Minggu, 20 November 2011

Che

Saya punya seorang teman pria yang sebetulnya cukup menarik, namun karena dia merokok, aura menariknya langsung lenyap bersama rokok yang dibakarnya. Rambut temanku yang perokok ini gondrong, lurus, dan kekusamannya melebihi kusamnya ijuk karena terus-menerus teroksidasi oleh radikal bebas asap rokok.
Ernesto "Che" Guevara


Dia bercita-cita menjadi seperti Che Guevara, militan dan agresif dalam memperjuangkan sosialisme. Karena cita-citanya itu, kami berdua selalu terlibat dalam perdebatan sengit. Perdebatan kami tidak pernah menyinggung persoalan ideologi tapi lebih ke arah gaya hidup. Saya selalu mengatakan padanya, zaman ini tidak lagi butuh seorang sosok seperti Che Guevarra karena orang-orang tidak lagi berniat membolongi dada dan kepalanya hanya untuk memperjuangkan suatu ideologi yang utopis. Keadaan memaksa semua manusia di zaman ini menjadi homo oeconomicus, manusia ekonomi, yang rela melakukan apapun agar mendapat keuntungan sebesar gunung dengan hanya melakukan pengorbanan sebesar semut. Kemiskinan yang abadi dan kerakusan para elit yang tak ada habisnya hanyalah contoh kecil yang menunjukkan betapa ekonominya mahluk bernama manusia. Tapi dia justru mengatakan kalau kondisi seperti inilah yang tepat untuk melahirkan revolusi. Saat rakyat mulai bosan, mereka akan bangkit. Dan itulah waktunya sosialisme akan berjaya. Namun saya skeptis dengan hal itu.

Karena terlalu lama jadi mahluk ekonomi, hampir semua manusia di muka bumi ini, terutama di Indonesia, telah menciptakan semacam toleransi terhadap segala jenis ketidakadilan. Mereka tidak lagi peduli pada semua ketimpangan karena itu sudah menjadi bagian hidup yang tak mungkin ditinggalkan.

Tidak ada gunanya jadi Che di zaman ini, kataku. Tapi dia tak peduli.

sumber gambar:
www.yenimakale.com

10 komentar:

Fiction's World mengatakan...

wah seru kayaknya tuh debatnya :D antara skeptis dan optimis kiri :P

Inayah Mangkulla mengatakan...

abecede... c spasi d, ya ampuuuuun!

Rawins mengatakan...

baguslah kalo bisa jadi che beneran
asal jangan jadi bang haji aja ya..

Sukadi mengatakan...

Yang penting urusan perut sendiri dan juga golongannya. Jadi, (mungkin) tak salah juga kalau misalnya ada yang kepingin revolusi. :D

Falzart Plain mengatakan...

Ya, betul-betul. Toleransi terhadap ketidakadilan sudah tinggi sekarang.

Corat - Coret [Ria Nugroho] mengatakan...

klo isi pemikiran Che Guevarra seperti itu sih saya jg gak setuju walau kurang ngerti masalah sosial ekononomi :P

Andy mengatakan...

percuma berdebat masalah ekonomi & kemiskinan di indonesia,karena sampai anda tidak bisa berbicara negeri ini masih tetap sama
yang dibutuhkan ada gerakan membangun bangsa dengan cinta & sayang terhadap sesama

dhila13 mengatakan...

setuju..
kenapa dia ga milih gaya hidup kayak umar bin khatab ya? sama2 memprihatinkan kok hidupnya.. tapi umar ttp bersih dan menjaga kebersihan dan satu lagi, setia dgn idealismenya dan MAMPU dalam membela agamanya dan memimpin para rakyatnya dgn adil! ;)

yudee mengatakan...

matemi gondrong ijuk..hasisin shampo sja..haha

NuellubiS mengatakan...

banyaak orang yang ngidolain che guevara, termasuk legenda argentina, diego maradona

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...