Kamis, 23 September 2010

After Peak 2

After deschooling, what? Pertanyaan ini pernah ditanyakan salah seorang ahli dekonstruksionisme setelah berhasil mencapai tujuannya dalam menelanjangi kebobrokan sistem persekolahan dan pembentukan institusi yang selama ini membunuh kreativitas dan inovasi. Dan Ivan Illich, Si Pembuat pertanyaan,  tidak berniat menerima jawaban pasti atas pertanyaan itu.

Ivan Illich.

Jumat, 17 September 2010

Mendadak

Sebuah panggilan asing membuyarkan waktu bersantaiku di pagi hari, "Sky, cepat datang, namamu dipanggil!!!".
"Datang ke mana?" tanyaku (masih malas bergerak setelah mengirim sms ucapan selamat ke semua teman yang mau wisuda)
"Ke Yudisium, sekarang!!" Suara di seberang sana makin meninggi.
"Kenapa bisa? Nilai KKNku masih ditunda." Masih nyantai.
"Ya, sudah kalau ndak mau. Tapi u ndak bakal bisa wisuda bulan ini kalau ndak ikut yudisium sekarang." Yang di seberang sana mulai nyantai juga setelah mengatakan kata kunci wisuda.

Dan situasi berbalik, sekarang saya yang panik. "Apa saja yang harus dipakai buat yudisium? Jam berapa mulainya? Di mana?"

Suara manusia di seberang berubah jadi,"tiiit...tiiit...tiiit" putus.

"Sanggara", umpatku sambil melihat layar hp. Wow... puluhan sms masuk, isinya sama, Datang ke Yudisum sekarang juga, pakai jas putih dan celana hitam. Di ruang senat jam 8 pagi.

Dan saat itu jam hp menunjukkan pukul 8.45 pagi. Hebat.

Solusi untuk masalah ini, memalak semua anak pondokan yang kemungkinan punya celana hitam. Dan saya mendapatkan dari seorang teman pondokan. Celana hitam itu bagus, hanya resletingnya yang tidak berfungsi. Kujahit.

Pukul 9 berlari ke ruang senat, lalu masuk ruangan seperti seorang pahlawan yang telah dinanti-nanti.


Mendadak yudisium.

Hingga sekarang masih bingung. Nilai KKN-ku yang ditunda itu sekarang bagaimana? (Laporan Kecamatan Binamu sampai sekrang belum dikumpul)

Senin, 13 September 2010

Idol

Saya tidak pernah mengerti psikologi seorang pengagum. Mencoba membayangkan cara berpikir mereka, merasakan liukan desiran perasaan yang menggebu ketika memuja manusia lain dengan puja-puji yang melangit. Sungguh, hingga kini aku tak pernah mampu memahami golongan orang-orang seperti itu.

Kamis, 09 September 2010

Find New Fitri

Ini bukan tentang menggunakan pakaian baru ataupun berkumpul dengan keluarga dan teman-teman dekat sebab hal-hal macam itu dapat dilakukan di bulan-bulan yang lain. Ini tidak juga berhubungan penghapusan dosa dan ritual ibadah karena untuk hal seperti itu sudah ada yang mengurusnya di atas sana.

Serangkaian kegiatan yang kita lakukan selama sebulan ini semestinya lebih dari sekadar upaya seremonial dan penyucian rohani belaka. Karena aksi-aksi macam itu tidak memberikan perubahan eksplisit dalam usaha memakmurkan alam semesta, bahkan parahnya, kalau pun ada perubahan implisit, sedikit pun itu tidak memberi andil yang berarti dalam perbaikan ranah sosial dunia.

Memangnya kenapa kalau kamu sudah mengkhatamkan kitab suci berulang-ulang selama sebulan, beribadah malam saat suntuk-suntuknya subuh, dan berdzikir dengan jumlah tak terhitung banyaknya. Memangnya kenapa kalau kamu sudah melakukan semua itu? Apa dengan semua tindakan itu kamu sudah merasa suci? Merasa tak berdosa lagi? Merasa lepas dari tanggung jawab memperbaiki masyarakat?

Kalau kamu memang merasa itu semua sudah cukup bagimu, kita berselisih jalan, kawan. Kudo'akan semoga kau bahagia dengan rutinitasmu yang itu-itu saja setiap tahun. Semoga saja Tuhan yang telah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi ini, merahmatimu.

Hanya saja, kuharap kau mau menyadari hal ini, ibadah bukan hanya soal ritual simbolis belaka yang berfungsi untuk mencerahkan jiwa, mengenyangkan rohani. Ibadah adalah perintah Tuhan pada manusia untuk melaksanakan aksi nyata agar tercipta perbaikan bagi umat manusia. Jutaan bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang hanya diisi penggemukan rohani belaka tidak akan mengubah apapun, itu pendapatku, entah apa kata Nabi dan sahabatnya.

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf atas semua kesalahan diksi, tata bahasa, plagiat dan keberpihakan yang senantiasa tersaji di blog ini.

Senin, 06 September 2010

Mudik

Bagi beberapa orang, mudik adalah hal yang menyenangkan. Darinya, humor dan keceriaan selalu tersaji di kapal laut, pesawat, kereta, motor dan mobil, seperti bumbu bubuk yang selalu ada, menemani mie instan dalam kemasan. Hanya mie gagal produksi dan mie basah yang tidak memilikinya. Dan selamat untuk diriku, karena sepertinya, dalam hampir setiap kali mudik, akulah yang selalu menjadi mie basahnya.

Bukannya aku tidak senang mendapat kesempatan bertemu sanak keluarga di kampung halaman. Ketidakbahagiaanku dalam peristiwa mudik lebih dikarenakan oleh kejengkelan tak berujung pada pemerintah yang hingga detik ini tidak juga mampu mengurusi sarana angkutan dan transportasi umum. Tiap tahun, gambaran mudik tidak pernah jauh dari kondisi macet, sumpek, dan desak-desakan. Mudik lebih menyerupai ajang pertarungan para gladiator di Mouseleum angkutan umum, hanya untuk sekedar memperebutkan tempat duduk. Makian, hinaan dan amarah adalah hal yang lumrah. Itulah kenapa saya malas mudik saat puasa, takut tidak berberkah.

Jangan pernah mengharapkan suasana mudik yang nyaman ketika menggunakan angkutan umum, terutama angkutan umum yang dikelola pemerintah. Itu seperti mengharap, semua koruptor Indonesia mengaku bersalah secara sukarela lalu mengembalikan setiap sen uang yang telah dirampoknya.

Entah apa yang salah dengan manajemen angkutan umum di negara ini. Saya menduga, kesalahan itu terletak pada sistem peraturan, aparat, dan manajemen yang amburadul. Karena kejadian seperti ini tidak terjadi sekali, dua kali, tapi sudah jadi kelaziman, nyaris menyerupai hukum alam. Saya heran, mengapa sampai sekarang pemerintah yang tiap tahun mengambil uang dari rakyat melalui inflasi dan pajak, tidak juga berhasil mengatasi masalah transportasi. Padahal kalau semua kejengkelan rakyat yang bersumber dari masalah transportasi saja diakumulasikan dalam bentuk ledakan, itu sudah cukup untuk meledakan beberapa buah gedung setara Empire State Builiding. Sayangnya, rakyat kita terlalu gampang melupakan, terlalu mudah memaafkan semua kebobrokan dan salah pengurusan negara.

Semua kepedihan dan kesengsaraan yang ditemukan di angkutan umum milik pemerintah seperti calo yang mengganas, sampah yang menggila, panas yang membakar dan keamanan yang tidak menentu lenyap begitu saja ketika mereka sudah sampai di rumah. Nampaknya doktrin memaafkan kesalahan orang lain adalah yang terbaik, tertanam begitu kuat dalam sanubari tiap orang di bangsa ini, bahkan untuk kesalahan bodoh yang sama.

Solitaire Poem

Kekasihku,
izinkan aku memanggilmu seperti itu.
Meskipun tidak pernah terlihat kasih di antara kita saat kebersamaan masih terbit.
Walaupun tak pernah ada kesepakatan untuk menggunakan panggilan seperti itu, yang mungkin dapat membuatmu risih.
Tapi untuk kali ini saja,
izinkan aku memanggilmu kekasih.
Karena mungkin saja, setelah hari ini, semua rasa kasihku padamu yang tidak pernah menyeruak dalam tindakan, akan sirna ditelan rasa-rasa lain.

Solitaire

Saat postingan ini ditulis, pemilik blog, Skydrugz, sedang dalam perjalanan mudik kembali ke Pulau Muna.

Sabtu, 04 September 2010

Kelainan Pertumbuhan & Perkembangan Gigi

Ada banyak jenis kelainan pada gigi dan mulut. Saking banyaknya, sampai-sampai harus ada Fakultas Kedokteran Gigi yang didirikan otonom, terpisah dari Fakultas Kedokteran.

Kelainan pertumbuhan dan perkembangan gigi merupakan salah satu macam kelainan yang sering ditemukan. Pada umumnya, kelainan tersebut disebabkan oleh faktor herediter (keturunan), gangguan perkembangan, dan gangguan metabolik. Kelainan pertumbuhan dan perkembangan gigi diklasifikasikan menjadi:
1. Kelainan jumlah gigi
2. Kelainan bentuk gigi
3. Kelainan warna gigi
4. Kelainan struktur jaringan gigi
5. Kelainan erupsi gigi
6. Kelainan ukuran gigi.

Pada prinsipnya, semua kelainan di atas tidak perlu diterapi, kecuali ada keluhan gangguan fungsi ataupun estetika (akibat termakan jargon cantik/ganteng ala iklan pasta gigi).

Berikut adalah pembahasannya secara singkat:

1. Kelainan jumlah gigi
Disebabkan gangguan selama proses inisiasi ketika terjadi perkembangan lamina dental dan tahap tunas. Kelainan ini bersifat herediter.

Supernumerary teeth:
bentuk gigi tambahan di antara dua gigi dengan bentuk dan ukuran tidak normal

Anodontia:
tidak berkembangnya sebagian atau seluruh gigi. Anodontia ada yang sifatnya total yakni tidak ada sama sekali gigi pada rahang. Dan ada juga yang sifatnya parsial yakni masih terdapat sejumlah gigi pada rahang. Gigi yang sering mengalami anodontia parsial adalah gigi seri (incicivus) lateral atas, molar (geraham belakang) tiga atas dan bawah, dan premolar (geraham depan) dua bawah.

2. Kelainan Bentuk Gigi

Rabu, 01 September 2010

Ekonomi yang Kukenal

Akhir-akhir ini topik ekonomi begitu menarik perhatianku. Baru saya sadari kalau ekonomi ternyata cukup menarik juga untuk diperbincangkan. Situs seperti www.akaldankehendak.com, Ekonomi Orang Waras dan Investasi (yang saya temukan secara tak sengaja waktu lagi suntuk saat KKN di Jeneponto) lalu sejumlah buku tentang ekonomi dan ideologi (yang kubaca sambil lalu saja karena kata-kata teksbuk yang njelimet) telah memberikan wawasan baru serta pencerahan yang membuatku bisa melihat dengan cara berbeda sejumlah isu ekonomi di masa lalu dan sekarang.

Melalui sejumlah referensi di atas tadi terutama 2 situs yang disebut pertama, saya bisa memahami kebobrokan sistem uang fiat, serta sejumlah kebijakan yang selama ini menjadi akar kemorat-maritan ekonomi negara kita. Dan "parahnya", kedua situs itu membuatku bersimpati pada kapitalisme dan upaya-upaya untuk menjauhkan pemerintah dari ranah privat warga negara.

Sedangkan buku-buku sosial demokrasi memberikan perspektif yang lain yang berkaitan dengan bahaya kebebasan yang tak terkontrol, sebagai implikasi dari upaya melepaskan pemerintah dari individu.

Berikut ini adalah tulisan yang dibuat berdasarkan refleksi dari banyak sumber acuan tadi. Yang pasti ini hanya pemaparan dangkal dari seorang mahasiswa non-ekonomi, mengenai ekonomi yang diketahuinya. Mohon maaf kalau banyak konsep yang keliru.


Ekonomi Pasar yang Bebas

Terdapat jutaan keputusan ekonomi yang harus dibuat setiap hari seperti berapa jumlah barang yang harus diproduksi? Apa saja yang harus diproduksi? Di mana harus diproduksi? Dijual pada siapa saja? Dan lain-lain. Adalah hal yang luar biasa rumitnya kalau keputusan-keputusan itu dibuat oleh pemerintah saja. Bayangkan sebuah negara yang mengurusi barang dan jasa apa saja yang harus diproduksi, mengatur berapa penghasilan penduduknya dan segala tetek bengek lainnya. Bukannya keteraturan yang didapat, malah situasi macam itu justru menimbulkan kebobrokan baru. Sungguh mustahil jika pemerintah yang terdiri atas segolongan orang yang merasa dirinya berkuasa, akan mampu mengatur dan mengatasi jutaan masalah lain yang ada di masyarakat. Betul-betul mimpi di siang bolong kalau masih ada orang yang berpikir bahwa pemerintah dan segala aturannya akan menjadi penyelamat rakyat.

Keputusan-keputusan dasar ekonomi tidak seharusnya dibuat oleh negara, malahan haram hukumnya. Keputusan ekonomi dasar hanya boleh diputuskan oleh orang yang memang mengetahuinya dan terlibat langsung di dalam proses ekonomi. Saya, kamu, dan mereka yang setiap hari bekerja, berproduksi dan bertransaksi adalah agen-agen yang berhak menentukan-apa yang akan diproduksi atau dibeli.

Seluruh kegiatan ekonomi diorganisasikan dalam pasar. Di situ terjadi pertemuan penjual dan pembeli, dengan kata lain permintaan dan penawaran bertemu. Pertemuan inilah yang menentukan harga. Harga menjadi indikator penting dalam sebuah ekonomi pasar; yang paling penting, harga memberi informasi mengenai barang dan layanan mana yang dibutuhkan. (Jadi sebetulnya, aneh kalau pemerintah sampai mau ikut campur dalam penentuan harga komoditas. Karena pemerintah bukanlah agen ekonomi, seperti halnya penjual dan pembeli yang memiliki properti untuk diperjual belikan. Semua yang dimiliki pemerintah berasal dari hasil pemalakan terhadap rakyat melalui pajak dan inflasi yang terpaksa dijalani, bukan dari proses ekonomi pasar atas dasar kesukarelaan).

Pelaku dalam ekonomi pasar selalu berusaha memperoleh keuntungan, dan keuntungan itu tidak mesti diukur dalam bentuk uang. Dan hampir semua pelaku pasar mengetahui cara baik untuk memperolehnya berdasarkan informasi dan kesempatan-kesempatan yang ada di sekitarnya. Semua berkompetisi satu sama lain memanfaatkan info dan kesempatan yang ada untuk menjadi yang terbaik. Sudah menjadi sebuah kecenderungan umum bahwa manusia akan mencari jalan yang paling ringan untuk mencapai tujuannya, sehingga sebuah sistem ekonomi pasar yang digerakan oleh tiap individu bisa menjadi sistem ekonomi yang mampu mengalokasikan sumber daya secara efisien.

Di Mana Peran Negara?

Negara yang sejak awal merupakan segelintir rakyat yang diberi amanah untuk mengurusi rakyat lain, sudah semestinya bertugas untuk menyediakan infrastruktur dasar yang dapat menunjang pasar seperti fasilitas jalan dan keamanan. Sejak awal harus ditekankan bahwa, negara bukanlah suatu badan penghasil profit. Setiap orang yang terlibat dalam penyelenggaraan negara benar-benar harus mendedikasikan hidupnya untuk mendukung keberlangsungan pasar sebagai imbal balik kekuasaan mereka mengatur-atur rakyat. Negara harus menjamin fasilitas dasar seperti listrik, air dan kesehatan. Negara juga harus menjamin bahwa rakyat menikmati pendidikan dasar. Negara mesti memastikan rakyat memiliki kebebasan bertindak dan mengurus harta benda sendiri. Selain itu negara juga harus menjamin adanya kompetisi yang memadai. Lebih jauh lagi, negara harus memperhatikan rakyat yang tidak dapat berpartisipasi dalam proses pasar karena sakit, tidak mendapatkan pekerjaan atau terlalu tua. Untuk kelompok orang-orang ini, negara harus menawarkan beberapa sistem jaring pengaman sosial, dalam bentuk asuransi atau sistem kompensasi. Satu hal yang perlu ditekankan lagi, bahwa negara tidak boleh menjadi badan profit, memperkaya penyelenggaranya saja, karena tugas negara adalah memastikan rakyat mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjadi makmur.

Sebuah negara harus menyediakan kerangka kerja hukum dasar untuk melindungi hak dan menentukan kewajiban rakyat, meredam beberapa kesulitan dan membiarkan pasar berjalan di bawah arahan tangan-tangan tak terlihat (invisible hand).

Sayangnya di negara kita keidealan seperti itu masih sulit ditemukan. Penyelenggara negara ini kebanyakan disibukkan oleh pertikaian antara legislatif dan eksekutif, kasus moralitas penyelenggaranya, perselingkuhan kekuasaan, dan upaya-upaya pemenuhan kepentingan serta profit partai pengusung parlemen.

Kebebasan yang Sebebasnya?

Seperti yang sudah dipaparkan di atas, untuk terlibat dalam upaya ekonomi, setiap individu harus memiliki kebebasan bertindak dan jaminan perlindungan dari negara. Individu diperbolehkan memanfaatkan semua yang dimilikinya entah itu kertas, batu, kain atau pun keterampilan untuk memperoleh keuntungan.

Yang jadi masalah kemudian adalah bagaimana seandainya ada orang yang tidak memiliki modal untuk berusaha? Tidak ada batu, kain, keterampilan atau hal lainnya. Maka mau tak mau, orang itu harus bekerja pada orang lain yang memiliki modal agar bisa memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam situasi itu, implikasi kebebasan tiap individu, yakni bisa berbuat apapun untuk memperoleh keuntungan, dapat berujung pada eksploitasi individu lain. Maka orang-orang yang terpaksa bekerja pada orang lain karena tidak punya modal bisa saja diminta bekerja tanpa henti atau dibayar dengan upah kecil. Si Pemilik Modal sudah mendapatkan kebebasannya untuk bertindak, bagaimana dengan kebebasan pekerjanya yang sudah dieksploitasi?

Nah, di sini lah peran pemerintah untuk menjamin bahwa kebebasan seseorang tidak boleh menyabotase kebebasan orang lain. Kepemilikan modal mengandung implikasi sosial untuk berbagi. Sebagai contoh, jika seseorang memiliki perusahaan motor, maka pemerintah ataupun pemilik modal dengan kesadaran sendiri harus memastikan telah memberikan hak pekerjanya. Biasanya pemerintah bertindak lebih jauh dengan memalak si Pemilik modal dengan pajak. Dan memanfaatkan pajak itu untuk upaya produktif lainnya. Namun kenyataannya, tidak selalu begitu, pemerintah kadang mengalokasikannya untuk kepentingan mereka sendiri. Kalau sudah korup seperti ini pemerintah lebih menyerupai perampok.

Penutup
Sebatas itu saja yang kuketahui tentang ekonomi. :D
Saya masih perlu banyak membaca lagi. :D
Menentukan model ekonomi yang tepat untuk suatu negara adalah hal yang rumit. Karena benturan antara kebebasan individu, implikasi sosial serta kekuasaan negara selalu memberikan tantangan tersendiri dalam menerapkan model ekonomi yang baku. Kita hanya bisa berharap, negara kita bisa memakmurkan rakyat (meskipun hingga saat ini, saya tidak bisa meyakininya kalau melihat keadaan sekarang).

Nb:
Sampai di situ gambaran umum ekonomi yang kukenal. Tulisan macam di atas mungkin sudah sering ditemukan dalam banyak literatur. Tapi secara umum dapat kukatakan, pemberdayaan individu serta perbaikan tata dan aparat pemerintahan selalu menjadi kesimpulan umum yang kutangkap. (ada sih beberapa tulisan yang menawarkan solusi jauhkan pemerintah sejauh-jauhnya)

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...