Sabtu, 03 Desember 2011

Refarat Kontrasepsi Pada Penderita HIV

KONTRASEPSI PADA PENDERITA HIV

PENDAHULUAN
Kontrasepsi ialah usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan. Usaha-usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanen.1
Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) adalah penyakit yang disebakan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). HIV adalah virus sitopatik diklasifikasikan dalam famili Retroviridae, subfamili Lentiviridae, genus Lentivirus. Berdasar strukturnya HIV termasuk famili retrovirus, termasuk virus RNA dengan berat molekul 9,7 kb.2
Transmisi HIV masuk ke dalam tubuh manusia melalui 3 cara, yaitu :
(1) Secara vertikal dari ibu yang terinfeksi HIV ke anak (selama mengandung, persalinan, menyusui)
(2) Secara transeksual (homoseksual maupun heteroseksual)
(3) Secara horisontal yaitu kontak antar darah atau produk darah yang terinfeksi.2


Di Indonesia kasus HIV & AIDS pertama kali ditemukan di Bali tahun 1987. Selama tahun 2002 orang yang rawan tertular HIV di Indonesia antara 13 juta sampai 20 juta, sedangkan orang dengan HIV & AIDS (ODHA) diperkirakan antara 90.000 – 130.000orang.2

HIV/AIDS menimbulkan masalah bagi pelayanan keluarga berencana pada tingkat yang berbeda. Beberapa orang takut bahwa ketersediaan dan meluasnya penggunaan kontrasepsi dapat mendorong hubungan seksual, yang akan membantu untuk menyebarkan pandemi. Pada saat yang sama, ketidak suburan (infertile) merupakan masalah utama di bagian Afrika karena mereka takut infertilitas dapat mencegah penggunaan kontrasepsi. Kekhawatiran tentang kembalinya kesuburan setelah menggunakan metode hormonal, dan bahkan metode penghalang, dapat diperburuk oleh kurangnya pengetahuan dan kepercayaan diri dalam kemampuan dari kondom dalam melindungi terhadap seseorang terhadap penyakit.3
Perjalanan HIV menjadi AIDS begitu lama dan panjang, seperti juga penyakit kanker, dari sehat hingga terjangkit memerlukan waktu yang tidak singkat. Dimulai dari awal periode yang diartikan sebagai infeksi awal sekitar 15 hari sampai 6 bulan. Kemudian periode tanpa gejala yaitu 5 tahun lebih, lalu muncul gejala lebih dari 1 bulan yang diakhiri dengan munculnya berbagai penyakit (infeksi oportunistik) yang menyerang sistem imunitas lebih kurang 2 tahun.4

Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan infeksi HIV. Walau kita seringkali dikejutkan dengan berbagai berita yang berkategori rumor tentang berbagai jenis obat herbal yang katanya dapat menyembuhkan.4

Penularan yang tidak pernah disadari selama periode tanpa gejala yang menyebabkan banyaknya kasus AIDS yang tidak terdeteksi. Sedangkan virus dapat menular melalui hubungan seks yang tidak aman, melalui transfusi darah yang terinfeksi HIV, penggunaan jarum suntik yang dipakai bergantian dan ibu hamil HIV positif yang dapat menularkan virus HIV ke bayi yang dikandungnya.4
ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) ada di sekitar kita. Seringkali orang yang tidak kita sadari. Tanpa disadari di sekeliling kita banyak penderita HIV/AIDS.  Akan tetapi, pencegahan selalu lebih baik daripada mengobati. Untuk kelompok-kelompok yang rawan tertular, seperti pria/wanita pekerja seks, pelanggan pekerja seks, pasangan tetap pekerja seks, waria, gay, laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), penyalahguna narkoba suntik (Injecting Drug Users/IDU’s), bayi yang lahir dari ibu pengidap HIV dan warga binaan/penghuni lapas dan rutan.4

Dari WHO tahun 2007 , ternyata penderita HIV dapat menggunakan beberapa alat kontrasepsi lain, seperti IUD (kecuali yang tidak diterapi ARV), implant, pil dan suntikan kombinasi. Tetapi metode kontrasepsi apapun yang digunakan oleh penderita HIV apabila penderita HIV tersebut berhungan seks dengan pasangannya tetap harus menggunakan kondom.4

KONDOM PRIA
Jika digunakan secara konsisten dan benar, kondom lateks pria memberikan perlindungan terhadap HIV, gonore, dan kehamilan yang tidak diinginkan. Kebanyakan HIV dan infeksi menular seksual lainnya (IMS) atau tidak direncanakan kehamilan kemungkinan terjadi karena penggunaan kondom atau penggunaan yang tidak konsisten, sehingga tantangannya adalah untuk meningkatkan konsistensi penggunaan kondom laki-laki selama kontak seksual berisiko.5

Gambar 1: Kondom Pria
United Stated National Institute of Health dan Consumer Union yang meneliti kondom, menemukan tidak ada pori yang terlihat setelah kondom diregangkan dan diperiksa dengan pembesaran 30.000 kali. Pada tahun 2003, The United States Departement of Health and Human Service melakukan studi penelitian terhadap keefektifan kondom. Dari hasil studi didapatkan bahwa 85% berkurangnya resiko penularan HIV pada orang-orang yang menggunakan kondom secara konsisten dibandingkan dengan yang tidak pakai.6
Pada Tahun 1991, Thailand menerapkan "100-percent condom policy", dimana PSK dan pelanggannya untuk menggunakan kondom dalam setiap aktivitas seksual. Program ini berhasil menaikkan persentase penggunaan kondom dari 14% pada tahun 1989 menjadi 94% pada tahun 1994 dan berdampak pada penurunan lima kali lipat kasus infeksi HIV dan sepuluh kali lipat penurunan kasus PMS.6
Sementara sebuah studi di Itali, yang diikuti 305 wanita negatif HIV yang pasangan tetapnya seksual aktif laki-laki positif HIV selama 2 tahun. Hasil studi menunjukkan dari 134 pasangan yang selalu menggunakan kondom secara konsisten, tidak ditemukan kasus HIV satupun. Sedangkan yang tidak menggunakan kondom secara konsisten ditemukan 2% dari 171 terinfeksi HIV. Selanjutnya studi di Haiti didapatkan bahwa infection rate diantara pasangan serodiscordant (pasangan yang salah satunya menderita HIV+) yang selalu menggunakan kondom adalah 1 per 100 pasangan.6
Beberapa penelitian lain di AS menunjukkan bahwa 20-30% pria mengaku selalu menggunakan kondom, tetapi diantara mereka yang menggunakan kondom belum tentu memakainya secara benar. Pemakaian kondom yang salah dapat mengakibatkan kondom lepas atau robek. Begitu pula bila tidak dipakai secara konsisten , tentu saja kondom itu tidak akan efektif. Penggunaan pelicin berbahan dasar minyak pasti menyebabkan terjadinya kegagalan dalam pemakaian kondom. Tipe lain yang salah dalam penggunaan kondom adalah metode yang tidak tepat pada pembukaan kemasan dan pada saat pemasangan kondom pada penis atau untuk menahan cincin kondom pada saat penarikan kondom dari penis.6
Dari hasil riset yang dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa kondom adalah alat kontrasepsi yang efektif, baik untuk mencegah kehamilan maupun mencegah penularan IMS dan HIV/AIDS asalkan digunakan secara benar.6
KONDOM WANITA
Kondom wanita terbuat dari bahan polyurethane dan memiliki 2 cincin yang fleksibel, yaitu bagian yang menutup leher rahim dan bagian pintu masuk vagina. Angka kegagalan kondom wanita ini lebih tinggi dibanding kondom pria (5 dibanding 3%). Belum banyak bukti seberapa besar kemampuan kondom wanita ini untuk menurunkan risiko AIDS bagi perempuan. Kondom ini mempunyai dua cincin fleksibel pada kedua ujung kondom. Cincin dalam (pada ujung tertutup) dimasukkan sampai ke serviks dan cincin luar ditempatkan di ostium vagina. Kondom ini bertujuan untuk melapisi dinding vagina dan serviks dan mencegah masuknya sperma ke dalam serviks.7,8

