Minggu, 04 Maret 2012

Refarat Imunisasi: Tinjauan Umum

A.    Tinjauan Umum Program Imunisasi
Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum perlu diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945 melalui Pembangunan Nasional yang berkesinambungan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat dipengaruhi oleh tersedianya sumber daya manusia yang sehat, terampil dan ahli, serta disusun dalam satu program kesehatan dengan perencanaan terpadu yang didukung oleh data dan informasi epidemiologi yang valid.1

            Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit menular masih merupakan masalah, sementara penyakit degeneratif juga muncul sebagai masalah. Penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administrasi, sehingga menyulitkan pemberantasannya. Dengan tersedianya vaksin yang dapat mencegah penyakit menular tertentu, maka tindakan pencegahan untuk mencegah berpindahnya penyakit dari satu daerah atau negara ke negara lain dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat dan dengan hasil yang efektif.1
Salah satu strategi pembangunan kesehatan nasional untuk mewujudkan “Indonesia Sehat 2010” adalah menerapkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan, yang berarti setiap upaya program pembangunan harus mempunyai kontribusi positif terhadap terbentuknya lingkungan yang sehat dan perilaku sehat. Sebagai acuan pembangunan kesehatan mengacu kepada konsep “Paradigma Sehat” yaitu pembangunan kesehatan yang memberikan prioritas utama pada upaya pelayanan peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif) dibandingkan upaya pelayanan penyembuhan/pengobatan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) secara menyeluruh dan terpadu dan berkesinambungan.1
Ditinjau dari hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, maka angka kematian neonatal (AKN), angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian balita (AKBA) adalah 19/1000 kelahiran hidup (KH), 34/1000 KH dan 44/1000KH. Artinya, kematian balita (0- 59 bulan) masih tinggi. Untuk itu, diperlukan kerja keras dalam upaya menurunkan angka kematian tersebut, termasuk diantaranya pelaksanaan program imunisasi.2
Upaya imunisasi diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956. Upaya ini merupakan upaya kesehatan masyarakat yang terbukti paling  cost effective. Dengan upaya imunisasi terbukti bahwa penyakit cacar telah terbasmi dan Indonesia dinyatakan bebas dari penyakit cacar sejak tahun 1974.1  
Mulai tahun 1977, upaya imunisasi diperluas menjadi Program Pengembangan Imunisasi dalam rangka pencegahan penularan terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yaitu, tuberculosis, difteri, pertusis, campak, polio, tetanus serta hepatitis B.1
Menurut data surveilans, kasus campak pada tahun 2007 adalah 18.488 kasus dimana 84% diantaranya adalah anak yang tidak terimunisasi dan 44% kasus adalah anak dengan usia di bawah lima tahun. Pada tahun 2008 terdapat 14.148 kasus campak dimana 78% diantaranya adalah anak yang belum mendapat imunisasi dan 41% kasus adalah anak dengan usia di bawah lima tahun. Data surveilans juga menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara cakupan imunisasi yang tinggi dengan rendahnya kasus campak. Hal ini dibuktikan pada tahun 2008, dari 367 spesimen kasus tersangka campak di Provinsi DIY hanya satu yang positif campak, begitu juga di Bali dari 17 spesimen tidak ada satupun yang positif.3
Dengan upaya imunisasi pula, kita sudah dapat menekan penyakit polio dan sejak tahun 1995 tidak ditemukan lagi virus polio liar di Indonesia. Hal ini sejalan dengan upaya global untuk membasmi polio di dunia dengan Program Eradikasi Polio (ERAPO).1
Kampanye Imunisasi Tambahan Campak dan Polio Tahun 2011, merupakan tahun terakhir  kampanye imunisasi tambahan. Sebanyak 15.249.183 orang atau sekitar 65% dari jumlah seluruh bayi dan anak Balita di Indonesia, menjadi target imunisasi.4
B.     Tinjauan Umum Imunologi dan Vaksinasi
Apa itu imunisasi?
Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya.5
Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi awal untuk mencapai kadar kekebalan diatas ambang perlindungan. Imunisasi lanjutan adalah imunisasi ulangan untuk mempertahankan tingkat kekebalan di atas ambang perlindungan atau untuk memperpanjang masa perlindungan.1
Tujuan imunisasi adalah membentuk kekebalan demi mencegah penyakit pada diri sendiri dan orang lain sehingga kejadian penyakit menular menurun dan bahkan dapat menghilang dari muka bumi. Kekebalan dapat disalurkan oleh ibu ke bayi yang dikandung tetapi tidak berlangsung lama, maka kekebalan harus dibentuk melalui pemberian imunisasi pada bayi. Upaya pencegahan melalui vaksinasi telah dilakukan sejak lima abad yang lalu.6
Untuk membuat vaksin yang aman dan berkhasiat jangka panjang, diperlukan suatu rangkaian penelitian yang cukup lama dan berhati-hati. Maka perlu disyukuri bahwa para ahli selalu berusaha mencari vaksin yang terbaik untuk meningkatkan kesehatan masyarakat di seluruh dunia.6
Untuk menjaga mutu, vaksin disimpan dan didistribusikan dalam suhu 2o-8oC sebelum digunakan (cold-chain atau rantai dingin). Selanjutnya cara pemberian vaksin yang benar diperlukan untuk mendapatkan kadar kekebalan yang tinggi dalam jangka panjang. Serta mengurangi efek samping. Berbagai penyakit infeksi berat yang dapat menyebabkan kematian dan kecacatan dapat di cegah dengan pemberian imunisasi. Saat pemberian imunisasi yang paling tepat adalah sebelum anak terpapar penyakit berbahaya. Untuk mendapat daya kekebalan yang prima, taatilah jadwal imunisasi.6
Table 1. Jadwal Pemberian Imunisasi
Apa itu vaksinasi?
Vaksinasi adalah memberikan vaksin (bakteri / virus hidup dilemahkan / mati, komponen) atau toksoid yang disuntikkan atau diteteskan ke dalam mulut, untuk merangsang kekebalan tubuh penerima. Hal ini sesuai jadwal yang ditetapkan.7
Kekebalan tubuh yang biasa disebut dengan antibodi dibentuk oleh tubuh terhadap penyakit infeksi akibatnya pengaruh antigen. Antibodi yang terbentuk tersebut sifatnya spesifik untuk antigen tertentu. Maka, daya tahan tubuh terhadap infeksi tergantung respon imunologik terhadap sejumlah antigen yang ada di permukaan organisme.8
  Ada dua macam kekebalan yaitu:8
a.       Non spesifik: dimiliki sejak lahir, tidak perlu pengenalan terhadap antigen terlebih dahulu. Misalnya asam lambung dan sel fagosit.
b.      Spesifik: belum efektif waktu lahir, diperoleh secara alamiah melalui infeksi dan secara buatan melalui imunisasi. Contohnya antibodi terhadap campak dan tetanus.
Imunitas dibagi dalam dua hal, yaitu pasif dan aktif. Pasif ialah bila tubuh anak tidak bekerja membentuk kekebalan, tetapi hanya menerima saja dan terdapat pada neonates sampai bayi berumur 5 bulan, sedangkan aktif ialah bila tubuh anak ikut menyelenggarakan terbentuknya imunitas. Baik pasif maupun aktif dapat berlangsung alami, biasanya bawaan (congenital) atau didapat (acquired).8
Pada imunisasi aktif, imunitas didapatkan dengan dua cara, yaitu secara alami (natural acquired) dan sengaja dibuat (artificial induced). Khusus untuk cara yang kedua dilakukan dengan pemberian imunitas yang terdiri dari tiga macam antigen, yaitu:8
a.       Live attenuated bacteria or virus – yang dipakai ialah kuman yang masih hidup namun telah dilemahkan (attenuated), sehingga tidak dapat menyebabkan penyakt namun dapat mengakibatkan imunitas. Misalnya cacar, BCG dan polio Sabin.
b.      Killed bacteria or virus – misalnya kolera, tifus abdominalis, paratifus, pertusis, polio salk.
c.       Toksoid – yang dipakai ialah toksin yang telah diolah sedemikian rupa, misalnya dengan farmol dan kemudian diabsorpsi dengan aluminium sehingga biasanya dinamakan formol toxoid alum precipitated.

Jenis-jenis vaksin yang diberikan yaitu:
1.      Difteri
Toksoid yang dimurnikan ini dirintis oleh Park (1922) di Amerika serta Glenny dan Hopkins (1923) di Inggeris. Dan setelah pemakaian toksoid ini telah membuat penurunan dari 100.000 kasus dengan 15,000 kematian di Amerika tiap tahun sebelum 1925 menjadi 307 kasus dengan hanya 5 kematian pada tahun 1975.8
Imunisasi primer dilakukan pada umur 2-11 bulan yang diberikan bersama vaksin tetanus dan pertusis. Tingkat perlindungan vaksin difteri dengan suntikan 1 : 71 – 94 %, yang mana ianya belum mencapai kadar protektif (< 0,01 IU/ml). Pada suntikan 3 : 68 – 81 % ianya sudah mencapai kadar protektif (rata-rata 0.0378/ml).7,8
2.                  Pertusis
Merupakan bakteri mati yang terabsorbsi dlm Al fosfat. Di Amerika kasus dan kematian karena batuk rejan menurun drastik setelah pemberian vaksinasi pada akhir tahun 1940-an.7,8
Imunisasi dasar dilakukan dengan vaksin difteri dan tetanus (DPT) mulai umur 2-11 bulan sebanyak 3 kali. Tingkat perlindungan vaksin pertusis dengan 3 suntikan bisa mencapai persen protektif sebanyak 65.8 – 80 %.7,8
3.                   Tetanus
Merupakan toksoid yang dimurnikan yang bertujuan untuk mengeliminasi tetanus neonatarum dan penyakit tetanus. Target imunisasi tetanus adalah suntikan lebih dari 5 kali yaitu 3 dosis saat bayi dan 2 dosis toksoid dewasa. Pada dosis ke-4 (usia 18 – 24 bulan) memberi kekebalan lebih dari 5 tahun. Dosis ke-5 (masuk SD) memberi kekebalan lebih dari 10 tahun dan dosis ke-6 (keluar SD, TD atau dT) memberi kekebalan lebih dari 20 tahun.7
Tingkat perlindungan dengan 3 suntikan : 65 – 80 % protektif. Saat ini lazimnya dipakai vaksin tripel DPT, yaitu vaksin difteri, pertusis dan tetanus yang dicampur dalam satu kemasan. Tiap 1ml DPT :40 Lf toksoid difteria, 24 OU pertusis, 15 toksoid tetanus, Al fosfat 3 mg, dan thimerosal 0,1 mg.7,8
4.                   BCG (Bacillus Calmette Guerin)
Merupakan mycobacterium bovis hidup yang dilemahkan. Calmette dan Guerin telah membiakkan kuman tuberculosis ini sampai 230 kali sejak tahun 1920 selama 13 tahun sehingga menghasilkan basil yang lemah.
 Setelah dilarutkan, dlm suhu 2 – 8ºC (bukan freezer), ianya hanya boleh bertahan selama 3 jam. Imunisasi dilakukan dengan menyuntik vaksin berdosis 0.05 ml secara intrakutan pada deltoideus lengan kanan untuk bayi usia 0-11 bulan dan 0,1 ml untuk anak 1 tahun atau lebih. Pada bayi perempuan dapat disuntikkan di paha kanan atas.7,8
Tingkat proteksi mulai 8 – 12 minggu pasca vaksinasi dan daya lindung hanya sebanyak 42% (WHO 50-78%). Namun pada 70% penghidap TB berat mempunyai parut BCG. Pada orang dewasa ditemukan basil tahan asam (BTA) positif 25-36% walaupun pernah menerima vaksin BCG karena vaksin BCG tidak mencegah infeksi, namun bisa mencegah seseorang jatuh sakit setelah infeksi.7,8
5.                   Campak
Merupakan virus hidup yang dilemahkan. Setelah dilarutkan, dlm suhu 2 - 8ºC, digunakan dalam tempoh maksimum 8 jam. Tiap 0,5 ml mengandung 1000 u virus strain CAM 70, 100 mcg kanamisin dan 30 mg eritromisin. Diberikan dengan dosis 0,5 ml secara subkutan di deltoid lengan atas.7
Proteksi dimulai 2 minggu setelah vaksinasi dan lama proteksi adalah selama 8 -16 tahun. Pada umur 10 - 12 tahun, 50% titer antibodi berada di atas ambang pencegahan. Namun pada umur 5 – 7 tahun, 29,3% terinfeksi walaupun pernah diimunisasi. Maka dilaksanakan program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), ulangan pemberian vaksin campak saat masuk SD.7
6.                   Polio
Terdapat 2 macam vaksin polio yaitu:
1.      Vaksin salk, merupakan kuman yang dimatikan dan diberikan secara injeksi, revaksinasi dianjurkan 1-2 tahun setelah pemberian vaksin dasar.8
2.      Vaksin sabin, merupakan kuman yang dapat dilemahkan, (Virus poliomielitis tipe 1, 2, 3 strain Sabin). Vaksin ini diberikan secara oral atau oral polio vaccine (OPV). Revaksinasi tidak wajib.7,8
