Rabu, 27 Juni 2012

Refarat Antiseptik dan Disinfektan


ANTISEPTIK DAN DISINFEKTAN
Antiseptik dan disinfektan merupakan bagian dari persiapan preoperatif yang sangat penting bagi dokter bedah dan pasien. Antiseptik merupakan substansi yang dioleskan secara topikal pada jaringan hidup guna membunuh atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Sedangkan disinfektan merupakan suatu agen yang dioleskan secara topikal pada objek atau benda mati guna menghancurkan mikroorganisme patogenik sehingga dapat mencegah penyebaran infeksi. Antiseptik yang paling sering digunakan antara lain (a) ethyl atau propyl alkohol, (b) senyawa amonium kuartener yang permukaan kationiknya aktif, (c) biguanide chlorhexidine, (d) senyawa iodine, dan hexachlorophene. Disinfektan yang paling sering digunakan antara lain (a) aldehyde-formaldehyde dan glutaraldehyde, (b) senyawa cresol phenolic, dan (c) unsur chlorine.

Sterilisasi merupakan suatu proses di mana terjadi penghancuran komplit pada semua jenis mikroba, termasuk bakteri vegetatif, spora, jamur, dan virus. Ethylene oxide merupakan satu-satunya senyawa kimia yang disetujui sebagai zat untuk mensterilisasi objek-objek yang tidak dapat dipanaskan atau disterilisasikan dengan metode fisikawi lainnya seperti radiasi.
ALKOHOL
Alkohol dapat diaplikasikan secara topikal sehingga menurunkan jumlah flora bakteri kutaneus lokal (antisepsis yang cepat dan mudah kering) sebelum kita melakukan penetrasi kulit denganmenggunakan jarum. Aksi antiseptik alkholo dapat diperkuat dengan melakukan pembersihan mekanik pada kulit dengan menggunakan air dan deterjen lalu menggosoknya dengan kain steril selama proses aplikasi.
Ethyl alkohol merupakan suatu jenis antiseptik potensi rendah namun dengan khasiat moderat, serta bersifat bakterisidal terhadap banyak bakteri. Pada kulit, ethyl alkohol 70% dapat membunuh sekitar 90% bakteri kutaneus hanya dalam jangka waktu 2 menit, dan area tempat aplikasi dapat tetap lembab. Lebih dari 75% bakteri kutaneus mati apabila ethyl alkohol diusapkan sekali dengan menggunakan spons yang diikuti oleh evaporasi larutan residual. Isopropyl alkohol memiliki aktivitas bakterisidal yang sedikit lebih besar dari ethyl alkohol karena zat ini dapat memberikan depresi yang lebih besar terhadap tegangan permukaan.
ResikoTerbakar
Kita harus menyadari bahwa semua preparat yang berbahan dasar alkohol merupakan zat yang mudah terbakar, kecuali alkoholnya telah menguap. Cairan preparat bedah yang berbahan dasar alkohol dapat menyebabkan kebakaran terutama bila cairan alkohol yang menggenang (pada umbilikus) atau uap alkohol yang terjebak, mengalir pada lokasi peralatan bedah yang merupakan sumber panas. Handuk steril dapat digunakan untuk menyerap kelebihan cairan preparat yang menggenang.
SENYAWA AMMONIUM KUARTENER
Secara in vitro, senyawa amonium kuartener merupakan suatu bakterisidal terhadap berbagai jenis bakteri Gram positif dan negatif. Banyak jamur dan virus yang juga rentan terhadap zat ini. Namun Mycobacterium tuberculosis, relatif resisten pada zat ini. Alkohol dapat memperkuat aktivitas germisidal senyawa amonium kuartener sehingga tinktur zat ini jauh lebih efektif bila dibandingkan dengan larutan akua-anya.
Lokasi aksi senyawa ammonium kuartener adalah di membran sel, di mana zat ini dapat menyebabkan perubahan pada permeabilitas membran.
Benzalkonium dan cetylpyridium (pencuci mulut) merupakan contoh senyawa ammonium kuartener. Senyawa-senyawa ini dapat digunakan secara preoperatif guna menurunkan jumlah mikroorganisme pada kulit yang intak. Zat ini punya onset aksi yang cepat. Endoskopi dan beberapa alat lain yang terbuat dari polyethylene atau polypropilene, dapat menyerap senyawa ammonium kuartener, sehingga dapat menurunkan konsentrasi zat aktif hingga tidak lagi bersifat bakterisidal.
CHLORHEXIDINE
Chlorhexidine (Hibclens) merupakan larutan chlorophenol biguanide yang tidak berwarna, dan dapat merusak membran sel bakter dan sangat efektif dalam mengatasi bakteri Gram positif dan negatif. Zat ini dapat bertahan pada kulit sehingga dapat memberikan perlindungan antibakteri yang berkelanjutan. Apabila digunakan sebagai zat cuci tangan atau penggosok operasi, maka chlorhexidine 2% dapat menurunkan jumlah bakteri kutaneus yang jauh lebih besar dari povidone-iodine maupun hexachlorophene., dan zat ini memiliki efek persistenyang sama besarnya bahkan jauh lebih besar dari hexachlorophene. Chlorhexidine 2% lebih superior dari povidone-iodine dalam mencegah infeksi aliran darah yang berhubungan dengan penggunaan kateter invasif intravaskuler. Bebat yang menggunakan chlorhexidine dapat menurunkan resiko kolonisasi pada kateter epidural. Chlorhexidine paling sering dioleskan pada kulit dokter bedah dan pasien sebelum melakukan operasi. Zat ini dapat digunakan untuk mengatasi infeksi superfisial yang disebabkan oleh bakteri Gram positif dan untuk mendisinfeksi luka. Sebagai suatu antiseptik, chlorhexidine memiliki onset aksi yang cepat, berikatan kuat dengan kulit, memiliki potensi yang lebih sedikit dalam menimbulkan sensitivitas kontak dan fotosensitivitas, serta lebih sukar diserap oleh kulit tubuh. Larutan chlorhexidine yang menggunakan bahan dasar alkohol tidak boleh dimasukan pada mata (menyebabkan kebutaan) ataupun telinga tengah (ketulian).


IODINE
Iodine merupakan antiseptik yang memiliki onset kerja yang sangat cepat, terutama bila tidak terdapat material organik, serta dapat membunuh bakteri, virus, dan spora. Sebagai contoh, pada kulit, tinktur iodine 1% dapat membunuh 90% bakteri dalam waktu 90 detik, sedangkan larutan tinktur 5% dapat melakukan aksi seperti itu hanya dalam waktu 60 detik. Apabila terdapat material organik, maka iodine akan berikatan secara kovalen, sehingga dapat menghilangkan efeknya untuk sementara. Meskipun begitu, preparat komersial dari zat ini mengandung iodine dalam jumlah banyak, sehingga efeknya tidak lagi terpengaruh oleh material organik. Toksisitas lokal iodine sangat rendah, dengan insidensi kutaneus terbakar hanya bisa terjadi bila konsentrasi zat >7%. Pada kondisi yang langka, seorang individu bisa saja alergi terhadap iodine dan bereaksi terhadap aplikasi topikal. Reaksi alergi biasanya bermanifestasi dalam bentuk demam dan erupsi kulit generalisata.
Fungsi paling penting dari iodine adalah disinfeksi kulit, di mana fungsi ini lebih superior bila dibandingkan dengan antiseptik lain. Untuk kegunaan ini, sebaiknya digunakan preparat tinktur iodine karena alkohol dapat mempermudah penyebaran dan penetrasi iodine. Iodine juga dapat digunakan untuk terapi luka dan abrasi. Pengolesan larutan akua iodone 0,5% hingga 1% pada jaringan yang terabrasi tidak akan menimbulkan iritasi yang separah penggunaan tinktur.
Iodophors
Iodophor merupakan suatu elemen iodine yang berikatan kompleks secara longgar dengan bahan organik sehingga kelarutannya semakin besar dan dapat mengalami proses pelepasan zat secara bertahap. Iodophor yang paling sering digunakan adalan povidone-iodine., di mana zat organik bahan ini adalah molekul polyvinylpyrrolidone. Larutan pivdone iodine 10% mengandung 1% iodine, namun konsentrasi iodine bebas-nya < 1 ppm. Konsentrasi seperti itu sangat sedikit. Karena konsentrasinya rendah, maka asksi bakterisidalnya secara langsung jauh lebih moderat bila dibandingkan dengan larutan iodine.
Penggunaan Klinis
Iodophor memiliki spektrum antimikrobial yang luas dan sering digunakan sebagai bahan cuci tangan, termasuk penggosok dalam proses pembedahan.; zat ini dapat dioleskan sebelum proses pembedahan dimulai atau sebelum melakukan penusukan jarum. Suatu bahan penggosok bedah standar berupa larutan povidone-iodine 10% (Betadine) dapat menurunkan populasi bakteri kutaneus hingga >90%, namun bakteri tersebut dapat kembali ke jumlah normal setelah 6 hingga 8 jam. Jika dibandingkan dengan povidone-iodine, disinfektan iodophor yang mengandung isopropyl alkohol (DuraPrep) justru jauh lebih efektif dalam menurunkan kultur kulit yang positif sekaligus dalam menghambat pertumbuhan bakteri dan kolonisasi di kateter epidural.
Sebagai disinfektan vagina, idophoer dapat terserap oleh tubuh, dan hal ini dapat menyebabkan hipotirodisme fetal jika digunakan pada ibu hamil. Jika digunakan dalam disinfeksi endoskop dan instrumen lain, povidone-iodine jauh lebih ungguk dibandingkan dengan hexachlorophene 3%.
Toksisitas Kornea
Luka bakar kimiawi pada kornea dapat terjadi setelah terjadi paparan (tertumpah secara tidak sengaja) dengan larutan disinfektan (chlorhexidine, hexachlorophene, iodine, alkohol, larutan yang mengandung campuran detergen-iodine). Larutan povidone-iodine yang tidak mengandung detergen merupakan senyawa yang tidak terlalu toksis pada kornea.


