Minggu, 30 Januari 2011

Bola 4


Hari ini tim nasional Indonesia akan bertanding melawan Brazil di final Piala Dunia 2028. Setelah melalui pertandingan yang berat di babak-babak sebelumnya, sejumlah pemain mengalami cedera parah. Bambang Pamungkas terlepas rahangnya saat bertabrakan dengan siku Wayne Rooney, Firman Utina patah iganya ketika beradu dada dengan Sergio Ramos, Irfan Bachdim dan Oktavianus Maniani sakit hatinya karena dicoret dari timnas. Pokoknya dari 23 pemain yang didaftar di Piala Dunia, hanya 7 pemain yang sehat, sisanya patah-patah. Kondisi ini membuat PSSI berang. Melalui Ketua Umumnya, Nurdin Halid, PSSI meminta dispensasi pada FIFA agar diberikan hak khusus untuk mendaftarkan pemain baru di line up pemain meskipun kompetisi tengah berjalan. Permintaan langka itu diterima tanpa protes balik dari FIFA. Padahal 4 tahun sebelumnya, ketika Kutub Utara akan mengajukan hal yang sama, segera saja tanpa menghitung detik, permintaannya langsung ditolak. Sungguh hebat PSSI.


Tapi masalah belum selesai. Ketika akan mendaftarkan pemain, ternyata tidak ada satu pun pemain profesional yang bisa didaftarkan. Mengherankan bukan? Bahkan tukang pungut bola dan tukang ganti papan skor jebolan kompetisi tarkam pun yang direncanakan menggantikan pemain pro tidak ada. Usut punya usut, ternyata mayoritas pemain bola Indonesia serta semua tukang pungut bolanya sudah hijrah ke LPI, yang diharamkan PSSI. Sebetulnya masih ada beberapa pemain lain yang rencananya didaftarkan, tapi karena alasan gaji timnas sedikit serta lokasi Piala Dunia yang diadakan di Kutub Selatan terlalu sedikit wanitanya, maka mereka menolak. Katanya, mereka selalu gugup jika hanya pinguin, bukan wanita, yang menonton mereka saat menggiring bola.

PSSI bingung. Di tengah kebingungan dan pelik itulah karir sepakbola profesionalku bermula. Saat sedang membuang sampah di Laut Antartik, aku yang berprofesi sebagai tukang lontong official timnas, diperhatikan oleh Alfred Riedl, katanya, teknik buang sampahku sangat mumpuni, tidak ada duanya di dunia. Dengan kekuatan dan teknik tangan seperti yang kumiliki, katanya, aku akan dijadikan striker. "Hah?" cuma itu reaksiku. Tanpa menunggu kata selanjutnya dariku, dia langsung memberikan aku baju timnas, nomor punggung 27. Besok di final kamu main, begitu katanya. Apa hubungannya tangan dengan striker, tanyaku. Tapi dia sudah terlanjur berlalu.

Malam sebelum pertandingan, manajer timnas memanggilku ke venue. Diperkenalkan ke semua anggota tim lain, yang kini berjumlah 13 orang. Masih kurang 10 orang sebenarnya, tapi itulah usaha maksimal Badan Tim Nasional. Sebetulnya ada jutaan talenta ahli bola di antara 200 juta penduduk Indonesia, tapi karena gaji anggota timnas sedikit, terus tidak adanya dana untuk naturalisasi, maka hanya 5 orang anggota saja yang berhasil didapatkan, selain diriku. Itu pun 6 anggota anggota tambahan ini dicomot saja dari segala tukang offisial timnas. Mulai dari tukang lontong sampai tukang urut. Itu pun kami dipilih karena kami rela digaji murah dan sudah terlanjur ikut ke Kutub Selatan sebagai offisial tim.

NB:
Tulisan ini merupakan tulisan fiktif belaka. Tidak ada hubungannya dengan nama, tempat, kejadian, atau pun SARA.
Kalau pun ada kesamaan, itu tidak disengaja.

Jumat, 28 Januari 2011

Dangkal

Saya memandangi air sungai yang dihiasi beberapa batok kepala pecah yang berlumuran darah di bebatuannya. Pemandangan yang sungguh menyenangkan untuk gagak, burung hantu, cacing dan segala mahluk nekrofilik lainny namun menyedihkan bagi orang-orang yang pernah mengenal manusia pengusung batok kepala itu di sepanjang hidupnya.
sumber

Saya mencoba menduga-duga penyebab datangnya batok kepala itu di sungai dangkal ini. Segala kemungkinan seperti buronan kabur yang terpeleset saat buang hajat hingga manusia yang dibuang alien dari pesawat antariksa sudah aku pikirkan sebagai skenarionya. Tapi tak ada satu pun yang klop. Karena itu aku anggap saja, batok kepala itu datang sendiri ke sungai dangkal ini atas kemauan sendiri. Setelah menyimpulkannya, saya pun berteriak memanggil pertolongan untuk membersihkan bebatuan sungai dari darah batok kepala. Tapi tak ada satu pun manusia yang datang. Alih - alih homo sapiens sepertiku, justru seekor naga yang menampakkan diri dan menawarkan bantuan cleaning service instant secara gratis pada bebatuan sungai. Katanya sekarang dia lagi promo, jadi kuiyakan saja.

 Dengan cekatan, Sang Naga menghabisi batok kepala dan tetesan darah di batu-batu tajam sungai dengan sekali jilat dan sembur. Setelah itu dia berlalu tanpa kata. Dan saya pun pulang setelah memastikan tidak ada lagi batok kepala yang jatuh ke batu sungai dangkal ini.


 nb: ini mimpi yang diceritakan ulang. kata paranormal yang mumpuni blingsatannya, arti mimpi ini adalah kalau hari ini, hari jum'at, maka besok pasti hari sabtu.

Rabu, 26 Januari 2011

Jalan

sumber




Kemarin malam saya tersesat ketika hendak membeli odol di warung tetangga. Padahal jarak rumah ke warung tersebut tidak sampai 500 meter saat matahari masih di langit. Tapi entah kenapa pada malam hari, jarak tersebut memelar hingga nyaris tak terhingga dan berhasil menyesatkanku yang niatnya hanya ingin membeli odol seharga Rp 1.500.-


Perjalanan menuju tempat transaksi yang gila.   Saya bahkan bertemu Leonardo di Caprio dan Tom Hanks di tengah ketersesatanku. Mungkin ini sulit dipercaya, saat melewati mereka, kudengar Tom Hanks lagi meminta rokok pada Leonardo dalam logat  Makassar khas yang secara ajaib dapat dimengerti oleh orang semacamku yang seumur-umur belum pernah belajar bahasa Makassar. 
Awalnya saya menduga, tetanggaku sudah mengaplikasikan ilmu iblis pada warungnya, yang mampu mendistorsi jarak dan waktu. Tapi kalau dipikr-pikir secara matang  lagi, tetanggaku tidak mungkin melakukan tindakan bodoh yang bisa membuat semua calon pembelinya tersesat hanya untuk menuju warungnya. Tapi rasanya bodo amat memikirkan hal macam itu.
Karena tidak mau lama-lama tersesat, aku memilih pulang. Beli odolnya ditunda, saja. Karena sudah kebelet mau menyiwak gigi, jadi kugunakan saja  sikat gigi yang kulumuri dengan deterjen sebagai pengganti odol.  Yang penting berbusa. Setelah itu, aku pun tidur.

Dalam tidur, kubermimpi menemukan bantal. Bantal itu kugunakan untuk tidur . Dan aku pun mimpi lagi menemukan bantal. Kugunakan lagi untuk tidur. Dan aku pun bermimpi lagi dalam mimpi yang di dalamnya kumimpi sedang bermimpi..bermimpi...bermimpi  hingga melebihi lapis mimpi film  "inception". Di akhir mimpi  kumelihat visualisasi, blog yang kuasuh mendapat page rank 3 dari situs http://www.prchecker.info , http://www.checkpagerank.net , dan http://www.prbutton.net/




sungguh mimpi yang aneh. Pasti saya sedang salah mimpi dan sudah terjatuh dalam limbo sehingga hal mustahil macam itu terjadi, begitu dugaanku. Karena itu aku memilih bangun karena mimpi seperti ini pasti tidak akan pernah jadi nyata.

Saat terbangun, semua yang ada di sekitarku masih tetap seperti yang dulu, tidak ada yang berubah. Warung penjual odol masih tetap berjarak 500 meter di siang hari dan menyesatkan saat malam. Dan di jalan ketersesatan yang mungkin tidak pernah ada  di jalur  menuju warung odol, Tom Hanks serta Leonardo masih asyik bermain-main rokok. Mereka, seperti halnya aku, tidak begitu peduli dengan semua kejadian hari  ini. Mimpi tentang mimpi, blog dan deterjen yang kupakai untuk gosok gigi tidak akan merubah hidupku. Semoga.

nb: hanya satu mimpi yang nyata....blog ini dapat PR 3. Tapi saya tidak tahu apa artinya itu.

Rabu, 19 Januari 2011

Android 3

Sampai detik ini aku masih saja sibuk mengurusi perasaan dan letupan-letupan emosi sepeleku yang kata orang-orang sekitarku, tidak penting untuk dibahas bahkan untuk forum bisik-bisik tetangga sekalipun. Tapi menurutku, urusan dan semua kesepelean milikku lebih penting dari apapun, meskipun kata mereka yang tidak menyukaiku mengatakan, ribuan orang telah mati di luar sana untuk memperjuangkan sesuatu yang lebih penting dari urusanku, yang menyangkut hidup-mati, yang berkaitan dengan akhir dunia, dan yang pasti bukan urusanku. Tapi tetap, ku tak peduli.



Mungkin sudah menjadi pembawaanku sejak jiwaku tergelincir ke bumi dan masuk ke dalam wujud manusia yang penuh keterbatasan hingga bisa tumbuh sebesar ini, jiwa kepedulianku sudah mengalami mutasi kronik sehingga sampai sekarang, aku belum bisa beranjak pergi dari lapangan egoku yang begitu luas dan permai, yang melebihi kemegahan Nou Camp dan San Siro. Saya malas bersinggungan dengan dunia di luar lapanganku, meskipun untuk sekedar melihat-lihat sejenak suasana jalan poros yang tiap saat dilalui orang-orang dari seluruh penjuru dunia. Saya tidak pernah bisa peduli dengan kehidupan lain di luar kehidupanku. Bahkan kalau pun bumi harus remuk karena tertubruk Mars dan aku ikut mati karenanya, aku tidak peduli. Justru hal itu lebih bagus, dengan begitu waktuku untuk berlama-lama di dunia ini dan bermain-main kepedulian bisa segera berakhir.

I hate all of these drama.

Senin, 17 Januari 2011

Damned

Bila keikhlasan dan kerelaan sudah jauh berlalu dari hati yang bekerja, maka yang tersisa dari raga yang bergerak hanyalah payah, lelah, dan kalimat, "God Damned, when this thing will end."

Kalau sudah begitu, lebih baik berhenti, tarik nafas dan jangan lepaskan, supaya mati saja. Tapi kalau mati masih ditakuti, cukuplah tidur, menjadi pengganti sementara untuk mengistirahatkan hati.

Minggu, 16 Januari 2011

Muda

Haruskah aku menyesali hidupku yang singkat, rutin, monoton, dan lurus-lurus saja, yang tidak pernah punya kesempatan menikmati masa muda dengan cara senang-senang ala mayoritas anak muda di zamanku? Entahlah. Tapi seorang teman pernah bilang padaku, "kau harus menyesal hidupmu, kawan, karena tidak pernah merasakan nikmatnya menggenggam gadget keluaran terbaru dan hangatnya tangan kekasih yang tiap minggu berganti wajah dan raga, serta mengecap enaknya hilang kesadaran karena mabuk yang mencapai ubun serta kegilaan-kegilaan masa muda lainnya."
Well, waktu itu aku hanya mengomentari celotehan ngasal temanku dengan beralasan, aku tidak punya uang untuk melakukan hal-hal gila yang dia maksudkan. Dan dia, Si Manusia Ngetrend yang merangkap jabatan sebagai temanku, hanya mengangguk-angguk dan ber-oh saja setelah mendengar penjelasan singkatku, kemudian dia berlalu, tidak minat lagi meminta penjelasan lebih.

Namun sebenarnya uang bukanlah alasan utama yang membuatku tak ingin mengikuti tren anak muda di zamanku. Kalau saya mau, bisa saja kuikuti gaya hidup gila-gilaan itu, dengan atau tanpa uang. Cukup dengan modal nekat, muka tembok, lalu palak kiri, palak kanan dan "voila", jadilah aku manusia milenium pengikut trend. Tetapi sejak awal, saya memang tidak berminat bergila-gila ria di masa muda, karena kewarasan masih bertengger di otakku atau bisa jadi, kegilaan kolot lah yang mungkin menggerogotinya sehingga aku selalu melawan arus tren masa kini. Tapi aku tidak peduli, karena prioritasku bukanlah menghambur-hamburkan testosteron di sembarang penjuru dunia, bukan pula menjaga obsesi untuk mencicipi segala jenis minuman dan zat adiktif lainnya, mulai dari Jack Daniels, amphetamine hingga Spiritus 100 % yang beracun. Saya betul-betul belum mampu menjadi manusia milenium macam itu.

Selasa, 11 Januari 2011

Alien 2

Tiap kali menumpang angkot untuk pergi ke tempat dinas seperti sekarang ini, saya selalu berharap dapat bertemu dengan seorang aktivis sosialisme untuk sekedar berdiskusi dan mendengarkan argumentasi ataupun ceracauannya yang senantiasa kukuh menyalahkan sistem yang memaksaku dan orang-orang semacamku agar mau meluangkan waktunya mengalienasi diri dalam aktivitas produksi. Dan meskipun atmosfer angkot kadang panas seperti kompor, maka dengan senang hati, saya rela meningkatkan panasnya suasana dengan mendengarkan segala ejekan Si Aktivis yang menyatakan betapa bodohnya diriku karena mau tunduk pada penjajahan macam itu. Sungguh, saat ini kuingin bertemu orang macam itu di angkot yang kutumpangi sekarang. Sayangnya, orang macam itu tidak dapat kutemukan di antara para penumpang lain dan supir yang juga terjebak dalam kondisi teralienasi sepertiku. Para aktivis sosialisme sepertinya tidak suka naik angkot.

sumber

Mungkin terdengar aneh, tapi dalam kondisi kejenuhan yang kurasakan begitu akut seperti detik ini, mendengarkan umpatan aktivis pengusung ideologi Marx, Trotsky dan Lenin tentang kegagalan sistem dan konspirasi tingkat dunia adalah hiburan yang kudambakan. Setidaknya dalam umpatan, ejekan dan celotehan itu dapat kurasakan adanya dunia lain yang betul-betul berbeda jauh dengan dunia yang kuhuni saat ini, yang lebih menyerupai perbudakan dibanding kerja kemanusiaan. Hanya upaya menguat-nguatkan hati dan menganggap segala tindakan sebagai ibadah yang membuat orang-orang semacamku masih bertahan di duniaku yang gila.

Sabtu, 08 Januari 2011

Alien

Memasuki rumah sakit, rasanya seperti terdampar di planet lain yang menjadikanku sebagai alien. Meskipun dalam kenyataannya, rumah sakit merupakan tempat yang begitu sering kukunjungi. Padahal sudah berkali-kali kucoba mengakrabkan diri dengan koridor-koridornya yang beraroma karbol, bercengkrama dengan perawat-perawatnya yang ramah, dan bertoleransi dengan keluhan serta jeritan pasien yang kesakitan, tetap saja, rumah sakit merupakan tempat yang lebih asing dari pedalaman Timbuktu yang tak pernah terjamah.

 Terlalu bnayak misteri di rumah sakit. Mulai dari administrasinya yang kadang suka mempimpong, pemeriksaannyanya yang kadang menyesakkan, obat-obatannya yang biasanya macam-macam, hingga tagihan pulang yang minta ampun mahalnya.

Terlalu banyak mekanisme tangan tak terlihat di rumah sakit membuatku selalu merasa asing.

Jumat, 07 Januari 2011

Android 2

Kamu sudah mengetahui sekelumit kisah tentang hidupku yang begitu terstruktur, rapi, dan nyaris tanpa ruang improvisasi. Yang selalu membuat muntah orang - orang slebor ketika berada dalam radius pandanganku, tak mengenal kompromi pada kesalahan dan selalu tepat waktu hingga mikrodetik terakhir.

Bersatu denganmu yang jauh dari kata sempurna, akrab dengan spontanitas serta selalu eksplosif hanya akan menciptakan efek merusak yang ireversibel. Kalau bukan kamu yang rusak, maka saya yang hancur. Atau bisa-bisa kita berdua yang berantakan.

Masihkah tertarik dirimu dengan keadaan tak menguntungkan seperti itu? Keadaan yang dapat menceburkan kita dalam lautan ketidakpastian yang senantiasa kubenci. Tentunya kamu tak ingin tenggelam kan, meskipun kau bilang suka dengan misteri dan hal-hal tak pasti lainnya yang mirip lautan itu. Pengalaman tenggelam dalam lautan ketidakpastian selalu jauh dari kesan menyenangkan. Hanya sensasi sesak, nyeri dada dan perasaan mau mati saja yang ada. Dan aku belum dan tidak pernah siap dengan perasaan menyakitkan macam itu, meskipun aku hanyalah sebuah android yang menyerupai manusia tapi bukan manusia.

Senin, 03 Januari 2011

Untung 2

Ada suatu artikel yang menyatakan bahwa,

"Banyak orang yang lebih membutuhkan keberuntungan untuk dapat terus hidup bahagia dibanding memiliki uang maupun kekuasaan.

Keberuntungan mempunyai cakupan mediator yang lebih banyak dalam merangsang reseptor kebahagiaan manusia. Memiliki materi berlimpah seperti uang banyak dalam kuluman gigi emas bertumpuk maupun tinja permata di jamban berlian tidak lebih membahagiakan dibanding keberuntungan yang didapatkan oleh orang yang terpeleset jatuh dari lantai 50 namun tetap hidup dan tanpa cacat menapaki muka bumi.

Dan menjadi seorang presiden yang memiliki kekuasaan meliputi wilayah sepanjang 1/5 garis lingkar bumi dan berpenduduk 200 jutaan tidak lebih membahagiakan dari mendapatkan genangan air secara tidak sengaja ketika haus menyerang di gurun Gobi.

Yang menjadikan keberuntungan lebih membahagiakan dibanding memiliki uang 50 perak di tangan adalah efek kejutan dan spontanitasnya yang dapat memicu pengeluaran noradrenalin dan mediator kesenangan lainnya."

Cuma masalahnya sekarang adalah bagi sejumlah orang, memiliki banyak uang dan kekuasaan juga dapat dikatakan keberuntungan. Jadi kalau menurut saya,
apapun bentuknya, selama dapat menyenangkan dan membahagiakan hati, maka itulah keberuntungan.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...