Sabtu, 25 Juli 2009

Eksistensialisme

Hampir semua orang pernah merasa sendiri; merasa terisolasi; seolah tak ada yang memahami; atau kadang merasa ingin berbeda dengan orang lain. Semua perasaan itu seperti itulah yang menjadi dasar awal berdirinya eksistensialisme. Suatu paham filsafat radikal yang berbeda dengan filsafat lain seperti Dialektika Hegel atau Rasionalisme Descartes karena paham filsafat ini tidak pernah menjadi suatu aliran atau gerakan.

Ada tiga tokoh terkenal yang dinisbatkan pada paham filsafat ini yakni Soren Kierkegaard yang religius, Martin Heidegger yang suka mengkritik semua aliran filsafat pada masanya dan Jean-Paul Sartre yang agnostik. Ketiganya dianggap sebagai tokoh eksistensialis meskipun ketiganya memiliki tipikal pemikiran yang berbeda. Hanya ada satu hal yang menyamakan mereka, pemberontakan terhadap kehidupan yang ada di zamannya.


Inti dari filsafat eksistensialisme diturunkan dari arti harfiah "eksis" yang berarti "bediri tegak melawan" dan filsafat ini menekankan bagaimana manusia individual "berdiri tegak" melawan dunia, masyarakat, lembaga dan cara berpikir.

Kebenaran adalah subjektivitas itulah eksistensialisme. Manusia harus berjuang sendiri melawan semua kecenderungan yang dapat menyebabkan kehilangan kontrol diri.

Karena manusia hakikatnya sendiri...dia harus siap sendiri, setiap sat.

Media

Beberapa minggu lalu, berita kedatangan MU merajai pemberitaan media. Beberapa hari terakhir rajanya turun tahta, diganti putra mahkota yang bengis, pemboman. Tampaknya raja baru ini akan terus berkuasa hingga akhir bulan Juli ini. Satu hal yang dapat mengurangi periode kekuasaannya hanyalah pembatalan hasil PEMILU oleh MK. Tapi tampaknya hal itu akan mustahil terjadi, rakyat bangsa ini sangat tidak mungkin melakukan pergerakan ke arah situ, semua orang takut merusak stabilitas.



Silih berganti berita menghiasi media. Karena dipengaruhi entitas ekonomi, maka berita penghias itu kadang dibuat sedramatisir mungkin walaupun itu hanyalah kejadian paling tidak menarik. Untuk menambah pundi-pundi keuntungan melalui rating apa saja dapat dilakukan. Luar biasa memang pengaruh kapitalisme. Apapun bisa menjadi uang.



Karena kencenderungan pemberitaan media mengarah pada komersialisasi. Maka timbulah jargon "Sulit untuk mempercayai media saat ini". Jargon ini sering digunakan oleh korban media massa. Bahkan salah satu elit top bangsa ini juga menggunakannya secara halus dengan menganggap media suka mempelintir pernyataannya meskipun pernyataan itu dilakukan secara live saat membahas soal pemboman hotel Marriot-Ritz. Entah bagaimana cara media mempelintir pernyataan on air seperti itu. Ada-ada saja cara untuk mengelak. Tapi itulah, citra media memang tidak lagi terlalu baik di mata khalayak karena pendramatisiran berita yang keterlaluan. Walaupun seperti itu, hingga saat ini, masyarakat masih saja memerlukan media meskipun harus dicecoki dengan pemberitaan yang tidak lagi proporsional.



Apalagi yang bisa dilakukan masyarakat. Saat ini, media yang ada semua bentuknya seperti itu. Jadi, terima saja, terima. Fait accompli.

Minggu, 19 Juli 2009

No Love on Science

Ilmu pengetahuan tidak butuh cinta. Dia telah menjadi fakta sosial yang terlepas dari pengaruh kemanusiaan. Meski pada awalnya, pengembangan ilmu melibatkan manusia dengan segala atribut kemanusiaannya, pada akhirnya, ilmu dan segala produknya saat ini sudah mencapai tingkatan, tidak butuh lagi esensi kemanusiaan. Dengan atau tanpa cinta, ilmu akan tetap ada.



Kini ilmu lah yang menyetir manusia. Coba lihat bagaimana perlakuan rumah sakit terhadap orang sakit yang tidak memiliki uang. Terusir, karena ilmu ekonomi dan manajemen mengajarkan, rumah sakit tidak bisa beraktivitas tanpa uang dari pasien.

Mungkin contoh di atas tidak tepat.

Tapi di sekitar kita, banyak contoh yang dapat memberikan gambaran bahwa saat ini, dunia bergerak ke arah paradigma, manusia mengabdi pada ilmu pengetahuan, bukan lagi sebaliknya seperti ratusan tahun lalu, ketika ilmu hanya menjadi pembenar segala kebrutalan kolonialis.



Hampir semua entitas kemanusiaan sudah berhasil dijamah ilmu. Diobrak-abrik lalu restrukturisasi. Kebudayaan, pikiran, agama.

Semua dibuat agar dapat beradaptasi dengan ilmu.

Kamis, 16 Juli 2009

Takhayul


Bagi orang Indonesia, takhayul dalam keseharian ibarat memasak nasi tanpa air (berlebihan). Tidak di kota, desa, RW, RT, sama saja, populasi Superstition Believer masih lebih banyak dibanding Warasmen. Takhayul - takhayul itu entah dari mana sumbernya, terus saja bermunculan di ranah pergaulan masyarakat Indonesia. Sebagian ada yang masuk akal, karena takhayul itu diciptakan untuk menghindari terjadi hal yang secara empiris dapat berakibat buruk pada seseorang. Namun tidak sedikit takhayul yang dibuat tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan kebenaran dan alasannya alias ngawur. Sebagai mahluk intelektual, manusia seharusnya dapat menolak takhayul secara utuh. Kalaupun ada takhayul yang rasional, cukup jadikan itu sebagai common sense yang memang berlaku umum tidak perlu ada acara gaib-gaib hingga mengimaninya seperti sebuah ajaran agama.

Kemarin, Penulis bercakap-cakap dengan salah seorang teman yang menceritakan beberapa takhayul yang cukup populer di kampungnya dulu. Salah satu takhayul yang diceritakannya adalah "jangan buang ludah sat naik mobil pick-up, bisa menyebabkan muntah". Takhayul ini kalau didengar secara sekilas, yang pertama kali muncul dalam pikiran adalah takhayul ini mengada-ada. Mana ada hubungan buang ludah dengan muntah saat naik mobil pick-up. Tidak irasional. Tapi teman saya dengan lugasnya dapat menjelaskan kerasionalan takhayul itu.

Menurutnya, takhayul yang diceritakannya itu adalah jenis takhayul modern karena melibatkan alat - alat yang diciptakan pada abad 20an ke atas. Berbeda dengan takhayul tradisional, kebanyakan takhayul modern lahir karena adanya peristiwa aktual yang mendasarinya yang dapat dibuktikan dengan bantuan teknologi meskipun pembuktian tersebut lebih bersifat coincidence atau kebetulan, sedangkan takhayul tradisional biasanya dilahirkan untuk menakut-nakuti sehingga dapat dijadikan instrumen dominasi serta dapat merangkap sebagai sarana memanfaatkan orang lain yang lemah rasionya.

Meskipun ada beberapa takhayul tradisional yang cukup rasional, tapi tetap saja pembuktiannya dapat terlaksana setelah adanya perkembangan ilmu pengetahuan. Jadi secara otomatis, semua takhayul itu mati seiring dengan berubahnya status mereka menjadi fakta ilmiah. Sedangkan takhayul tradisional yang tidak lolos verifikasi ilmiah tetap menjadi takhayul. Sambil menunggu pembuktian baru oleh perkembangan ilmu di masa depan, takhayul - takhayul ini hanya bisa menjadi penghias ranah dialog dan pengisi lembar - lembar karya sastra.


*Kembali lagi ke kisah faktual takhayul teman penulis.

Soal buang ludah di mobil bisa menyebabkan muntah memang memiliki korelasi keilmiahan yang cukup signifikan. Meskipun dalam kasus takhayul ini, pelaku, subjek pembuang ludah tidak merangkap sebagai objek yang muntah.

