Selasa, 24 Januari 2012

Refarat Alopesia (Alopecia)

PENDAHULUAN

Alopesia androgenik (juga dikenal sebagai androgenetic alopecia, alopecia androtesticleas, male pattern baldness, common baldness) merupakan sebuah bentuk umum kehilangan rambut pada laki-laki dan perempuan. Pola kerontokan rambut pada wanita berbeda dengan pola kebotakan laki-laki. 1,2

Alopesia Androgenik adalah gangguan yang sangat umum yang mempengaruhi baik laki-laki dan perempuan. Insiden ini umumnya dianggap lebih besar pada laki-laki daripada perempuan, meskipun beberapa bukti menunjukkan bahwa perbedaan insiden merupakan cerminan dari ekspresi berbeda pada pria dan wanita. Kebotakan pada laki-laki (alopesia androgenik) dianggap normal pada laki-laki dewasa. Hal ini mudah dikenali oleh distribusi rambut rontok di atas dan depan kepala dan oleh kondisi sehat kulit kepala. 1,3,4

 
EPIDEMIOLOGI
Sindrom alopesia androgenik mempunyai prevalensi yang tinggi akhir-akhir ini. Alopesia androgenik merupakan tipe kebotakan yang paling banyak, sekitar 50-80% dialami laki-laki kaukasia. Pada wanita sekitar 20-40% populasi. Banyak pria usia muda yang mengalami penipisan rambut kronis dan menjadi botak sebelum masanya.5,6

Angka kejadian pada laki-laki sekitar 50% dan pada perempuan biasanya terjadi usia lebih dari 40 tahun. Dilaporkan 13% dari perempuan premenopause menderita alopesia androgenik, namun, insidennya sangat meningkat setelah menopause. Menurut beberapa penulis, 75% dari perempuan yang berumur lebih dari 65 tahun kemungkinan menderita alopesia androgenik. Insiden tertinggi pada orang kulit putih, kedua di Asia dan Afrika-Amerika, dan terendah pada penduduk asli Amerika dan Eskimo. Hampir semua pasien memiliki onset sebelum usia 40 tahun, walaupun banyak pasien (baik laki-laki dan perempuan) menunjukkan bukti gangguan pada usia 30 tahun.1,7

ETIOLOGI

Alopesia androgenik adalah suatu kondisi yang ditentukan secara genetik. Bila pasangan suami istri sama-sama menderita, maka semua anak laki-laki dan setengah jumlah anak wanita akan mengalami hal yang sama. Kebotakan pada laki-laki ditentukan oleh hormon androgen, sedangkan pada wanita, alopesia androgenik diduga dipengaruhi oleh genetik. Tahun 2008, 95 keluarga dipelajari secara genetik, didapatkan lokus dengan bukti kuat untuk hubungan alopesia androgenik adalah 3q26 terpaut pada kromosom –X. Para peneliti telah menentukan bahwa rambut rontok berhubungan dengan hormon androgen. Hormon yang memproduksi androgen disebut dihidrotestosteron (DHT). Androgen sangat penting untuk perkembangan seksual laki-laki sebelum lahir dan selama masa puber. Androgen juga berfungsi mengatur pertumbuhan rambut dan dorongan seksual pada laki-laki dan perempuan. 2,3, 8-11

Banyak pria yang masih muda mengalami penipisan rambut kronis dan botak sebelum waktunya, hal ini disebabkan percepatan konversi hormon. Adapun yang mempengaruhi percepatan proses konversi hormon adalah kebiasaan hidup masyarakat modern seperti fast food, tatanan diet yang kurang seimbang, penggunaan obat-obatan, dll. Penyakit sistemik sering mempengaruhi pertumbuhan rambut baik secara selektif atau dengan mengubah kulit kepala. Salah satu contoh adalah gangguan tiroid. Hipertiroidisme (T4 melebihi ambang normal, 4,3-12,4 ug/dl). menyebabkan rambut menjadi tipis dan halus. Hipotiroidisme  menyebabkan lebatnya rambut dan penebalan kulit.4,8
   
PATOGENESIS

Siklus pertumbuhan rambut yang normal terbagi atas 3 fase, yaitu :2
•    Fase Anagen : sel-sel matriks melalui mitosis membentuk sel-sel baru mendorong sel-sel yang lebih tua ke atas. Aktivitas ini lamanya antara 2-6 tahun.
•    Fase Katagen : masa peralihan yang di dahului oleh penebalan jaringan ikat di sekitar folikel rambut. Bagian tengah akar rambut menyempit dan bagian di bawahnya melebar dan mengalami pertandukan sehingga terbentuk gada (club). Masa peralihan ini berlangsung 2-3 minggu. 
•    Fase Telogen atau masa istirahat dimulai dengan memendeknya sel epitel dan berbentuk tunas kecil yang membuat rambut baru sehingga rambut gada akan terdorong keluar.



Gambar 1.Siklus Pertumbuhan Rambut Normal. Dikutip dari kepustakaan 20

Lama masa anagen adalah berkisar 1000 hari, sedang masa telogen sekitar 100 hari sehingga perbandingan rambut anagen dan telogen berkisar antara 12:1. Jumlah folikel rambut pada kepala manusia sekitar 100.000. Jumlah rambut rontok per hari 100 helai. Hormon androgen dapat mempercepat pertumbuhan dan menebalkan rambut di janggut, ketiak, dan suprapubis tetapi pada kulit kepala, hormon androgen menyebabkan rambut vellus nonpigmented. Namun, perbedaan efek tersebut belum jelas. 2,14  
                                          

Penyebab alopesia androgenik adalah percepatan konversi hormon testosteron menjadi hormon turunannya yaitu Dihydrotestosteron (DHT). Konversi ini terjadi sesaat setelah proses pubertas berakhir atau kisaran usia 20 tahun. Hormon DHT menghasilkan enzim tipe II, 5-a reductase. Folikel yang terpapar oleh DHT menjadi lemah dan tidak mampu menumbuhkan batang rambut (graft sehat). Mekanisme kebotakan disebabkan singkatnya durasi anagen akibat terpapar DHT,  memanjangnya durasi telogen, dan mengecilnya folikel rambut.7,9,12

Gambar 2. Pengaruh DHT terhadap Folikel Rambut. dikutip dari kepustakaan 14
Fase anagen lebih pendek sedangkan fase telogen memanjang, rasio anagen dengan telogen dari 12:1 menjadi 5:1. Akibatnya lebih banyak rambut berada fase telogen, sehingga penderita mengalami peningkatan kerontokan rambut. Daerah ini bervariasi pada individu, namun biasanya ditandai kebotakan pada vertex. Wanita dengan alopesia androgenik umumnya dimulai perluasan dari bagian pusat dan kemudian kehilangan rambut atas mahkota. Hal ini bertahap sehingga akhirnya mengalami kebotakan. Rambut laki-laki secara bertahap mulai menipis di daerah temporal. Sebagian besar evolusi kebotakan berkembang sesuai dengan klasifikasi Norwood/Hamilton bagian depan dan vertex menipis. Rambut wanita biasanya mulai menipis di puncak. Secara umum, perempuan mempertahankan garis rambut bagian depan. Laki-laki dan perempuan dengan kelainan alopesia androgenik, rambut terminal pigmennya lebih tipis, lebih pendek, tak jelas dan akhirnya  menjadi rambut vellus nonpigmented secara bertahap.7,13,14

GAMBARAN KLINIS
Alopesia androgenik timbul pada akhir umur dua puluh atau awal umur tiga puluhan. Rambut rontok secara bertahap dimulai dari bagian verteks dan frontal. Garis rambut anterior menjadi mundur dan dahi menjadi terlihat lebar. Puncak kepala menjadi botak. Beberapa varian bentuk kerontokan rambut dapat terjadi, tetapi yang tersering adalah bagian frontoparietal dan verteks menjadi botak.2

Folikel membentuk rambut yang lebih halus dan berwarna lebih muda sampai akhirnya sama sekali tidak terbentuk rambut terminal. Rambut velus tetap terbentuk menggantikan rambut terminal. Bagian parietal dan oksipital menipis.2,9

Gambar 3. Male Pattern Baldness *
Adapun gejala klinis alopesia androgenik menurut Hamilton: 2
Tipe I         : Rambut masih penuh
Tipe II        : Tampak pengurangan rambut pada kedua bagian temporal; pada       tipe I dan II belum terlihat alopesia
Tipe III     : Border line  
Tipe IV     : Pengurangan rambut daerah frontotemporal, disertai pengurangan    rambut bagian midfrontal
Tipe V        : Tipe IV yang menjadi lebih berat
Tipe VI    : Seluruh kelainan menjadi satu
Tipe VII    : Alopesia luas dibatasi pita rambut jarang
Tipe VIII    : Alopesia frontotemporal menjadi satu dengan bagian vertex
* Dikutip dari Kepustakaan 10

Gambar 4. Female Pattern Baldness (Diffuse). Dikutip dari kepustakaan 10
Pada wanita tidak dijumpai tipe VI sampai dengan VIII, kebotakan pada wanita tampak tipis dan disebut female pattern baldness. Kerontokan terjadi secara difus mulai dari puncak kepala. Rambutnya menjadi tipis dan suram. Sering disertai rasa terbakar dan gatal.2

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Analisis laboratorium dehydroepiandrosterone (DHEA)-sulfate dan testosteron perlu dilakukan, hal tersebut dilakukan untuk mengetahui hubungan kelebihan hormon androgen dengan alopesia androgenik. Dehydroepiandrosterone (DHEA), suatu hormon yang diproduksi glandula adrenal, yang merupakan prekursor dari hormon estrogen dan testosteron. Kadarnya akan terus meningkat hingga puncaknya pada usia 20 tahunan dan kemudian menurun hingga berhenti pada usia 70-80 tahun. Nilai optimum Dehydroepiandrosterone (DHEA) pada pria 400-500ug/dl dan wanita 350-430ug/dl. Kebanyakan pria memproduksi 6-8 mg testosteron (sebuah androgen) per hari, dibandingkan dengan kebanyakan wanita yang memproduksi 0,5 mg setiap hari.3,19,21

Biopsi jarang dibutuhkan untuk membuat diagnosis. Jika satu spesimen biopsi diperoleh, itu umumnya dipotong melintang jika pola alopesia dicurigai.7

Pada pemeriksaan histologis didapatkan pola alopesia, dengan folikel rambut yang mini. Pola alopesia, diameter shaft rambut bervariasi. Sisa saluran berserat (disebut pita) dapat ditemukan di bawah miniatur folikel. Meskipun alopesia androgenik dianggap sebagai bentuk peradangan rambut rontok. Rasio  durasi anagen dan telogen sering diamati.3

Gambar 5.  Histologi Hair Loss (2 terminal & 3 vellus rambut). Dikutip dari kepustakaan 10
DIAGNOSIS
Dalam menegakkan diagnosis alopesia androgenik diperlukan pengalaman observasi kebotakan. Ada 3 hal yang merupakan indikasi kebotakan dini: 4,8   
1.    Terjadi kerontokan gradual yang menyebabkan penipisan di areal widow’s peak (kening, crown, dan vertex)
2.    Rambut-rambut di areal widow’s peak tipis, ringan, tidak hitam pekat, dan mudah lepas
3.    Penipisan semakin parah dan melebar seiring dengan waktu
Bila ketiga hal di atas terjadi dipastikan pria tersebut mengalami alopesia androgenik. Sehingga memerlukan penanganan yang sedini mungkin untuk menyelamatkan folikel-folikel yang lemah agar tidak mati.8
Stadium kebotakan pria distandarisasi dengan menggunakan tabel Norwood Hamilton Scale : 8

