Minggu, 27 September 2009

Out of orbit.

Bangsa dan Solusi

Bangsa ini, mayoritas membenci kapitalisme karena alasan, penjajah yang dulu pernah mengobrak-abrik negeri berpulau terbanyak di dunia ini, punya paham kapitalisme. Penderitaan mayoritas penduduk (karena ada juga minoritas yang bahagia selama masa penjajahan) yang diturunkan dari kakek buyut hingga cicit terkini, meninggalkan jejas dalam alam bawah sadar bangsa. Jejas yang bermanifestasi menjadi sebuah premis "jika penjajah itu kejam maka semua yang berhubungan dengannya pasti kejam". Premis yang bisa benar, bisa salah, tapi dipercayai oleh hampir semua bangsa yang pernah terjajah.

Dengan landasan premis seperti itu, bapak pendiri bangsa ini, Soekarno dan kawan-kawannya yang kini terpampang di buku sejarah sebagai pahlawan, secara tidak sadar (harus dianggap seperti ini karena motivasi keadaan sadar para pendiri bangsa ini bisa jadi tidak seperti ini), mencoba merumuskan sebuah konsep kebangsaan Indonesia yang diupayakan berbeda dengan konsep kebangsaan penjajahnya dulu. Konsep kerajaan dan kekaisaran ditolak, paham kapitalisme dijauhkan dan paham kontranya, sosialisme dibiakan (meskipun akhirnya paham ini dibabat juga pada tahun 1965), pokoknya, hampir semua yang berbau penjajah disingkirkan dari konstitusi.(anehnya hingga sekarang, hukum pidana dan perdata negeri ini masih merujuk undang-undang penjajah kita. Padahal sudah kuno sekali, dan tidak sesuai kondisi kekinian)

Gambaran ekstrim penyingkiran sisa masa lalu kelam ini ditunjukan oleh Soekarno. Pada bulan Juli 1945 ketika penyusunan konstitusi bangsa tengah digodok, dengan permohonan yang memelas hingga ingin menangis, agar hak kebebasan individu-yang lekat dengan kapitalisme- ditiadakan dari UUD.
"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya yang terhormat!", katanya penuh gelora. "Kita rancangkan UUD dengan kedaulatan rakyat, dan bukan kedaulatan individu".

Alasan Bapak Bangsa kita dulu berpendapat seperti itu adalah kebebasan individu yang membuat dunia Eropa dan Amerika menjadi dunia penuh konflik, pertikaian dan perang.

Luar biasa kalau pidato Bung Karno yang seperti ini diperdengarkan kembali pada 10 Desember saat peringatan Hari HAM atau ketika amandemen UUD 45 yang lalu. Bisa timbul perdebatan sengit yang bakal menyerempet soal ideologi dan kroni-kroninya.

Terlepas dari perdebatan seperti itu, sebagai bangsa, kita memang perlu menentukan, masihkah relevan semua isi konstitusi dengan kondisi psikologis bangsa ini yang sudah merdeka 60 tahun lebih.

Masihkah kita butuh semua undang-undang itu?

Abad Soekarno dan penjajahan ada buat untuk suatu masa, tapi tidak untuk sepanjang masa. Bangsa ini lebih aman untuk tidak merenungkan kembali prestasi dan nostalgia masa lalu. Karena begitu satu soal bangsa terpecahkan, soal-soal lain muncul, seiring dengan datangnya pemecahan soal terdahulu. Undang-undang, sejarah, tokoh kharismatik, kondisi psikologis, itu hanyalah bahan mentah untuk membentuk solusi-solusi baru. Pemecahan yang terbaik hanya akan bersifat sementara.

Karena itu, bergerak atau diam?

Palu yang Tak Memecahkan

Kontempelasi berhari-hari ini tidak ada artinya. Hasil yang diharapkan tak kunjung terbentuk. Pikiran belum mampu menjangkau solusi. Terlalu banyak ketakutan yang menyelubung pemecahan cangkang soal. Palu itu ada. Namun keengganan merusak hubungan, interkoneksitas emosi yang lama terjalin, lebih diktator dibanding keinginan lepas dari masalah yang serumit puzzle tanpa pola ini.

Sepertinya harus berhenti memikirkan ini. Meskipun jawaban untuk semua pertanyaan sudah ada, tidak juga ada solusi untuk menyampaikannya.

Persoalan ini seperti perjalanan yang tanpa akhir,

Aku telah temukan jejak
aku telah mencapai jalan
tapi belum sampai solusi

berapa banyak abad lewat
berapa banyak arloji pergi
berapa banyak isyarat dapat
berapa banyak jejak menapak
agar sampai padamu?

Solusi dan padamu, Tuhan yang punya, begitu tulis Sutardji dalam syairnya.

Ya, Tuhan yang dibutuhkan saat ini. Untuk memilih jalan yang benar.

