Kamis, 11 Oktober 2012

Kita Mungkin Peduli, Hanya Saja, Itu Tidak Termanifestasi dalam Realitas. Tidak Perlu Menyesalinya.

Tidak tertarik pada apapun lagi, selain diriku sendiri. Jadi mengapa saya harus mempedulikannya?
-Seorang tokoh yang entah siapa namanya, di novel yang entah apa judulnya.
Brain Drain

Di suatu masa, di suatu tempat, kita pernah sangat naif. Menganggap semuanya akan baik-baik saja. Dan kita masih peduli pada segalanya. Pada nenek tua yang berjalan tertatih di trotoar, pada seorang anak yang menangis di tengah pasar, pada perdamaian dunia, pada penindasan dan ketidakadilan di belahan bumi yang lain serta perkara-perkara sepele lainnya. Kita masih merasa, bahwa superman hidup dalam jiwa kita.



Hingga akhirnya, kita sampai pada titik ini. Di mana kita tidak lagi bisa merasakan peduli, kita tidak mampu lagi mendefinisikannya.
Yang kita tahu hanyalah, saat ini hidup sedang berputar. Dan tak ada sedikit pun ruang bagi kita, untuk mengendalikannya.

2 komentar:

Syam Matahari mengatakan...

termasuk pujiale tidak ini om? hmm... #abaikan

haps dw mengatakan...

saya juga pernah, berpikir seperti itu. merasa lelah, dan tak lagi bisa merasa peduli. tapi, akhirnya saya mencoba kembali, untuk merasa manusiawi. peduli itu, manusiawi.. I thought :)

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...