Sabtu, 26 Mei 2012

Love at Second, Third, Fourth and So On Sight

Dalam karyanya yang berjudul Midsummer Night's Dream, Shakespeare berkata," Love looks not with the eyes, but with the mind; And therefore is wing'd Cupid painted blind:"Karya Shakespeare itu bercerita tentang seorang wanita, Helena, yang sangat mendambakan cinta dari Demetrius. Namun sayangnya Demetrius justru lebih menyukai wanita lain, Hermia. Padahal Helena memiliki penampilan yang lebih menarik bila dibandingkan dengan Hermia. Dia lebih putih, dan lebih tinggi. Karena itu Helena mengutuk Cupid, yang katanya buta dalam menempatkan cinta, dan berharap dapat terkena penyakit menular hingga penampilannya bisa sejelek Hermia, agar bisa memenangkan hati Demetrius. Kisah yang gila.
File:Heart icon red hollow.svg
Sumber gambar: Wikipedia
Melalui kisah tersebut, Shakespeare seperti ingin menunjukkan bahwa cinta yang romantis seolah-olah dapat dibangun meskipun hanya menggunakan landasan suatu persepsi yang ideal antara pasangan, bukan visualisasi atau sensasi inderawi lainnya. Dengan idealisasi dan persamaan persepsi, itu sudah cukup untuk mempertahankan cinta yang romantis. Namun sayangnya, banyak yang tidak sependapat dengan Shakespeare, terutama dengan adanya fakta yang menunjukkan bahwa, angka perceraian di Amerika Serikat mencapai 40-50%.

Kalau hidup di zaman sekarang, mungkin Shakespeare akan mengganti kalimat di karyanya tersebut menjadi "Although love is blind, but lovers are not completely blind, or at least do not remain blind forever". 

Cinta yang romantis hanya terjadi di awal hubungan. Ketika hormon-hormon seperti oxytocin masih bergejolak di fase akut. Di tahap ini, cinta memberikan ilusi-ilusi dan persepsi yang menunjukkan bahwa pasangannya merupakan mahluk yang paling sempurna. Ilusi-ilus tersebut menyebabkan hampir semua pasangan tidak lagi berpijak pada realitas. Mereka hanya hidup dengan isi pikirannya. Di tahap ini, Shakespeare benar. Para pecinta hanya melihat dengan pikirannya, bukan dengan inderanya.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, tubuh mulai membentuk toleransi terhadap gejolak yang ditimbulkan oleh hormon-hormon cinta. Sehingga perlahan-lahan, kemampuan inderawi para pecinta kembali ke kondisi yang semula. Di fase ini, realitas yang berasal dari impuls inderawi kembali berkuasa. Dengan kata lain, bosan mulai datang.

Semua kesempurnaan, idealisasi yang terbentuk di awal hubungan tiba-tiba saja buyar. Semua kelemahan pasangan satu persatu mulai terkuak. Pada tahapan ini, cinta tidak lagi buta. Dia bisa melihat semuanya dengan jelas, seperti melihat melalui plastik yang transparan. Dan itulah akhir dari cinta yang romantis.

Bagi mereka-mereka yang tidak mampu menghadapi kenyataan, hubungan yang awalnya cinta romantis pasti akan berakhir dengan perceraian. Terutama jika ada kesenjangan yang sangat lebar antara idealisasi yang tercipta di awal hubungan dengan kenyataan yang ada di lapangan.

Karena itu saya tidak pernah percaya dengan cinta pada pandangan pertama.
Saya justru lebih sependapat dengan orang yang menyatakan bahwa cinta adalah upaya untuk mendamaikan persepsi ideal dengan realitas pada pandangan kedua, ketiga, keempat, dan pandangan-pandangan selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...