Kamis, 01 Desember 2011

Refarat Keratitis Lensa Kontak

KERATITIS LENSA KONTAK

I.    PENDAHULUAN
Keratitis merupakan suatu kondisi dimana kornea mata yang merupakan bagian terdepan bola mata, mengalami peradangan.1 Keratitis dapat disebabkan oleh infeksi maupun noninfeksi. Keratitis akibat noninfeksi dapat disebabkan oleh trauma ringan, seperti goresan kuku, atau akibat memakai lensa kontak yang terlalu lama. Keratitis akibat infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, dan parasit.2 Mikroorganisme yang paling sering menyebabkan infeksi pada pemakaian lensa kontak adalah bakteri tetapi acanthamoeba belakangan ini ditemukan sangat banyak, infeksi akibat jamur sangat jarang.3
Berbagai penyebab keratitis dapat memberikan pola pungtat yang berbeda pada pewarnaan fluoroscein, contohnya bentuk difus dapat disebabkan oleh konjungtivitis virus, trauma dan toksisitas; pungtat di bagian inferior dapat disebabkan oleh blefarokonjungtivitis, lagofthalmus, trikiasis; pungtat di bagian intrapalpebral dapat disebabkan oleh sindrom dry eye, eksposur, keratopati neurotropik; pungtat di bagian superior dapat disebabkan oleh keratokonjungtivis limbus superior, benda asing di bawah palpebra, trikiasis; pungtat di bagian superior konjungtiva dapat disebabkan oleh keratokonjungtivitis limbus superior; pungtat di jam tiga dan sembilan disebabkan oleh lensa kontak; pungtat dibagian konjungtiva inferior dapat disebabkan oleh mekanikal dan disfungsi glandula meibom.4

Lensa kontak adalah protesa okular yang dikenakan untuk memperbaiki visus. Mayoritas lensa kontak dipakai untuk koreksi penglihatan karena alasan kosmetik. Terdapat berbagai tingkat pengetahuan dalam penggunaan dan perawatan lensa kontak. Komplikasi dari pemakaian lensa kontak terjadi karena beberapa faktor: penyalahgunaan lensa, pemakaian lensa yang tidak sesuai, atau penyakit mata sebelumnya. 5,6
Komplikasi lensa kontak yaitu mulai dari self-limiting sampai mengganggu penglihatan, hal tersebut memerlukan diagnosis dan pengobatan yang cepat untuk mencegah terjadinya kebutaan. Dengan jutaan orang yang memakai lensa kontak, walaupun kecil persentasenya komplikasi lensa kontak merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting. Komplikasi lensa kontak sangat beragam pada umumnya melibatkan kelopak mata, konjungtiva, dan semua lapisan kornea (yaitu, epitel, stroma, endotelium).5,7
Komplikasi akibat pemakaian lensa kontak dapat segera diketahui dengan baik. Pemakaian lensa kontak menyebabkan perubahan pada kornea dalam hal struktur, jumlah, produksi air mata maupun tingkat oksigen dan karbon dioksida. Perubahan-perubahan tersebut dapat menimbulkan masalah dan juga dapat memperburuk penyakit yang sudah ada sebelumnya.8


Sekitar 6% dari pemakai lensa kontak per tahun akan terkena beberapa komplikasi, meskipun sebagian besar komplikasi ini cukup kecil. Sebuah studi baru-baru ini telah menemukan bahwa 9,1% pemakai lensa kontak mengunjungi Unit Kedaruratan Mata.8
Penelitian epidemiologi telah menghitung secara tahunan insiden lensa kontak kosmetik yang berhubungan dengan keratitis bakteri ulseratif sebanyak 0,21% pada pasien yang menggunakan lensa kontak extended wear dan 0,04% untuk pasien yang menggunakan lensa kontak daily.4
Keratitis acanthamoeba adalah infeksi kornea yang jarang terjadi tetapi berpotensi merusak.  Keratitis acanthamoeba terjadi setelah terkontaminasi luka pada kornea, 85% dari kasus keratitis terjadi pada semua jenis lensa kontak yang digunakan.9
Diperkirakan 30 juta orang di Amerika Serikat memakai lensa kontak soft. Kejadian keratitis fungal diperkirakan 4-21 per 10.000 pertahun pada pemakai lensa kontak soft, tergantung pada apakah pengguna memakai lensa semalaman.10
Untuk memahami lebih lanjut tentang keratitis akibat pemakaian lensa kontak maka pada sari pustaka ini akan dikemukakan secara singkat mengenai anatomi dan fisiologi kornea, tentang lensa kontak dan komplikasi pemakaian lensa kontak.

II.    ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA
A.    Anatomi Kornea
Permukaan anterior kornea berbentuk agak elips dengan diameter horizontal rata¬-rata 11,5-11,7 mm dan 10,5 - 10,6 mm pada diameter vertikal sedangkan permukaan posterior berbentuk sirkuler dengan diameter 11,7 mm. Pada orang dewasa ketebalan kornea bervariasi dengan rata-rata 0,65 – 1 mm di bagian perifer dan 0,55 mm di bagian tengah. Hal ini disebabkan adanya perbedaan kurvatur antara permukaan anterior dan posterior kornea. Radius kurvatur anterior kornea kira-kira 7,8 mm sedangkan radius kurvatur permukaan posterior rata-rata 6,5 – 6,8 mm. Kornea menjadi lebih datar pada bagian perifer, namun pendataran tersebut tidak simetris. Bagian nasal dan superior lebih datar dibanding bagian temporal dan inferior. Luas permukaan luar kornea kira-kira 1,3 cm 2 atau 1/14 dari total area bola mata. 11,12
        Secara histologis kornea terdiri atas 5 lapisan, yaitu :
1.    Epitel                                 
2.    Membran Bowman            
3.    Stroma
4.    Membran Descemet
5.    Endotelium
Gambar 1. Anatomi dan Histologi Kornea13 
 
B.    Fisiologi Kornea
Kornea memiliki tiga fungsi utama yaitu : media refraksi, media transmisi sinar (400 – 700 nm), dan fungsi proteksi.

Epitel
Terdapat dua fungsi utama epitel: (1) membentuk barier antara dunia luar dengan stroma kornea dan (2) membentuk permukaan refraksi yang mulus pada kornea dalam interaksinya dengan tear film. Barier dibentuk ketika sel-sel epitel bergerak dari lapisan basal ke permukaan kornea, secara progresif berdiferensiasi hingga sel-sel superfisial membentuk dua lapisan sel tipis yang melingkar yang dihubungkan oleh tight junction (zonula okluden), merupakan membran yang bersifat semipermiabel dan resistensi tinggi. Barier ini mencegah masuknya cairan dari tear film ke stroma dan juga melindungi struktur kornea dan intraokuler dari infeksi oleh patogen. Mikrovili pada hampir seluruh permukaan superfisial sel-sel epitel dilindungi oleh glikokaliks sehingga dapat berinteraksi dengan lapisan musin tear film agar permukaan kornea tetap licin. Berbagai proses metabolik, biokemikal dan fisikal tampaknya mempunyai tujuan primer mempertahankan keadaan lapisan sel epitel yang berfungsi sebagai barier dan agar permukaan kornea tetap licin. Permukaan kornea yang licin berperan penting dalam terbentuknya penglihatan yang jelas.14

Membrana Bowman
Membrana Bowman merupakan lapisan superfisial pada stroma, yang berfungsi sebagai barier terhadap stroma. Kepadatan lapisan Bowman menghalangi penyebaran infeksi ke dalam stroma yang lebih dalam. Lapisan ini tidak dapat beregenerasi sehingga bila terjadi trauma akan diganti dengan jaringan parut.15,16

Stroma
Stroma tersusun atas matriks ekstraselular seperti kolagen  dan proteoglikan. Matriks ekstraselular ini memegang peranan penting dalam struktur dan fungsi kornea.  Stroma terdiri atas kolagen yang diproduksi oleh keratosit dan lamella kolagen. Karena ukuran dan bentuknya seragam menghasilkan keteraturan yang membuat kornea menjadi transparan.  Serat-serat kolagen tersusun seperti lattice (kisi¬-kisi), pola ini berfungsi untuk mengurangi hamburan cahaya.4,15
Transparansi juga tergantung kandungan air pada stroma yaitu 70%. Proteoglikan yang merupakan substansi dasar stroma, memberi sifat hidrofilik pada stroma. Hidrasi sangat dikontrol oleh barier epitel dan endotel serta pompa endotel.4,14

Membrana Descemet
Membrana Descemet bersifat elastis dan lebih resisten terhadap trauma dan penyakit, dari pada bagian lain dari kornea.15,16

Endotel
Dua faktor yang berkontribusi dalam mencegah edem stroma dan mempertahankan kandungan air tetap pada 70% adalah fungsi barier dan pompa endotel. Fungsi barier endotel diperankan oleh adanya tight junction diantara sel-sel endotel.15
Pompa endotel
Stroma kornea memiliki konsentrasi Na+ 134 mEq/L sedangkan humor aquous 143 mEq/L. Perbedaan osmolaritas tersebut menyebabkan air berpindah dari stroma ke humor aquous melalui osmosis. Mekanisme ini diatur oleh pompa metabolik aktif sel-sel endotel. Pompa metabolik ini dikontrol oleh Na+ / K+ ATPase yang terletak di lateral membrane. Dalam menjalankan fungsinya pompa endotel tergantung pada oksigen, glukosa, metabolisme karbohidrat dan adenosine triphosphatase.  Keseimbangan antara fungsi barier dan pompa endotel akan mempertahankan keadaan deturgesensi kornea.15



III.    LENSA KONTAK DAN LARUTAN PEMBERSIH
A.    Lensa Kontak
Lensa kontak adalah potongan ajaib dari plastik yang memungkinkan anda untuk melihat tanpa kacamata. Dalam kebanyakan kasus, lensa kontak digunakan sebagai pengganti kacamata. Lensa kontak juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit mata tertentu atau dapat digunakan untuk tujuan kosmetik untuk mengubah penampakan warna mata anda.5,6
Berbagai jenis lensa kontak yang tersedia saat ini dapat dikelompokkan menurut:6
• Bahan lensa kontak.
• Lama Pemakaian.
• Desain Lensa
• Tujuan Pemakaian

Bahan Lensa Kontak
Diklasifikasikan berdasarkan bahan, ada tiga jenis lensa kontak:6,17
•    Hard lensa terbuat dari polymethyl methacrylate (PMMA); juga dikenal sebagai kaca atau Lucite. Lensa ini hampir tidak ada dan jarang digunakan.
•    Lensa lunak terbuat dari plastik, mengandung air seperti gel (hydrogel), dan merupakan jenis yang paling umum. Lensa lunak sedikit lebih besar dari ukuran dari kornea.
•    Lensa gas permeable (GP), juga dikenal sebagai rigid gas permeable (RGP) atau "oxygen permeable" lenses, yang dibuat kaku, plastik tanpa air dan sangat baik untuk presbiop dan astigmatisme tinggi. Lensa ini biasanya diameternya berukuran sekitar delapan milimeter yang ukurannya lebih kecil dari kornea.

Lensa Kontak Berdasarkan Lama Pemakaian
Sampai tahun 1979, setiap pemakai lensa kontak melepas dan membersihkan  lensa kontak pada malam hari. Adanya jenis "extended wear" memungkinkan pemakai untuk tidur dengan lensa kontak. Sekarang, dua jenis lensa yang diklasifikasikan berdasarkan lama pemakaian:
•    Daily wear - harus dilepaskan pada malam hari.
•    Extended wear - dapat dipakai semalaman, biasanya selama tujuh hari berturut-turut tanpa dilepaskan.18

Lensa Kontak Berdasarkan Desain
Banyak desain lensa yang tersedia untuk memperbaiki berbagai jenis masalah penglihatan:
•    Spherikal lensa kontak adalah desain, khas bulat lensa kontak, yang dapat memperbaiki myopia (rabun jauh) atau hyperopia (rabun jauh).
•    Bifokal lensa kontak mengandung zona yang berbeda untuk penglihatan dekat dan jauh untuk mengoreksi presbiopia.
•    Orthokeratology lensa secara khusus dirancang untuk membentuk kembali kornea selama tidur, menyediakan lensa yang bisa dipakai sepanjang hari.
•    Lensa kontak torik untuk mengoreksi astigmatisme, serta untuk miopia dan hyperopia.
Semua lensa ini dapat dibuat khusus untuk mata yang sulit dikoreksi. Banyak desain lainnya yang tersedia. Biasanya jenis ini jarang dan dibuat untuk digunakan dalam situasi khusus, seperti mengoreksi keratoconus.17,18


Lensa Kontak Berdasarkan Tujuan Pemakaian17
1)    Lensa kontak korektif
Sebuah lensa kontak korektif dirancang untuk memperbaiki penglihatan. Kondisi yang diperbaiki dengan lensa kontak termasuk miopia, hypermetropia, silindris dan presbyopia.
2)    Lensa kontak kosmetik
Lensa kontak kosmetik didesain untuk merubah penampilan bola mata. Lensa jenis ini selain dapat digunakan untuk mengkoreksi kelainan refraksi, namun dapat juga mengakibatkan penglihatan menjadi kaburan yang dialami penderita akibat efek pewarnaan  atau desainnya. Bahkan lensa jenis ini dapat menyebabkan iritasi ringan pada mata pada fase awal adaptasi. Seperti halnya lensa kontak lainnya, lensa kosmetik ini juga membawa resiko komplikasi ringan ataupun serius. Setiap individu  yang ingin menggunakan lensa kontak kosmetik ini harus mempertimbangkan resikonya.
3)    Lensa kontak terapeutik
Lensa kontak soft sering digunakan dalam pengobatan dan terapi gangguan mata yang bukan refraksi. Sebuah bandage contact lens melindungi kornea yang terluka atau penyakit kornea dari gesekan kelopak mata saat terus-menerus berkedip sehingga membantu penyembuhan kornea. Saat ini sedang dikembangkan lensa kontak yang dapat mengalirkan obat ke mata.






B.    Larutan Pembersih Lensa Kontak
Ada beberapa jenis larutan pembersih yang tersedia. Jenis-jenis larutan adalah sebagai berikut:19
Larutan pembersih : Sebuah larutan pembersih yang menghilangkan kotoran, lendir dan debris yang menumpuk selama memakai lensa. Lensa harus digosok dengan lembut selama beberapa detik untuk melarutkan debris dan kemudian dibilas dengan larutan garam.
Larutan pembilas : Setelah dibersihkan, lensa harus dibilas dengan larutan garam lensa kontak.
Larutan disinfeksi : Larutan desinfeksi menghambat dan/ atau membunuh bakteri dan mikro organisme berbahaya lainnya pada lensa yang dapat menyebabkan infeksi mata. Setelah pembersihan dan pembilasan lensa, lensa harus disimpan semalaman dalam tempat penyimpanan yang diisi dengan larutan desinfeksi segar.
Larutan multifungsi : Larutan kombinasi yang dirancang untuk membersihkan, membilas dan desinfeksi lensa kontak.
Larutan pelembab : Larutan yang diteteskan untuk melumasi lensa ketika lensa kontak sedang dipakai. Larutan tersebut dapat digunakan sepanjang hari untuk menjaga kelembaban mata dan untuk meningkatkan kenyamanan pemakaian lensa kontak.

IV.    PATOGENESA
Pengguna lensa kontak dapat memiliki komplikasi baik secara langsung
atau akibat dari permasalahan yang ada yang diperburuk dengan pemakaian lensa kontak. Lensa kontak secara langsung bersentuhan dengan mata dan memicu komplikasi melalui: trauma,  mengganggu kelembaban kornea dan konjungtiva, penurunan oksigenasi kornea,
stimulasi respon alergi dan inflamasi, dan infeksi.5,20

Hipoksia Dan Hiperkapnia
Akibat kondisi kornea yang avaskular, untuk metabolisme aerobik kornea bergantung pada pertukaran gas pada air mata. Mata tiap individu memiliki kondisi oksigenasi yang bervariasi untuk menghindari komplikasi hipoksia. Baik dengan menutup mata maupun memakai lensa kontak keduanya dapat mengurangi proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida pada permukaan kornea. Transmisibilitas oksigen (dK / L), yaitu permeabilitas bahan lensa (dK) dibagi dengan ketebalan lensa (L), merupakan variabel yang paling penting dalam menentukan pengantaran relatif oksigen terhadap permukaan kornea pada penggunaan lensa kontak. Pertukaran air mata di bawah lensa kontak juga mempengaruhi tekanan oksigen kornea. Pada lensa kontak kaku dengan diameter yang lebih kecil dengan transmissibilitas oksigen yang sama atau lebih rendah dapat mengakibatkan edema kornea lebih sedikit jika dibandingkan dengan lensa kontak lunak yang diameternya lebih besar karena pertukaran air mata yang lebih baik. Hipoksia dan hiperkapnia sedikit pengaruhnya pada lapisan stroma bagian dalam dan endotelium, dimana mereka memperoleh oksigen dan menghasilkan karbon dioksida ke dalam humor aquous.5
Akibat oksigenasi yang tidak memadai, proses mitosis epitel kornea yang menurun, menyebabkan ketebalannya berkurang, mikrosis, dan peningkatan fragilitas. Akibat pada  sel-sel epitel ini dapat menyebabkan keratopati pungtat epitel, abrasi epitel, dan meningkatkan resiko keratitis mikroba. Akumulasi asam laktat pada stroma akibat metabolisme anaerob menyebabkan meningkatnya ketebalan stroma dan mengganggu pola teratur dari lamellae kolagen, menyebabkan striae, lipatan pada posterior stroma, dan meningkatnya hamburan balik cahaya. Hipoksia dan hiperkapnia stroma yang lama mengakibatkan asidosis stroma, yang dalam waktu singkat akan menimbulkan edema endotel dan blebs dan dalam waktu yang lama akan mengakibatkan polymegethism sel endotel. Efek lebih lanjut dari hipoksia adalah hypoesthesia kornea dan neovaskularisasi baik pada epitel dan stroma. Vaskularisasi stroma dapat berevolusi menjadi keratitis interstisial, kekeruhan yang dalam, atau kadang-kadang perdarahan intrastromal. Pada beberapa kasus pemakaian lensa kontak yang lama, kornea menjadi terbiasa dengan tegangan oksigen baru, dan edema stroma berubah menjadi lapisan stroma yang tipis.5

Alergi Dan Toksisitas
Para pemakai lensa kontak menghadapi berbagai potensial alergen. Lensa kontak mendorong adhesi dari debris, sehingga tetap bersentuhan dengan jaringan okular. Larutan lensa kontak dan terutama pengawet di dalamnya menginduksi respon alergi pada individu-individu yang sensitif. Hipersensitifitas thimerosal khususnya dapat menyebabkan konjungtivitis, infiltrat epitel kornea, dan superior limbus keratokonjunktivitis. Reaksi terhadap deposit protein pada lensa kontak ini dapat mengakibatkan konjungtivitis giant papiler. Toksisitas yang dicetus oleh lensa kontak yang tidak bergerak berhubungan dengan akumulasi yang cepat dari metabolik pada lapisan kornea anterior, yang dapat mengakibatkan hiperemis pada limbus, infiltrat kornea perifer, dan keratik presipitat. Komplikasi yang lebih berat akibat toksisitas larutan mengakibatkan keratopati pungtat epitel.5



Kekuatan Mekanik
Kekuatan mekanik memicu komplikasi pada pengguna lensa kontak termasuk abrasi akibat pemakaian atau pelepasan lensa yang tidak tepat, atau akibat fitting dan pemakaian lensa kontak. Lensa kontak kaku yang tajam dapat menyebabkan distorsi kornea atau abrasi. Pada kasus yang berat, permukaan kornea menjadi bengkok. Keratokonus dapat timbul akibat kekuatan mekanik kronis dari pemakaian lensa kontak. Permukaan yang terlipat dapat diakibatkan oleh lensa kontak lunak yang terlalu ketat. Kerusakan epitel dapat terjadi secara sekunder akibat debris yang terperangkap di bawah lensa. Komplikasi ini sangat penting mengingat dominannya pemakaian lensa kontak kosmetik pada perempuan.5

Efek Osmotik
Lensa kontak meningkatkan penguapan air mata dan menurunkan refleks air mata, sehingga kejadian keratopati pungtat epitel meningkat. Permukaan yang kering akibat rusaknya lubrikasi mata oleh lapisan air mata, sehingga epitel beresiko terjadi cedera mekanis seperti abrasi dan erosi.5

V.    DIAGNOSIS
Diagnosis dan pengobatan keratitis lensa kontak memerlukan anamnesa dan pemeriksaan mata.
A.    Anamnesis
1.    Apa keluhan utama (nyeri hebat, rasa tidak nyaman yang sedang, gatal)?
2.    Jenis lensa kontak apa yang pasien gunakan (soft, hard, gas-permeable, daily-wear, extended-wear, atau frequent replacement/disposible)?
3.    Sudah berapa lama lensanya dipakai?
4.    Berapa lama lensa terus digunakan (jam/ hari/ minggu)?
5.    Apakah pasien tidur memakai lensa?
6.    Bagaimana cara lensa dibersihkan dan didesinfeksi?
7.    Apakah baru-baru ini ada perubahan jenis lensa kontak atau larutan?
8.    Apakah nyerinya berhubungan pada saat pemakaian?
9.    Apakah nyerinya hilang dengan pelepasan lensa?6,21

B.    Gejala Subyektif
1.    Nyeri
2.    Fotofobia
3.    Rasa mengganjal
4.    Penurunan penglihatan yang tiba-tiba.
5.    Mata merah
6.    Gatal
7.    Air mata dan sekret yang berlebihan
8.    Rasa terbakar6,21

C.    Gambaran Objektif
    Gambaran objektif yang ditemukan biasanya berhubungan dengan proses yang terjadi pada epitel kornea:


Noninfeksi
Keratopati Pungtat Epitel
 Keratopati pungtat epitel (PEK), atau keratitis pungtat superfisial (SPK), dapat terjadi sekunder akibat trauma, hipoksia, kekeringan, toksisitas kimia.5
Pemakaian lensa kontak yang tidak sesuai mengakibatkan pewarnaan di sentral yang kasar baik bagi pengguna jenis lensa kontak kaku dan lensa kontak lunak, dan dengan pemasangan lensa kontak kaku yang rata. Beratnya bentuk dari pewarnaan defek berbanding lurus dengan lamanya kesalahan pemakaian lensa kontak dan akan mempengaruhi waktu pemulihan setelah berhenti memakai lensa kontak. Terdapatnya pungtat pada arkuata dari PEK dekat limbus superior diduga akibat sekunder dari hipoksia bagian superior palpebra.5,22
PEK akibat toksisitas larutan pewarnaan fluoresensnya biasanya terlihat pungtat superfisial secara difus pada seluruh permukaan kornea, dan meluas sampai permukaan limbus konjungtiva.5
Keratopati puntat epitel bentuk dendrit terjadi akibat toksisitas dan hipersensitif larutan lensa kontak yang berat. Lesi bentuk dendrit ini sedikit mengangkat plak epitel yang terwarnai dengan fluoresens. Sedangkan, bentuk dendrit akibat keratitis herpes simpleks pewarnaan ulkusnya sangat jelas dan memperlihatkan terminal dari dendrit.5,22

Gambar 2. Keratitis dendiformis5


Pewarnaan arah jam tiga dan sembilan biasanya terjadi pada pemakaian lensa kaku namun dapat juga terjadi pada pemakaian lensa lunak. PEK berbentuk baji terlihat di bagian limbus nasal dan temporal sebagai akibat dari kurangnya air mata dari epitel di daerah itu. Bercak inferosentral dari PEK biasanya terjadi akibat sekunder dari mata kering dan eksposur akibat lensa kontak.5,20
Gambar 3. Pewarnaan pada jam 3 22
 
Keratopati pungtat epitel biasanya ditemukan pada pemakai lensa kontak yang sering diabaikan sebagai komplikasi berkaitan dengan lensa kontak yang jarang terjadi. Ingat bahwa pewarnaan epitel yang persisten menempatkan pemakai lensa kontak pada risiko terjadinya keratitis mikroba dan mungkin dapat berlanjut menjadi punktat erosi yang kasar, yang merupakan tahap awal keratitis Pseudomonas atau Acanthamoeba keratitis.5

Abrasi
Abrasi kornea akibat pemakaian soft lens dilihat paling sering pada lensa yang ketat atau lensa extended-wear. Dalam situasi ini, hipoksia akut epitel merusak perlekatan epitel pada lapisan Bowman.5



Erosi epitel
Lensa kontak soft extended-wear sering digunakan sebagai modalitas terapi pada erosi berulang yang resisten terhadap terapi medis yaitu dengan salin hipertonik topikal. Namun, penelitian terhadap hewan menunjukkan bahwa memakai lensa kontak extended mengurangi epitel adhesion. Ini mungkin menjelaskan intoleransi lensa kontak yang diperlihatkan dengan adanya distropi membran basal epitel anterior. Efek osmotik yaitu kandungan air yang tinggi, ultra-tipis, lensa perban lunak dapat mengurangi pengaruh dari adhesi dengan dehidrasi epitel, namun, pengeringan ini pada akhirnya menyebabkan terbentuknya erosi punktat yang kasar di sentral dan parasentral kornea.5

Indentasi Mekanik
Epitel yang berkerut menghasilkan alur yang saling-silang pada permukaan epitel pada pewarnaan fluoresen. Tekanan terus-menerus dari tepi rigid lensa pada permukaan kornea dapat menyebabkan alur arkuata atau ring. Bekas tepi lensa ini biasanya inferior tetapi dapat mewakili seluruh lensa. Bekas lensa yang berulang dapat mengakibatkan distorsi kornea yang dari waktu ke waktu dapat menjadi permanen.5
Gambar 4. Superior Epithelial Arcuata Lesion 22
                                                  
Mikrocysts Epitelial Microcysts epitelial terbentuk sebagai respon terhadap hipoksia pemakaian lensa kontak lunak. Mereka terbentuk setelah 6 sampai 8 minggu pemakaian lensa dan muncul sebagai bintik transparan yang menunjukkan iluminasi terbalik bila dilihat dalam retroillumination.5
Gambar 5. Microcyt22
 
Neovaskularisasi Superfisial
Pasien yang menggunakan daily-lens sering menunjukkan peningkatan vaskularisasi pada limbus, yang sebenarnya merupakan pelebaran kapiler limbus dan jarang berkembang menjadi neovaskularisasi. Pemakaiaan lensa kontak lunak extended-wear yang paling sering menunjukkan pertumbuhan signifikan pembuluh baru limbus.5
 
Gambar 6. Neovaskularisasi kornea 5,20
Hipoesthesia
Hypoesthesia kornea dipengaruhi oleh efek osmotik dari pemakai lensa kontak yaitu melalui penurunan refleks sekresi air mata.5

Infeksi
Keratitis infeksi pada pemakaian lensa kontak bisa disebabkan oleh bakteri, jamur dan parasit:
Keratitis Bakteri
Infeksi kornea karena bakteri bisa berkisar dari ulkus perifer kecil sampai ulkus sentral supuratif yang besar. 5
 

Gambar 9. Keratitis pseudomonas sentralis dengan hipopion5

     Pada keratitis bakteri Pseudomonas aeruginosa biasanya memberikan gambaran infiltrat berbentuk cincin, kekeruhan pada lapisan stroma, defek epitel yang luas, hipopion dan flare.22


Gambar 10. Keratitis staphylococcus aureus.22
 Pada keratitis bakteri staphylococcus aureus dapat memberikan gambaran keratitis yang berbentuk oval atau bulat, berbatas tegas, tetap terlokalisir, lebih sering berkembang ke dalam daripada meluas, hiperemis sedang, dan biasanya disertai hipopion.22

Keratitis Jamur
Gambaran keratitis jamur berupa ulkus indolen dan padat yang tidak berespon pada terapi awal, infiltrasi stroma yang halus dengan margin yang berbulu mungkin suatu keratitis jamur meskipun pewarnaannya dan kultur awalnya negatif. Lesi satelit biasanya terlihat, serta plak endotel di belakang infiltrat stroma. Biasanya ada reaksi ringan sampai sedang pada bilik mata depan.5
Mikroflora konjungtiva dan adneksa merupakan organisme yang menginfeksi defek epitel yang sudah ada. Candida adalah patogen yang paling sering menginfeksi defek epitel yang sudah ada. Jamur filamentous merupakan penyebab utama infeksi post trauma. Kerusakan akibat jamur tergantung zat-zat yang diproduksi oleh jamur dan reaksi perbaikan dari host.10
 
Gambar 11. Keratitis fungi 10,20



Keratitis Acanthamoeba
Tanda-tanda awal termasuk keratitis dendriformis, menyebar keratopati punktat epitel yang kasar, dan meningginya garis epitel dengan bercak infiltrat pada lapisan epitel dan subepitel. Keratoneuritis radial merupakan pathognomonik untuk penyakit ini tetapi hanya terjadi dibeberapa kasus. Infeksi stroma biasanya terjadi pada sentral kornea, pada awalnya terlihat abu-abu putih pada superfisial, nonsupuratif infiltrat. Sebagaimana penyakit berkembang, sebagian atau terbentuk infiltrat berbentuk cincin yang sempurna di daerah parasentral kornea.4,5
 


Gambar 12. Keratitis acanthamoeba 22

D.    Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis awal berdasarkan tanda dan gejala klinis dan dari anamnesis. Pemeriksaan oftalmologi yang biasa dilakukan seperti mikroskop slit-lamp dan pemeriksaan histologi. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan yang dapat memastikan dan mengidentifikasi agen penyebab infeksi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan teknik pemeriksaan KOH, bakteriologis, tes sensitifitas dan pemeriksaan polymerase chain reaction. Biopsi dilakukan apabila infeksi sudah mencapai lapisan stroma.2
a)    Bakteri
Patogen yang paling sering ditemukan pada pemeriksaan bakteriologi keratitis lensa kontak yaitu Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, dan Staphylococcus epidermidis.
•    Pseudomonas aeruginosa, pada pemeriksaan bakteriologisnya mengandung batang-batang gram-negatif halus panjang.
•    Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermid, pada pemeriksaan bakteriologisnya mengandung kokus gram-positif – satu-satu, berpasangan atau dalam bentuk rantai.
b)    Jamur
Mikroflora konjungtiva dan adneksa yang sering menjadi patogen pada keratitis lensa kontak adalah candida dan jamur fusarium. Pada pemeriksaan biakan fussarium mengandung unsur-unsur hypha sedangkan pada biakan candida umumnya mengandung pseudohypae atau bentuk ragi.
c)    Acanthamoeba
Pada pemeriksaan histopatologik menampakkan adanya bentuk-bentuk amuba (kista atau trofozoit). Harus dilakukan pemeriksaan biakan pada larutan pembersih lensa kontak dan kotak lensa kontak.23

VI.    TERAPI
Pengobatan masalah lensa kontak mulai dari melepas lensa kontak untuk waktu yang singkat sampai pengobatan antibiotik intensif infeksi. Tergantung pada penyebab infeksi, obat tetes mata antibiotik khusus mungkin diperlukan.6
a)    Bakteri
 


b)    Fungi
Larutan Natamycin 5% direkomendasikan untuk pengobatan keratitis jamur filamentous yang disebabkan oleh spesies Fusarium. Amphotericin B juga diberikan untuk pengobatan keratitis filamentous yang disebabkan spesies Aspergillus. Ketokonazole oral (200 -600 mg/hari) diberikan sebagai terapi tambahan pada keratitis jamur  filamentous yang berat. Itrakonazole oral (200 mg/hari) mempunyai aktifitas spektrum luas melawan semua spesies Aspergillus dan candida tetapi aktifitasnya bervariasi terhadap Fusarium.4
Lebih lanjut, debridement secara mekanik dapat membantu pada kasus keratitis fungi superfisial. Infiltrat fungi pada lapisan dalam stroma kornea tidak berespon terhadap terapi antifungi topikal, karena meresapnya obat-obat ini menurun terhadap intaknya lapisan epitel. Injeksi natamycin atau amphotericin B melalui debridemen epitel kornea memberikan hasil yang signifikan.4

c)    Acanthamoeba
Kunci keberhasilan terapi dari keratitis Acanthamoeba adalah diagnosis yang cepat, karena sekali infeksi menembus sampai stroma, pengobatan jadi kurang efektif. Apabila diagnosis dibuat ketika penyakit hanya sampai lapisan epitel, debridemen yang luas pada daerah yang terinfeksi sudah cukup. 4,5
Terdapat dua jenis organisme acanthamoeba, trofozoit dan kista dorman. Bentuk kista memiliki resistensi yang tinggi untuk obat-obatan amebicidal dan dapat bersifat dorman di kornea selama berbulan-bulan. Oleh karena itu, antimikroba topikal mulai diberikan setiap jam dan dikurangi sesuai dengan tingkat keparahan toksisitas dan gejalanya. Pemberian propamidine (Brolene) dan neomisin (Neosporin), dilengkapi dengan mikonazole, klotrimazol, dan ketokonazol oral, telah digantikan oleh biguanide polyhexamethylene (PHMB). Dalam konsentrasi 0,02%, PHMB efektif dalam membunuh kista dan trofozoit pada berbagai ukuran dan mengakibatkan toksisitas relatif sedikit pada kornea. Terapi dilanjutkan setiap 1-2 jam sampai terlihat perbaikan klinis, biasanya dalam 1-2 minggu. Frekuensi pemberian diturunkan secara bertahap hingga 4 kali sehari. Pengobatan biasanya diberikan selama beberapa bulan sampai semua proses peradangan membaik.7

VII.    PROGNOSIS
Sebagian besar masalah yang  disebabkan oleh lensa kontak akan membaik setelah lensa dilepaskan. Neovaskularisasi dan keratitis mikrobial dapat menyebabkan gangguan penglihatan permanen jika tidak ditangani dengan cepat dan memadai.8

VIII.    KESIMPULAN
Sangat penting bagi pemakai lensa kontak untuk mengetahui resiko dari pemakaian lensa kontak sehingga komplikasinya dapat dicegah. Seorang praktisi lensa kontak harus memberi informasi mengenai resiko pemakaian lensa kontak dan bagaimana menghindarinya. Diagnosis dan terapi yang tepat dan cepat sangat penting untuk menghindari komplikasi kebutaan.


DAFTAR PUSTAKA


1.    Keratitis. Available from: www.wikipedia.org. Accessed on October 13th 2010.
2.    Gilmore SM, Heimer SR, Yamada A., Infectious Keratitis, In: Ocular Disease Mechanisms And Management., Saunders Elsevier., USA, 2010: 49 – 55.
3.    Bailey S.C., Contact lens complications, In: Ophthometrist Today,  Moorfields Eye Hospital, England, 1999: 26 – 35.
4.    Liesegang TJ,Deutsch TA. External Disease and Cornea.  Section 8, AAO, San Fransisco, 2008-2009: 181 – 9.
5.    Gross E. B., Complications of Contact Lenses, In: Duane’s Clinical Ophthalmology, (fourth volume), (CD-ROOM). Lippincott Williams & Wilkins. USA :  2003
6.    Contact Lenses: Problems, Care and Types. Available from: www.emedicinehealth.com. Accessed on October 13th 2010.
7.    Ventocilla M., Contact Lens Complications. In: eMedicine Ophthalmology. Available from: www.emedicine.com. Accessed on October 13th 2010.
8.    Contact Lens Problems. Available from: www.emis.com. Accessed on October 13th 2010.
9.    Radford C. F., Risk Factors for Acanthamoeba Keratitis in Contact Lens Users: case-control study. In: BMJ. 1995; 310 : 1567.
10.    Singh D., Keratitis, Fungal. In: eMedicine Ophthalmology. Available from: www.emedicine.com. Accessed on October 13th 2010.
11.    Karesh, JW. Topografic anatomy of the eye, In: Duane's Clinical   Ophthalmology. (CD-ROOM). Lippincott Williams & Wilkins. USA :  2003
12.    Wong, Tien Yin, The Cornea in The Ophthalmology Examination Review. Singapore, World Scientific 2001 : 89 – 90.
13.    Lang, K Gerard. Cornea in Ophthalmology A Short Texbook, New York. Thieme Shuttgart 2000 : 117- 120.
14.    Watsky MA, Olsen TW., Cornea and Sclera, In: Duane’s Clinical Ophthalmology, (two volume, chapter four), (CD-ROOM). Lippincott Williams & Wilkins. USA :  2003.
15.    Edelhauser HF. The cornea and the sclera, chapter 4 in Adlers Physiology of The eye Clinical'Aplication. 10 th ed. St.louis, Missouri, Mosby, 2005 : 47-103.
16.    Oyster, Clyde W. The Human Eye, Structure and Function.   Sunderland,   Massachussetts, 1999 : 325-350.
17.    Contact Lens. Available from: www.wikipedia.com. Accessed on October 13th 2010.
18.    Segre L., The Basic of Contact Lenses. Available from: www.allaboutvision.com. Accessed on 13th 2010.
19.    Contact Lens Solution. Available from: www.discllaimer.com. Accessed on 13th 2010.
20.    Kara-Jose N., Coral-Ghanem C., Complications Associated with Contact Lens Use. In: Contact Lenses in Ophthalmic Practice. Springer-Verlag. New York. 2004: 243 – 63.
21.    Kunimoto D. Y.,Kanitkar K. D., Makar M. S., Contact Lens-Related Problems, In: The Wills Eye Manual. 4th edition. Lippincott Williams and Wilkins. Philadelphia. 2004:69 – 72.
22.    Eksteen C., Contact Lens Complications. Availabel from: www.google.com. Accessed on October 13th 2010.
23.    Biswell R., Kornea. Dalam: Oftalmologi Umum. Edisi 14. Widya Medika. Jakarta, 2000:132 – 6.

5 komentar:

choirunnangim mengatakan...

Jujur tidak semua tulisan yang ada terekam oleh mataku..

Ada satu pertanyaan untuk Skydrug...
Bagaimana dengan KATARAK?
Ayahku terfonis katarak pada kedua mata (jawa
;NETRA)tinggal satu mata saj yang berkemungkina dapat terselamatkan dengan upaya operasi...
itupun belum dilksanakan masih dalam prose surat-menyurat..

Rawins mengatakan...

aku ga minat pake lensa kontak
kesannya lebih keren pake kacamata biasa

Syam Matahari mengatakan...

Alhamdulillah sy gak perna berani apalagi minat pake lensa kontak, biar deh dikata cupu kl pake kacamata yg penting aman.

tapi lebih keren org yg pake kacamata lagi :p

Skydrugz mengatakan...

@choirun: saya sudah pernah posting tentang katarak pada orang tua...saya hanay bisa bilang kalau katarak yg terlamabt ditangani bisa memiliki banyak komplikasi...yg parah itu kalau sampai bikin glaukoma. kalau memang sudah memenuhi syarat,sebaiknya segera operasi.

@rawin n syam: memang keren berkaca mata. tapi lebih keren lagi kalau mata sehat :D

lasrika sinaga mengatakan...

izin untuk copas boleh????

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut