Selasa, 14 Februari 2012

Memandangi Punggung

Seandainya kita bertemu lebih awal, Apakah mungkin kita masih bisa seperti ini?
Tertawa dan membicarakan semuanya secara lepas. Tanpa perlu mengkhawatirkan semua candaan dan kata yang telah terlepas di udara akan jatuh menimpa kaki dan hati kita hingga menimbulkan sakit yang tak mungkin bisa disembuhkan dengan paracetamol maupun aspirin.

Dewi Lestari pernah menulis kisah dalam novel Rectoverso-nya tentang seorang wanita, tapi anggap saja dia sebagai pria atau apalah jenis kelamin yang Anda sukai dalam hidup ini, yang lebih memilih memandangi punggung dari kejauhan dibanding ikut duduk satu meja bersama Si Pemilik punggung. Saya merasa, mungkin sebaiknya kita tetap seperti orang itu. Menikmati keindahan hanya dari kejauhan. Karena apa yang terlihat indah dari kejauhan tidak selalu indah saat didekati. Mungkin saja, saat kita mendekat, akan kau temukan banyak cela dalam diriku yang tak pernah lagi membuat dunia yang sama tentang kebersamaan kita.

Selalu mudah bagiku untuk memulai pembicaraan denganmu selama kita jauh seperti ini.

*novel yang tidak pernah jadi

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut