Sabtu, 30 April 2011

Anak Pondokan

Mahasiswa-mahasiswi dan pemuda-pemudi yang bermukim di pondok-pondok, kos-kosan, atau kontrakan di daerah sekitaran kampus (yang dalam artikel ini kita sederhanakan saja penyebutannya dengan istilah anak pondokan untuk menghemat tenaga) merupakan kelompok populasi yang jarang sekali dibahas secara komprehensif di tataran penelitian sosial maupun bahasan akademik yang serius. Banyak pihak justru menganggap mereka tidak lebih dari kumpulan pemain sirkus yang tidak tahu bermain roda gila dan menjinakan singa yamg sudah ompong. Intinya adalah anak pondokan bukan topik bahasan yang menarik untuk diperbincangkan apalagi harus diteliti secara ilmiah.

Kebanyakan penelitian sosial di negeri ini lebih memfokuskan diri pada tema-tema populer dan kelompok populasi yang scope-nya jauh dari kesan demografis anak pondokan, seperti kelompok anak dugem-dugem yang jajanannya shabu, LSD, heroin, kelompok paruh baya yang tidak bahagia dalam kehidupan sexnya, atau kelompok eksekutif muda yang bingung harus dibuang ke tong sampah mana uangnya.

Meskipun beberapa penelitian sosial pernah dibuat di kelompok populasi anak pondokan, kebanyakan penelitian tersebut tidak representatif, bersifat bias, lebih sering diabaikan pengambil kebijakan, dan cenderung menitikberatkan cakupan temanya, hanya pada kisaran kebejatan dan kebobrokan mental anak pondokan. Seolah-olah anak pondokan hanyalah kumpulan orang-orang yang tidak jelas arah hidupnya dan tahunya cuma hura-hura serta menghabiskan uang orang tua yang mensubsidi mereka. Kenyataannya, keboborokan kebejatan itu tidak melulu disebabkan oleh kerusakan moral individu mahasiswa saja, sistem pendidikan dan pola pengasuhan di negara ini turut ambil bagian dalam kerusakan ini. Padahal, ada banyak aspek kebaikan anak pondokan yang bisa diteliti dan disoroti.

Sebagian besar penelitian mengenai sterotipe kebejatan anak pondokan memang dapat dibuktikan kesahihannya serta tepat sasaran, meskipun banyak kontroversi yang mempertanyakan metode pengambilan sampel serta metaanalisis penelitian-penelitian ini. Namun fakta-fakta yang menyebutkan bahwa banyak anak pondokan yang memang bermoral bejat (definisi bejat di sini merujuk pada standar budaya ketimuran dan keyakinan 5 agama yang diakui di Indonesia) menurut beberapa survei, memang sulit dipungkiri. Fakta-fakta seperti tingginya jumlah hubungan seksual di luar nikah, peningkatan jumlah aborsi provocatus criminalis (pengguguran kandungan yang tidak melalui prosedur yang disetujui secara medis) serta penggelembungan frekuensi tontonan tayangan pornografi sudah menjadi hal yang lumrah di wilayah pondokan.

Karena stereotipe jelek itu, sampai-sampai banyak anekdot liar lahir dan berseliweran di sekitar pondokan, seperti mayoritas anak pondokan lebih hafal nama aktris porno dibanding bahan kuliah yang baru dibacanya 30 menit yang lalu atau waktu tidur anak pondokan lebih panjang dari beruang yang sedang hibernasi di musim dingin. Tapi sekali lagi, itu cuma stereotip dan anekdot yang diciptakan masyarakat dari segelintir kasus.

Seperti baru-baru ini, 2 pasang anak pondokan yang belum pernah menemui penghulu, ditemukan (lebih tepatnya kedapatan) tengah bertelanjang ria di kamar pondokan. Entah ada hawa panas jenis apa yang membuat mereka harus melepas semua pakaiannya dan mulai melakukan gerakan - gerakan akrobatik kolaboratif yang terpaksa dihentikan oleh pintu yang terdobrak. Yang pasti, kedua pasangan anak muda yang belum punya kartu nikah ini terpaksa diusir, tanpa pernah melakukan pengajuan pembelaan diri di Mahkamah Hak Asasi Manusia. Mungkin mereka tidak tahu, kalau perkara diganggu saat tengah melakukan pertukaran cairan tubuh bisa jadi delik pengaduan pelanggaran HAM. Kalau pun mereka tahu, tak ada daya mereka melawan kekuatan mayoritas anak pondokan yang menolak praktek kolaborasi akrobatik tak berbusana antara dua manusia yang tak menikah.

Selasa, 26 April 2011

Seragam

Di masa-masa terelektrifikasi macam sekarang ini, sulit menjadi pribadi (character) yang benar-benar bermakna pribadi (personal). Karena dunia melalui gurita-gurita media, tren, dan pakan memaksa kita menjadi manusia-manusia yang nyaris seragam. Hampir semua orang bicara dengan bahasa yang sama, Inggris, Inggris, Inggris. Berpakaian dengan gaya yang sama, jeans, tank top, mini skirt. Mendengarkan musik dengan genre yang sama, pop, rock, rnb, lipsync. Menonton tayangan yang sama, reality show, film porno, kekerasan. Makan dari pakan yang sama, fast food, junk food, racun. Bercinta dengan model cinta yang sama, cinta paras, cinta visual, disorientasi seksual. Lalu mati dengan penyakit yang sama, penyakit jantung koroner atau over dosis.

Kamis, 21 April 2011

Situs: Ekonomi Orang Waras Indonesia 3: Sukarno

Bagi semua pengagum Soekarno, mohon maaf sebelumnya bila postingan  kali ini melukai hati kalian semua. Saya tidak pernah bermaksud menjelek-jelekan Presiden pertama kita. Hanya saja, saya merasa, kekaguman tersebut perlu diuji dengan membaca postingan yang saya copas dari situs Ekonomi Orang Waras Indonesia (EOWI). Lagi-lagi tidak kreatif (well....really...really sorry for this).

Jika setelah membaca postingan di bawah ini kekaguman Anda tetap bertahan atau malah lebih kuat dari sebelumnya, berarti Anda benar-benar seorang pengagum sejati. Namun apabila hal sebaliknya yang terjadi, well, itu manusiawi sekali. Selamat membaca: 

 

Selasa, 19 April 2011

Bore in Vein

Dunia ini gila. Semua manusia waras yang menghuninya sudah mengetahui hal ini. Gilanya, mereka mau terus bertahan menghuni dan mengalami semua kegilaan itu, seolah-olah hal tersebut waras untuk dijalani. Dasar manusia-manusia waras.
Justru orang-orang yang terganggu mentalnya dan dianggap gila yang tidak mau berlama-lama hidup di dunia penuh kegilaan ini. Mereka lebih suka memilih melukai diri bahkan mati dari pada harus terus-terusan gila di kehidupan yang gila itu.
Bosan.

Jumat, 15 April 2011

Situs: Ekonomi Orang Waras Indonesia 2

Masih dalam mode malas bikin postingan original. Jadi saya akan kembali mempromosikan situs Ekonomi Orang Waras Indonesia (EOWI).Dalam situs "gila" ini pernyataan - pernyataan radikal sangat mudah keluar. Contohnya seperti yang di bawah ini:
 
Makna Demokrasi
Hasil Pilkada DKI:
Pemilih Terdaftar: 5.719.285
Fauzi Bowo: 2.010.545 (35.1%)
Adang: 1.467.737 (25.7%)
Tidak Memilih: 2.241.003 (39.2%)
Pemenangnya Kursi Kosong. Kenapa Fauzi Bowo jadi gubernur?


Kamis, 14 April 2011

Situs: Ekonomi Orang Waras Indonesia

Lagi malas bikin postingan.

Hanya ingin menunjukkan sebuah fragmen situs Ekonomi Orang Waras Indonesia (EOWI) yang sering sekali saya kunjungi untuk sekedar refreshing.

Kenapa EOWI Memperjuangkan Kursi Kosong

Kenapa EOWI Memperjuangkan Kursi Kosong
Untuk Kursi Kosong anda tidak perlu bayar gaji anggota DPR yang duduk dan tidur. Mereka ini lebih baik dari pada anggota yang melek dan mengganggu....



NB: Hati-hati saat mengunjungi situs EOWI  karena di situs ini, emosi Anda dapat terpicu secara tiba-tiba. Maaf bila ada yang tersinggung.
 

Minggu, 10 April 2011

Talky

Aku tak pernah tahu apa maumu. Meskipun ratusan tahun kita kenalan, jika kamu terus bersikap macam ini, tetap saja tidak akan ada yang kutahu tentang dirimu.

Apa kamu tahu, dirimu selalu menciptakan mendung dan kabut di tiap percakapan kita. Dan aku tak pernah bisa menjadi pawang yang dapat menghalaunya meskipun aku telah merapal ribuan mantra yang sama dengan mantra yang dapat menghentikan hujan duri di negeri Mayapada. Yang selalu terjadi di pertemuan kita adalah dialog yang berhenti sebelum waktunya. Ibarat siaran TV yang berhenti mendadak karena PLN lagi ngambek. Hanya saja, dialog kita tidak pernah lagi berlanjut setelah keheningan terjadi, sedangkan siaran TV bisa lanjut lagi ketika mood pegawai PLN bagus lagi.

Malam minggu

Malam minggu yang gila. Berkencan dengan banyak keluhan, pasmat, dan pasbar. Naik turun tangga, steto sana-sini, guyur-guyur, cor-cor. Ditemani para pemabuk, gamer dan penjahat kelamin yang ilmu ninjanya tinggi. Jadi kasihan pada kaum hawa yang harus menjadi bagian dari malam gila ini.

Sabtu, 09 April 2011

Ingin sekali rasanya benci pada rutinitasku yang sekarang karena harus menghadapi begitu banyak keluhan yang tak ada habisnya. Apalagi suasana orang, sistem dan tempat, berlangsungnya rutinitas tidak kondusif. Sekeras apapun kucoba meningkatkan adaptasi dan merendahkan ambang batas toleransiku untuk menghadang kemuakan, tetap saja rasa muak dan benci itu mampu merembes keluar. Just wanna say damn for this condition.

2

Seandainya diberi kesempatan hidup satu kali lagi, aku ingin mencoba menjadi manusia yang sama sekali berbeda dari diriku yang sekarang.

Menjadi orang yang berkarakter seperti Hitler, Castro, ataupun Stalin bisa jadi pilihan yang cukup menarik. Meskipun sejarah yang dibuat oleh para kapitalis memberikan karakteristik antagonis pada mereka, itu tidak masalah. Sebab keantagonisan hanya persoalan konteks pembuat skenario. Kalau seandainya saya adalah Shakespeare, Romeo akan kuhidupkan lagi sebagai manusia serigala spesialis pemakan pasangan yang lagi kasmaran, dan Juliet akan bereinkarnasi menjadi pemburu manusia serigala. Sebagai penulis skenario, kisah thriller action macam itu kuanggap lebih menarik dibanding romansa tragis. Hitler dan kawan-kawan

Tapi memilih berkarakter seperti mereka tidak sampai membuatku setuju pada tindakan-tindakan mereka, yang kata sejarah kapitalis, membunuhi banyak orang demi mencapai tujuan. Meskipun begitu, kenyataan bahwa determinasi, keteguhan, dan ketegasan yang mereka punya untuk berani melawan arus demi mempertahankan prinsip tetap membuatku kagum. Urusan moralitas lain dan tingkah laku liar mereka yang banyak dibincangkan sejarah, biar mereka sendiri, rohaniwan dan Tuhan yang mengurusnya.

Aku berharap bisa terlahir lagi dengan karakter macam mereka.

Jumat, 08 April 2011

Arthro

Salam hangat,
Lama tak jumpa denganmu. Bagaimana kabarmu? Apa masih seperti yang dulu? Tetap enerjik dan membara seperti aspal bakar yang baru tumpah, kuharap. Tapi, jangan sampai semangatmu itu menghanguskan sekitarmu. Kau tahu sendiri kan, kondisimu kini berbeda dengan manusia biasa. Perubahan moodmu bisa berefek luas pada mahluk lain.

Karena itu, melalui surat ini, aku ingin menyampaikan jutaan maaf padamu karena tidak sempat menghadiri acara paling sakral, yang dibuat khusus sekali seumur hidup. Pemakamanmu. Kuharap kamu tak lekas marah, menggentayangi ataupun menggalang massa roh untuk menghantuiku karena ketidakhadiranku sungguh sangat beralasan. Lebih beralasan dibanding alasan semua orang yang hadir di saat kamu sedang dalam prores berkalang tanah.

Apa kau tahu, saat dirimu dimakamkan, yang hadir bukan saja saudara-saudari dan sepupu jauhmu yang berhak mendapat warisan, petugas pajak serta debt collector bank yang ikut-ikutan merasa punya hak mengambil warisanmu tidak mau ketinggalan hadir. Mereka semua berkumpul di sekitarmu seperti burung nazar yang mengincar bangkai di Mohave. Tapi yang pasti, bukanlah bangkaimu yang mereka incar, karena kalau itu yang menjadi target, sudah dari tadi sekop yang berada di genggaman tukang gali kubur, berganti kepemilikan. Tapi itu tidak terjadi, karena sejatinya, hanya uang dan deposit yang selama ini telah kita timbun bersama yang mereka inginkan. Harta yang dengan sudah susah payah kita jauhkan dari penglihatan dan penciuman pajak dan perbankan sialan, kini mau direbut lagi? Gila.

Kamis, 07 April 2011

Something We Called as Madness

Saya sudah menonton begitu banyak film. Kebanyakan ingatan tentang tokoh, dialog dan jalan cerita film-film itu hilang diterpa tornado lupa karena tidak seru atau memang tidak menarik. Kalaupun ada yang tertinggal, pastilah itu film-film yang memenuhi salah satu dari 2 kriteria berikut:
Pertama, film yang dianggap berkualitas karena media terlalu sering mengocehkan resensinya dan mendapat banyak penghargaan sehingga walau dinonton sekali saja, itu sudah cukup memberi impresi yang mendalam di memori, karena semua orang terus membicarakannya. Contoh film yang memenuhi kriteria ini adalah Beautiful Mind, Inception, Matrix Serials, Star Wars Serials, Slumdog Millionaire, Lord of The Rings Trilogy, Pirates of Caribean Serials, dan beberapa film lain yang kalau didaftar bisa menghabiskan kuota karakter postingan ini.

Kategori kedua, film yang terpaksa dinonton karena terlalu sering diputar di TV. Contoh film-film macam ini dapat kalian lihat sendiri di tayangan TV nasional sebentar malam. Karena tiap malam film itu-itu saja yang diputar, tidak ada penambahan dan perubahan variasi. Saking seringnya diputar, beberapa di antar kita mungkin mampu mengingat warna baju, jumlah batu dan merk minuman yang diminum aktor dalam film-film itu.

Rabu, 06 April 2011

Adaptasi

Dunia berubah begitu cepat, terlambat saja semenit untuk beradaptasi, bisa membuatmu tertinggal puluhan kilometer di belakang kereta kemajuan.

Terus bergerak atau tergeletak.

Minggu, 03 April 2011

Angin Darat

Jangan ke pantai ketika malam menjelang. Aku tak mau kamu sakit karena terkena angin darat yang jahat. Kamu tahu kan, saat malam menjelang, suhu di laut lebih tinggi dari suhu di darat, sehingga udara akan bergerak dari daratan ke lautan untuk mengisi ruang kosong yang diakibatkan oleh suhu yang meningkat di lautan. Dalam proses itu, semua sisa buangan manusia daratan pasti di bawa ke laut. Asap, debu, kemarahan, kebosanan, sumpah serapah dan segala residu yang selama siang hari bertebaran di darat, secara perlahan namun pasti, merayap di bawah bayang gedung-gedung kokoh, dan menjalari pekatnya aspal hitam yang panas, membentuk satu aliran menuju hilir yang mutlak, lautan.

Nb: lagi bosan.

Nurd(ai)n

Aku siap meninggalkanmu kapan pun kau minta.
Hanya menunggu waktu bagi kita untuk berpisah karena semua pertengkaran ini sudah terlalu menyita segala yang kita punya hingga tak ada lagi daya padamu dan padaku untuk saling mengikat.
Lagi pula aku merasa, berpisah dariku merupakan pilihan terbaik yang kau miliki saat ini sampai kapan pun dirimu bersamaku. Yang kau dapat dari kebersamaan kita hanyalah derita dan tangisan.

Aku tak ingin melihatmu menderita lagi.
Selamat tinggal PSSI.

NB: Balada yang sebaiknya segera dinyanyikan seseorang di PSSI.

Jumat, 01 April 2011

Damn Actor

Tiap kali kunyalakan laptop untuk menonton film bajakan yang bebas pajak dan bea cukai, kesan yang kutangkap selalu sama, akting para aktor film itu belum ada apa-apanya dibanding akting wakil rakyat dan pemerintah. Totalitas Leonardo di Caprio, Lukman Sardi, Russel Crowe atau pun Christian Bale dalam berakting bagaikan debu di jalur galaksi bima sakti ketika diperhadapkan dengan akting petinggi di negara ini. Begitu rajin mereka mengatakan kepentingan rakyat saat berada di sorotan kamera, begitu sorotannya dialihkan, ketamakan dan kemunafikan yang tadinya mengendap dibalik make up, jas dan retorika indah, segera menyeruak, merajalela mencari celah-celah yang dapat mengalirkan uang meskipun itu hanya sebesar jarum piko yang bahkan elektron pun tak mungkin lewat. Tapi itu tidak masalah. Karena selain berakting, mereka juga ahli dalam sulap, sehingga hal semustahil apapun itu, dapat dengan mudah diutak-atik hingga jadi mungkin.

Mereka memainkan undang-undang, memodifikasi lalu memutar baliknya seperti kimiawan handal, hingga seorang penulis skenario kawakan pun tidak mampu menyetarai karya wakil rakyat. Undang-undang yang mereka susun mengandung banyak ambivalensi dan lebih sering mengenyampingkan kehendak rakyat. Kalau bisa difilmkan, undang-undang yang mereka buat bisa lebih kolosal dibanding Trilogi Lord Of The Ring. Karena jalinan dan pertautan aturannya terlalu membingungkan rakyat. Undang-undang Pornografi, Undang-undang Diknas, Undang-undang PEMILU, dan Undang-undang korupsi adalah contoh skenarionya.

Karena kerumitan itulah, sehingga yang dapat melakoni skenario undang-undang yang telah mereka buat adalah mereka sendiri. Yang jadi masalah, para wakil rakyat ini ingin juga menjadi lembaga suprastruktur, mereka membuat peraturan tapi mereka imun dari jeratan peraturan tersebut. Gila.

NB: Semakin jengkel sama pemerintah dan wakil rakyat. Karya rekan sejawat.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...