Kamis, 06 Oktober 2011

Aneurisma Kista Tulang

Editors: Frassica, Frank J.; Sponseller, Paul D.; Wilckens, John H.

Title: 5-Minute Orthopaedic Consult, 2nd Edition

ANEURISMA KISTA TULANG

Frank J. Frassica MD

DESKRIPSI

•    Lesi litik pada tulang yang merusak dan menyakitkan, biasa pada pasien berusia muda.

•    Dapat terjadi langsung di tulang (de novo) atau berkembang bersama lesi tulang yang jinak lainnya.

•    Dapat berkembang  agresif pada tempat lokal dan menyebabkan tulang seperti “balon”. Hal ini terjadi  sebagai akibat dari ekspansi kistik aneurismal

•    Paling sering terjadi di ujung proksimal tulang panjang dan 2 paling umum dalam kolom vertebral

•    Secara umum, dianggap lesi aktif atau lesi jinak yang agresif

•    Kekambuhan lokal terjadi hingga 50% pada anak-anak dengan physes terbuka.

EPIDEMIOLOGI

Aneurisma kista tulang dapat terjadi dalam setiap dekade kehidupan orang  dewasa, tetapi hampir 80% terjadi dalam dekade 2. Perbandingan pada pria dan wanita adalah sama.

INSIDEN

Aneurisma kista tulang jarang ditemukan.

FAKTOR RESIKO

Dapat berkembang bersama dengan tumor jinak tulang lainnya

PATOFISIOLOGI

•    Tampak seperti hemoragik yang terdiri dari kombinasi jaringan dan gumpalan darah yang lunak

•    Sering berwarna coklat karena adanya deposisi hemosiderin

•    Biasanya, di pinggiran lesi terdapat lapisan cangkang seperti tulang periosteal

•    Pada penampakan mikroskopis, tampaknya ada ruang kavernosa diisi dengan darah.

•    Dinding ruang mengandung sel-sel fibroblastik, sel-sel raksasa multinuklear, dan serpihan  tulang.

ETIOLOGI

Etiologi dari aneurisma kista tulang tidak diketahui secara pasti. Namun, hampir 1 / 2  kasus terjadi bersamaan dengan tumor jinak  yang lain. Hal ini mungkin merupakan kerusakan yang terjadi akibat reaksi tubuh terhadap tumor lainnya.

KEADAAN YANG MENYERTAI

Mungkin terjadi pada tumor-tumor tulang jinak lainnya atau proses:

•    Giant cell tumor

•    Chondroblastoma

•    Osteoblastoma

•    Displasia Fibrosa

GEJALA KLINIK

Nyeri (biasanya ringan dan intermiten) adalah gejala yang paling umum terjadi. Daerah yang terlibat mungkin terlihat bengkak. Pembengkakan akan cenderung meningkat sampai lesi diobati. Jika lesi terletak di kolom vertebral, dapat menyebabkan tanda dan gejala kompresi sumsum tulang belakang (yang dapat mengakibatkan kelemahan kaki, disfungsi usus atau kandung kemih).

PEMERIKSAAN FISIK

•    Inspeksi  dan palpasi untuk melihat adanya pembengkakan dan nyeri tekan.

•    Mengukur ROM.

•    Periksa defisit neurologis

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Radiografi

Radiografi polos menunjukkan perluasan tulang yang terkena tampak seperti “balon”. Tidak ada mineralisasi matriks pada lesi. Lesi yang paling sering terlihat adalah pada daerah metaphyseal dari tulang paha dan tibia, serta pada elemen-elemen posterior vertebra. Kadang  dapat terlihat seperti lingkaran sklerotik atau shell tulang periosteal sekitar lesi.

CT-Scan

Dapat digunakan untuk menilai lesi pada panggul atau kolumna vertebralis (lebih baik daripada radiografi). membantu untuk menilai secara cermat kehadiran pinggiran periosteal tulang sekitar lesi dan  menunjukkan jumlah cairan dalam lesi tersebut.

MRI

Memungkinkan penilaian yang lebih akurat dibandingkan CT Scan atau radiografi. Memungkinkan kuantifikasi ekspansi jaringan lunak. Pada  foto T2, tampak lesi memiliki tingkat sinyal yang tinggi, dan tampak tingkatan darah ( tingkatan cairan).

DIFERENSIAL DIAGNOSIS

Diferensial diagnosis aneurisma kita tulang berdasarkan pada lokasi tumor dan gejala sangatlah beragam.

Berdasarkan pemeriksaan  radiografi, diferensial diagnosis meliputi:

•    Kista unicameral tulang

•    Giant cell tumor

•    Osteosarcoma (tipe telangiektasis)

•    Osteoblastoma

•    Displasia fibrosa

Berdasarkan gambaran histologis, diferensial diagnosis  meliputi:

•    Giant cell tumor

•    Giant cell reparative granuloma

•    Simple bone cyst

•    Telangiectatic osteosarcoma

TERAPI

Pengobatan secara mum

Penanganan pada  aneurisma kista tulang dapat  digunakan jarum atau biopsi kemudian diikuti dengan eksisi,  kuretase, dan okulasi  tulang. Setelah  tulang sembuh, pasien dapat  kembali ke fungsi normal. Lesi dapat kambuh secara lokal, penanganannya ialah mengulang eksisi lesi. Kebanyakan pasien perlu membatasi aktivitas berat pada anggota tubuh yang terlibat selama waktu penyembuhan tulang. Setelah tulang sembuh, tidak ada keterbatasan pada aktivitas yang diperlukan.

Terapi khusus

Fisioterapi: Mungkin diperlukan untuk mengembalikan gerak sendi atau untuk membantu dalam pelatihan setelah operasi.

Bedah: Pengobatan aneurisma kista tulang  melibatkan eksisi kuretase, korteks yang  menggelembung,  kauterisasi kimia dari dinding kista, dan tulang grafting. Jika kista ini dalam tulang dibuang (tulang rusuk atau fibula),  reseksi lesi dapat dilakukan. Terapi radiasi harus digunakan ketika tidak dapat  dilakukan tindakan bedah.

PROGNOSIS

Dengan pengobatan modern, 95% pasien dapat sembuh dari lesi.Aneurisma kista tulang tidak diharapkan untuk bermetastasis kecuali transformasi maligna yang  jarang terjadi. Jika seorang pasien memiliki kekambuhan lokal, pengulangan eksisi bedah dapat dilakukan.

KOMPLIKASI

Komplikasi penatalaksanaan bedah sangat bervariasi, tetapi masalah yang paling umum terjadi setelah perawatan adalah  kekambuhan. Komplikasi bedah lainnya, seperti infeksi dan cedera neurologis atau pembuluh darah  terjadi dengan frekuensi rendah.

PEMANTAUAN PASIEN

Setelah pengobatan bedah, tindak lanjut yang rutin diperlukan untuk beberapa tahun ialah mengevaluasi penyembuhan tulang dan untuk mencari kekambuhan lokal dari lesi.

by Ondang

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut