Rabu, 21 November 2012

Refarat Kasa Iodoform


Kasa Iodoform (Iodoform Gauze) Dapat Mengangkat Jaringan Nekrotik yang Berasal dari Luka Ulkus Decubitus Melalui Aktivitas Fibrinolitik

Kasa iodoform digunakan dalam praktek klinis untuk penatalaksanaan luka infeksi. Meskipun begitu, kefektifan dan mekanisme aksi kasa iodoform dalam mengangkat jaringan nekrotik masih belum diketahui. Oleh karena itu, kami membuat sebuah kasus kontrol dan penelitian biokimia untuk mengklarifikasi aktivitas farmakologis kasa iodoform. Sebuah penelitian klinis berhasil menunjukkan bahwa kasa iodoform lebih efektif dalam mengangkat jaringan nekrotik jika dibandingkan dengan obat oles konvensional. Lebih dari 60% luka yang diterapi dengan kasa iodoform mengalami debridasi dalam 2 minggu. Konsisten dengan observasi klinis, analisis biokimiawi berhasil menunjukkan perbedaan yang jelas pada protein cairan luka setelah mendapat terapi kasa iodoform yang dibandingkan dengan terapi kasa konvensional. Jumlah makroagregat kolagen tipe I pada luka yang diterapi dengan kasa iodoform mengalami penurunan yang drastis. Selain itu, kasa iodoform dan iodoform sendiri dapat melepaskan kalogen tipe I non-agregatif dari debris nekrotik secara in vitro. Jika digabungkan secara bersama-sama, maka kami menyimpulkan bahwa kasa iodoform dapat mengangkat jaringan nekrotik melalui aktivitas litik pada jaringan fibrosa kolagen.

Iodoform (tiiodomethane, CHI3) merupakan suatu kristal kuning atau bubuk kristal yang memiliki aroma menusuk. Menurut sejarah, Serulla pertama kali menemukan senyawa ini pada tahun 1822, dan pada tahun 1843, Dumas mengumumkan komposisi senyawa ini. Ada tahun 1880, iodoform pertama kali digunakan dalam praktek klinis oleh Bouchardat. Saat ini, iodoform gauze (IG)/kasa iodoform, yang terdiri atas iodoform dan kasa, digunakan sebagao disinfeksi, berdasarkan pengalaman bertahun-tahun dari para dokter. Iodoform, yang direduksi oleh cairan luka, akan menghambat aktivitas mikrobial jika digunakan secara topikal pada luka.

Debrideman merupakan hal yang esensial dalam mengatasi luka nekrotik, seperti ulkus pedis arterial atau venosa, ulkus dekubitus maupun luka bakar. Beberapa metode untuk debrideman luka antara lain adalah bedah eksisi pada jaringan nekrotik, penggunaan pembalut lembab secara berulang-ulang (kasa yang dibasahi dengan larutan salin), pembalut hidrokoloid atau semioklusif, dextranomer, gel intrakavitas, maupun preparat enzimatik. Debrideman bedah merupakan metode yang paling efektif, namun tindakan ini tidak dapat dilakukan pada orang tua karena faktor nyeri fisik dan stres mental. Oleh karena itu, debrideman kimia dengan menggunakan agen topikal menjadi hal yang sangat penting. 20 tahun yang lalu, ditemukan beberapa produk enzimatik untuk debrideman luka, seperti Elase (fibrinolisi//DNAse, Parke-Davis  Pharmaceuti-cal,  Hoofddorp,  Belanda)  dan  Novuxol  (collagenase, Knoll  Pharmaceutical,  Ludwigshafen,  Jerman). Namun semua produk itu tidak lagi digunakan karena sifatnya kurang stabil.

Pada tahap awal ulkus dekubitus, biasanya ditemukan jaringan nekrotik pada luka. Jaringan nekrotik pada luka ulkus dekubitus biasanya terdiri atas dermis, jaringan lemak, fascia, tendon dan ligamen, yang kaya akan matrik ekstraseluler kolagen, terutama kolagen tipe I. Karena terapi ulkus dekubitus harus diawali dengan debrideman, maka agen topikal biasanya digunakan pada tahapan tersebut, guna menghasilkan efek lisis pada jaringan kolagen.

Pada penelitian ini, kami mendemonstrasikan keefektivan dan mekanisme aksi IG melalui observasi retrospektif dan analisis biokimiawi. Dan kami kami menyimpulkan bahwa IG dapat mendebrisasi luka melalui aktivitas kolagenolisis.

BAHAN DAN METODE
Pengumpulan Data Luka
Penelitian ini dilakukan di National  Center  for  Geriatrics  and  Gerontology  Hospital, (NCGG,  Obu,  Japan). NCGG menyediakan layanan medis umum termasuk unit gawat darurat, dan kunjungan pasien di fasilitas ini mencapai 5000 pasien per tahun (lebih dari 90% pasien di fasilitas ini adalah orang tua, yang berusia di atas 65 tahun), dengan jumlah tempat tidur sebanyak 300 unit. Pasien yang mengalami ulkus dekubitus selalu ditangani oleh tim khusus sekurang-kurangnya satu kali dalam satu minggu.
Daftar pasien yang mengalami ulkus dekubitus dengan jaringan nekrotik diekstraksi dari database NCGG. Untuk membuat database khusus, semua pasien yang mengalami ulkus dekubitus, dicatat secara sistematik selama periode 2 tahun (dari Juni 2008 hingga Me1 2010). Presentasi pasien yang masuk dengan ulkus dekubitus pada periode itu berkisar antara 2,8 hingga 11%. Ukuran tiap ulkus dekubitus diukur dan difoto sekurang-kurangnya satu kali dalam seminggu. Tingkat kedalamam ulkus dekubitus ditentukan berdasarkan kriteria NPUAP (National Pressure Ulcer Advisory Panel).

Penelitian observasi retrospektif dilakukan dengan menggunakan kapasitas pembersihan luka sebagai indikator keluaran hasil klinis pada 60 pasien yang diterapi dengan IG atau terapi topikal konvensional selama dua tahun. Ukuran luka diukur sekurang-kurangnya satu kali satu minggu, dan area luka dihitung berdasarkan ukuran orang Jepang. Informasi klinis pasien terdiri atas data laboratorium untuk fungsi tiroid (5 pasien) dan data luka diambil dari rekam medis dan foto digital. Area jaringan nekrotik yang akan difoto, ditentukan secara acak, sesuai dengan data penelitian sebelumnya.  Sehingga, kami menentukan presentasi jaringan nekrotik dan ukuran luka melalui data fotografi dengan menggunakan UTHSCSA  imagetool  Ver3.0  (Department  of Dental  Diagnostic  Science  at  The  University  of  Texas  Health Science  Center,  TX,  U.S.A.)  dan  Photoshop  CS4  (Adobe  Systems Inc., CA, U.S.A.).

Selama masa observasi, kasa iodoform ((Tamagawa Eizai,  Tokyo,  Japan) ditempelkan dengan menggunakan pembalut polyurethane (Bioclusive:  Johnson  and  Johnson  Medical  Inc., Arlington,  TX,  U.S.A.). Terapi konvensional yang digunakana pada penelitian ini adalah krim sulfadiazine perak dan gula povidone-iodine. Agen topikal ini terdaftar pada panduan obat Jepang sebagai terapi ulkus dekibitus dan digunakan secara luas di Jepang untuk mengatasi ulkus dekubitus yang disertai jaringan nekrotik.

Analisis Statistik
Semua perbandingan dalam penelitian ini bersifat tidak berpasangan (unpaired) dan semua tes signifikansi statistik juga bersifat two-tailed. Variabel kontinyu dibandingkan dengan menggunakan Student’s t-test untuk variabel yang terdistribusi secara normal dan Mann-Whitney’s U-test untuk variabel yang tak terdistribusi secara normal. Uji chi-square atau Fisher exact test digunakan untuk membandingkan variabel kategorial. Kami melakukan analisis dengan menggunakan program statisik (JMP, version  8.0  for  Windows;  SAS  Institute  Inc.,  Cary,  NC, U.S.A.).  

Penelitian Biokimiawi dengan Menggunakan Protein Sulfat Luka
Semua sampel protein pada penelitian ini dikumpulkan secara rutin dari luka ulkus dekubitus di NCGG setelah mendapat persetujuan tertulis dari pasien. IG dan kasa konvensial (CG) yang mengandung cairan luka, disimpan pada suhu -80C. pada beberapa eksperimen, protein permukaan luka diambil melalui kontak singkat dengan IG. Protokol ini telah disetujui oleh Komite Etik NCGG dan telah sesuai dengan aturan etis pada Deklarasi Helsinki. Sampel yang diambil dari kasa pembalut yang telah terpasang pada luka selama dua hari berturut-turut sebelum terapi IG dimulai. Jaringan nekrotik dikumpulkan dari permukaan luka setelah disentuhkan dengan CG sesudah debrideman bedah yang tidak terlalu invasif. Kasa kemudian diekstraksi dengan menggunakan larutan Gdn 6 M (6M guanidine hydrochloride, 50 mM Tris Hcl, 1 mM phenylmethylsulfonyl fluoride,  1%  (v/v)  protease  inhibitor  cocktail  (Sigma),  pH  7.5) pada suhu 4°C selama 72 h, dan supernatant dikumpulkan  dengan menggunakan sentrifugasi padakecepatan 12000 rpm selama 10 menit. Yang menjadi standar pada penelitian ini adalah kolagen tipe I yang telah terdigesti oleh pepsin, yang berasal dari gelatin Nitta (Osaka,  Japan).

Filtrasi Gel, Sodium  Dodecyl  Sulfate-Polyacrylamide Gel  Electrophoresis  (SDS-PAGE)  dan Immunoblotting 
Sampel protein yang terurai dalam larutan 6 M   Gdn  dipisahkan melalui kromatografi sepharose  CL-2B  gel di bawah kondisi disosiasi yang telah dipaparkan sebelumnya. Fraksi yang dihasilkan dari proses tersebyut dikategorisasi menjadi fraksi dengan berat molekul tinggi (fraksi 28-34; H), fraksi berat molekuler sedang (fraksi 46-52; M) dan fraksi molekuler rendah (fraksi 62-68; L) seperti yang terlihat pada Gambar 1. Fraksi ini diimobilisasi dalam membran nitroselulosa dengan menggunakan dot blotting. Untuk Western blot, sampel protein dipresipitasi dengan menggunakan ethanol dan dicampurkan dengan acrylamide SDS-PAGE 7,5% di bawah kondisi non-reduksi seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Protein yang terpisah pada gel kemduian ditransfer ke dalam membran nitroselulosa (Bio-Rad, CA, USA). Membran dari dot blot atau Western blot kemudian diblok dengan menggunakan susu skim non-lemak 5% (Dako, Denmark) dalam larutan salin Tris-buffered yang mengandung Tween-20 0,1% (TBST) pada temperatur ruangan selama 1 jam, diikuti dengan inkubasi oleh inkubasi dengan menggunakan antibodi anti-kolagen tipe I, yang dapat mengenali rantai α1 (10 µg/mL, Abcam) dalam larutan TBST yang mengandung susu dan antibodi sekunder 2% (Dako). Blot dalam penelitian ini dibuat oleh ECL (GE Healthcare, Uppsala, Swedia). Sinyal yang ditangkap oleh analisis dot blot dihitung dengan menggunakan software Image J. latar belakangnya disubstraksi, dan densitas integritas masing-masing dot diukur. Standar deviasi rata-rata dihitung untuk tiap kelompok coba dalam tiga buah analisis independen, dan hasil analisis statistiknya diuraikan dalam bentuk analisis variasi, yang kemudian diikuti oleh sejumlah uji perbandingan untuk membedakan masing-masing kelompok uji.

Analisis in vitro dengan Menggunakan Luka yang Dilekati Oleh Debris
Untuk analisis in vitro, jaringan nekrotik (~100 mg) dicuci sebanyak tiga kali dengan menggunakan fosfat yang terbuffer oleh larutan salin (PBS) dan kemudian diinkubasi dengan IG (25 cm2) atau diinkubasi dengan kasa kontrol (25 cm2) dalam larutan PBS 3 ml pada suhu 37C selama 24 jam. Setelah inkubasi, kasa dan jaringan yang tidak larut dipisahkan dengan menggunakan sentrifugasi selama 3 menit dalam 3000xg. Supernatan yang telah terkumpul dan jaringan residual tak larut serta kasa diekstraksi dengan menggunakan larutan Gdn 6 M 3 ml pada suhu 4C selama 72 jam. Pada beberapa eksperimen, laurtan iodoform dan PBS tunggal juga digunakan untuk diinkubasi bersama jaringan nekrotik. Larutan iodoform dipersiapkan dengan menggunakan inkubasi IG (25 cm2) bersama dengan larutan PBS 3 ml pada suhu 4C selama 1 jam.

HASIL
Kasus-kasus Luka Ulkus Dekubitus disertai Jaringan Nekrotik yang Diterapi dengan Kasa Iodoform
Gambar 1. Tampilan klinis luka ulkus dekubitus yang diterapi dengan menggunakan Kasa Iodoform
A, ulkus dekubitus sakralis tingkat IV pada pria berusia 90 tahun yang mengalami infark otak, jaringan nekrotik pada gambar tersebut diambil sebelum mendapat terapi kasa iodoform.
B, dua minggu kemudian, jaringan nekrotik telah terangkat tanpa adanya kerusakan yang signifikan pada jaringan granulasi
C. Ulkus dekubitus sakralis tingkat III pada pria berusia 68 tahun sebelum mendapat terapi kasa iodoform.
D. Tampilan luka setelah mendapat terapi kasa iodoform selama dua minggu.
Kumpulan temuan klinis ulkus dekubitus yang diterapi dengan IG dapat dilihat pada Gambar 1. Pada kedua kasus tersebut, jaringan nekrotik berhasil terangkat oleh terapi IG dalam waktu 2 minggu. Jaringan granulasi tampak berwarna merah jambu, hal tersebut menunjukkan adanya pembentukan banyak vaskularisasi.

Kasa iodoform lebih efisien dalam mengangkat jaringan nekrotik jika dibandingkan dengan terapi konvensional
Untuk memperjelas efek klinis IG, maka dilakukan analisis 60 luka yang dialami oleh 53 pasien. Tiga puluh buah luka diterapi dengan menggunakan krim konvensional sedangkan tiga puluh luka sisanya mendapat terapi IG. Rincian informasinya dapat dilihat pada Tabel 1. Usia rata-rata pasien pada penelitian ini adalah 80 tahun (kisaran, 44-98 tahun). Lebih dari separuh pasien (66%) mendapat perawatan dari perawat di rumah sebelum masuk rumah sakit. Kebanyakan pasien memiliki sekurang-kurangnya satu komorbid, seperti penyakit kardiovaskuler, demensia, atau diabetes mellitus. Tidak ada perbedaan yang berarti dalam kondisi komorbid di antara kelompok yang diuji pada penelitian ini. Pada kelompok yang mendapat terapi IG, ukuran rata-rata ulkusnya dua kali lebih luas jika dibandingkan dengan luka pada kelompok yang mendapat terapi konvensional. Selain itu, pasien yang mendapat terapi IG juga memiliki kadar serum albumin dan hemoglobin yang jauh lebih rendah. Selain faktor-faktor tersebut, tidak ada lagi perbedaan variabel yang signifikan di antara kedua kelompok yang diuji.
Tabel 1. Karakteristik Pasien yang Mendapat Terapi Kasa Iodoform atau Terapi Konvensional pada Penelitian ini
Rincian perbedaan karakter luka antara pasien yang mendapat atau tidak mendapat IG dapat dilihat pada Tabel 2. Terapi krim konvensional yang digunakan pada penelitian ini sesuai dengan terapi krim standar yang digunakan di rumah sakit, yakni sulfadiazine perak (80%), povidone-iodine dan gula (20%). Lamanya terapi untuk IG adalah 14,1 ± 9,7 hari (6-40 hari) sedangkan untuk terapi konvensional adalah  29,0 ± 24,5 hari (7-100 hari), (p=0,002). Waktu debribedeman luka pada pasien IG jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan pasien yang mendapat terapi konvensional. (Gambar 2).
Lebih dari 60% pasien yang mendapat terapi IG berhasil mengalami debrideman komplit dalam waktu 2 minggu (p<0 3="3" ambar="ambar" span="span">

Kadar triiodothyronine (T3), thyroxine (T4), dan thyroid stimulating hormone (TSH) rata-rata pada penelitian ini adalah 2,09 (S.D 0,3), 1,31 (S.D 0,09) dan 2,94 (S.D 1,20), atau dengan arti lain, semuanya dalam batas normal. Efek samping lokal atau sistemik tidak ditemukan pada dua kelompok yang diteliti.
Tabel 2. Karakteristik Luka Pada Penelitian Ini

Kolagen Tipe I Pada Cairan Luka, Mengalami Disagregasi Setelah Mendapat Terapi Kasa Iodoform

Untuk memperjelas mekanisme kerja IG pada luka, maka protein luka yang melekat pada kasa konvensional dan IG dianalisis dengan menggunakan pemeriksaan biokimiawi. Profil filtrasi gel molekul yang melekat pada IG, berbeda dengan yang melekat pada CG. Pada penelitian ini, CG dan IG digunakan secara berturut-turut pada luka yang sama (Gambar 4A, B). Jumlah protein yang menumpuk di sekitar luka pada IG, jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan CG (Gambar 4A, B). Jaringan nekrotik sebagian besar tersusun atas kolagen tipe I, dan pada ekstrak CG, fraksi sisanya masih banyak mengandung molekul tersebut. Sedangkan pada ekstrak IG, volume fraksi sisanya (H: fraksi 25-35) mendekati negatif ketika direaksikan dengan mAb kolagen tipe I (Gambar 4A). Meskipun begitu, fraksi sedang (M: fraksi 45-55) dan fraksi rendah (L: fraksi 60-70) dari ekstrak IG, bereaksi secara positif dengan antibodi (Gambar 4A). Meskipun hanya ada satu gambar kromatogram yang ditampilkan pada artikel ini, namun ada beberapa eksperimen dari luka-luka lain (n=3) yang menunjukkan bahwa hasil tersebut dapat direproduksi.

Intensitas sinyal untuk kolagen tipe I pada fraksi H yang berasal dari beberapa sampel lain telah menunjukkan adanya penurunan yang signifikan pada ekstrak IG (Gambar 4B). Semua komposisi molekuler pada kolagen luka yang dianalisis dengan Western blotting diperbandingkan dengan standar kolagen tipe I yang telah terdigesti oleh pepsin. Semua spesies kolagen tipe I yang berhasil diobservasi antara lain monomer (alfa1), dimer (beta1), trimer (gamma1) (Gambar 4C, tanda panah). Spesies kolagen tipe I secara konstan terdeteksi tiap kali terapi dilakukan (Gambar 4C). Dengan menggunakan analisis Western blot pada protein permukaan luka, ditemukan fakta bahwa jumlah kolagen tipe I non-agregatif pada luka yang diterapi dengan IG jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan luka yang mendapat terapi dengan CG (Gambar 4D). Selain itu, produk degradatif dari kolagen tipe I yang diamati pada penelitian ini, memiliki berat molekul 50 kDa, seperti pada penelitian sebelumnya.

Kasa Iodoform dapat Melepaskan Molekul Kolagen Tipe I yang Lebih Kecil Saat Melekat Pada Debris Luka

Selanjutnya, kami melakukan pengujian untuk memastikan bahwa molekul kolagen tipe I berukuran kecil tersebut benar-benar dilepaskan dari jaringan nekrotik akibat dari efek langsung IG secara in vitro. Debris jaringan nekrotik diinkubasi dengan menggunakan IG atau CG secara in vitro, lalu diekstraksi dengan menggunakan  6 M guanidine  hydrochloride. Pada kondisi disosiatif, dilakukan filtrasi gel pada ekstrak jaringan yang telah diinkubasi. Dan kami menemukan bahwa jaringan yang diinkubasi dengan CG, mengandung lebih banyak makromolekul kolagen tipe I, sedangkan jaringan yang di pre-inkubasi dengan IG hanya mengandung molekul kolagen tipe I berukuran sedang dan rendah (Gambar 5A). Hasil ini mengindikasikan adanya aktivitas litik IG terhadap serabut kolagen, dan hal ini konsisten dengan data yang berasal dari kasa yang diperoleh dari permukaan luka. Analisis lebih lanjut dengan menggunakan Western blotting juga menunjukkan bahwa kolagen tipe I yang telah terlepas justru melekat dengan sendirinya pada IG, dan tidak ada sama sekali fraksi terlarut pada sampel tersebut (Gambar 5B, C). Ketika debris jaringan nekrotik telah diinkubasi dengan larutan iodoform saja, (lihat Bahan dan Metode), maka kolagen tipe I non-agregatif justru dilepaskan ke dalam larutan (Gambar 5D).

PEMBAHASAN

Pada penelitian ini, kami berhasil menemukan bahwa terapi IG cukup efektif untuk mengatasi ulkus dekubitus yang dalam pada tahap awal. Penelitian kasus terkontrol ini dapat menunjukkan bahwa debrideman yang dilakukan oleh IG jauh lebih cepat bula dibandingkan dengan terapi konvensional yang selama ini digunakan di Jepang. Selain itu, kebanyakan luka yang kami amati pada penelitian ini dapat dibersihkan oleh IG tanpa adanya efek samping. Obsevasi klinis pada penelitian ini menunjukkan bahwa IG dapat digunakan untuk membersihkan debris dari luka. Meskipun masih perlu percobaan acak terkontrol untuk mengujinya, namun akan sulit melakukan penelitian macam itu dalam bentuk penelitian buta ganda karena hingga saat ini jenis penelitian yang mengambil tema seperti itu masih sangat jarang, selain itu ada resiko infeksi tambahan jika hal seperti itu dilakukan. Sehingga untuk mendukung penelitian ini, kami melakukan penelitian biokimiawi.
Terapi belatung (maggot) sudah pernah diuji untuk  debrideman ulkus kronik, namun karena faktor biaya dan ketidaknyamanan, maka terapi tersebut tidak lagi digunakan. Selain itu, asuransi kesehatan di Jepang, tidak menanggung biaya terapi seperti itu. Meskipun saat ini sudah banyak debrideman enzimatik yang menggunakan collagenase, namun produk semacam itu belum tersedia di Jepang. Ada juga jenois krim topikal dengan emulsi yang dapat mempromosikan otolisis jaringan nekrotik, namun cara kerja produk tersebut cukup lambat. Selain itu, otolisis terkadang dapat memberikan komplikasi berupa infeksi jaringan lunak. Karena alasan tersebut, maka kita membutuhkan suatu terapi topikal yang efektif dalam mengangkat jaringan nekrotik secara praktis. Oleh sebab itu, dengan mempertimbangkan faktor ekonomi dan kepraktisan, maka kami merekomendasikan IG, yang juga tersedia di Jepang, sebagai terapi topikal untuk mengangkat jaringan nekrotik pada luka.

Pada penelitian ini, kami tidak menemukan satu pun efek samping, dan hal tersebut tercermin dari hasil pemeriksaan fisis dan analisis darah rutin. Ada beberapa laporan kasus yang menunjukkan adanya peningkatan kadar iodium plasma akibat intoksikasi iodoform. Selain itu, iodine sendiri dapat menyebabkan mual serta disfungsi hati dan ginjal, juga beberapa gangguan lainnya. Dosis maksimal iodine yang dapat ditoleransi tubuh adalah 2 gram. Pada penelitian kami, dosis maksimum iodoform yang digunakan adalah 0,33 gram.

Analisis biokimiawi pada protein permukaan luka berhasil mengkonfirmasi penelitian klinis yang kami lakukan. Pada analisis tersebut, ditemukan bahwa penggunaan IG dapat menurunkan ukuran makromolekul yang mengandung kolagen tipe I pada protein permukaan luka. Kolagen tipe I akan bergabung menjadi serat kolagen dalam jaringan ikat, jaringan nekrotik serta otot dan fascia. Penelitian histopatologis juga melaporkan adanya degenarasi jaringan kolagen pada luka ulkus dekubitus. Pada metode kami, penggunaan filtrasi gel dalam kondisi disosiatif membuat kami dapat menganalisis makromolekul yang mengandung kolagen yang tidak bisa memasuki gel SDS-PAGE. Untuk pertama kalinya, kami berhasil menunjukkan efek debrideman melalui analisis biokimiawi pada kolagen tipe I yang ada di luka.

Efek farmakologis IG juga diuji melalui analisis in vitro. Inkubasi debris nekrotik dengan menggunakan IG, akan menghasilkan kolagen tipe I yang berukuran lebih kecil. Yang menarik adalah mayoritas molekul kolagen dapat melekatkan diri pada IG. Meskipun hingga saat ini mekanisme pelepasan kolagen tipe I oleh IG masih belum jelas, namun banyak yang menduga bahwa aktivasi sejumlah enzim degradasi matriks merupakan mekanisme utama yang berperan dalam proses tersebut. Karena pemeriksaan ini dilakukan pada jaringan nekrotik yang telah dicuci dengan PBS, maka kemungkinan besar, efek anti-bakterial IG bukanlah mekanisme utama yang berperan dalam efek kolagenolitik dari IG. Fibrinolisis kolagen in vitro bisa menjadi alat yang tepat untuk pengujian efek farmakokinetika pada agen topikal.

Secara umum, tingkat keefektifan dan mekanisme aksi IG telah memberikan pemahaman baru mengenai prosedur debrideman kimiawi pada penanganan tahap awal ulkus dekubitus. Penggunaan IG secar tepat akan mempercepat proses penyembuhan luka pada ulkus dekubitus yang disertai dengan jaringan nekrotik melalui aktivitas fibrinolitik kolagen.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...