Senin, 25 Juni 2012

Nikaragua

Dulu saya selalu berharap agar hatiku bisa seperti ibu jari kakiku. Alasannya sederhana. Agar saya tidak perlu lagi merasakan pengalaman yang bernama "sakit". Ibu jari kakiku setelah terbentur dan terinjak roda brankar selama beberapa kali, tiba-tiba saja menjadi mati rasa terhadap sensasi apapun. Saya menduga itu karena neuropraksia, aksonotmesis atau justru neurotmesis yang diakibatkan oleh trauma pada serabut saraf. Tapi entahlah. Perlu pemeriksaan mahal untuk memastikannya. Intinya, saya tidak bisa lagi merasakan ibu jariku.


Seandainya saja hati bisa seperti itu. Cukup sekali sakit hati. Lalu tidak lagi merasakan apapun. Tapi itu tidak lebih dari sebuah pikiran labil yang lahir bersama trauma masa lalu.

Setelah mengunjungi Nikaragua beberapa waktu lalu, pikiran bodoh itu langsung mati dalam sekali keplak. Ketika sedang mendaki gunung api Mombacho, saya bertemu beberapa mantan pengungsi pasca perang saudara yang hidup di sekitar gunung. Pada umumnya mereka telah berusia lanjut dan nyaris berkalang tanah. Hanya pakaian tebal dengan ornamen warna-warni yang dilengkapi topi kupluk serta penutup telinga yang membuatku merasa yakin kalau mereka masih niat hidup lama. Meskipun pada impresi awal terlihat sangat rapuh, namun setelah melihat mereka begitu bersemangat membagi cerita tentang perjuangan menyelamatkan diri selama masa perang saudara, opiniku berubah. Tidak perlu dijelaskan rincian kisah mereka. Tapi secara umum, mereka telah mengalami berbagai derita dunia yang melebihi benturan yang dialami oleh ibu jariku dan trauma yang dirasakan oleh hatiku.

Meskipun telah menderita lahir batin dan kehilangan banyak hal, mereka tidak pernah ingin kehilangan hati. Bagi mereka, segala kesakitan yang diderita oleh hati merupakan satu-satunya cara agar mereka dapat terus mengenang orang-orang tersayang yang hilang selama masa perang. Hanya melalui kesedihan, mereka bisa bernostalgia dengan masa lalu. Salah satu dari mereka berkata, "terlalu sedikit kesenangan yang bisa ditemukan saat perang pecah. Sehingga untuk bisa mengenang kembali semuanya, kami tidak membuka album foto, tapi kami harus mengiris lagi hati agar tiap tetes darah kesedihan dapat mengisi celah-celah memori yang hilang. Namun tidak masalah bagi kami. Justru dengan cara seperti itu, kami bisa lebih menghargai tiap momen bahagia yang terjadi setelahnya."


1 komentar:

Syam mengatakan...

Hihi, manis manis lucu bagaimana bgitue pas baca ini postingan.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...