Sabtu, 17 September 2011

Refarat Chancroid

ETIOLOGI
Chancroid disebabkan oleh bakteri gram negatif Haemophilus ducreyi. Bakteri ini merupakan bakteri berbentuk batang pendek, ramping, dengan ujung membulat (coccobasilus), anaerob fakultatif, non-motile, tidak membentuk spora, mereduksi nitrat menjadi nitrit, dan berukuran sekitar 1,5 μm (panjang) da 0,2 μm (lebar). Basil seringkali berkelompok, berderet membentuk rantai (Streptobacillus) pada pewarnaan Gram.
(buku kulit merah, habif, adrew, Rook, Holmes, Filtzpatrick, Bolognia, ABC of STD, pediatric dermatology, jurnal IJDVL, jurnal tropical medicine series, Bolognia, pediatric dermatology, tropical dermatology, Tropical dermatopathology)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Adapun pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosis chancroid adalah :
•    Pemeriksaan gram (Gram stain). Spesimen diambil dari apusan eksudat ulkus. Eksudat diperoleh dari dasar ulkus dengan cotton swab. dapat memperlihatkan  basil gram negatif, pendek, berantai, yang disebut dengan tampilan “school of fish”, namun, H. ducreyi sulit dilihat pada apusan gram dan spesimennya sering mengalami kontaminasi polimikrobial. Sensitivitas metode ini < 50%.
•    Metode kultur. Ini merupakan metode diagnostik yang paling baik. H. ducreyi tidak dapat dibiakkan pada medium rutin. Akan tetapi, dapat dibiakkan pada media khusus yakni media yang diperkaya gonococcal agar dan Mueller-Hinton chocolate agar atau  Mueller-Hinton agar dibagian dasar, kemudian dibagian atasnya ditambah dengan chocolate horse blood and isovitale X (MH-HBC). Selain itu, pada media ini ditambahkan vancomycin hydrochlorida untuk menghambat pertumbuhan yang berlebihan dari bakteri kontaminan. Organisme ini paling baik tumbuh pada suhu 33 oC – 35 oC dengan kelembaban tinggi. Koloni-koloninya berwarna kuning keabu-abuan dan nonmukoid. Sensitivitas metode kultur adalah < 80 %.
•    PCR. Ini adalah tes diagnostik yang mempunyai sensibilitas dan spesifisitas paling tinggi. Teknik PCR ini disebut juga dengan M-PCR (multiplex polymerase chain reaction) yang melibatkan penambahan pasangan primer multipel ke campuan reaksi dalam rangka memperbanyak sekuans DNA dari bahan lesi. PCR dianggap merupakan tes gold-standar untuk diagnosis chancroid, hanya saja harganya mahal dan tidak tersedia secara komersil.
•    Antigen detection assay (Immunofluorescence)
a.    Deteksi antibodi monoklonal (MAb) terhadap outer membrane protein (OMP) 29 kDa dari H. ducreyi. Metode ini sederhana, cepat, dan sensitif tapi tidak kurang tersedia pada negara-negara berkembang.
b.    Indirect IF, dengan menggunakan MAb terhadap lipooligosakarida (LOS) H. ducreyi, dan lebih superior dari kultur bakteri. Ini merupakan metode yang baik yang digunakan pada populasi dengan prevalensi chancroid yang tinggi.
•    Tes serologis
a.    Enzyme immuno assay (EIA) : Dengan menggunakan seluruh antigen sel, LOS yang telah dimurnikan atau OMP H. ducreyi sebagai antigen.
b.    DOT Immunoblot
c.    Compliment fixation test
•    Biopsi jaringan
Biposi jaringan yang dilanjutkan dengan pemeriksaan histopatologis mungkin membantu dalam mendiagnosis ulkus-ulkus atipik atau ulkus yang tidak sembuh-sembuh.
Pada pemeriksaan histolopatologis pada ulkus menunjukkan tampilan 3 zona yang berbeda :
a.    Zona A : Atau daerah superfisial pada dasar ulkus, merupakan suatu zona sempit yang mengandung jaringan nekrotik, fibrin, dan neutrofil.
b.    Zona B : Atau daerah tengah, merupakan zona luas yang mengandung banyak kapiler yang berproliferasi, sel-sel plasma, dan neutrofil, beberapa pembuluh darah ini mungkin menunjukkan trombi.
c.    Zona C : Atau daerah sebelah dalam, terdiri dari pita padat yang meruipakan sel-sel plasma dan limfosit.
(buku kulit merah, Tropical dermatology, Andrew, Pediatric dermatology, clinical dermatology, ABC of STD, Habif, Bolognia, jurnal IJDVL, jurnal tropical medicine series)













Diagnosis Banding
    Herpes simpleks
    Sifilis primer atau Ulkus durum
    Limfogranuloma venereum
     Granuloma inguinale
Tabel 1. Perbedaan ulkus durum & ulkus molle














Tabel 2. Perbedaan chancroid, granuloma inguinale, limfogranuloma venereum, sifilis primer, dan herpes simpleks



















KOMPLIKASI
1. Mixed chancre
    Ulkus molle dan sifilis stadium I. Awalnya lesinya khas ulkus molle, setelah 15 – 20 hari bermanifestasi sebagai lesi campuran.
2. Abses kelenjar inguinal
    Ini juga disebut inflammatory bubo, merupakan komplikasi terbanyak.
    Kelenjar getah bening membesar, warna kulit di atasnya kemerahan dan berfluktuasi. Bila abses kelenjar inguinal tidak diobati secara adekuat, abses akan pecah dan menimbulkan sinus yang meluas menjadi ulkus dan disebut ulserasi chancroid. Ulkus ini kemudian akan membesar yang disebut giant chancroid.
3. Balanitis, fimosis dan parafimosis
    Merupakan komplikasi yang serius. Terutama terjadi pada individu yang tidak disirkumsisi. Komplikasi ini  terjadi akibat ulkus molle yang mengenai prepusium.
    Prepusium menjadi bengkak, merah, edematous, dan sangat nyeri.
4. Fistula uretra
    Kelainan ini terjadi akibat ulkus molle yang berlokasi pada glans penis dan bersifat destruktif. Kelainan ini menimbulkan rasa nyeri pada buang air kecil dan pada keadaan lanjut dapat terjadi striktura uretra.
5. Fuso spirokhetosis
    Kelainan ini terjadi akibat infeksi mikroorganisme lain, sehingga mengakibatkan ulkus cepat menjadi parah & bersifat destruktif. Ini disebut phagedena. Di samping itu, lesi terjadi bersama dengan limfogranuloma venereum maupun granuloma inguinale.
PROGNOSIS
Dengan pengobatan yang tepat, penyakit akan sembuh sempurna dalam waktu 2 minggu.

1 komentar:

arif mengatakan...

kykna hanya dipahami oleh anak kedokteran he3 :D

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut