Sabtu, 03 Desember 2011

Refarat Infiltrat Urin

INFILTRAT URINE
PENDAHULUAN
    Menurut kamus Dorland, infiltrate adalah bahan yang ditimbun dengan cara infiltrasi. Dan infiltrasi adalah penimbunan bahan di dalam sel atau jaringan yang seharusnya tidak terdapat di jaringan tersebut atau melebihi jumlah normal. Jadi infiltrate urine adalah sebuah bahan yang ditimbun dalam urin yang dalam keadaan normal bahan tersebut tidak terdapat di dalam urine atau bahan tersebut melebihi jumlah yang normal. Dalam keadaan normal urin memiliki warna kekuningan dan jernih dan jumlah produksinya adalah 1,5 l/hari. Urin yang normal memiliki bau yang agak sedikit busuk. Urine yang baru dikeluarkan mungkin memiliki bau yang lebih kuat karena konsentrasinya. Urine memiliki pH yang berkisar diantara 5,0 hingga 6,0.1, 2, 3



ANATOMI TRAKTUS URINARIUS
    Traktus urinarius tersusun atas dua ginjal yaitu ginjal kanan dan ginjal kiri, ureter, vesika urinaria, dan uretra.
•    Ginjal
Kedua ginjal terletak retroperitoneal pada dinding abdomen, masing-masing di sisi kanan dan sisi kiri columna vertebralis setinggi vertebra T12 sampai vertebra L3. Masing-masing ginjal memiliki panjang 11 cm, lebar 6 cm, dan tebal 4 cm. Ginjal kanan terletak sedikit lebih rendah daripada ginjal kiri karena besarnya lobus hepatis dekstra. Masing-masing ginjal memiliki facies anterior dan facies posterior, margo medialis dan margo lateralis, ekstremitas superior dan ekstremitas inferior.4
Ke arah cranial masing-masing ginjal berbatas pada diafragma yang memisahkannya dari kavitas pleuralis dan costa XII. Hepar, duodenum, dan colon ascenden terletak ventral terhadap ginjal kanan, sedangkan ginjal kiri di sebelah ventral berbatas pada gaster, spleen, pancreas, jejunum, dan colon descenden. Pada tepi medial masing-msing cekungan ginjal, terdapat celah vertical yang dikenal sebagai hilum renale, yakni tempat arteria renalis masuk, dan vena renalis serta pelvis renalis keluar. Hilum renale memberi jalan ke suatu ruang dalam ginjal yang dikenal sebagai sinus renalis, dan berisi pelvis renalis, calices renales, pembuluh, saraf, dan jaringan lemak dengan jumlah yang berbeda-beda.4
Kedua ginjal bersama-sama mengandung sekitar 2.400.000 nefron, dan tiap nefron dapat membentuk urin sendiri. Pada dasarnya nefron terdiri dari suatu glomerulus di mana cairan difiltrasikan, dan suatu tubulus panjang tempat cairan difiltrasikan tersebut diubah menjadi urin dalam perjalanannya ke pelvis ginjal.5
Arteri ginjal langsung berasal dari aorta. Vena renalis mengalir secara langsung ke vena cava inferior. Vena renalis sinistra berjalan di depan aorta, dibawah pangkal arteri mesenteric superior. Arteri renalis dekstra berjalan dibelakang vena cava inferior. Sedangkan untuk persarafannya berasal dari pleksus renalis dan terdiri dari serabut simpatis dan parasimpatis. Serabut aferen pleksus renalis berasal dari nervus splanchniei thoracici.4, 6

Gambar 1. Struktur anatomi ginjal
•    Ureter
Ureter adalah pipa berotot sempit yang mengantar urine dari kedua ginjal ke vesika urinaria. Ureter abdominal terletak di tepi medial psoas mayor dan kemudian melintas ke pelvis pada bifurkasio arteri iliac di depan sendi sacroiliac. Di bagian anterior, ureter kanan dilindungi pangkalnya oleh bagian kedua duodenum dan kemudian terletak dibagian lateral dari vena cava inferior dan dibelakang peritoneum posterior. Ureter pelvis berjalan di dinding lateral pelvis didepan arteri iliac internal; kemudian ureter ini berputar ke depad dan medial untuk masuk ke kandung kemih. Pada lelaki ureter ini berada di atas vesikula seminalis didekat ujungnya dan dilintasi oleh vas deferens di bagian superfisialnya. Pada perempuan, ureter lewat diatas forniks lateral vagina dan berada diatas ligament dan pembuluh darah uterus.6
•    Kandung Kemih (Vesica Urinaria)
Sewaktu kosong vesica urinaria terletak dalam pelvis minor, dorsal, dan agak cranial dari ossa pubis. Vesica urinaria terpisah dari tulang-tulang tersebut oleh retropubicum dan bersandar di atas dasar pelvis, terletetak kaudal dari peritoneum. Kedudukan vesica urinaria dalam jaringan lemak ekstraperitoneal membuatnya relative bebas, kecuali cervix vesicae yang tertambat erat oleh ligamentum pubovesicae pada wanita dan ligamentum puboprostaticum pada lelaki. Dalam vesika urinaria selalu terdapat urin dan bentuknya sedikit membulat. Vesica urinaria yang kosong dan berbentuk limas, memiliki empat permukaan: sebuah permukaan cranial, dua permukaan laterokaudal dan sebuah permukaan dorsal. Kedua ureter melewati dinding vesica urinaria secara serong dalam arah mediokaudal. Peningkatan tekanan dalam vesica urinaria menekan rapat dinding ureter, dan mencegah urin terdorong balik ke vesika urinaria. 4
•    Uretra
Uretra laki-laki dan perempuan tidaklah sama. Uretra laki-laki lebih panjang dibandingkan dengan uretra perempuan.

•    Uretra laki-laki
Uretra menyalurkan urin keluar dari vesica urinaria melalui ostium uretra eksternum pada ujung gland penis. Uretra juga merupakan penyalur cairan mani. Uretra lelaki memiliki panjang 20 cm dan dibagi menjadi tiga bagian pars prostatica, pars membranasea dan pars spongiosa. Pars prostatica (panjang 3 cm), seperti namanya, uretra ini melewati prostat. Pars prostatica ini adalah bagian uretra yang paling tebal dan paling mudah dilebarkan. Pada permukaan dorsal pars prostatica terdapat beberapa struktur yang perlu diperhatikan. Bentuk yang paling menarik perhatian ialah sebuah crista uretra yang kedua sisinya beralur, yakni sinus prostatikus. Uretra pars membranous (sepanjang 2 cm) menembus spinkter eksternal uretra  dan membrane perineal fasial yang membungkus permukaan superficial spinkter. Uretra pars spongiosum (panjang 15 cm) melewati korpus spongiosum penis. 4, 6
•    Uretra perempuan
Uretra perempuan memiliki panjang 4 cm; uretra ini melewati spinkter uretra dan terletak di depan vagina. Meatus ekternal terbuka 2,5 cm dibelakang klitoris. Spinkter uretra perempuan adalah sebuah struktur yang lemah dan konrol vesika tampaknya bergantung terutama pada spinkter intrinsic serabut otot sirkular kandung kemih.6

Gambar 2. Traktus urinarius wanita
 
Gambar 3. Traktus urinarius laki-laki
FISIOLOGI PEMBENTUKAN URINE
    System kemih terdiri dari organ pembentuk urin – ginjal – dan struktur yang menyalurkan urin dari ginjal ke luar tubuh. Terdapat tiga proses dasar yang berperan dalam pembentukan urine yaitu filtrasi glomerulus, reabsorpsi tubulus, dan sekresi tubulus.
•    Filtrasi glomerulus
Pada saat darah mengalir melalui glomerulus, terjadi filtrasi plasma bebas protein menembus kapiler glomerulus ke dalam kapsul bowman. Proses ini dikenal sebagai filtrasi glomerulus, yang merupakan langkah pertama dalam pembentukan urin. Membran di glomerulus pada umumnya serupa dengan membrane kapiler lain di seluruh tubuh, tetapi ia mempunyai beberapa perbedaan. Pertama membrane ini mempunyai tiga lapisan utama, yaitu:
1.    Lapisan endotel kapiler
2.    Membrane basalis
3.    Lapisan sel epitel.5, 7
Setiap hari terbentuk rata-rata 180 liter (sekitar 47,5 galon) filtrate glomerulus. Dengan menganggap bahwa volume volume rata-rata pada orang dewasa adalah 2,75 liter, hal ini berarti  bahwa seluruh volume plasma tersebut difiltrasi sekitar enam puluh kali oleh ginjal setiap harinya. Apabila semua yang difiltrasi  dikeluarkan sebagai urin, volume plasma total akan habis keluar melalui urin hanya dalam waktu  setengah jam. Namun, hal ini tidak terjadi karena tubulus-tubulus ginjal dan kapiler peritubuler berhubungan di sepanjang saluran, sehingga dapat terjadi perpindahan bahan-bahan antara cairan di dalam tubulus dan darah di dalam kapiler peritubulus.7
Jumlah filtrate glomerulus yang dibentuk setiap menit dalam semua nefron di kedua ginjal disebut filtrasi glomerulus. Pada orang normal, rata-rata adalah sebesar 125 ml/menit. Lebih dari 99 persen filtrate tersebut biasanya direabsorpsi di dalam tubulus. Sisanya keluar sebagai urine.5
•    Reabsorpsi tubulus
Pada saat filtrate mengalir melalui tubulus, zat-zat yang bermanfaat bagi tubuh dikembalikan ke plasma kapiler peritubulus. Perpindahan, bahan-bahan yang bersifat selektif dari bagian dalam tubulus (lumen tubulus) ke dalam darah ini dikenal sebagai reabsorpsi tubulus. Filtrate glomerulus yang memasuki tubulus nefron mengalir melalui tubulus proksimal, ansa Henle, tubulus distalis, dan melalui duktus koligentes ke dalam pelvis ginjal sebagai urin.5, 7
Zat-zat yang direabsorpsi tidak keluar dari tubuh melalui urin, tetapi diangkut oleh kapiler peritubulus ke system vena dan kemudian ke jantung untuk kembali diedarkan. Dari 180 liter plasma yang difiltrasi setiap hari, rata-rata 178,5 liter diserap kembali, dengan 1,5 liter sisanya terus mengalir ke pelvis ginjal untuk dikeluarkan sebagai urin. Secara umum, zat-zat yang perlu disimpan oleh tubuh akan secara selektif direabsorpsi, sedangkan zat-zat yang tidak dibutuhkan  dan perlu dieliminasi akan tetap berada dalam urin. Biasanya 99 persen air di dalam filtrate glomerulus direabsorpsi ketika ia mengalir melalui tubulus tersebut. Oleh karena itu, jika suatu unsur terlarut dalam filtrate glomerulus tidak direabsorpsi sama sekali sepanjang perjalanan tubulus tersebut, reabsorpsi air ini tentu saja memekatkan zat tersebut lebih dari 99 kali. Sebaliknya, beberapa unsure, seperti glukosa dan asam amino, hampir seluruhnya direabsorpsi sehingga konsentrasi mereka menurun hampir ke nol sebelum cairan tersebut menjadi urin. Dengan cara ini tubulus ginjal memisahkan zat-zat yang harus disimpan di dalam tubuh dari zat-zat yang harus disimpan dalam tubuh dari zat-zat yang harus dikeluarkan dalam urine. 5, 7
•    Sekresi tubulus
Proses ginjal ketiga, sekresi tubulus, yang mengacu pada perpindahan selektif zat-zat dari darah kapiler peritubulus ke dalam lumen tubulus, merupakan rute kedua bagi zat dari darah untuk masuk ke dalam tubulus ginjal. Cara pertama zat berpindah dari plasma ke dalam lumen tubulus adalah melalui filtrasi glomerulus. Namun, hanya sekitar 20% dari plasma yang mengalir melalui kapiler glomerulus disaring ke dalam kapsul Bowman; 80% sisanya terus mengalir melalui arteriol eferen ke dalam kapiler peritubuler. Beberapa zat mungkin secara diskriminatif dipindahkan dari plasma di kapiler peritubulus ke dalam lumen tubulus melalui mekanisme sekresi tubulus. Sekresi tubulus menyediakan suatu mekanisme yang dapat lebih cepat mengeliminasi zat-zat tertentu dari plasma dengan mengekstraksi lebih banyak zat tertentu dari 80% plasma yang tidak difiltrasi di kapiler peritubulus dan menambahkan zat yang sama ke jumlah yang sudah ada di dalam tubulus akibat proses filtrasi.7
Setelah terbentuk, urin didorong oleh kontraksi peristaltic melalui ureter dari ginjal ke kandung kemih untuk disimpan sementara. Kandung kemih dapat menampung 250 sampai 400 ml urin sebelum reseptor regang di dindingnya memulai refleks berkemih. Refleks ini menyebabkan pengosongan kandung kemih secara involunter dengan secara bersamaan menyebabkan kontraksi kandung kemih yang disertai oleh pembukaan sfingter uretra internal dan eksternal. Berkemih dapat untuk beberapa saat dan dengan sengaja dicegah sampai waktu yang lebih tepat dengan pengencangan sfingter eksternal dan diafragma pelvis di sekitarnya secara sengaja.7

Gambar 4. Mekanisme pembentukan urine

JENIS-JENIS INFILTRAT URIN
a.    Proteinuria
Pada keadaan yang normal, protein urin tidak melebihi 150 mg/hari untuk orang dewasa dan 140 mg/m2 permukaan tubuh pada anak-anak. Proteinuri dapat menjadi indikasi yang pertama dari penyakit ginjal renovaskular, glomerular, tubulointerstitial, atau dapat mencerminkan aliran protein abnormal yang berlebihan kedalam urin yang disebabkan oleh multipel myeloma. Proteinuria juga dapat disebabkan oleh penyakit nonrenal dan disebabkan oleh berbagai macam keadaan fisiologis seperti olahraga berat. Konsentrasi protein dalam urin sangat bergantung pada keadaan hidrasi, tetapi jarang melebihi 20 mg/dL. pada keadaan normal, protein urin terdiri dari 30% albumin, 30% serum globulin, dan 40% protein jaringan. Susunan ini mungkin dapat dirubah oleh keadaan yang mempengaruhi filtrasi glomerulus, reabsorpsi tubulus, atau ekskresi protein dalam urine. Dengan menggunakan cara Esbach didapatkan nilai normal protein dalam urin adalah < 0,5 g/liter.8, 9, 10
•    Tipe proteinuria
Proteinuri dapat dibagi berdasarkan lama terjadinya, yaitu:
•    Proteinuri transien (intermiten)
Proteinuri transien adalah proteinuri yang paling sering terjadi. protein transien biasanya dapat sembuh tanpa dilakukan pengobatan. Demam atau olahraga berat dapat menyebabkan proteinuria transien. Pada orang tua keadaan ini dapat disebabkan oleh gangguan jantung kongestif.
•    Proteinuri ortostatik
Proteinuri ortostatik terjadi jika ginjal dapat menyaring keluar protein dalam jumlah yang normal ketika berbaring tetapi jumlahnya meningkat ketika berdiri atau duduk. Hal ini terjadi pada 2 hingga 5 persen anak remaja, tetapi hal ini tidak terjadi pada orang yang berusia lebih dari 30 tahun. Penyebabnya masih belum diketahui. Proteinuri ortostatik tidak membahayakan, tidak membutuhkan perawatan, dan biasanya menghilang seiring dengan bertambahnya usia.
•    Proteinuri persisten
Berbeda dengan proteinuri transien dan ortostatik, proteinuri persisten terjadi pada orang yang menderita penyakit ginjal atau masalah medis yang lain. Antara lain mencakup: penyakit pembuluh darah atau penyakit jantung, penyakit dalam tubuh yang dapat menghasilkan protein abnormal, penyakit yang mempengaruhi kerja ginjal (misal, penyakit ginjal).9, 11
Sebagian besar penyebab proteinuria dapat dikategorikan menjadi glomerular, tubular, atau aliran yang berlebihan.
•    Proteinuria glomerular adalah tipe proteinuria yang paling sering dan disebabkan oleh peningkatan permeabilitas kapiler glomerular terhadap protein, terutama albumin. Proteinuria glomerular terjadi pada penyakit glomerular primer seperti nefropati IgA atau pada glomerulopati yang berkaitan dengan penyakit sistemik seperti diabetes mellitus. Harus dicurigai adanya penyakit glomerular jika ekskresi protein urin 24 jam melebihi 1 gram dan hampir dapat dipastikan ketika terjadi penyakit glomerular jika ekskresi protein total melebihi 3 gram.9
•    Proteinuria tubular disebabkan oleh kegagalan untuk melakukan reabsorbsi protein denagan berat molekul yang rendah secara normal seperti immunoglobulin. Pada proteinuri tubular, hilangnya protein urin dalam 24 jam  jarang melebih 2 hingga 3 gram dan protein yang diekskresikan adalah protein dengan berat molekul yang rendah. Penyakit yang biasa menyebabkan proteinuria tubular umumnya berkaitan dengan defek fungsi tubulus proksimal yang lain, seperti glukosuria, aminoasiduria, fosfaturia, dan uricosuria (sindrom Fanconi).9
•    Aliran proteinuria yang berlebihan terjadi pada keadaan yang tidak berkaitan dengan penyakit ginjal dan disebabkan oleh peningkatan konsentrai plasma immunoglobulin abnormal dan protein dengan berat molekul rendah lainnya. Peningkatan kadar serum dari protein abnormal menyebabkan filtrasi glomerular yang berlebihan yang melebihi kapasitas reabsorptif tubular. Penyebab yang paling sering adalah multipel myeloma, dimana rantai immunoglobulin ringan diproduksi dalam jumlah yang banyak dan muncul dalam urine (protein Bence Jones).9
Gejala klinis
Pada sebagian besar pasien, proteinuria bersifat asimptomatik dan dapat terdeteksi pada saat pemeriksaan laboratorium. Pada pemeriksaan fisis dapat dilakukan pemeriksaan status volume intravaskuler dengan memeriksa tekanan vena jugular, tekanan darah pada saat posisi supine dan saat berdiri. Nilai status volume ekstravaskuler, cari edema, asites, dan efusi pleura.12
Komplikasi
    Komplikasi yang dapat terjadi pada proteinuria adalah sebagai berikut:
•    Edema pulmonal yang disebabkan oleh cairan yang berlebihan
•    Gagal ginjal akut yang disebabkan oleh deplesi intravascular
•    Peningkatan resiko infeksi bakteri
•    Peningkatan resiko thrombosis arteri dan vena
•    Peningkatan resiko terjadinya penyakit kardiovaskular.12
b.    Hematuria
Urine normal seharusnya mengandung kurang dari 3 sel darah merah per lapangan pandang. Derajat perubahan warna secara langsung berkaitan dengan jumlah hemoglobin yang muncul dalam urin. Adanya hematuria adalah salah satu penyebab dan tanda penyakit urologi yang paling penting dan paling sering didapatkan. Penyebab hematuri mulai dari olahraga hingga keganasan (karsinoma kandung kemih). Hematuria dapat dibedakan menjadi hemoglobinuria dan mioglobinuria dengan menggunakan pemeriksaan mikroskopik pada urin yang telah disentrifugasi; munculnya eritrosit dalam jumlah besar menegakkan diagnosis hematuria. Jika tidak tampak eritrosit, pemeriksaan serum akan membedakan hemoglobinuria dan mioglobinuria. Hematuria biasanya dikategorikan sebagai gross hematuri (dapat dilihat mata) atau hematuri mikroskopik (lebih dari tiga sel darah merah per lapangan pandang mikroskopik pada dua dari tiga specimen yang dikumpulkan).9, 13

Gambar 5. Gambaran mikroskopis eritrosit dalam urine
Gejala klinis
Pada hematuria yang terpenting adalah melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis yang teliti. Pada infeksi saluran kencing didapatkan gejala demam, nyeri abdomen, disuria, enuresis. Jika hematuria disebabkan gangguan pada glomerulus didapatkan gejala bengkak periorbital pada saat pagi hari, pertambahan berat badan, oligouria, adanya urine dengan warna gelap, terdapat edema, dan hipertensi.14
c.    Glukosuria
