Selasa, 18 September 2012

Translator

Setelah dipikir, ditilik, dan dipertimbangkan. Akhirnya, saya memutuskan untuk berhenti dari kerjaan translator komersil. Biarpun penghasilan yang bisa didapatkan lumayan besar. Tapi tidak sebanding dengan kegilaan dan kebosanan yang didapat ketika mengerjakan orderan. Mempelototi topik teksbuk dan jurnal yang itu-itu saja selama berhari-hari bisa membuat akal sehat melayang. Tidak heran kalau banyak ilmuwan tulen yang berkelakuan aneh. Tulisan-tulisan di buku pasti telah menggerogoti common sense mereka.


Belum lagi dengan tekanan yang harus dihadapi oleh bokong ketika bekerja. Lapisan lemak yang melindungi bokong bisa menipis secara dratis akibat duduk lama. Bisa mengurangi keseksian, bagi mereka yang merasa bahwa bokong adalah salah satu atribut keanggunan. Dan jangan lupa dengan hemoroid yang senantiasa mengintai. Bisa membuatmu mengerang sepanjang masa, bila itu sudah mencengkram pembuluh darah di bokongmu.

Selain semua efek jasmaniah diatas, kerjaan translator komersil bisa juga merusak kehidupan sosial. Saya kenal seorang translator yang hingga saat ini masih punya masalah keluarga karena terlalu sibuk dengan kerjaannya. Bayangkan kalau kamu hanya berkencan dengan laptop dan berlembar-lembar teksbuk yang harus diterjemahkan selama satu minggu. Saat keluar kamar, kamu akan mengalami disorientasi, hingga tidak bisa lagi membedakan manusia dengan kucing. Ditambah lagi dengan akumulasi emosi dan kejenuhan yang tersedimentasi di otak selama berhari-hari, yang bisa membuatmu oversensitif. Hingga sebuah gurauan kecil saja, bisa meledakkan amarahmu seperti Mahameru. Senggol bacok.

Tidak bisa kupungkiri, kalau kerjaan translator komersial menjanjikan keuntungan yang lumayan besar. Tanpa pajak. Tanpa neko-neko. Tapi sebagai gantinya, saya harus mentranslet berlembar-lembar teksbuk yang kaku, tidak bernilai seni, dan pastinya, sangat membosankan. Persis seperti menyewakan jiwa. Anti-sosial mode on.

Sembilan bulan rasanya sudah cukup untuk membuatku merasa bahwa di dunia ini, ada beberapa jenis pekerjaan yang sebaiknya tidak dilakukan sepanjang hidup. Entah karena itu tidak sesuai dengan talenta, tidak sesuai dengan prinsip, atau memang tidak pantas dikerjakan oleh manusia.

Ini saatnya menulis sejarah dalam cara yang berbeda. 

12 komentar:

Nurmayanti Zain mengatakan...

barusan na kudapat panjang artikelnya ^^ hihihi
#numpang nyepam eaaa

Syam Matahari mengatakan...

Ooooooooowww translator toh? Keren keren, pantasan kosakata disini kaya raya. tapi pensiunmi di' baru mo dikasih orderan :D

NERDina mengatakan...

Separah itu?
sembilan bulan? bentar lg ngelahirin donk hahah

Yudi Darmawan mengatakan...

kalau kerja di luar negeri translator itu gajinya lebih mahal lagi mas,
jadi mereka gak sempat ngomong aku bosaaan liat artikel teruuus, hehe..

kebanyakan sih mereka yang quit dengan alasan gak sesuai dengan prinsip dan "aku pasti lebih mahal di tempat lain"..

uci cigrey mengatakan...

oh rasanya kaya itu, saya belum pernah :D
Bener banget, ada beberapa pekerjaan yg saya rasa ngga nikmat klo seumur hidup dijalanin. 2 Thn kerja di bank, dan saya #resign. Bikin sejarah apa yah...

Skydrugz mengatakan...

google, tolong sucikan orang ini

Skydrugz mengatakan...

tidak perlu diperjelas. saya memang keren dari dulu.

Skydrugz mengatakan...

sudah melahirkan. kan kamu ibunya.

Skydrugz mengatakan...

memang sayang sekali, ini indonesia.

Skydrugz mengatakan...

entahlah...coba kita tanya google

haps dw mengatakan...

wah, dibayar mahal aja nyerah, gimana saya yang selalu di-order untuk men-translate secara gratis yak?? tapi saya menolak pekerjaan translator bukan karena gratisannya, tp karena saya payah dlm menerjemah. ahahahaha *eh kok malah curhat :D

Skydrugz mengatakan...

curhat adalah hak asasi...

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...