Senin, 23 Januari 2012

Refarat Gangguan Bipolar

BIPOLAR I

I.    PENDAHULUAN
Gangguan Bipolar atau manic-depressive illness (MDI) merupakan salah satu gangguan jiwa tersering yang berat dan persisten. Gangguan Bipolar ditandai dengan suatu periode depresi yang dalam dan lama, serta dapat beruabah menjadi suatu periode yang meningkat secara cepat dan/atau dapat menumbulkan amarah yang dikela sebagai mania. Gejala-gejala mania meliputi kurang tidur, nada suara tinggi, peningkatan libido, perilaku yang cenderung kacau tanpa memertimbangkan konsekuensinya, dan gangguan pikiran berat yang mungkin/tidak termasuk psikosis. Diantara kedua periode tersebut, penderita gangguan Bipolar memasuki yang baik dan dapat hidup secara produktif. Gangguan Bipolar merupakan gangguan yang lama dan jangka panjang. Gangguan Bipolar mendasari suatu spectrum dari gangguan mood/suasana perasaan meliputi Bipolar I (BP I), Bipolar II (BP II), Siklotimia (periode manic dan depressif yang bergantian /naik-turun), dan depresi yang hebat.(1)

Gangguan Bipolar dikenal juga dengan gangguan manic depresi yaitu gangguan pada fungsi otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa pada suasana perasaan dan proses berpikir. Disebut Bipolar karena penyakit kejiwaan ini didominasi adanya fluktuasi periodic dua kutub, yakni kondisi manic (bergairah tinggi yang tak terkendali) dan depresi.(2)

Pada gangguan mood Bipolar I, penderita tidak hanya mengalami depresi , tetapi pada suatu saat akan mengalami episode manic, sedangkan pada Bipolar II, tidak ada episode manic, hanya hipomanik (tidak separah manik) dan yang selalu ada adalah episode depresi. Cukup sulit untuk membedakan antara manik dan hipomanik, tetapi dapat dikatakan situasi manik jauh lebih parah dibanding hipomanik.(3)
Penyakit manik depresi biasanya diawali oleh depresi yang meliputi setidaknya 1 episode manik dalam perjalanan penyakitnya. Episode depresi berlangsung selama 3-6 bulan. Pada bentuk penyakit yang paling berat (kelainan Bipolar I), depresi diselingi oleh mania yang berat. Pada bentuk yang tidak terlalu berat (kelainan Bipolar II), episode depresi yang singkat diselingi hipomanik.(4)

II.    INSIDEN DAN EPIDEMIOLOGI

Di dunia, tingkat prevalensi gangguan Bipolar sebagai gangguan yang lama dan menetap sebesar 0,3 – 1,5 %. Di Amerika Serikat tingkat prevalensi ini dapat mencapai 1 – 6 %, dimana dua jenis gangguan Bipolar ini berbeda pada populasi dewasa, yaitu sekitar 0,8 % populasi mengalami BP I dan 0,5 % populasi mengalami BP II. Morbiditas dan mortalitas dari gangguan Bipolar sangat signifikan. Banyaknya angka kehilangan pekerjaan, kerugian yang ditimbulan sebagai akibat dari gangguan tingkat produktivitas yang disebabkan gangguan ini di Amerika Serikat sepanjang periode awal tahun 1990an diperkirakan sebesar US$ 15,5 milyar. Perkiraan lainnnya sekitar 25-50 % individu dengan gangguan Bipolar melakukan percobaan bunuh diri dan 11 % benar-benar tewas karena bunuh diri.(1)

Sedangkan jumlah yang menderita gangguan ini di Indonesia, tidak diketahui dengan pasti. Sekitar 10%, individu dengan gangguan  depresi mayor biasanya akan mengalami episode manik atau hipomanik pada perkembangan penyakitnya. Onset usia yang muda, ditemukannya gejala-gejala psikotik (menyerupai skizofrenia), dan ditemukannya episode depresi berulang merupakan faktor risiko munculnya gangguan Bipolar.

