Jumat, 22 Juni 2012

Fiksi Itu

Saya lebih suka hidup dalam fiksi yang kuciptakan sendiri. Di mana semua aturan dan norma yang berlaku dibuat berdasarkan keinginanku, tanpa perlu khawatir pada para mahasiswa dan rakyat jelata yang akan menganggapku otoriter lalu mendemo-ku tujuh hari tujuh malam tanpa henti. Karena dalam fiksiku, tidak ada yang namanya mahasiswa dan rakyat jelata. Dua hal tersebut hanyalah komponen residual yang akan memakan terlalu banyak tempat jika harus dibuatkan fiksi.

Selain itu, tidak ada politisi, ekonom, moralis maupun rohaniwan dalam fiksiku. Sebab keberadaan mereka hanya akan menimbulkan perang yang berkepanjangan. Saya hanya ingin membuat sebuah fiksi yang sederhana, bukan karya epik Mahabharata ataupun Perang Salib. Saya sudah bosan membaca semua kisah-kisah seperti itu. Darah berceceran di mana-mana, trik dan intrik yang tidak berujung, di mana indahnya kisah yang seperti itu.

Meskipun menyukai kedamaian dan peradaban, saya tidak pernah mau membuat dunia fiksi yang menyerupai kota metropolitan Indonesia, entah itu Jakarta, Makassar, Surabaya. Bukan bermaksud menyerang, namun fiksi yang seperti itu terlalu sesak dan menghimpit, ada terlalu banyak orang yang harus diberikan identitas dan dipenuhi kebutuhannya.

Karena itu saya ingin membuat fiksiku sendiri yang hanya berisi diriku, aku, dan saya. Di mana dunia tidak lagi berbatas oleh apapun, entah itu langit, laut, atau pun black hole. Di mana pantai yang kupijak pergi hanya berisi diriku, aku, dan saya. Di mana laut yang memelukku hanya terdiri dari diriku, aku, dan saya. Di mana aku bisa melempar batu ke mana pun arah yang kuinginkan tanpa perlu mengkhawatirkan ada orang yang marah karena kaca rumahnya pecah.

Tapi ini hanya ada dalam fiksi.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...