Sabtu, 04 Februari 2012

Refarat Reseptor Katekolamin-Gabungan


Reseptor Katekolamin-Gabungan

Efek fisiologis dari simpatomimetik biasanya didefinisikan sebagai penjumlahan aljabar dari aksi-aski relatifnya terhadap reseptor alfa, beta, dan DA.73 kebanyakan obat adrenergik dapat mengaktifkan atau memblok reseptor-reseptor ini dengan tingkatan yang berbeda-beda. Setiap katekolamin memiliki efek yang berbeda, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, terhadap pembuluh darah miokardium dan perifer. Tabel 12-15 menggambarkan potensi relatif amine adrenergik pada reseptor miokardium dan pembuluh darah. Potensi relatif ini bergantung pada dosis dan sejumlah variabel lainnya. Penggunaan tanda tambah (+) atau nol (0) merupakan metode klasik yang relatif sensitif terhadap penggabungan reseptor katekolamin. Penggunaan (+)merupakan simbol penambahan efek katekolamin pada suatu reseptor. Efek penambahan akan berimplikasi pada penambahan jumlah lokasi reseptor adrenergik yang dapat ditempati agonis adrenergik.

Selama bertahun-tahun, penelitian pada katekolamin memfokuskan diri ada upaya mengetahui aksi katekolamin pada miokardium dan resistensi pembuluh darah arteriola. Perubahan pada resistensi venosa dapat memberikan sedikit kontribusi terhadap total resistensi vaskuler dan tekanan darah. Namun, perubahan kecil pada kapasitansi venosa dapat mengakibatkan perubahan besar terhadap aliarn balik vena karena sekitar 60 hingga 70% volume sirkulasi berasal dari sirkulasi vena.50 Efek simpatomimetik pada sirkulasi vena terlihat lebih terdistribusi pada konstriksi vena akut yang akan meningkatkan volume darah sentral (preload), sedangkan dilatasi akan menurunkan aliran balik vena dengan cara meningkatkan pengumpulan darah di perifer.10 Definisi tambahan harus mampu menguraikan beberapa data kompleks dan membingungkan yang dikembangkan dari literatur karena observasi klinis terhadap efek tunggal adrenergik terhadap pembuluh darah miokardium dan arteriolar masih sangat terbatas.

Infus EPI intravena dan intra-arterial pada manusia menunjukkan adanya efek konstriksi pada pembuluh darah. Vasokonstriksi arteriolar dapat menjadi pemicu venokosntriksi; konstriksi pada vena. SV tidak mengalami peningkatan hingga terjadi venokonstriksi. Peningkatan awal pada CO yang diakibatkan oleh pemberian infus EPI terjadi karena peningkatan preload bukannya efek arteriolar atau efek jantung secara langsung. NE menghasilkan efek yang serupa, namun onset venokonstriksinya lebih lambat. Kemampuan yang berbeda pada amine dalam mengkonstriksikan pembuluh darah sudah pernah diteliti pada hewan.75 Data penelitian itu bahwa kontribusi persentase rata-rata resistensi vena terhadap resistensi pembuluh darah (Tabel 12-16). Methoxamine dan NE dianggap equipoten sebagai vasokontriktor alfa-1 pembuluh darah; namun efek keduanya berbeda secara dramatis ketika mempengaruhi venokonstriksi. Kurangnya respon venokonstriksi terhadap methoxamine sudah pernah didemonstrasikan pada manusia.

Penelitian pada manusia menunjukkan hasil yang resupa.76 Tabel 12-17 mendemonstrasikan potensi relatif dari beberapa katekolamin terhadap resistensi versus kapasitansi pembuluh drah. Data-data ini menunjukkan potensi relatif amine terhadap resistensi atau kapasitansi pembuluh darah dan tidak membandingkan rasio potensi antara keduanya. Karena itu, data itu menunjukkan perbedaan di antara setiap agen katekolamin. NE merupakan amine yang paling poten karena kemampuannya dalam konstriksi arteri dan vena. Metaraminol sekitar 1,5 kali lebih poten dari phenylephrine dalam mengkonstriksi resistensi pembuluh darah; namun, phenylephrine sekitar 1,5 kali lebih efektif dalam menkonstriksi pembuluh darah kapasitansi bila dibandingkan dengan metaraminol. NE terbukti 12 kali lebih poten bila dibandingkan dengan metaraminol dalam mengkonstriksikan pembuluh darah resistensi dan 24 kali lebih efektif dalam mengkonstriksikan pembuluh darah kapasitansi.

Tabel 12-18 merupakan rangkuman dari data yang ada mengenai potensi relatif amine terhadap reseptor alfa dari pembuluh darah resistensi dan kapasitansi. Data ini mungkin saja tidak akurat, namun tabel ini berasal dari sumber yang konsiten. Tabel ini menawarkan panduan klinis dalam pemilihan obat. Reseptor perifer pada pembuluh darah resistensi dan kapasitansi dapat menyebabkan vasokonstriksi, tapi dengan efek yang divergen terhadap afterload dan preload; oleh karena itu, reseptor alfa-1 dibagi menjadi alfa-1 arterial (alfa-1a) dan alfa-1 vena (alfa-1v). catatan untuk methoxamine dan phenylephrine, keduanya merupakan obat alfa murni, yang ekuipoten sebagai vasokonstriktor arterial. Namun phenylephrine merupakan konstriktor vena yang poten, sedangkan methoxamine tidak memiliki efek terhadap pembuluh darah kapasitansi. Dopamine cukup poten sebagai venokonstriktor (alfa-1v) pada dosis tertentu yang juga memiliki efek terhadap 1a atau beta-1. 

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut