Rabu, 26 Desember 2012

Director

Saya hanya tidak mengerti tentang kehidupan yang rumit. Jadi maaf, kalau saya tidak sensitif.
Itu kalimat terakhir yang kuucapkan pada seorang kenalan yang kutemui kemarin.
Kenalan yang gila.
Saya hanya mengenalnya sebagai seorang adik kelas yang jalan hidupnya lebih rumit dari rubik 200x200, lebih dramatis dari sinetron yang ditayangkan tv indonesia, lebih horor dari film halowen.
Semua hal peristiwa sehari-sehari yang tampak sepele bisa jadi luar biasa jika dia yang menjalaninya.
Saya sudah beberapa kali menyaksikan operasi rekonstruksi tangan yang putus. Sebagai observer, saya hanya mengetahui bahwa itu operasi yang rumit dan semua operasi yang kulihat berlangsung hening. Hanya suara operator yang menginstruksikan sesuatu dan monitor yang kudengar, kadang-kadang, asisten operator dan dokter anestesi juga bersuara, tapi untuk hal-hal yang urgen saja. Tapi begitu adik kelas itu yang menceritakan pengalamannya mengikuti operasi rekonstruksi, semuanya jadi berbeda. Ketika dia bercerita,
saya merasa terisap dalam bioskop yang menampilkan film aksion campur drama. Hingga saya bertanya pada diriku sendiri, apakah selama ini saya tidak pernah memperhatikan jalannya operasi ataukah justru adik kelasku yang salah masuk ruang operasi? Mungkin saja dia bukan masuk ruang operasi, tapi ruang pembuatan film Lord of The Rings.

Untuk memastikan siapa yang waras, saya pun bertanya ke teman-teman lain yang pernah masuk ruang operasi rekonstruksi. Bertanya tentang kesan dan pengalaman mereka. Jawaban mereka, nyaris sama dengan yang kualami. Untunglah, saya masuk dalam golongan mayoritas. Berarti saya masih waras. Biarpun mayoritas tidak selamanya benar, tapi saya yakin untuk saat ini, mayoritas pasti benar.

Saya pun berkesimpulan bahwa adik kelasku sudah tidak waras atau dia memang berbakat jadi sutradara.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...