Jumat, 21 Agustus 2009

Kebutuhan

Perang ideologi dunia telah usai. Pemenangnya sudah ada. Kapitalisme dan derivatnya. Meskipun begitu, pembicaraan seperti ini masih menarik untuk digali. Seperti cerita anjing dan lubangnya. Pada satu momen, hal seperti ini dikubur, ketika mayoritas penduduk dunia atau mungkin segelintir penguasa dunia merasa sejahtera. Tapi pada momen yang lain, persoalan seperti ini digali lagi, seperti anjing yang mencari lubang tempat tulangnya bersemayam. Mengendus ke sana kemari, mencari-cari kesalahan ideologi pemenang. Lalu memberi solusi ideologi lama, yang sudah menyerupai tulang usang.

Anjing mencari tulang karena kebutuhan, begitu juga dengan dunia dalam pencarian ideologi. Mungkin saat ini tidak relevan lagi, pembicaraan mengenai kemerdekaan buruh, buruh bersatu, ataupun perang melawan borjuis. Saat ini kita tidak butuh hal seperti itu. Karena buruh sudah punya penghidupan yang layak, dapat upah cukup (meskipun ini kondisi ini belum bisa dirasakan semua buruh, setidaknya, sudah ada yang bersyukur dan terselamatkan di antara jutaan buruh lain yang tertindas). Mungkin nanti, jika kebutuhan memaksa, kita akan sampai pada kondisi, uang tidak lagi dibutuhkan. Seperti halnya kondisi saat ini yang tidak butuh lagi komunisme ekstrim. Dunia terus berubah.

Manusia tidak butuh ideologi. Yang manusia butuh hanya sandang, pangan, papan. Tidak lebih dari itu. Sisanya, gengsi.

Selamat berpuasa, bagi yang menjalankan.

Nb: dan selamat mengirimkan SMS, bagi orang-orang yang membuat traffic jaringan macet. Sungguh malam yang indah untuk merenungkan arti puasa bagi ideologi. Tapi tidak ada hasil. Selain perulangan masa lalu, dunia tetap sama.

Rabu, 19 Agustus 2009

Hitler mungkin tidak pernah bertemu Maynard Keyness, sepertihalnya skydrugz yang tidak pernah bertemu Jengis Khan...

Tapi apa yang diharapkan dari pertemuan ini? Tidak jelas.



Selasa, 18 Agustus 2009

Indonesia, apa arti kata itu bagi manusia - manusia yang menghuni pulau yang berada di antara dua Benua dan dua Samudra ini?

Entahlah...




Senin, 17 Agustus 2009

Kapitalisme, Masuk Akal



Dunia terbagi atas dua kutub utama, kapitalisme dan komunisme. Satunya mengandalkan kemampuan individu dalam menguasai semua sumber - sumber produksi sedangkan satunya menekankan ketidakberdayaan individu sebagai penguasa atas alat produksi, hanya negara, partai, kelompok yang dapat mengatur hal itu. Dari kedua kutub berbeda itu, yang pantas mendapat pujian atas ketahanannya menghadapi ujian zaman adalah kapitalisme. Paham ekonomi ini seolah tidak memiliki celah untuk dihancurkan, kecacatan yang dapat meruntuhkan paham ini hanyalah moralitas para penganutnya. Namun kecacatan seperti ini dapat dicegah dengan memasang regulasi hukum yang ketat sehingga setiap pemilik modal tidak semena - mena dalam meraup keuntungan. Tercatat, paham ini mengalami beberapa kali revisi sejak Adam Smith memperkenalkan hukum pasar bebas, Keynes yang menganjurkan kombinasi peran pemerintah untuk mengatasi depresi ekonomi di 1930 lalu yang terbaru, kapitalisme nampaknya siap bertransformasi lagi mencari bentuk baru untuk melepaskan dunia dari jeratan resesi ekonomi.

Paham kapitalisme mampu bertahan hingga selama ini buknnya tanpa alasan. Paham ini secara esensi mampu menjanjikan kebutuhan paling dasar manusia, menjadi sesuatu yang lebih besar. Individu diperkenankan menjadi kaya. Berbeda dengan komunisme yang mengekang individu hingga tidak boleh menjadi sesuatu yang berbeda dari lingkungannya. Kapitalisme menghargai privasi, penggunaan pribadi dan bakat alami manusia untuk terus-menerus maju. Komunisme yang mengandalkan kolektifitas, mengalami sedikit kesulitan dalam mengembangkan hal ini, karena sekuat apapun seorang individu berusaha menjadi sesuatu yang extraordinary, lingkungan atau dalam hal ini institusi pemerintah tidak terlalu menghiraukan keluarbiasaan itu. Kasarnya dapat dikatakan gaji seorang buruh kasar akan disamakan jumlahnya dengan gaji seorang dokter.

Kekurangan utama kapitalisme adalah paham ini membuka jalan bagi seorang manusia untuk menjadi individu yang serakah, individualis, egois. Setiap individu dapat berkompetisi secara bebas melumat pesaing lain hingga tidak tersisa jika tidak ada regulasi yang dapat menghambat hal ini. Oleh karena itu, sekali lagi, Kapitalisme hanya butuh moralitas dan aturan yang ketat untuk menjaganya tetap masuk akal.

Yang Paling Masuk Akal yang Akan Bertahan--Hegel
Dan untuk saat ini, yang paling masuk akal adalah kapitalisme. Kapitalisme mampu merangkul semua kalangan atheis, theis, agnostik. Kapitalisme mampu menyesuaikan diri dengan semua keadaan. Karena prinsip dasar kapitalisme memang sesuai dengan fitrah manusia yang senantiasa berupaya memenuhi kebutuhannya. Dan ini sangat masuk di akal semua manusia. Siapa manusia normal yang tidak mau memenuhi kebutuhannya?

Hampir semua kenyamanan yang dirasakan manusia modern di era ini merupakan produk kapitalisme. Listrik, air, internet, dan hampir semua kemajuan di bidang IPTEK mendapatkan sokongan finansial dari para kapitalis ulung. Blog yang digunakan untuk menulis ini pun adalah produk kapitalisme. Karena itu sungguh tidak etis menyapu rata semua kapitalis adalah lintah pengisap nyawa dan jiwa, Sergey Bin dan Bill Gates yang kapitalis ulung itu patut diancungi jempol. Karena kreasi dan pemikiran mereka, kita bisa melihat dunia baru ini. Masuk akal kalau kapitalisme bertahan beberapa tahun lagi. Semua orang masih ingin kaya dan hidup nyaman. Sulit untuk merusak stabilitas ini tanpa huru-hara berkepanjangan.

-Novus Ordo Seclorum-
Eclogue-Virgil

Tahun

Hari ini, Senin, tanggal 17 Agustus 2009. Apa ada yang istimewa dengan hari ini? Tidak ada yang istimewa ataupun luar biasa. Perhelatan Piala Dunia di Afrika masih setahun lagi, dan Bom Ritz-Charlton sudah lewat beberapa pekan meledak. Jadi hari ini, sama sekali bukan hari yang pantas untuk dibicarakan.Sama seperti hari - hari sebelumnya, hari ini diawali oleh gelapnya malam dan akan berakhir pada keadaan yang juga sama. Matahari masih bergantung di cakrawala, bulan pun begitu, jadi tidak perlu mengistimewakan hari, karena hari sendiri tidak pernah mengistimewakan manusia.

Apa yang terjadi di masa lalu, tidak perlu lagi diungkit seperti tukang batu yang mengungkit karang, kadang kayu pengungkitnya lebih besar dibanding karang yang hendak diungkit, pekerjaan yang mengerahkan banyak sumber daya tapi menghasilkan kesia-siaan.

Bangsa yang terlalu asyik dengan nostalgia kejayaan masa lalu tidak pernah bertahan lama.

