Minggu, 07 Oktober 2012

Refarat Hemifacial Microsomia


HEMIFACIAL MICROSOMIA

 PENDAHULUAN
            Hemifacial Microsomia (HFM) atau yang disebut juga craniofacial microsomia,  dysostosis otomandibular, sindrom arkus branchial pertama dan kedua, sindrom oral-mandibula-auricula, displasia facial lateral merupakan suatu malformasi kongenital dimana terjadi defisiensi jaringan lunak dan keras salah satu sisi dari wajah.(1,2,3)      
Istilah Hemifacial Microsomia (HFM) pertama kali digunakan oleh Gorlin terhadap pasien dengan microtia unilateral, makrosomia, dan kegagalan pembentukan condilus serta ramus mandibula. ”Hemifacial” berarti salah satu sisi wajah dan ”microsomia” berarti mempunyai ukuran yang kecil. Jika diartikan ”hemifacial microsomia ” berarti setengah dari wajah mempunyai ukuran yang lebih kecil.(1,3)

HFM secara primer merupakan suatu sindrom pada arkus branchialis pertama dan kedua, meliputi belum berkembangnya sendi temporomandibular, ramus mandibula, otot mastikasi dan telinga.(2) Hemifacial microsomia secara klinik bersifat heterogen, dengan spektrum anomali yang luas, meliputi okuli, aurikula, mandibula, nervus facialis dan kelainan jaringan lunak. Kelainan telinga luar dan tengah dihubungkan dengan tuli konduksi yang dimulai sejak pasien mengalami perkembangan abnormal embriologi struktur arkus brachialis pertama dan kedua.(4)   
Penyebab sindrom ini masih belum diketahui. Sebagian kasus ditemukan sporadik, namun sering juga ditemukan adanya keterlibatan genetik (familial) dalam insidennya, dimana derajatnya berbeda-beda dalam satu keluarga. (2,3)

INSIDEN DAN EPIDEMIOLOGI
            Menurut Poswillo frekuensi terjadinya hemifacial microsomia adalah 1 dalam setiap 3500 kelahiran, walaupun tidak ada data yang mendukung pendapat ini. Grabb memperkirakan insiden terjadinya HFM paling sedikit 1 dalam setiap 5600 kelahiran. Angka kejadian HFM berdasarkan usia yaitu antara 2 bulan sampai 18 tahun. (1,4)
            Perbandingan angka kejadiannya pada jenis kelamin juga tidak diketahui. Dalam satu seri penelitian pada 102 pasien, 63 diantaranya laki-laki dan 39 perempuan. Insiden hemifacial microsomia bilateral adalah 10-15 %. HFM adalah kelainan wajah terbanyak kedua setelah cleft lip.(5,6)
           
ANATOMI
            Tengkorak terdiri atas tulang-tulang kranium (pembentuk atap dan basis cranii) dan tulang-tulang wajah, termasuk mandibula. Bagian anterior basis kranii tertutupi tulang-tulang wajah. Sisanya adalah tulang yang terlihat di fossa kranialis media dan posterior namun sebagian besar foramina yang terlihat dari luar tidak terlihat dari dalam kranium.(7)
            Tulang-tulang wajah menggantung di bagian depan kranium dan terdiri atas tulang rahang atas, tulang-tulang sekitar orbita, dan kavum nasi serta mandibula. Tulang-tulang wajah terdiri atas : (7)
Ø  Os. Maksila. Gigi berasal dari maksila, maksila memiliki sinus maksilaris yang besar. Membentuk atap cavitas oris, lantai dan dinding lateral cavitas nasi dan lantai orbita.(8)
Ø  Pars pterigoid os sfenoid, menyokong bagian belakang maksila. Diantara kedua tulang ini terdapat fissura pterigomaksilaris yang menuju ke fosa pterigopalatina.(7)
Ø  Os palatinum, berbentuk huruf L, terdiri dari lamina perpendicularis dan lamina horizontalis. 
Ø  Os zigomatikum
Ø  Os nasal
Ø  Os frontal
Ø  Os lakrimal : memiliki fosa untuk tempat sakus lakrimalis.
Ø  Tulang-tulang orbita dan kavum nasi. Batas-batas orbita dibentuk oleh os frontal, os zigomatikum, dan os maksila.
 
Gambar : Tengkorak tamapak anterior (dikutip dari kepustakaan 7)
Mandibula merupakan tulang yang terbesar dan paling kuat dari wajah terdiri atas korpus dan dua rami. Pertemuan antara corpus dan ramus mandibula membentuk angulus mandibula. Bagian yang paling menonjol ke lateral dari angulus disebut Gonion. Sudut angulus mandibula berkisar antara 110-140 derajat, rata-rata 125 derajat. Tiap ramus terbagi atas prosesus koronoideus dan kaput, untuk artikulasi dengan fosa mandibularis. Foramen mandibularis membawa arteri, vena, nervus alveolaris inferior.(7,8)

Gambar : Mandibula (dikutip dari kepustakaan 7)
            Otot-otot wajah terdiri dari otot pengunyah yang semuanya dipersyarafi oleh ramus mandibularis n. Trigeminus, serta otot-otot ekspresi wajah yang semuanya dipersyarafi oleh n.fasialis. Hanya ada satu perlekatan ke tulang, atau kadang-kadang tidak sama sekali, dengan ujung otot satu lagi berinsersi ke kulit atau menyatu dengan otot lain.(7)

Gambar : Otot yang berperan dalam mastikasi tampak lateral (dikutip dari kepustakaan 7)

ETIOPATOGENESIS
            Penyebab pasti terjadinya hemifacial microsomia tidak dapat ditentukan, terdapat banyak teori yang didasarkan pada embriologik, klinis dan laboratorium. Perkembangan dari arkus branchialis I yang disebut arkus mandibula dipikirkan menjadi penyebab utama terjadinya  HFM. Pembentukan arkus mandibula terjadi kira-kira satu bulan di dalam uterus, ketika puncak sel neural bermigrasi ke sekitar jaringan yang sedang berkembang. Neural crest cells merupakan sel prekursor yang dengan mudah berkembang pada siklus hidup fetus dan bermigrasi seluruhnya pada regio kepala dan leher, merangsang pertumbuhan sel lokal dan berdiferensiasi. Studi laboratorium berpendapat bahwa kehilangan dengan cepat dari neural crest cells mungkin menjadi faktor spesifik yang dapat dipertanggung jawabkan pada penunjukan klinik  dari HFM. (2)
Hipoplasia pada HFM dapat bermanifestasi pada struktur apapun yang berasal dari arkus brankialis I dan II, dan hipoplasia ini bertanggung  jawab atas semua deformitas yang terjadi pada sindrom HFM. (9)
Dalam usaha untuk memahami mekanisme yang terjadi dalam etiopatogenesis HFM, telah diajukan beberapa teori. Stark dan Saunders mengajukan konsep mengenai defisiensi mesodermal, konsep yang sama umumya dengan penyebab palatoschisis dan labioschisis.(9)
Suatu laporan menyatakan bahwa beberapa orang perempuan hamil yang meggunakan bahan teratogenik seperti asam retinoic, primidone, dan thalidomide, dapat melahirkan bayi yang mengalami hemifacial microsomia. Menurut Granstrom,  microtia dan defek craniofacial lainnya juga terjadi pada tikus yang di injeksi asam retinoic dengan dosis berlebihan. Beberapa kasus HFM tersebar secara sporadik, tetapi kejadian dalam keluarga telah dilaporkan. Telah di lakukan hipotesa autosom dominan dan autosom resesive untuk menerangkan berbagai kejadian familiar. (1)
  Teori yang paling bisa diterima secara umum adalah keterlibatan pembuluh darah/vaskularisasi, dengan pembentukan hematom dan perdarahan dalam perkembangan arkus brankhialis I dan II, yang disertai dengan kelainan perkembangan. Pada masa embrio, arteri stapedius merupakan kolateral sementara dari arteri hyoid, yang membentuk hubungan dengan arteri pharyngeal, yang kemudian digantikan oleh arteri carotis eksterna. Defek pada pembuluh darah yang bersifat sementara ini akan menyebabkan perdarahan, yang kemudian menyebabkan trauma/gangguan pada perkembangan arkus brankial I dan II.(9)  

GAMBARAN KLINIK
            Seperti telah disebutkan sebelumnya, sindrom ini menunjukkan variasi yang luas dalam gambaran patologi pada regio : mandibula, komponen tulang lainnya, otot-otot mastikasi, telinga, sistem saraf dan jaringan lunak.(5,9)

Rahang
Pada mandibula terjadi deformitas yang nyata, khususnya ramus ascendens, yang bisa tidak ada  atau berkurang ukurannya dalam ukuran vertikal.  Ukuran dari kondilus biasanya menggambarkan derajat hypoplasia dari ramus mandibula. Sendi temporomandibular dapat mengalami hipoplasia ringan sampai terbentuknya persendian semu (pseudoartikuler) di basis kranii. Karena ukurannya berkurang atau memendek ,biasanya ramus bergeser ke arah garis tengah, angulus mandibula menjadi lebih curam dan ukuran corpus mandibula akan bertambah dalam dimensi horizontal. (5,6,9)
Dagu akan mengalami deviasi ke arah/sisi yang sakit dan kemiringan lempeng mandibula akan disesuaikan dan dihubungkan dengan lempeng pada dasar sinus maksilaris dan apertura piriformis. Kompleks dentoalveolar pada maksila dan mandibula di sisi yang sakit juga berkurang ukurannya dalam dimensi vertikal. Erupsi gigi molar tertunda. (5,9)
            Pruzansky mengajukan klasifikasi defisiensi mandibula : (5,9)
Tipe I               :Hipoplasia ringan pada ramus, sedangkan corpus mandibula   dipengaruhi secara minimal.
Tipe II             :Kondilus dan ramus mandibula kecil, kaput kondilus mendatar; fossa glenoid tidak ada; kondilus membentuk persendian pada permukaan intratemporal yang datar, kadang konveks; processus coronoideus bisa tidak ada.
Tipe III            :Ramus mandibula berkurang menjadi lempengan tulang/ lamina yang tipis atau tidak ada sama sekali. Tidak ada bukti mengenai temporomandibular joint.

                
Komponen Tulang Lainnya
            Os maksila akan berkurang ukurannya dalam dimensi vertikal dan akan terbentuk suatu lereng pada permukaan maksilla yang kemiringannya tergantung pada derajat hipoplasia mandibula. Gigi molar maksila akan terlambat mengalami erupsi. (5,6,9)
            Kompleks zygomatikus dapat berkurang dalam semua dimensi, dan arkus zygomaticus cenderung berkurang panjangnya atau bahkan tidak ada sama sekali. Penemuan ini dikombinasi dengan defisiensi soft tissue berakibat pada reduksi atau memendeknya jarak antara kantus lateral dengan tragus (sering bersifat sementara).(5,9)
            Os temporal juga dapat terpengaruh, meskipun hanya minimal. Processus mastoideus dapat mengalami hipoplasia dan bisa terjadi kekurangan udara dalam mastoid air cell . Processus styloideus bisa memendek atau tidak ada sama sekali. Bagian mata (orbita) bisa mengecil dan biasanya pasien menderita mikroftalmus. Os frontal bisa menjadi lebih datar memberi gambaran suatu plagiocephaly tanpa bukti radiografi adanya synostosis sutura coronal ipsilateral. Malformasi pada vertebra servikal jarang terjadi, termasuk munculnya hemivertebra dan bahkan sindrom impressi basilar. (5,9)

Otot-otot Mastikasi
            Sindrom ini tidak hanya terbatas pada kerangka saja; otot-otot mastikasi yang berhubungan juga mengalami hipoplasia. Defisiensinya tidak selalu sama dengan defisiensi yang terjadi pada kerangka. Suatu penelitian dengan menggunakan CT scan 3 dimensi membandingkan antara volume deformitas mandibula dengan otot-otot mastikasi yang berdekatan, dan menemukan bahwa tidak selalu ada hubungan langsung dalam derajat patologinya. (5,9)
            Sebagai akibatnya, fungsi otot menjadi lemah, sebagai contoh fungsi m.pterygoideus lateralis, yang bertanggung jawab atas pergerakan mandibula dan dagu ke arah kontralateral, pada pasien dengan HFM yang berusaha menggerakkan dagu, maka dagu akan deviasi ke sisi yang sakit di awal dan selama otot itu digerakkan secara paksa. (5,9)
Telinga
            Keterlibatan telinga pada sindrom ini muncul pada sebagian besar pasien. Meurmann mengajukan klasifikasi deformitas telinga luar : (5,9)
Grade I            : Sedikit malformasi aurikel, tapi komponen lain tetap ada.
Grade II          : Hanya ada sisa vertikal kartilago dan kulit dengan atresia komplit       dari kanalis auditorius eksternus.
Grade III         : Tidak adanya aurikel, hanya suatu lobulus yang terdiri dari jaringan lunak.
Tidak ada hubungan langsung antara deformitas aurikel dengan fungsi pendengaran dengan tes audiometri dan tomografi tulang temporal.


Dikutip dari kepustakaan 10

Sistem Saraf
            Meskipun jarang, kelainan serebral dapat timbul, termasuk hipoplasia serebri dan korpus kallosum, atau juga hidrosephalus tipe obstruksi dan communicating. Batang otak dapat terpengaruh secara sekunder akibat kelainan vertebra servikal, mengakibatkan ketidakseimbangan seperti impressi batang otak. Kelainan nervus kranialis yang paling sering terjadi adalah kekakuan wajah (facial palsy) dalam berbagai derajat. (5,9)

Jaringan Lunak (Soft Tissue)
            Pada sisi yang sakit, sering timbul skin tag preaurikuler dan hipoplasia jaringan subkutaneus di regio buccal, dengan berbagai derajat. Seperti telah disebutkan sebelumnya, otot-otot mastikasi juga terpengaruh, dan hipoplasia atau aplasia kelenjar parotis juga telah dilaporkan. Defisiensi jaringan lunak terjadi secara multi dimensi dan mengakibatkan berkurangnya jarak antara celah bibir dan telinga di sisi yang sakit. (5,9)
            Celah di palatum molle (palatoschisis) dilaporkan muncul pada 25 % pasien dan palatum molle dapat mengalami deviasi ke sisi yang sakit secara volunter. Sering juga ditemukan makrostomia. (5,9)

   
Dikutip dari kepustakaan 2
      
KLASIFIKASI         
            Beberapa klasifikasi telah diajukan berdasarkan gambaran klinik yang ditemukan pada pasien dengan HFM.
Munro dan Lauritzen mengajukan sistem klasifikasi klinik yang dirancang sebagai penolong dalam merencanakan koreksi bedah yaitu (5,9)
Tipe I A           Tulang-tulang craniofacial mengalami hipoplasia yang ringan dan occlusal plane-nya horizontal.
Tipe I B           Tulang-tulang seperti pada tipe I A namun occlusal plane-nya lebih curam.
Tipe II             Tidak terdapat kondilus dan sebagian ramus mandibula.
Tipe III            Sama dengan tipe II, dengan tambahan tidak adanya arkus zygomatikus dan fossa glenoid.
Tipe IV            Tipe ini jarang ditemukan, dengan hipoplasia zygoma dan pergeseran dinding orbita lateral ke arah medial dan posterior.
Tipe V             Tipe yang paling ekstrim, yaitu pergeseran mata ke arah inferior dengan penurunan volume orbita.

Dikutip dari kepustakaan 9

                        Vento dkk, mengajukan sistem klasifikasi OMENS dalam usaha untuk membuat suatu standar pelaporan antara berbagai pusat pengobatan. Akronim OMENS dirancang sesuai dengan 5 tempat utama terjadinya hemifacial microsomia, yaitu : O = Orbita (mata), M = Mandibula, E = Ear (telinga), N = Facial nervus (nervus facialis) dan S = Soft Tissue (jaringan lunak). Pembagian derajat pada mata berdasarkan ukuran dan posisi; pembagian mandibula berdasarkan klasifikasi di atas; kelainan telinga dibagi berdasarkan klasifikasi Meurmann; pembagian nervus facialis berdasarkan cabang mana yang terkena dan pembagian jaringan lunak berdasarkan derajat defisiensi muskuler dan subkutaneus.(5,9)
               Berikut adalah pembagian derajat pada mata berdasarkan ukuran dan posisi : (1)   
               Tipe 0                       Posisi dan ukuran mata normal.
Tipe 1              Ukuran mata tidak normal
Tipe 2              Posisi mata tidak normal
Tipe 3              Ukuran dan posisi mata tidak normal
Pembagian nervus fascialis berdasarkan cabang mana yang terkena : (1)
Tipe 0              Tidak ada keterlibatan nervus facialis
Tipe 1              Nervus facialis bagian atas ikut terlibat (percabangan temporal dan zygomatikus)
Tipe 2              Nervus facialis bagian bawah ikut terlibat (percabangan buccal, mandibula, dan servikal).
Tipe 3              Seluruh percabangan nervus facialis dipengaruhi.
Pembagian jaringan lunak berdasarkan derajat defisiensi muskuler dan subkutaneus: (1)
Tipe 0              Tidak ada defisiensi jaringan lunak dan otot yang nyata.
Tipe 1              Defisiensi subkutaneus/otot minimal.
Tipe 2              Moderate antara tipe 2 dan tipe 3
Tipe 3              Defisiensi jaringan lunak berat seperti subkutaneus dan hypoplasmia otot.

DIAGNOSIS
            Untuk mendiagnosis HFM dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang.
Castori dkk (2006) dipresentasikan kasus HFM didiagnosis secara prenatal dengan kelainan kongenital multipel dan sebelumnya ditinjau secara USG prenatal dilaporkan 20 kasus. (11)
            Tidak memerlukan pemeriksaan darah untuk dapat mendiagnosis HFM. Karena spektrum kerusakan yang luas, diagnosis seharusnya datang dari ahli yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam mendiagnosis kelainan craniofacial. CT scan dan X-rays wajah mungkin juga dapat memberikan diagnosis yang akurat. (12)
            Foto panoramik sangat baik untuk memperlihatkan struktur tulang mandibula dan kompleks maksilofasial. Hubungan antara mandibula dan maksila menuju basis cranii dapat di lihat dengan foto cephalometric lateral. Foro tengkorak frontal (PA) dapat digunakan untuk melihat derajat asimetri tulang wajah.(2)


Gambar: Tulang wajah pada anak umur 4 tahun dengan hemifacial microsomia kiri. CT scan 3 dimensi memperlihatkan hypoplasia, malformasi badan mandibula kiri, ramus dan kondilus (tipe 2A Mandibula). Arkus zygomatikus tidak komplit, maksila dan tulang temporal skuamosa kecil. (Dikutip dari kepustakaan 13)                   

A
B

Gambar :         A.Tulang temporal pada anak laki-laki 4 tahun dengan hemifacial microsomia kiri. CT Scan koronal menunjukkan tulang temporal kanan dengan maleus, cavum timpani, meatus acusticus eksternus dan pinna yang normal.
                                B. Tulang temporal kiri terlihat malformasi malleus dan incus. Pinna kecil dan mengalami malformasi. (Dikutip dari kepustakaan 13)
           
CT scan dapat digunakan untuk mengidentifikasi tiga besar gambaran craniofacial microsomia yang terdiri dari aurikula, mandibula dan hypoplasia maksila. Deformitas tulang mandibula yang nyata dapat terlihat. CT scan cranium dapat menyatakan hypoplasia dari cerebrum dan korpus kalosum sebagai hidrocephalus. (14)
B
      
A
   Gambar : A. Pasien dengan hemifacial microsomia (sisi kanan) memperlihatkan  asimetris wajah,     hypoplasia ipsilateral dari ramus mandibula, macrostomia dan microtia.
                    B. CT Scan resolusi tinggi hemifacial microsomia yang mengalami tuli sensorineural memperlihatkan Michel’s aplasia. Air cell mastoid pneumatisasi pada sisi kiri dan terlihat ossikula pada sisi kanan, aplasia total labirin pada sisi both (dikutip dari kepustakaan 15)

PENATALAKSANAAN                                                                                           
            Harus diketahui bahwa tidak ada program pengobatan khusus bagi anak-anak dengan HFM.Gambaran patologinya bervariasi dan faktor lainnya, seperti terapi sebelumnya, pertumbuhan dan perkembangan, harus diperhitungkan sebelum menyusun program pengobatan. (5,9)
            Koreksi bedah pada kasus deformitas unilateral adalah sesuatu yang menantang. Oleh karena itu, semua rencana terapi harus disusun sesuai dengan umur dan kebutuhan pasien secara individu. (5,9)
Di bawah 2 tahun
            Eksisi/ pengeluaran skin tag preaurikuler dan sisa kartilago seringkali memberi kepuasan bagi pasien, karena hal itu sudah menyingkirkan stigmata dari sindrom HFM. Makrostomia juga bisa dikoreksi dengan kommisuroplasti pada sisi wajah yang sakit. Pada pasien yang kebetulan terkena pula regio fronto-orbitalnya, yang ditandai dengan retrusio yang berat pada lempeng supraorbita dan tulang frontal, dapat dilakukan remodelling tulang fronto-orbital, yang dikombinasi dengan prosedur bedah craniofacial.(5,9)
 Usia 2-6 tahun
            Pada anak-anak yang mengalami pengurangan panjang vertikal ramus mandibula yang berat (Pruzansky II-III), dapat diperhitungkan teknik osteogenesis distraksi bila anak sudah mencapai umur paling kurang 2 tahun. Sudah cukup banyak pengalaman klinik mengenai distraksi mandibula untuk mendemonstrasikan bahwa teknik ini tidak hanya menambah panjang ramus, tapi juga mempertebal soft tissue dan otot-otot mastikasi pada sisi yang sakit. Perlahan-lahan proses alamiah dari distraksi menunjukkan insiden relaps dapat dicegah. Penelitian juga telah menunjukkan bahwa ramus/condylus yang didistraksi menjadi lebih baik anatominya dari segi ukuran, bentuk dan posisi. Pada anak dengan deformitas mandibula ringan seperti Pruzansky tipe I tidak direkomendasikan terapi bedah pada usia ini. (5,9)
Usia 6-14 tahun
            Usia ini adalah waktu untuk terapi ortodontis, termasuk terapi penggunaannya secara fungsional untuk melatih pertumbuhan dan erupsi dentoalveolaris di sisi yang sakit. Rekonstruksi telinga diusahakan pelaksanaannya pada usia 6 atau 7 tahun, tapi sering terlambat pada kasus-kasus yang berat karena munculnya kebutuhan-kebutuhan lain yang lebih mendesak. (5,9)
Usia diatas 14 tahun
            Pembedahan sering diindikasikan pada periode pematangan skeletal karena efek sisa/defisiensi yang diakibatkan oleh pertumbuhan dan perkembangan yang tidak adekuat pada sisi yang sakit, maloklusi residual, atau kegagalan pasien pada terapi sebelumnya. Pada titik ini, ketika pertumbuhan dan perkembangan craniofacial hampir lengkap, perlu dipertimbangkan prosedur-prosedur sebagai berikut : (5,9)
  1. Terbatasnya tulang yang bisa digunakan untuk graft tulang autogen pada tulang kepala yang mengalami defisit,
  2. Kombinasi antara osteotomi pada Le fort I, ramisectio dan genioplasti mandibula bilateral.
  3. Perbaikan mandibula bilateral pada pasien dengan micrognathia mandibula dengan derajat sedang hingga berat, dan
  4. Free flap mikrovaskuler untuk mempertebal jaringan lunak pada sisi wajah yang sakit.
     
Dikutip dari kepustakaan 9
DIAGNOSIS BANDING
            Hemifacial microsomia dapat di diagnosis banding dengan : (16)
  1. Treacher-Collins Syndrome
  2. Goldenhar Syndrome
  3. Branchio-Oto-Renal Syndrome

KOMPLIKASI
            Komplikasi spesifik yang dapat terjadi dalam proses distraksi mandibula antara lain (17)
Ø  Kegagalan mekanisme dari alat distraksi
Ø  Perlukaan pada folikel gigi yang sedang berkembang (misalnya osteotomi mandibula dan maksilla)
Ø  Perlukaan pada cabang-cabang nervus facialis (misalnya nervus alveolar inferior pada distraksi mandibula)
Ø  Infeksi yang ditimbulkan oleh alat-alat eksterna atau alat yang setengah tertanam.

PROGNOSIS
            Untuk mencapai hasil yang memuaskan, diperlukan koordinasi yang baik antara paramedis dan pasien. Teknik klinik dan perlengkapan diagnostik yang baik dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dengan HFM di usia muda. Semua aspek klinik harus dimaksimalkan untuk memberkan hasil yang optimal bagi pasien. Oleh karena itu, dengan tantangan yang bervariasi, kemampuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan HFM tidak dapat ditentukan.(2)

 DAFTAR PUSTAKA

1.      Wang, Russell R., Andres, Carl J. Hemifacial Microsomia and Treatment options for Auricular Replacement : A Review of the literature, available at : www.dentistry.ucsf.edu/cranio.htm,  last updated : Juli 2007
2.      Monahan, Richard., Seder, Karen., Patel,Pravin., Alder, Marden., Grud, Stephen., O’Gara, Mary. Hemifacial microsomia, Etiology, diagnosis and treatment, available at : www.americandentalassociation.com, last updated : October 2001.
3.      Fearon, Jeffrey. A Guide To Understanding Hemifacial Microsomia, available at : www.ccakids.com, last updated : Juni 1993
4.      Carvalho,Gerard J., Song, Caroline S.,Vargervik, Karin., Lalwani, Anil K. Auditory and Facial Nerve Dysfunction in Patients With Hemifacial Microsomia, available at : www.archoto.com, last updated : Juli 23, 2007.
5.      McCarthy, Joseph G., Craniofacial Microsomia, available at : www.craniocentral.com,  last updated : 1997
6.      Grabb, William C., Smith, James W., Some Anomalies of the Head and Neck in Plastic Surgery
7.      Faiz,Omar., Moffat, David., At a Glance Series Anatomi, Erlangga : Jakarta,2002
8.      Luhulima, Jan W., Osteo dalam Anatomi Systema Musculoskeletal, Jilid 1, Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran UNHAS, Makassar, 2004, hal : 25 – 44.
9.      Grabb and Smith, Craniofacial Microsomia in Grabb and Smith’s Plastic Surgery, 5th Ed., Editors : Sherrell J. Aston, Robert W. Beasley, Charles H.M. Thorne, Lippncott-Raven Publishers, Philadelphia, 1997, page : 305-12.
10.  Bauer,Bruce S., Reconstruction of the external ear in microtia, available at : www.childsdoc.org/fall96/bauer.com, last update1996.
11.   Anonymous, Hemifacial Microsomia, available at : www.omim.com, last updated : 2007.
12.  Anonymous, Hemifacial Microsomia, available at : www. weillcornell neurologycalsurgery.com, last updated : December 02, 2003.
13.  Sze, Raymond W., Paladin, Angelisa M., Lee, Samson., Cunningham, Michael L. Hemifacial Microsomia In Pediatric Patients : Assymetric Abnormal  Development of the First and Second Brnchial Arches, available at : www.Americanjournalofroentgenology.com, last updated : 2002
14.  DN, Upadhyaya., V,Upadhyana., SS,Sarkar., Unilateral Craniofacial Microsomia, Volume 17, page 17-19,  available at : http://www.ijri.org/text.asp?2007/17/1/17/32694, last updated : 2007
15.  Kalsotra,P., Chowdary, A., Bhagat,DR., Parihar,SS., Prabhakar,R. Craniofacial Microsomia, volume 8, available at : www.craniofacialcenter.com,  last updated 2006.
16.  Anonymous, Hemifacial Microsomia, available at : www.handbookofgeneticcounseling.com, last updated : Juni 18, 2006.
17.  Patel, Pravin K., Craniofacial, Distraction Osteogenesis, available at : www.emedicine.com, last updated : June 28, 2006.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...