Gambar 2 : Kondom Wanita
Kondom wanita, seperti kondom laki-laki, bisa mencegah kehamilan dan infeksi-infeksi menular seksual. Selain itu, kondom wanita juga mempunyai lubrikan sehingga lebih nyaman digunakan.7,8,9
PIL KOMBINASI ESTROGEN DAN PROGESTERON
Kontrasepsi pil kombinasi adalah pil yang mengandung sintetik estrogen dan preparat progesteron yang mencegah kehamilan dengan cara menghambat terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur oleh indung telur) melalui penekanan hormon LH dan FSH, mempertebal lendir mukosa serviks (leher rahim), dan menghalangi pertumbuhan lapisan endometrium. Pil kombinasi ada yang memiliki estrogen dosis rendah dan ada yang mengandung estrogen dosis tinggi. Estrogen dosis tinggi biasanya diberikan kepada wanita yang mengkonsumsi obat tertentu (terutama obat epilepsy).9,10

Gambar 3: Pil Kombinasi
Perempuan pengidap HIV seringkali menggunakan pil ini karena sangat efektif apabila digunakan secara tepat dan benar. WHO memasukkannya dalam kategori 1 yaitu tidak ada batasan apapun untuk menggunakan kontrasepsi pil kombinasi, termasuk pengidap HIV. Dianjurkan agar penggunaan pil kombinasi ini dengan dosis estrogen yang tinggi karena Highly Active Anti Retroviral Therapy (HAART) akan menurunkan kadar estrogen.11
Ada dua cara meminum pil kombinasi, yaitu memakai sistem 28 atau sistem 21-22. Untuk sistem 28, pil diminum terus tanpa pernah berhenti (21 tablet pil kombinasi dan 7 tablet plasebo).  Pada hari pertama haid, pil yang inaktif mulai diminum. Sedangkan sistem 21-22, diminum mulai hari ke-5 haid tiap hari 1 pil terus-menerus, kemudian dihentikan jika isi bungkus habis. Jadi, dibuat dengan pola pengaturan haid (sekuensial). Beberapa hari setelah minum pil dihentikan, biasanya terjadi withdrawal bleeding dan pil dalam bungkus kedua dimulai hari ke-5 dari permulaan perdarahan. Apabila tidak terjadi withdrawal bleeding, maka pil dalam bungkus kedua mulai diminum 7 hari setelah pil dalam bungkus pertama habis.9,10
SUNTIK KB (INJEKSI DMPA)
Injeksi Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) adalah metode kontrasepsi dengan tujuan kontrasepsi parenteral, mempunyai efek progestan yang kuat dan sangat efektif. Kadar DMPA dalam darah relatif tidak berinteraksi dengan Highly Active Anti Retroviral Therapy (HAART). Mitchell dan Stephen (2004) menganjurkan agar suntikan KB tiga bulanan (12 minggu) dipersering menjadi setiap 10 minggu. Injeksi DMPA merupakan kontrasepsi yang efektif sangat penting bagi perempuan terinfeksi HIV yang tidak ingin memiliki anak. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA), meskipun sangat efektif mencegah kehamilan, mungkin akan dikaitkan dengan peningkatan risiko terkena infeksi menular seksual (IMS).1,11,12

Gambar 4: DMPA


AKDR ( ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM )
Pemasangan AKDR dan Infeksi Menular Seksual termasuk HIV untuk mereka yang berisiko tinggi untuk tertular IMS, pemakaian pil lebih aman daripada pemasangan AKDR, sebab pada saat pemasangan, bakteri dapat ikut masuk ke dalam rongga rahim yang steril. Jika tidak diobati dapat menyebabkan infeksi yang kemudian bisa berakibat terjadinya Penyakit Radang Panggul (PRP). Infeksi HIV juga dapat meningkatkan resiko PRP sehubungan dengan pemasangan AKDR.13

Gambar 5 :AKDR
Penyisipan dari tembaga IUD dalam wanita terinfeksi HIV atau orang yang beresiko tinggi infeksi biasanya tidak dianjurkan, sesuai dengan kriteria medis WHO kelayakan untuk penggunaan kontrasepsi yang aman. Namun, penelitian terbaru yang dilakukan oleh FHI (Family Healt international) dan seorang peneliti di Kenya menunjukkan bahwa IUD (Intra Uterine Device) mungkin metode kontrasepsi yang aman untuk ibu terinfeksi HIV yang dipilih secara hati-hati dengan terus akses ke layanan kesehatan. Berdasarkan berbagai penelitian dalam 5 tahun terakhir, WHO merevisi rekomendasi penggunaan IUD pada perempuan pengidap HIV. Untuk semua jenis kontrasepsi bagi pengidap HIV, kecuali IUD digolongkan pada kategori 1, yaitu kontrasepsi yang dapat digunakan tanpa batasan atau larangan apapun. Kategori 2 bilamana dengan risiko tinggi terhadap infeksi HIV, wanita sudah mengidap HIV dan pengguna IUD yang terinfeksi HIV serta sedang berubah statusnya menjadi penderita AIDS. Demikian juga penderita AIDS yang secara klinis menunjukkan gejala membaik setelah diobati Highly Active Anti Retroviral Therapy(HAART), maka mereka juga dimasukkan pada rekomendasi kategori 2. Rekomendasi kategori 2 ialah metode kontrasepsi yang umumnya dapat dipakai, karena risikonya lebih rendah dibanding tidak memakai. Pada kondisi lapangan yang sangat terbatas dalam melakukan keputusan klinis, maka rekomendasi WHO dapat disederhanakan kedalam dua (2) kategori. Kategori 1 dan 2 pada prinsipnya kontrasepsi dapat dipakai, sedangkan kategori 3 dan 4 prinsipnya alat atau obat kontrasepsi yang tidak dapat dipakai. Rekomendasi untuk IUD dengan kategori 3 bilamana diberikan kepada wanita dengan HIV positif dan akan memulai kontrasepsi dengan IUD.11
Kesimpulannya adalah IUD(Intra Uterine Device) dan IUS (Intra Uterine System) adalah kontrasepsi efektif, reversibel, tidak terjadi interaksi dengan obat-obat ARV, tidak meningkatkan risiko dan tidak menyebabkan infeksi HIV. Hampir semua badan international sepakat bahwa IUD dapat digunakan oleh hampir semua perempuan mengidap HIV. Namun demikian, pengidap HIV masih tetap dianjurkan metode kedua (dual method) berupa kondom.5,11
Upaya-upaya khusus perlu dilakukan untuk menghilangkan hambatan terhadap penggunaan IUD bagi perempuan pengidap HIV, termasuk hambatan psikologis, ketersediaan tempat dan petugas yang mampu melayani IUD.14
Perlu diperhatikan /bahwa kontrasepsi darurat baik pil maupun AKDR tidak mencegah Infeksi Menular Seksual (IMS), termasuk HIV. Kontrasepsi darurat juga tidak akan menyebabkan atau mencegah kehamilan ektopik (kehamilan di luar rongga rahim).14
KONTRASEPSI KOYO ATAU PATCHES
Tempelan yang memberikan kontrasepsi hormonal melalui kulit (transdermal) memiliki masalah interaksi obat dengan protease inhibitor (PI) sebagaimana kontrasepsi oral. Banyak obat HIV dapat mempengaruhi tingkat darah dari kontrasepsi oral, terutama PI yang dikuatkan dengan ritonavir.15

Gambar 6: Kontrasepsi Tempel
Sebagian besar petunjuk resep untuk antiretroviral (ARV) ini merekomendasikan bentuk kontrasepsi alternatif untuk mengontrol kehamilan karena PI dapat secara signifikan mengurangi tingkat kontrasepsi dalam darah. Obat kontrasepsi juga tersedia dalam tempelan transdermal. Kadang-kadang kemungkinan interaksi obat dapat dikurangi ketika kontrasepsi ini dikelola melalui aplikasi kulit, bukan melalui mulut. Namun, tidak ada penelitian yang telah dilakukan untuk menentukan apakah tempelan transdermal lebih baik dari kontrasepsi oral bila dikombinasikan dengan PI.15
Untuk menguji ini, Maria Vogler, MD, dari Weill Cornell Medical College di New York City, dan rekan-rekannya melakukan studi terhadap 32 perempuan HIV-positif, delapan di antaranya memakai Kaletra (lopinavir yang dikuatkan dengan ritonavir) dan 24 di antaranya adalah tidak menggunakan Kaletra. Semua perempuan diberi dosis tunggal kontrasepsi oral, diikuti 48 jam kemudian dengan tiga minggu kontrasepsi tempelan transdermal. Setiap tempelan berlangsung selama tujuh hari. Tingkat kontrasepsi dalam darah, baik estradiol etinil (EE) dan norelgestromin (NGMN) – kombinasi kontrasepsi pada tempelan dan pil – diperiksa selama beberapa kali selama 48 jam pertama setelah dosis oral, dan kemudian pada 12 sampai 48 jam, 48 sampai 72 jam dan tujuh hari setelah pemberian masing-masing tempelan.15
Vogler dan rekan-rekannya menemukan bahwa EE darah sekitar 50% lebih rendah pada perempuan yang menggunakan Kaletra baik dari dosis oral dan tempelan dibandingkan pada perempuan yang tidak memakai Kaletra. Sebaliknya, tingkat norelgestromin meningkat lebih dari 80%. Kedua jenis kontrasepsi oral ini mempengaruhi tingkat darah lopinavir dan ritonavir di Kaletra sekitar 20%.15


IMPLANT LEVONORGESTREL    
Bahan aktif yang digunakan dalam Norplant adalah progestational levonorgestrel. Levonorgestrel telah banyak digunakan dalam pil kontrasepsi oral selama beberapa tahun . Pengujian membuktikan bahwa bahan ini 18 kali lebih aktif daripada progesteron. Setiap kapsul Norplant berukuran kira- kira sebesar batang korek api dan mengandung 36 ±2 mg levonorgestrel.16
Perlu penggunaan kontrasepsi tambahan selain implan, khususnya untuk implan yang menggunakan ethonogestrel.11

Gambar 7: Implan

PIL PROGESTERON
Perempuan dengan HIV yang menggunakan kontrasepsi hormon progesteron tunggal mungkin meningkatkan risiko negatif hasil metabolik, para peneliti memperingatkan dalam artikel terkini dalam Journal of Acquired Immune Deficiency Syndrome.17
Studi longitudinal mereka dari beragam etnis di kohort Amerika Serikat menemukan bahwa perempuan dengan HIV yang hanya menggunakan kontrasepsi hormonal progestogen memiliki hasil kolesterol (high-density lipoprotein/HDL) puasa lebih rendah dan tingkat resistansi insulin yang lebih tinggi daripada perempuan dengan HIV yang menggunakan pil kontrasepsi kombinasi. 17
Metode kontrasepsi progestogen tunggal dapat dipilih oleh perempuan yang mungkin tidak cocok dengan pil kombinasi estrogen dan progestogen (juga dikenal sebagai progestin di AS). Ini termasuk perempuan dengan riwayat penggumpalan darah, perokok berusia di atas 35 tahun, perempuan dengan tekanan darah tinggi, perempuan yang sedang menyusui dan penderita migrain. Tapi kontrasepsi hormonal sudah diketahui memiliki efek metabolik yang tidak diinginkan di masyarakat umum. Namun, tanggapan metabolik perempuan dengan HIV dari kontrasepsi hormonal belum secara seksama dipelajari, terlepas dari kenyataan bahwa infeksi HIV yang tidak diobati terkait dengan tingkat lebih kolesterol (HDL) yang lebih rendah, peningkatan tingkat lipid, diabetes dan resistansi insulin pada orang dengan HIV dan indikasi adanya peningkatan risiko kardiovaskular pada orang dengan HIV. 17
Ada tambahan kekhawatiran bahwa dua metode kontrasepsi yang memiliki sedikit interaksi dengan ARV dari kelas non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI) dan protease inhibitor adalah produk-produk yang hanya mengandung progestogen, dan karena itu lebih cenderung dianggap cocok untuk perempuan dengan HIV. 17
Ada beberapa pilihan untuk cara penggunaan progestogen tunggal dan kontrasepsi kombinasi. Peserta penelitian HIV-positif yang menggunakan progestogen tunggal menggunakan kontrasepsi baik dengan implan levonorgestrel (dikenal luas sebagai Norplant) atau suntikan depo medroksiprogesteron asetat (DMPA, dikenal sebagai Depo-Provera). Perempuan HIV-positif dalam kelompok kontrasepsi kombinasi menggunakan baik patch atau pil yang mengandung estrogen dan progestogen. Kelompok progestogen tunggal mempunyai tingkat HDL lebih rendah daripada dua kelompok lainnya. HDL (kolesterol ‘baik’) membantu tubuh mengatur LDL (kolesterol ‘buruk’). Ketika tingkat HDL terlalu rendah untuk mengimbangi tingkat LDL, penumpukan LDL dapat menyebabkan penyakit jantung. 17
Kelompok progestogen tunggal juga memiliki resistansi insulin lebih tinggi daripada kelompok lain, menurut sebuah indeks yang dikenal sebagai model homeostasis penilaian perkiraan resistansi insulin/Homeostasis Model Assessment Estimate of Insulin Resistance(HOMA-IR). 17
KONTRASEPSI DARURAT       
Metode yang paling umum, yaitu Pil Khusus Pencegah Kehamilan (PKPK) atau emergency contraceptive pills (ECPs), terdiri dari pemakaian sejumlah pil kontrasepsi, biasanya yang berisi estrogen (ethynil estradiol) dan progestin (levonorgestrel atau norgestrel) dalam 72 jam setelah hubungan seksual yang tidak terlindungi, diikuti dengan dosis berikutnya 12 jam kemudian.18,19
Levonelle-2® dan Postinor® adalah kontrasepsi darurat yang telah beredar dibeberapa negara, termasuk di Indonesia. WHO dan UNFPA merekomendasikan cara minum pil tersebut 2 tablet sekaligus, bukan seperti petunjuk lama tablet diminum dengan selang waktu 12 jam kemudian. Kontrasepsi darurat ini belum populer, apalagi dikalangan wanita pengidap HIV sehingga perlu di sosialisasi kepada mereka. Rekomendasi terkini dari FFPRHC (The Faculty of Family Planning and Reproductive Health Care) menyebutkan bahwa perempuan pengidap HIV yang juga menggunakan HAART maka penggunaan 2 tablet secara langsung tidak cukup, sehingga harus minum tambahan obat 1 tablet lagi pada 12 jam berikutnya.9

Gambar 8: Levonelle-2®
   




Gambar 9:Postinor ®
Tabel : Kontrasepsi yang dianjurkan untuk wanita dengan HIV9
Metode Kontrasepsi    Kriteria WHO untuk wanita penderita HIV dan AIDS    Keterangan
Pil Progesteron    1    Kategori 2 bila diobati ARV karena interaksi dengan obat kontrasepsi.
Pil Kombinasi Oral (estrogen dan progesteron)    1    Kategori 2 bila diobati ARV karena interaksi obat
Suntik KB (Depomedroxy progesterone acetate)    1    Kategori 2 bila diobati ARV karena interaksi obat
Kontrasepsi koyo (patch)    1    Tidak ada larangan apapun
Kondom    1    Karena meningkatnya risiko transmisi dan memperoleh HIV
Spermisida    4
    Kategori 2 bilamana diobati ARV karena interaksi obat
Cincin vagina (vaginal ring)
    1    Kategori 3 : untuk pasien dengan AIDS yang klinisnya kurang baik.
IUD (AKDR)    2    Kategori 2:Pada penderita AIDS klinis baik dan diterapi dengan ARV

Kriteria Kategori WHO untuk persyaratan penggunaan metode kontrasepsi (MEC/Medical Eligibility Criteria):9
1.    Tidak ada pembatasan apapun dalam menggunakan kontrasepsi.
2.    Keuntungan memakai kontrasepsi lebih besar dari risiko yang ditimbulkan, metode boleh digunakan tetapi diperlukan follow-up.
3.    Risiko secara teori, atau yang telah terbukti pada pasien lebih besar dari keuntungan yang diperoleh, maka metode tidak dianjurkan kecuali tidak ada metode lain yang cocok atau diterima.
4.    Pada kondisi ini metode kontrasepsi tidak dapat digunakan.
Selama ini cara agar tidak tertular virus AIDS adalah dengan menggunakan kondom. Tapi seorang peneliti mengungkapkan bahwa tablet dan cincin vagina bisa efektif melindung seseorang dari AIDS.20
Peneliti melaporkan bahwa tablet vagina, cincin vagina dan lapisan film mengandung obat untuk membantu melindungi perempuan dan laki-laki dari infeksi virus AIDS. 20
Cara pendekatan seperti itu disebut dengan microbicide. Cara ini kemungkinan bisa membantu mengatasi beberapa risiko penolakan obat yang biasa timbul jika seseorang menggunakan obat pil untuk mencegah infeksi. 20
Beberapa temuan yang telah dilaporkan dalam International Microbicides Conference di Pittsburgh, seperti dikutip dari Reuters, yaitu: 20

1)    Cincin vagina yang fleksibel
Sebuah cincin fleksibel yang dirancang untuk digunakan di vagina bisa secara terus menerus sama seperti memberikan dua obat AIDS selama satu bulan. Alat ini ditemukan oleh Andrew Loxley dari Bethelem, Pennsylvania. Cincin ini diuji di laboratorium untuk mengetahui efek dari dapivirine serta obat inhibitor maraviroc. Namun alat ini belum di uji cobakan pada manusia.
2)    Tablet vagina
Sebuah tablet vagina bekerja hampir sama dengan cincin vagina yaitu dengan melepaskan obat maraviroc dan obat HIV lain yang disebut dengan DS003. Hasil ini ditemukan oleh Sanjay Grag dari University of Auckland di New Zealand. Tablet ini menggunakan polimer yang dirancang untuk menahan lapisan lembab di dalam vagina.
3)    Menggunakan lapisan (film)
Alat ini ditemukan berdasar hasil penelitian Anthony Ham dari ImQuest BioSciences of Frederick, Maryland. Imquest adalah pengujian obat HIV IDP-9528 yang terdapat di dalam lapisan kecil dan tipis, bahkan lebih tipis dari permen karet atau mirip dengan strip obat kumur.
Susan Schader dan rekannya dari McGill University di Montreal, Kanada menuturkan orang-orang akan mengalami infeksi yang resisten terhadap obat di dalam microboside ketika orang tersebut sudah terinfeksi. 20
Berdasarkan data dari United National AIDS (UNAIDS) hingga kini virus HIV telah menginfeksi lebih dari 33 juta orang di seluruh dunia dan telah menyebabkan 25 juta kematian. Selain itu lebih dari setengah orang dengan HIV adalah perempuan dan sebagian besar terinfeksi dari suami atau pasangan tetapnya yang tidak mau menggunakan kondom.20
Sebenarnya para pakar AIDS telah lama mencari microbicide berupa krim, gel atau cincin yang bisa digunakan oleh laki-laki atau perempuan dan berfungsi sebagai perisai untuk melindungi diri dari transmisi seksual dari virus yang mematikan dan belum bisa disembuhkan ini.20












DAFTAR PUSTAKA
1.    Wiknjosastro H. Kontrasepsi. Dalam: Ilmu kandungan. Edisi Kedua, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2007.ha1.534-63
2.    Nasronudin, DR,dr,Sp.PD,K-PTI. HIV & AIDS Pendekatan Biologi Molukuler, Klinis dan Sosial. Surabaya : Airlangga University Press;2007. Hal 1-15
3.    Anomyous. Family planning and HIV/AIDS: What are the concerns? [Online] 2003 [Cited January, 22nd. 2011]. Available from: URL: http// www.reproline.ihu.edu.com
4.    Awank. Jangan takut dengan ODHA. [Online] 2010 [Cited January 22nd. 2011 ]. Available from: URL: http// www.pkvhi.org
5.    Anomyous. Contraception and HIV. [Online] 2010 [Cited January, 22nd.2011]. Available from: URL: http// www.fhi.com
6.    Kalimantan M. Kondom, antara sungkup moral dan alat kontrasepsi pencegah HIV/AIDS. [Online] 2009 [Cited January, 22nd.2011]. Available from: URL: http// www.kulinet.com
7.    Samra OM. Contraception. [Online] 2010 [Cited January 22nd.2011 ]. Available from: URL: http//www.emedicine.com
8.    Anomyous. Barrier methods of contraception, [Online] 2011 [Cited January, 23th.2011]. Available from: URL: http// www.acog.org
9.    Saifuddin AB. Metode barier. Dalam: Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sawono Prawirohardjo; 2006.ha1. MK 17-59
10.    Anomyous. Pil kombinasi. [Online] 2007 [Cited January, 23th. 2011]. Available from: URL : http// www.klikdokter.com
11.    Anomyous. Alat kontrasepsi (Keluarga berencana). [Online] [Cited January, 22nd.2011]. Available from : URL : http// www.gemapriabkkn.com
12.    Wald A. STIs in HIV-infected DMPA user. [online] [Cited January, 22nd.2011]. Available from : URL : http// www.womens-health.jwatch.org
13.    Anomyous. Pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim/AKDR (IUD) sebagai kontrasepsi darurat.[Online] 2007 [Cited January, 22nd.2011]. Available from: URL: http// www.kesreproinfo.com
14.    Anomyous. Kontrasepsi darurat IUD.[Online] [Cited January,22nd.2011]. Available from.- URL: http// wvv.klikdokter.com
15.    Anomyous. Contraceptive patch no better than pills for interaction problems with protease inhibitors. [Online] 2010[Cited January, 31st.2011]. Available from: URL: http// www.poz.com
16.    Mochtar R. Kontrasepsi. Dalam: Sinopsis obstetri. Edisi 2 JIM 2, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1998.ha1.255-301
17.    Safreed K. Progesteron-only hormonal contraception linked to metabolic problems in HIV-positive women. [Online] 2010 [Cited January, 22nd. 2011]. Available from: UKL: http// www.aidsmap.com
18.    Anomyous. Kontrasepsi darurat atau emergency contraception (EC).[Online] 2007 [Cited January, 22nd.201 10]. Available from: URL: http// www.kesreproinfo.com
19.    Anomyous. Kontrasepsi darurat. [Online] [Cited January,22nd.2011]. Available from : URL http,// www.klikdokter.com
20.    Anomyous. Cara baru pencegahan HIV. [Online] 2010 [Cited January, 22nd,2011]. Available from : URL : http// www.idws.in

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...