Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...

Jumat, 21 Oktober 2011

Refarat Nutrisi Parenteral Pada Anak

NUTRISI PARENTERAL PADA ANAK

PENDAHULUAN

Nutrisi seperti halnya oksigen dan cairan senantiasa dibutuhkan oleh tubuh. Penderita yang tidak dapat makan atau tidak boleh makan harus tetap mendapat masukan nutrisi melalui cara enteral (pipa nasogastrik) atau cara parentral (intravena). Nutrisi parenteral tidak menggantikan fungsi alamiah usus, karena itu hanya merupakan jalan pintas sementara sampai usus berfungsi normal kembali.1

Tunjangan nutrisi memegang peranan penting pada perawatan anak sakit berat, karena sering dijumpai gangguan nutrisi sehubungan dengan meningkatnya metabolisme dan katabolisme. Gangguan nutrisi ini bahkan sudah terlihat pada saat permulaan sakitnya. Pollack, pada penyelidikannya 48 jam sesudah anak dirawat di bangsal perawatan intensif, menemukan malnutrisi-energi-protein (MEP) akut pada 16% kasus, cadangan protein menurun pada 20% kasus, cadangan lemak menurun pada 18% kasus dan kadar albumin serum menurun pada 60% kasus. Ganguan nutrisi ini akan mempengaruhi sistem imunitas, kardio-vaskuler dan respirasi, sehingga risiko infeksi meningkat, penyembuhan luka melambat dan lama rawat memanjang. Semua ini akan memperberat sakit anak, sehingga terbentuklah lingkaran setan, yang secara umum akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas.2

Tunjangan nutrisi berperan sebagai pemutus mata rantai lingkaran setan ini. Tunjangan nutrisi dapat diberikan secara parenteral, enteral, atau gabungan parenteral-enteral. Nutrisi parenteral berjangka pendek diberikan melalui kateter yang dimasukkan ke dalam vena perifer secara transkutan atau venous-cutdown/vc, sedangkan yang berjangka lama diberikan melalui vena sentral. Dalam melaksanakan tunjangan nutrisi, Ricour membaginya dalam 2 tahap, yaitu tahap inisial (sampai 3 hari pertama), dan tahap lanjutan. Tahap inisial merupakan masa adaptasi hormonal terhadap stres. Sekresi hormon antidiuretik, aldosteron, glucagon dan hormon pertumbuhan meningkat. Masa ini ditandai oleh retensi air dan natrium, katabolisme protein (terlihat nitrogen, ion hidrogen dan fosfat, diekskresikan melalui urin, bila fungsi ginjal baik), glikogenolisis dan neoglikogenesis (terlihat hiperglikemia dan glukosuria). Risiko pada fase ini ialah berlebih dan tidak terpakainya nutrisi yang diberikan. Pada masa ini belum dijumpai edema dan hipernatremia, koma hiperosmoler, diuresis osmotik dan asidosis (bila ginjal tidak berfungsi baik). Pencegahan risiko ini ialah dengan membatasi pemberian air, natrium, kalori dan protein. Tekanan onkotik dipertahankan dengan pemberian albumin secara intravena. Tunjangan nutrisi pada masa ini diberikan secara parenteral perifer. Pada tahap lanjutan, stres inisial dan adaptasi hormonal biasanya sudah selesai. Saat ini, kekurangan kalori dan protein hari-hari pertama, perlu dikompensasi, untuk memenuhi kebutuhan anabolik, terutama bila anak, sebelumnya memang sudah dalam keadaan malnutrisi. Risiko pada masa ini akan timbul bila kita terlampau cepat meningkatkan pemberian kalori dan protein. Pencegahannya ialah meningkatkan tunjangan nutrisi secara bertahap. 2

Tunjangan nutrisi yang diberikan tergantung kepada keadaan anak. Bila saluran pencernaannya berfungsi baik, diberikan nutrisi enteral, bila tidak, diberikan nutrisi parenteral, digabung dengan nutrisi enteral. Pada hari ke 10 biasanya otonomi digestif sudah muncul kembali. Bila pada hari ke 15 nutrisi enteral belum bisa diberikan secara penuh, ini merupakan indikasi perlunya nutrisi parenteral berjangka lama. Teknik nutrisi parenteral mengalami kemajuan pesat, sungguhpun begitu, tunjangan nutrisi yang paling baik tetaplah yang melalui ususnya sendiri, karena lebih fisiologis, lebih aman dan lebih murah.2

Beberapa pertimbangan  menyebabkan nutrisi parenteral pada bayi prematur dan anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Hal ini termasuk ukuran tubuh yang kecil, kecepatan pertumbuhan,kebutuhan akan cairan, dan pada bayi yang baru lahir dipengaruhi oleh  system organ yang belum matur seperti hati, ginjal, paru dan saluran cerna. Bayi dan anak-anak mengalami penurunan cadangan energi yang nyata jika dibandingkan dengan orang dewasa, dan secara cepat dipengaruh oleh kesukaran untuk makan.  Bayi maupun anak-anak yang terpapar oleh infeksi, trauma,atau operasi besar biasanya tidak dapat menerima  asupan makanan melalui nutrisi enteral.3

Tehnik nutrisi parenteral memang tidak mudah dan penuh liku-liku masalah biokimia dan fisiologi. Juga harga relatif mahal tetapi jika digunakan dengan benar pada penderita yang tepat, pada akhirnya akan dapat dihemat lebih banyak biaya yang semestinya keluar untuk antibiotik dan waktu tinggal dirumah sakit. Contoh kesalahan yang masih  banyak ditemukan di rumah sakit yaitu pemberian protein tanpa kalori dan karbohidrat yang cukup dan pemberian cairan melalui vena perifer dimana osmolaritas cairan tersebut lebih dari 900 m Osmol yang seharusnya melalui vena sentral. 1

Jika krisis katabolisme kecil sedang tubuh mempunyai cukup cadangan tidak timbul masalah apapun. Penderita dewasa mudah sehat dengan status gizi yang baik, dapat menjalani pembedahan, puasa 5 -7 hari setelah operasi sembuh dan pulang dengan selamat hanya dengan kerugian penurunana berat badan. Tetapi pada kenyataannya lebih banyak penderita yang kondisi awalnya sudah jelek (berat badan kurang, kadar albumin < 3,5 gr/dl), untuk penderita ini puasa  pasca bedah/pasca trauma 5 -7 hari hanya mendapat infus elektrolit sudah cukup untuk mencetuskan  hipoalbuminemia, hambatan penyembuhan luka, penurunan daya tahan tubuh sehingga infeksi mudah menyebar. Sehingga banyak diantara penderita pasca bedah laparotomi karena perforasi ileum (typhus abdominalis), invaginasi, volvulus, atau hernia inkarserata kemudian mengalami kebocoran jahitan usus yang menyebabkan peritonitis atau enterofistula ke kulit. Dengan bantuan nutrisi yang baik penyulit-penyulit fatal ini dapat dihindari. 1

DEFINISI

Nutrisi Parenteral adalah suatu bentuk pemberian nutrisi yang diberikan langsung melalui pembuluh darah tanpa melalui saluran pencernaan4. Nutrisi parenteral diberikan apabila saluran cerna tidak dapat berfungsi oleh karena gangguan absorbsi. Nutrisi parenteral diberikan kepada pasien koma, walaupun nutrisi enteral lebih baik dan memiliki resiko yang lebih kecil untuk terjadinya komplikasi5. Nutrisi parenteral tidak melewati pencernaan yang normal di lambung dan usus. Nutrisi parenteral merupakan cairan khusus yang diberikan melalui darah masuk lewat intravena (IV) keteter (jarum dalam vena)6. Terapi nutrisi parenteral mengandung nutrisi seperti dextrose, asam amino, elektrolit, vitamin, mineral, dan lemak emulsi, menyediakan kalori dan nitrogen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien. Secara umum, nutrisi parenteral dapat mengandung 30-35 kkal/kgBB dan 1-1,5 protein /kgBB. 7

TUJUAN PEMBERIAN NUTRISI PARENTERAL

Nutrisi parenteral bertujuan untuk membantu mencukupi kebutuhan nutrisi yang adekuat bagi pasien yang kondisinya tidak memungkinkan untuk mendapatkan asupan makanan melalui oral8.  Nutrisi Pada terapi parenteral mengandung nutrisi lengkap, yaitu kalori, protein dan lemak termasuk unsur penunjang nutrisi elektrolit, vitamin dan trace element. Pemberian kalori sampai 40 – 50 Kcal/kg dengan protein 0,2 – 0,24 N/kg. Nutrisi parenteral ini penting, karena pada penderita paska bedah yang tidak mendapat nutrisi sama sekali akan kehilangan protein 75 – 125 gr/hari. Hipoalbuminemia menyebabkan edema jaringan, infeksi dan dehisensi luka operasi, terjadi penurunan enzym pencernaan yang menyulitkan proses realimentasi9.

 Nutrisi yang tidak adekuat dihubungkan dengan penyembuhan yang lama dari suatu penyakit atau setelah operasi. Untuk penyembuhan luka, pemeliharaan jaringan, dan pemulihan yang cepat, maka pasien memerlukan intake nutrisi yang optimal. Nutrisi enteral lebih disukai karena memiiki resiko yang kecil untuk terjadinya infeksi , dan lebih aman dibandingkan metode parenteral. Walaupun nutrisi enteral lebih disukai, namun nutrisi parenteral juga memegang peranan penting dalam berbagai kondisi medis. Pasien yang tidak dapat mengkonsumsi makanan sendiri, ataupun yang tidak dapat makan sama sekali oleh karena sakit berat, pasca operasi, atau pasien trauma berat, perlu mendapatkan makanan melalui jalur intravena.(health line) Nutrisi parenteral mencakup kombinasi dari glukosa dan karbohidrat, protein, lemak, dan elektrolit, tergantung dari kondisi dan kebutuhan pasien.10

Nutrisi parenteral dapat diberikan kepada bayi maupun anak-anak seperti juga pada orang dewasa. Orang dapat hidup dengan baik melalui nutrisi parenteral selama yang diperlukan. Kebanyakan nutrisi parenteral digunakan untuk jangka pedek, kemudian dicabut ketika pasien sudah dapat makan secara normal kembali.6

INDIKASI NUTRISI PARENTERAL :

1.      Gangguan absorpsi makanan seperti pada fistula enterokunateus, atresia intestinal, kolitis infektiosa, obstruksi usus halus.

2.      Kondisi dimana usus harus diistirahatkan seperti pada pankreatitis berat, status preoperatif dengan malnutrisi berat, angina intestinal, stenosis arteri mesenterika, diare berulang.

3.      Gangguan motilitas usus seperti pada ileus yang berkepanjangan, pseudo-obstruksi dan skleroderma.

4.      Kondisi dimana jalur enteral tidak dimungkinkan seperti pada gangguan makan, muntah terus menerus, gangguan hemodinamik.4

5.   Gangguan respirasi > 4 hari (termasuk seringnya serangan apnea).

6.   Malformasi kongenital traktus gastrointestinalis.

7.   Enterokolitis netrotikans.

8.   Diare berlanjut atau malabsorbsi.

9.   Pasca operasi (khusunya operasi abdomen).12

Indikasi pemberian nutrisi parenteral meliputi penurunan berat badan sebesar 10% (dibandingkan dengan berat badan sebelum sakit), ketidakmampuan untuk menerima makanan maupun minuman melalui oral (mulut) dalam waktu 7 hari setelah operasi, dan keadaan hiperkatabolik seperti infeksi mayor disertai demam. Indikasi nutrisi parenteral antara lain :

• Asupan makanan pasien yang tidak mencukupi untuk menjaga keadaan anabolik (seperti luka bakar berat, malnutrisi, sepsis, dan kanker).

• Kemampuan pasien untuk makan secara oral atau melalui pipa tidak memungkinkan (seperti pada ileus paralitik, penyakit Chron’s dengan obstruksi).

• Pasien yang tidak mau mengkonsumsi makanan yang adekuat

• Kondisi medis yang mendasari sehingga tidak memungkinkan untuk menerima asupan makanan secara oral maupun melalui pipa (seperti pada pancreatitis, dan fistula enterocutaneus).

• Nutrisi preoperatif dan post operatif.13

Terapi parenteral total perifer tidak bisa lebih dari 15 hari (2 minggu). Bila prediksi terapi  lebih dari 2 minggu sebaiknya langsung nutrisi parenteral total sentral. Bila vena susah dicari (kesulitan memasang infus misalnya pasien gemuk terutama  wanita), lebih baik langsung melalui vena sentral.13

CARA PEMBERIAN NUTRISI PARENTERAL

Berdasarkan Cara Pemberian Nutrisi Parenteral dibagi atas:6

·         Nutrisi Parenteral Sentral (Via jalur vena sentral)

Infus larutan TPN hampir selalu dilakukan lewat jalur vena sentral.  Ini karena larutan TPN  sangat hipertonik dan membutuhkan vena dengan aliran cepat guna pencairan larutan secepat mungkin saat masuk ke dalam tubuh11. Saat ini, komplikasi TPN terbanyak adalah yang berhubungan dengan jalur sentral. Yang termasuk komplikasi adalah trauma pada saraf-saraf dan pembuluh darah yang berdekatan, pneumothorax, emboli udara, masuknya larutan TPN kedalam cavum pleura karena salah penempatan jalur dan infeksi. Letak dari pemasangan pada semua jalur vena sentral harus dipastikan dengan X-ray sebelum diberikan infus.  Harus dengan prosedur aseptik.11

Oleh karena konsetrasi cairan nutrisi parenteral 5-6 kali lebih tinggi dari darah (dan meningkatkan tekanan osmotic sekitar 2000 mOsm/L) sehigga menyebabkan cedera pada intima vena perifer. Untuk mencegah terjadinya phlebitis dan komplikasi vena yang lain, maka cairan/larutan dimasukkan kedalam sistem vaskuler melalui kateter sisipan dalam pembuluh darah besar (vena subclavicula). Konsentrasi cairan akan menjadi sangat cepat untuk diencerkan menjadi bentuk isotonic oleh darah di dalam pembuluh darah. Empat jenis dari jalur masuk vena central (CVAD) seperti perkutaneus (nontunneled) sentral kateter, kateter sentral yang disisipkan secara perifer, kateter tunneled, dan jalur implant. Jika salah satu dari jenis kateter ini dimasukkan, ujung dari kateter tersebut harus dikonfirmasian dengan menggunakan sinar-X sebelum terapi nutrisi parenteral dilakukan. Posisi yang optimal yaitu pada midproximal sepertiga dari vena cava superior.11

Prosedur pemberian NPT sentral : 12

·         Kateter dipasang pekutan atau melalui vena seksi. Pada BBLSR digunakan kateter silastik yang paling kecil, yaitu No. 1, 9 F sedangkan untuk bayi yang lebih besar digunakan No. 2, 7 F. Sebaiknya dihindari penggunaan kateter double lumen yang lebih besar, karena berhubungan dengan sindroma Vena Cava Superior dan erosi dinding pembuluh darah.

·         Kateter dapat dimasukkan melalui V. Antekubiti, V. Saphena, V. Jugularis interna dan eksterna, V. Subkalvia atau yang lebih jarang melalui V. Umbikalis atau fermoralis. Kateter harus diarahkan sedemikian rupa sehingga ujungnya terletak pada sambungan antara atrium kanan dan V. Cava superior/inferior.

·         Sebaiknya hindari penggunaan keteter arteri umbikalis untuk infus NPT pada BBLSR, karena hal ini menimbulkan kerugian berupa insiden trombosis tinggi, tidak dapat digunakan untuk memperoleh sampel darah, biasanya tidak diberikan nutrisi enteral selama terpasang kateter arteri umbilikal.

·         Cairan yang diberikan dengan infusion pump melalui penghubung Y atau T, sama dengan pemberian perifer.

·         Karena tingginya resiko infeksi pada pemberian secara sentral, maka tidak boleh digunakan untuk pengambilan darah, pemberian obat-obatan maupun transfusi.

·         Semua cairan disiapkan di bagian farmasi.

·         Heparin ditambahkan dengan konsentrasi 0,5 u/ml cairan.12

·         Nutrisi Parenteral Perifer (Via jalur vena perifer)

Memberikan asupan secara oral saat usus beristirahat secara total tidak dianjurkan dan pemakaian Nasogastric (NG) ataupun nasoenteric suction juga tidak dikehendaki, maka nutrisi parenteral secara perifer mungkin dapat dilakukan. Nutrisi parenteral perifer dimasukkan melalui vena perifer, hal ini mungkin dilakukan karena larutan/cairan yang masuk kurang hipertoni dibandingkan denga larutan/cairan dari nutrisi parenteral.  Kandungan nutrisi dari nutrisi parenteral perifer tidak lengkap karena protein dan dextrosanya terbatas. Konsentrasi dextrose di atas 10% tidak dapat dimasukkan melalui vena perifer karena dapat mengiritasi intima (dinding bagian dalam) dari vena kecil dan menyebabkan phlebitis. Lemak diberikan secara bersamaan untuk menyeimbangkan nutrisi parenteral perifer dan menjaga vena peifer agar tidak iritasi. 4

TPN perifer sering digunakan karena menghindari komplikasi dari penggunaan jalur vena sentral.  Meliputi infus larutan TPN melalui cannula (atau via periferal long cannula dimana ujungnya berakhir di lengan atas dengan aliran darah yang lebih cepat).  Sayangnya, larutan standar TPN tidak dapat dipakai melalui jalur perifer karena hyperosmolaritas. Osmolaritas darah berkisar 300 mOsm. Larutan yang dipakai lewat perifer harus mempunyai osmolaritas maximum kira-kira 700-800 mOsm. Pemasangan infus lewat perifer hanya dapat bertahan maximum 7-14 hari sebelum terjadi thromboplebitis dan tempat pemasangan infus harus diganti. Lama pemberian TPN perifer tergantung pada jumlah vena-vena yang terdapat di extremitas atas. Larutan yang dipakai untuk penggunaan perifer selalu berupa larutan Three-in-one. Hal ini karena campuran larutan tersebut mempunyai kadar osmolaritas yang lebih rendah dari larutan dextrosa murni.

Meskipun demikian, jumlah kalori yang dapat dimasukan melalui perifer hanya sebatas 1500 cal/hari. Jika pasien membutuhkan lebih banyak kalori, TPN harus diberikan melalui jalur sentral. Thrombophlebitis merupakan komplikasi tersering dari TPN perifer. Penggunaan glyseril trinitrat patch tepat dibawah sisi infus menyebabkan diatasi vena, meningkatkan aliran darah dan mencairkan larutan infus TPN lebih cepat, sehingga mengurangi insidens thrombophlebitis. Kanul TPN perifer harus aseptik seperti pada jalur sentral.11

Prosedur pemberian NPT secara perifer :

·         Larutan asam amino, dekstrose dan lipid dapat diberikan perinfus melalui kateter plastik (No. 22 atau 24 F) atau melalui wing needle.

·         Dekstrose dan asam amino dicampur pada botol yang sama, kemudian dihubungkan dengan bagian bawah infus yang mempunyai filter berukuran 0,22 um.

·         Cairan lipid dihubungkan dengan infus diluar filter melalui bagian atas dari T-connector atau Y-connector.

·         Infusion pump dibutuhkan untuk mempertahankan tetesan cairan infus agar tetap konstan.

·         Infus set, termasuk tube dan jarum intravena harus diganti setiap 3 hari, kecuali untuk lipid diganti setiap 24 jam. Sebaiknya jarum intravena dipindahkan ke tempat lain setiap 48 jam. Cairan parenteral dan cairan lipid diganti setiap hari.

·         Obat-obatan tidak boleh melalui cairan NPT. Obat-obatan diberikan setelah kateter dibilas dengan NaCl dan melalui cairan intravena.

·         Semua cairan infus disipakan oleh bagian farmasi.

·         Dapat ditambahkan mineral, vitamin dan unsur kelumit.

·         Dapat digunakan emulsi lemak 10 atau 20%.12

JENIS CAIRAN PADA TERAPI NUTRISI PAENTERAL

Sekarang tersedia banyak sekali jenis cairan dipasaran. Kondisi orang sakit membutuhkan cairan yang berbeda sesuai dengan penyakitnya. Cairan sebagai terapi seharusnyalah tepat sehingga dicapai efek yang optimal. Pemberian cairan yang salah bisa memperberat penyakit pasien. Rancangan cairan disesuaikan dengan kondisi patologis.14

Berdasarkan fungsinya cairan dapat dikelompokkan menjadi :9

1. Cairan pemeliharaan : ditujukan untuk mengganti air yang hilang lewat urine, tinja, paru dan kulit (mengganti puasa). Cairan yang diberikan adalah cairan hipotonik, seperti D5 NaCl 0,45 atau D5W.

2. Cairan pengganti : ditujukan untuk mengganti kehilangan air tubuh akibat sekuestrasi atau proses patologi lain seperti fistula, efusi pleura asites, drainase lambung. Cairan yang diberikan bersifat isotonik, seperti RL, NaCl 0,9 %, D5RL, D5NaCl.

3. Cairan khusus : ditujukan untuk keadaan khusus misalnya asidosis. Cairan yang dipakai seperti Natrium bikarbonat, NaCl 3%.

Cairan juga dibagi menjadi :

1. Kristaloid

Larutan kristaloid adalah larutan air dengan elektrolit dan atau dextroa, tidak mengandung molekul besar. Kristaloid dalam waktu singkat sebagian besar akan keluar dari intravaskular, sehingga volume yang diberikan harus lebih banyak (2,5-4 kali) dari volume darah yang hilang. Kristaloid mempunyai waktu paruh intravaskuler 20-30 menit. Ekspansi cairan dari ruang intravaskuler ke interstital berlangsung selama 30-60 menit sesudah infus dan akan keluar dalam 24-48 jam sebagai urine. Secara umum kristaloid digunakan untuk meningkatkan volume ekstrasel dengan atau tanpa peningkatan volume intrasel.

2. Kolloid

Kolloid mengandung molekul-molekul besar berfungsi seperti albumin dalam plasma tinggal dalam intravaskular cukup lama (waktu parah koloid intravaskuler 3-6 jam), sehingga volume yang diberikan sama dengan volume darah yang hilang. Contoh cairan koloid antara lain dekstran, haemacel, albumin, plasma dan darah.9

Perbandingan kristaloid dan koloid :

  

Kristaloid
  

Koloid

Efek volume intravaskuler

Efek volume interstisial

DO2 sistemik
  

-

Lebih baik

-
  

Lebih baik (efisien, volume lebih kecil, menetap lebih lama

-

Lebih tinggi

Sembab paru
  

Keduanya sama-sama potensial menyebabkan sembab paru

Sembab perifer

Koagulopati

Aliran urine

Reaksi-reaksi

Harga
  

Sering

-

Lebih besar

Tidak ada

Murah
  

Jarang

Dekstran > kanji hidroksi etil

GFR menurun

Jarang

Albumin mahal, lainnya sedang

FAKTOR-FAKTOR YANG PENTING DIPERHATIKAN PADA PEMBERIAN TERAPI NUTRISI PARENTERAL

Setiap bayi yang mendapat nutrisi parenteral (NP) akan melewati masa penyesuaian secara fisiologis yang terbagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah saat toleransi terhadap larutan nutrisi parenteral sebagai gambaran tingkatan serum dan urin glukosa. Selama masa ini, jumlah gukosa dan lemak akan meningkat secara bertahap sampai jumlah kalori yang tersedia tercukupi, atau sampai faktor-faktor lain seperti cairan tercukupi. Waktu yang dibutuhkan untuk fase penyesuaian awal berbeda-beda. Pada bayi premature, atau bayi yang mengalami stress akibat infeksi atau gangguan pernapasan, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk stabiisasi dibandingkan dengan bayi normal. Tahap kedua menandakan permulaan dimulainya masa selama bayi menerima sejumlah kalori yang adekuat dan elektrolit yang seimbang. Pertambahan berat badan optimal untuk neonatus pada tahapan ini yaitu 1-25 gr perhari atau 1-2% dari total berat badan/Kg/hari pada anak-anak. Pertambahan berat badan yang melebihi nilai tersebut menunjukkan adanya kelebihan cairan maupun retensi cairan.  Pertambahan berat badan yang tidak adekuat menunjukkan adanya gangguan metabolic yang mendasari seperti sepsis. Selama kedua fase ini, sangat penting untuk mencatat input maupun output yang akurat serta penambahan berat badan perhari yang diukur pada saat yang sama dengan menggunakan timbangan yang sama. Pengeluaran urin harus mencapai 1 ml/kg/jam atau lebih, dengan berat jenis urin spesifik antara 1,005 dan 1,015 tanpa glukosuria.3

Larutan nutrisi parenteral diberikan selama 24 jam dengan kecepatan tetesan yang spesifik tiap jam. Penambahan berat badan pasien perhari harus dicantumkan agar farmakolog dapat mengecek pemberian kesesuaian jumlah komponen yang diberikan. Jumlah asam amino, lemak emulsi, dan elektrolit sebaiknya diberikan per kilogram. Dextrose, asam amino, lemak emulsi, kalori non protein serta perbandingan kalori dan nitrogen harus dihitung untuk menjamin ketepatan jumlah komponen nutrisi parenteral yang dibutuhkan. Perbandingannya harus selalu dalam batas  antara 150-300 nonprotein kalori per gram dari nitrogen. 3

 ATURAN PEMBERIAN LARUTAN PADA NUTRISI PARENTERAL

Pada bayi pemberian cairan harus dimulai dengan jumlah setengah  jumlah  larutan (4-8 mg/kg/menit larutan dextrose) dan dinaikkan menjadi  tiga perempat  dan  seluruhnya (10-14 mg/kg/menit jumlah maksimum) dala 24-48 jam, dengan kecepatan tetesan berdasarkan jumah urine dan gula darah. Volum total dapat ditingkatkan sesuai dengan peningkatan asupan kalori. Oleh karena tingginya resiko untuk terjadinya phlebitis dengan larutan hiperosmolar, konsentrasi Nutrisi Parenteral perifer tidak boleh melewati  12,5% dextrose dan 2,5% asam amino.3

Pada bayi dengan berat lahir rendah dan bayi yang sakit berat, arteri umbilikalis dan kateter vena umbilikalis biasanya ditemukan. Larutan dalam jumlah konsentrasi yang besar (lebih dari 10%) dapat diinfus melalui kateter vena umbilikalis (UVC) dengan meletakkan ujung kateter diatas diafragma yang telah ditetapkan. Konsentrasi dari dextrose yang diberikan melalui UVC harus dibatasi maksimum sebesar 12,5%.3

Lemak emulsi aman diberikan dengan jumlah awal sekitar 0,5-1 g/kg/hari dan maksimum 3 g/kg/hari pada bayi premature, dan 4 g/g/kg/hari pada bayi cukup bulan. Idealnya, pemberian kalori secara intravena seharunya sama dengan jumlah kalori yang diberikan secara normal dalam diet enteral pada anak : 45% karbohidrat, 40% lemak, dan 15% protein. 3

Dari sisi pasien yang perlu diperhatikan adalah penyakit dasar pasien, status hidrasi dan hemodinamik, pasien dengan komplikasi penyakit tertentu, dan kekuatan jantung. Kesemua faktor ini merupakan hal yang harus diketahui dokter.14

·         Dari Segi cairan :

1. Kandungan elektrolit cairan

a. Elektrolit yang umum dikandung dalam larutan infus adalah Na+, K+, Cl-, Ca++, laktat atau asetat. Jadi, dalam pemberian infus, yang diperhitungkan bukan hanya air melainkan juga kandungan elektrolit ini apakah kurang, cukup, pas atau terlalu banyak.

b. Pengetahuan dokter dan paramedis tentang isi dan komposisi larutan infus sangatlah penting agar bisa memilih produk sesuai dengan indikasi masing-masing.

2. Osmolaritas cairan

 a. Yang dimaksud dengan osmolaritas adalah jumlah total mmol elektrolit dalam kandungan infus. Untuk pemberian infus ke dalam vena tepi maksimal osmolaritas yang dianjurkan adalah kurang dari 900 mOsmol/L untuk mencegah risiko flebitis (peradangan vena). Jika osmolaritas cairan melebihi 900 mOsmol/L maka infus harus diberikan melalui vena sentral.

3. Kandungan lain cairan

 a.Seperti disebutkan sebelumnya, selain elektrolit beberapa produk infus juga mengandung zat-zat gizi yang mudah diserap ke dalam sel, antara lain: glukosa, maltosa, fruktosa, silitol, sorbitol, asam amino, trigliserida.

b.Pasien yang dirawat lebih lama juga membutuhkan unsur-unsur lain seperti Mg+2,  Zn+2 dan trace element lainnya.

4. Sterilitas cairan infus

Parameter kualitas untuk sediaan cairan infus yang harus dipenuhi adalah steril, bebas partikel dan bebas pirogen disamping pemenuhan persyaratan yang lain.14

KEBUTUHAN NUTRIEN

      Untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal bayi baru lahir harus mendapat cairan dan elektrolit, kalori (karbohidrat, protein, lemak), vitamin dan mineral yang sesuai dengan kebutuhan.12

Cairan

Dengan tidak adanya kebutuhan khusus, tingkat 1500-2500 cc/m2/hari memenuhi kebutuhan cairan. Berguna untuk bayi, 125-150 cc / kg / hari. volume kecil dari drainase nasogastrik, pengeluaran tinja, atau kerugian lain tidak memerlukan penggantian. Jika garam dan kebutuhan air yang jauh melebihi kebutuhan biasa, PN disampaikan sebagai larutan standar, dan kebutuhan khusus dipenuhi dengan infus tambahan. Tambahan cairan dan elektrolit dapat diberikan melalui akses vena sama seperti PN, jika hanya satu yang ada. Pendekatan ini memberikan aliran nutrisi dan memungkinkan untuk fleksibilitas maksimum untuk tim klinis primer untuk merespons perubahan jangka pendek yang signifikan dalam kebutuhan pasien. Frekuensi  perubahan dalam solusi PN menghasilkan keterlambatan pengiriman gizi dan menambah biaya perawatan pasien. 15

kebutuhan cairan awal dihitung dengan formula berbasis berat:

  

Kebutuhan cairan harian

Berat < 1kg
  

Berat (kg) x 125 ml / kg / hari

Berat 1-10 kg
  

Berat (kg) x 100 ml / kg / hari

Berat > 10 kg
  

2 L/m2/day m2 = akar kuadrat [berat (kg) x tinggi (cm) / 3.600]

Elektrolit

Unsur dalam larutan elektrolit PN dihitung berdasarkan umur, berat, dan kebutuhan pemeliharaan biasa. Karena perubahan komposisi tubuh dan laju pertambahan berat badan dan pertumbuhan, kebutuhan elektrolit per kg berat berybah seiring denganpertambahan usia. Dengan demikian, anak-anak usia 3 tahun atau kurang, lebih membutuhkan natrium, kalium, klorida, dan asetat dari anak-anak dan orang dewasa muda. persyaratan elektrolit per 100 kkal energi yang dikonsumsi tetap lebih stabil sepanjang hidup. 15
Kebutuhan Elektrolit dan Mineral mEq / kg / hari menurut Umur Tahun

Unsur
  

Umur <3
  

Umur> 3

Natrium
  

3
  

 2

Kalium
  

3
  

 2

Khlorida
  

 3
  

 2

Asetat
  

 4
  

 3

Kalsium
  

 1
  

 0,5

Magnesium
  

0,5
  

 0,5

Setiap perubahan dalam konsentrasi kation memulai sebuah perhitungan kembali konsentrasi anion dan konstituen. Perhitungan ulang yang sama terjadi untuk merubah konsentrasi anion. Pergeseran garam antara klorida dan asetat menjaga keseimbangan elektrokimia. 15

Koreksi hiponatremia yang sudah berlangsung lama dilakukan scara perlahan-lahan, sedangkan untuk hiponatremia akut lebih agresif. Untuk menghitung Na serum yang dibutuhkan dapat menggunakan rumus :

Na= Na1 – Na0 x TBW

Na = Jumlah Na yang diperlukan untuk koreksi (mEq)

Na1 = 125 mEq/L atau Na serum yang diinginkan

Na0 = Na serum yang aktual

TBW = total body water = 0,6 x BB (kg)

Jika kadar natrium > 160 mg/L maka akan timbul gejala berupa perubahan mental, letargi, kejang, koma, lemah. Hipernatremi dapat disebabkan oleh kehilangan cairan (diare, muntah, diuresis, diabetes insipidus, keringat berlebihan), asupan air kurang, asupan natrium berlebihan. Terapi keadaan ini adalah penggantian cairan dengan 5% dekstrose.

Pemberian kalium melalui jalur intravena pada terapi parenteral harus selalu dipantau melalui jalur sentral. Defisit jumlah kalium dapat dihitung dengan rumus :

Rumus untuk menghitung defisit kalium :

K = K1 – K0 x 0,25 x BB

K = kalium yang dibutuhkan untuk koreksi (meqL-1)

K1 = serum kalium yang diinginkan

K0 = serum kalium yang terukur

BB = berat badan (kg)

Energi

Perhitungan total pengeluaran energi harian (TDEE) pasien PN membutuhkan pertimbangan dari masing-masing kompartemen energy. Di masa lalu, dokter sering berlebihan mengenai kebutuhan energi pada pasien sakit karena kekhawatiran bahwa penyakit, infeksi, atau pembedahan akan meningkatkan kebutuhan energi perkiraan. Pengukuran langsung konsumsi energi dan pertimbangan yang lebih cermat terhadap perubahan energi dalam kompartemen telah menyebabkan penilaian yang lebih rendah. 15

Pengeluaran energi saat beristirahat REE dapat langsung diukur dengan kalorimetri secar tak langsung. Proses metabolik dalam mengukur konsumsi dan produksi oksigen dan karbon dioksida dari pasien yang dipantau. Dengan berbagai asumsi, pengeluaran kalori dalam keadaan istirahat kemudian dihitung. Cara lain, REE dapat diperkirakan atau dihitung dari rumus-rumus matematika. Realisasi pengukuran REE ditentukan unsur persamaan ini. 15

        Untuk anak 0-3 tahun,
        REE adalah sekitar 60 kkal / kg / hari
        Untuk anak usia 3-10 tahun,
        REE (kkal / hari) berat = 22,7 x (kg) + 495 untuk laki-laki
        REE (kkal / hari) berat = 22,5 x (kg) + 499 untuk perempuan
        Untuk anak di atas usia 10 tahun,
        REE (kkal / hari) = 66,5 + (5.0 x tinggi) (cm) + (13,8 x berat) (kg) - (6,8 x umur) (tahun) untuk pria
        REE (kkal / hari) = 655 + (1,85 x tinggi) (cm) + (9.6 x berat) (kg) - (4,7 x umur) (tahun) untuk perempuan. 15

Pada anak-anak sebaiknya senantiasa diberikan pembagian sumber energy sebagai berikut : karbohidrat 55-65% dari total kebutuhan kalori, lemak 35-55%, dan protein 10-15%. Jika nutrisi parenteral secara sentral maka karbohidrat merupakan sumber energy yang utama sampai sekitar 50% dari total kebutuhan kalori, sedangkan lemak 30-40%, dan sisanya berasal dari protein sebesar 10-20%. Pada larutan ini kandungan energinya menjadi 1 kkal/ml. pada pemberian nutrisi parenteral secara perifer, sumber energy dari lemak memegang peranan penting, karena pemberian cairan dextrose terbatas sampai 10% agar tidak terjadi flebitis.

Karbohidrat

Jumlah dextrose yang diberikan perhari, kepadatan kalori dan jumlah tetesan sangat penting diperhatikan.Jumlah kalori dari karbohidrat dalam larutan adalah 3,4 Kkal/gr glukosa. Dari sini dapat diperoleh kepadatan kalori untuk setiap jenis larutan dextrose.16

Larutan D10vW mengandung 10gr glukosa/100ml dan menyediakan (10gm x 3.4kcal/g)/100ml = 0.34kcal/ml. Larutan D20 W dua kali jumlah kepadatan kalori, yaitu 0.68kcal/ml. Kepadatan dai larutan lainnya dapat dihitung dengan cara yang sama, seperti pada table berikut : 16

D5W
  

0.17 kcal/ml

D10W
  

0.34 kcal/ml

D12.5W
  

0.42 kcal/ml

D15W
  

0.51 kcal/ml

D17.5W
  

0.59 kcal/ml

D20W
  

0.68 kcal/ml

D25W
  

0.76 kcal/ml

D30W
  

0.85 kcal/ml

      

    

      

   

Protein

Protein diberikan sebagai campuran komersial dari asam amino kristal. Trophamine dan Travasol adalah dua campuran komersial yang bekerja di PN saat ini. Asam amino dalam jumlah konstituen yang disempurnakan oleh pengalaman klinis setelah estimasi awal kebutuhan asam amino non-esensial dan esensial. Trophamine serum infus mereproduksi pola asam amino dari bayi menyusui setelah makan. Ini mengandung taurin sebagai asam amino esensial yang diduga terdapat pada bayi dalam masa pertumbuhan. Sistein ditambahkan. Trophamine disediakan untuk semua pasien PN usia tiga bulan atau lebih muda. Infus travasol diberikan pada pasien yang berumur lebih dari tiga bulan. Glisin dan alanin adalah asam amino utama konstituen pengalaman klinis. Mendukung keamanan dan kemanjuran dari campuran ini. 15

  

Persyaratan asam amino

Bayi
  

2.0 to 3.0 gm/kg/day 2,0-3,0 gram / kg / hari

Anak
  

1.5 to 2.0 gm/kg/day 1,5-2,0 gram / kg / hari

Remaja
  

1.0 to 1.5 gm/kg/day 1,0-1,5 gram / kg / hari

Tampaknya ada berbagai keselamatan antara kelompok usia amino. Campuran asam amino khusus dirancang untuk kondisi penyakit tertentu yang tersedia.. Nephramine hanya mengandung asam amino esensial untuk pasien penyakit ginjal.. Hepatamine berisi peningkatan jumlah rantai cabang asam amino untuk pasien dengan penyakit hati yang parah dan ensefalopati hati. Kurangnya data klinis hadir untuk mendukung kuat penggunaan khusus ini, campuran yang paling mahal pada pasien. 15

Pada anak dengan penyakit kritis pemberian dukungan nutrisi dengan Total Parenteral Nutrition (TPN) dengan menambahkan albumin pada suatu penelitian dapat menurunkan angka morbiditas. Kebutuhan abumin untuk parenteral diberikan sebanyak 1 sampai 1,5 g/kgBB/hari dan dapat dinaikkan sampai 2,5 sampai 3,5 g/kgBB/hari.

Rumus menghitung koreksi albumin :

∆Albumin x [BB (kg)x40] x 2

                 1000

            ∆ Albumin : Jumlah albumin yang actual – jumlah albumin yang diinginkan         

Lemak

Untuk memenuhi asam lemak esensial (EFA) dan untuk menyediakan kalori tambahan, Intralipid dapat diresapi dengan dekstrosa di / asam amino PN solusi. Untuk memenuhi kebutuhan EFA, 1 sampai 2% dari kalori harus diberikan sebagai asam linoleic. Untuk bayi, ini merupakan 1-2 kkal / kg / hari. 20% Intralipid (IL) berisi 2,2 kkal / cc dan asam linoleat 50%. Jadi, setiap cc 20% Intralipid menyediakan 1,1 kkal asam linoleat. Dengan demikian, kebutuhan EFA akan bertemu pada bayi dengan 1-2 cc / kg / hari 20 IL%. Untuk kenyamanan, IL dapat diberikan sebesar 10 cc / kg / minggu IL 20% dalam infus 24 jam saja. perhitungan yang sama dapat ditentukan untuk anak-anak yang lebih tua PN. Banyak pasien yang menerima juga akan diberi makan secara enteral. kebutuhan EFA mereka dapat dipenuhi oleh asupan enteral, dengan mengurangi atau menghilangkan kebutuhan untuk IL. Sebagai sumber energi, IL dapat disediakan dalam jumlah sampai dengan 2,5 gram / kg / hari pada bayi prematur dan 4,0 gram / kg / hari pada anak yang lebih tua. Ketika diberikan untuk energi, IL diinfuskan lebih dari 12 sampai 24 jam dengan kecepatan tetesan infus maksimum sebesar 0,5 cc / kg / jam atau 0.1gm/kg/hr pada bayi prematur. 15

Pemberian infus lemak harus di hentikan, jika terjadi :

    Sepsis
    Trombositopenia (< 50.000/mm3)
    Asidosis (pH < 7,25)
    Hiperbilirubinemia 12

Vitamin Dan Mineral

      Dapat diberikan multivitamin intravena yang berisi gabungan vitamin yang larut dalam lemak dan air. Sediaan yang hanya larut dalam air, dapat ditambahkan pada larutan glukosa dan yang larut dalam lemak, dapat ditambahkan pada larutan lemak.

      Pemberian vitamin A dapat diberikan sejak awal, karena vitamin A penting untuk pertumbuhan jaringan, sintesa protein, diferensiasi epitel dan juga diduga dapat mengurangi insidensi displasia bronkopulmonal. Pemberian vitamin B12 setelah bayi berusia bayi berusia 1 bulan.

      Walaupun unsur Mineral didalam tubuh jumlahnya sangat sedikit (< 0,01%), tetapi diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan. The American Society for Clinical Nutrition menganjurkan pemberian unsur mineral setelah pemberian NPT selama 4 minggu, tetapi seng (zinc) dapat diberikan lebih awal. 12

Tabel  : Komposisi Kebutuhan Vitamin dan Unsur Mineral12

Komponen Vitamin :
  

Bayi cukup bulan (  /kg BB/hr)
  

Bayi kurang bulan ( /kg BB/hr)

Vitamin A

Vitamin E

Vitamin K

Vitamin D

Thiamine (B1)

Riboflavin (B2)

Niacin

Piridoksin

Asam askorbat (C)

Asam pantotenat

Sianokobalamin

Folat

Unsur Mineral :

Zinc

Copper (cupric sulfate)

Manganese sulfat

Kromium klorida

Flouride

Iodin
  

700 mcg

7 mg

200 mcg

10 mcg

1,2 mg

1,4 mg

17 mg

1,0 mg

80 mg

5,0 mg

1,0 mg

140 mg


100-200 mcg

10-20 mcg

2-10 mcg

0,14-0,2 mcg

1 mcg

3-5 mcg
  

500 mcg

2,8 mcg

80 mcg

4 mcg

0,35 mg

0,15 mg

6,8 mg

0,18 mg

25 mg

2 mg

0,3 mcg

56 mcg


400-600 mcg

20 mcg

2-10 mcg

0,14-0,2 mcg

1 mcg

3-5 mcg

Tabel Parenteral Nutrisi Pada Anak : Makronutrien3

Komponen
  

Ketersediaan
  

Jumlah yang dibutuhkan
  

Keterangan

Cairan
  

Kombinasi dari beberapa nutrient di bawah
  

60-150 mL/kg/day
  

Kalori
  

Protein 4.0 kcal/g

CHO 3.4 kcal/g

Fat 9.0 kcal/g

(IV Fat emulsion

10% = 1kcal/mL;

20% = 2 kcal/mL.

  

45-120 kcal/kg/day
  

Kebutuhan sesuai umur :

umur (thn):                  Kcal/kg:

0-1*                        90-120

12-18                        75-90

12-19                        60-75

12-20                        45-60

Kebutuhan kalori meningkat sesuai dengan keadaan berikut :meningkat 12% untuk setiap kenaikan suhu di atas 37ÂșC, 20-30% pada  operasi besar, 40-50% pada kondisi sepsis berat, 50-100% pada keadaan kegagalan pertumbuhan jangka panjang.* kebutuhan bayi premature mulai dari 80 Kkal/kg dan ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan.

Protein
  

Amino Acid solution 5% dan 7%
  

Untuk menyediakan asam amino esensial dan non esensial protein 1,7-2,5 g/kg/hari
  

Pada neonatus, protein diberikan sebesar 1g/Kg dan ditingatkan sampai batas maksimum sebesar 2,5 g/kg/hari.

Karbohidrat
  

D5, D10, D25,D 50
  

Untuk memenuhi kebutujan kalori sebesar 0,4-1,5 g/kg/jam
  

D10 digunakan untuk nutrisi parenteral perifer (0,4 kkal/ml), D25 untuk nutrisi parenteral sentral (1 kkal/ml), D12,5 dapat dipakai untuk jalur perifer melalui kateter pada arteri umbilikalis. D25 dapat diinfus melalui kateter vena umbilikalis jika jalur yang tepat diletakkan pada atrium kanan telah ditetapkan sebelumnya.

Tabel Parenteral Nutrisi Pada Anak : Mikronutrien3

Komponen
  

Ketersediaan
  

Jumlah yang dibutuhkan
  

Keterangan

Vit B12
  

Cyanocabalamin
  

Sebanyak 1 mikrogram disediakan Dalam larutan vitamin anak.
  

Koenzim yang penting untuk pertumbuhan serta pembentukan sel darah merah dan putih. Tersedia dalam sediaan larutan multivitamin.

Asam Folat
  

  

Sebanyak 140 mikrogram disediakan Dalam larutan vitamin anak.
  

faktor penting untuk pertumbuhan sel, terutama dalam pembentukan sel darah merah dan putih. Tersedia dalam sediaan larutan multivitamin.

Multivitamin
  

Larutan Multivitamin anak (astra)
  

2-3 ml/hari
  

tiap 3 mL vial berisi:

Vitamin A – 2300 IU

(Vitamin D – 400 IU

Asam Askorbat  – 80 mg

Thiamine (B1) – 1.2 mg

Riboflavin (B2) – 1.4 mg

Niacinamide – 17 IU

Pyridoxine – 1 mg

Pantothenic Acid – 5 mg

Vitamin E – 7 IU

Asam Folat – 140 mcg

Cyanocobalamin (B12) – 1 mcg

Phytonadione (k1) – 200 mcg

Biotin – 20 mcg

*bayi di bawah 1,75kg : 2ml/hari, bayi dan anak 1,75-3 kg : 3 ml/hari.

Besi
  

RBCs atauImferon®
  

2 mg/hari
  

Dimulai sejak usia 5 minggu, kebutuhan yang tinggi pada kehilangan darah yang banyak dan defisiensi besi kronik.

Phytonadione (Vit K1)
  

AquaMephyton®
  

200 mikrogram tersedia dalam multivitamin anak
  

Penting dalam pembentukan faktro pembekuan (protrombin, VII,IX,X) Perdarahan dan defisiensi sering terjadi pada bayi yang tidak mendapat asupan makanan secara enteral.

Heparin
  

  

1 IU/mL
  

Membantu mencegah pembekuan trombosit pada ujung kateter.

Menentukan Dosis Lipid

Berbagai fungsi lipid dalam nutrisi parenteral adalah sebagai berikut.

1. Sumber kalori

2. Sumber asam lemak esensial

3. Sumber vitamin yang larut dalam lipid

4. Sebagai bahan dasar sebagian proses umum

5. Sebagai bahan pembentuk membran sel      

6.Sebagai bahan dasar pembentukan kolesterol melalui oksidasi asam lemak membentuk  asetil-CoA yang kemudian disintesis menjadi asam empedu, hormon kortikosteroid, hormon estrogen, progesteron, dan testosteron.

Setiap rancangan nutrisi parenteral total seharusnya disertai dengan lipid, karbohidrat dan asam amino.13
KOMPLIKASI

Pasien yang menerima Nutrisi parenteral parsial maupun total memiliki resiko untuk terjadinya suatu komplikasi. Komplikasi ini dapat timbul dari cairan yang dimasukkan secara intravena maupun dari kateter vena sentral.

Ketidakseimbangan cairan dapat terjadi pada pasien yang mendapatkan nutrisi parenteral. Perbedaan larutan/cairan hiperosmolaritas yang ekstrim dapat menyebabkan perpindahan cairan ke dalam tubuh. Hiperosmolaritas ini terjadi oleh konsentrasi dari dextrose dan asam amino. Peningkatan jumlah dari dextrose dapat menyebabkan terjadinya hiperglikemia sehingga dextrose dapat berpindah dari jaringan intersisial ke dalam plasma. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi dan syok hipovolemic. Pasien perlu dipantau untuk mengetahui adanya tanda-tanda dari komplikasi tersebut.

Komplikasi lainnya yang dapat timbul pada pasien yang mendapatkan nutrisi parenteral adalah ketidakseimbangan elektrolit. Kadar serum elektrolit sehari-hari diperlukan untuk menentukan ketidakseimbangan elektrolit. Ketidakseimbangan sodium dan potassium sering terlihat pada pasien yang mendapatkan Terapi nutrisi parenteral total maupun parsial. Hiperkalsemia dapat terjadi walaupun dapat juga dihubungkan dengan resiko dari imobilisasi dibandingkan dengan terapi parenteral itu sendiri.

Komplikasi lain yang berhubungan dengan nutrisi parenteral adalah infeksi pada vena sentral kateter. Untuk pasien yang mendapat terapi jangka panjang, resiko infeksi untuk menyebar ke seluruh tubuh (sepsis) sangat tinggi. Tindakan pencegahan perlu dilakukan untuk mencegah timbulnya infeksi pada kateter infuse.15

Table: Komplikasi Potensial Metabolik pada Nutrisi Parenetral

1.  Ketidakseimbangan Electrolyte

a. Hiper/hiponatremia

b. Hiper/hipokalemia

c. Hiper/hipokloremia

d. Hiper/hipokalsemia

e. Hiper/hipomagnesemia

f. Hiper/hipophosphatemia

2. Gangguan Karbohydrate

a. Hiper/hipoglikemia

b. Hiperosmolaritas dan berhubungan dengan diuresis osmotic disertai dehidrasi, menyebabkan Ketoasidosis non ketotik

3. Gangguan Protein

a. kholestatik jaundice

b. Azotemia

4.  gangguan Lemak

a. Hiperlipidemia

b. Gangguan fungsi paru

c. Pemindahan ikatan albumin-bilirubin Oleh plasma asam lemak bebas

d. “Overloading syndrome” ditandai dengan hiperlipidemia, demam, lemas, kerusakan hati, gangguan pembekuan. Jarang ditemukan pada anak.

5. Defisiensi berbagai Elemen

a. defisiensi Zinc

b. defisiensi Copper

c. defisiensi Chromium

6. Defisiensi Asam lemak Esensial

Terjadi jika asam lemak emulsi tidak digunakan; gejala utamanya adalah terjadinya skuamasi dan kemerahan pada kulit.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ramli, Muhammad. Konsep Dasar Nutrisi Parenteral (Suatu usaha untuk menyamakan persepsi). [serial online]. June 2006 [cited_2011 Jan 2th ] p.1-5. Available from :http://www.med.unhas.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=692/konsep_ dasar_nutrisi_parenteral. (update on Jan 2th 2011)

2. Darwis, Darlan. Nutrisi Enteral Pada Anak Sakit Berat. [serial online]. 2011. January. [cited_2011 January] p.1-2 Available from : http://www.Portalkalbe/files/cdk/files/04_ NutrisiEnternalPadaAnakSakitBerat.pdf. (update on January 2th 2010)

3. Wesley, R. John. Nutrition And Metabolism. In :  Arensman, M. Robert, Bambini A. Daniel et al. eds. Pediatric Surgery. Georgetown, Texas U.S.A : Landes Bioscience; 2001. P.23-26.
4. Darmawan, Philip. Nutrisi parenteral. [serial online]. March 2008 [cited_2011 Januari 2th ]. P1-4 Available from : http://www.otsuka.co.id/?content=article_detail&id=176&lang=id (update on Januari 2th 2011)

5. Anonymous. Parenteral Nutrition. [serial online]. Januari 2011. [cited_ Januari 2th] p.1-4 Available from : http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Special: UserLogin&returnto=Parenteral_nutrition (update on Januari 2th 2011)

6. Spring, Silver, MD. Parenteral And Enteral Nutrition. [serial online]. 2006. [cited_2006] p1. Available  from : http://www.nutritioncare.org/homepage.aspx/ parenteral_and_enteral_nutrion. (update on Januari 2th 2011)

7. Morrissey A Nancy., RN,C, PhD. Parenteral Nutrition. Brunner and suddath. Textbook of Medical-Surgical Nursing 10th edition.  USA : Mosby; p1001-1003.

8. J. Payne-James. Nutritional Support. In Kirk R.M. Clinical In Surgery Fourth Edition. Philadelphia, USA. Elsevier Science. 2004. P129-130.

9. Anonymous. Terapi Cairan Pasca Bedah. [serial online]. 2009 Februari [cited_ 2009 Februari 26th ] p1-3. Available from : http://medlinux.blogspot.com/2009/02/terapi-cairan-pasca-bedah.html (update on Januari 2th 2011).
10. Anonymous. Total Parenteral Nutririon. [serial online]. 2010 May [cited_ Januari 4th]. p1-3. Available from : http://www.nlm.nih.gov/cgi/medlineplus/medlineplus/ druginfo/meds/=Drug%20Information:Total%20Parenteral%20Nutrition  (update on Januari 7th 2011)
11. Labeda, Ibrahim. Nutritional Support In  Surgical Patient. [serial online]. 2010 May. [cited_ 2011 January]. P2-3. (update on Januari 7th 2011)

12. Etika, Risa. Nutrisi Parenteral Pada Neonatus (Clinical Practice). [serial online]. June 2010. [cited_2011 January]. P2,7. Available from : http://www.pediatrik.com/buletin/06224114509-jcs1fx.doc. (update on Januari 10th 2011)
13. Daldiyono H., Ari F. Syam. Merancang Nutrisi Parenteral yang Optimal pada Kasus Penyakit Dalam. [serial online]. March 2010 [cited_2011 January 14th]. p 2-3. Available from: http://dokmud.wordpress.com/article/nutrisiparenteral. (update on Januari 14th 2011)

14. Darmawan, Iyan. Terapi Cairan Parenteral. [serial online].  April 2007. [cited_2010 April] http://www.majalah-farmacia.com/default.asp (update on Januari 14th 2011)
15. Deanna M. Swartout-Corbeil R.N. Parenteral Nutrition Health Article. 2002. [cited_2002]. Available from : http://www.healthline.com/directory/symptoms (update on Januari 15th 2011)

16. Anonymous. Gastroenterology and Nutrition In Parenteral Nutrition. 2004. [cited_May 14th 2004]. Available from : http://www. peds.wustl.edu/parenteral_nutrition. (update on Januari 20th 2011).

17. Anonymous. Nutritional Requirements. 2006. [cited_March 27th 2006]. Available from : http:// bms.brown.edu/pedisurg/index.html. (update on Januari 18th 2011).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...