Menurut perkiraan, rata-rata angka morbiditas dari pasien yang tidak diterapi adalah 14 tahun dimana akan muncul kondisi hilangnya produktifitas dan gangguan dalam fungsi hidup sehari-hari. Dijumpai perilaku bunuh diri pada 10 hingga 20 persen pasien. Gangguan ini umumnya muncul pada awal usia 20 tahunan walaupun variasinya luas.(5)

ETIOLOGI
Penyakit ini diyakini sebagai penyakit keturunan, meskipu kelainan genetik pasti masih belum diketahui.(4)


Faktor Resiko
1.    Ras
Tidak ada kelompok ras tertentu yang memilik predileksi kecenreungan terjadinya gangguan ini. Namun, berdasarkan sejarah kejadian yang ada, para klinisi menyatakan bahwa kecenderungan tersering dari gangguan ini terjadi pada populasi Afrika-Amerika.

2.    Jenis kelamin
Angka kejadian dari BP I, asma pada kedua jenis kelamin, namun Rapidcycling Bipolar Disorder (gangguan dengan 4 atau lebih episode dalam setahun) lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Insiden BP II lebih sering pada wanita daripada pria.

3.    Usia
Usia individu yang mengalami gangguan Bipolar ini bervariasi cukup besar. Rentang usia dari keduanya, BP I dan BP II adalah antara anak-anak hingga 50 tahun, dengan perkiraan rata-rata usia 21 tahun. Kasus ini terbanyak pada usia 15-19 tahun dan rentang usia terbanyak kedua adalah pada usia 20-24 tahun. Sebagian penderita yang didiagnosa dengan depresi hebat berulang mungkin saja juga mengalami gangguan Bipolar dan baru berkembang mengalami episode manik yang pertama saat usia mereka lebih dari 50 tahun. Mereka mungkin memiliki riwayat keluarga yang juga menderita gangguan Bipolar. Sebagian besar menderita dengan onset manik pada usia lebih dari 50 6tahun harus dilakukan penelusuran terhadap adanya gangguan neurologis seperti penyakit serebrovaskuler. Gangguan Bipolar juga dipengaruh oleh beberapa faktor meliputi genetik dan lingkungan.

4.    Genetik
Gangguan Bipolar terutama BP I, memiliki komponen genetik utama. Bukti yang mengindikasikan adanya peran dari faktor genetik dari gangguan Bipolar terdapat beberapa bentuk, antara lain:
-    Perlu digaris bawahi keturunan dari orang tua yang menderita gangguan Bipolar memiliki kemungkinan 50 % menderita gangguan psikiatrik lain. Secara genetik, diketahui bahwa pasien dengan gangguan Bipolar tipe I, 80-90% di antaranya memiliki keluarga dengan gangguan depresi atau gangguan Bipolar juga (yang mana 10-20 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang ditemukan pada populasi umum).
-    Penelitian pada orang yang kembar menunjukkan adanya hubungan 33-90 % menderita BP I dari saudara kembar yang identik. Anak kembar yang berasal dari satu telur memiliki kemungkinan lebih besar untuk menderita gangguan yang serupa dibandingkan anak kembar yang berasal dari dua telur, jika anak kembar tersebut dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Rata-rata tingkat kemungkinan pasangan kembar menderita gangguan yang sama berkisar 60-70%.
-    Penelitian pada keluarga adopsi, membuktikan bahwa lingkungan umum bukan satu-satunya faktor yang membuat gangguan Bipolar terjadi dalam keluarga. Anak dengan hubungan bilogis pada orang tua yang menderita BP I atau gangguan depresif hebat memiliki resiko lebih tinggi dari perkembangan gangguan afektif, bahkan meskipun mereka bertempat tinggal dan dibesarkan oleh orangtua yang mengadopsi dan tidak menderita gangguan.(5)

5.    Lingkungan
-    Faktor psikososial yang diketahui sering memicu timbulnya gangguan mood ini, di antaranya tekanan lingkungan sosial, gangguan tidur, atau kejadian traumatis lainnya.
-    Pada beberapa kejadian, suatu siklus hidup mungkin berkaitan langsung dengan stress eksternal dan tekanan eksternal yang dapat memperburuk berulangnya gangguan pada beberapa kasus yang memang sudah memiliki predisposisi genetik atau kimiawi.
-    Kehamilan merupakan stres tertentu bagi wanita dengan riwayat MDI dan meningkatkan kemungkinan psikosis postpartum. Contoh lain, oleh karena sifat pekerjaan, beberapa orang memiliki periode permintaan yang tinggi diikuti periode kebutuhan yang sedikit. Hal ini didapat pada seorang petani, dimana ia akan sangat sibuk pada musim semi, panas, dan gugur, namun selama musim dingin akan relative inaktif kecuali membersihkan salju, sehingga akan nampak manik pda hampir sepanjang tahun dan tenang selama musim dingin. Hal ini menunjukkan lingkungan juga dapat berpengaruh terhadap keadaan psikiatri seseorang.(1,5)

III.    DIAGNOSIS
Gangguan Bipolar memiliki dua “kutub” yaitu manik dan depresi. Dari situ pulalah nama Bipolar berasal. Berdasarkan pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa (PPDGJ) III, gangguan ini bersifat episode berulang yang menunjukkan suasana perasaan pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari peningguan suasana perasaan dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari peninggian suasana perasaan serta peningkatan energy dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain beruap penurunan suasana perasaan serta pengurangan energi dan aktivitas (depresi).yang khas adalah terdapat penyembuah sempurna antar episode. Episode manik biasanya mulai dengan tiba-ttiba dan berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama.

Episode pertama bisa imbul pada setiap usia dari masa kanak kanaksampai tua. Kebanyakan kasus terjadi pada usia dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakin dini seseorang menderita Bipolar, maka resiko penyakit akan lebih berat, kronik bahkan refrakter.

Gangguan bipolar adalah suatu jenis gangguan jiwa yang sulit ditegakan diagnosisnya secara tepat. Ketika pasien datang untuk pertama kalinya, umumnya pasien didiagnosa dengan gangguan lain yang gejalanya bertumpang tindih dengan gangguan bipolar. Sekitar 19% pasien, mendapatkan diagnosis lain ketika datang untuk pertama kalinya. Sekitar sepertiga pasien mengalami kekambuhan gejala dalam rentang waktu sepuluh tahun paska mencari pertolongan untuk pertama kalinya hingga mendapatkan tatalaksana yang tepat. Kemungkinan kekambuhan gejala sangat tinggi sehingga diperlukan pengobatan maintenance yang ditujukan untuk pencegahan kekambuhan gejala.

Pasien biasanya tidak mencari pertolongan ke psikiater atau dokter ketika mengalami episode manik atau hipomanik. Episode manik dan hipomanik sering kali disangkal atau dilupakan oleh pasien. Pada kondisi hipomanik terutama, pasien umumnya mengalami kondisi kepercayaan diri yang meningkat, lebih mudah bergaul dengan orang lain, produktifitas yang meningkat. Hal-hal tersebut akan menyebabkan pasien mengesampingkan gejala-gejala yang lebih berat dan mengganggu dari gangguan ini, seperti emosi yang tidak stabil, argumentatif, insomnia, penilaian situasi yang buruk, dan melakukan perilaku berisiko tanpa memikirkannya dengan baik hingga pasien dapat terlibat dalam perilaku free sex atau munculnya perilaku-perilaku impulsif lainnya.

Pada kondisi depresi sendiri, juga terkadang pasien tidak datang untuk mencari pertolongan karena gejala-gejala yang muncul umumnya berupa keluhan fisik yang serupa dengan sakit fisik yang  sesungguhnya seperti pusing, sesak nafas, rasa sakit di badan, dan sebagainya.(5)
Tabel 1. Pembagian Gangguan Afektif Bipolar Berdasarkan PPDGJ III (F.31)
F31.0 Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik
F31.1 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala psikotik
F31.2 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan geejala psikotik
F31.3 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresi ringan atau sedang
F31.4 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresi berat tanpa gejal psikotik
F31.5 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresi berat dengan gejala psikotik
F31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif campuran
F31.7 Gangguan afektif bipolar, episode kini remisi
F31.8 Gangguan afektif bipolar lainnya
F31.9 Gangguan afektif bipolar yang tak tergolongkan

Berdasarkan diagnosis and statistical manual (DSM) IV, gangguan Bipolar dibedakan menjadi dua yaitu Bipolar I dan II. Bipolar I atau tipe klasik ditandai dengan adanya 2 episode yaitu manik dan depresi, sedangkan gangguan Bipolar II ditandai dengan hipomanik dan depresi. PPDGJ III membaginya dalam klasifikasi yang berbeda yaitu menurut episode kini  yang dialami penderita (tabel 1). (11)

Dari tabel 1, dapat terlihat bahwa episode manik dibagi menjadi 3 menurut derajat keparahannya yaitu hipomanik, manik tnpa gejala psikotik dan manik dengan gejala psikotik. Hipomanik dapat diidentikkan dengan seorang permempuan yang sedang mengalami masa ovulasi (estrus) atau seorang laki-laki yang dimabuk cinta. Perasaan senang, sangat bersemangat untuk berkativitas, doronga seksual yang meningkat adalah beberapa contoh gejala hipomanik. Derajat hipomanik lebih ringan daripada manik dengan gejala-gejala tersebu tidak mengakibatkan disfungsi sosial.

Pada manik, gejala-gejalanya sudah cukup berat hingga emngacaukan hampir seluruh pekerjaan dan aktivitas sosial. Harga diri membumbung tinggi dan terlalu optimis. Perasaan mudah tersinggung dan curiga lebih banyak daripada elasi. Bila gejala tersebut sudah berkembang menjadi waham maka diagnosis mania dengan gejala psikotik perlu ditegakkan.

Bertolak belakang dengan hipomanik/manik, gejala pada depresi menjadi sebaliknya. Suasana hati diliputi perasan depresif, tiada minat dan semangat, aktivitas berkutang, cemas, pesimis, dan timbul perasaan bersalah dan tidak berguna. Episode depresi tersebut harus berlangsungminimal selama 2 minggu baru diagnosisdapat ditegakkan. Bila perasaan depresi sudah menimbulkan keinginan bunuh diri berarti sudah masuk dalam depresi derajat berat.(6)

Gambaran Klinis
Terdapat dua pola dasar pada gangguan mood, satu untuk depresi dan satu untuk mania.
1.    Episode depresif
Suatu mood depesi dan hilangnya minat atau kesenangan merupakan gejala utama dari deprsi. Pasien mengatakan bahwa mereka merasa murung, putus asa, dalam kesedihan, atau tidak berguna. Bagi pasien mood depresi seringkali memiliki kualitas yang terpisah yang membedakannya dari emosi normal dan kesedihan atau dukacita. Pasien sering kali menggambarkan gejala depresi sebagai suatu rasa nyeri emosional yang menderita sekali. Pasien terdepresi kadang-kadang mengeluh tidak dapat menangis, suatu gejala yang hilang saat mereka membaik.

Hampir semua pasien terdepresi (97%) mengeluh adanya penurunan energi yang menyebabkan kesulitan dalam menyelesaikan tugas, sekolah dan pekerjaan, dan penurunan motivasi untuk mengambil proyek baru. Pasien juga mengeluh susah tidur, terbangun pad amalam hari, selama mereka merenungkan masalahnya.(7)
Fase depresi:
-    Perasaan murung atau sedih
-    Mudah menangis
-    Minat dan kegembiraan hilang
-    Kelelahan
-    Nafsu makan terganggu
-    Gangguan tidur (insomnia/hipersomnia)
-    Putus asa
-    Pesimis
-    Sulit konsentrasi
-    Berat badan naik/turun secara bermakna
-    Merasa bersalah
-    Sering berpikir untuk bunuh diri.(9)

2.    Episode manik
Suatu mood yang meningkat, meluap-luap, atau lekas marah merupakan tanda dari episode manik. Selain itu mood pasien mudah tersinggung , khususnya jika rencana pasien yang sangat ambisisus terancam. Sering kali seorang pasien menunjukkan perubahan mood yang utama dari euphoria awal pada sebuah perjalanan penyakit menjadi lekas marah dikemudian waktu.(7)
Fase manik:
-    Rasa haraga diri yang tinggi secara berlebihan. Ia merasa dirinya paling hebat dan dapat melakukan apa saja.
-    Selalu gembira secara berlebihan
-    Gangguan tidur. Pasien biasanaya hanya butuk waktu 3-4 jam untuk tidur tapi tidak merasa kelelahan.
-    Bicara cepat, kata-kata dan idenya banyak secara berlebihan.
-    Perhatian gampang teralih
-    Aktivitasnya berlebihan
-    Nafsu seksual yang meninggi.(7)

Pemeriksaan Tambahan
Dari penelitian pada penderita gangguan bipolar berusia dewasa, diketahui bahwa pada pemeriksaan MRI didapatkan pembesaran ventrikel ke-3. Pemeriksaan PET (Positron Emission Tomographic) menunjukan penurunan aktivitas metabolisme pada bagian otak depan (lobus frontalis). Hingga saat ini dikatakan bahwa abnormalitas yang terjadi pada bagian-bagian otak tersebut akan menyebabkan gangguan dalam pengaturan mood dan fungsi kognitif.(5,6)

IV.    TERAPI
Farmakoterapi
a. Penatalaksanaan Kedaruratan Agitasi Akut Pada Gangguan Bipolar
    Lini I:
-    Injkesi IM Aripiprazol efektif untuk pengobatan agitasi pada pasien dengan episode mania atau campuran akut. Dosis adalah 9,75mg/injeksi. Dosis maksimum adalah 29,25mg/hari (tiga kali injeksi per hari dengan interval dua jam). Berespons dalam 45-60 menit.
-    Injeksi IM Olanzapin efektif untuk agitasi pada pasien dengan episode mania atau campuran akut. Dosis 10mg/ injeksi. Dosis maksimum adalah 30mg/hari. Berespons dalam 15-30 menit. Interval pengulangan injeksi adalah dua jam. Sebanyak 90% pasien menerima hanya satu kali injeksi dalam 24 jam pertama. Injeksi lorazepam 2 mg/injeksi. Dosis maksimum lorazepam 4mg/hari. Dapat diberikan bersamaan dengan injeksi IM Aripiprazol atau Olanzapin. Jangan dicampur dalam satu jarum suntik karena mengganggu stabilitas antipsikotika.
Lini II:
-    Injeksi IM Haloperidol yaitu 5 mg/kali injeksi. Dapat diulang setelah 30 menit. Dosis maksimum adalah 15 mg/hari.
-    Injeksi IM Diazepam yaitu 10 mg/kali injeksi. Dapat diberikan bersamaan dengan injeksi haloperidol IM. Jangan dicampur dalam satu jarum suntik.(8)

b. Penatalaksanaan Gangguan Bipolar
Sudah lebih dari 50 tahun Lithium digunakan sebagai terapi gangguan Bipolar. Keefektifitasananya telah terbukti dalam mengobati 60-80 % psie. “Pamornya” semakin berkibar kaeran dapat menekan ongkos perawtan dan angka kematian akibat bunuh diri.
Tapi bukan tanpa cela. Teradapat segelintir orang yang kurang memberi respon terhadap Lithium di antaranya penderita dengan riwayat cidera kepala, mania derajat berat (dengan gejala psikotik), dan yang disertai dengan komorbid. Bila penggunaannya dientikan tiba-tiba, penderita cepat mengalami relaps. Selain itu indeks terapinya sempit dan perlu monitor ketat kadar Lithium dalam darah. Gangguan ginjal menjadi kontraindikasi pengguanaan lithium karena akan menghambat proses eliminasi sehingga menghasilkan kadar toksik. Disamping itu, pernah juga dilaporkan lithium dapat merusak ginjal bila digunakan dalam jangka lama. Karena itulah,penggunaan Lithium mulai ditinggalkkn.
 Antipsikotik mulai digunakan sebagai anti manik sejak tahun 1950-an. Antipsikotik lebih baik daripada lithium pada penderita Bipolar dengan agitasi psikomotor. Perhatian ekstra harus dilakukan bila hendak merencanakan pemberian antipsikotik jangka panjang terutama generasi pertama (golonga tipikal) sebab dpat menimbulkan beberapa efek samping seperti ekstrapiramidal, sindrom neurotik malingna, dan tardive dyskinesia.
Valproat menjadi pilihan ketika pasien Bipolar tidak member respon terhadap Lithium. Bahkan Valproat mulai menggeser domniasi Lithium sebagai regimen lini pertama. Salah satu kelebihan Valproat adalah memberikan respon yang baik pada kelompok rapid cycler. Penderita Bipolar digolongkan rapid cycler bila dalam 1 tahun mengalami 4 atau lebih episode manik atau depresi. Efek terapeutik tercapai pada kadar optimal dalam darah yaitu 60-90 mg/L. Efek samping dapat timbul ketika kadar melebihi 125 mg/L, diantaranay mual, berat badan meningkat, gangguan fungsi hati, tremor, sedasi, dan rambut rontok. Dosis akselerasi Valproat yang dianjurkan adalah loading dose 30 mg/kg pada 2 hari pertama dilanjutkan dengan 20 mg/kg pada 7 hari selanjutnya.
Pencarian obat alternative terus diupayakan. Salah satunya adalah Lamotrigine. Lamotrigine merupakan antikonvulsan yang digunakan untuk mengobati epilepsy. Beberapa studi acak double-blind telah menyimpulkan, Lamotrigine efektif sebagai terapi akut pada gangguan Bipolar episode kini depresi dan kelompik dapid cycler. Sayangnya Laotrigine kurang baik pada episode manik.
Panduan Obat-Obatan Bipolar berdasarkan British Association of Psychopharmacology (Journal of Psychopharmacology 2003):
•    Lithium
Dosis : dosis tunggal 800 mg, malam hari. Dosis direndahkan pada pasien diatas 65 tahun dan yang mempunyai gangguan ginjal.
•    Valproat (Divalproate Semisoodium)
Dosis : - rawat inap : dosis inisial 20-30 mg/kg/hari.
    -  rawat jalan dosis inisial 500 mg, titrasi 250 mg/hari.
    - dosis maksimum 60 mg/kg/hari.
•    Karbamazepin
Dosis : -    Dosis inisial 400 mg.
-    Dosis maintenance 200-1600 mg/hari
•    Lamotrigine
Dosis : dosis inisial 25 mg/hari pada 2 minggu pertama, lalu 50 mg pada minggu kedua dan ketiga. Dosis juga diturunkan setengahnya bila pasien juga mendapat Valproate.
Gangguan Bipolar harus diobati secara kontinyu, tidak boleh putus. Bila putus, fase normal akan memendek sehingga kekambuhan akan semakin sering. Adanya fase normal pada gangguan Bipolar sering menngakibatkan buruknya compliance untuk berobat karena dikira sudah sembuh. Oleh karena itu edukasi sangat penting agar penderita dapat ditangani lebih dini.(6)

Non Farmakoterapi
1.    Konsultasi
Konsultasi dengan seorang psikiater atau psikoffarmakologi selalu sesuai bila penderita tidak menunjukkan respon terhadap terapi konvensional dan medikasi.
2.    Aktivitas
Pendeita dengan fase depresi harus didukung untuk melakukan olahraga/aktivitas fisik. Jadwal aktivitas fisik yang regular harus dibuat. Baik aktivitas fisik dan jadwal yang regular merupakan kunci untuk bertahan dari penyakit ini.(1,10)

V.    KOMPLIKASI
Komplikasi dari gangguan ini antara lain bunuh diri, pembunuhan dan adiksi.(1)

VI.    PROGNOSIS
-    Penderita dengan BP I lebih buruk daripada depresi berat. Dalam 2 tahun pertama setelah episode awal, 40 – 50% penderita mengalami serangan manik lain.
-    Hanya 50-60% penderita BP I dapat dikontrol dengan Lithium terhadp gejalanya. Pada 7% penderita, gejala tidak kembali/mengalami penyembuhan, 45% penderita mengalami episode berulang, dan 40% mengalami gangguan yang menetap.
-    Sering kali perputaran episode depresif dan manik berhubungan dengan usia.
-    Faktor-faktor yang membuat prognosis menjadi lebih buruk antara lain; riwayat kerja yang buruk; penyalahgunaan alkohol; gambaran psikotik; gambaran depresif diantara episode manik dan depresi; adanya bukti keadaan depresif, jenis kelamin laki-laki.
-    Indikator prognosis yang baik adalah: fase manik(dalam durasi pendek); onset terjadi pada usia yang lanjut; pemikiran untuk bunuh diri yang rendah; gambaran psikotik yang rendah; masalah kesehatan (organik) yang sedikit.(1,10)

VII. KESIMPULAN
    Gangguan bipolar (GB) merupakan gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai oleh gejala-gejala manik, hipomanik, depresi, dan campuran, biasanya  rekuren serta dapat berlangsung seumur hidup.
Episode depresif dari gangguan bipolar memiliki kriteria diagnostik yang sama dengan gangguan depresi mayor episode tunggal. Sedangkan pada gangguan bipolar episode campuran terdapat gejala-gejala manik atau hipomanik dan depresi yang berganti-ganti secara cepat pada suatu periode waktu yang berlangsung sekurangnya satu minggu. Pada tampilan klinis, seorang yang menderita gangguan bipolar episode campuran biasanya mengalami kondisi mood yang sangat tidak stabil. Secara umum, terdapat dua jenis gangguan bipolar, pada gangguan bipolar tipe satu, ditemukan sekurangnya satu episode manik. Sedangkan pada gangguan bipolar tipe dua ditemukan sekurangnya satu episode hipomanik.
Hingga saat ini, tatalaksana untuk gangguan bipolar masih difokuskan dalam pemberian terapi farmakologi. Obat-obat golongan mood stabilizer diberikan (seperti Lithium dan Valproate) baik untuk kondisi akut maupun untuk terapi maintenance yang bertujuan mencegah kekambuhan. Terapi farmakologis biasanya dikombinasi dengan terapi non farmakologis berupa psikoterapi.

DAFTAR PUSTAKA
1.    Marlyn, E.S, Gangguan Afektif Bipolar, available from URL:http://www.atwordpress.com, Last update 2008.
2.    Anonym, Gangguan Mental dan Bunuh Diri, Available from URL:http://www.suaramerdeka.com, Last update January 2009
3.    Maddock L, Pschyatry Clerckship Gude. 2003, Chapter 29 Figure 2, Manley; MRS, United State of America. page:180
4.    Anonym, Penyakit Manik-Depresif (Kelainan Bipolar), Available form URL:http://www.medicastore.com, Last update April 2009
5.    Irma, Fransisca. Mengenal Gangguan Bipolar. Available from URL:http://www.medicalera.com. Last update January 2010
6.    Anonym, Memahami Kepribadian Dua Kutub, Available from URL:http://www.majalah_farmacia.com, Last update Oktober 2009
7.    Kaplan I. H, Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis, Edisi Ketujuh, Wiguna M. S; Jakarta, 1997. Hal:799-806.
8.    Anonyim, Pedoman Tatalaksana GB PDSKJI. 2010
9.    Anonym, Global Missing, Available from URL:http://www.spirit of tiger.com, Last update 2009
10.    Marionate, Gangguan Bipolar: Manik Depresif, Available from URL:http://www.miracle_Health.com, Last update January 2008
11.    American Psychiatric Association. Mood Disorders. Dalam: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th Ed, Text Revision, DSM-IV-TR, Washington DC, 2005: hal. 345-429.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...