Senin, 23 Januari 2012

Ringkasan Leptospirosis

Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh mikroorganisme Leptospirosis interogans tanpa memandang bentuk spesifik serotipenya. Penyakit ini pertama kali di temukan oleh Weil pada tahun 1886 yang membedakan penyakit yang disertai dengan ikterus ini dengan penyakit lain yang juga menyebabkan ikterus. Bentuk yang berat dikenal sebagai Weil’s disease.(1,2) 

    Leptospirosis disebabkan oleh genus leptospira, family treponemataceae, suatu mikroorganisme spirochaeta. Ciri khas organisme ini yakni berbelit, tipis, fleksibel, panjangnya 5-15 µm, dengan spiral yang sangat halus, lebarnya 0,1-0,2 µm. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia. Kasus-kasusnya pernah dilaporkan dari semua benua kecuali antartika, namun terbanyak didapati di daerah tropis. Leptospira bisa terdapat pada binatang piaraan seperti anjing, lembu, babi, kerbau dan lain-lain, maupun binatang liar seperti tikus, musang, tupai, dan sebagainya.
     Manusia terinfeksi leptospirosis melalui kontak dengan air, tanah atau tanaman yang telah dikotori oleh air seni hewan yang menderita leptospirosis. Bakteri masuk kedalam tubuh manusia melalui selaput lendir (mukosa) mata, hidung, kulit yang lecet atau makanan yang terkontaminasi oleh urine hewan terinfeksi leptospira. Masa inkubasi selama 4 – 19 hari, menurut beberapa penelitian, yang tersering menginfeksi manusia ialah L.icterohemoragic dengan reservoir tikus, L.canicola dengan reservoirnya anjing dan L.pomona dengan reservoirnya sapi dan babi. (3,4)

    Leptospira masuk kedalam tubuh melalui kulit atau selaput lendir, memasuki aliran darah dan berkembang, lalu menyebar secara luas kejaringan tubuh. Kemudian terjadi respon imunologi baik secara humoral maupun selular sehingga infeksi ini dapat ditekan dan terbentuk antibodi spesifik. Walaupun demikian beberapa organisme ini masih bertahan pada daerah yang terisolasi secara imunologi seperti didalam ginjal. Tiga mekanisme yang terlibat pada patogenesis leptospirosis diantaranya invasi bakteri langsung, faktor inflamasi non spesifik dan reaksi imunologi. (1)

    Leptospirosis mempunyai dua fase penyakit yang khas yaitu fase leptospiremia dan fase imun. Periode inkubasi biasanya 1 – 2 minggu tapi jaraknya 2-20 hari. Pada fase leptospiremia timbul gejala demam yang mendadak, disertai gejala sakit kepala terutama dibagian frontal, oksipital dan biotemporal. Pada otot akan timbul keluhan mialgia  dan nyeri tekan terutama terutama pada otot gastroknemius, paha dan pinggang yang di ikuti dengan hiperestesia kulit. Pada fase ini juga ditemukan gejala menggigil dan demam tinggi, mual, muntah, dan injectio konjungtiva dan fotofobia. Fase imun berkaitan dengan munculnya antibodi IgM sementara konsentrasi C3 tetap normal. Pada fase ini demam, jarang melebihi 39oC dan berlangsung selama 1-3 hari. Gejala lain yang muncul pada fase imun imun ini adalah iridosiklitis, neuritis optik, mielitis, ensefalitis serata neuropati perifer. (1,2,3,5)
   
Faktor resiko terinfeksi kuman leptospira bila kontak langsung/terpanjang air dan rawa yang terkontaminasi yaitu kegiatan yang memungkinkan kontak dengan lingkungan tercemar kuman leptospira, misalnya saat banjir, pekerjaan sebagai tukang kebun, petani, pekerja rumah potong hewan, pembersih selokan, pekerja tambang, mencuci atau mandi disungai/danau dan kegiatan rekreasi di alam bebas serta petugas laboratorium. (4)

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...