Rabu, 29 Februari 2012

Refarat Penyulit intubasi trakeal yang telah diperkirakan: sebuah perbandingan prospektif dari laringoskopi direk dan laringoskopi video pada 200 pasien


Penyulit intubasi trakeal yang telah diperkirakan: sebuah perbandingan prospektif dari laringoskopi direk dan laringoskopi video pada 200 pasien
A. Jungbauer, M. Schumann, V. Brunkhorst, A. Borgers and H. Groeben*
Department of Anaesthesiology, Critical Care M edicine and Pain Therapy, Clinics Essen-Mitte, Henricistr.
*Penulis korespondensi. E-mail: h.groeben@kliniken- essen-mitte.de
 Latarbelakang. Laringoskopi video Berci-Kaplan telah dikembangkan untuk memperbaiki visualisasi glottis dan mempermudah intubasi trakeal. Namun hingga saat ini masih belum jelas, apakah teknik ini juga efektif dalam mengatasi penyulit intubasi yang telah diperkirakan. Kami mengevaluasi secra prospektif kondisi dan tingkat keberhasilan intubasi trakea pada pasien yang memiliki skor Mallampati III atau IV.
Metode. 200 pasien yang akan menjalani anestesi umum, dipilih secara acak untuk menjalani laringoskopi direk (n=100) atau laringoskopi video (n=100). Kemudian kami mengevaluasi visualisasi pada pita suara, tingkat keberhasilan, waktu intubasi, dan kebutuhan untuk melakukan manuver tambahan (manipulasi laringeal, memposisikan kepala, dan Eschmann stylet).
Hasil. Laringoskopi video menghasilkan visualisasi glottis yang lebih baik berdasarkan kriteria Cormack dan Lehane (P<0,001), tingkat kesuksesan yang lebih tinggi (n=92 vs 99, P=0,017), waktu intubasi yang lebih singkat [60 detik (77) vs 40 detik  (31), P=0,0173). Selain itu, angka manuver optimisasi mengalami penurunan yang signifikan [1,2 (1,3) vs 0,5 (0,7), P<0,001]
Kesimpulan. Ketika dibandingkan dengan laringoskopi direk dalam prosedur intubasi yang disertai penyulit, video laringoskopi memberikan visualiasi yang lebih baik, tingkat kesuksesan yang lebih tinggu, intubasi yang lebih cepat dan tidak membutuhkan banyak tindakan optimisasi. Oleh karena itu, kami merasa bahwa laringoskopi video dapat direkomendasikan untuk manajemen jalan napas yang sulit.
Br J Anaesth 2009; 102:546-50
Kata kunci: jalan napas, teknik anestetik, laringoskopi; perlengkapan, jalan napas
Diterima untuk publikasi: 11 Januari 2009

Mengamankan jalan napas dengan memasang sebuah tabung pengaman pada trakea hingga saat ini masih menjadi salah satu keterampilan paling penting di bidang anestesi. Namun, pemasangan tuba trakeal dapat menjadi suatu hal sulit atau bahkan tidak dapat dilakukan sama sekali.1-6 Penyulit dalam intubasi trakea masih menjadi kontributor morbiditas dan mortalitas dalam bidang anestesi.7-10

Untuk meminimalisasi resiko yang diakibatkan oleh penyulit intubasi, kebanyakan komunitas anestesi nasional telah mengembangkan suatu panduan untuk manajemen mengatasi penyulit intubasi yang sudah diperkirakan maupun tidak diperkirakan.11-13 Pada saat yang sama, “teknik blind” via jalan napas laringeal dan teknik yang dibantu video sudah dikembangkan untuk mempermudah mengatasi penyulit intubasi.14-19 Selain itu, teknik yang dibantu video dapat memberikan kesempatan yang lebih luas dalam membantu proses belajar manajemen jalan napas.20 Secara umum, teknik ini memiliki sejumlah keuntungan seperti kita tidak butuh waktu lama untuk mensejajarkan aksis optis dalam faring dan mulut agar dapat memvisualisasikan pintu laring.4

Pada tahun 2003, Kaplan dan Berci17 memperkenalkan laringoskopi video Storz dalam praktek klinis. Laringoskopi video Storz dibuat seperti sebuah laringoskopi Macintosh standar yang terintegrasi dengan sebuah kamera video. Kamera memproyeksikan gambar pada suatu layar portabel. Di samping itu dapat memperluas lapangan pandang ahli anestesi, sistem ini juga dapat mendukung para staf dalam mengoptimalisasi bantuan yang dapat mereka berikan (manipulasi eksternal pada laring). Sistem ini telah menunjukkan hasil yang efektif dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada banyak pasien yang diintubasi secara normal.21 Namun hingga saat ini masih belum jelas apakah laringoskopi video Storz dapat memperbaiki kondisi intubasi dan meningkatkan kesuksesan pada intubasi yang memilki penyulit.
           
Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan visualisasi pada glottis, lamanya durasi intubasi trakea, tingkat kesuksesan intubasi dan kebutuhan melakukan manuver untuk mengoptimalkan pandangan antara laringoskopi direk dan laringoskopi video pada pasien yang memiliki penyulit intubasi yang telah diperkirakan.

Metode 
Setelah mendapat persetujuan dari komite etik, 200 pasien yang akan menjalani pembedahan di bawah pengaruh anestesi umum, diberikan informed consent tertulis mengenai tindakan intubasi trakea yang akan dilakukan pada mereka.

Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pasien-pasien yang berusia lebih dari 18 tahun, dan memiliki skor Mallampati III atau IV, atau memiliki riwayat intubasi yang sulit dan pembukaan mulut yang kurang dari 2 cm.16 Pasien yang berada pada ASA IV atau lebih tinggi dan pasien yang akan menjalani rangkaian induksi yang cepat dieksklusi dari penelitian ini.

Skor Mallampati yang telah dimodifikasi dinilai ketika pasien berada pada posisi duduk, mulut terbuka penuh dan lidah dijulurkan keluar.22,23 Pasien diminta untuk bersuara. Sebelum induksi anestesi, evaluasi dikonfirmasikan pada salah satu dari dua orang ahli anestesi yang akan melakukan intubasi. Apabila ahli anestesi tidak dapat mengkonfirmasi skor atau menemukan bahwa skor Mallampati kurang dari III, maka pasien tersebut diekslusi dari penelitian (n=5). Tiga pasien dengan skor Mallampati kurang dari III tetap dimasukkan karena memiliki riwayat sulit diintubasi.
Visualisasi pada pintu laringeal dinilai berdasarkan klasifikasi Cormack dan Lehane: I, pita suara dapat terlihat; II, kurang dari separuh glottis atau hanya komisura posterior  yang terlihat; III, hanya epiglotis yang terlihat; dan IV, tidak ada sama sekali yang bisa dilihat.24

Semua tindakan intubasi dilakukan oleh dua orang ahli anestesi yang sudah berpengalaman selama 13 dan 17 tahun pengalaman dalam anestesi klinis dan sekurang-kurangnya 3 tahun pengalaman dalam intubasi yang sulit.

Laringoskopi video (Karl Storz Endoskpoe, Tuttlingen, Jerman) diperkenalkan ke praktek klinis oleh Kaplan dan Berci.17 Laringoskopi dibuat seperti laringoskopi Macintosh standar yang dilengkapi dengan serat optik pada ujung blade. Dengan bentuk laringoskopi video seperti ini, maka kita bisa melihat secara dengan lapangan pandang seperti yang biasa kita lihat dari blade Macintosh normal, dan kita juga bisa melihat hal-hal yang ditampilkan oleh kamera yang berada di ujung blade. Kamera memproyeksikan gambar secara real time pada sistem video portabel yang dapat direkam. Untuk penelitian, digunakan blade Macintosh nomor tiga dan empat. Ukuran blade dan tuba trakea (7.0-8.0 mm ID) yang digunakan tergantung pilihan ahli anestesi yang melakukan intubasi.

Setelah memahami dan menyetujui tindakan, maka penentuan pasien yang akan diintubasi trakea via laringoskopi direk atau laringoskopi video dipilih secara acak oleh program komputer. Sebelum induksi anestesi, ahli anestesi yang akan melakukan intubasi trakea mengkonfirmasi skor Mallampati dan memulai preoksigenasi.

Pasien diletakkan pada posisi supine dan kepalanya tertopang setinggi 7 cm. Pemilihan anestesi umum yang akan diinduksikan tergantung pada pilihan ahli anestesi (Tabel 1). Ahli anestesi yang menghadiri operasi, yang menentukan kapan memulai intubasi dan menghitung lamanya prose intubasi.

Tabel 1 Data antropometrik dan dosis medikasi untuk induksi anestesia pada 200 pasien [rata-rata (SD) atau rata-rata (kisaran)] yang dipilih secara acak untuk laringoskopi direk (n=100) atau laringoskopi video (n=100) yang memiliki penyulit intubasi yang telah diperkirakan

Laringoskopi Direk
Laringoskopi Video
Nilai P
Tinggi (cm)
172 ( 9)
172 (10)
0.8351
Berat badan (kg)
78.7 (19.4)
83.2 (20.8)
0.1073
Usia (tahun)
54.2 (18 – 94)
56.8 (18 – 88)
0.2411
Skor Mallampati (I/II/III/IV)
0/2/87/11
0/1/76 /23
0.0703
Jarak thyromental
6.8 (1.5)
7.0 (1.4)
0.4653
Jarak sternomental
14.3 (2.0)
14.1 (2.4)
0.5155
Gap antara gigi seri
3.7 (0.9)
3.7 (0.9)
0.9880
Propofol (μg kg-1)
2.4 (0.6)
2.4 (0.5)
0.6639
Remifentanil (μg kg-1)
0.87 (0.16)
0.81 (0.21)
0.0186
Succinylcholine (mg)
87 (21)
91 (23)
0.1535


Lamanya waktu intubasi dihitung mulai dari pasien membuka mulut hingga balon pengaman tuba mengembang. Ahli anestesi yang menghadiri operasi yang mencatat visibilitas laringoskopi berdasarkan kriteri Cormack dan Lehane.24 Semua visibilitas dan jumlah manuver untuk mengoptimalkan pandangan dicatat. Pada intubasi laringoskopi video, kedua jenis lapangan pandang (lapangan pandang langsung dengan blade dan lapangan pandang pada layar portabel) direkam.

Manuver yang digunakan untuk mengoptimalkan lapangan pandang adalah manipulasi eksternal laring (manuver BURP), menggunakan busi karet elastik (Eschmann stylet), dan merubah posisi kepala. Zero optimizing manoeuvres berarti bahwa pasien diintubasi dalam posisi netral tanpa manipulasi apapun. Pada kasus di mana ahli anestesi tidak dapat melakukan intubasi pada pasien meskipun sudah melakukan semua manuver, maka percobaan intubasi dianggap gagal.

Selama intubasi trakeal, monitor standar, seperti pengukur  tekanan arteri non-invasif, denyut jantung, dan saturasi oksigen arterial (oximeter denyut), dipasang dan hasilnya dicatat sebelum induksi anestesi dan pada akhir intubasi.

Data ditampilkan dalam bentuk rata-rata (SD). Hipotesis nol berikut ini diuji: pertama, waktu yang dibutuhkan untuk intubasi trakeal menggunakan laringoskopi video secara signifikan lebih lama dari laringoskopi direk. Kedua, tidak ada perbedaan lapangan pandang laring menurut kriteria Cormack dan Lehane pada kedua teknik tersebut. Ketiga, jumlah manuver yang digunakan pada kedua teknik tersebut tidak jauh berbeda. Keempat, angka kesuksesan pada kedua teknik untuk intubasi trakea, tidak berbeda jauh. Hipotesis diuji dengan tes χ2 (berdasarkan klasifikasi Cormack dan Lehane, jumlah manuver, dan tingkat kesuksesan) dan tes-t Student (lamanya intubasi). Perbedaan yang dianggap bermakna jika P<0,05. Koreksi Bonferroni untuk tes berganda diaplikasikan untuk menguji signifikansi, ketika tes berganda untuk satu parameter (lamanya intubasi trakea) dilaksanakan.

Ukuran sampel dibuat berdasarkan pada suatu α-error dari 0,05 dan β-error dari 0,2 dengan perbedaan waktu minimal untuk intubasi 20 detik dan standar deviasi 45 detik. Hasil dari jumlah minimal per kelompok adalah 79 dan dibulatkan menjadi 100 untuk setiap kelompok.

Hasil
Pasien yang direkrut berasal dari departemen pembedahan mulut dan maksilo-fasial (n=126), bedah umum (n=50) dan urologi (n=24). Pasien didistribusikan sama banyak pada dua kelompok. Data antropometrik pasien terlihat pada tabel 1.

Laringoskopi video memberikan hasil lapangan pandang yang lebih signifikan terhadap struktur laring bila dibandingkan dengan laringoskopi standar (P<0,0001). Lapangan pandang yang dihasilkan oleh laringoskopi direk dengan blade Macintosh menunjukkan distribusi tingkat klasifikasi dari I hingga IV sebagai berikut: 23/41/26/10, sedangkan laringoskopi video menunjukkan distribusi: 45/45/10/0 (Gambar 1). Di samping itu, laringoskopi video juga dapat menunjukkan lapangan pandang yang sama dengan blade Macintosh biasa. Pada lapangan pandang langsung, laringoskopi video memberikan distribusi: 19?35/32/14. Lapangan pandang langsung ini secara statistik tidak berbeda dengan kontrol (P=0,54. Gambar 2).
Gambar 1 Jumlah pasien berdasarkan klasifikasi Cormack dan Lehane. Laringoskopi dengan menggunakan laringoskop video dapat memberikan lapangan pandang yang glottis yang lebih baik dari laringoskopi direk yang menggunakan blade Macintosh
Gambar 2 Jumlah pasien berdasarkan klasifikasi Cormack dan Lehane. Lapangan pandang langsung dengan menggunakan larngoskop video melalui mulut (DV) tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan bila dibandingkan dengan laringoskopi direk yang menggunakan laringoskop Macintosh (D; P=0,54). Lapangan pandang langsung yang dihasilkan oleh laringoskop Berci-Kaplan ekuivalen dengan laringoskop Macintosh sehingga ini dapat menjadi alasan untuk melakukan subanalisis pada pasien yang memiliki klasifikasi jalan napas menurut Cormack dan Lehane yang berada pada grade III dan IV

Waktu yang dibutuhkan untuk intubasi trakea (mulai dari membuka mulut hingga balon pengaman dikembangkan) secara signifikan menunjukkan bahwa laringoskopi video membutuhkan waktu lebih singkat jika dibandingkan dengan laringoskopi yang menggunakan blade Macintosh standar [40 (31) detik untuk laringoskopi video versus 60 (77) detik untuk laringoskopi direk; P=0,017. Gambar 3].
Gambar 3 Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan intubasi berdasarkan klasifikasi Cormack dan Lehane. Pada sebelah kiri, subanalisis dilakukan pada pasien yang berada pada I dan II menurut klasifikasi jalan napas menurut Cormack dan Lehane (n=118), pada bagian tengah subanalisis dilakukan pada semua pasien (n=200), pada bagian kanan, subanalisis dilakukan pada pada pasien yang berada pada III dan IV menurut klasifikasi jalan napas menurut Cormack dan Lehane (n=88), yang dinilai dari lapangan pandang langsung pada kedua teknik. Perbedaan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan intubasi trakeal pada laringoskopi video dan laringoskopi direk mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya klasifikasi Cormack dan Lehane
Secara umum, dari 200 percobaan intubasi trakeal yang dilakukan berasal dari 100 percobaan untuk masing-masing teknik. Laringoskopi video dapat menghasilkan 99 percobaan intubasi yang sukses, sedangkan laringoskopi direk menghasilkan 92 percobaan intubasi yang sukses (P=0,017). Hasil ini dicapai dari 61 vs 41 kasus (laringoskopi video vs laringoskopi direk) dari posisi netral tanpa manipulasi, dalam 31 vs 20 kasus membutuhkan manipulasi laring eksternal, dalam 7 vs 16 kasus membutuhkan busi karet elastis, dan akhirnya perubahan posisi kepala terdapat dalam 1 vs 23 kasus (P<0,001. Gambar 4).
Gambar 4 Jumlah manuver optimalisasi (manipulasi eksternal pada laring, busi karet elastik, dan perubahan posisi kepala) untuk menghasilkan lapangan pandang terbaik pada struktur glottis. Terdapat perbedaan yang signifikan dalam kebutuhan terhadap manuver pendukung, di mana laringoskop video lebih sedikit membutuhkannya.

Dosis remifentanil secara signifikan lebih rendah pada pasien yang mendapat perlakuan intubasi via laringoskopi video (Tabel 1). Tidak ada perbedaan pada tekanan arterial, denytu jantung, dan saturasi oksigen di antara kedua kelompok pasien. Secara umum, tekanan arteri sistolik dan denyut jantung mengalami penurunan yang signifikan (P<0,001), sedangkan saturasi oksigen secara signifikan meningkat (P<0,001).

Karena lapangan pandang langsung dari laringoskopi video tidak berbeda dari balde Macintosh standar, maka dilakukan suatu subanalisis pada pasien yang jalan napasnya diklasifikasikan menurut kriteria Cormack dan Lehane sebagai grade III dan IV. Terdapat 46 lapangan pandang yang skornya III dan IV pada kelompok laringoskopi video dan 36 kasus seperti itu pada laringoskopi direk.

Pada pasien-pasien yang kriteria Cormack dan Lehane-nya berada pada grade I dan II, tidak ada perbedaan waktu yang signifikan dalam durasi pemasangan intubasi pada kedua kelompok. Namun pada pasien-pasien yang berada pada grade III dan IV terdapat perbedaan yang signifikan dalam durasi intubasi [53 (38) detik untuk laringoskopi video dan 105 (112) detik untuk laringoskopi direk, P<0,01; Gambar 3). Kebutuhan untuk melakukan manuver adalah 0,8 (0,8) untuk laringoskopi video dan 2,2 (1,1) untuk laringoskopi direk (P<0,001). Dan yang terakhir, tingkat kesuksesan intubasi adalah 45 dari 46 percobaan untuk laringoskopi video dan 28 dari 36 percobaan untuk laringoskopi direk (P<0,01).

Diskusi
Pada pasien yang kesulitan intubasinya sudah dapat diperkirakan, laringoskopi video menghasilkan lapangan pandang yang lebih baik dalam memvisualisasikan struktr laringeal, mempercepat intubasi dengan tingkat kesuksesan yang tinggi dan lebih sedikit membutuhkan manuver optimalisasi.

Hasil ini mungkin saja dapat dipengaruhi oleh pemilihan pasien dan perbedaan tingkat kedalaman anestesi yang merupakan salah satu determinan penting untuk kondisi intubasi.2-4, 25 Oleh karena itu kami menganalisa data antropometrik pasien (Tabel 1) dan medikasi yang digunakan untuk menginduksi pasien.

Mengenai induksi anestesi umum, kami menemukan penurunan bolus induksi remifentanil yang signifikan, yang mana 0,06 μg lebih rendah pada kelompok laringoskopi video (Tabel 1). Namun, penurunan tekanan arteri dan denyut jantung pada kedua kelompok pasien, menunjukkan tidak terdapat perbedaan klinis yang signifikan pada tingkat kedalaman anestesia. Selain itu, apabila perbedaan ini mempengaruhi hasil penelitian kami, maka hal tersebut hanya akan mempengaruhi laringoskopi direk. Secara umum, kondisi intubasi trakeal tidak mempengaruhi hasil penelitian kami.

Kami memilih klasifikasi Mallampati yang dimodifikasi untuk memprediksi penyulit dalam intubasi. Intubasi yang sulit merupakan suatu intubasi yang menghasilkan lapangan pandang grade III atau IV menurut klasifikasi Cormack dan Lehane. Klasifikasi Mallampati sudah pernah dikritik berkali-kali karena tingginya angka positif palsu dan rendahnya angka prediksinya.25-27 Pada tahun 2005, Ebenhart dan kawan-kawan27 menemukan tingkat prediksi positif untuk skor Mallampati hanya mencapai 19,5% untuk intubasi sulit sejati pada semua pasien dengan grade Mallampati III dan IV. Sedangkan tingkat prediksi positif pada klasifikasi kami mencapai 36% untuk semua pasien laringoskopi direk yang dipilih secara acak. Ada tiga alasan mengapa tingkat prediksi klasifikasi yang kami gunakan lebih tinggi. Pertama, Lewis dan kawan-kawan25 telah mendemonstrasikan cara untuk melakukan tes Mallampati yang memiliki pengaruh yang signifikan dalam memprediksi kesulitan intubasi. Kedua, hasil tes Mallampati sangat diperngaruhi oleh variabilitas pemeriksanya. Oleh karena itu, kami memutuskan agar skor Mallampati harus dikonfirmasi oleh pemeriksa kedua.4 Konsekuensinya, lima pasien dengan skor Mallampati positif palsu diekslusi dari sampel. Ketiga, klasifikasi skor Mallampati ditentukan oleh jaringan lunak, yang pada banyak kasus, jaringan lunak tersebut dapat terdorong oleh laringoskop sehingga dapat menghasilkan lapangan pandang yang nilainya kurang dari grade III klasifikasi Cormack dan Lehane. Pada penelitian kami, lebih dari 60% semua pasien dan lebih dari 70% pasien yang klasifikasi lapangan pandannya berada pada grade III dab IV, merupakan pasien yang akan menjalani pembedahan oral dan maksilofasial. Pasien-pasien yang akan menjalani pembedahan ini, terdiri dari pasien tumor, infeksi dan yang memiliki variasi anatomi pada mulut, faring, atau keduanya. Pada kebanyakan pasien, lidah mereka tidak se-mobile lidah orang normal dan jaringannya memberikan resistensi yang lebih besar serta tidak dapat didorong. Oleh karena itu, klasifikasi Mallampati pada penelitian kami, memiliki angka prediksi yang tinggi. Ayuso dan kawan-kawan6 pernah mempublikasikan hasil yang sama pada intubasi pasien yang akan menjalani pembedahan tumor.

Meskipun kami telah berupaya untuk menghilangkan semua bias pada proses pemilihan pasien dan standarisasi teknik anestesi dan teknik intubasi, kami tetap tidak dapat mengeksklusi bias yang tidak diharapkan dari desain penelitian kami yang unblinded (tidak buta). Itulah keterbatasan dari penelitian kami.

Berdasarkan manajemen, intubasi trakea pada pasien yang jalan napasnya sulit, dapat mengakibatkan trauma jalan napas atau bahkan mengancam jiwa.10,11 Oleh karena itu, pada satu sisi petunjuk manajemen mengatasi jalan napas yang sulit sudah dibuat dan, pada sisi yang lain, alat bantu video sudah dikembangkan untuk mempermudah intubasi trakea.12-22 Alasan dibalik pengembangan alat-alat ini adalah agar dapat meniadakan kebutuhan menyejajarkan aksis optik untuk memperoleh lapangan pandang langsung pada glottis.4

Pada percobaan yang dilakukan pada 867 pasien, Kaplan dan Berci menemukan suatu hasil yang signifikan lebih baik untuk prosedur intubasi trakea dengan menggunakan laringoskop video Storz bila dibandingkan dengan laringoskop direk yang biasa.17 Secara umum, mereka menemukan bahwa laringoskop video dapat digunakan secara aman dan teknik ini memberikan hasil yang lebih baik untuk prosedur intubasi.21 Namun, desain penelitian mereka tidak memasukan pasien kelompok kontrol, yang dipilih secara acak untuk diintubasi dengan menggunakan laringoskop Macintosh standar, dan penelitian mereka tidak menjelaskan apakah penemuan mereka dapat berguna secara klinis.

Meskipun ongkos dan kebutuhan logistik untuk sistem seperti ini cukup tinggi, namun hal tersebut dapat dibenarkan karena tenik baru ini dapat mengintubasi pasien pasien yang tidak bisa diintubasi dengan teknik standar atau diintubasi dengan waktu dan usaha yang lebih. Oleh karena itu, kami melakukan penelitian ini dan menemukan lagi bahwa apabila dibandingkan dengan kelompok kontrol laringoskop standar, laringoskop video dapat memberikan lapangan pandang yang lebih baik dan tingkat kesuksesan intubasi yang lebih tinggi pada pasien yang memiliki penyulit jalan napas yang telah diperkirakan. Selain itu, intubasi dengan laringoskop video membutuhkan waktu yang lebih singkat dan lebih sedikit manuver. Hasil ini lebih jelas apabila kita menganalisis data pasien yang memiliki jalan napas “grade III dan IV” menurut klasifikasi Cormack dan Lehane.

Sebagai tambahan, Low dan kawan-kawan menggunakan laringoskop Berci-Kaplan untuk menghasilkan lapangan pandang langsung melalui mulut dan mengekstensikan lapangan pandang itu pada monitor yang dapat digunakan untuk mengajari siswa yang pengalamannya masih sedikit dalam hal intubasi trakeal. Siswa yang melakukan prosedur intubasi dengan menggunakan blade Macintosh standar, dapat dintuntun oleh pengajar melalui gambar di monitor.20

Sebagai kesimpulan, penggunaan laringoskop video dapat mempermudah intubasi trakea pada pasien yang memiliki penyulit intubasi yang telah diperkirakan. Lapangan pandang laringeal mengalami peningkatan yang signifikan, yang disertai penurunan jumlah manuver optimalisasi dan mempersingkat durasi intubasi. Secara umum, laringoskop video dapat meningkatkan angka kesuksesan intubasi trakea.

Pendanaan
Semua pendanaan berasal dari sumber daya departemen anestesi.   

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...