7.                   Hepatitis B
Sebuah vaksin melawan hepatitis B telah tersedia sejak 1982. Vaksin hepatitis B adalah 95% efektif dalam mencegah infeksi HBV dan konsekuensi kronisnya, dan adalah vaksin pertama melawan kanker utama manusia.10 Vaksin Hepatitis B Rekombinan adalah vaksin virus rekombinan  yang telah diinaktivasi dan bersifat non-infectious, berasal dari HBsAg yang dihasilkan dalam sel ragi (Hansenula polymorpha) menggunakan teknologi DNA rekombinan. Vaksin ini merupakan suspensi berwarna putih yang diproduksi dari jaringan sel ragi yang mengandung gene HBsAg,yang dimurnikan dan diinaktivasi melalui beberapa tahap proses fisiko kimia seperti ultrasentrifuse, kromatografi kolom, dan perlakuan dengan formaldehid. Untuk Imunisasi aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus Hepatitis B, tidak dapat mencegah infeksi yang disebabkan oleh virus lain seperti virus Hepatitis A, Hepatitis C atau virus lain yang diketahui dapat menginfeksi hati.9
Imunisasi ini diberikan sebanyak 3 kali (dosis) pemberian. Dosis pertama diberikan pada bayi baru lahir (newborns) menggunakan vaksin monovalen (vaksin antigen tunggal) sebelum pulang dari rumah sakit. Dosis kedua diberikan pada saat bayi berusia 1-2 bulan. Dan dosis ketiga diberikan pada usia 6-18 bulan (pemberian dosis terakhir/dosis final tidak boleh kurang dari usia 24 minggu). Setelah pemberian dosis pertama pada bayi baru lahir, dosis hepatitis B dapat dilengkapi dengan vaksin antigen tunggal hingga 3 dosis pemberian. Bayi yang tidak mendapat imunisasi Hepatitis B saat lahir, sebaiknya mendapatkan imunisasi Hepatitis B pada usia 0, 1 dan 6 bulan (3 kali pemberian). Vaksin diberikan secara intramuscular di daerah pangkal lengan atas (musculus deltoideus), sedangkan pada bayi di daerah paha.8,11
C.    Tinjauan Umum Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
1.      Difteri
Merupakan infeksi mendadak yang disebabkan oleh kuman Cornyebacterium diphtheria. Ianya mudah menular dan menyerang terutama saluran napas bagian atas dengan tanda khas berupa pseudomembran tebal, putih kelabu, tepi hiperemis, udem, sukar diangkat dan mudah berdarah; dilepaskan eksotoksin yang dapat menimbulkan gejala umum dan lokal. Gejalanya meliputi demam, sakit tenggorokan dan malaise. Manifestasi klinis yang ditimbulkan dapat berupa gangguan pada hidung, seperti pilek dengan sekret bercampur darah.8,12
 Pada faring dan tonsil dapat mengakibatkan radang akut tenggorok hingga demam sampai 38,5oC, takikardi, tampak lemah, napas berbau disertai timbulnya pembengkakan kelenjar regional (bullneck).8,12
Penularan umumnya melalui udara, berupa infeksi droplet, selain itu dapat melalui benda atau makanan yang mengalami kontaminasi. Masa tunas umumnya 1-6 hari. Penyakit ini jarang terjadi tetapi dapat menjadi sering apabila angka pencapaian imunisasi menurun. 80% umur yang terkena biasanya kurang dari 15 tahun, kebanyakannya pada umur 2 - 5 tahun. Prognosis penyakit ini tergantung kepada virulensi kuman, lokalisasi dan luas membrane, infeksi sekunder dan juga status kekebalan penderita disertai faktor pengobatan dan perawatan.8,12
2.      Pertusis
Merupakan suatu infeksi akut sistemik yang disebabkan oleh bakteria Hemofilus pertusis. Penyakit ini sangat menular dan banyak terjadi pada bayi dan anak kecil, bahkan dapat terjadi pada neonates akibat tidak adanya imunitas yang dibawa sejak lahir. Insiden tersebar, sporadik atau epidemi terutama pada musim dingin. Lebih banyak ditemukan pada laki-laki berbanding perempuan. Epidemi penyakit ini diperkirakan terjadi setiap 4 tahun, dengan cara infeksi terbanyak yaitu droplet infection. Masa inkubasi, umumnya 7-14 hari dan dapat berlangsung selama 4 stadium.8,12
Gambaran klinis yang timbul, sesuai dengan perjalanan penyakitnya, yaitu: 8,12
·          Masa tunas                              : 1 – 2 minggu
·          Masa catarrhalis                      : 1 – 2 minggu
·          Masa paroxysmal                    : 4 – 6 minggu
·          Masa rekonvalesensi               : 2 – 3 minggu
Batuk khas berupa pendek dan terus menerus, muka kemerahan dan sianosis, lidah dikeluarkan, batuk berbunyi whoop (high-pitched crowing sound). Prognosis tergantung pada umur, jenis kelamin, komplikasi, status gizi, kekebalan penderita serta perawatan dan pengobatan.12
3.      Tetanus
Penyakit infeksi akut (toksemia akut) yang disebabkan oleh Clostridium tetani. C.tetani bersifat Gram positif, anaerob, berbentuk spora dan vegetatif. Spora bersifat resisten, tersebar di tanah, debu rumah, air, usus, tinja manusia / binatang manakala vegetatif mudah rusak, di usus, tinja manusia dan bersifat tidak invasif.12
Masa inkubasinya 3-10 hari. Onset berlangsung bersamaan dengan semakin lama rahang semakin kaku, sampai suatu saat sukar membuka mulut. Kemudian berkembang, menjadi risus sardonikus (retraksi pojok mulut), selanjutnya terjadi kekakuan dan rigiditas punggung dan otot perut. Oleh karena otot punggung lebih kuat, maka hal ini memicu terjadinya opistotonus. Adapun otot-otot ekstremitas akan terkena paling akhir.8,12
Eksotoksinnya terdiri dari tetanospasmin dan tetanolisin. Toksin ini dapat menghancurkan sel darah merah, dan merusak leukosit. Tetanospamin yaitu toksin yang neurotropik dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot. Dengan masa tunas biasanya 5-14 hari, tapi kadang-kadang sampai beberapa minggu pada infeksi ringan atau terjadi modifikasi penyakit oleh antiserum.8,12
Adapun pencegahan yang dapat dilakukan yaitu membersihkan port d’entry menggunakan larutan H2O2 3%, pemberian ATS 1500U im, TT dengan memperhatikan status imunisasi , serta penisilin prokain (PP) 2-3 hari sebanyak 50,000 unit/kgBB/hari.8,12
4.      Tuberkulosis
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman TBC (Mycobacterium tuberculosis). TBC lebih sering menyerang paru-paru, namun juga dapat menyerang bagian tubuh lain seperti selaput otak, kulit, tulang, kelenjar getah bening, dan bagian tubuh lainnya. TBC bukan penyakit keturunan dan bukan disebabkan oleh kutukan atau guna-guna, stigma di masyarakat yang mengaitkan penyakit TBC dengan dunia mistis perlu di luruskan. TBC dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin, kaya). TBC dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat, lengkap dan teratur.13
Sumber penularan adalah dahak penderita TBC. TBC menular melalui udara bila penderita batuk, bersin dan berbicara dan percikan dahaknya yang mengandung kuman TBC melayang-layang di udara dan terhirup oleh orang lain. Penderita TBC Paru dengan BTA Positif, dapat menularkan kepada 10 orang di sekitarnya. (BTA Positif artinya dalam parunya terdapat bakteri TB).13
Gejala utama adalah batuk berdahak terus-menerus selama tiga minggu atau lebih. Gejala-gejala lainnya antara lain:13
• Sesak napas dan nyeri pada dada
• Batuk bercampur darah
• Badan lemah dan rasa kurang enak badan
• Kurang nafsu makan dan berat badan menurun
• Berkeringat pada malam hari meskipun tidak melakukan kegiatan
Pengobatan dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap awal (intensif, 2 bulan) dan tahap lanjutan. Lama pengobatan 6-8 bulan, tergantung berat ringannya penyakit. Penderita harus minum obat secara lengkap dan teratur sesuai jadwal berobat sampai dinyatakan sembuh. Dilakukan tiga kali pemeriksaan ulang dahak untuk mengetahui perkembangan kemajuan pengobatan, yaitu pada akhir pengobatan tahap awal, sebulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir pengobatan.13
5.      Poliomyelitis15,16
Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis). Polio menyerang tanpa mengenal usia, lima puluh persen kasus terjadi pada anak berusia antara 3 hingga 5 tahun. Masa inkubasi polio dari gejala pertama berkisar dari 3 hingga 35 hari.
Vaksin efektif pertama dikembangkan oleh Jonas Salk. Salk menolak untuk mematenkan vaksin ini karena menurutnya vaksin ini milik semua orang seperti halnya sinar matahari. Namun vaksin yang digunakan untuk inokulasi masal adalah vaksin yang dikembangkan oleh Albert Sabin. Inokulasi pencegahan polio anak untuk pertama kalinya diselenggarakan di Pittsburgh, Pennsylvania pada 23 Februari 1954. Polio hilang di Amerika pada tahun 1979.
Polio adalah penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh virus. Virus ini menyerang sistem saraf, dan dapat menyebabkan kelumpuhan total dalam hitungan jam. Gejala awal adalah demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan pada leher dan nyeri pada tungkai.
Satu dari 200 infeksi menyebabkan kelumpuhan ireversibel (biasanya di kaki). Di antara mereka lumpuh, 5% sampai 10% meninggal ketika otot pernapasan mereka menjadi bergerak.
Pada tahun 1988, keempat puluh satu Majelis Kesehatan Dunia, yang terdiri dari delegasi 166 negara anggota, mengadopsi resolusi untuk pemberantasan polio di seluruh dunia. Ini ditandai dengan peluncuran Global Polio Eradication Initiative, dipelopori oleh WHO, Rotary International, US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan United Nations Children Fund (UNICEF). Ini mengikuti sertifikasi pemberantasan cacar pada tahun 1980, kemajuan selama tahun 1980 terhadap penghapusan virus polio di Amerika, dan komitmen Rotary International untuk mengumpulkan dana untuk melindungi semua anak-anak dari penyakit. Tidak ada obat untuk polio, ianya hanya dapat dicegah. Vaksin polio, beberapa kali diberikan, dapat melindungi seorang anak seumur hidup.
6.      Campak3,14,17
Campak adalah penyakit infeksi yang sangat menular dengan cepat dari satu anak ke anak yang lain. Terjadinya campak sebelum usia 6 bulan relative jarang karena adanya antibody pasif yang diperoleh dari kekebalan tubuh ibu.
Virus menyebar melalui rute pernapasan melalui droplet aerosol dan sekret pernapasan yang dapat tetap menular selama beberapa jam. Infeksi diperoleh melalui saluran pernapasan atas atau konjungtiva.
Setelah masa inkubasi 10 - 11 hari, pasien memasuki tahap prodromal dengan demam, malaise, bersin, rinitis, konjungtivitis, dan batuk. Koplik's spots, yang merupakan patognomonik pada campak, muncul pada mukosa buccal dan mukosa labial bawah bertentangan dengan molar bawah.
Ruam makulopapular khas muncul sekitar 4 hari setelah terkena dan mulai di belakang telinga dan pada dahi. Dari sini ruam menyebar untuk melibatkan seluruh tubuh. Kasus campak telah terlihat pada anak-anak yang sebagiannya diimunisasi, pada bayi dengan antibodi sisa, dan pada orang yang telah diberi immune globulin serum untuk perlindungan.
Pada sebagian pasien, campak adalah penyakit self limiting akut yang akan berjalan saja tanpa perlu pengobatan khusus. Namun, itu jauh lebih serius pada penderita immunokompromis yang kekurangan gizi, dan anak-anak dengan penyakit kronis yang melemahkan. Pasien tersebut dapat dilindungi oleh administrasi anti-campak manusia gammaglobulin jika diberikan dalam 3 hari pertama setelah paparan. Atau, individu terkena dapat divaksinasi dalam waktu 72 jam paparan.
Indonesia adalah negara keempat terbesar penduduknya di dunia yang memiliki angka kesakitan campak yakni sekitar 1 juta pertahun dengan 30.000 kematian. Hal ini yang menyebabkan Indonesia menjadi salah satu dari 47 negara prioritas yang diidentifikasi oleh WHO dan UNICEF untuk melaksanakan akselerasi dan menjaga kesinambungan dari reduksi campak.
Menurut data surveilans, kasus campak pada tahun 2007 adalah 18.488 kasus dimana 84% diantaranya adalah anak yang tidak terimunisasi dan 44% kasus adalah anak dengan usia di bawah lima tahun. Pada tahun 2008 terdapat 14.148 kasus campak dimana 78% diantaranya adalah anak yang belum mendapat imunisasi dan 41% kasus adalah anak dengan usia di bawah lima tahun. Data surveilans juga menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara cakupan imunisasi yang tinggi dengan rendahnya kasus campak. Hal ini dibuktikan pada tahun 2008, dari 367 spesimen kasus tersangka campak di Provinsi DIY hanya satu yang positif campak, begitu juga di Bali dari 17 spesimen tidak ada satupun yang positif.
Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian imunisasi, program imunisasi campak di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1984 dengan kebijakan memberikan 1 dosis pada bayi usia 9 bulan. Pada tahun 2005 sampai 2007  lebih dari 31 juta anak usia 6 bulan sampai 12 tahun di Indonesia telah mendapat imunisasi campak kedua melalui kampanye campak yang dilaksanakan dalam 5 phase. Kampanye ini dilaksanakan terintegrasi dengan imunisasi polio.
7.       Hepatits B8,10,11
Hepatitis B adalah infeksi hati yang berpotensi mengancam jiwa yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Ini adalah masalah kesehatan global utama dan jenis yang paling serius dari hepatitis virus. Hal ini dapat menyebabkan penyakit hati kronis dan menempatkan orang pada risiko tinggi kematian dari sirosis hati dan kanker hati. Di seluruh dunia, dua miliar orang diperkirakan telah terinfeksi dengan virus hepatitis B (HBV), dan lebih dari 350 juta memiliki infeksi hati kronis (jangka panjang). Sebuah vaksin melawan hepatitis B telah tersedia sejak 1982. Vaksin hepatitis B adalah 95% efektif dalam mencegah infeksi HBV dan konsekuensi kronisnya, dan adalah vaksin pertama melawan kanker utama manusia.  
Kemungkinan bahwa infeksi HBV kronis akan menjadi tergantung pada usia di mana seseorang menjadi terinfeksi, dengan anak-anak muda yang terinfeksi VHB yang paling mungkin untuk mengembangkan infeksi kronis. Sekitar 90% bayi yang terinfeksi selama tahun pertama kehidupan mengembangkan infeksi kronis, 30% sampai 50% anak terinfeksi antara satu sampai empat tahun usia mengembangkan infeksi kronis. Sekitar 25% dari orang dewasa yang menjadi kronis, terinfeksi selama masa kanak-kanak mati terkait dari kanker hati HBV atau sirosis. Sekitar 90% dari orang dewasa sehat yang terinfeksi dengan HBV akan pulih dan benar-benar menyingkirkan virus dalam enam bulan.
Virus Hepatitis B dapat menyebabkan penyakit akut dengan gejala yang beberapa minggu terakhir, termasuk menguningnya kulit dan mata (jaundice), urin gelap, kelelahan ekstrim, mual, muntah dan nyeri perut. Penderita  dapat mengambil beberapa bulan sampai satu tahun untuk pulih dari gejala. HBV juga dapat menyebabkan infeksi hati kronis yang nantinya bisa berkembang menjadi sirosis hati atau kanker hati.
Virus hepatitis B ditularkan antara orang-orang melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lain (yakni air mani dan cairan vagina) dari orang yang terinfeksi. Mode transmisi adalah sama bagi human immunodeficiency virus (HIV), tetapi HBV adalah 50 sampai 100 kali lebih menular seperti HIV, VHB dapat bertahan hidup di luar tubuh setidaknya selama 7 hari.
 Selama waktu itu, virus tetap dapat menyebabkan infeksi jika memasuki tubuh orang yang tidak terinfeksi. Mode umum penularan di negara berkembang adalah:
·         Perinatal (dari ibu ke bayi saat lahir)
·         Infeksi anak usia dini (infeksi yang subklinis melalui kontak interpersonal yang dekat dengan kontak alat rumah tangga yang terinfeksi)
·         Praktek suntikan tidak aman
·         Transfusi darah
·         Hubungan seksual
Tidak ada pengobatan khusus untuk hepatitis B akut. Perawatan ditujukan untuk menjaga kenyamanan dan keseimbangan gizi yang memadai, termasuk penggantian cairan yang hilang dari muntah dan diare. Hepatitis B kronis dapat diobati dengan obat-obatan, termasuk interferon dan agen anti-virus, yang dapat membantu beberapa pasien. Pengobatan dapat menelan biaya ribuan dolar per tahun dan tidak tersedia untuk kebanyakan pasien di negara berkembang.
Semua bayi harus menerima vaksin hepatitis B, ini adalah andalan pencegahan hepatitis B. Vaksin dapat diberikan sebagai dosis tiga atau empat terpisah, sebagai bagian dari jadwal imunisasi rutin yang ada.
Di daerah di mana penyebaran HBV ibu-ke-bayi adalah umum, dosis pertama vaksin harus diberikan sesegera mungkin setelah lahir (yaitu dalam waktu 24 jam). Seri vaksin lengkap mendorong tingkat antibodi pelindung terhadap lebih dari 95% dari bayi, anak dan dewasa muda. Setelah usia 40, perlindungan setelah seri vaksinasi primer turun di bawah 90%. Pada usia 60 tahun, tingkat antibodi pelindung yang dicapai hanya 65 hingga 75% dari mereka yang divaksinasi. Perlindungan berlangsung minimal 20 tahun dan harus seumur hidup. 
 DAFTAR PUSTAKA
 1.      Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1059/Menkes/Sk/Ix/2004 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi [cited 2011 Jan 8] Available from URL: http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/pdf/Peraturan/kmk%20pedoman%20penyelenggaraan%20imunisasi%201059-2004.pdf
2.      Direktorat Bina Kesehatan Anak. Manajemen Terpadu Balita Sakit (Mtbs) Atau Integrated Management Of Childhood Illness (Imci) [online] [cited 2011 Dec 16] Available from URL : http://www.kesehatananak.depkes.go.id
3.      Ahmadi Arief. Imunisasi Datang Lagi [online] [cited 2011Oct 12] Available from URL : http://dinkes-sulsel.go.id/new
4.      MENKES CANANGKAN KAMPANYE IMUNISASI TAMBAHAN CAMPAK DAN POLIO [online] [cited 2011Oct 18] Available from URL: http://www.depkes.go.id
5.      Arti Definisi/Pengertian Imunisasi, Tujuan, Manfaat, Cara dan Jenis Imunisasi Pada Manusia [online] [cited 2008 Nov 30] Available from URL : http://organisasi.org
6.      Buku Panduan Imunisasi Anak. Beberapa hal yang perlu diketahui tentang Imunisasi, [online] [cited 2009] Available from URL : http://www.idai.or.id/imunisasi.asp
7.      Satgas Imunisasi IDAI. Pelatihan Vaksinologi Dasar Angkatan ke 8, Prosedur Vaksinasi.pdf
8.      Nelson, W.E., Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15. Volume 2. Jakarta: EGC p.1248
9.      Vaksin Hepatitis Rekombinan [online] [cited 2011] Available from URL : http://www.biofarma.co.id
10.  WHO. Hepatitis B. [online] [cited 2011] Available from URL : http://www.who.int
11.  Arisclini. Rekomendasi Jadwal Imunisasi Hepatitis B. [online] [cited Dec 17 2011] Available from URL : http://www.arisclinic.com/2011/12/rekomendasi-jadwal-imunisasi-hepatitis-b/
12.  Bahan Kuliah Pediatrik. Infeksi: Difteri, Pertusis, Tetanus.ppt Bagian Kesehatan Anak FK-UNHAS
13.  Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI). Apa itu TB?[online] [cited 2012] Available from URL : http://www.ppti.info/index.php/component/content/article/46-arsip-ppti/99-apa-itu-tb
14.  Epidemiologi Infeksi Virus Campak.[online] [cited Dec 17 2011] Available from URL : http://virology-online.com/viruses/MEASLES2.htm
15.  WHO. Polio. [online] [cited Oct 2011] Available from URL: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs114/en/ and http://www.who.int/topics/poliomyelitis/en/
16.  Wikipedia. Poliomielitis. [online] [cited Jan 2 2012] Available from URL: http://id.wikipedia.org/wiki/Poliomielitis
17.  Ensiklopedia Kesehatan, Penyakit dan Kondisi. Campak [online] [cited 2012] Available from URL: http://www.healthscout.com/ency/68/732/main.html
18.  Laporan Tahunan 2010 Puskesmas Kaluku Bodoa Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...