HEXACHLOROPHENE
Hexacholorophene (pHisoHex) merupakan suatu bisphenol yang terpolikrorinasi, yang menunjukkan aktivitas bakteriostatik terhadap bakteri Gram positif, namun tidak terhadap bakteri Gram begatif. Begitu sudah melakukan cuci tangan, hexachlorophene dapat menurunkan 30% hingga 50% populas bakteri kutaneus, sedangkan pvidone-iodine dapat menurunkannya hingga >90%. Meskipun begitu, setelah 60 menit, jumlah populasi bakteri pada kulit yang telah terolesi dengan hexachlorophene dapat menurun hingga tersisa 4% saja, sedangkan pada kulit yang telah terolesi dengan iodophor, populasi bakteri dapat kembali normal hingga mencapai populasi 16%.
Karena bakteri patogenik yang paling potensial pada kulit adalah bakteri Gram-positif, maka hexachlorophene 3% sering digunakan oleh dokter dan perawat guna menurunkan penyebaran infeksi yang berasal dari tangan mereka. Antiseptik ini juga sering digunakan untuk membersihkan kulit pasien yang telah dijadwalkan akan menjalani operasi. Hexachlorophene dapat terserap oleh kulit yang intak sehingga pada jumlah tertentu, dapat menyebabkan neurotoksik, termasuk iritabilitas serebral. Dengan demikian, penggunaan hexachlorophene pada dokter atau perawat yang sedang hamil saat ini telah dipertanyakan.
FORMALDEHYDE
Formaldehyde merupakan suatu senyawa volatil, yang dapat mendisinfeksi berbagai jenis bakteri, jamur, dan virus dengan cara mempresipitasi proteinnya. Formaldehyde sebanyak 0,5% membutuhkan waktu sekitar 6 hingga 12jam untuk membunuh bakteri serta butuh 2 sampai 4 hari untuk membunuh spora. Formaldehyde 2% hingga 8% biasanya digunakan untuk mendisinfeksi instrumen operasi.


GLUTARALDEHYDE
Sebagai disinfektan, glutraldehyde jauh lebih unggul jika dibandingkan dengan formaldehyde karena zat ini bekerja secara cepat dan efektif dalam membunuh semua jenis mikroorganisme, termasuk virus dan spora. Zat ini juga memiliki sifat tuberkulosidal. Glutaraldehyde kurang volatil jika dibandingkan dengan formaldehyde sehingga zat ini tidak terlalu menimbulkan bau dan uap yang mengiritasi. Dengan zat ini, dibutuhkan waktu sekitar 10 jam untuk mensterilkan alat dari spora kering, sedangkan dalam larutan asam yang stabil, zat ini dapat membunuh spora kering dalam waktu 20 menit. Laurtan alkaline maupun asam zat ini tidak merusak alat-alat operasi dan endoskopi. Sehingga zat ini jauh lebih superior dalam sterilisasi endoskopi jika dibandingkan dengan iodophor dan hexachlorophene.
PASTERURISASI
Pasteurisasi (disinfeksi dengan menggunana air panas) merupakan suatu proses penghancuran mikroorganisme dalam medium cair dengan cara melakukan pemberian panas. Suhu air pasteurisasi dalam kisaran 55 hingga 75 C, akan menghancurkan bakateri, jamur dan virus. Pasteurisasi membunuh bakteri dengan cara meng-koagulasi-kan protein sel, dan air dapat bertindak sebagai medium yang efektif guna mentransfer panas yang dibutuhkan untuk membunuh organisme. Salah satu tindakan yang rasional adalah dengan cara melakukan kontak langsung antara air dengan permukaan benda yang akan di-disinfeksi. Suhu air yang melebihi 75 C dapat menyebabkan benda-benda yang terbuat dari plastik mengalami deformasi. Peralatan (sirkuit terapi respirasi, sirkuit anestesia) yang telah digunakan harus direndam dalam air bersuhu 68 C selama minimal 30 menit. Pasteurisasi efektif dalam mengatasi batang Gram-negatif, M.tuberculosis, dan sejumlah jamur serta virus. Pasteurisasi bisa menjadi alternatif yang hemat jika dibandingkan dengan lauran disinfeksi seperti glutaraldehyde.
CRESOL
Cresol memiliki aksi bakterisidal dalam melawan organisme patogenik seperti M.tuberculosis. Zat ini digunakan secara luas untuk men-disinfeksi benda-benda mati. Cresol tidak boleh digunakan untuk mendisinfeksi material yang dapat menyerap larutan ini karena zat ini dapat menyebabkan luka bakar pada jaringan yang bersentuhan dengannya.
SILVER NITRATE/PERAK NITRAT
Perak nitrat dapat digunakan sebagai zat akustik, antispektik, dan astringen. Bentuk padat zat ini dapat digunakan untuk meng-kauterisasi luka dan menghilangkan jaringan granulasi. Zat ini biasanya disimpan dalam bentuk pensil dan harus dilembabkan/dibasahi dulu sebelum digunakan. Larutan perak nitrat merupakan bakterisidal yang sangat kuat, terutama untuk gonococci, sehingga zat ini sering digunakan sebagai profilaksis terhadap ophtalmia neonatorum.
Peral sulfadiazine atau nitrat biasanya digunakan sebagai terapi luka bakar. Penggunaan zat ini dapat menyebabkan hipokloremia, karena adanya reaksi antara ion perak dengan klorida. Hiponatremia juga dapat terjadi karena ion natrium tertarik oleh ion klorida ke dalam eksudat. Selain itu, nitrat yang terserap dapat menyebabkan methemoglobinemia.
MERKURI/AIR RAKSA
Senyawa merkuri organik bersifat noniritan namun aksi bakterisidalnya kurang. Senyawa ini hanya memiliki sedikit aktivitas bakteriostatik dan tidak terlalu efektif jika dibandingkan dengan ethyl alkohol. Protein serum dan jaringan dapat menurunkan aktivitas antimikrobial zat ini, dan sering ditemukan sensitasi kulit ketika zat ini kontak dengan tubuh.
ETHYLENE OXIDE
Ethylene oxide merupakan suatu gas yang dapat berdifusi, yang bersifat non-korosif dan antimikroba terhadap semua jenis organisme yang hidup pada temperatur ruangan. Gas yang dapat meng-alkilasi material ini biasanya digunakan sebagai alternatif steriliasi panas. Zat ini dapat bereaksi dengan klorida dan air sehingga menghasilkan dua jenis germisida aktif tambahan, ethylene chlorohydrin dan ethylene glycol. Ruangan sterilisasi khusus biasanya dibutuhkan karena gas ini harus melakukan kontak dengan zat yang akan disterilisasi selama beberapa jam. Material yang memiliki ventilasi yang baik seperti tuba trakeal, dibutuhkan untuk memastikan proses pembersihan ethylene oxide sehingga dapat menurunkan iritasi jaringan. sensitasi ethylene oxide pernah ditemukan pada anak yang menderita spina bifida, di mana anak tersebut mengalami reaksi anafilaksis ketika sedang dioperasi, selain itu zat ini juga berkaitan erat dengan sensitasi lateks. 
sumber:Stoelting

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...