Gambar 6. Skala Norwood-Hamilton. Dikutip dari kepustakaan 8
•    Norwood 2-3 V, adalah kondisi kebotakan berada pada stadium awal. Pada stadium ini fase/siklus pertubuhan rambut mulai kacau dan tubuh mempunyai kadar konsentrasi DHT yang mulai meninggi. Pada stadium ini penanganan perlu dilakukan agar kadar DHT di dalam tubuh menjadi nol dan tidak sampai mengganggu folikel. Tingkat keberhasilan pada stadium ini sangat besar sekali, mengingat masih banyaknya papilla-papilla reseptor yang masih hidup dan siap untuk menumbuhkan kembali rambut-rambut baru. Estimasi waktu pertumbuhan rambut secara merata (80% coverage) antara 8-12 bulan.8

•    Norwood 4-4 V, adalah kondisi kebotakan pada stadium tengah (medium) yang progresnya sudah mulai bergerak cepat menuju kebotakan berpola (MPB). Pada stadium ini fase/siklus pertumbuhan rambut sudah kacau dan konsentrasi DHT sudah sangat berlebih. Pada stadium ini pengobatan harus dilakukan secara intensif selama 18-24 bulan. Tingkat keberhasilan pada stadium ini +/- 80%, dengan syarat penggunaan produk farmasi yang tepat guna dan tepat sasaran (bukan trial-error).8
•    Norwood 5-7, disebut sebagai rambut rontok luas, dimana tahap ini telah kehilangan lebih dari 20.000 unit folikel dari daerah frontal dan area mahkota kepala. Kondisi ini terjadi karena adanya konsentrasi DHT yang sangat tinggi dan tidak ada penanganan sama sekali selama lebih dari 15 tahun. Pada kondisi ini sebagian besar papilla reseptor dan folikel sudah dorman dan opsi yang tersisa hanyalah transplantasi rambut.8,15  


DIAGNOSIS BANDING
•    Alopesia Areata : Penyebabnya belum diketahui, namun sering dihubungkan dengan adanya infeksi fokal, kelainan endokrin dan stres emosional. Gejala klinis ditandai adanya bercak dengan kerontokan rambut pada kulit kepala, alis, janggut, dan bulu mata.2,18

Gambar 7. Alopesia Areata. Dikutip dari kepustakaan 10
•    Trikotilomania : Alopesia neurosis, rambut ditarik berulang kali sehingga putus. Sering pada gadis yang mengalami depresi. Kulit kepala normal tanpa peradangan atau parut.2
Gambar 8. Trikotilomania. Dikutip dari kepustakaan 10
•    Tinea Kapitis : Kelainan pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh spesies dermatofita seperti T. rubrum, T. Mentagrophytes, M. gypseum. Gejala ini ditandai dengan lesi bersisik, kemerah-merahan, alopesia, dan kadang-kadang terjadi gambaran klinis yang lebih berat, yang disebut kerion.3,16,18

Gambar 9. Tinea Kapitis. Dikutip dari kepustakaan 10
•    Telogen Efluvium : adanya kerontokan rambut terlalu cepat dan terlalu banyak pada folikel rambut yang normal. Kelainan ini terjadi karena adanya rangsangan yang mempercepat fase anagen  menjadi fase telogen. Keadaan ini terjadi pada pascapartum,pascanatal, stress, pascafebris akut.2,3

Gambar 10. Telogen Efluvium. Dikutip dari kepustakaan 10
TERAPI
•    Rogaine (minoxidil) adalah obat yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi yang bila dioleskan ke kulit menyebabkan pertumbuhan rambut. Minoxidil adalah suatu cairan yang dioleskan pada kulit kepala. Satu mL dari solusi minoxidil harus diterapkan dua kali sehari untuk mencapai dan mempertahankan pertumbuhan. Efek samping minoxidil pada kulit kepala adalah iritasi, kekeringan, scaling, gatal kemerahan,  dan dermatitis alergi.3,5,6,9,10,17
•    Finasteride adalah obat dalam bentuk pil (oral). Mekanisme obat ini adalah menghambat 2 5α-reduktase. Dosis 1 mg/hari dapat mencegah rambut rontok. Finasteride menghambat konversi testosteron menjadi dihidrotestosteron dan menurunkan tingkat dihidrotestosteron dalam serum dan kulit kepala. Tidak diperlukan penyesuaian dosis untuk rentang usia atau hilangnya rambut. Perlu diingatkan penderita yang mengalami gangguan fungsi hati. Obat ini tidak efektif pada pria berusia lebih dari 60 tahun. Kontraindikasi pada wanita. Dosis orang dewasa 1 mg PO qd sedangkan pada anak-anak tidak tersedia. Efek samping penurunan libido.3,4,10,14
•    Anthralin memiliki efek modulasi kekebalan tubuh nonspesifik. Aman dan digunakan pada anak-anak dan orang dewasa.14
•    Pencangkokan rambut dilakukan dengan mengangkat sekumpulan kecil rambut dari daerah dimana rambut masih tumbuh dan menempatkannya di daerah yang mengalami kebotakan. Hal ini bisa terbentuk jaringan parut di daerah donor dengan resiko infeksi rendah.3,9                 



Gambar 11 Penatalaksanaan Alopesia Androgenik. Dikutip dari kepustakaan 10

PROGNOSIS

Prognosis kebotakan (alopesia) tergantung penyebabnya. Namun, prognosis androgenetic alopesia tidak diketahui. Pada umumnya lebih mudah rambut rontok daripada rambut tumbuh.3,4

KOMPLIKASI

Rambut rontok dapat menyebabkan gangguan kosmetik, mempengaruhi secara psikologis (kecemasan) dan jarang monosymptomatic hypochondriasis. Kulit kepala botak mudah terpapar sinar matahari (sinar ultraviolet), dan menimbulkan Multipel Actinic Keratosis.1,3

KESIMPULAN
1.    Alopesia androgenik (juga dikenal sebagai androgenetic alopecia, alopecia androtesticleas, male pattern baldness, common baldness) merupakan sebuah bentuk umum kehilangan rambut pada laki - laki dan perempuan, timbul pada akhir umur dua puluh atau awal umur tiga puluhan.
2.    Alopesia androgenik merupakan tipe kebotakan yang paling banyak, angka kejadian pada laki-laki sekitar 50% dan 13% perempuan premenopause, namun insidennya sangat meningkat setelah menopause.
3.     Alopesia Androgenik disebabkan berbagai faktor herediter yang dominan dan naiknya konsentrasi androgen ekstra gonadal di kulit kepala. Dapat pula disebabkan karena kepekaan jaringan terhadap hormon, sensitivitas ini disebabkan oleh faktor genetik.
4.    Rambut rontok secara bertahap dimulai dari bagian verteks dan frontal. Beberapa varian bentuk kerontokan rambut dapat terjadi, tetapi yang tersering adalah bagian frontoparietal dan verteks menjadi botak.
5.    Analisis laboratorium dehydroepiandrosterone (DHEA)-sulfate dan testosteron, hal tersebut dilakukan untuk mengetahui hubungan kelebihan hormon androgen dengan alopesia androgenik.
6.    Terapi alopesia androgenik yakni dengan memberikan Rogaine (minoxidil), Finasteride, Anthralin dan pencangkokan rambut.
7.    Prognosis alopesia adalah tergantung dari penyebabnya, namun prognosis dari alopesia androgenik tidak diketahui dengan pasti.
8.    Alopesia dapat menyebabkan kecemasan dan jarang monosymptomatic hypochondriasis, selain itu juga menimbulkan Multipel Actinic Keratosis karena adanya paparan sinar matahari langsung.


DAFTAR PUSTAKA
1.    Thomas J. Androgenetic Alopecia-Current Status. Indian J Dermatol [serial online] 2005 [cited 2009 Nov 12]; 50(4):179-190. Available from: URL:http://www.e-ijd.org/text.asp?2005/50/3/179-190/12131
2.    Soepadirman L. Kelainan Rambut. In Djuanda A, Hamzah, Aisyah S, editors. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 5. Jakarta : FKUI; 2007.p. 303-306.
3.    Feinstein Robert P. Androgenetic Alopecia. Associate Clinical Professor, Department of Dermatology, Columbia University College of Physicians and Surgeons [serial online] 2009 [cited 2009 Jan 22]; Available from: URL:http://www.emidicine.medscape.com/article/1070167
4.    Beth Kapes. Alopesia. The Gale Group Inc., Gale, Detroit, Gale Encyclopedia of Medicine. [serial online] 2002 [cited 2009 Nov 21]; 1-2. Available from:   http://healthtools.aarp.org/galecontent/alopecia-1
5.    Kucerova R, Bienova M, Novotny R, et al. Current Therapies Of Female Androgenetic Alopecia And Use Of Fluridil, A Novel Topical Antiandrogen. Jorurnal of Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology 1999; 12: 205–214. The Scripta Medica (BRNO) 2006; 79 (1): 35–48
6.    Beth Kapes. Alopesia. The Gale Group Inc., Gale, Detroit, Gale Encyclopedia of Medicine. [serial online] 2002 [cited 2009 Nov 21]; 1-2. Available from:   http://healthtools.aarp.org/galecontent/alopecia-3
7.    Hajheydari Z, Akbari J, Saeedi M, Shokoohi L. Comparing the therapeutic effects of finasteride gel and tablet in treatment of the androgenetic alopecia. Indian J Dermatol Venereol Leprol [serial online] 2009 [ cited  2009 Nov 14]; 75:47-51. Available from:  http://www.ijdvl.com/text.asp?2009/75/1/47/45220 
8.    Purwana Reinhard. Kebotakan Dini? Bukan Masalah. Medicastore. [serial online] 2009 [cited 2009 Nov 21]; 1-2. Available from:   http://medicastore.com/artikel/256/index.html
9.    Marks J, and Miller J. Principles of Dermatology. 4th ed. Cina: Saunders Elsevier, inc.; 2006.p.265-267.
10.    Wolff K, Katz LGSI, Paller BGA, Leffell DJ. Fitzpatrick’s Dermatolgy In General Medicine. 7th ed. USA : The Mc Graw-Hill Companies, Inc.; 2008.p.761-770.
11.    Aesthetic Plast Surg. 2002 Nov-Dec; 26 (6) :465-9. www.skinsite.com  
12.    Hunter J, Savin J, Dahl M. Clinical Dermatology. 3rd ed. Denmark: Blackwell Publishing, Inc.; 2003.p.162-167, 216.      
13.    Singh G. Androgenic alopecia. Indian J Dermatol Venereol Leprol [serial online] 2002 [cited 2009 Nov 14]; 68 : 40. Available from:  http://www.ijdvl.com/text.asp?2002/68/1/40/12865
14.    Sinclair Rodney. Male Pattern Androgenetic Alopecia. BMJ [serial online] 1998 [dikutip 2008 April 15];317;865-869.Available from: URL:http://bmj.com/cgi/content/full/317/7162/865
15.    Patel JC. Hair loss. Indian J Med Sci [serial online] 2000 [cited 2009 Nov 14];54:106-9.Availablefrom:  http://www.indianjmedsci.org/text.asp?2000/54/3/106/12131
16.    Poswal Arvind. Indian J Dermatol [serial online] 2007 [cited 2009 Nov 14]; 52:104-5. Available from: http://www.e-ijd.org/text.asp?2007/52/2/104/33290
17.    Habif Thomas P. Skin Disease Diagnosis and Treatment. 2nd. Indian: Mosby an Imprint of Elsevier, Inc.; 2007.p.516-518.
18.    Jawetz, Melnick, & Adelberg. Mikrobiologi Kedokteran. 20rd ed. Jakarta : EGC, Inc.;1996.p. 614.
19.    Admin. Hormon. Kesrepro copyright @ 2007 [serial online] 2008 [cited 2009 Nov 29]; Available from: http://www.kesrepro.info/?q=node/387
20.    http://www.hairtransplantsurgery.ie/images/cycle.jpg
21.    Zwageri. 10 Jenis Uji Laboratorium Darah yang Penting Bagi Kesehatan. [serial online] 2007 [cited 2009 Nov 29]; Available from: http://www.bluefame.com/lofiversion/index.php/t25325.html/2007/2/3

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut