Selasa, 20 Desember 2011

Refarat Peranan Neurotransmiter Dopamin pada Manusia

PENDAHULUAN 
Neurotransmitter adalah penghantar bahan kimia dari system saraf. Neurotransmitter adalah molekul    yang dimana harus memenuhi sejumlah kriteria harus diklasifikasikan sebagai neurotransmiter. Kriteria ini biasanya harus dipenuhi melalui berbagai ilmu pengetahuan dasar dan studi penelitian klinis. Zat yang hanya memiliki telah ditunjukkan untuk memenuhi beberapa kriteria yang disebut sebagai neurotransmitter putatif, berarti mereka belum terbukti secara eksperimental untuk memenuhi semua kriteria. 1
Kriteria Untuk Neurotransmitter
1.      Molekul disentesis dalam neuron.
2.      Molekul ditemukan dalam neuron prasinaptik dan dilepaskan pada depolarisasi dalam jumlah yang bermakna secara fisiologis
3.      Jika diberikan secara eksogen sebagai suatu obat, molekul eksogen menyerupai efek neurotransmitter endogen.
4.      Terdapat suatu mekanisme di dalam neuron atau celah sinaptik untuk menghilangkan atau deaktifasi neurotransmitter.1
Klasifikasi    
Tiga jenis utama neurotransmiter di otak adalah biogenik amina, asam amino, dan peptida.  Amina biogenik adalah neurotransmitter yang paling dikenal, karena mereka adalah yang pertama temukan. Tetapi, mereka merupakan zat neurotransmiter yang hanya sebagian kecil dari neuron. Neurotransmitter asam amino terlambat untuk ditemukan, terutama karena kesulitan dalam membedakan asam amino yang ada sebagian besar protein dari asam amino sama bertindak terpisah sebagai neurotransmitter. Neurotransmitter asam amino ditemukan lebih dari 70% dari neuron. Neurotransmiter peptida adalah Intermediate sedang dalam hal persentase neuron yang berisi neurotransmitter tipe itu, tapi mereka jauh melampaui dua kategori lainnya dalam jumlah tipis (sekitar 200 hingga 300 dari neurotransmiter dari jenis telah putatively diidentifikasi). Kriteria neurotransmiter penuh telah terpenuhi hanya beberapa peptida tersebut saat ini. Namun demikian, bukti yang menunjukkan bahwa neurotransmiter peptida putatif, pada kenyataannya, neurotransmiter umumnya kuat. 1
Neurotransmisi Kimiawi
Neurotransmisi kimiawi adalah suatu proses yang melibatkan pelepasan neurotransmitter oleh satu neuron dan mengikat molekul neurotransmiter dengan reseptor pada neuron lain. Proses neurotransmisi kimia dipengaruhi oleh obat yang paling banyak digunakan dalam psikiatri. Semua obat antipsikotik dengan pengecualian clozapine (clozaril), dianggap menunjukkan efeknya dengan menghambat reseptor dopamine tipe 2 (D2); hampir semua antidepresan menunjukkan efeknya dengan meningkatkan jumlah serotonin atau norepinefrin atau keduanya dalam celah sinaptik dan hamper semua ansiolitik dianggap menunjukkan efeknya pada reseptor GABAa yang berikatan dengan saluran ion klorida.1
Neuromodulator dan Neurohormon
              Kata yang paling sering digunakan untuk menunjukkan sinyal kimia yang mengalir antara neuron adalah neurotransmitter, meskipun kata-kata dan neurohormonnya neuromodulators juga digunakan dalam beberapa kasus untuk menekankan karakteristik khusus. Berbeda dengan efek bersifat langsung dan singkat dari sebuah neurotransmitter, neuromodulator, sebagai namanya, memodulasi respon neuron terhadap  neurotransmitter. Efek modulasi juga ditemukan untuk jangka waktu yang lebih lama dari
biasanya untuk suatu molekul neurotransmiter un. Dengan demikian, suatu zat neuromodulasi mungkin memiliki efek pada neuron selama jangka waktu yang panjang, dan efek yang mungkin lebih terlibat dengan fine( tuning) dibandingkan dengan mengaktifkan atau langsung menghambat generasi dari sebuah potensial aksi. neurohormon A dibedakan oleh kenyataan bahwa ia dilepaskan ke dalam aliran darah bukan ke dalam ruang extraneuronal di otak. Setelah dalam aliran darah, neurohormon kemudian dapat berdifusi ke ruang extraneuronal dan memiliki efek pada neuron.1
Gambar 1: Neurotransmiter dengan lokalisasi diskrit dalam otak.
A).  Struktur kimia dari dopamin neurotransmitter monoamina dan gambar skematik lokalisasi dopamin- mengandung neuron dalam otak manusia dan tikus dan situs mana yang mengandung dopamin akson ditemukan.
B).  Struktur kimia serotonin neurotransmitter monoamina dan peta yang menunjukkan lokasi otak serupa sel serotonin yang mengandung dan akson mereka.2

DEFINISI DAN METABOLISME DOPAMIN
Dopamin adalah sebuah neurotransmitter yang terjadi dalam berbagai macam hewan, termasuk vertebrata dan invertebrata. Di otak, fungsi phenethylamine ini sebagai neurotransmitter, mengaktifkan lima jenis reseptor dopamin-D1, D2, D3, D4, dan D5-dan varian mereka. Dopamin diproduksi di beberapa daerah otak, termasuk nigra substantia dan daerah tegmental ventral. Dopamin juga neurohormon yang dilepaskan oleh hipotalamus. Fungsi utamanya sebagai hormon adalah untuk menghambat pelepasan prolaktin dari lobus anterior hipofisis.3
Pada tahun 1950 Dopamin berhasil diidentifikasikan sebagai neurotransmitter potensial, banyak penelitian dan penemuan yang berhubungkan dengan neurotransmitter ini. Salah satunya adalah ditemukannya peranan dopamine pada penyakit Parkinson dan hal ini mendorong penemuan Levodopa yang merupakan prekussor metabolic dopamine untuk menyembuhkan penyakit Parkinson. Meskipun jumlah neuron dopamine sedikit kurang dari per 100.000 neuron di otak namun dopamine meiliki peranan penting pada berbagai system saraf pusat. Peranan dopamine sangat beragam mulai dari mengatur fungsi-fungsi motorik sampai meregulasi status emosional maupun pengaturan aksis hypothalamus hipofisis. Dopamine mempunyai peranan penting proses terhadap pembelajaran banyak perilaku. Berbagai obat utama untuk mengatasi gangguan psikiatri seperti : psikosis, gangguan fungsi kognitif, gangguan kesadaran (migraine) bekerja melalui berbagai jalur dopamine ini. Beberapa kondisi penyakit seperti : Parkinson, gangguan perilaku hiperaktif, skizofreni dan adiksi obat, semuanya mempunyai mekanisme dasar proses neuronal yang sama, yaitu berkaitan dengan dopamine.4
Dopamin merupakan kelompok neurotransmitter katekolamin. Jumlah total neuron dopaminergik di otak manusia, tidak termasuk di retina dan bulbus olfaktorius diperkirakan berjumlah antara 300.000 sampai dengan 400.000. nukleus dopaminergik yang utama dijumpai pada substansia nigra pars compacta, daerah segmental sentral, dan nucleus arcuatus. Dari substansia nigra dan daerah sgmental sentral neuron tersebut akan berproyeksi  kedaerah mesolimbik, mesokortikal, dan daerah striatum.5
            Dopamin disintesis dari tyrosine di bagian terminal presinaps untuk kemudian dilepaskan ke celah sinaps. Langkah pertama sintesis dopamin adalah proses uptake asam amino L-tyrosine dari aliran darah. Tyrosine akan dikonversi menjadi 3-4-dihidroxyphenylalanine (L-DOPA) oleh enzim tyrosine hydroxylase, dan kemudian L-DOPA dikonversi menjadi dopamin oleh enzim dopa decarboxylase. Dopamin disimpan dalam granula-granula di ujung presinaptik saraf, dan akan dilepaskan apabila ada ransangan. 5
Dopamin yang dilepaskan dicelah sinaps dapat mengalami satu atau lebih keadaan berikut :
1.      Mengalami pemecahan oleh enzim COMT/Catechol-O-Methyl-Transferase atau enzim MAO/Monoamine Oxidase.
2.      Mengalami difusi dari celah sinaps,
3.      Pelepasan di pengaruhi ion kalsium.
4.      Mengaktivasi reseptor pre sinaptik
5.      Mengaktifasi reseptor post sinaptik
6.      Mengalami ambilan kembali (reuptake) ke terminal pre sinaptik.5
Ada 4 jalur utama dopamine.
1.      Jalur mesolimbik memproyeksikan jalur dopamine dari badan sel didaerah ventral tegmental batang otak terminal akson daerah limbic seperti nucleus acumben. Jalur ini di duga sangat berperan terhadap perilaku emosional, khususnya halusinasi audiotorik dan delusi. Hiperaktivitas dari jalur ini secara hipotesis diduga berperan penting terhadap timbulnya gejala positif psikosis.4
2.      Jalur mesokortikal memproyeksikan jalur dopamine dari badan sel ke daerah ventral tegmental batang otak  (berdekatan dengan badan sel mesolimnbic) kedaerah korteks cerebri. Gangguan pada jalur ini di duga berperan terhadap timbulnya gangguan kognitif dan timbulnya gangguan gejala negative psikosis.4
3.      Jalur nigrostriatal memproyeksikan jalur dopamine dari badan sel substansia nigra batang otak yang menuju ke ganglia basal atau striatum. Jalur ini merupakan bagian dari ekstrapiramidal yang berfungsi mengontrol gerakan motorik. Gangguan ini menyebabkan pergerakan seperti penyakit Parkinson.4
4.      Jalur taberoinfindibular menghubungkan nucleus arkuatus dab neuron preifentikuler ke hipotalamus dan pituitary posterior. Dopamine yang dirilis oleh neuron-neuron ini secara fisiologis menghambat sekresi prolactin. 4
Reseptor Dopamin
Ada lima subtype reseptor dopamine, kelima subtype dapat dimasukkan kedalam dua kelompok. Dalam kelompok pertama reseptor D1 dan D5 menstimulasi pembentukan cAMP dengan mengaktivasi protein G stimulator, GS. reseptor D5 hanya baru saja ditemukan, dan kurang diketahui tentang sifatnya dibandingkan tentang reseptor D1. Kelompok reseptor dopamine kedua terdiri dari reseptor seperti (D2,  D3 dan D4 ). Reseptor D2 menghambat pembentukan cAMP dengan mengaktivasi protein G inhibitor  dan beberapa data menyatakn bahwa reseptor D3 dan D4 bkerja secara bersamaan. Satu perbedaan antara reseptor D2, D3, D4 adalah distribusi yang berbeda. Reseptor 3 terutama konsentrasi di nucleus akumbens. Disamping ada daerah lainnya dan reseptor D4 terutama terkonsentrasi dikorteks frontalis, disamping ada pada daerah lainnya. Dimasa lalu potensi senyawa antipsikotik telah dihubungkan dengan afinitas untuk reseptor D2. Adalah dimungkinkan untuk mempelajari apakah antagonis spesifik untuk reseptor D3 dan D4 akan merupakan antipsikotik yang lebih sedikit dibandingkan denga natagonis reseptor D2.5

Variasi tipe reseptor ditentukan oleh urutan asam amino DNA. Reseptor D2 memiliki 2 bentuk isoform yaitu D2short dan D2long. Peransangan reseptor D2 post sinaps akan meransang proses interseluler. Secara fungsional tidak ada perbedaan antara kedua bentuk reseptor D2 yang isoform tersebut. Pemahaman akan fungsi masing-masing reseptor akan berguna dalam aplikasi klinik terapi.5
            Reseptor dopaminergik D2 dapat berperan sebagai autoreseptor yang dimana terletak di pre sinaps dan post sinaps. Dopamin yang dilepaskan dari terminal saraf dapat mengaktivasi reseptor D2 pada terminal pre sinaptik yang sama, dan akan mengurangi sintesis atau pelepasan dopamin yang terlalu berlebihan, sehingga reseptor D2 akan berperan sebagai mekanisme umpan balik (feedback) negatif yang dapat memodulasi atau menghentikan pelepasa dopamine pada sinaps tertentu.5
FUNGSI DOPAMIN
            Precursor NE ini mempunyai kerja lansung pada reseptor dopaminergik dan adrenergic, dan dapat melepaskan NE endogen. Pada kadar rendah, dopamine bekerja pada reseptor dopaminergik D1 pembuluh darah, terutama di ginjal, mesenterm dan pembuluh darah koroner. Stimulasi reseptor β1 menyebabkan vasodilatasi melalui aktivasi adenilsiklase. Dengan demikian infuse dopamine dosis rendah akan meningkatkan aliran darah ginjal, laju filtrasi glomerulus dan ekskresi Na+. pada dosis yang lebih tinggi, dopamine meningkatkan kontraktilits miokard melalui aktivasi reseptor β1. Dopamine juga melepaskan NE endogen yang menambah efeknya pada jantung. Pada dosis rendah sampai sedang, resistensi perifer total tidak berubah. Hal ini mungkin karena dopamine mengurangi resistensi arterial di ginjal dan mesentirium dengan hanya sedikit peningkatan di tempat-tempat lain. Dengan demikian dopamine meningkatkan tekanan sistolik dan nadi tanpa mengubah tekanan diastolic (atau sedikit meningkat)
Akibatnya, dopamine terutama berguna untuk keadaan curah jantung rendah disertai dengan gangguan fungsi ginjal, misalnya syok kardiogenik dan hipovolemik. Pada kadar yang tinggi dopamine dapat menyebabkan vasokontriksi akibat aktivasi reseptor α pembuluh darah. Karena itu bila dopamine digunakan untuk syok yang mengancam jiwa, tekanan darah dan fungsi ginjal harus dimintor. Reseptor dopamine juga terdapat di otak, tetapi dopamine diberikan IV, tidak menimbulkan efek sentral karena obat ini sukar melewati sawar darah otak.7
            Peranan dopamine sangat beragam mulai dari mengatur fungsi-fungsi motorik sampai meregulasi status emosional maupun pengaturan aksis hypothalamus hipofisis. Dopamine mempunyai peranan penting proses terhadap pembelajaran banyak perilaku.7

PSIKOPATOLOGI DOPAMIN
            Hipotesis dopamine pada manusia terutama pada pasien skizofrenia berkembang dari pengamatan bahwa obatyang menghambat reseptor dopamine seperti : haloperidol mempunyai aktifitas antipsikotik dan obat yang mengstimulasi aktivitas dopamine seperti : amphetamine dapat menginduksi gejala psikotik pada orang yang nonskizofrenia jika diberikan dalam dosis tinggi. Hipotesis dopamine tetap merupakan hipotesis neurokimiawi yang utama pada skizofrenia. Suatu serial penelitian telah menunjukkan bahwa konsentrasi plasma HVA, pada kenyataannya menurun pada benyak pasien skizofrenik yang berespon terhadap obat antipsikotik. Masalah utama pada hipotesis tersebut adalah bahwa penghambatan reseptor dopamine menurunkan gejala psikotik pada hamper setiap gangguan, seperti psikosis yang berhubungan tumor otak dan psikotik yang disertai dengan mania. Jadi, beberapa kelainan neurokimiawi yang masih belum dikenali dalam skizofrenia mungkin bersifat unik untuk masing kondisi.1
            Dopamine juga terlibat dalam psikofisiologi gangguan mood. Aktifitas dopamine dapat rendah pada Depresi dan Mania. Observasi bahwa L-dopa dapat menyebabkan mania dan psikosis pada beberapa pasien parkinsonisme mendukung hipotesis tersebut. Beberapa penelitian telah menemukan kadar metabolit dopamine yang rendah pada pasien Depresi.1
            Ada juga peranan dopamine pada gangguan spectrum autistic, yang dimana adanya gangguan system neurotransmitter ysng berhubungan gejala gangguan perilaku. Berbagai penelitian terdahulu memperlihatkan adanya disfungsi system neurokimiawi pada penderita autism meliputi system dopamine, norepinefrin dan serotonin. Gangguan system neurokimiawi tersebut berhubungan dengan perilaku agresif, obsesif kompulsif dan stimulasi diri sendiri (self stimulating) yang berlebih. Peranan gangguan dopamine pada autism sering didasarkan pada pengukuran kadar HVA- suatu metabolit dopamine dan percobaan pemberiaan oba-obat agonis dopamine. Sebagian penelitian terdahulu menunjukkan kadar HVA (homovanillic acid) ditemukan lebih tinggi pada anak autisme yang gejala stereotipiknya lebih berat. Pemberian obat agonis dopamine memperburuk gejala stereotipi, agitasi dan hiperaktivitas pada anak autism.5
Gambar. 2. Obat yang bekerja pada sistem Dopaminergik.8
  KESIMPULAN
Dopamin adalah sebuah neurotransmitter yang terjadi dalam berbagai macam hewan, termasuk vertebrata dan invertebrata. Di otak, fungsi phenethylamine ini sebagai neurotransmitter, mengaktifkan lima jenis reseptor dopamin-D1, D2, D3, D4, dan D5-dan varian mereka. Dopamin diproduksi di beberapa daerah otak, termasuk nigra substantia dan daerah tegmental ventral. Dopamin juga neurohormon yang dilepaskan oleh hipotalamus. Fungsi utamanya sebagai hormon adalah untuk menghambat pelepasan prolaktin dari lobus anterior hipofisis. 1
. Dopamine mempunyai peranan penting proses terhadap pembelajaran banyak perilaku. Berbagai obat utama untuk mengatasi gangguan psikiatri seperti : psikosis, gangguan fungsi kognitif, gangguan kesadaran (migraine) bekerja melalui berbagai jalur dopamine.  Dopamine juga terlibat dalam psikofisiologi gangguan mood. Aktifitas dopamine dapat rendah pada Depresi dan Mania. Observasi bahwa L-dopa dapat menyebabkan mania dan psikosis pada beberapa pasien parkinsonisme mendukung hipotesis tersebut. Beberapa penelitian telah menemukan kadar metabolit dopamine yang rendah pada pasien depresi.4

DAFTAR PUSTAKA
1.      Kaplan H, 1995, Sinopsis Psikiatri, Jakarta : FK-UI Jakarta , hal. 206-225.
2.      Jaras Dopamin Sentral [Online]. 2007.[cited 2009 Jan 20]; Available from: URL:
3.      Reynolds, G.P., 1989, Beyond the Dopamin Hypothesis, British Journal of Psychiatry [serial Online], 1989 [cited 2009 Jan 20]; p:305. Available from URL: http://bjp.com.
4.      Goldstien, Menek, & Ariel Y. Deutch, Dopaminergik mechanismein the pathogenesis of scizofrenia, The FASEB Journal [serial Online], 1992 [cited 2009 Jan 20];2413. Available from URL ; http://fasebj.com
5.      Pinzon, Rizaldy, Peran Dopamin Pada Gangguan Spektrum Autistik, Cermin Dunia Kedokteran [serial Online], 2007 [cited 2011 Jan 20] p: 158-161. Available from URL: http://kalbefarma.com
6.      Webster. R, dkk, 1989, Neurotransmitter, Drugs and Disease., Blackwell Scientific Publications, London, p: 95-102
7.      Mardjon M, 1995, Farmakologi dan Terapi, Jakarta : FK-UI  Jakarta, hal. 64.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...