attack. This makes heart disease combined with depression an increased concern, especially since the new research has discovered antidepressants didn’t seem to curb increased risks of heart failure with depression and heart problems.

The recently released findings by Dr. Heidi May, an epidemiologist at the Intermountain Medical Center in Murray, Utah, where she investigated patient’s heart problems combined with depression, shows the combination increases the odds of heart failure. Dr. May’s study evaluated nearly 14,000 patients who were recruited from the cardiac catheterization registry from the center where Dr. May is employed. One of the leading heart hospitals in the U.S. When the patients were diagnosed with heart problems they did not have signs of heart failure or depression, but they were tracked until they developed heart failure or died. Dr. May and researchers found that patients who were diagnosed with depression following a diagnosis of coronary heart disease had a two fold increase in their odds of heart failure, a condition where the heart losses its ability to pump blood efficiently. According to the study, heart failure in non-depressed patients following a diagnosis of coronary artery disease was 3.6 per 100, but for those patients with post-heart disease depression diagnosis, their odds increased to 16.4 per 100.

Heart disease and depression are two conditions which can significantly limit a patients daily life and activities, as well as contribute to mounting medical expenses. During Dr. May’s study, she determined that patients who had developed depression after a heart disease diagnosis odds of developing heart failure didn’t decrease with antidepressant medication. Dr. May said, "Patients need to be carefully screened for depression so that interventions that alter some of the risk associated with depression can be used and the related risk of heart failure and other cardiovascular events can be diminished."

Based on previous studies, patients suffering from depression are less likely to take their medication and follow their doctors' advice, which according to May could be a contributing factor to heart failure among patients with heart disease and depression. "I think that doctors can maybe pay closer attention to the patients that have depression and really follow them to make sure they're taking their medications, that they're following the right diet, they're exercising and do the things that they're asking them to do," according to May .

With the new research, that will be published in the April 21 issue of the Journal of American College of Cardiology we can see the increased risk of heart failure among heart disease patients who later develop depression. Dr. May and researchers hope their study can help uncover reasons that may contribute to heart failure and relieve some of the burdens that it puts on the health care system, as well as learn better ways to treat depression. With the 50 percent increase in risk’s for patients with heart disease developing heart failure, Dr. May believes additional studies would help to delve into the association between heart disease, depression and heart failure, along with other cardiovascular issues.


Source:http://www.healthnews.com/medical-updates/heart-problems-depression-increased-heart-failure-risks-2951.html

Poor Diabetes Control Increases Dementia Risk

Diabetics face the daily issue of controlling their insulin levels to avoid extreme high and low blood sugar, which is known to be detrimental to overall health. Medical data clearly links type 2 diabetes with the possibility of heart attack and stroke, and a study published in the April 15 issue of the Journal of the American Medical Association connects the disease to increased risk of dementia.

Those most affected, according to the study, were older individuals who have had severe levels of low blood sugar that required hospitalization or emergency room visits. The risk to patients with less severe episodes of low blood sugar, common to most diabetics, was not clear. Rachel A. Whitmer, study author, of Kaiser Permanent in Oakland, California was quoted as saying “Hypoglycemic episodes that were severe enough to require hospitalization of an emergency room visit were associated with greater risk of dementia, particularly for those patients who had multiple episodes. And these findings, a little bit to our surprise, were independent of glycemic control.” She also associated hypoglycemia with neurologic consequences in patients already at risk for dementia. The evidence of glycemic control is critical particularly for older diabetics.

The study covered 16,667 patients, average age 65 from 1980 to 2007, all with type 2 diabetes. Hypoglycemic episodes were recorded over 22 years and more than four years were used for follow up dementia diagnoses.

Dr. Nir Barzilai, director of the Institute for Aging Research at Albert Einstein College of Medicine and the Montefiore Hospital Diabetes Clinic in New York City said that the study is by association only and there is no proof of cause and effect link between the two conditions. “It could be fluctuation of glucose. We know that hyperglycemia (high blood sugar) is also very toxic to the cells. All those things cannot be dissected on a study like this.”

Whitmer noted that hypoglycemia is probably not the only reason for the increased risk of dementia in those with type 2 diabetes, but that people with type 2 diabetes are at 32 percent greater risk of dementia. People with pre-diabetes also have greater risk.

Previous studies have linked type 1 diabetes with cognitive impairment in children and adults. The same mechanism could apply to older adults with type 2 diabetes or there could be some other underlying condition.

The study would indicate that blood-sugar control is the strategy to prevent damage, but according to medical experts it is difficult to maintain and monitor and the use of insulin does not bring instantaneous adjustment. Barzilai said, “You give them a little bit of insulin, and they get hypoglycemia. You give them a little less, the glucose goes very high. It’s individual. It’s not that you know what to do with every patient.” Michael Horseman, associate professor of pharmacy practice at the Texas A & M Health Science Center said, “There hasn’t been a study that I’m aware of where they made a serious attempt to keep blood sugar in the normal range that didn’t have episodes of hypoglycemia.”

There are approximately 23.6 million Americans with diabetes and Alzheimer’s disease, the most common form of dementia in older people, affects 5.2 million people. Neither diabetes nor Alzheimer’s has a cure. Those who do not currently suffer from diabetes need to be proactive with their own health. The Mayo clinic website has 5 tips to preventing diabetes:

  1. Get more physically active
  2. Get plenty of fiber
  3. Go for whole grains
  4. Lose extra weight
  5. Skip fad diets and make healthier choices

Discuss your risk factors with your health professional and take charge of your future


Source:http://www.healthnews.com/medical-updates/poor-diabetes-control-increases-dementia-risk-2966.html

Recurrent Hemoptysis and Renal Impairment in a 45-Year-Old Man

A 45-year-old man presents to the outpatient clinic with a 2-month history of painless bilateral ankle swelling. He also has a long-standing history of recurrent fevers that have reached 101.3°F (38.5°C), and has been suffering from a productive cough with blood-tinged sputum for more than 1 year. He has previously sought medical advice for his symptoms; at the time of his previous medical evaluation, chest radiographs and sputum analysis and culture were performed. He received empirical antituberculous treatment for 6 months because cavitary lung lesions were seen on the chest radiographs. His sputum cultures, however, were negative, and no acid-fast bacilli (AFB) were detected. Despite treatment, his cough and fevers have persisted. The patient also complains of anorexia, an unintentional weight loss of 22 lb (10 kg) over the last year, and recurrent epistaxis. He has visited several otolaryngology clinics and was given some “nasal drops”, without any improvement. No cauterization or nasal packing was ever needed. The patient had no history of easy bruising or bleeding before the episodes of epistaxis began. He recently noticed a change in the appearance of his nose and has developed a loss of smell and diminished taste. He does not smoke or drink alcohol, and he denies any illicit drug use. He denies any known exposure to tuberculosis as well as experiencing any risk factors for tuberculosis exposure, such as incarceration, travel to high-risk areas, or employment in a medical facility.

On physical examination, he appears cachectic and pale but in no acute distress. His body mass index is low, at 17 kg/m2. His vital signs include a blood pressure of 150/98 mm Hg, a pulse rate of 102 bpm, a respiratory rate of 18 breaths/min, and an oral temperature of 99.7°F (37.6°C). He has a saddle nose deformity, with loss of dorsal height. There is some mild ulceration of the nasal septum seen from both nares, with no active epistaxis, perforation, or hematoma. The oropharynx and tympanic membranes appear normal. No cervical lymphadenopathy or jugular venous distention is noted during the neck examination. Scattered, coarse breath sounds are auscultated over the mid and lower lung fields, but no wheezes are heard. The cardiac examination reveals an apical impulse of normal size and location, with no murmur or gallops on auscultation. A slightly firm and enlarged liver is palpated, but no ascites is present. Bilateral ankle swelling is also noted, without any tenderness to palpation, joint effusion, or increased warmth. His neurologic examination is normal, except for the loss of smell and moderate bilateral conductive hearing loss.

An initial laboratory workup reveals moderate, normochromic, normocytic anemia, an elevated erythrocyte sedimentation rate of 120 mm/h, an elevated serum creatinine of 2.4 mg/dL (212.2 ┬Ámol/L), and a blood urea nitrogen (BUN) of 50 mg/dL (17.85 mmol/L). A hepatic panel shows a low serum albumin concentration of 2.2 g/dL (22 g/L), but it is otherwise normal. The urine analysis is remarkable for 30-40 red blood cells per high-power field (HPF), 10-25 white blood cells per HPF, a large albumin value, and no casts. Urine culture and sensitivity testing reveals no growth. The result of the test for 24-hour urine protein excretion is 1900 mg/24 hr (1.9 g/24 hr). On sputum examination, Pseudomonas aeruginosa is detected. Chest radiographs and computed tomography (CT) examinations are obtained, which reveal multiple cavitary lesions (Figures 1 and 2). Three consecutive sputum analyses for AFB are taken, and they all result negative. An abdominal ultrasound shows normal-sized kidneys with moderate hydronephrosis. Renal and lung biopsy are scheduled soon after admission.


What condition is responsible for this patient's numerous findings?

Hint: Consider noninfectious etiologies that may affect a wide array of body systems.
a. Tuberculosis
b. Goodpasture syndrome
c. Systemic lupus erythematosus
d. Wegener granulomatosis

source:http://cme.medscape.com/viewarticle/591046

Selasa, 14 April 2009

Demokrasi, sedikit

Demokrasi sepertinya akan semakin mendominasi kehidupan manusia hingga beberapa puluh tahun ke depan. Jadi bagi orang - orang yang hendak menentangnya, sebaiknya memikirkan strategi yang matang dan revolusioner agar dapat menandingi ketenaran demokrasi. Coba lihat saja lukisan politik dunia saat ini. Semua hal didemokrasikan, kerajaan jadi kerajaan konstitusional, kesultanan --> kesultanan konstitusional, sosialis--> sosial-demokrasi dan lain - lain.

Orang yang menelurkan sistem demokrasi ke dalam bentuk praktis seperti yang kita lihat saat ini memang sangat hebat. Kita pantas mengancungi jempol kepada dia atau mereka yang telah meletakkan dasar demokrasi di muka bumi ini, terlepas dari idela tidaknya demokrasi. Tapi kalau kita menggunakan adigium Hegel, "hanya yang masuk akal yang akan bertahan" untuk menilai demokrasi, dapat dikatakan, demokrasi adalah sistem paling masuk akal hingga saat ini.

Demokrasi yang melibatkan pengambilan keputusan berdasarkan kepentingan mayoritas tampaknya akan terus terjaga kestabilannya hingga ratusan tahun ke depan. Karena tidak mungkin melawan mayoritas, meskipun boleh jadi yang mayoritas itu tidak benar. Siapa yang mau melawan penduduk satu negara seorang diri?

Sabtu, 11 April 2009

Spiral Kebodohan

Manusia terlalu sering menjadi bodoh untuk menyadari bahwa dirinya selalu bentindak jenius di setiap kebodohannya. Mereka terjebak dalam pikirannya sendiri, ditipu emosi lalu marah. Meledakkan semua yang terlihat di sekitarnya. Kemudian beberapa saat setelah kejadian, mereka sadar. Mereka sudah melakukan kebodohan. Lalu penyesalan datang dan tekad untuk berubah diikrarkan. Seharusnya sampai di sini, cerita berakhir indah.

Sayangnya ini kehidupan nyata. Manusia belajar dari kesalahannya untuk terus mengulangi hal yang sama. Karena tidak ada yang salah dengan itu, selama dapat dilakukan, mengapa itu salah?
Tidak butuh waktu lama, skenario yang sama berulang kembali, terjebak kebodohan sendiri, emosi, sadar, menyesal. Tidak ada yang berubah.

Dan spiral itu pun tercipta dan diturunkan dari satu zaman ke zaman berikutnya, entah hingga kapan berlangsung.

Buntu

Benar - benar buntu. Inspirasi itu tidak juga datang. Sudah beberapa bulan ini saya tertawa sendiri, alih - alih bermeditasi, untuk mendapatkan bagian diriku yang namanya ilham. Biasanya cara seperti ini berhasil, segera setelah tertawa sendiri, ide dan kawan - kawan berhamburan keluar. Tapi kini, sepertinya saya harus mencari cara lain untuk memanggil anak - anak itu.

Ini semua pasti karena tidak pernah membaca. Seharusnya saya mendengarkan kata orang bijak untuk menjadikan buku sebagai teman. Dasar latah, laptop dan WiFi saya jadikan sohib. Akibatnya, kemampuan analisisku berkurang. Meskipun perkembangan visualku sepertinya meningkat, tapi itu tidak berguna jika diriku tidak mampu mensintesis semua persepsi yang kuterima.

Ini mungkin jawaban kenapa diriku sangat apatis terhadap segala fenomena aneh di sekitarku dalam beberapa bulan ini.

Harus kembali ke akar. Apapun yang terjadi.

Dipenggal Low Bandwith

Apa tidak ada tempat nyaman buat surfing di Makassar? Setelah Unhas menurunkan bandwith buat WiFi gratis, rasanya tidak ada lagi tempat yang strategis untuk menjelajahi dunia asing jaringan. Kecepatan mengakses jaringan yang terus - terusan ngadat membuat kepala serasa dipenggal. Akibatnya, waktu penyelesaian tugas yang membutuhkan dukungan dunia maya ikut tersendat.

Namun sepertinya memang kesalahan memang sepenuhnya berasal dariku. Siapa suruh bergantung pada internet untuk menyelesaikan tugas. Kalau sudah begini keadaannya, mau tidak mau harus mengikuti alur atau merusak alurnya sekalian supaya masalah yang sama tidak perlu terjadi lagi.

Setan sedang sudah tertawa sejak tadi, bermula dari log in di blog hingga ketikan ini terjadi, entah sudah berapa kali terpenggal low bandwith penyiksa ini.

Pragma..pragma..pragma

Tulisan Omong Kosong

Setelah melihat - lihat kembali tulisanku selama ini, aku menyadari kalau ternyata semua tulisan yang telah saya selama ini adalah sekumpulan omong kosong. Tidak ada visi sama sekali dalam setiap penulisannya. Dibandingkan dengan tulisan Gunawan Muhammad di Caping, semua tulisanku lebih pantas di bakar hingga jadi abu, lalu abunya dikumpulkan untuk dibakar lagi.
Apa sebaiknya saya replikasi saja gaya menulis GM supaya tulisanku bisa sebagus dia? Tidak mungkin. Gaya menulis setiap orang berbeda karena itu ibarat identitas, tidak mungkin mereplikasi identitas menjadi ciri khas seseorang.

Biarlah saya tetap dengan gaya menulis omong kosong seperti ini. Karena semua yang telah tertulis di sini adalah buah dari pikiran dan pergulatanku dengan kehidupan ini. Tidak peduli seberapa hancurnya gaya menulisku dalam melanggar aturan sastra. Inilah aku.

Belajar ActiveX

Apa yang menjadi kesukaan manusia? Kalau ada yang menjawab manipulasi, berarti dia sependapat dengan saya. Memang, rasanya tidak ada hal paling menarik di dunia ini selain kemampuan memanipulasi sesuatu hingga menjadi hal yang sama sekali berbeda. Apapun itu. Tapi saya tidak suka jadi bahan manipulasi yang merugikan.

Jika tidak percaya akan hal ini (manipulasi adalah yang paling menarik), coba tanyakan pada Edison, Graham-Bell dan sejumlah penemu kenamaan lainnya, mengapa mereka mau bekerja keras menjadi seorang penemu?
Edison mampu memanipulasi listrik sehingga dapat berubah wujud menjadi cahaya, hal yang sama dilakukan Graham-Bell yang memanipulasi listrik menjadi suara. Tidakkah itu menyenangkan?
Dan coba juga tanyakan pada para programer komputer yang berhasil memanipulasi impuls listrik menjadi jutaan program komputer?

Dalam memanipulasi, kita bisa mendapatkan kepuasan berkuasa. Kita memegang kendali untuk merubah sesuatu.

Sayangnya tidak semua hal dapat dimanipulasi dengan mudah. Jadi untuk melepaskan hasrat itu, yah, saya cari objek yang tidak berbahaya dan tidak bakalan protes kalaupun harus dimanipulasi sedemikian rupa. Dan saya menemukan kandidat yang memenuhi syarat sebagai sarana pelampiasan, ActiveX Pad.

Dengan software sederhana ini saya bisa memanipulasi karakter abjad menjadi gambar. Cool software. Dengan program ini, katanya, kita bisa menciptakan game dan halaman web yang interaktif. Sayangnya kemampuanku belum mencapai tingkatan itu. Masalahnya, untuk membuat sesuatu yang kompleks ActiveX Pad, dibutuhkan pengetahuan tertentu mengenai bahasa HTML dan VB Script. Ini menjadi salah satu alasan mengapa tidak semu orang mampu melakukan manipulasi. Manipulasi butuh ilmu juga, Bung!

Karamel

Hidup ini tercampur aduk dalam ambivalensi emosi. Seperti gula yang digodok menjadi karamel dalam tungku panas. Masih manis namun tidak lagi berwujud gula.

Namun bedanya karamel hanya menampilkan manis dalam warna yang seragam, coklat kehitaman atau hitam kecoklatan, warna lain jarang muncul. Mungkin tidak menerima undangan saat acara pemanasan berlangsung. Hidup, warnanya macam - macam. Permainan emosi meskipun hasilnya akan sama saja, hancur atau bertahan, warna yang dihasilkan selama pembuatannya terlalu semarak untuk disebutkan satu persatu. Seorang mahasiswa yang rajin belajar dan akhirnya mendapatkan nilai A mungkin terdengar biasa, namun apabila perjuangannya untuk memperoleh nilai A itu emosi terlibat di dalamnya, kita bisa menemukan pelangi.

Jumat, 10 April 2009

Respon Histo Bersama Kelas Inggris




Ini semua karena terlambat datang saat review Histologi, akibatnya saya harus bergabung bersama kelas inggris untuk mengejar ketertinggalan. Sistem Urogenitalia membutuhkan banyak perhatian.
Posted by Picasa

Penantian Menuju Kelas PA

Foto . Kumpulan foto yang saya edit di Picassa 3. Asal saja saya jepret menggunakan kamera Nokia 5100 Express Music. Selamat menikmati.
Posted by Picasa

Rabu, 08 April 2009

Konsolidasi di Cafe Blogger






Ini foto yang saya jepret waktu sedang ngopi di Caffe Blogger. Waktu foto ini dibuat, kami sedang melakukan pembicaraan mengenai kelembagaan di FK. Tidak ada solusi kongkret yang dihasilkan dari pertemuan ini. Hanya perdebatan dan keputusan untuk mengadakan tenteran Respirasi (karena kebetulan waktu itu ada remedial pada hari berikutnya).
Posted by Picasa

Kamis, 02 April 2009

Innocent-by Trapped

Catatan lama. Tidak pernah berniat untuk diterbitkan. Tapi harus diterbitkan untuk sebuah rekor. Mencapai posting 100 buah dalam setahun. 

Innocent by trapped adalah suatu kondisi ketika seseorang harus melakukan sesuatu yang tidak dikehendakinya dan hal itu tidak bisa ditolak sama sekali. Kondisi yang sama ketika seorang blogger merasa terpanggil untuk terus - menerus menulis atau memposting sesuatu. Padahal tidak ada kewajiban untuk melakukannya.

Jebakan yang paling berbahaya adalah keinginan terlihat bermoral.

Rabu, 01 April 2009

Bicara Sedikit Keadaan Dunia Saat Tulisan Ini Dibuat


Saat tulisan ini dibuat, kota London yang nun jauh di sana sedang heboh. Kehebohan ini timbul dari kerumunan massa yang sedang melakukan protes ketika pertemuan G-20 sedang dilaksanakan. Mereka melakukan long-march sepanjang jalan menuju ke tempat pertemuan yang dihadiri oleh 20 pemimpin dunia. Lihat saja gambar para pemrotes di bawah ini:



Mereka membawa spanduk yang berisikan protes terhadap keseluruhan kebijakan ekonomi dunia saat ini yang dianggap sebagai biang keladi krisis global. Kebanyakan dari mereka merasa, krisis global terjadi karena ketamakan segelintir orang sehingga tidak seharusnya mereka ikut tersiksa atas kesalahan orang - orang itu.

Saya sependapat dengan para pengunjuk rasa ini. Tidak seharusnya kita sengsara karena suatu kesalahan yang tidak kita perbuat. Hanya karena menggunakan satuan mata uang Dollar untuk bertransaksi dalam ranah global, tidak semestinya kita ikut jatuh bersama Amerika. Negara Produsen Kapitalisme ini telah menciptakan sebuah sistem yang melahirkan sekelompok orang yang berupaya meraup keuntungan dengan cara - cara kotor. Akibatnya, ketika sistem tidak mampu lagi mengkompensasi kerusakan yang telah mereka perbuat, ekonomi dunia ikut berantakan karenanya.

Pengangguran, kebangkrutan dan kemiskininan makin menjadi. Sentimen negatif pasar terhadap sistem merebak, previllege untuk memperoleh dana investasi semakin sulit dan akhirnya sistem mengalami perbaikan.

Entah sampai kapan kondisi seperti ini akan terus berlangsung. Tampaknya moralitas para pemain pasar harus segera direvisi. Perubahan sistem harus segera dilakukan. Untuk perbaikan ini, Presiden Prancis, Pak Sarkozy, sampai - sampai harus beradu argumen dengan para pemimpin dunia lainnya. Tampaknya dia sudah bosan dengan kondisi dunia yang terlalu didominasi oleh Amerika.

Human Error

Hari ini saya mencoba untuk merubah tampilan blog ini agar tampak lebih menarik. Setelah klik sana, klik sini, ketik ini, copy itu, akhirnya sampailah saya pada langkah akhir menuju perubahan, meng-klik opsi simpan perubahan. Tapi apa yang terjadi, bukannya tampilan cool yang saya dapatkan, justru yang tampil hanyalah layar putih berhiaskan link - link tak beraturan. I've made a mistake.

Mendapat keanehan seperti ini, saya pun mengambil langkah untuk me-restore blogku ke mode awal. Tapi, ketika hendak melakukan itu, aku teringat sesuatu. Aku lupa mem-back up template blog lamaku. Second mistake.

Another human error from blogger novice.

Akibat dari kesalahan ini, saya harus mereset tampilan blog ini ke model default. Itu berarti lay-out yang sudah susah payah kubuat beserta sejumlah widget yang telah kutambahkan dulu harus ikut hilang. Wow, what a mistake. Setidaknya ini harus menjadi pelajaran bagiku agar tidak melakukan suatu aksi tanpa antisipasi.

Karena sehebat apapun sebuah rencana, kefluktatifan variabel kehidupan, dapat merubah jalan cerita keseluruhan skenario hidup. Keep on trying.

Bergembiralah

Bergembiralah karena hingga hari ini raga ini masih utuh, berada pada tempat yang semestinya meskipun sebagian organnya sudah tidak lagi berfungsi maksimal. Apalagi yang lebih baik dari hal ini. Ditambah kesadaran yang sampai saat ini sepertinya belum terganggu. Tidak ada alasan untuk tidak bergembira.

Meskipun lautan kering , langit terbelah dan bintang - bintang berjatuhan sekarang ini, bergembiralah, selama jiwa masih tertaut dengan raga.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...