Dalam keadaan normal glukosa tidak muncul dalam urine hingga konsentrasi glukosa dalam plasma mencapai 180 mg/dl (10 mmol/L). Ekskresi glukosa maksimum dicapai pada konsentrasi plasma sebesar 270 mg/dl (15 mmol/L). Pemeriksaan urin untuk glukosa dan keton berguna dalam menyaring pasien diabetes mellitus. Normalnya, hampir semua yang  disaring oleh glomerulus diserap di dalam tubulus proksimal. Walaupun glukosa dalam jumlah yang sangat kecil dapat terkandung dalam urin yang dieksresikan, jumlah ini tidak signifikan secara klinis. Akan tetapi, jika jumlah glukosa yang disaring melebih kapasitas reabsorpsi tubular, glukosa akan diekskresikan dalam urine.9, 15
Gejala klinis
Anamnesis saja tidak memberikan petunjuk untuk glukosuria renal. Pada kasus yang berkaitan dengan defek tubular atau hiperglikemia (diabetes mellitus), anamnesis spesifik terhadap penyakit atau sindrom tersebut. Glukosuria renal pertama kali diketahui melalui pemeriksaan urinalisis rutin. Pada kasus glukosuria yang berkaitan dengan gangguan tubular, didapatkan riwayat kegagalan pertumbuhan, polyuria, polidipsi, atau dehidrasi.16
d.    Leukosit
Adanya leukosit dalam urin (pyuria) tidak menandakan adanya infeksi. Dalam sedimen yang berasal dari specimen urin tengah dari pria dan yang diperoleh dari aspirasi suprapubik atau kateterasi pada wanita, hasil temuan lebih dari 5 leukosit per lapangan pandang dipertimbangkan sebagai hasil yang abnormal. Jika pasien memiliki gejala infeksi traktus urinarius serta pyuria dan bakteriuria, dapat ditegakkan diagnosis infeksi dan dapat memulai terapi empiris.17
Kepentingan klinis
    Leukositoria adalah peningkatan ekskresi leukosit oleh urine dan gejala utama dari inflamasi ginjal (nefritis) atau infeksi bakteri pada traktus genitourinarius. Selain bakteriuria, leukosituria adalah salah satu dari gejala utama pielonefritis akut dan kronik. Pada pielonefritis bentuk akut, gejala tambahannya juga muncul seperti peningkatan temperature, nyeri ginjal, proteinuria, eritrosituria. Leukosit seringkali menjadi satu-satunya gejala yang terjadi diantara serangan akut dari suatu penyakit. Leukosituria memeliki peranan yang sangat penting pada pielonefritis kronis. nefritis yang disebabkan oleh demam scarlet atau fenacetine dan glomerulonefritis seringkali disertai oleh leukosituria. Leukosituria adalah gejala utama pada penyakit inflamasi traktus urinarius.18
e.    Silinder (cast)
Cast adalah elemen memanjang yang berbentuk silinder. Cast terbentuk pada tubulus ginjal dengan matriks glikoprotein yang berasal dari sel epitel ginjal. Silinder pada urin menunjukkan adanya keadaan abnormal pada parenkim ginjal yang biasanya berhubungan dengan proteinuria. Tetapi pada urin yang normal mungkin saja ditemukan sejumlah kecil silinder hialin. Berikut ini adalah jenis-jenis silinder:
     Silinder hialin
Silinder ini tidak berwarna, homogen, dan transparan dengan ujung yang membulat. Silinder ini muncul dalam jumlah yang berbeda-beda, tetapi mengalami peningkatan pada kelainan ginjal ringan. Peningkatan jumlah silinder hialin juga teradi pada gagal jantung akut atau demam tetapi tanpa disertai penyakit pada ginjal, pada mereka yang mengkonsumsi furosemide, atau orang normal yang melakukan kegiatan olahraga yang berat.8
     Silinder sel
Terdapat tiga tipe silinder sel, antara lain:
•    Silinder eritrosit
Ini adalah silinder yang mengandung eritrosit dengan jumlah yang berbeda yang melekat pada matriks silinder. Silinder eritrosit ditemukan pada glomerulonefritis akut, lupus nefritis, sindrom Goodpasture, endokarditis bakterialis subakut, trauma ginjal, pielonefritis, gagal jantung kongestif, thrombosis renalis, dan periartritis nodosa.8
•    Silinder leukosit
Silinder ini mengandung neutrofil dengan jumlah yang berbeda, dan menunjukkan darimana leukosit berasal. Oleh karena itu, pencarian elemen ini menjadi pemeriksaan yang penting pada pasien dengan infeksi traktus urinarius, karena kemunculan silinder leukosit menyatakan adanya keterlibatan parenkim ginjal. Akan tetapi, mereka juga dapat ditemukan pada nefritis interstitial akut dan glomerulonefritis aktif proliferative.8
•    Silinder epithelial
Silinder ini mengandung sel epithelial tubular, dan dapat ditemukan pada semua keadaan yang berkaitan dengan kerusakan tubular sepertu nekrosis tubular akut, nefritis interstitial akut, sindrom nefritik akut, sindrom nefrotik.8
     Silinder granular
Silinder ini mengandung granul yang kasar atau yang halus. Pada pasien dengan proteinuria, granul pada silinder disebabkan oleh lisosom yang mengandung protein yang telah di ultrafiltrasi, sementara pada pasien yang menderita nekrosis tubular akut, granul pada silinder disebabkan oleh sel tubular yang mengalami degenerisasi. Silinder granular ditemukan pada pasien yang menderita penyakit ginjal.8
     Silinder lilin
Nama silinder ini berasal dari penampakan mereka yang sama dengan lilin yang mencair. Silinder ini merupakan degenerasi yang lebih lanjut dari silinder granular. Silinder ini terbentuk karena adanya statis urin yang lama dan menggambarkan kondisi patologis yang serius pada ginjal dan saluran kemih misalnya pada gagal ginjal kronik, hipertensi maligna, renal amiloidosis, dan nefropati diabetika.8

Gambar 6. Jenis-jenis silinder
f.    Bakteriuria
Dalam keadaan normal urin bersifat steril. Kuman yang sering menyebabkan infeksi pada ginjal dan saluran urin ialah: Escherichia coli, aerobacter aerogens, staphylococci, streptococci, salmonella thypi, proteus vulgaris, pseudomonas aeruginosa, Mycobacterium tuberculosis, dan neisseria.gonorhoe. Diagnosis sementara infeksi bakteri dapat dibuat berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis sedimen kencing. Jika beberapa bakteri per lapangan pandang ditemukan dalam spesimen urin yang diperoleh secara aspirasi suprapubik atau kateterisasi pada seorang wanita atau memperoleh specimen urin tengah dari seorang pria, diagnosa sementara infeksi bakteri bisa dibuat dan pengobatan empiris dimulai. Temuan harus dikonfirmasi oleh kultur bakteri.
 Kultur bisa digunakan untuk memperkirakan jumlah bakteri dalam urin (kultur quantitative), untuk mengidentifikasi organisme yang muncul, dan untuk memprediksi obat yang efektif dalam mengobati infeksi. Kultur sangat penting pada pasien dengan infeksi berulang atau berkelanjutan, insufisiensi ginjal, atau alergi obat. Jumlah bakteri dalam urin (koloni count) dipengaruhi oleh metode yang digunakan untuk mengumpulkan spesimen urin, status hidrasi pasien, dan apakah pasien telah mengambil obat antimikroba. Konsep bahwa infeksi saluran kemih hanya hadir ketika spesimen urin mengandung 105 atau lebih bakteri per mililiter bukan merupakan aturan mutlak; jumlah yang lebih rendah tidak menghilangkan kemungkinan infeksi, terutama jika terdapat gejala pada pasien. Kultur dengan pertumbuhan beberapa organisme biasanya menandakan kontaminasi. Mengidentifikasi obat yang bakteri sensitif mungkin diperlukan. Escherichia coli, yang menyebabkan 85% infeksi saluran kencing, diketahui sensitif terhadap berbagai obat antimikroba oral. Namun, pada pasien dengan septikemia, insufisiensi ginjal, diabetes mellitus, atau dicurigai enterococcal, infeksi Proteus, atau Pseudomonas, penting untuk menentukan antibiotik sensitivitas organisme dan konsentrasi obat berbeda-beda.8
g.    Kristal
Urin dapat mengandung beberapa jenis Kristal. Beberapa diantaranya hanya ditemukan atau secara dominan berada pada urin yang asam sementara yang lain ditemukan pada urin yang bersifat alkalin. Kristal yang penting yang terdapat dalam urine adalah sebagai berikut:
     Asam urat
Kristal ini terpresipitasi pada pH yang kurang atau sama dengan 5,4. Mereka memiliki bentuk-bentuk yang berbeda. Akan tetapi, bentuk yang paling sering terlihat adalah berbentuk tablet.
     Kalsium oksalat
Terdapat dua jenis utama Kristal kalsium oksalat: monohidrat dan bihidrat. Kristal monohidrat terlihat sebagai partikel ovoid atau diskus bikonkaf/bikonveks, sedangkan yang bidihidrat memiliki bentuk bipiramidal.
     Kalsium fosfat
Kristal ini muncul pada urin yang bersifat alkalin, penampakannya seperti prisma, jarum, dan agregat yang berbentuk seperti bintang atau seperti plat yang memiliki permukaan granular.
     Cistin
Kristal ini memiliki bentuk tipis, heksagonal, plat birefringent dengan tepian yang ireguler. Kristal ini adalah penanda cistinuria, dan kebanyakan ditemukan pada urin yang asam.
Temuan beberapa kristal asam urat, kalsium oksalat, dan fosfat kalsium biasanya tidak relevan, munculnya Kristal-kristal ini sebagai akibat dari peristiwa fisiologis seperti asupan makanan atau perubahan suhu urin dan pH yang terjadi pada saat berdiri. Namun, dalam kasus minoritas, kristaluria dapat berhubungan dengan pengendapan intratubular kristal dan gagal ginjal akut. Ini telah diamati terutama di nefropati asam urat akut, keracunan etilen glikol, dan setelah pemberian obat-obatan dengan dosis tinggi seperti sulfadiazin, asiklovir, indinavir, oksalat naftidrofuryl, vitamin C, amoksisilin, dll. Pemeriksaan tentang kristaluria juga dapat digunakan untuk memantau pasien dengan urolithiasis metabolik berulang.8


Gambar 7. Jenis-jenis Kristal yang terdapat dalam urin






DAFTAR PUSTAKA
1.    Harjono Rima. 2005. Kamus Besar Kedokteran Dorland. EGC: Jakarta
2.    Anonymous. 2003. Urinalysis. [cited on 20 April 2011]. In www.surgeryencyclopedia.com
3.    Schrier Robert W. 2007. Kidney & Urinary Tract 8th edition. Lippincott Williams & Wilkins: USA.
4.    Moore, K. 2002. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta: Hipokrates.
5.    Guyton C Arthur. 2002. Guyton Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. EGC: Jakarta
6.    Ellis Harold. 2006. Clinical Anatomy. Blackwell Publishing: USA
7.    Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem ed 2. EGC: Jakarta
8.    Davison Alex. 2005. Oxford Textbook of Clinical Nephrology 3rd edition. Oxford University Press: UK
9.    Wein, Alan J et al. Campbell Walsh Urology. Saunder Elsevoer: Philadelphia. 2007
10.    Hardjoeno dkk. Substansi dan Cairan Tubuh. Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin: Makassar. 2005
11.    Rose Burton. 2011. Protein in The Urine (Proteinuri). [Cited on 20 april 2011]. In www.uptodate.com
12.    Lerma Edgar. 2010. Proteinuria. [cited on 4 may 2011]. Available in www.emedicine.com
13.    Siroky Mike. 2004. Handbook of Urology. Lippincott Williams & Wilkins: USA.
14.    Gulaati Sanjev. 2010. Hematuria. [cited on 4 may 2011]. Available in www.emedicine.com
15.    Sobh Mohamed. 2000. Essential of Clinical Nephrology. Dar El Shorouk: Egypt
16.    Bhimma Rhajendra. 2009. Renal Glucosuria. [cited on 4 may 2011]. Available in www.emedicine.com
17.    Tanagho Emil. 2008. Smith’s General Urology 17th edition. McGraw-Hill: USA
18.    Anonymous. 2009. Urinalysis by Means of Test Strips. [cited on 4 may 2011]. Available in www.diagnosticsamples.com

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...