Sabtu, 26 September 2009

Libur

Apa jadinya media yang kehilangan narasumber untuk diwawancarai? Kalau ditanyakan pada redaktur lembaga pers mahasiswa, jawabannya,"kita libur saja, belajar, ada ujian menanti". Ini peristiwa konyol yang nyata terjadi, tapi sulit dihindari. Di tengah stressor karena ujian yang menanti, deadline yang menukik, narasumber tidak ada, rasanya mustahil untuk merampungkan buletin dengan hasil maksimal. Semoga libur beberapa hari bisa mendatangkan pikiran jernih sekaligus sebagai masa menanti perubahan sikap narasumber.

Dalam rangka penyusunan buletin edisi khusus mengenai pemilihan dekan, lembaga pers mahasiswa kampus, berencana mengadakan wawancara dengan kandidat dekan, guru-guru besar yang akan memilih nantinya, panitia pemilihan dekan dan warga KEMA. Tapi apa lacur, dari semua narasumber target, yang bersedia dan punya kesempatan diwawancarai hanya seorang kandidat dan warga KEMA, sisanya gelap. Kondisi seperti lalat yang menceburkan diri dalam kubangan minyak pekat, mengerikan, mematikan.

Aneh memang, niat LPM untuk menyebarkan ke semua civitas akademik tentang pemilihan dekan dan seluk beluknya, nampaknya belum direstui Yang Maha Kuasa. Ada-ada saja kendala yang dihadapi, ada narasumber yang sedang liburan, umrah dan perjalanan dinas hingga tak bisa ditemui, ada juga yang sejak awal menolak dan hebatnya ini dilakukan oleh beberapa orang dengan alasan yang sama. What a coincidence... Pikiran paranoid akan mengatakan there must be a conspiracy. Tapi, sudahlah, anggap saja itu memang kebetulan.

Pemilihan dekan sepertinya memang bukan konsumsi umum. Hanya untuk kalangan tertentu saja. Kesannya benar-benar elitis. Jadi biarlah itu berjalan dengan sendirinya tanpa harus diketahui. Seperti agen rahasia yang menyelinap di markas musuh, tunggu saja hasilnya.

Saatnya belajar.

Kamis, 24 September 2009

Mati Tenggelam di Air Tawar dan Air Asin

Jika Anda mencari artikel mengenai bahan kuliah forensik yang berkaitan dengan tenggelam di air tawar dan air laut, silahkan download klik di sini.

Atau Anda bisa juga klik gambar buaya yang ada di bawah ini. (bahan kuliah dari Unair)



Ada dua ekor buaya, satu dari sungai dan sisanya dari laut, mereka, seperti halnya manusia, sering mempertengkarkan urusan primordial. Entah itu status, keturunan, dan asal. Padahal kalau merunut sejarah, buaya adalah buaya, mau di darat atau di laut, mereka harus sama-sama merayap saat di darat dan "terpaksa" berenang jika di air, dari mana pun asal mereka. Binatang di kisah ini memang aneh, mau-maunya mencontoh manusia ketika bicara asal-muasal, seolah dengan asal itu, mereka jadi mulia karenanya.

Sebelum melenceng jauh ke arah perdebatan ontologis, ada baiknya, fokus kembali diarahkan ke pembicaraan buaya-buaya ini.

Buaya laut dan sungai, masing-masing dari mereka, membanggakan lingkungan tempat mereka hidup berdasarkan komparasi tingkat ketersiksaan manusia hidup di lingkungan mereka. Makin banyak siksaan yang di rasa manusia di suatu lingkungan, makin tinggi kebanggaan. Manusia yang membaca ini, harap jangan memasukannya ke dalam hati. Kedua buaya ini sejak dulu benci manusia yang telah merusak lingkungan mereka, jadi mereka juga ingin manusia menderita, alasan klasik untuk marah. Tapi, manusia yang membaca ini, agar tidak sakit hati karena disumpahi buaya, jangan hiraukan alasan mereka, bersikaplah seperti manusia - manusia yang tidak peduli alamnya, masa bodoh dengan binatang, biar saja mereka punah, yang penting kebahagiaan senantiasa menari di kantung dan pikiran. Itu hanyalah opini segelintir orang, terserah mau diikuti atau tidak.

Kembali ke percakapan buaya. Mereka berdua, memperkarakan soal lingkungan air apa yang bisa mempercepat kematian manusia akibat tenggelam?
Buaya laut bilang, sudah jelas tenggelam di laut, manusia lebih cepat mati, karena efek ombak, volume air yang masif dan keluasannya, laut membawa dampak fisik dan psikologis yang bisa mempercepat kematian.
Tentu saja, pernyataan seperti itu di sanggah buaya sungai, tenggelam di sungai yang airnya tawar bisa membunuh lebih cepat karena kelokan dan panjang sungai bisa membawa efek ketegangan seperti rally F1 yang tikungannya tajam dan jaraknya panjang, ini mematikan.