*Kisah faktual ini diawali oleh rencana segerombolan anak muda gokil yang ingin melakukan perjalanan di pesisir pantai menggunakan mobil pick-up. Ditemani oleh supir mobil yang Schumacher Wannabe, perjalanan gerombolan pemuda gokil ini menjadi semeriah pasar yang lagi obral diskon 90%. Keriuhan di mana-mana, segala pose diperlihatkan, ada yang bergaya anjing meringkuk ketakutan karena Si Supir yang Racer Wannabe menginjak pedal gas hingga jarum speedometer mentok di kecepatan 120 km/jam. Ada pula yang bergaya superman return karena banyak angin. Dan yang paling asoy, gaya Jack dan Rose saat berada di geladak kapal Titanic pun ikut dijiplak (kelak inilah tokoh sentral kisah ini).

Di tengah segala bentuk ketidakjelasan itu, tiba - tiba saja, tanpa disangka dan diduga, ada benda putih melayang dengan kecepatan misil menuju anggota rombongan yang berpose Titanic sambil menganga. Tanpa bisa mengelak, benda putih itu menghujam rima oris (rongga mulut) Si Titanic Actor Wannabe, tak tanggung - tanggung benda itu merengsek masuk, seperti ketika Michael Jordan memasukkan bola ke basket tanpa menyentuh ring. Three point shoot.

Awalnya Si Pemuda Titanic ini diam tanpa kata sambil mengatupkan mulut. Sambil mengecap-ecap dan mengira - ngira, benda apa yang menghujam mulutnya tadi. Beberapa detik kemudian, reaksi timbul. Muntah proyektil meledak keluar dari mulutnya. Semua isi perut yang sudah dikemas dengan rapi saat sarapan harus dibongkar paksa oleh muntah. Dalam kepayahan muntah, sempat juga Si Pemuda Titanic bertanya dalam nada kemarahan, "Siapa yang buang ludah sembarangan tadi? Belum sikat gigi lagi." Mendengar pertanyaan seperti itu, teman - teman yang ada di sekitarnya bukannya menjawab, justru tertawa dengan gaya liar anak muda yang seperti baru saja mendapat surat cinta yang pertama. (Dasar mentalitas pemuda yang buruk, orang susah kok ditertawai. Tapi siapa yang bisa menahan tertawa, kalau berada dalam situasi mereka).

Tidak mengetahui ada kejadian seperti itu, Si Supir terus saja memaksa mobil pick-up berlari dengan kecepatan yang menurutnya bisa mendekati kecepatan Ferrari. Tidak peduli.


*Cerita di atas tidak perlu dihayati. Karena sudah mengalami perubahan di sana-sini untuk menyesuaikan dengan kondisi hati penulis.

Setiap takhayul punya kisahnya sendiri. Implementasinya ke dalam kehidupan sehari - hari itu bebas dipilih. Sebebas matahari yang membuang - buang sinarnya di ruang angkasa. Entah rasional atau tidak takhayul itu.


Refference:


1.

2.

3. Cerita Teman

Flu Babi Lebih Berbahaya Daripada yang Diduga

Jakarta - Sebuah studi baru menunjukkan bahwa serangan virus H1N1 yang sedang mewabah secara global saat ini, ternyata sangat berbahaya dan bersifat lebih mematikan daripada serangan-serangan virus influenza sebelumnya.

Jumlah penderita flu babi secara global dalam satu pekan kemarin saja, telah meningkat lebih dari 50% dalam satu pekan, kini menjadi 40.000 kasus di seluruh dunia. Diperkirakan sekitar 5.000 - 7.000 kasus berakhir dengan kematian. Kini hampir tak ada satu pun kota besar di dunia yang terbebas dari serangan virus ini.

Di Indonesia, rilis resmi dari Departemen Kesehatan kemarin, Senin (15/7), jumlah penderita flu babi telah mencapai 142 kasus di seluruh Indonesia. Padahal temuan pertama kasus flu babi di Indonesia, baru ditemukan tiga pekan lalu.

Sementara ini belum ada kasus kematian akibat flu babi di Indonesia, namun menteri kesehatan meminta masyarakat untuk bersikap antisipatif terhadap serangan virus H1N1 ini dengan cara hidup sehat dan bersih. Yakni membiasakan pola mencuci tangan dengan sabun, dan melaksanakan etika batuk dan bersin yang benar. "Apabila ada gejala Influenza gunakan masker dan tidak ke kantor, ke sekolah atau ke tempat-tempat keramaian dan istirahat di rumah selama 5 hari. Apabila flu dalam dua hari tidak sembuh segeralah periksa ke dokter," kata Siti Fadillah Supari, Senin (15/7). Keseriusan ini perlu, karena penyakit flu merupakan penyakit yang biasa menyerang manusia, sehingga seringkali diabaikan.

Data di Inggris, lebih dari 73 orang per 100.000 penduduk pada tanggal 6 - 12 Juli 2009 dilaporkan terserang flu babi, naik 46% dari pekan sebelumnya. Serangan terbesar terutama terjadi pada anak usia 5 - 14 tahun yang mencapai 159,57 kasus per 100.000 penduduk. Kemudian bayi hingga umur 4 tahun, dengan 114,12 kasus per 100.000 penduduk. Kemudian resiko terbesar diikuti orang berusia 15 - 44 tahun, kemudian 45 - 65 tahun, dan selanjutnya orang berumur 65 tahun keatas.

Lonjakan cepat serangan virus flu babi dalam dua pekan ini, telah membuat seluruh ilmuwan di dunia bekerja keras untuk menguak apa yang sedang terjadi dengan virus ini. Sebuah tim peneliti dari Universitas Madison yang dipimpin oleh Profesor Yoshihiro Kawaoka menemukan bahwa serangan virus H1N1 lebih bersifat pathogenik (lebih beresiko menyebabkan sakit) daripada serangan-serangan virus influenza sebelumnya. Penelitian mereka dipublikasikan dalam jurnal Nature, edisi 13 Juli 2009.

Dari hasil penelitian tim Kawaoka, serangan virus H1N1 ternyata lebih berbahaya dan lebih mematikan daripada serangan virus flu biasa. Virus H1N1 ternyata memiliki kemampuan menyerang kedalam sel-sel terdalam dari paru-paru, sehingga menyebabkan radang paru-paru (pneumonia) pada penderita, dan dalam beberapa kasus, faktor inilah yang kemudian menyebabkan kematian. Sedangkan serangan virus flu biasa, biasanya hanya meng-infeksi jaringan saluran pernapasan atas, tanpa serangan ke organ dalam paru-paru. "Inilah yang belum dimengerti dari virus ini," ujar Kawaoka, profesor patologi dan pakar influenza di Madison School of Veterinary Medicine," orang berpikir serangan virus ini seperti flu biasa. Studi kami menunjukkan serangan ini lebih serius."

Kemampuan serang virus H1N1 kedalam paru-paru ini, dalam catatan Kawaoka, mirip dengan serangan virus flu pada tahun 1918, yang juga menyebabkan wabah global dengan angka kematian mencapai belasan juta korban di seluruh dunia, sebanding dengan jumlah korban dari Perang Dunia I. Kawaoka juga menemukan, bahwa orang-orang yang lahir sebelum tahun 1918, ternyata resisten atau memiliki kekebalan terhadap serangan virus flu babi sekarang ini. Mereka memiliki antibodi terhadap serangan virus ini.

Untuk menguji tingkat bahaya virus H1N1, Kawaoka dan timnya melakukan penelitian, dengan meng-infeksikan virus ini kedalam hewan percobaan tikus, musang, dan monyet --model penelitian yang selama ini sudah umum diterapkan dalam riset-riset tentang influenza-- dengan perbandingan satu kelompok diinfeksi virus H1N1 dan kelompok pembanding diinfeksi dengan virus influenza biasa. Hasilnya, mereka menemukan virus H1N1 ternyata lebih cepat melakukan replikasi (perkembangbiakan) dan sangat cepat menyebar ke seluruh saluran respirasi hingga pada jaringan sel-sel terdalamnya, dan akhirnya menyebabkan kerusakan pada paru-paru. "Ketika kami melakukan percobaan pada musang dan monyet, virus flu biasa tidak mampu melakukan replikasi di paru-paru," ujar Kawaoka," tetapi virus H1N1 secara signifikan cepat melakukan replikasi di paru-paru."

Dalam studi ini, sample virus H1N1 diambil dari pasien flu babi dari California, Wisconsin, Netherlands, dan Jepang.

Laporan Jurnal Nature juga mengemukakan tentang penelitian respon-respon kekebalan terhadap serangan virus H1N1 ini. Dan dari hasil penelitian Kawaoka, ternyata pada orang-orang tua yang lahir sebelum 1918, tahun ketika virus ini juga pernah menyerang secara global, memiliki antibodi yang mampu menetralisir serangan. "Orang yang memiliki antibodi terhadap serangan ini adalah orang-orang tua yang lahir sebelum 1918," ujar Kawaoka.

Pada penelilian uji perlakuan antiviral pada tikus, Kawaoka menemukan bahwa obat-obat antiviral (yaitu obat-obat anti serangan virus) secara efektif mampu mengurangi laju serangan virus ini dan dapat memperlambat penyebarannya. "Obat itu mampu bekerja efektif dalam hewan percobaan, dan itu menunjukkan juga akan bekerja efektif pada organ manusia," ujar Kawaoka.

Untuk saat ini, obat antiviral inilah yang dipandang sebagai strategi pertama untuk menghadapi serangan virus H1N1, sebelum dunia medis mampu menemukan obatnya. Di Indonesia, strategi ini juga yang baru bisa dilakukan dalam menghadapi serangan virus H1N1. Pasien terduga flu babi, biasanya diberikan obat antiviral Tamiflu sambil mendapatkan perawatan kesehatan untuk memperkuat daya kekebalan tubuhnya menahan serangan virus ini.

Yang belum jelas, bagaimana pola penyebaran global dari virus ini. Internasional traffict selama ini disalahkan sebagai medium penyebaran virus ini secara global. (Tempointeraktif)

Mati Suri


Selama bertahun - tahun, manusia senantiasa memikirkan kematian. Karena satu - satunya kepastian pada yang tidak bisa dipungkiri lagi kemutlakannya adalah kematian. Bahkan keberadaan Tuhan, Roh, ataupun realitas manusia itu sendiri masih bisa diperdebatkan. Tapi kalau sudah bicara kematian, tidak ada yang bisa mengingkarinya. Absolut.

Level perdebatan kematian tidak lagi berada pada tataran keberadaan tapi lebih mengarah pada esensinya. Mengapa harus ada kematian? Ke mana kita setelah mati? Hingga kini tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan ini. Karena untuk menjawabnya, seseorang harus mati lalu bangkit untuk menceritakan kisah matinya. Meskipun banyak kisah mengenai hal seperti itu, tapi tidak ada satu pun dari kisah - kisah itu yang memiliki kesamaan visi dunia setelah mati. Kecenderungan dunia yang dilihat oleh orang yang pernah mengalami pengalaman hidup setelah mati atau mati suri adalah dunia yang sifatnya subjektif, apa yang ada di dalam pikiran dan pernah dipersepsi oleh seseorang. Sulit untuk menjadikan pengalaman - pengalaman mati suri ini sebagai landasan untuk menjelaskan dunia setelah mati. Karena pengalaman dan persepsi setiap orang tentang dunia ini berbeda - beda. Tergantung pada latar belakagn budaya, agama dan ilmu pengetahuan masing - masing individu.

Selain itu hampir semua pengalaman mati suri manusia tidak pernah jauh dari kehidupan keduniawian. Gambaran yang diberikan oleh orang - orang mengenai mati suri selalu saja dihiasi cahaya putih, pakaian putih, tempat yang dianggap surga ataupun neraka. Anehnya, objek yang hadir dalam kehidupan mati suri itu sama saja dengan gambaran objek di kehidupan biasa. Tidak ada yang berbeda.

Dari kecenderungan itulah, maka banyak yang beranggapan, bahwa mati suri itu tidak lebih dari peristiwa anomali kerja otak biasa. Tidak ada hal mistis di situ.

Selasa, 07 Juli 2009

Film Perang

Anak muda di sekitar pondokan Penulis hampir semua penyuka film perang kolosal. Jika ditanya alasan, jawabannya mirip semua, aksinya lebih hidup, memainkan emosi dan sinematografinya mentereng. Alasan - alasan yang memang tepat untuk menonton film. Tidak ada orang yang mau menonton film dengan adegan yang monoton, nyaris tanpa emosi dan sinematografi pas-pasan. Buang-buang waktu saja. Kecuali mungkin kru film itu sendiri. Tapi ini pun masih layak diragukan.

Kehebatan sebuah film perang kolosal selain karena dukungan dan keahlian kru dalam membuatnya, faktor psikologis penonton juga ikut memainkan peran yang cukup penting.

Pada umumnya penonton menyukai film perang, karena secara bawah sadar, ketertarikan ini diafirmasi oleh film jenis ini menjadikan seorang penonton dengan kadar kepenontonan yang berlipat. Penonton menjadi menjadi dirinya yang menyaksikan film secara inderawi, sekaligus merangkap pribadi yang menghayati memori primordial yang paling mempengaruhi hidup mereka, kematian.

Memori primordial utama manusia ada 2 macam yakni kematian dan libido seksual. Jika suatu peristiwa atau fenomena eksternal mengguncang internal individu melalui salah satu dari memori utama ini, maka dapat dipastikan keguncangan jiwa menjadi akhirnya. Entah nantinya keguncangan tersebut dapat diatasi atau tidak, tapi efeknya akan terus membekas sampai kapanpun.

Apa pemilihan presiden juga mengandung refleksi film perang? Mungkin saja. Karena penulis yakin, efek pilpres ini akan memberikan membekas juga pada jiwa kandidat dan pendukung fanatiknya. Pilpres bagi beberapa orang adalah perang.

Minggu, 05 Juli 2009

Masa Tenang, Alasan dan Bersih-bersih

Masa tenang datang juga, setelah beberapa minggu dihujani ratusan janji dan kontrak politik. Beberapa orang teman mengatakan, masa tenang tidak pernah ada dalam prosesi pemilu. Meskipun tidak ada lagi kampanye di media massa, tetap saja, yang namanya kampanye akan terus berlangsung bahkan hingga hari pemungutan suara tiba.
Siapa yang bisa membendung kampanye lewat SMS, Situs jejaring ataupun cara lainnya?

Adanya masa tenang ini sebenarnya perlu dipertanyakan kembali, apakah kepentingannya dan bagaimana pelaksanaannya? Kalau ternyata masa tenang itu diadakan untuk menjadi momen introspeksi diri bagi kandidat agar mempersiapkan diri menerima hasil pemilu maka ada baiknya, tidak perlu ada masa tenang. Rasanya semua kandidat pada pilpres kali ini, sudah dewasa semua. Segala konsekuensi dan resiko akibat pemilu pasti telah diperhitungkan dengan matang. Bayangkan saja, mereka sudah dapat mengkalkulasi dan mempertimbangkan yang terbaik untuk bangsa, seharusnya hal itu akan mudah diterapkan pada diri mereka sendiri. Jadi, semoga tidak ada kandidat yang gila karena perhelatan ini.

Kalau alasan adanya minggu tenang ini adalah sebagai ajang bagi para pemilih untuk mempertimbangkan kembali semua janji kandidat dan mungkin, semoga tidak, menakar dan memperbandingkan berapa jumlah materi yang dijanjikan setiap kandidat jika salah satu dari mereka terpilih. Rasanya, alasan ini juga sulit diterima.

Karena setiap pemilih di Indonesia sudah punya preferensi masing-masing dalam memilih kandidat entah itu dengan asumsi rasional atau tidak. Preferensi setiap pemilih tidak mudah berubah secara drastis tanpa adanya benturan terhadap mental pemilih entah karena janji politik, perilaku kandidat ataupun hal-hal lain yang sifatnya dinamis. Dan benturan seperti ini rasanya, akan sulit ditemukan pada masa tenang, meskipun kita tidak bisa memungkiri adanya kemungkinan benturan yang bersifat internal individu. Tapi intinya, masa tenang tidak punya kepentingan apa-apa dalam memberikan membantu pemilih mempertimbangkan pilihannya.

Kalau masa tenang ini dijadikan ajang membersikan atribut pemilu, sepertinya lebih masuk akal. Sudah berbulan - bulan mata kita dibumbui oleh warna-warni partai, caleg dan capres. Rasanya, tidak ada satu ruang pun yang tidak lepas dari "noda" stiker, spanduk dan pamflet. Bahkan tempat ibadah dan sekolah pun yang notabene terlarang untuk benda-benda kampanye, tidak luput dari invasi atribut pemilu.

Sudah saatnya kita membersihkan semua hal itu. Apapun alasan KPU mengadakan masa tenang, penulis lebih suka alasan masa tenang sebagai masa bersih-bersih.

Selamat memilih, gunakan hati dan pikiran!