Minggu, 16 Agustus 2009

Thanks, Read More

Akhirnya, blog ini bisa juga dimodifikasi. Setelah berjuang keras melakukan copy paste script, error beberapa kali dan mengklak-klik sana-sini, tampilan Read More kini menghiasi blog Ultra Vital.


Ucapan terimakasih kepada Roshita yang bersedia membagikan ilmunya, sehingga semua ini bisa terjadi.

Rasanya itu saja untuk saat ini.

Cerita tidak penting: Kemerdekaan


Apa arti kemerdekaan? Sulit untuk menjawab pertanyaan ini. Amir, anak muda yang menjadi peserta di suatu training motivasi untuk salesman, baru saja membuktikannya. Dia mengutuk dalam hati, kenapa harus ada pertanyaan seperti ini di pelatihan salesman? Pertanyaan macam ini harusnya diajukan pada latihan tentara yang kerjanya memang mengurusi hal yang berkaitan dengan kemerdekaan seperti, perang, menembak, merebut, menguasai, melindungi, melawan penjajah.

Amir, yang jadi alumnus dengan paksaan kepala sekolah karena bosan melihat seorang siswa ketinggalan selama 6 tahun di SMP, tidak habis pikir dengan pertanyaan yang sudah diteriakan berkali-kali oleh trainer di tengah ruangan berukuran 8X7 meter itu. Dari tadi, tidak satupun peserta berani menyahuti pertanyaan trainer gondrong mereka yang masih kelihatan semangat, meskipun setiap katanya mendapat respon diam dari peserta.



Melihat keadaan seperti itu, Amir menyimpulkan dua hal. Pertama, trainer mereka adalah seorang tentara atau disersi yang terobsesi menjadi sales, itulah sebabnya, kebiasaannya di kemiliteran masih juga terbawa hingga sekarang. Pertanyaan aneh Si Trainer Gondrong tentang kemerdekaan adalah bukti kelainan alam bawah sadar yang kronis.


Kedua, semua peserta training salesman di ruang ber-AC itu memiliki riwayat pendidikan yang sama dengannya. Lulus dengan nilai batas mininum, setelah berjuang selama 6 tahun di bangku SMP. Amir sangat yakin dengan prediksinya mengenai tingkat pendidikam peserta lain, karena sejak pertanyaan arti kemerdekaan diajukan hingga saat ini, tidak satu pun peserta bersedia menghambur air liurnya untuk sekedar menjawab pertanyaan singkat, apa arti kemerdekaan?



Luar biasa, pikir Amir. Si Trainer belum juga menyerah. Dia menodongkan mic ke hadapan tiap peserta yang dilihatnya. "Kamu, apa arti kemerdekaan?". Metode baru, tapi hasilnya tetap, sunyi.



Amir, mulai merasa, trainernya gila. Apa pentingnya menanyakan pertanyaan seperti itu di era kebebasan seperti ini, ketika kita dengan mudah memperoleh apa yang dapat kita inginkan, McD, KFC, liburan di Bali, PS2, PS3, FB, WiFi, iPod, notebook, sekolah, rumah, pasangan hidup. Patriotisme, kemerdekaan, heroisme, tidak lagi relevan dengan kenyataan sekarang. Harusnya trainer gondrong itu tahu, apa yang dipikirkan jebolan SMP seperti dirinya. Atau mungkin trainernya adalah lulusan SD, hingga tidak mampu menalar pikiran alumnus SMP. Entahlah.



Amir mulai merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Dia merajuk di ruangan 8x8 m, ber-AC, bersama peserta 25 orang jebolan SMP serta seorang trainer gondrong lulusan SD, terkunci dalam diam di bawah rentetan pertanyaan berulang, "apa arti kemerdekaan, apa arti kemerdekaan, apa arti kemerdekaan, ...".



Kepala Amir mulai pening, mual dan kemarahan membuncah dari dalam dada dan perutnya tanpa alasan. Sudah sejam keadaan ini berlangsung, tidak ada yang berubah. Tiba-tiba saja,



"DIAM!"

"SAYA KELUAR!"

setelah teriakan itu, Amir melenggang menuju pintu. Tanpa ba-bi-bu, dia keluar. Dalam ruangan, trainer yang tadinya terdiam beberapa saat setelah teriakan, melanjutkan lagi repetisi pertanyaannya meskipun jumlah pesertanya yang sunyi sisa 24 orang. Mereka tinggal, tidak ingin menyia-nyiakan uang pendaftaran training yang jumlahnya 1 juta rupiah .



Apa arti kemerdekaan itu?

Jumat, 14 Agustus 2009

Ideologi


Bangsa Indonesia pernah menjadi sangat pragmatis di masa transisi 1965-1966. Pada masa itu rakyat merasakan kejenuhan dalam berideologi. Di seluruh penjuru, terdengar teriakan "ideologi gantikan dengan program". Teriakan seperti itu wajar bergaung, mengingat sekian tahun Indonesia merdeka, elit kita di masa itu sibuk menggelontorkan isu-isu ideologi, Sukarno berkoar tentang manipolnya, PKI meneriakan komunismenya, dan Masyumi yang terus terang ingin mendirikan negara Islam. Sedangkan rakyat tetap saja melarat.


Sungguh era yang dinamis. Cita-cita dan idealisme jelas terpancar di masa itu. Meskipun keadaan rakyat tak kunjung membaik, toh, masih banyak yang tidak terjerembab ke arah pragmatisme. Semua punya cita-cita yang ingin diwujudkan walaupun perealisasiaanya masih sejauh pusat galaksi bima sakti. Pokoknya bermimpilah, era itu, eranya berideologi.


Peristiwa di tahun 1965, hampir memberangus semua era ideologi itu. Praktis, penjagalan PKI di medan politik menjadi simbol berakhirnya era ideologi. Tidak ada lagi dialektika Marxis-Nasionalisme-Islam. Semua perdebatan yang mengarah ke situ, harus siap menerima deraan siksa penguasa.


Pada masa program itu, Goenawan Mohamad menggambarkannya sebagai masa di mana, ideologi dipandang sebagai sesuatu yang terlalu panas dan gampang terbakar untuk ditaruh di dalam rumah Indonesia yang sesak. Pengganti benda panas itu adalah rumusan rencana kerja yang sebaiknya dipertandingkan antara kekuatan politik orang-orang yang ingin memerintah. Yang ingin diusik bukan lagi 90% emosi. Yang diimbau adalah pikiran sistematis dan argumentasi jernih, dengan hanya 15% emosi. Itulah "program". Andai Jung dan Freud hidup di era program ini, kita mungkin akan melihat Freud menertawakan Jung.


Namun puluhan tahun di bawah naungan Orde Baru yang "programmer", tidak juga berhasil membunuh perdebatan soal ideologi. Tetap saja ada ruang di mana ideologi dipertautkan dan dibentrokkan. Memang mustahil untuk memberangus pembicaraan soal ideologi. Karena ideologi menurut Goenawan Mohamad adalah suatu perbincangan tentang keyakinan, iman dan ketertentuan moral.


Melihat kenyataan ini, pemerintah berupaya mengalihkan perdebatan ideologis ke dalam kotak yang dapat mereka kendalikan. Penataran P-4. Tapi tetap saja, nampaknya upaya itu terlihat sia-sia. Keyakinan manusia sulit dikekang.


Alhasil, di era yang kian pragmatis saat ini, pembicaraan ideologis kembali menemukan tempatnya di ranah keindonesiaan. Selalu ada celah bagi diskursus ideologis untuk menelusup, terutama di masa pemilu. Meskipun diskursus itu tidak lagi sehangat di masa lalu. Setidaknya itu cukup untuk menunjukkan pada dunia, bahwa manusia masih butuh mimpi dan keyakinan yang berasal dari perasaan. Bukan hanya program sistematis luar biasa yang tak berperasaan.


Selalu ada zaman yang relevan untuk membicarakan ideologi optimis meskipun realitas senantiasa memaksa kita untuk terus - menerus sinis dan dingin.

Minggu, 09 Agustus 2009

berantakan 3


Manusia dan esksitensinya telah berjaya di muka bumi ini selama ribuan tahun. Menjajah mahluk lain yang berbeda dengannya, mengeksploitasi mereka lalu menenggelamkan semua mahluk lain ke dalam lembah, konsumsi-konsumsi-konsumsi. Tidak ada harga mahluk-mahluk lain di mata manusia selain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan. Seberapa berarti mahluk lain di mata manusia, diukur dari seberapa besar mahluk itu memberi manfaat beagi manusia. Sapi lebih berharga dibanding macan kumbang, karena sapi lebih mudah dimanfaatkan dibanding macan kumbang, susunya dapat diperah, kulitnya dapat dijadikan pakaian dan aksesoris, dagingnya dapat dimakan dan kotorannya dapat dijadikan pupuk. Macan kumbang, hannya bisa menerkam manusia, membahayakan. Keberhargaan macan kumbang ada hanya karena mahluk ini dianggap mendekati kepunahan. Motif yang terlihat mulia dan tanpa tendensi komersialisasi. Tapi sebenarnya implikasi kapitalistik sangat kuat mempengaruhinya. Macan kumbang yang mendekati kepunahan memiliki nilai tontonan yang sangat tinggi, lalu banyak dana yang bisa dikeluarkan untuk meriset serta menghasilkan produk yang berkaitan dengan macan kumbang. Baju berlogo macan kumbang, tali pinggang, tas dan kawan - kawannya. Macan kumbang yang masih eksis dibutuhkan untuk mendongkrak nilai jual produk dan prestise.


Keberingasan manusia dalam mengekploitasi tidak saja menyerang mahluk lain. Bahkan mahluk yang sejenis dengannya pun, manusia, tidak luput dari serangan eksploitasi. Sudah berapa juta manusia yang menjadi budak kasar sejak ribuan tahun lalu di Mesir hingga saat ini di pinggiran sempit Nepal dan Bangladesh. Belum lagi budak - budak baru yang saat ini lahir dari entitas entertainment dan dunia kerja modern. Bayi - bayi dan perempuan diekplotisir untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya, tanpa mempertimbangkan perkembangan mental mereka selanjutnya. Lalu berapa banyak buruh menghabiskan hidupnya di gelapnya pabrik yang pengap tanpa tunjangan, penghargaan dan kenyamanan yang sepadan. Mereka terkungkung oleh kenyataan bahwa, hidup tidak pernah bebas memilih. Orang tua dan lingkungan yang memilihkan kehidupan buat mereka. Tanpa pernah bisa berteriak dan menggugat, kenapa harus lahir di sini?

Manusia punya kecenderungan rakus. Jadi apalagi yang bisa kita bicarakan?

Sabtu, 08 Agustus 2009

berantakan 2


Semua ahli sejarah masa kini menganggap, kita sekarang ini berada pada zaman yang plural, ada begitu banyak pilihan yang bisa kita temukan di sekitar kita. moteis, politeis, ateis, pragmatis, idealis, apapun ada. seolah zaman kemunculan teori baru sudah dibunuh. kita seperti berada dalam sebuah supermarket ideologi dan pemikiran, kita hanya perlu mengeluarkan uang lalu semua yang yang diinginkan bisa diperoleh.

yah, saat ini yang dibutuhkan hanyalah uang. ide supermarket raksasa itu hanyalah ilusi untuk mengaburkan fakta bahwa zaman kita bergerak ke arah kapitalisme, pragmatisme dan uang-uang-uang.

nilai dan norma pada zaman ini dibuat dan diukur dengan uang. siapa yang memiliki uang, dialah yang menciptakan nilai, siapa yang memiliki uang lebih banyak, dialah yang menentukan seberapa bernilainya suatu norma. tidak ada tempat bagi orang miskin di zaman ini selain pinggiran peradaban yang gelap dan abadi. orang miskin lahir di dunia ini hanya sebagai pelengkap derita dan kelinci percobaan teknologi serta produk kapitalisme yang pencekik lainnya. televisi, selebritis, olahraga, mereka produk kapitalisme yang ditujukan buat orang miskin untuk legitimasi sosial bagi mereka yang berada. mereka yang miskin hanya menjadi joker saat perhelatan yang membutuhkan massa, pemilu, konser, demonstrasi. peran mereka hanya sebatas itu. tidak lebih.

mereka punya kekuatan jumlah untuk menyuarakan sesuatu, mengubahnya lalu melanjutkannya. tapi sesuatu itu, bukan dari dan untuk mereka. mereka adalah alat. tidak bisa ditambah.

seperti pemilu yang baru saja berlangsung, orang miskin yang merajalela di negeri ini teralienasi dari suara mereka sendiri. tidak ada yang berubah, sejak kemarin hingga saat saat ini. mereka masih terpuruk bersama tumpukan sampah.

berantakan


tidak ada lagi yang bisa diceritakan manusia di akhir zaman ini tentang hidupnya. karena semua orang memiliki hidup yang sama, jadi untuk apa menceritakan hal yang sudah diketahui publik. hari ini saya makan es krim, semua orang di dunia ini pernah melakukannya. kemarin kamu tampil di TV, hampir semua orang juga pernah melakukannya meski hanya sebagai orang yang kebetulan lewat lalu terekam. besok dia memulung sampah, ini perkerjaan semua orang di dunia, memulung sampah lalu meletakkannya di alis, bibir, dan pipi - pipi mereka, semua manusia pengguna sampah. jadi apa lagi yang bisa diceritakan.

dunia masa kini membentuk manusia - manusia yang seragam. manusia yang tidak bisa memilih, mau jadi apa dirinya. yang dibentuk media dan paradigma konsumerisme. dunia sekarang dihuni oleh manusia-manusia yang merasa selalu merasa gerah ketika melihat manusia lain memiliki mobil, punya rumah mewah dan istri/suami menawan. semua orang memang menginginkannya, tapi kalau semua orang berkeinginan seperti itu, mau dikemanakan orang - orang yang tidak mampu memilikinya serta mau ditendang ke selokan mana orang-orang jelek, gubuk serta sepeda?

sulit budaya korupsi ditebas di zaman seperti ini.

Kamis, 06 Agustus 2009

Startling


Nothing reversible when time and space had passed away. Just let everything gone and get peace.

Jika kebenaran itu ada,
Hidup itu asing ketika harus dikenali seluruhnya. Karena itu, membiarkannya tak dikenal mungkin jalan terbaik untuk tidak terasing darinya. Hidup tidak seperti manusia yang harus mengeluh sepanjang waktu terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Tidak untuk angin yang berhembus, hujan dingin, siang panas dan segala common things lainnya, keluhan itu menembak semuanya. Sedangkan hidup, mana sempat mengeluh dengan mulut yang tidak seperti milik manusia. Kita tidak berbicara morfologi sejak evolusi menjadi teori. Bahkan mungkin tanpa itu pun kita tidak akan membicarakannya dalam hidup. Kecuali untuk biologi, hidup tidak perlu penjelasan mendalam mengenai bagaimana hidup harus hidup? Atau mengapa hidup?
Jika yang dicari manusia keteraturan, hidup tidak butuh itu. Apalah arti keteraturan ketika hidup selalu melakukannya?
Bingung? Sulit? Tidak ada yang sulit dan membingungkan selain manusia itu sendiri. Hidup tidak perlu menunjukkan itu.

Bahasa Manusia


Tidak ada sedikit pun maksud bicara tentang manusia, tapi karena kisahnya yang selalu berulang, tidak ada pilihan lain selain terpaksa bercerita tentang hal membosankan ini. Aku dan kamu manusia. Sama seperti orang yang membaca tulisan ini, keyakinanku mengatakan pasti juga manusia, seperti kita. Tulisan, bahasa memang luar biasa, dengan instrumen abstrak seperti ini kita berdua dapat saling mengerti satu sama lain, komunikasi. Apa yang kamu inginkan, dapat dengan mudah terucapkan sepertihalnya diriku padamu. Saya dan kamu, bukan aku, serta yang membaca tulisan ini seharusnya berterimakasih pada pencipta tulisan, bahasa, atas usaha kerasnya menciptakan hal kompleks ini, kebingungan dan kesalahpahaman. Saya ingin tahu tentang dirinya, kamu bisa mengunjungi makamnya, mereka boleh melupakannya. Tapi kita, saya, kamu, tidak boleh melakukan apa yang mereka perbuat. Kita sama – sama telah melakukan plagiarisme terbesar, menggunakan bahasa yang sama, bahasa manusia. Penciptanya tidak pernah meminta bayaran berkenaan dengan semua yang telah dilakukannya atas semua pengertian kita pada kita, saya pada kalian, kamu pada kami, mereka pada kita. Seandainya pencipta bahasa, tulisan, mengetahui betapa bahagianya seorang penemu yang temuannya dicopyright, akankah dia berminat melakukan hal yang sama pada bahasa kita, tulisan ini?
Tulisan ini tentang bahasa, koma dan bingung. Pengertian, lupakan saja hal itu. Tidak ada pengertian di tulisan ini. Selesai dalam bingung.

Senin, 03 Agustus 2009

Chaos


Drugz. Terjebak di situs jejaring pertemanan. Candu. Semalam suntuk bertapa mengklak-klik mouse yang sudah benar - benar menyerupai tikus karena jamuran. Parah betul efek situs seperti ini.

Keedanan dunia ini sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Makin banyak hal - hal aneh yang diperbuat manusia. Kalau dulu hal - hal aneh hanya meliputi homoseksualitas, (sampai sekarang tetap aneh di mata Penulis) kriminalitas, lalu lintas, dan sejumlah as-as lainnya. Kini, keadaan tidak berubah, semua as itu tetap ada. Malah ada tambahan anggota formasi edan baru. Situs Jejaring-as.

Semestinya, anggota baru ini tidak seedan para anggota terdahulunya, kalaupun ada keedanan bawaan, seharusnya itu berada dalam tataran edan secukupnya agar dapaat dikatakan sebagaai mahluk buatan manusia sejati, "sesempurna apapun, yang dari manusia, pasti ada cacatnya". Edan yang proporsional, seperti edannya pintu yang dapat mengetok jidat saat manusia tidak hati - hati atau edannya ubin yang dapat menampar ubun - ubun saat terpeleset (memang bisa ya?). Yah, keedanan yang wajar. Tidak membuat manusia ingin melakukan keedanan yang sama dua kali.

Masalah situs jejaring sosial di sini. Kumpulan script rumit punya sisi keedanan yang bikin orang mau melakukan keedanan yang sama bahkan yang berkali - kali lipat edannya secara berulang, terus-menerus. Situs jejaring sosial sangat hebat dalam memanfaatkan teori hierarki Kebutuhan Maslow, kebutuhan pada hubungan sosial, penghargaan dan aktualisasi diri.

Tapi tidak masalah. Makin banyak orang edan makin bagus untuk perkembangan dunia yang sejak dulu memang sudah menuju chaos.

Minggu, 02 Agustus 2009

What Happen Next?

Semua hal sudah ditemukan, semua teori sudah teretaskan. Apalagi yang bisa dilakukan manusia di masa yang akan datang?

Semua aspek kehidupan sudah dijamah tanpa tersisa, agama, budaya, ilmu, kegilaan.

Mobil,motor hingga kendaraan penjelajah bintang sudah ditemukan.

Dengan semua temuanitu, seolah kita sudah berada di penghujung zaman. Kita hanya perlu menunggu...

What happen next

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut