Sabtu, 28 Januari 2012

Refarat Ablasio Retina

ABLASI RETINA (Ablatio Retina, Retinal Detachment)
I.                   PENDAHULUAN
Ablasi retina adalah suatu keadaan terpisahnya sel kerucut dan batang retina dengan dari sel epitel pigmen retina  Pada keadaan ini sel epitel pigmen retina masih melekat erat dengan membran Brunch. Sesungguhnya antara sel kerucut dan sel batang retina tidak terdapat suatu perlekatan struktur dengan koroid atau pigmen epitel, sehingga merupakan titik lemah yang potensial untuk lepas secara embriologis.1
Lepasnya retina atau sel kerucut dan batang dari koroid atau sel pigmen akan mengakibatkan gangguan nutrisi retina pembuluh darah yang bila berlangsung lama akan mengakibatkan gangguan fungsi penglihatan.2
II.                INSIDENS
Istilah “Ablasi retina”(retinal detachment) menandakan pemisahan retina sensorik, yaitu fotoreseptor dan lapisan jaringan bagian dalam, dari epitel pigmen retina dibawahnya. Terdapat tiga jenis utama ablasi retina yaitu : ablasi retina regmategenosa, ablasi retina traksi (tarikan) dan ablasi retina eksudatif.3,4
            Ablasi retina regmatogenosa merupakan penyebab tersering dari kedua bentuk ablasi retina yang lain. Sekitar 1 dari 10.000 populasi normal akan mengalami ablasi retina regmatogenosa. Kemungkinan ini akan meningkat jika pada pasien yang; memiliki miopa yang tinggi, telah menjalani operasi katarak, terutama jika operasi ini mengalami komplikasi kehilangan vitreous, pernah mengalami ablasi retina pada mata kontralateral dan baru mengalami trauma mata berat.1,2,5
III.             ANATOMI
Gambar anatomi mata dikutip dari kepustakaan 3
 Retina adalah selembaran tipis jaringan saraf yang semitransparan dan multilapis yang melapisi bagian dalam dua per tiga posterior dinding bola mata. Retina membentang ke depan hampir sama jauhnya dengan korpus siliare, dan berakhir ditepi ora serrata. Pada orang dewasa, ora serata berkisar 6,5mm dibelakang garis Schwalbe pada sisi temporal dan 5,7 mm dibelakang garis pada sisi nasal. Permukaan luar retina sensorik bertumpuk dengan lapisan epitel berpigmen retina sehingga juga bertumbuk dengan membrane Bruch, khoroid dan sclera. Disebagian besar tempat retina dan epitelium pigmen retina mudah terpisah hingga membentuk suatu ruangan subretina, seperti yang terjadi pada ablasio retina. Tetapi pada discus optikus dan ora serrata, retina dengan epithelium pigmen retina saling melekat kuat, sehinggga membatasi perluasan cairan subretina pada ablasio retina. Hal ini berlawanan dengan ruang subkhoroid yang terbentuk antara khoroid dan sclera, yang meluas ketaji sclera. Dengan demikian ablasi khoroid meluas melewati ora serrata, dibawah pars plana dan pars plikata. Lapisan-lapisan epitel permukaan dalam korpus ciliaris dan permukaan posterior iris merupakan perluasan ke anterior retina dan epithelium pigmen retina. Permukaan dalam retina menghadap ke vitreus.3
            Lapisan-lapisan retina, mulai dari sisi dalamnya, adalah sebagai berikut : 1,2,3
  • Membran limitas interna
  • Lapisan serat saraf
  • Lapisan sel ganglion
  • Lapisan pleksiformis dalam
  • Lapisan inti dalam
  • Lapisan pleksiformis luar
  • Lapisan inti luar
  • Membrane limitans eksterna
  • Lapisan fotoreseptor segmen dalam dan luar batang dan kerucut
  • Epitelium pigmen retina.
Gambar lapisan retina dikutip dari kepustakaan 2
    
Retina mempunyai tebal 0,1 mm pada ora serrata dan 0,23 mm pada katub posterior. Di tengah-tengah retina terdapat macula. Secara klinis macula dapat didefinisikan sebagai daerah pigmentasi kekuungan yang disebabkan oleh pigmen luteal (xantofil), yang berdiameter 1,5mm. Ditengah macula, sekitar 3,5 mm disebelah lateral discus optikus terdapat fovea, yang secara klinis jelas-jelas merupakan suatu cekungan yang memberikan pantulan khusus bila dilihat dengan oftalmoskopi.3
Retina menerima darah dari dua sumber yaitu khoriokapilaria yang berada tepat diluar membrane Brunh, yang mendarahi sepertiga luar retina, termasuk pleksiformis luar dan lapisan inti luar, fotoreseptor dan lapisan epitel pigmen retina; serta cabang-cabang dari arteri sentralis retina, yang mendarahi dua pertiga sebelah dalam.3
IV.             PATOGENESIS
Ruangan potensial antara neuroretina dan epitel pigmennya sesuai dengan rongga vesikel optic embrionik. Kedua jaringan ini melekat longgar pada mata yang matur dapat berpisah.1,2,3
1)      Jika terjadi robekan pada retina, sehingga vitreous yang mengalami likuifikasi dapat memasuki ruangan subretina dan menyebabkan ablasio progresif (ablasio retina regmatogenosa)
2)      Jika retina tertarik oleh serabut jaringan kontraktil pada permukaan retina (misal seperti pada retinopati proliferatif pada diabetes mellitus (ablasio retina traksional)).
3)      Walaupun jarang terjadi, bila cairan berakumulasi dalam ruang subretina akibat proses eksudasi, yang dapat terjadi selama toksemia pada kehamilan (ablasio retina eksudatif).
V.                GAMBARAN KLINIK
Dikenal ada tiga bentuk umum ablasi retina yaitu :
1. Ablasi retina regmatogenosa
Pada ablasi retina regmatogenosa akan memberikan gejala terdapat gangguan penglihatan yang kadang-kadang terlihat seperti tabir yang menutup. Terdapat riwayat adanya pijaran api (fotopsia) pada lapangan penglihatan.Ablasi yang berlokalisasi di daerah supratemporal sangat berbahaya Karena dapat mengagkat macula. Penglihatan akan turun secara akut pada ablasi retina bila dilepasnya mengenai macula lutea. Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat retina yang terangkat berwarana pucat dengan pembuluh darah di atasnya dan terlihat adanya robekan retina berwarna merah. Bila bola mata bergerak akan terlihat retina yang lepas (ablasi) bergoyang. Kadang-kadang terdapat pigmen di dalam badan kaca. Pada pupil terlihat adanya defek aferen pupil akibat penglihatan menurun. Tekanan bola mata rendah dan dapat meningkat bila telah terjadi neovaskularisasi glaucoma pada ablasi yang telah lama.1
2. Abrasi retina traksi atau tarikan
            Pada ablasi ini lepasnya jaringan retina terjadi akibat tarikan jaringan parut pada badan kaca yang akan mengakibatkan ablasi retina dan penglihatan turun tanpa rasa sakit.1
3. Ablasi retina eksudasi
Ablasi retina eksudai, ablasi yang terjadi akibat tertimbunnya eksudasi dibawah retina dan mengangkat retina. Pada ablasi tipe ini penglihatan dapat berkurang dari ringan sampai berat. Ablasi ini dapat hilang atau menetap bertahun-tahun setelah penyebabnya berkurang atau hilang.1
VI.             DIAGNOSIS
Diagnosis Ablasi retina ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan mata meliputi :1,3,5
1)      Visus
2)      Lapangan pandang
3)      Funduskopi
4)      USG
VII.          PENATALAKSANAAN
Pengobatan pada ablasi retina adalah pembedahan dan non pembedahan.  
A. Pada pembedahan terdapat dua teknik bedah utama untuk memperbaiki ablasi retina : 1,2,3,5
1)      Pendekatan konvensional (eksternal). Pada pendekatan eksternal, robekan ditutup dengan menekan sclera menggunakan pita plomb silicon yang diletakkan eksternal. Ini menghilangkan traksi vitreous pada lubang retina dan mendekatkan epitel pigmen retina pada retina. Mungkin sebelumnya diperlukan drainase akumulasi cairan subretina yang sangat banyak dengan membuang lubang kecil pada sclera dan koroid menggunakan jarum (sklerostomi).
2)      Pembedahan Vitreoretina (internal). Pada pendekatan internal, vitreous diangkat dengan pemotong bedah mikro khusus yang dimasukkan ke dalam rongga vitreus melalui pars plana, tindakan ini menghilangkan traksi vitreous pada robekan retina.
B. Pada non pembedahan dilakukan pada jenis ablasio retina eksudasi, dimana terapinya sesuai kausa penyebab ablasio retina.
VIII.       KOMPLIKASI
Komplikasi pembedahan pada ablasi retina akan menimbulkan perubahan fibrotik pada vitreous (vitreoretinopati proliferatif, PVR), PVR dapat menyebabkan traksi pada retina dan ablasi retina lebih lanjut.2,3
IX.             PROGNOSIS
Terapi yang cepat prognosis lebih baik. Perbaikan anatomis kadang tidak sejalan dengan perbaikan fungsi. Jika macula melekat dan pembedahan berhasil melekatkan kembali retina perifer, maka hasil penglihatan sangat baik. Jika macula lepas lebih dari 24 jam sebelum pembedahan, maka tajam penglihatan sebelumnya mungkin tidak dapat pulih sepenuhnya.2,3

DAFTAR PUSTAKA
1.      Ilyas S, dkk. Ablasio retina. Sari Ilmu Penyakit Mata. cetakan ke 3. Gaya Baru Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia:2003 hal 183-7
2.      Vaughan DG, Asbury T, Eva PR. Ablasi retina. Oftalmologi Umum. edisi 14, Alih Bahasa Tambajong J, Pndit UB. Widya Medika Jakarta : 2006 hal.207-9
3.      James Bruce, dkk. Ablasi retina. Oftalmologi. edisi Kesembilan. Erlangga: Ciracas Jakarta:2003 hal 116-120
4.      Newell Frank W. Retinal detachment. Ophthalmology Principles and concepts. Six Edition, The C.V. Mosby Company : ST. Louis.Toronto.Pricenton :1986 page 338-341
5.      Wu Lihteh , MD. Retinal detachment, rhegmatogenous ophthalmology, http://www.emedicine.com.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...