Senin, 30 November 2009

Gastroenterohepatologi (GEH): Falling in Love Again


Mungkin ini kumpulan fakta yang tidak penting (memangnya, sejak kapan ada hal penting yang dibahas blog ini). Tapi ada baiknya diinformasikan saja.


Sebagai pendahuluan, Gastroenterohepatologi adalah salah satu mata kuliah sistem di Fakultas Kedokteran yang mengajarkan pada mahasiswa mengenai ilmu dasar dalam mengidentifikasi dan mendiagnosis penyakit serta hal lain yang berkaitan dengan organ pencernaan. (meskipun ini semua rasanya mengawang-awang, karena belajar dari teksbuk tanpa melihat langsung kasusnya). Kuliahnya berlangsung 4 minggu. Praktikum selama 1 minggu. PBL (diskusi kasus) dan CSL (keterampilan klinik) di sela-sela kuliah. Lalu masa ujian dalam 1 minggu akhir. Semua prosesi itu berakhir hari Jum'at 26 November 2009 yang lalu.


GEH itu mata kuliah yang menarik. Selain karena materinya mudah dan tidak terlampau bertumpuk, pengajarnya juga mumpuni serta murah senyum. Mata kuliah ini secara tampilan superfisial adalah salah satu mata kuliah sistem yang nyangar karena jumlah kreditnya maksimal, 7 SKS. Oleh karena itu, saat sistem ini berlangsung, hampir semua mahasiswa memasang antena paling sensitif untuk menangkap materi pengajaran. Dan banyak mahasiswa membeli buku yang berkaitan dengan materi, buku-buku yang mahal dan tebal. (jarang mahasiswa yang mengandalkan buku perpustakaan karena berbahasa Inggris. Padahal semua yang ada di situ gratis dan buku-bukunya punya materi komprehensif). Penampilan luar selalu menipu.


Bagi mahasiswa angkatan 2007, mata kuliah GEH adalah mata kuliah sistem ke-15 setelah LS-IT, BIOMEDIK, BMD, DDT, IMUNOLOGI, ENDOKRINOLOGI, MUSKULOSKELETAL, NEUROPSIKIATRI, KARDIOVASKULER, HEMATOLOGI, RESPIRASI, UROGENITALIA, REPRODUKSI, dan SS.
(wow, ternyata sudah banyak ilmu yang harusnya masuk di kepala)


Cukup pendahuluannya. Sekarang ke intinya. 

Fakta Gastroenterohepatologi (GEH): 

1. Tahun 2009 adalah tahun pertama sistem GEH menerapkan pleno sebanyak 4 kali. Biasanya, sistem terdahulu, pleno hanya berlangsung 2 kali. Akibatnya, harus belajar dan kerja laporan ekstra.


Pleno adalah semacam pertemuan akbar antara mahasiswa dan pakar, di mana ada beberapa mahasiswa bertugas menjelaskan suatu kasus lalu kemudian dibantai dengan pertanyaan dari mereka yang hadir. Selalu menyenangkan berada dalam sesi pembantaian ini, terutama kalau kita yang jadi pembantainya. 


Di sesi pleno kita bisa bermain drama. Itu menarik. 


2. Barusan sistem GEH yang berani memberikan 120 nomor soal dalam ujian Final teori. Sistem lain biasanya hanya mampu membuat 100 nomor soal. Tapi biarpun banyak begitu, kita bisa menyelesaikan soal itu dalam 45 menit, karena kebanyakan soalnya mudah dijawab.


3. Di antara semua sistem yang punya praktikum, GEH adalah satu dari 2 sistem angkatan 2007(sistem lain, BMD) yang tidak memberlakukan ujian remedial praktikum. (skrg BMD sdh py ujian remedial jg)


4. Praktikum sistem GEH adalah yang terbanyak dari semua sistem. Tercatat 9 buah praktikum harus dilalui mahasiswa dalam sistem ini. Anatomi, Histologi, Mikrobiologi, Parasitologi, Patologi Anatomi, Patologi Klinik, Biokimia, dan Gizi. Untung saja tidak ada praktikum Farmakologi dan Fisiologi, kalau tidak, lengkap sudah semua penderitaan praktikum. Meskipun praktikumnya sebanyak itu, materi dan laporan praktikumnya tidak menyita waktu. Rasanya seperti liburan. Sama sekali tidak melelahkan.


5. Karena sedang dalam masa renovasi, laboratorium terpadu tidak dapat dipergunakan. Sehingga ujian praktikum terpaksa dilakukan di laboratorium biokimia dan laboratorium farmakologi. Ini adalah kali ketiga, ujian praktikum sistem diadakan bukan di laboratorium terpadu.


Sebelumnya sistem Muskuloskeletal dan Hematologi yang lebih dulu melakukan hal ini. Tapi alasan kedua sistem ini berbeda dengan GEH. Preparat yang rumit untuk dipindahkan adalah alasan utama kedua sistem itu.


6. Meskipun banyak materi yang diajarkan selama kuliah, tidak semua masuk dalam ujian. Banyak sekali kasus penyakit yang harus diketahui tapi setiap tahunnya, soal ujian GEH tidak pernah lari dari materi dasar praktikum. Hal ini tidak pernah berubah hingga kini.


7. Salah satu dosen pengampu sistem GEH meninggal dunia saat sistem ini sementara berlangsung, Prof. Rifai Amiruddin. Beliau sempat mengajarkan tentang hepatitis sebelum akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir di Jakarta. Semoga Allah memberkatinya. 

 

Itu faktanya, dan ini opininya. 

1. Malam sebelum ujian bacalah novel. Dan itu tidak mempengaruhi hasil ujian. Siapa pun bisa lulus ujian. Belajar pada malam sebelum ujian tidaklah efektif. Belajar sejak awal sistem adalah yang terbaik.


Pelajari semua bahan sedikit demi sedikit. Nikmati kehidupan. Dan saat ujian, voila, tinggal bergumam dan memikirkan jalan cerita novel, dan biarkan tanganmu menari sendiri di lembar jawaban. Dan setelah itu kumpul. Nikmati gumam kekaguman orang-orang yang melihatmu keluar lebih dahulu.


2. Semua dosen pengampu di sistem GEH punya antusiasme. Mereka mudah diajak berdiskusi dan menghargai pendapat. Bahkan pendapat paling bodoh pun mereka apresiasi agar mahasiswa tetap semangat belajar. Dan itu bagus untuk perkembangan mental mahasiswa


3. Bangun kerjasama kelompok belajar dengan penuh kehangatan. Itu sangat membantu proses belajar.
I have good group. Not the best. But they always make me feel like in home. We respect each other, exchange information, help each other. It's really nice.


Dunia tidak pernah sama.




Ini sistem terbaik yang pernah ada selain BMD dan DDT.

Aerdeus

20 menit, itu waktu yang terlampau singkat untuk memikirkan semuanya. Tentang alam dan kesadaran yang luas mengenainya. Tentang di belahan bumi yang jauh di sana. Tentang roti yang tak sempat termakan. Tentang penjual yang lupa membayar kembaliannya.

Tapi sebenarnya tak perlu memikirkan semua itu. Karena waktu kita tak cukup. Jadi pikirkan saja apa yang perlu dipikirkan berdasar konteks. Jika saat ini kita harus berurusan dengan kejahatan, pikirkan saja itu, tidak perlu dihindari dengan memikirkan hal lain. Tapi kalau memang itu sulit, alihkan saja pikiranmu. Yang penting dirimu bahagia.

Minggu, 29 November 2009

Pengetahuan

Ada begitu banyak kesenangan dan hal luar biasa di dunia ini. Tapi tidak perlu memaksa badan untuk merasakan semuanya. Menara Eifil, Tembok Raksasa, Piala Dunia, Ferrari, untuk standar kesejahtraan Indonesia saat ini, hal seperti itu terlampau mewah.

Begitu pula dengan buku. Ada jutaan buku di dunia yang menawarkan beragam pengetahuan. Tapi sekali lagi, badan tak perlu dipaksakan untuk membaca semuanya.

Memang menyenangkan bisa tahu segalanya. Tapi untuk ukuran manusia, ada satu hal yang perlu dicamkan tentang pengetahuan,

karena pengetahuan tidak hanya terdiri dari mengetahui apa yang harus diketahui, melainkan juga mengetahui apa yang dapat kita lakukan, tapi mungkin tidak harus dilakukan.

Book

Fascinated again by reading. Find mysterous, weird words. Try to break them in to rhymes or meanings. Fulfill my mind with high elations of happiness. Made someone laugh and think alone about everything. "Is this the real world?" Man with book as his fun thing seems boring.

But in fact, they always live their lifes with imagination. Do the different pattern of lifestyle.

Book. Back. Beat.

Got One Thousand

Dalam sepuluh hari 1000 pesan masuk via sms. Nice record. Dan sepertinya masih akan terus bertambah. Buku IPD selalu punya bahan yang bisa didiskusikan lewat sms. Entah itu soal penanganan diare, tumor marker ataupun mekanisme kerja obat. Terimakasih pada semua orang yang mau berdiskusi lewat pesan pendek.

Rasanya aneh memang, berdiskusi tanpa tatap muka. Tapi itu rasanya lebih baik, tatap muka saat diskusi bisa menginterferensi pertukaran informasi. Entah itu karena emosi atau hal semacamnya. Apalagi untuk orang yang bisa melihat kebohongan hanya dengan menatap dan membaca bahasa tubuh, interaksi langsung kadang tidak memberikan kenyamanan. Bayangkan, saat tahu kebohongan, tapi kita tidak ingin membongkarnya karena tidak mau menyinggung, mempermalukan, we have to play some dramas. Acting like a fool, and pretending don't know anything. It's hard. But we have to. For peace.

Our religion means peace. We have to realize that.

Jadi dari pada berpura-pura, diskusi lewat pesan pendek adalah opsi terbaik untuk berbincang. Tanpa harus akting. Buka saja semua. Tidak ada yang akan tersinggung atau merasa tak nyaman.

Sabtu, 28 November 2009

Coba 6

Membaca memang butuh mood dan suasana yang mendukung.

Tanpa asupan nutrisi yang bervariasi seperti libur hari raya saat ini, bisa menghambat kinerja otak dalam menganalisis isi buku.

Kamar tanpa kipas angin saat suasana panas juga kurang baik untuk membaca.

Godaan untuk menghabiskan bonus 450 sms gratis juga bisa menghambat keinginan membaca.

Membaca butuh perjuangan.

Preferensi membaca itu penting.

Coba 5

Memaafkan. Itu sulit. Tapi lakukan saja. Untuk kedamaian.

Libur dari semua perang.

Jumat, 27 November 2009

Selamat Idul Adha

Selama ini rasanya sudah banyak kekurangajaran telah saya lakukan di dunia maya dengan jalan mengomentari blog maupun note orang secara asal dan serampangan.

Meskipun begitu, tidak pernah ada maksud sedikit pun untuk melecehkan ataupun menghina. Semua itu dilakukan kadang tanpa tendensi apapun selain untuk menjalin silaturahmi.

Sorry coy, bro, sis, cing, cang, dll atas semua kekurangajaran selama ini, semoga kita semua tetap bersatu untuk Indonesa yang lebih baik. Buru korupsi. Tegakkan keadilan. (NYAMBUNG COY TEMANYA)

Selamat idul adha,
mohon maaf lahir batin.

From the deepest black side of my mind.

Kamis, 26 November 2009

Mordeum

Membaca buku-buku pesimistis mungkin bukan cara yang tepat untuk mengalihkan ketegangan.

Karena menampar optimisme saat hal itu betul-betul dibutuhkan untuk menghadapi ketegangan bukanlah tindakan yang terlalu bijak. (Mungkin bijak bagi beberapa orang)

Tapi, kalau itu sudah terlanjur terjadi, tidak perlu mengutuk buku pesimis sebagai penjahat berdosa tanpa ampun. Buku seperti itu penting juga untuk dibaca, menambah wawasan, membongkar kerangkeng pikiran.

Bukankah semua ilmu berasal dari Tuhan, dan manusia juga bersumber dari hal yang sama? Baca saja semua buku. Dengan atau tanpa ketegangan.

UN Akan Dihapus?

Berita pagi SCTV:

MA memutuskan, Ujian Nasional tidak boleh dilaksanakan lagi karena dianggap melanggar hak asasi manusia dan tidak memperhatikan kesejahteraan guru. Adakah korelasinya? Entahlah. Tapi yang pasti, pemerintah akan mengajukan banding atas kasasi ini.

Mendengar kabar ini pasti, anak SMA mungkin akan mengadakan pesta besar-besaran. Karena kegiatan tahunan yang dilakukan depdiknas untuk menyeleksi lulusan ini, dianggap terlalu menjajah. Kabar baik bagi mereka.

Tapi bagi wajah pendidikan nasional kita, apakah kabar ini bisa menambah ketebalan lipstik kebaikan di dunia pendidikan? Entahlah.
Mungkin sebaiknya, kita perlu bertanya lagi mengenai visi pendidikan nasional, apakah kita akan menciptakan robot - robot berchips dan memori sama ataukah kita akan menghasilkan boneka lilin yang bebas dibentuk sesuai kebutuhan? Dan ada baiknya kita bertanya kembali, perlukah standarisasi? Sejauh mana standarisasi itu perlu diterapkan, karena perlu diingat, ekspansi standar biasanya mengekang kreatifitas.

Biarkan ahli pendidikan yang memikirkannya, kita mungkin perlu merengek saja melihat semuanya terjadi. Terserah.

Minggu, 22 November 2009

231109

Ujian teori GEH berakhir. Dengan persiapan hanya membaca novel Umberto Eco ujian dihadapi tanpa ragu sedikit pun. Padahal ujian meminta penguasaan materi kuliah yang terdiri dari pembahasan hepatitis, bedah digestif, tukak peptik dan kawan-kawannya. Umberto Eco mengajarkan semiotika dan enigma kata. Luar biasa, dari mana datangnya kepercayaan diri tadi saat ujian.

Tapi sungguh, ujian tadi adalah salah satu ujian tercepat yang pernah kulakukan. 120 nomor dalam 45 menit. Menjawab soal nyaris tanpa jeda. Hanya ditemani do'a yang senantiasa bergaung di kepala, semua soal terlahap habis.

Saat keluar, salah seorang supervisor bedah memanggil dan bertanya,"kenapa cepat keluar?"
"tidak tahu mau bikin apalagi di dalam, dok?" jawabku.

Dan perjalanan berlanjut. Malam ini Umberto Eco dan Putu Wijaya sudah menanti.

Sabtu, 21 November 2009

Perang Melawan Plastik

ARES

Perjuangan tanpa plastik adalah perjuangan paling konyol yang harus tetap diperjuangkan. Dunia yang sudah nyaman plastifikasi dan silikonifikasi bukanlah dunia yang nyaman bagi seorang pecinta lingkungan.

Setiap saat mereka harus dibuat bimbang oleh kenyataan bahwa handphone yang digunakannya untuk menghubungi keluarga, piring dan gelas yang disodorkan di warung makan, sapu yang dipakai bukan untuk mencuci, dan banyak alat-alat mendasar lain yang memberi kemudahan dan kenyamanan hidup terbuat dari plastik. Nyaris tak ada yang bisa mengalahkan plastik dalam memberikan kebahagiaan modern. Ringan, murah, multi-fungsi. Bagi kaum utilitarian, tidak ada yang kurang dari kumpulan karbon ini. Tapi bagi pecinta alam, ciptaan DuPont ini adalah iblis dari dunia lain. Durabilitasnya yang mampu bertahan ratusan tahun adalah duri bagi bumi. Produksinya yang banyak memakai karbon adalah kompor bagi ozon. Sungguh, tak ada kebaikan padanya, di mata pecinta alam sejati.

REAL

Plastik memang punya banyak manfaat. Tapi penggunaannya yang eksesif, punya dampak buruk yang lebih banyak ruginya. Pemanasan global, limbah tanah yang bukan hanya manusia akan merasakan dampak buruknya. Tapi juga seluruh mahluk lain. Tidak terkecuali setan dan iblis yang harus bekerja lebih keras menggoda karena makin banyak manusia yang musti dikawal agar terus-terusan marah akibat panas yang tak kunjung padam atau karena banjir yang tak juga surut.

Kita harus temukan alternatif plastik. Masalahnya saat ini, semua hal diplastikan. Makanan kecil plastik, minuman kecil adakah? Minuman, plastik. Baju, plastik. Tas, nilon, temannya plastik. Untuk hal-hal sepele macam ini sebaiknya, plastik ditiadakan saja karena tidak menyangkut hajat hidup orang banyak serta masa penggunaannya terlampau singkat. Begitu mudahnya orang buang sampah plastik setelah makan snack. Tidak sampai semenit makan, tapi efek plastiknya nyaris abadi terhadap tanah.

Plastik sebaiknya digunakan untuk peralatan yang menyangkut hajat hidup banyak orang dan bisa dipakai dalam waktu lama. Seperti pada mesin produksi baju, pangan, papan.

Susah melepaskan diri dari plastik. Tapi perjuangan harus tetap dilakukan. Hidup dengan plastik minimal.

Vivid

EPILOGISTRA

Mahasiswa dalam lembaga adalah pemimpi yang membebankan segala tanggung jawab sosial di pundaknya. Hampir semua persoalan kebangsaan ingin diurusnya. Dan apapun dilakukan demi melihat kesejahteraan, keadilan tumbuh di sekitarnya. Walaupun mungkin, para mahasiswa itu tidak pernah tahu apa yang perjuangan mereka, akan berikan pada diri mereka sendiri. Kejayaan atau kehancuran, keadilan atau kecurangan, kesejahteraan atau kemelaratan. Karena tidak selamanya cita-cita kolektif yang dicapai akibat perjuangan akan memberikan efek yang sama pada para individunya. Danton dan Robespiere saat revolusi Prancis sudah pernah merasakan kegetiran ini ketika kepala mereka harus terpisah dari badan oleh pisau Guillotine. Padahal mereka adalah pejuang revolusi awal. Tapi mereka justru jadi korban revolusi itu sendiri. Tragis.

Mimpi hanyalah mimpi. Kenyataan punya caranya sendiri untuk menceritakannya.

CASECORISNUS

Kalau mau berpikir rasional, tidak bakal banyak mahasiswa yang ingin berlembaga. Secara ekonomi, mahasiswa lembaga harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mendanai kebutuhan yang secara tiba-tiba mendesak untuk dipenuhi saat berlembaga, entah itu pulsa, bensin, cemilan dan lain-lain. Dan biaya pengeluaran itu tanpa dibarengi pemasukan yang sesuai. Mahasiswa dalam lembaga selalu dikuasai paradigma, jangan mengambil keuntungan ekonomi dalam lembaga. Paradigma yang mungkin perlu ditinjau kembali.

Secara sosiologi pun sebenarnya berlembaga menciptakan sebuah kerangkeng pergaulan selektif. Secara tidak langsung, orang-orang yang berkecimpung dalam lembaga menjadi komunitas eksklusif yang terpisah dari pergaulan mahasiswa non-lembaga.

Kondisi seperti ini bisa jadi baik jika mahasiswa yang berlembaga adalah kelompok mayoritas. Tidak akan ada pengucilan. Namun jika mahasiswa yang berlembaga adalah kelompok minoritas. Ini bisa berarti bencana.

Secara psikologis, mahasiswa yang berlembaga bisa jadi mengalami proses individuasi paling matang di antara mahasiswa lain karena gemblengan masalah dan konflik. Tapi kondisi seperti ini bisa juga jadi bumerang yang dapat menghancurkan mental mahasiswa. Apalagi ketika mahasiswa harus diperhadapkan dengan persoalan pelik yang berkaitan dengan pilihan-pilihan sulit. Kapasitansi persoalan tidak sebanding dengan ketahanan mental mahasiswa, akibatnya, kemarahan yang meluap, kebrutalan, pengrusakan. Wajar, kalau mahasiswa demo berakhir ricuh. Walaupun katanya, aparat selalu yang memancing lebih dahulu, mahasiswa yang sejak awal sudah punya masalah mental pasti dengan mudahnya tersulut kemarahan.

Kombinasi masalah ekonomi, sosiologi dan psikologi sudah cukup membuat pelik lembaga. Apalagi kalau ditinjau dari sisi agama, pendidikan, budaya dan lain-lain.

Dunia mahasiswa yang militan memang terlihat indah. Tapi selalu ada kejahatan dalam setiap kebaikan.

SOLUSIO

Entahlah.

Selasa, 17 November 2009

Ceramah

Ceramah di tempat ibadah selalu saja panjang. Mungkin sebaiknya dibuat aturan agar ceramah tidak lebih dari 10 menit. Karena rasanya hampir semua isi ceramah bisa dihafal oleh jamaahnya karena topik yang dibahas selalu itu-itu saja dan jarang menyinggung persoalan kekinian.

Para penceramah biasanya hanya fokus pada topik ritual keagamaan yang tekstual, sehingga fenomena sosial seperti kemiskinan, sampah, dan lain-lain beserta solusinya jarang mendapat perhatian.

Para pejuang moral semestinya tidak terjebak pada spesialisasi yang dibentuk tradisi. Mereka sebaiknya memiliki pemahaman komprehensif dalam semua bidang ilmu, tidak cuma pada bidang agama. Sebab moralitas butuh konteks agar dapat menjadi jalan hidup. Namun sekali lagi, hal seperti ini tidak semestinya digodok di tempat ibadah dalam bentuk ceramah panjang. Karena hal itu justru menyebabkan kejenuhan dan menanamkan formalitas kaku pada alam bawah sadar pendengar.

Agama adalah soal praktek dan aturan di semua ruang kehidupan. Bukan cuma ceramah panjang tentang kebaikan tanpa bukti nyata.

Senin, 16 November 2009

Ilusi

Kebaikan itu ilusi. Dia tidak pernah ada selain dalam bentuk topeng yang menipu. Karena itu, agar tidak lagi menipu, jangan pernah menjadi orang baik kalau itu tidak lagi sesuai kondisi ideal.

Orang lain dengan mudah meninggalkanmu setelah memanfaatkanmu hingga tidak ada lagi bagian dari dirimu yang berharga.

Karena itu jangan menangis atau kecewa dengan perlakuan seperti itu. Balaslah perbuatan mereka dengan kejahatan yang lebih parah dari itu. Persetan dengan kebaikan. Omong kosong kejahatan dibalas dengan kebaikan.

Jagalah kebencian yang menggelegak seperti reaktor nuklir dalam perawatan yang menyerupai penjagaan pada lilin dalam badai November.

Rusak orang-orang yang menyakitimu dengan segenap kemampuanmu. Pecahkan bibir mereka, potong lidahnya, congkel matanya, iris setiap senti tubuhnya hingga mereka tidak bisa lagi membedakan sensasi sakit dengan kengerian.

Jangan pernah memaafkan. Mereka yang sudah meninggalkan, menyakiti hati, mengkhianatimu, tidak pantas mendapat maaf darimu. Sumpah serapah, umpatan, makian, kutukan lebih pantas bagi mereka.

Do'akan kecelakaan bagi orang-orang yang sudah menyakiti hatimu dan menempatkan dirimu dalam kesulitan. Do'akan kematian menggenaskan untuk mereka yang menganiayamu. Jangan sungkan.

Bencilah mereka hingga dunia ini berakhir.

Kebaikan itu palsu. Kesetiaan itu bohong. Jangan pernah percaya. Karena semua orang hanya ingin memanfaatkan kebaikanmu. Lalu membuangmu setelah puas atau kalau kamu tidak selevel dengan mereka.
Jangan lagi jadi orang baik.

Drama: Monolog Panjang, Jangan Dibaca

EPILOG
Sepertinya sulit memecahkan rekor April, 41 postingan dalam sebulan. Itu jumlah yang luar biasa banyak. 41:30=1,3 postingan dalam sehari. Dalam kondisi seperti saat ini, melakukan hal gila seperti itu, tidak mungkin lagi. Inspirasi tidak mengalir seperti sungai yang tiap detik debitnya konstan membanjir, tanpa butuh pikiran dan rasa dalam aliran. Seandainya manusia bisa seperti itu...

INSPIRASI
saat ini inspirasi datang dari teori probabilitas. Teori tentang seberapa besar peluang seseorang bisa menjadi gitaris terkenal di antara jutaan manusia, dan hal-hal semacam itu.

Sebenarnya, peluang seperti itu tidak sekecil apa yang ditulis teori, 1:6 milyar manusia. Bisa jadi scope-nya lebih kecil, karena terkenal itu relatif. Selain itu, banyak faktor lain yang bisa membiaskan kenyataan hingga melenceng jauh dari teori.

KLAUSUL
lari dari masalah awal karena nampaknya kebingungan pada teori lama selalu memenangkan pertarungan melawan kegigihan. Klausul baru menawarkan pembahasan tentang keberhasilan, perjuangan dan korelasinya.

Orang-orang yang empiris selalu beranggapan bahwa perjuangan selalu punya korelasi dengan keberhasilan. Padahal sebenarnya, itu tidak ada hubungannya sama sekali.

Lihat saja kisah Firaun yang berjuang menjadi Tuhan, akhirnya dia hanya bisa jadi mumi. Atau tentang bangsa Palestina yang berjuang melawan Israel, mereka justru makin didesak hingga saat ini, tempat tinggal mereka tidak lebih luas dari kompleks Pentagon.

Atau lihat perjuangan para da'i, mubaligh, pastor, pendeta, biksu dan saudara-saudara sejenisnya dalam membina akhlak. Bukannya berhasil, demoralisasi dan keasusilaan justru makin menjadi.

Atau contoh lain tentang upaya pencerdasan. Ini juga contoh lain kegagalan teori tentang perjuangan selalu berbuah keberhasilan.

Banyak orang yang termakan pada teorema bodoh ini. Kekasih yang lelah mencinta lalu terdepak. Mahasiswa yang letih belajar dan kecewa. Orang tua yang menyayangi lalu meringis.

Perjuangan dan usaha tidak punya hubungan apa-apa. Mereka seperti beberapa jalur kereta yang terpisah. Menyatu dan memotong pada beberapa tempat saja. Selebihnya, mereka selalu berjalan sendiri, tak pernah melirik.

Karena itu, jangan pernah terlalu berharap pada perjuangan sendiri karena saat itu berujung gagal, kecewa pasti menyayat.

Ada banyak keterhubungan di dunia ini padahal sesungguhnya keterhubungan itu tidak pernah ada. Begitu pula sebaliknya. Ada pula anomali dan kekacauan. Kemarin terhubung, besok putus. Vice versa.

Jangan percaya common sense. Jangan berharap padanya. Karena dia bukan Tuhan. Itu tidak pernah bisa jadi Tuhan.

MEMOAR
Dan Tuhan menciptakan. Lalu apa? Menyaksikan mahluk ciptaanNYA berjuang, menyakiti dan merusak? Membantu mahluknya yang lemah tak berdaya dan menghukum yang kuat menganiaya? Untuk apa? Menunjukkan kekuasaanNYA? Menguji umatNYA? Buat apa? Tanpa ada manusia pun, Tuhan sudah Maha Agung. Tidak ada semesta pun, Tuhan sejak dulu Maha Kuasa.

Manusia ataupun alam semesta tidak akan pernah bisa memenuhi kategori Tuhan yang seperti dijelaskan pada awal memoar. Monisme yang menyatakan bahwa Tuhan ada dan menyatu dalam mahluk, terlalu lemah untuk menjadi Tuhan. Tapi yang terlalu hebat juga, jadi sulit dibayangkan.

Jumat, 13 November 2009

Destroy Humanity Tomorrow

Kau bercerita tentang kemanusiaan. Seolah kemanusiaan itu pernah ada. Kukatakan padamu, kemanusiaan tidak ada.

Kamu manusia tidak pernah punya kemanusiaan. Kalian bodoh bicara tentang kemanusiaan, karena sebenarnya tidak ada bedanya manusia dengan binatang. Sama jahatnya, mirip beringasnya, tidak beda rakusnya. Jadi hentikan saja semua ocehan bodoh itu. Kemanusian itu sampah.

Kamis, 12 November 2009

Lakukan Saja

Orang yang suka berdebat dan mempelajari logika meski hanya sekelumit, akan senang hati menjebak dan mendebatmu dengan pertanyaan ontologis tentang, kenapa kamu melakukan sesuatu? Apa alasannya? Jika kamu tidak menjawabnya entah karena tidak tahu, sakit gigi atau lagi malas saja, dengan senyum licik menghiasi wajah sok filosofis, dia akan menceramahimu panjang lebar tentang hakikat manusia, alasan penciptaan, upaya penggunaan akal secara optimal dan banyak teorema lain yang sebenarnya tidak harus mengisi sejumlah tempat kosong di otakmu.

Kamu bisa mengabaikan semua pertanyaan itu. Sepertihalnya mengabaikan tulisan ini.

Kita manusia punya kebebasan bertindak dan berpikir. Terserah kamu mau berbuat apa saja, dengan atau tanpa alasan, disadari, tidak disadari. Lakukan saja semaumu.

Terserah dirimu mau bebas ke mana saja. Terserah kamu juga memilih untuk diperintah dan terpenjara. Terserah Anda tidak memikirkan semua itu.

Lakukan saja. Selama itu berasal dari dirimu sendiri.

Otherside

If there are a lot of people hate you because of your ability, intelegence, handsome, attraction or anything good sake of you, don't worry. There will be another bunch of humans in the other side of the world could like that.

Keep your weird as your normality. Be proud of that. Sometime normal is abnormal.

Last N€sc@f€, Last Plastic

I did it again. Bought something in plastic packet. By doing that, i've made a further effort for destructing my own planet. What a fool action.

Soon or later, i'll die, then newborn or something will replace me on this planet. It's the certainty i couldn't change. I don't want leave my planet with some ruins because of my plastic rubish.

This is the last Nesc@f€. After this, there is no another plastic for my stomach. Love your planet.

Sudah terlampau banyak sampah yang dihasilkan. Begitu banyak penderitaan yang mungkin menanti karenanya. Tidak boleh lagi menambah tumpukan sampah baru. Planet ini sudah cukup meradang akibat kegilaan manusia. Kopi yang diminum hari ini harus menjadi sampah plastik terakhir yang dihasilkan untuk kesenangan organ penuh otot penghasil asam di abdomen. Kalau tidak jadi yang terakhir, anggap saja sebagai langkah awal demi kehidupan yang lebih baik.

Manusia tak selamanya hidup, namun kehancuran yang dihasilkannya senantiasa hidup sebagai sebuah tarian mematikan tanpa garis akhir yang jelas. Mungkin kiamat akan menunjukan garis itu. Entah kapan itu.

Hentikan penggunaan plastik.

Rabu, 11 November 2009

If you hate to hear a voice from something. Otherwise, kill the voice, just hear it and kill everyone around you.

Minggu, 08 November 2009

Kepanasan dan Efeknya: Perspektif Mental

Jangan pernah dekati seseorang yang tengah kepanasan karena konspirasi suhu, kelembaban dan suasana hati. Orang yang dalam keadaan seperti itu bisa menerkam siapa saja yang coba mendekat. Rasio orang semacam ini, dikaburkan oleh insting pertahanan diri paling rendah, sehingga satu-satunya kesimpulan yang dapat ditarik atas semua pengindraannya adalah apapun yang mengusik, hancurkan.

Seperti anjing gila di stadium paling gila, orang yang panas karena faktor fisik dan mental, akan meraung-raung, menggonggongkan segala keluhan, dari yang paling sepele seperti ketombe, hingga hal yang lebih mendasar, panas. Ini mungkin sangat mengganggu, tapi sekali lagi, perlu dicamkan, jangan mengusik. Potensi dekstruktifnya bila diusik lebih mengancam jiwa dibanding rongrongan keluhannya yang bisa bikin tuli konduktif.

Berteman dengan orang yang sering kepanasan adalah ujian kesabaran. Jika bisa melaluinya tanpa ikut-ikutan panas--kepanasan sangat menular, jadi, hati-hatilah--maka percaya saja, apapun cobaan mental yang menghadang, (mungkin) akan mudah diatasi. Percayalah. Kalaupun premis akhir, soal efek, sulit diterima, cobalah untuk percaya. Sekadar motivasi, agar sabar menghadapi orang yang kepanasan.

Sabtu, 07 November 2009

Tidak Harus Terwujud

Banyak sekali mimpi yang ingin diwujudkan manusia. Meskipun kadang impian-impian itu aneh dan tidak masuk akal, bisa jadi sepele dan tidak penting, atau luar biasa hingga nyaris omong kosong, manusia akan terus menambah perbendaharaan mimpinya. Entah karena itu memang harus diwujudkan atau hanya sekedar dijadikan impian tanpa perlu realisasi. Motivasi belaka. Toh, pada akhirnya kenyataan akan bercerita tentang impian-impian itu dengan caranya sendiri.

Karena itu bermimpi saja, beberapa tahun nanti kita bisa mengelilingi dunia, meraih hadiah Nobel, punya keluarga harmonis, jadi orang paling dermawan yang dengan entengnya menyumbang tanpa keluhan.
Memang terdengar omong kosong. Tapi itulah impian. Tidak butuh rasio untuk membenarkannya. Yakini saja.

Kita mungkin bukanlah orang-orang yang terlahir di dunia dalam kondisi yang memungkinkan untuk mewujudkan mimpi-mimpi liar. Mungkin, kita tidak akan pernah berkeliling dunia, memenangkan Nobel dalam kategori apapun, hidup sendiri hingga akhir hayat, selalu meradang saat berderma. Tapi tak perlu menyesali hal seperti itu selama perjuangan mencapai mimpi belum dimulai.

Walaupun kita bukanlah orang yang bisa mewujudkan semua mimpi, entah karena status sosial dan ekonomi yang memang tidak mendukung, penentangan dan pengkerdilan, tidak perlu ada penyesalan. Di luar sana, ada jutaan orang yang terpaksa lahir di daerah perang, tandus, suram, tidak bisa merayakan hidup seperti yang pernah kita lakukan. Tapi mereka tetap bermimpi, dan berjuang untuk mewujudkannya.

Percaya saja, impian yang belum terwujud akan menunggu waktu. Dan yang tidak terwujud, pasti punya pengganti, entah itu dari apa yang kita hirup, ataupun yang kita rasa.

Percaya saja, orang yang bermimpi lalu berani berjuang mengejarnya selalu punya hadiah yang menanti. Meskipun mungkin hadiahnya tidak sesuai harapan. Jangan pernah takut pada kecewa, sakit hati, marah, terhina dan terbuang karena perjuangan.

Bersyukur saja, tidak semua keinginan dapat terwujud.

Stop Crying Your Heart Out

Don't be scared. You'll never change what's been and gone. May your smile, shine on. Your destiny may keep you warm.

Because all the stars are fading away. Just try not to worry, you'll see them someday. Take what you need and be on your way and stop crying your heart out.

Don't worry about something we can't change.

Don't Look Back in Anger

Load up your gun and kill all creatures that have hurt you.

After that, look what you've done. Does your act heal your wounds?

There is no cure in anger. It just made another pain.

Never look back in anger. And stop chain of hatred.
Salah satu hal yang paling menjengkelkan di dunia ini adalah ketika harus membenci seseorang yang pantas untuk dibenci dengan kebencian paling hitam dan paling jahat, namun ternyata hal tersebut tidak bisa dilakukan karena terlalu banyak alasan yang mendasari.

Balaslah semua perbuatan orang lain dengan balasan yang setimpal atau lebih.

Hatred II

Ada yang bilang, balaslah kebencian dengan kebaikan. Itu salah. Terlalu lemah. Bodoh sekali. Kebencian harus dibalas dengan kebencian. Seperti halnya cinta harus dibalas cinta, maka kejahatan harus dibalas dengan kejahatan. Karena untuk menciptakan keadilan, harus ada yang dapat dipertukarkan. Omong kosong, pengorbanan yang tanpa motivasi pribadi. Bohong, perjuangan demi kepentingan bersama yang tidak dicemari keuntungan pribadi.

Banyak yang ragu memilih jalan ketika harus bersikap untuk menyikapi kemarahan. Ada yang memilih untuk melupakannya, ada juga yang terus menyimpannya. Jangan setengah-setengah dalam bersikap. Pilih salah satunya.

Kalau memilih untuk melupakan, jangan pernah lagi mengungkit semuanya. Kalau itu berkaitan dengan seorang individu, lupakan dia hingga tidak punya bekas. Jangan jadikan dia sebagai sesuatu dalam relasi, bukan kawan, bukan lawan, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Seolah dia tidak pernah ada di muka bumi ini. Tidak sedetik pun dalam fase hidupmu, ada peristiwa pertemuan dengannya.

Kalau memilih untuk benci. Maka nyalakan kebencian itu dengan api keabadian yang tak akan pernah padam hingga maut meniupnya. Suburkan dendam, hingga tidak ada satu bagian dalam hati, tunas kasihan dan akar maaf boleh tumbuh. Matikan semua kebaikan menujunya. Ucapkan kutukan di setiap do'a. Sumpah serapah dalam setiap hela nafas. Sabotase orang yang kau benci. Ingat semua kejahatan mereka lalu rusak mereka. Serang mereka. Kebencian dibalas dengan kebencian yang lebih besar.

Jadi, mau pilih yang mana? Kedua pilihan itu memang jahat. Tapi disakiti orang lain lebih jahat dari itu. Maka, pilihlah.


ingatan visual yang baik dan rasa cinta berlebihan bisa menyulitkan pilihan. Kadang, kita tidak harus memilih apapun.

Jumat, 06 November 2009

Hatred

Tidak butuh komentar untuk semua yang sudah kita lakukan. Apalagi perhatian, simpan saja itu untuk pakaianmu yang tidak pernah kau setrika.

Kita tidak butuh belas kasihan seperti yang dibutuhkan para pengemis di lampu merah. Lebih baik memeras dan menipu daripada harus meminta-minta. Itu memang jahat, tapi setidaknya dengan melakukannya, kita sudah punya usaha, ada sesuatu yang kita berdayakan, otak, akal, kreatifitas kita. Tapi sekali lagi, itu jahat. Tapi manusia memang jahat, kita manusia. Wajar kalau kita jahat. Our origin.

Tak perlu mengelak dari hal ini. Berapa banyak padi yang harus dibabat, ayam yang mesti digilas, sayur yang terpaksa dicerabuti, buah yang aborsi, hanya untuk memenuhi kebutuhan makanmu dalam sehari. Dan sampah plastik yang sebar di bumi, apa kamu mau bilang, itu semua baik? Memang baik, bagi kita.

Terima saja, kita jahat. Dan jangan sungkan melakukan kejahatan. Jangan sungkan menerimanya. Jangan sungkan dijahati manusia. Sudah fitrah. Jangan sedih karena mendapat kejahatan. Kamu bisa membalas. Dan balaslah dengan kejahatan yang lebih besar, jangan ragu dan takut terjebak lingkaran setan balas dendam. Manusia sering melakukannya. Dan itu menyenangkan.

Bencilah semua orang kalau kamu mau. Itu memang jahat, tapi apa lagi yang bisa kau harapkan dari seorang manusia?
Apa yang mungkin dapat terjadi. Tak mungkin bagimu mengetahui. Apa yang pasti terpikirkan. Sulit untukmu memahaminya. Kamu itu penderita agnosia parah. Tidak ada masa depan bagi orang sepertimu. Terima itu.

Mengamuk saja kalau kau bisa. Kamu juga tidak bakal mengerti apa yang harus diamuk.

Manusia, kamu bukan mahluk seperti itu. Terlalu banyak yang kamu tidak ketahui tentang mereka. Licik, manipulatif, munafik, kamu takkan mungkin seperti mereka. Tidak akan pernah bisa.

Agnosia selalu bodoh. Kamu bahkan tidak tahu apa yang otakmu sedang pikirkan.

Rabu, 04 November 2009

Writing to Reach You

Every day I wake up and it's Sunday
Whatever's in my eye won't go away
The radio is playing all the usual
And what's a Wonderwall anyway
Because my inside is outside
My right side's on my left side
Cause I'm writing to reach you now
but I might never reach you
Only want to teach you
About you
But that's not you

Maybe then tomorrow will be Monday
And whatever's in my eye should go away
But still the radio is playing all the usual

Selasa, 03 November 2009

KPK vs Polisi? Tak Peduli?

Kasus KPK VS Polisi, mulai punya efek menjengkelkan. Hanya karena tidak mau tahu hal yang berkaitan dengan kasus setan itu dan tidak ikut aksi, orang-orang yang sok tahu masalah dan sok simpati dengan seenaknya menvonis tidak nasionalis. Masa bodoh dengan tuduhan tak berdasar seperti itu. Kita semua punya urusan dan kesibukan masing-masing. Persoalan hukum punya dunia yang paralel dan jarang menyentuh urusan mencari makan orang kecil, membuat tugas mahasiswa dan semua masalah sepele lainnya. Buat apa mengurusi KPK VS Polisi? Sudah ada orang-orang yang berwenang untuk mengurusinya.
Buang-buang waktu saja. Lagian mereka yang terlibat dalam kasus itu tidak peduli pada mahasiswa yang lagi bersusah payah dengan tugasnya.

Kebebasan kita untuk memilih mana yang pantas dipikirkan. Tidak ada yang bisa mencurinya.

Kalau semua orang bisa mengurusi dirinya sesuai dengan hukum yang berlaku, tidak bakal ada kasus seperti itu.

Kasus aneh.
Kenapa harus masuk di kepala? Buang-buang memori.

Tidak Perlu Dibaca

Di dunia ini, ada begitu banyak tulisan dan buku. Untung saja Tuhan tidak pernah memaksa kita membaca semuanya.

Saat ini, semua orang ingin diperhatikan, jadi wajar saja banyak manusia yang otaknya tiba-tiba selalu kreatif dan tidak beres tiap kali OL. Status FB dan Friendster dibuat aneh-aneh. Note MP dan Twitter ditulis eksentrik. Isi blog dibuat semarak. Pokoknya apapun dilakukan untuk mendapat perhatian. That's stupid.

Semua orang nampaknya terjebak pada paradigma bahwa jejaring sosial dibuat untuk berbagi segalanya. Bahkan kejelekan dan aib pun dibagi demi mendapat perhatian. Fool.

You don't have to read everything that you want.
Because in many case, they don't have any worth.
You have choices to ignore or delete them.

Never flood your thought with craps.

Senin, 02 November 2009

Brengsek

Di mana bumi dipijak, di situ orang brengsek bersemayam. Kalau bukan orang lain, pasti kamu yang brengsek. Harus ada yang berperan jadi orang brengsek, untuk kedamaian dunia.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...