Alasan kedua buaya ini tidak masuk akal dan menyesatkan.

Pada kenyataannya, tenggelam di air tawar memang dapat membunuh lebih cepat dibanding tenggelam di air laut. Tenggelam di air tawar dapat menyebabkan sejumlah peristiwa kimiawi yang lebih mematikan dibanding ketika tenggelam di air laut.

Saat tenggelam di air tawar, air yang tertelan bersifat hipotonis karena kandungan elektrolit seperti Na+ dan K+ sangat minim, nama saja air tawar. Cairan yang hipotonis seperti air tawar dapat menyebabkan pengenceran hingga pemecahan sel darah. Jika hal ini terjadi, elektrolit seperti Na+ dan K+ yang awalnya terikat kuat pada sel darah, dapat mengalir bebas seperti napi yang bebas dari tahanan (sel darah yang mengikat sudah pecah). Kelebihan K+ dalam darah dapat mengganggu fungsi konduksi jantung, sehingga jantung tidak bisa memompa dengan baik. Bila sudah sampai pada kondisi ini, otomatis sirkulasi darah ke organ akan terganggu, terutama yang menuju otak. Beberapa menit saja otak tidak mendapat suplai darah, kematian sudah menanti.

Sedangkan kematian di air laut berbeda tekniknya. Kematian lebih disebabkan oleh edema paru. Sebab air laut yang tertelan saat tenggelam, banyak mengandung elektrolit yang sifatnya menyerap air, sehingga setelah ada di paru-paru, air laut akan menyerap semua cairan yang ada di sekitarnya. Proses edema membunuh seperti ini butuh waktu yang lebih lama dibanding tenggelam di air tawar.

Perdebatan selesai.




*dari kuliah forensik dengan sejumlah interpretasi ulang di sana-sini

Rabu, 23 September 2009

Mahasiswa, Dekan, Drum-drum-drum

Drum-drum-drum,
beberapa hari ke depan, akan ada sebuah pertarungan yang (semoga) tidak harus menumpahkan darah dan menerbangkan nyawa. Pertarungan yang bisa jadi sedahsyat pertempuran Arjuna melawan Kurawa di padang Kurusetra, hanya saja tanpa ditemani properti Gandawa berbusur seribu serta Gada sebesar kaki gajah. (Sederhananya), pertarungan ini diupayakan tidak melibatkan kontak fisik ataupun kontak senjata. Hanya perang ide, visi dan misi.

Dan (kebetulan) para petarungnya memang tidaklah sedigdaya Bima dalam kekuatan fisik maupun semumpuni Karna dalam bersenjata. Mereka, para petarungnya, hanyalah segelintir manusia hasil saringan ketat yang diproyeksikan akan memimpin sebuah institusi penghasil manusia-manusia setengah dewa,- (tapi tampaknya, kedewaan itu, tidak sampai lagi setengah, setelah sejumlah previllegenya dipancung undang-undang)- Fakultas Kedokteran.

Semestinya pertarungan seperti ini dapat diketahui khalayak ramai, seperti ketika Chris John mempertahankan gelar dunianya, atau seperti Barcelona yang memenangkan Piala Champion. Meski tidak semua ikut memukul dan melabrak seperti Bang Chris atau menggocek dan mendrible seperti Kang Messi, toh, semua orang yang memiliki kepentingan di dalamnya dapat ikut merasakan atmosfer persaingan maupun perayaan kemenangan mereka, entah itu penonton yang membeli tiket pertandingan, petaruh yang memasang taruhan, bandar yang mengumpulkannya, komentator yang mengoceh dan kru TV yang menyiarkannya. Semua larut dalam keriuhan dan gema yang sama.

Mungkin kasar untuk menyamakan pertarungan yang mengandalkan kekuatan fisik seperti tinju dan sepak bola dengan pertarungan intelektualitas para calon dekan. Tapi ada semangat yang setidaknya bisa dicontoh dari pertarungan fisik yang hanya butuh tangan berotot dan kaki sehat. Setidaknya, dipertarungan seperti itu, ada keterbukaan, tidak ada rahasia, semua penonton dan yang merasa bagian dari pertarungan dapat melihat, bersorak dan menyemangati petarung idolanya.

Keramaian seperti itu kemungkinan besar tidak akan pernah ditemukan pada pemilihan dekan. Karena pada pemilihan dekan memang tidak diwarnai aksi tonjok-tonjokan dan gol-gol menarik yang bisa mengundang decak kagum. Mungkin hanya akan ada retorika, pidato dan konsolidasi tentang masa depan fakultas, mahasiswa dan dokter. Semua persoalan pelik akan dibahas, karena itu sebisa mungkin, jiwa-jiwa yang dianggap primitif, seperti mahasiswa yang meledak-ledak bagai nitrogliserin, sedapat mungkin dihindarkan dari kancah pemilihan. Mahasiswa yang tahunya hanya facebook, shopping, anatomi batu dan lempar-lemparan mana tahu persoalan pendidikan, bangsa atau negara. Dan akhirnya, mahasiswa memang tidak dibutuhkan dalam kancah seperti ini, meskipun nantinya dekan yang terpilih akan mengurusi segala tetek bengek mahasiswa.

Pemilihan dekan, alih-alih menjadi semacam pesta bersama, sepertinya akan menjadi acara demokrasi elitis di era Guizot, di mana pengambilan keputusan hanya perlu melibatkan orang-orang tertentu, dengan previllege khusus. Kalau di masa Guizot dulu, previllege itu milik mereka yang kaya, dan membayar pajak lebih dari 200 franc. Di masa kini hal seperti itu memang sudah jarang ditemukan, orang-orang masa kini, terutama mahasiswa, senantiasa mengharapkan demokrasi yang tidak diskriminatif seperti itu. Karena itu mahasiswa merasa, wajar saja jika mereka selalu ribut ketika sebuah keputusan yang langsung menyentuh kantung belanja dan pikiran mereka, dibuat tanpa "minta persetujuan" terlebih dahulu. Undang-undang BHP salah satu contohnya, langsung menyentuh kantung, dan mendapat reaksi. Pemilihan dekan bisa saja mendapat reaksi yang sama, tapi nampaknya, mahasiswa sejak awal memang tidak merasa harus terlibat pada kegiatan birokrasi seperti itu.

Biarpun tidak harus tahu kandidat, prosesi, dan hasil pemilihan dekan nantinya, mahasiswa masih bisa kuliah. Dan kisah berlanjut hingga 5 tahun yang akan datang, hingga dekan baru terpilih lagi.

*disorientasi lagi

Selasa, 22 September 2009

Dewa, dokter, manusia

Seorang mahasiswa kedokteran mengeluh pada temannya yang kuliah di sastra. Dia mengeluhkan kebingungan yang telah menyerangnya semenjak dirinya menjejakkan kaki di institusi yang katanya akan menjadi kawah candradimuka dewa-dewa penyembuh. Berlebihan memang anggapan seperti itu, tapi itulah opini yang tersemat di kepala teman kedokteran kita. Teman sastranya, mengomentari opini itu dengan ucapan,"kamu terlalu sering nonton tayangan berkualitas karbit, baca buku beranalisis jongkok. Tapi harapanmu melebihi tingginya gunung-gunung semesta. Apa kau pikir jadi dokter itu segala-galanya?"
Pada beberapa kondisi, jadi dokter bagi teman kedokteran kita memang segala-galanya, bayangkan, nyawa (bukan jiwa) dan raga seorang pasien dapat diberikan intervensi aneh-aneh, entah itu suntik, potong, jahit dengan alasan sesuai prosedur, lege artis demi kepentingan pasien. Tidakkah itu luar biasa? Memang luar biasa.

Tapi teman sastra kita mengingatkan tentang sisi manusia seorang dokter."Dokter juga manusia. Sedewa apapun tindakannya dalam memperlakukan nyawa manusia, toh, itu tindak menjamin moralitasnya akan seperti dewa pula. Manusia akan selalu jadi manusia yang pikirannya bisa melayang ke tempat setan, yang nafsunya lebih sering berteman dengan setan. Apa kau mengharapkan lahirnya sejenis mahluk suci dari ciptaan bernama manusia? Kukatakan padamu, selama dokter adalah manusia, profesi itu tidak akan pernah jadi segala-galanya"
teman sastra kita mungkin saja benar, tapi itu hanyalah opini yang kebenarannya sulit dibuktikan, apalagi itu menyangkut soal setan. Apa benar, setan sering berteman dengan nafsu? Pernyataan ini menjadi semacam tuduhan tak berdasar, bisa menuai tuntutan hukum dari golongan setan jika dianggap sebagai pencemaran nama baik. Semoga saja pengacara tidak pernah bertemu setan untuk menuntut hal ini.

Kisah ini hampir berakhir, tapi teman kedokteran kita belum juga mengutarakan apa kebingungannya. Perlukah kita mengetahuinya? Teman sastra kita tidak lagi bersuara, dia merasa itu pertanyaan yang sengaja dibuat untuk menyinggungnya. Dia meninggalkan teman kedokterannya, sambil bergumam,"seorang (yang merasa dirinya) dewa masa kini tidak akan pernah merasa bingung. Kebingungan dewa hanya ada di mitologi kuno. Bukankah dewa yang menyingkirkan kebingungan?"
gumaman yang juga bertanya.

Perihal Demokrasi

Seandainya Montesqieu dan Thomas Jeferson serta ribuan pejuang demokrasi lainnya dilahirkan dalam satu negara yang sama, apakah mungkin mereka dapat menciptakan sebuah negara paling demokratis yang pernah ada di muka bumi ini? Sulit untuk menjawabnya, bahkan mungkin pertanyaan seperti itu tidak akan pernah bisa terjawab meskipun nanti, perkembangan IPTEK memungkinkan kita untuk terbang di udara tanpa kendaraan.

Variabel demokrasi dan kekuasaan terlampau acak, sehingga sulit untuk meramalkan jalannya suatu pemerintahan di awal masa terbentuknya. Bahkan menebak angka lotre masih lebih mudah dibanding meramal kebijakan pemerintahan produk demokrasi. Lotre tidak butuh banyak mimpi untuk memasang taruhan, cukup mimpi seorang pengharap yang terobsesi pada kekayaan lalu raga seorang penjudi ulung, taruhan sudah dapat diciptakan. Tapi demokrasi, kita bicara soal mimpi ribuan orang yang tidak sama satu sama lain dengan tingkat keculasan yang juga berbeda-beda. Sulit membayangkan sebuah kebijakan lahir dari tumpukan orang seperti itu.

Dan sejarah sudah membuktikannya, utopia demokrasi yang didengungkan serta dicanangkan oleh orang-orang yang dialiri semangat liberte, egalite, fraternite dalam darahnya, di Prancis saat revolusi dulu, justru melahirkan Napoleon yang diktator dan totalitarian. Demokrasi yang aneh.

Sekali lagi, sulit membayangkan sebuah negara demokrasi yang murni berasal dari konsensus semua warga negara.
Lebih mudah membayangkan keadaan di akhirat kelak saat Thomas Jeferson, Voltaire, Montesqieu kebingungan karena ternyata di alam baka, tidak ada demokrasi. Memangnya, siapa yang berhak memilih dan dipilih jadi Tuhan?

Sabtu, 19 September 2009

Perihal Mimpi

Kita bermimpi tentang sebuah masa depan yang lebih manis dari semangkuk es krim coklat di teriknya siang. Dan kita terus menciptakan paradoks seperti itu tiap saat meskipun sejak dulu kamu dan aku tidak pernah bisa mempercayai dua hal bertentangan pada satu wujud yang sama dapat harmonis.

Kita bermimpi tapi tidak pernah benar-benar ada dalam mimpi yang semestinya bebas. Kita masih diikat oleh dharma, aturan sebab-akibat sehingga mimpimu dan mimpiku selalu sama, mimpi yang artifisial, tidak ada kebebasan di situ.

Padahal kita berdua selalu meyakini bahwa mimpi adalah satu-satunya kegiatan yang kebebasannya mutlak tanpa terkecuali. Seharusnya di situ saya bisa jadi superman yang tak terkalahkan dan kamu bisa memerankan monster yang juga tak terkalahkan. Tapi sekali lagi, tidak ada mimpi seperti itu.

Kita hidup di sebuah dunia yang masih menjunjung status sosial dan ekonomi di atas yang lain, di mana orang dinilai berdasar pintu keluar awalnya di dunia, dan kemapanan tidak pernah mau menyentuh kekurangan, mimpimu dan mimpiku akan terus sama selamanya, tentang pangeran berkuda, yang kepayahan dalam menyelamatkan sang puteri karena harus membiayai ongkos perawatan kuda. Mimpi tidak ada yang bebas.

Tulis Saja Apapun Itu

Semakin hari tulisan di blog ini makin menunjukkan kekacauan berpikir penulisnya. Ungkapan yang menyatakan, apa yang dituliskan seseorang menggambarkan seperti apa kehidupannya, nampaknya dapat diterima sebagai sebuah kebenaran empiris oleh pemilik blog ini.

Dari semua tulisan yang telah diposting, tidak ada satu pun topik yang bisa memberikan pemahaman dan ilmu berguna pada pembacanya. Ini seperti suatu penyelewengan halus terhadap tujuan awal pembuatan blog, sharing, berbagi sesuatu yang bermanfaat kepada orang yang membaca.

Tapi sudahlah, hal seperti itu tidak akan dipikirkan pemilik blog terlalu dalam. Ini persoalan sepele.

Selama masih bisa menulis, tidak usah pedulikan apa yang orang pikirkan tentang tulisan kita, diri kita dan apapun tentang kita.

Yang penting bisa membahagiakan hati penulisnya, tulis saja apapun itu. Jangan pedulikan tata bahasa formal kalau keinformalan sudah cukup dimengerti. Jangan persusah diri dengan teori menulis.

Menulis, sarana untuk menciptakan simple life without suffer.

Kamis, 17 September 2009

Berantakan 4


Orang-orang yang tidak lagi punya masa lalu hanya bisa meringis kerinduan melihat orang-orang yang sibuk mengurusi perlengkapan dan persiapan kembali ke rumah, ke tempat di mana masa lalu bertaut.


Mereka yang tercerabut dari masa lalu hanya bisa menganga gersang, menerawang sebuah masa di mana mereka pernah ada di situ sebelumnya, di suatu tempat yang pernah menjadikan mereka sebagai salah satu penghuninya.Tapi semakin jauh mereka menerawang, tidak ada masa dan tempat seperti itu yang hadir dalam impresi mereka. Hal seperti itu tidak pernah ada.



Mereka yang terputus dari masa lalu punya kondisi yang lebih menggenaskan untuk menjadi sebuah kisah. Lebih memprihatinkan dibanding kaum Yahudi Diaspora yang senantiasa terusir dan terjajah tanpa sebuah negeri pun rela menerima di masa ketika Israel belum berdiri, lebih menyayat sukma dibanding kematian Bhisma di padang Kurusetra.


Tapi apa lagi yang dapat mereka harapkan dari keadaan mereka selain bisa menyaksikan kebahagiaan orang-orang yang masih memiliki jalan pulang. Ikut bahagia melihatnya, tanpa boleh sedikitpun ada kedengkian. Karena dengki pun...mereka  tidak bisa menemukan apa - apa di ujung kedengkian itu, selain kosong, dan rantai kedengkian yang baru.


Masa lalu...
Apakah itu memang penting untuk dikenang? Apakah itu diperlukan untuk sebuah eksistensi yang baru? Mereka yang tercerabut, tidak bisa menjawabnya. Karena sekarang pun mereka tengah dilanda kebingungan. Apakah mungkin bagi mereka terus-menerus hidup seperti ini yang tanpa masa lalu? Atau mereka harus menciptakan sebuah masa lalu baru?


Pertanyaan yang mudah sebenarnya bagi mereka yang sudah lelah. Tapi mereka yang tercerabut, belum juga lelah untuk terus bertanya-mengira-menerawang tentang masa lalu yang tidak pernah ada.

Untung saja, melakukan kegilaan terus-menerus menerawang, tidak butuh perang seperti Mahabharata dan Ramayana. Berpikir saja...dan orang - orang tidak peduli.

Jumat, 11 September 2009

Disorientasi 4

too stupid too understand what's going on...

masa lalu mengajarkan manusia banyak hal. salah satunya...adalah...jangan pernah belajar.

Bersenang-senanglah lalu ulangi lagi kesalahan yang sama. Karena masa lalu selalu lebih terliaht menyenangkan dibanding sekarang.

Seluar biasa apapun masa kini, semegah apapun bentuknya, masa lalu selalu hadir dengan wajah yang lebih indah.


Mereka bilang, dulu tidak begini...kenapa sekarang seperti itu? Dengan berpendapat seperti itu, mereka sudah menjadi alien, mahluk asing yang tidak pernah punya tempat untuk masa kini.

Mereka berteriak soal nostalgia. Meradang soal jalan kembali. Apa mungkin itu? Tidak pernah ada jalan balik....

Kita harus terus berjalan...tidak mungkin menunggu yang tertinggal.

Kamis, 10 September 2009

Bilik kecil


Bilik kecil ini menimbulkan keposesifan. Padahal tidak ada materi yang bisa dibanggakan dari ruang geometri tak jelas ini. Sebuah komputer tua yang sering hang, dua buah lemari buku hasil jarahan dan sebuah TV hasil klaim, hanya itu barang-barang yang bisa dijual dari bilik kecil ini. Tidak ada lagi yang lain. Tidak mungkin menjual AC rusak yang sudah menggantung dan mengotori bilik kecil pengap ini selama dua tahun terakhir. Walaupun ada rencana menjual, selalu saja urung dieksekusi karena baru membicarakannya saja, para penghuni bilik sudah merasa sakit mengingat semua kejahatan, kebasahan, kelembaban dan keapekan yang telah diperbuat AC tua itu. Kata salah satu penghuni,"biarkan saja dia di situ. Prestise. Untuk ukuran keindonesiaan, AC adalah barang mewah. Mungkin saja dia bisa membawa aura kemewahan di mata para tamu Indonesia". Sebuah alasan mati untuk menyembunyikan rasa muak.



Tapi memang mengherankan. Bilik kecil ini bisa menimbulkan daya magis yang lebih kuat menarik dan mengikat terhadap penghuninya dibanding kawat gigi terhadap gigi. Padahal tidak ada upah yang didapat para penghuninya dari menjagai bilik tak berbentuk ini selain rasa pengap karena keringat dan panas tubuh. "Ini perkara di luar logika", begitu jawab salah satu penghuni ketika ditanyai soal alasannya bertahan di bilik kecil.



Banyak hal di dunia ini yang berjalan di luar logika, terutama jika itu berkaitan dengan keposesifan. Tapi apa para penghuni bilik kecil itu tahu hal ini? Mereka tahu dan sangat menyadarinya, bahwa saat ini mereka sudah berjalan menjauhi realitas. Tapi mereka sudah tidak bisa lagi mundur. Ada sesuatu yang harus mereka tuntaskan namun tidak mungkin diputuskan tentang mereka terhadap bilik kecil ini. Kata orang-orang di zaman, batu masih jadi barang berharga, para penghuni bilik kecil itu tengah dimabuk cinta. Cinta pada bilik tak jelas.



Pasti ada sesuatu pada bilik itu yang membuat penghuninya jatuh cinta. Penulis bilang, itu kenangan. Nostalgia dengan masa lalu.



Nostalgia yang merekatkan generasi-generasi berbeda menjadi sebuah keutuhan di bilik kecil ini.

Selasa, 08 September 2009

Anjing Kampus


Selama beberapa hari terkahir ini, telah terjadi sejumlah fenomena aneh di lingkungan kampus Unhas. Fenomena-fenomena aneh itu bisa jadi hal yang biasa saja di mata orang lain yang sudah lama tinggal di Makassar, tapi orang yang baru menginjakkan kakinya di Makassar dalam durasi 2 tahun terakhir, fenomena yang terjadi kampus Unhas baru - baru ini adalah fenomena yang luar biasa karena kejadian seperti itu baru kali ini "lagi" terjadi, setelah dua tahun berselang.

Selama dua tahun terakhir, terhitung sejak 2007, kampus Unhas adlah kampus yang bebas anjing. Penulis sudah membuktikannya setelah melakukan penjelajahan kampus ketika dia lagi tidak punya kegiatan signifkan. Tidak pernah sekalipun dirinya melihat gerombolan anjing yang lebih dari 3 ekor eksis di muka bumi Unhas mulai dari ujung Fakultas Hukum hingga Fakultas Teknik. Kalaupun ada anjing, itu hanya seekor yang sepertinya kesasar karena mungkin lupa rumahnya. Tapi frekuensi menemukan anjng kesasar sperti itu selama 2 tahun yang lalu sangat minimal, mendekati 0% dalam sebulan.

Praktis, dengan keadaan seperti itu, rasa aman dan tentram dapat dirasakan oleh para penjelajah kampus seperti penulis yang hampir tiap malam keluyuran keliling kampus, entah untuk mencari hotspot, warung atau hanya sekedar jalan-jalan tidak jelas. Yang pasti, kekhawatiran terkena rabies tidak ada.

Tapi dalam sebulan terkahir, keadaan sudah berubah. Gerombolan anjing mulai terlihat melakukan invasi di kampus - kampus. Mereka mulai melakukan agravasasi, melolong dan menggonggong, sungguh mengganggu kenyamanan telinga dan ketentraman jiwa. Pertama kali, penulis melihatgerombolan anjing yang lebih dari tiga ekor di sekitaran geologi. dengan gaya mereka yang keanjing-anjingan, mereka membuat sejumlah pejalan kaki wanita ketakutan. Sungguh kondisi yang patut disayangkan.

Awalnya, penulis mengira, gerombolan seperti itu hanya akan terbentuk di fakultas geologi, ternyata tidak, anjing-anjing itu meulai mebuka cabang di mana-mana. Mereka mulai berseliweran di fakultas-fakultas lain. Kondisi ini mulai membahayakan.

Entah kenapa, tiba - tiba gerombolan anjing ini mulai bermunculan di kampus. Ada sejumlah asumsi dan perkiraan yang dianggap berhubungan dengan fenomena ini. Faktor banyaknya kegiatan buka puasa bersama di kampus yang biasanya menghasilkan banyak produk sisa berhamburan dianggap menjadi salah satu faktor pemicu datangnya anjing ke kampus. Tapi hal ini masih diragukan keabsahannya, karena 2 tahun lalu pun, kegiatan buka puasa bersama sudah dilakukan, tapi kejadian ini tidak pernah terjadi. Faktor lain yang dianggap jadi salah satu pemicu adalah, peristiwa pembataian anjing di sejumlah wilayah Sulsel. Baru-baru ini populasi anjing di Sulselmemang meningkat, sehingga sejumlah daerah melakukan pembantaian anjing-anjing agar resiko rabies dan ketentraman warga dapat terjamin. Meskipun ini disayangkan oleh sejumlah pihak.

Bisa jadi, anjing-anjing yang tidak mau dibantai, melakukan pengembaraan hingga ke Unhas untuk menyelamatkan diri. Ditambah lagi dengan banyaknya sumber nutrisi di sekitaran kampus. Sungguh kondisi ideal untuk anjing.

Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Kira-kira, solusi apa yang bagus untuk mengatasi masalah ini? Selain membunuhi anjing-anjing?

Passion

Sebuah kejayaan dibangun bukan berdasar metodologi, teknik, ataupun teknologi. Pada kenyatannya semua itu hanyalah produk situasi.

Sejarah mencatat orang-orang seperti Gandhi yang katanya metodologi swadeshi, ahimsa, satyagraha dalam melawan penjajahan ternyata tidakbenar-benar bisa seutuhnya melaksanakan semua prinsip dasar itu. Metodologi itu hampir saja lumpuh total ketika terjadi konflik agama di India. Untung saja, Gandhi punya satu senjata rahasia yang membuatnya tetap bertahan, meradang dan berteriak, "it's me. stop massacring". Dan dengan rahasia itu, konflik itu bisa mereda.

Jenghis Khan menggunakan rahasia itu untuk meletakkan dunia di bawah kakinya. Hitler memakainya untuk menerbangkan bangsa Jerman menuju awang-awang keagungan semu. Edison meresapinya dalam ribuan penemuan. Dan Hegel menyebutnya, passion, hasrat. Penggerak utama manusia menuju kejayaan.

Sabtu, 05 September 2009

Materialisme 1

Berpikir materialisme mungkin akan terdengar kejam di telinga orang-orang yang idealis. Kencenderungan pesimis dan kebiasaan yang kerap dianggap jauh dari nilai kemanusiaan selalu disematkan pada para materialis.

Padahal sesungguhnya, materialisme memiliki keoptimisan tersendiri karena pengabaiannya terhadap keidealan angan. Keoptimisan materialisme sangat realistis karena orientasi pemikiran yang berbasis pengalaman empiris, menjadikan para materialis tertahan pada melankolia dan nostalgia yang terlampau indah. Tidak ada waktu untuk bertahan dengan keindahan abstrak yang dibangun oleh pemikiran.



Dan tentang kemanusiaan, materialisme justru sangat manusiawi. Alih-alih menganggap manusia sebagai mahluk sempurna yang harus terus-menerus berbuat kebajikan, materialisme lebih suka memandang manusia apa adanya dengan segala kebusukan dan keburukannya, seperti apa yang terlihat.



Tapi untuk saat ini, dikotomi materialis-idealis sudah kabur, dan ada baiknya, hal tersebut kabur selamanya. Sudah saatnya berhenti membagi-bagi ideologi dan pemikirin ke dalam kotak-kotak sempit yang hanya akan menghantarkan manusia ke dalam pertikaian. Sudah cukup jutaan nyawa dan harta melayang karena perang kapitalisme-sosialisme. Dendam-dendam yang telah tersemat mungkin tidak akan bisa terlepas, karena itu jangan menambah sematan yang baru.



Setiap ideologi dan pemikiran punya kebaikan dan keburukan. Jangan memilih keburukan dan kebaikan yang tidak manusiawi. Kaburkan dikotomi.

Jumat, 04 September 2009

It's Time For Making Movement

All night in the same patterns. I think it's crazy.

Sepanjang malam melakukan hal yang sama berulang-ulang, lagi dan lagi.

Kamis, 03 September 2009

Orang Baik dan Dunianya


Banyak kisah epik dunia yang menceritakan tentang bodohnya menjadi orang baik. Mahabhrata adalah salah satu contohnya. Hampir semua jalinan cerita dalam epos sepanjang masa ini membeberkan akibat buruk yang harus ditanggung seseorang karena kebaikannya.

Destatra karena kebaikan terhadap anak-anaknya, terpaksa harus menerima kehancuran dinastinya. Karna yang karena kedermawanan memberikan senjatanya pada yang membutuhkan, harus rela mati di bawah terjangan panah Arjuna. Durna dan Bhisma yang loyal terhadap tradisi serta janji, mau tak mau harus rela meregang nyawa di tangan orang-orang terdekat mereka sendiri. Mereka semua adalah orang - orang yang memiliki motif untuk berbuat baik. Tapi apa yang mereka dapat dari kebaikan seperti itu? Tidak ada.(untuk gambaran dunia)

Sungguh aneh memang, Mahabharata lebih banyak mengisahkan kemenangan orang-orang licik yang pandai memanfaatkan situasi bodoh orang yang ingin berbuat baik. Niatan untuk menjadi orang baik menurut Machivielli memang identik dengan kebodohan, jadi, hal seperti itu sebaiknya ditekan jika seseorang ingin memperoleh kemenangan gemilang. Perbuatan baik karena niat di luar kebaikan lebih berguna dan bermanfaat dibanding perbuatan baik karena motif kebaikan. Machiavelli dan buku Il Principe-nya serta Mpu Wiyasa dan Mahabharata-nya, mungkin terdengar kejam dengan kisah - kisah mereka. Tapi itulah kenyataan di lapangan. Mereka menceritakan apa yang terjadi, bukan apa yang seharusnya terjadi. Sehingga, tidak ada gunanya mengutuk Machiavelli karena pemikiran gilanya. Toh, pemikirannya itu hanyalah refleksi pengalamannya saat menjadi orang pemerintahan. Dan tidak perlu senantiasa menyanjung tokoh Pandawa dalam karya Mpu Wiyasa, karena pada akhirnya, mereka tidak berbeda dengan manusia biasa.

Tidak ada orang yang benar-benar baik karena mereka sadar, dunia belum siap menerima orang yang terlalu baik.




Rabu, 02 September 2009

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut