Selasa, 30 Juni 2009

Kapal 2

Ternyata bukan cuma jadwalnya saja yang sering molor, hampir semua kapal yang beroperasi di Indonesia memiliki fasilitas yang tidak terlalu layak. Awalnya penulis tidak percaya dengan pernyataan itu, meskipun salah seorang teman penulis pernah melakukan penelitian dan mengamini kebobrokan itu. Katanya, standar sanitasi dan kesehatan kapal publik yang ada di Indonesia, masih berada di bawah rata-rata. Meyakinkan sekali ketika rekan penulis menguraikan penelitiannya.

Penulis akhirnya percaya pada penelitian rekannya setelah melihat sendiri keadaan kapal yang ditumpanginya. Sampah bertebaran, toilet tidak terawat, tempat tidur ekonomi tidak beraturan serta tidak ada dokter kapal yang bersiaga sudah cukup menjadikan standar kesehatan kapal tidak layak. Belum lagi, makanan yang disediakan kapal, kata orang, makanan di penjara masih lebih baik.

Dengan pelayanan seperti itu, seharusnya, jumlah penumpang kapal berkurang drastis tiap tahunnya. Tapi hal itu justru tidak pernah ditemukan. Tiap tahun, jumlah penumpang justru konstan bahkan kadang meningkat.

Kenapa hal itu bisa terjadi?

Senin, 29 Juni 2009

Menunggu Kapal

Tiket berkata, pukul 16.00 WITA kapal berangkat. Tapi hingga setengah jam lebih, belum ada tanda-tanda keberangkatan. Tangga kapal belum juga diturunkan, pintu keluar ruang tunggu menuju kapal belum juga dibuka. Tampaknya penantian ini akan terus berlanjut hingga beberapa puluh menit lagi.

Wajah letih para penumpang, panasnya ruangan tanpa AC serta lalu lalang buruh pengangkut mewarnai penantian panjang ini. Teriakan ibu yang mencari anaknya, tangisan bayi serta gemuruh celotehan penumpang ikut meramaikan koor penunggu - penunggu kapal yang mulai depresi.

Sudah menjadi hal yang lumrah, keterlambatan, kemoloran menemani pelayanan perhubungan Indonesia. Entah apa yang salah hingga kejadian ini terus berlangsung sering, malah bukan lagi sering, tapi setiap saat. Tidak di laut, darat ataupun udara, sama saja. Telat terus.

Tidak tahu harus memperbaiki yang mana dulu, manajemennya atau menambah armada. Dua-duanya punya konsekuensi logis berupa perbaikan pelayanan. Hanya saja, dua-duanya juga punya resiko berupa pengeluaran dana produksi yang meningkat dan hal ini paling tidak disukai operator perkapalan, karena bisa mengurangi keuntungan.

Sudahlah, itu bukan urusan penumpang. Cukup menunggu saja, mengeluh, mengumpat dan tersiksa. Kalau tidak mau terima, ke laut aja! Ini Indonesia, bukan Singapura atau Jepang.


_-_

Minggu, 28 Juni 2009

Tenaga Kerja dan Wibawa

Beberapa hari lalu, pemerintah negara tempat penulis tinggal, mengeluarkan sebuah keputusan yang cukup berani namun kompromistis mengenai ketenagakerjaan migran. Jarang-jarang negara berpenduduk 200 juta jiwa ini mengeluarkan regulasi yang merugikan perekonomian namun meningkatkan wibawa kedaulatan negara. Biasanya, negara kaya sumber daya alam ini paling takut membuat keputusan populis namun merugikan perekonomian. Lihat saja hutan-hutan yang dijadikan korban demi peningkatan devisa. Sudah jelas banyak yang menentangnya (populis), tapi tetap saja penghancuran hutan berpayung hukum yang menguntungkan tetap dilakukan (ekonomi).

Negara ini memang sedang dalam kesulitan dalam bidang ekonomi. Kepayahan membayar utang dan kesulitan mengolah SDA sampai harus diserahkan ke pihak asing. Tapi tidakkah keterlaluan, terus-terusan fokus pada pengembangan ekonomi yang mengglobal tanpa memperhatikan pembangunan sektor lain yang berwawasan kerakyatan. Penulis tidak pernah paham pada kebijakan penggusuran pasar-pasar tradisional demi pembangunan gedung atau pengembangam mega proyek yang mungkin hanya akan dirasakan oleh segelintir orang.

Tapi entahlah, mungkin sudah saatnya pasar-pasar tradisional itu tergusur oleh mall, jalan layang, gedung pencakar langit, atau bahkan landasan pacu semata. Karena kita terus bergerak sejalan dengan modernisasi barat maka mungkin sudah sewajarnya hal-hal yang tidak efisien seperti pasar tradisional harus diberangus. Bukankah, bangsa ini sudah terbiasa dengan kenyamanan AC, kebersihan dan keteraturan yang ditawarkan modernisasi, jadi, buat apa lagi bernostalgia dengan masa lalu? (mulai inkoheren)

Nostalgia dengan impian masa lalu bangsa tentang keadilan, kesejahtraan dan kedaulatan tampaknya tengah melanda orang-orang pemerintahan yang mengurusi masalah ketenagakerjaan. Dengan tegas, mereka membuat keputusan menghentikan sementara pengiriman TKI ke luar negeri untuk meregulasi kembali aturan keselamatan dan perlindungan TKI ketika berada di negara asing. Sebuah keputusan yang sebenarnya terlambat namun patut diacungi jempol.

Sudah saatnya menghentikan penciptaan Sitti Hajar dan Nirmala Bonat yang lain. Mereka sudah cukup menjadi contoh, betapa pentingnya kewibawaan suatu negara. (inkoherensi lagi)

Kamis, 25 Juni 2009

Tidak ada yang mungkin dapat terulang.
"Selama menulis itu tidak dilarang, tulis saja apa yang tidak mungkin ditulis ketika aturan itu masih ada"

Selasa, 23 Juni 2009

Mimpi

Mimpi adalah hal yang wajar terjadi setiap kali kita tidur. Banyak ahli yang berpendapat, mimpi adalah sebuah pesan eksistensial mengenai diri, kepada diri. Jadi apa yang kita mimpikan kemungkinan besar adalah keinginan terdalam yang tidak dapat terpenuhi ataupun fenomena yang terjadi dalam alam sadar namun luput dari perhatian, sehingga informasi-informasi itu mengendap dalam alam bawah sadar lalu termanifestasi ketika kita tertidur. Mekanisme inilah yang biasanya dimanfaatkan oleh ahli hipnotis dalam menanamkan sugesti pada orang lain.

Ada yang bilang, memahami mimpi sangat penting untuk mengenali keadaan psikologis diri dan mengatasi gejala neurosis. Freud dan Jung sudah membuktikan ini. Pada era hidup mereka, banyak sekali ditemukan wanita bangsawan yang menderita neurosis dan mimpi mengenai aktivitas seksual yang menyimpang. Setelah ditelusuri, ternyata gejala yang mereka alami disebabkan oleh kungkungan dogma dan norma agama serta kesusilaan yang ketat saat itu. Mimpi-mimpi dan neurosis adalah kompensasi bebas terhadap aturan yang ketat.

Namun ada juga ahli yang menganggap mimpi hanyalah mekanisme pembuangan otak akibat banyaknya informasi membingungkan yang didapatkan selama terjaga. Berdasar asumsi ini, maka tidak penting untuk mengingat mimpi. Karena itu hal justru dapat mengganggu proses berpikir lainnya.

Teori dikembangkan oleh peraih hadiah nobel, Francis Crick. Tidak banyak ahli yang mengadopsinya karena dianggap terlalu mekanistis. Lagipula teori ini terlampau melawan arus sebab hampir semua kebudayaan dunia menghargai mimpi sebagai sesuatu yang kramat dan sakral. Teori ini justru menganggapnya sampah. Beberapa ahli yang kontra teori ini menyatakan, kalau bukan karena pencetusnya adalah peraih hadiah nobel, sudah lama teori ini masuk tempat sampah.

MIMPI YANG ANEH

Berkaitan dengan mimpi, baru - baru ini penulis sepertinya mengalami mimpi yang aneh. Dia bermimpi menonton debat capres yang selama acaranya tidak ada aura perdebatan sama sekali. Yang ada justru untaian saling puji dan dukung dari satu kandidat ke kandidat yamg lain.

Sebuah mimpi yang aneh. Padahal dalam kenyataan sebelum mimpi terjadi, saling serang, sindir dan gesek adalah hal yang biasa. Mimpi yang dialami penulis terlampau inkoheren dengan bayangannya selama ini mengenai para capres.

Mungkin saja mimpi tidak biasa ini terjadi karena para capres berada dalam melankolia kesantunan. Wajar, mimpi penulis hadir di negara Timur yang menjunjung sopan santun dan etika lainnya. Topeng paling jelek untuk menyembunyikan kebusukan politik.

Mimpi yang betul-betul aneh. Haruskah penulis menginterpretasikan mimpi ini dengan psikoanalisis Freud-Jung? Atau dibuang saja di tempat sampah kelupaan seperti usulah Crick? Entahlah. Masih ada mimpi lain yang menunggu penampilannya dalam tidur penulis.

Kamis, 18 Juni 2009

Balada Kelulusan

Akhirnya pengumuman ujian siswa sekolah menengah atas sudah keluar. Tahun ini (2009), warna bahagia kelulusan masih lebih semarak dibanding warna kesedihan orang - orang yang gagal dan kesuraman sistem pendidikan nasional yang hingga saat ini belum juga membaik. Tapi apa pentingnya membahas kesedihan dan kesuraman saat suasana gembira masih menyeruak. Siswa - siswa yang lulus tidak lagi mempedulikan hal seperti itu. Sudah takdir, ada yang tidak lulus dalam ujian dan sudah sejak dulu negara ini tidak jelas pendidikannya, jadi, buat apa dipikirkan. Kira-kira seperti itulah pikiran yang melintas di alam bawah sadar orang-orang yang lulus.

Saat ini yang mengalir di alam kesadaran manusia - manusia lulus hanyalah apa yang hendak dilakukan setelah lulus dan perayaan kelulusan. Hal yang lumrah dan manusiawi. Semua orang bahagia seperti itu, melupakan kesedihan dan memproyeksikan cara untuk mengekspresikan kebahagiaan serta metode mempertahankannya. Contoh kebahagiaan yang bisa membuat lupa daratan selain kelulusan adalah jatuh cinta entah itu terpeleset pada cinta monyet, sejati atau apalah yang berlabel cinta lainnya.

Kebahagiaan yang membuat seseorang melayang hingga tidak tahu diri. Jatuh cinta dan kelulusan menciptakan kebahagiaan seperti itu. Karena homolog, maka konsekuensi dan resikonya juga sepadan.

Kalau kelulusan bisa membuat seorang siswa lupa bahwa selama 3 tahun sekolah dia hanyalah pemalas dan pencontek ulung hanya karena melihat nilai ujiannya yang melonjak secara ajaib, cinta bisa juga melakukan hal yang sama dengan cara yang idiopatik, belum diketahui mekanismenya. Cinta bisa membuat seseorang lupa status dan keadaan bahkan berupaya melawan situasi demi kelanggengannya. Orang yang lulus ujian juga seperti itu, bentuk ekspresi sederhananya, coret-coret baju, laminating ijazah, pesta dan hal - hal aneh lainnya. Bentuk ekspresi mempertahankan kebahagiaan cinta mungkin agak kompleks, terkadang ada konflik dan permainan emosi di dalamnya entah itu dengan kompetitor seperti mantan, orang yang lebih mapan dan hebat ataupun dengan depresor seperti keluarga, norma, agama dan aturan lainnya. Tapi tetap saja, upaya mempertahankan kebahagiaan itu entah karena kelulusan, cinta atau jenis - jenis lainnya akan mendapat halangan terbesar yang justru berasal dari sendiri. Pikiran dan prinsip.

Rumit, menulis hal kedua hal ini jika harus dipaksa hubungkan kebahagiaan. Tapi tidak mustahil, dalam gaya inkoherensi, semua hal dan peristiwa di dunia ini dapat berhubungan dan dicari hubungannya secara konvensional ataupun ekstrim. Prinsip utama gaya menulis ini adalah keyakinan bahwa semua hal di dunia ini memiliki keterhubungan. Butuh beberapa postingan untuk menjelaskannya.

Tapi untuk sementara fokus pada kelulusan dan cinta berdasarkan aspek lain. Sekuat apapun upaya mempertahankan kebahagiaan, yang namanya benda fana, meskipun abstrak, pasti memiliki akhir. Kebahagiaan saat lulus biasanya mencapai klimaksnya ketika pengumuman kelulusan dibacakan dan terus berlanjut pada acara perpisahan atau prome night (ejaannya bgm ya?) lalu berangsur meredup saat Si Lulus menjalani fase kehidupan lebih lanjut (apalagi setelah menjalani kerasnya kehidupan kuliah, mantap redupnya).
Cinta juga seperti itu, klimaks bahagianya saat gayung bersambut (konotasi), lalu berlanjut bersama kebersamaan yang membahagiakan (orang luar bilang memuakan) seperti berkirim surat, jalan bersama, nonton dan hal - hal lain yang pakai kata bersama (sekali lagi kata orang luar, memuakan. Tp orang dalam mah enjoy. Subyektifitas). Kemudian perlahan meredup seiring dengan bertambahnya orang gagah atau cantik yang dikenal, meningkatnya orang lebih hebat dan mapan yang diketahui ditambah ketidaksetujuan keluarga, lengkap sudah. Plus salah satu dari subyek kebahagiaan atau mungkin keduanya menyerah, secara resmi kebahagiaan cinta itu ditutup seperti halnya kebahagiaan kelulusan yang dilindas ospek, tugas dan realitas lainnya.

Tidak perlu memikirkan terlalu dalam soal kebahagiaan yang pergi. Ini tidak ada hubungannya dengan kesetiaan, kemampuan, kecerdasan, kemalasan, integritas atau ke-an - ke-an lainnya. Itu hal yang wajar. Alami.
Cinta atau kelulusan hanyalah dua dari banyak kebahagiaan lainnya. Masih banyak kebahagiaan lain yang menanti di luar sana.

Biasanya ada ritual untuk mengekspresikan perpisahan dengan kebahagiaan, seperti orang yang disayang meninggal, ada prosesi pemakaman untuknya. Bahkan Hitler pun punya prosesi. Tapi khusus untuk soal cinta dan kelulusan, tidak perlu ada acara seperti itu. Berpisah saja. Habis cerita.

Rabu, 17 Juni 2009

Melankolia 2

Sunyi itu menyenangkan. Hal-hal melankolik mengalir pada suasana seperti ini. Dan kalau melankolisme sudah berkuasa pada diri seseorang, berbahagialah orang-orang yang ada di sekitarnya. Terutama teman dan keluarga. Jatah ayam goreng bisa bertambah, dominasi remote TV seutuhnya dan banyak hal menguntungkan lainnya. Memang mengambil kesempatan dalam suasana melankolias orang lain terdengar kurang etis, tapi tidak perlu khawatirkan hal seperti itu selama tidak ada kerugian yang dikeluhkan oleh korban baik dalam perkataan maupun gelagatnya. Lalu bagaimana supaya tahu dia tidak merasa dirugikan? Tanya saja orangnya. Ini hanya persoalan teknis.

Sangat mudah melihat seseorang yang sedang terjebak melankolisme. Tiba-tiba jadi penyendiri, puitis, pasang gaya sok cool dan aneka gerakan lain yang menunjukan kefilosofisan. Sebagai contoh mudahnya perubahan orang yang terjebak melankolisme adalah bayangkan saja JK, SBY atau Megawati yang tengah gencar-gencarnya saling klaim andil dan sindir-menyindir tiba - tiba saling memuji dan mendukung. Perubahan itu melankolisme.

Kalau masih sulit membayangkannya, tidak perlu dibayangkan. Karena memang hal-hal seperti itu jarang terjadi. Tapi semoga saja bisa terjadi. Demi kehidupan berpolitik yang sehat. Melankolisme.

Senin, 15 Juni 2009

Ekonomi

Ada yang bilang, blog adalah salah satu cara untuk memerangi kapitalisme. Karena melalui cara ini kita dapat berbagi informasi, ilmu serta kemampuan membajak mungkin, tanpa harus terjebak dalam lika-liku pasar dan modal. Tidak ada hak paten, kepemilikan dan saudara - saudara lainnya yang identik dengan kapitalisme. Itulah hebatnya blog, tak ada batasan. Curhat, iptek atau pun gosip bisa ditemui di sini.

Tapi yang namanya barang canggih produksi kapitalis, ya, selalu saja ada celah untuk mengkomersialisasikan produk. Blog memang butuh dana untuk perawatan. Tidak ada salahnya sedikit komersialisasi. Yang penting, jangan suruh saya membayar.

Minggu, 14 Juni 2009

Paling cepat, lebih baik

Itu bukan jargon politik meskipun mirip. Jadi tidak usah ada yang merasa hak ciptanya dibajak.

Biasanya segala hal yang cepat itu identik dengan yang baik - baik. Pembuatan KTP cepat, penduduk puas menjalani hidup. Pete-pete cepat, penumpang gembira sampai tujuan. Direktur cepat mati, istri muda simpanan ceria dapat warisan. Selalu, terdengar baik.

Meskipun tidak menutup kemungkinan banyak juga hal buruk yang identik dengan kecepatan. Tapi jangan bicarakan hal - hal buruk. Kurang baik untuk optimisme.

Kesimpulannya, tidak ada. Hanya sebagai pemberitahuan, jargon politik dipilih hanya karena alasan estetika dan memudahkan memori massa agar dapat mengingatnya. Jarang sekali jargon politik dipilih karena implikasi dan konsekuensinya. Entah itu, lanjutkan, lebih cepat lebih baik ataupun wong cilik, jangan terlalu diperdebatkan makna dan penerapannya. Karena bisa jadi, orang - orang yang memakai jargon itu tidak peduli dengan hal - hal mendasar seperti integritas.

Bahkan untuk jargon sekelas "Merdeka atau Mati" bisa jadi tidak bermakna apa-apa bagi yang mengucapkannya. Tidak ada maksud menuduh dalam tulisan ini.

Sekali lagi, lupakan jargon. Itu tidak bermakna sama sekali. Apa kalimat "i love you" sama sekali tidak bermakna? Ya. Pada beberapa orang.

Kita berpisah.

Perubahan

Jangan bicara soal perubahan pada mahasiswa pondokan. Mereka sudah bosan dengan hal itu. Tiap tahun, bulan, minggu, hari, selalu saja ada hal baru. Pindah pondokan, ganti pacar, safari tempat makan, dan hal - hal sepele lainnya bisa jadi hal yang senantiasa baru di dunia pondokan. Ketika dunia baru berkokok tentang trend pakaian terbaru yang berganti tiap 6 bulan, dunia pondokan sudah membicarakannya sejak para penghuninya membuka mata dipagi hari. 

Perubahan di dunia pondokan tidak ada hubungannya dengan politik praktis (tapi untuk postingan kali ini, kita paksakan saja agar dunia pondokan ada hubungannya dengan dunia politik praktis). Namun dari beberapa segi, kehidupan pondokan sangat mirip dengan dunia politik. Dalam politik, partai yang kemarin jadi oposisi, lalu berganti peran menjadi bagian dari pemerintahan hari ini, merupakan perkara yang lumrah. Hal yang sama terjadi di pondokan, seseorang yang membenci dangdut bisa saja luluh hingga fanatik jadi dangduters hanya dalam hitungan hari.

Kesimpulannya apa? Tidak ada. Di manapun manusia berada, plin-plan itu akan selalu ada.

Jumat, 12 Juni 2009

Stik in prinsip (forget EYD dan Grammar)

Cerita nabi dan film in Bruges adalah dua kisah yang berlatar beda. Jika kisah nabi didominasi oleh hal-hal yang bersifat ketuhanan dan kasih sayang, maka film in Bruges adalah antitesisnya, sumpah serapah menghiasi sepanjang film ini, ada sedikit ketuhanan disinggung namun sebagai afirmasi keagnostikan dan kasih sayang terlalu implisit. Memang manusia tidak bisa lepas dari yang namanya topik ketuhanan dan kasih sayang, dengan atau tanpa agama.



Meski akan terkesan menghujat apabila membandingkan kisah nabi dengan film in Bruges dan mungkin terlalu dipaksakan, tidak perlu marah ataupun merajuk karena hal itu. Bahkan sampai harus menuntut karena penistaan agama. Kedua kisah itu memang beda. Dari judul dan plot saja sudah dapat dilihat perbedaannya.



Tapi dari sekian banyak perbedaan mendasar antara kedua kisah itu, yang membuatku teringat kisah Nabi saat menonton film in Bruges adalah ketika di adegan terakhir, seorang Mafia harus menembak dirinya sendiri karena memegang prinsip, "you have to stick with your princip". Seperti jatuh dari lantai 100 saat mendengar kata Si Mafia sebelum menembak dirinya sendiri. Orang tidak beragama saja punya moralitas seperti dalam memegang amanah dan janjinya. Apalagi dengan para Nabi dulu yang sudah diberi wahyu langsung dari sumber segala moralitas.



Implikasi dari you have to stick with your princip bisa meliputi apa saja. Tapi yang paling dekat dengan konsekuensi itu adalah rasa keadilan. Prinsip itu harus diterapkan pukul rata. Seperti Nabi Ibrahim yang secara prinsip mengikuti apapun perintah Tuhan bahkan meskipun itu keharusan menyembelih anaknya sendiri atau kisah konyol Bos Mafia yang membunuh dirinya sendiri hanya karena prinsip tidak boleh membunuh anak kecil meskipun ternyata dia tidak melakukannya. Penegakan prinsip dan keadilan yang pukul rata akan selalu bias karena interpretasi. Nabi Ibrahim bisa berbangga hati karena prinsipnya tidak harus berakhir konyol seperti bos Mafia di film in Bruges.



Nb:catatan buat teman yang mengenal penulis (maklum bukan artis) dan memahami tujuan penulisan posting ini (bagus juga kalau penulisnya sendiri paham).



Bertahan pada prinsip itu bukan pekerjaan mudah. Tapi saya harap kalian mampu bertahan dalam pekerjaan sulit itu. Kalau tidak bisa melakukannya karena Tuhan, lakukan untuk orang lain jika ternyata juga tidak bisa, cukup lakukan demi dirimu sendiri.



Seandainya Tuhan, orang lain dan dirimu sendiri bukan motivator yang baik, lakukan pekerjaan sulit itu demi eksistensinya di muka bumi ini. Agar ada yang bisa dijadikan contoh bahwa di muka bumi ini masih ada yang bisa memegang prinsipnya meskipun dia bukanlah Nabi ataupun aktor film.



Sekali lagi penulis katakan pada engkau yang mengerti, bertahan pada prinsip bukan persoalan agama apa dirimu atau percaya tidaknya dirimu pada Tuhan. Ini soal moralitas yang sudah jarang kita temui pada diri pemimpin - pemimpin kita dan mungkin diri kita sendiri. Stick with your princip.



Awalnya, kamu dengan cintamu, pemimpin dengan rakyatnya dan aku dengan pilihan politikku. Inkoherensi.



Penulis akan tetap pada prinsip tidak akan memilih seorang pemimpin yang bermobil, berjas, berumah mewah dan berlain - lain ketika rakyat mayoritas masih sulit memperoleh makan, mendapat kesehatan dan mendapat tempat bernaung. Tapi semoga tahun ini, everyone can stick with their princip agar semuanya bisa berbeda.



Penulis belum siap terkejut pada perubahan ke arah lebih baik tapi sejak awal sudah siap pada inkoherensi janji dengan praktek. Kita lihat saja.

Pemerintah, kamu atau penulis yang bertahan dengan prinsipnya. Tapi keteguhan penulis sudah jelas, pilihan politik itu sudah ada sejak 1 dasawarsa lalu.

Tersisa dirimu dengan cintamu dan pemerintah dengan rakyatnya. Penulis bebas.



<maaf, panjang dan inkoheren>

<ucapan terimakasih buat semua orang yang mau merelakan waktunya untuk membaca tulisan gaya inkoheren/tidak nyambung ini. Jadi terharu. Sudah ah, norak>

Kamis, 11 Juni 2009

Jembatan

Barusan minggu lalu jembatan terpanjang di kampung Jondo selesai di bangun. Seluruh warga kampung berpesta pora menyambut rampungnya jembatan yang rencananya bernama Jondo-Dudo ini. Meskipun banyak warga merasa kurang sreg dengan nama itu karena persoalan klasik, estetika dan fengshui yang tidak menguntungkan secara elemental, tapi tetap saja pemerintah kampung, dalam hal ini, kepala kampung tetap menggunakan nama itu. Ketika ditanya alasan, sederhana saja, geografis, jembatan itu ada di kampung Jondo dan membelah sungai Dudo. Jadi, mau tidak mau, nama itu harus digunakan.

Tapi dibalik alasan sederhana itu, sebenarnya saat memilih nama, kepala kampung punya alasan filosofis yang tidak ingin diungkapkan secara blak-blakan pada media kampung. Takutnya dia akan dianggap sebagai orang bijak bestari. Padahal dia terlalu jauh dari kesan seperti itu. Lagipula dia tidak suka dengan orang yang bijak. Terlalu banyak orang bijak yang munafik.

Alasan filosofis itu masih belum mau diungkapkan oleh kepala kampung hingga kini, saat orang - orang mulai meributkan perebutan tanah di sekitar jembatan, tarif masuk jembatan dan sejumlah masalah pelik lainnya. Manusia memang selalu ribut kalau bicara ekonomi.

Terlepas dari semua persoalan itu, salah seorang anak kepala kampung hingga kini tidak juga paham mengapa harus ada jembatan di kampungnya. Padahal tanpa jembatan itupun, kampung Jondo akan tetap ada selamanya.

Sabtu, 06 Juni 2009

Berita Burung, Cacing, Manusia (abjad)

Di masa lalu yang tidak pernah tertulis dalam sejarah, ada sekawanan burung yang hidup dan berburu di tempat yang sama. Selama bertahun-tahun tinggal di situ dalam kesejahtaraan, tiba-tiba saja terjadi musim dingin yang panjang. Tidak jelas, kenapa bisa hal itu terjadi. Padahal, tidak pernah kejadian ini terjadi sebelumnya.

Menurut berita burung pengembara, telah terjadi pemanasan global karena para raksasa di selatan yang senang membakar hutan di sekitarnya untuk dijadikan taman bermain. Berita yang aneh. Tapi karena para burung merasa segolongan, sejenis, mereka memilih percaya berita ini.

Padahal ada juga berita manusia yang beredar bahwa telah terjadi pembukaan kulkas besar-besaran di Utara yang mengakibatkan suhu dingin di sekitarnya. Para burung menertawakan hal ini. Mereka menganggap itu tidak masuk akal. Tapi mereka maklum, sejak dulu, mereka mengenal manusia karena kelicikan dan kebohongan. Manusia pandai mengarang, menciptakan isu demi kepentingannya. Awalnya, para burung tidak mempedulikan kelakuan aneh manusia tapi hal itu berubah ketika beredar tuduhan bahwa burung - burung selalu membawa kabar bohong.

Mendengar kabar ini, burung - burung mulai membenci manusia. Kembali lagi, ke soal musim dingin, burung - burung yang berada di situasi gawat musim dingin kemudian memutuskan melakukan migrasi ke selatan. Demi kelangsungan hidup.

Dalam perjalanan menuju selatan, mereka mengetahui fakta, ternyata tempat tinggal mereka yang dulu sedang dijadikan lokasi pembuatan film berjudul Badai Salju. Cacing - cacing makan malam mereka yang memberitahukan kabar mengejutkan ini. Begitu mendengarnya, gang burung ini mengamuk.

Mereka kembali ke tempat asal untuk mengusir kru film. Sudah ada rencana mencabik - cabik daging dan mencongkel mata. Tapi begitu sampai, apa yang mereka temukan di sana, tidak ada kru film dan salju. Hanya ada tempat tinggal yang masih seperti dulu. Mereka begitu bahagia melihat keadaan ini. Semua kemarahan itu lenyap. Dan mereka kembali hidup normal.

Sejak saat itu, mereka tidak pernah lagi mempercayai berita burung, cacing, apalagi manusia. Mereka sudah bosan dengan kebohongan dan keterkejutam.

Padahal mereka belum mendengar hal yang lebih mengejutkan. Semua kisah itu tidak pernah terjadi. Mereka tidak pernah ada.

Jumat, 05 Juni 2009

Latah Kebebasan

Pagi hari adalah saat yang paling identik dengan baca koran, nonton TV, dengar radio dan sejumlah kegiatan mencari informasi lainnya. Meskipun ada yang bilang hal-hal seperti itu adalah kegiatan sia-sia, karena semua informasi pagi hanyalah kumpulan keanehan yang terjadi pada hari kemarin. Tidak ada hal baru di berita pagi. Mereka semua masa lalu yang konyol. Penulis dan pedagang yang dipenjara karena mengeluh, tawuran mahasiswa, ataupun persaingan jargon politisi, bukankah hal seperti itu konyol. Tapi sekali mencari berita adalah kebebasan yang harus dihormati. Sekonyol apapun kisahnya.

Sejak negara ini memasuki era kebebasan, berita - berita di media massa menjadi semakin aneh saja. Pola pemberitaan juga lebih mengarahkan sumber pemberitaan pada lingkup privat dan individu. Bahkan urusan rumah tangga pun bisa jadi konsumsi publik. Entah ini harus disyukuri atau dikutuk. Tapi sekali lagi, itu kebebasan berekpresi.

Sayangnya, di era kebebasan informasi ini, masih banyak orang yang belum menyadari implikasinya secara holistik. Lebih banyak yang menganggap kebebasan sebagai keleluasaan tanpa aturan. Ada juga yang masih berpikir kebebasan itu ancaman. Tampaknya, kebebasan beradab masih jauh.

Kamis, 04 Juni 2009

Kebebasan Berekspresi

Barusan mendengar kasus orang di penjara karena menulis. Kasus aneh. Di era kebebasan ekspresi sekarang masih saja ada kejadian seperti ini.

Memang kebebasan ekspresi bisa mencakup apa saja. Menulis, marah atau memenjarakan orang adalah ekspresi. Karena implikasi bebas itulah dibutuhkan tanggung jawab dan kedewasaan untuk mengawal ekspresi. Baik untuk subjek maupun objek ekspresi tersebut. Sebagai kompromi dan penjamin kedamaian.

Kasus yang menimpa Prita adalah salah satu contoh kurangnya kedewasaan menanggapi ekspresi. Pemenjaraan dan kebencian itu tidak perlu ada jika solusi elegan seperti somasi, jumpa pers dan upaya mediasi lainnya dilakukan.

Bangsa ini belum terbiasa dengan kebebasan ekspesi yang beradab.

Senin, 01 Juni 2009

Manipulasi Verbal

Beberapa orang punya kemampuan memanipulasi orang lain secara verbal dengan argumen, intonasi dan bahasa tubuh. Keajaiban kata. Bahkan kebodohan pun bisa bewujud kejeniusan dalam bentuk verbal. Dalam bentuk ini sungguh sukar untuk mengetahui kapan dan bagaimana manipulasi itu bekerja. Hal ini disebabkan oleh persoalan temporer dan daya kognitif manusia yang dinamis serta fleksibel.



Manipulasi verbal berlangsung secara real-time sehingga kemampuan memanfaatkan momen dan jeda adalah hal yang penting dalam merubah, menambah ataupun menenggelamkan informasi dalam lautan kognitif manusia yang senantiasa bergerak. Seorang ahli hipnotis dan perayu ulung biasanya sudah tahu kapan harus menerjang, menyelami atau melayari lautan pikiran mangsanya.



Dengan keahlian itu, seorang wanita bisa saja merelakan waktunya terbuang hanya untuk mendengar rayuan pria pencontek kegombalan yang sudah sering muncul novel, TV, majalah, bahkan mungkin teka-teki silang. Atau yang ekstrim, seorang ahli hipnotis bisa membuat seseorang lupa pada namanya sendiri tanpa harus mengetok kepala pakai palu.



Karena itu, untuk menghindari manipulasi verbal, ada satu cara sederhana, gunakan tulisan. Meskipun tulisan tidak dapat melenyapkan keajaiban kata, minimal, itu tidak sampai membuat kita lupa nama sendiri.
Salah satu hal yang paling menjengkelkan pada malam hari adalah terjebak insomnia provokatus bukan karena keinginan sendiri. Hal itu bisa membuat linglung sampai pada taraf mematikan. Apalagi harus diberondong dengan argumentasi-argumentasi yang sudah sering diucapkan di setiap kesempatan. Campuran rasa bosan, limbung dan mengantuk, benar-benar membunuh.

Sebenarnya kita dapat keluar dari situasi ini. Langsung saja tidur. Tidak ada kantuk, bosan ataupun limbung, hanya ada damai dan nyenyak. Masalahnya, kita berurusan dengan manusia dalam insomnia ini. Mahluk yang punya perasaan dan harga diri, yang bisa saja tersinggung jika diabaikan begitu saja. Dan bisa jadi kita yang mengabaikannya akan merasa bersalah karena orang berperasaan sering mengalaminya.

Jadi mirip lagu U2, "Stuck in a Moment that you can't get out of here".

Jika sudah ada dalam situasi ini, ikuti saja arus. Ladeni argumentasi lama dengan inkoherensi. Hingga lawan kita di medan insomnia merasa tidak ada lagi celah untuk mengeluarkan celotehan yang relevan dengan situasi kekinian. Tapi bila lawanmu mati hati, hingga tidak punya toleransi, lebih baik abaikan saja.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...