WMI

Sepakbola

Semalam (28/06/09) Final Copa Indonesia 2009 yang berlangsung di Stadion Jaka Baring Palembang, merupakan final Copa Indonesia yang paling memalukan. Kenapa memalukan? Karena pertandingan itu harus diakhiri dengan WO (Walk Out) Persipura yang merasa dirugikan oleh keputusan wasit dan panitia BLI.

Wasit merugikan mereka karena mereka tidak diberikan hadiah pinalti ketika terjadi kejadian yang mereka anggap pelanggaran beruntun di kotak 12 meter, yakni ketika Rotinsulu, kiper Sriwijaya menjatuhkan pemain Persipura dan hands-ball pemain belakang Sriwijaya, beberapa saat kemudian. Wasit Purwanto yang katanya tidak melihat kejadian itu, urung memberikan hadiah pinalti untuk Persipura, malah dia justru memberikan kartu merah pada pemain Persipura yang protes. Kontan manajemen dan official ikut-ikutan ngamuk. Untung saja hal ini tidak sampai memicu kemarahan suporter. Sehingga WO Persipura tidak berujung bentrok.

Sejak awal, Persipura sudah merasa dirugikan karena pemilihan tempat pertandingan yang tidak netral, di Stadion Jaka Baring markas Sriwijaya. Pemilihan ini lebih disebabkan oleh alasan kelayakan. Sebab partai puncak seperti Final Copa, baiknya dilaksanakan di tempat yang megah. Gelora Bung Karno seharusnya bisa dijadikan tempat pertandingan final, tapi karena ada pertandingan MU melawan PSSI pada bulan Juli nanti serta maraknya kampanye akhir-akhir ini, izin penggunaannya sulit keluar.

Kamis, 02 Juli 2009

Kesadaran

Kesadaran itu tidak pernah jernih ataupun berdiri singular pada seseorang tanpa gangguan. Karena itu, pernyataan yang menyatakan bahwa orang yang sadar selalu berpikir jernih masih dapat diperdebatkan.

Kesadaran juga tidak pernah utuh. Alih-alih memiliki kesinambungan, kesadaran yang hadir dalam alam berpikir cenderung parsial. Terputus-putus dan kondisional.

Kesadaran bukanlah parameter yang tepat untuk menemukan kebenarang yang hakiki. Semenjak kesadaran itu dibentuk oleh tanggapan individu terhadap lingkungan sekitarnya yang sudah ada sejak sebelum kehadirannya, maka tidak mungkin mencapai kesadaran yang murni berasal dari diri sendiri.

Kesadaran itu kompleks.

Rabu, 01 Juli 2009

Pembelajaran Politik

Pilpres kali ini tampaknya benar-benar akan menjadi pesta rakyat. Keriuhan demokrasi tidak saja terjadi di sentral kekuasaan, Jakarta dan kantung-kantung populasi seperti Surabaya, Medan, Makassar serta kota-kota besar lainnya. Tapi di daerah "gelap" informasi dan populasi seperti Pulau Muna pun, gegap gempita Pilpres tidak kalah ramainya.



Pembicaraan seperti visi dan misi, latar belakang serta jargon politik kandidat turut mewarnai keseharian penduduk yang selalu nampak santai dan bersahaja. Bincang-bincang warga yang biasanya hanya berisikan topik kebun kapan panennya, gaji 13, tetangga yang baru beli motor atau siapa yang menikah kemarin, kini mendapat suplemen baru, pembicaraan politik tingkat tinggi. Memang tinggi karena pembicaraan seperti melibatkan orang-orang dan hal-hal yang tidak pernah mereka temui di keseharian mereka.



Neolib, globalisasi, kapitalisme, pasar bebas jadi istilah yang lumrah diucapkan. Sampai-sampai, urusan militer strategis pun tidak luput dari kritikus sipil yang baru beberapa bulan lalu menyontreng. Sungguh membanggakan pembelajaran bahasa dan politik yang diberikan oleh pilpres kali ini.



Yah, semoga pilpres kali ini tidak saja memberikan pembelajaran pada rakyat biasa, tapi juga para elit agar mengerti bahwa saat ini, masyarakat sudah mulai melek politik sehingga tidak perlu lagi ada kecurangan dan keculasan saat pilpres nanti. Demi pembelajaran politik yang lebih baik lagi.



_-_

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut