Sabtu, 24 September 2011

Tubingen

Meskipun orang-orang selalu mengatakan ada banyak jalan menuju Roma, pada kenyataannya, hanya ada 1 jalan menuju ke sana, setapak obsesi. Itulah yang menjadi masalahku saat ini. Aku ingin ke Roma, meninggalkan Tubingen sialan ini. Namun hingga kini, setapak obsesi itu belum juga kutemukan. Terlalu banyak lorong dan perempatan jalan yang membuatku sulit menemukan setapak itu. Dulu kupikir hanya masalah waktu untuk menemukannya, tinggal mempelajari dan mencari informasi tentang Roma, maka setapak obsesi akan ketemu dengan sendirinya. Seperti yang terjadi pada temanku, Franke. Baru saja tahu sedikit tentang dunia malam sebulan yang lalu, tiba-tiba saja dia beralih profesi menjadi mucikari dan terobsesi mencari wanita untuk dijadikan pelacur dan om-om sebagai pelanggannya. Malah dia berencana mengekstensifikasi usahanya agar dapat dinikmati segala macam usia. Mulai dari kelompok usia anak-anak yang sudah mengenal beda morfologi alat tempur antara pria dan wanita, hingga kelompok usia yang sudah semestinya memesan peti mati. Sungguh beruntung, dia berhasil menemukan setapak itu meskipun harus melanggar banyak rambu. Mungkin penemuan setapak obsesi butuh lebih banyak pengorbanan. Kadang kita harus menanggalkan akal sehat untuk menemukannya.

Aku tak mau menanggalkan akal sehatku hanya untuk meninggalkan Tubingen sialan ini.

4 komentar:

Rawins mengatakan...

baru dengar sekarang kata tubingen
hehe

dhila13 mengatakan...

kapan mau ke Roma, sky? bareng yuk...

Asop mengatakan...

Tubingen itu kota di mana tho?? *bingung*

Setelah saya telusuri di google, Tubingen itu nama kota universitas di Jerman. :)

ndop mengatakan...

sama, dari tadi bingung apa itu tubingen..

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut