Minggu, 29 Juli 2012

A

Kita semua mengerti bahwa dunia di luar sana merupakan tempat yang kompetitif dan terkadang sangat kejam. Sejak masih TK hingga kuliah, atmosfer seperti itu telah diajarkan oleh para pendidik kita. Mereka menentukan ke-brilian-an seorang anak hanya berdasarkan nilai-nilai akademik. Ini mungkin terdengar basi bagi kebanyakan orang, terutama bagi mereka yang sudah sering membaca mengenai perdebatan mengenai, mana yang lebih hebat, orang yang tidak sekolah atau yang sekolah. Namun topik seperti ini masih relevan dengan konteks kekinian.

Saya melihat banyak sekali mahasiswa yang benar-benar berorientasi pada nilai yang diberikan oleh dosen. Sehingga beberapa oknum rela melakukan apapun demi mendapatkan nilai yang bagus, bahkan kabarnya, ada yang sampai rela menjual diri pada dosen. Beberapa orang lainnya, merasa sangat bangga ketika mendapat nilai A dari dosen, sehingga mereka merasa dirinya adalah pusat perputaran dunia, dan tidak ada lagi manusia yang lebih hebat dari mereka. Padahal nilai yang mereka dapatkan itu tidak lebih dari kumpulan garis-garis di atas kertas, tidak bernilai apa-apa bagi kemaslahatan umat. Jadi kenapa mi kalau ko dapat A, ces? Jadi kojago mi itu?


Cepat atau Lambat Kamu Akan Merindukanku

Kita berdua sering bercakap. Tapi tak ada satu pun yang dapat ku mengerti dari percakapan-percakapan itu. Menurutku, itu hanyalah percakapan nonsense yang tidak mungkin masuk dalam memori common sense-ku. Saya heran, kenapa kau bisa mengingat semua percakapan-percakapan itu. Tiap kata, jeda, dan perasaan yang ikut tersedot dalam tiap percakapan itu selalu kau ulang-ulang. Di mana sisi menariknya, pikirku.

Terus terang, saya tidak bisa mengingat apapun yang kau atau diriku bicarakan saat itu. Bahkan tempat dan waktunya pun nyaris sirna dari ingatanku, hanya beberapa potong foto yang tersimpan dalam kartu memori ponsel, yang bisa membuatku ingat.

Kau bilang, saat itu saya membicarakan suatu teori rumit tentang keadilan hidup hingga membuatmu merasa bahwa semua hal yang kau telah percayai selama ini, ternyata salah. Menurutku, itu berlebihan. Karena saya tidak pernah tahu tentang teori-teori seperti itu. Mana mungkin saya bisa membicarakan hal yang saya sendiri tidak mengetahuinya.

Saat saya bilang, bahwa semua percakapan itu hanyalah mimpi dan halusinasimu, serta foto-foto yang ada di ponselmu adalah rekayasa belaka, kamu justru marah padaku, dan berlalu tanpa kata. Hingga saat ini kamu tidak pernah lagi terlihat, entah di mana dirimu kini.

Selasa, 17 Juli 2012

Berlebihan Menganggap Diri

Saya memang termasuk orang yang berlebih-lebihan dalam menganggap diri sendiri, dengan kadar yang hanya sekitar tujuh tingkat di bawah rasa arogansi. Namun dengan kadar sejauh itu saja, beberapa orang di sekitar justru sudah menganggap saya sebagai manusia yang arogannya bukan main. Well, itu adalah satu jenis relativitas dalam kehidupan. Tidak perlu menjelaskan kepada mereka bahwa kita hanya masuk kategori berlebih-lebihan, bukan arogan atau sombong. Karena saya yakin, mereka tidak pernah mengenal pengkategorian seperti itu. Yang mereka tahu di du

Minggu, 15 Juli 2012

Mere Mere Mere Blabbering

Mereka bilang cinta itu tidak logis. Tidak sejalan dengan isi pikiran orang-orang yang waras. Tapi saya tidak pernah percaya itu. Hanya karena seorang wanita cantik mencintai pria yang jelek, itu tidak menjadikan wanita tersebut sebagai mahluk yang kurang logis atau tidak waras. Logis itu relatif, tergantung pada apa dan siapa yang menggunakannya.

Karena setiap orang memiliki jalan berpikir yang berbeda.

Sabtu, 14 Juli 2012

Spammer yang Kuno

Dari dulu sampai sekarang, spam di email selalu saja merajalela. Kalau dulu saya tidak sempat membaca-baca isi pesan yang mereka kirimkan karena jariku selalu lebih lincah menekan pilihan "hapus spam".

Namun akhir-akhir ini, saya mulai melihat-lihat apa isi pesan para spammer padaku.

Ada dua jenis spam yang sering masuk di emailku. Yang pertama adalah tawaran iklan obat kuat dari para spammers. Seandainya saja ada obat kuat yang bisa membuat kita sekuat Superman, saya mungkin mau membelinya. Sayangnya, obat yang para spammer tawarkan hanya bisa memperkuat sepotong otot yang berada di balik celana. Viagra, Cialis, Levitra dan kawan-kawan sejenisnya yang namanya aneh-aneh.  Bagi yang merasa membutuhkannya, silahkan hubungi para spammer.

Jenis spam yang kedua adalah spam yang berasal dari orang-orang Afrika. Heran aku, mengapa hampir semua spammer suka sekali memakai identitas orang Afrika untuk mengirim pesan sampah, padahal jelas-jelas email mereka berakhiran dengan domain .jp, .nz dan domain-domain lain yang bukan dari Afrika. Kreatif sekali cara orang yang ngaku Afrika ini dalam membuat email spam. Biasanya mereka bikin skenario cerita yang panjang dan ngakunya pejuang militan lah, istri konglomerat lah, sampai mantan menteri. Intinya sih, mereka ingin dikirimkan uang dan agar kita mau membuka attachment yang mereka kirimkan. Memangnya orang bodoh macam mana yang mau melakukan hal seperti itu? (Generalisasi macam ini sebenarnya berbahaya)

Kamis, 12 Juli 2012

Zee Avi Lagi

Saya merasa, ada beberapa lagu yang sebaiknya didengarkan sendiri, tidak perlu ditampilkan secara live untuk orang banyak.
Salah satunya adalah lagu Zee Avi yang ini Siboh Kitak Nangis. Untuk orang Indonesia seperti saya, lirik-lirik yang tersampaikan pada lagu ini terdengar aneh dan lucu kalau dibaca secara lurus. Namun cara Zee Avi membawakan lagu ini membuat kesan aneh dan lucu itu sirna seketika.



Mungkin benar apa kata orang, musik adalah bahasa yang universal. Terkadang kita tidak perlu makna atau pun pemahaman pada lirik untuk menikmatinya. Yang harus kita lakukan hanyalah merasakannya.

Lupa Itu yang Lain

Saya sudah lupa bagaimana rasanya terlibat dalam hiruk pikuk penyambutan mahasiswa baru, entah itu sebagai pendatang maupun penyambutnya. Saya sudah lupa bagaimana asyiknya terlibat dalam perdebatan tentang kemahasiswaan. Saya juga sudah lupa dengan rasa rindu pulang kampung, ketika akhir semester genap telah menjelang. Saya benar-benar sudah lupa dengan semua perasaan menyenangkan seperti itu.
Ada seseorang yang pernah bilang kalau dilupakan adalah hal yang paling menyakitkan. Tapi saya justru merasa bahwa melupakan hal-hal yang menyenangkan justru lebih menyakitkan.
Saya baru menyadari kelupaan itu ketika salah seorang teman pondokan bertanya,"tidak pulang kampung?"
Saya baru menyadari kelupaan itu ketika salah satu teman salah menelepon saya, dan menanyakan tentang konsep penerimaan mahasiswa baru, namun setelah berpanjang lebar bicara, teman itu baru menyadari kalau dia salah sambung. Hanya karena beda satu huruf dengan nama orang yang akan diteleponnya.

Ada yang bilang, lupa adalah salah satu cara untuk mengingat hal-hal baru. Sayangnya, itu tidak berlaku untuk saya. Lupa justru membuatku terkunci di suatu momen yang membuatku tidak bisa mundur ke masa lalu, ataupun maju ke masa depan. 

Senin, 09 Juli 2012

Kekaguman yang Sempit

Untuk orang-orang yang terlanjur kukagumi, saya tidak pernah ingin mengenal mereka lebih jauh, hingga harus mengetahui seluk beluk kehidupan pribadi mereka. Karena kekagumanku tidak pernah holistik, namun spesifik dan komplementer. Mengetahui kejahatan-kejahatan orang yang kukagumi justru bisa merusak segalanya.

Dengan kekaguman yang seperti itu, saya tidak pernah ingin terjebak dalam kompleks fanatisme yang sempit dan cenderung berlebih-lebihan. Namun orang lain selalu menilai hal itu sebagai suatu hipokritas yang plin-plan. Tapi itu tidak masalah. Terserah apapun pandangan orang lain, saya tidak mau berlebih-lebihan dalam mengagungkan manusia ataupun produk-produk buatan manusia.

Kalau pun orang atau sesuatu yang kukagumi itu terbukti bersalah, ya sudah, itu atau dia memang salah. Tidak perlu berkeras membela atau balik menyalahkan orang lain. Itu hanya membuang-buang waktu.



Zee Avi

Saya menemukannya ketika membaca postingan seseorang. Namanya Zee Avi, bukan nama asli. Dia orang Malaysia, negara yang selalu bertikai dengan Indonesia untuk hal-hal yang menurut saya sepele, namun menurut orang di luar sana begitu pelik hingga harus membawa-bawa persoalan nasionalisme, patriotisme, dan isme-isme lainnya. Tapi sudahlah, saya tidak mau berpanjang lebar mengenai pertikaian gengsi seperti itu. Saya yakin akan ada banyak orang yang menyalahkan cara berpikirku yang seperti ini, tapi apa peduliku pada mereka.

Lanjut mengenai Zee Avi. Menurut saya, dia merupakan salah satu penyanyi yang lumayan bagus untuk didengarkan. Tidak neko-neko dalam bermusik dan bernyanyi. Betul-betul sederhana. Tidak ada distorsi ataupun improvisasi yang mubazir. Apa adanya. Coba saja dengarkan "Kantoi" di bawah ini:



Sederhana. Ada juga lagu lain yang cukup menarik The Book Of Morris Johnson karena beat-nya lebih groovy. Namun yang menjadi favoritku adalah First of The Gang to Die. Lagu legendaris Morrisey tentang kehidupan jalanan dan konsekuensinya.info


Minggu, 08 Juli 2012

Bob Dylan Itu Berbahaya

Saya tahu seseorang yang suka sama Bob Dylan. Saking sukanya, dia selalu memposting segala hal yang berbau Bob Dylan di blognya. Karena obsesi berlebihan itu, maka saya menyebutnya sebagai penganut Dylanisme.
Bob Dylan. Sumber Wikipedia

Saya tidak tahu siapa itu Bob Dylan. Saya pikir dia itu rohaniwan, pendeta, profesor atau hal-hal yang menyerupai itu, profesi-profesi yang bisa mempengaruhi orang banyak. Tidak terlintas di pikiranku kalau dia itu selebritis. Karena namanya terlalu asing. Nanti setelah buka Wikipedia, baru saya sedikit tahu kalau ternyata Bob Dylan itu penyanyi bahkan kabarnya dia juga pernah main di beberapa buah film, entahlah, saya belum pernah nonton.

Mandiri

Salah satu masalah utama di dunia saat ini adalah orang-orang yang menghuninya kurang mandiri. Saya tidak mau mengelak dari tuduhan itu, karena saya juga termasuk dalam golongan orang-orang yang kurang mandiri. Kalau saya mandiri, saya pasti akan bikin blog di domain sendiri, tidak bakal numpang-numpang di domain blogger.com, saya akan bikin twitter sendiri, saya akan bikin facebook sendiri, saya akan bikin komputer sendiri, dan saya akan bikin protokol internet sendiri. Tapi untuk mandiri seperti itu, sangat mustahil dilakukan. Bill Gates saja, masih butuh pembantu untuk membersihkan kantor dan membuat software-nya. Kalau mandiri, mestinya dia lakukan semua itu sendiri.

Jadi tidak ada manusia yang betul-betul bisa mandiri di dunia ini. Kita semua butuh orang lain. Tapi butuh itu, ada batasannya. Hanya untuk melakukan hal-hal yang memang luar biasa peliknya. Kalau sampai situasi-situasi sepele kita masih butuh orang lain, bahkan tidak bisa lepas dari bantuan orang lain, apa bedanya kita dengan benalu dan cacing perut? 

Sabtu, 07 Juli 2012

SNMPTN

Ini tahun 2012. Hasil SNMPTN sudah diumumkan. Entah harus bersyukur atau tidak, karena adikku tidak berhasil mengikuti jejakku masuk di jurusan yang sama. Tapi itu tidak masalah. Cheer up untuk semua yang tidak lulus. Hidup tidak selebar lembar pengumuman SNMPTN, masih banyak lembar-lembar lain yang bisa dipijaki.

Dan untuk adikku yang akan masuk Unhas, selamat datang di kampus merah. KOFTE (Keep On Fighting Till the End).

Jumat, 06 Juli 2012

Publisher.co.id Sedang Dalam Pengembangan

Pernah dapat undangan kerjasama dari publisher.co.id? Bulan Januari lalu, saya mendapat email dari salah satu staff (atau pemilik) publisher.co.id. Saya langsung terima saja tawaran kerjasamanya. Karena persyaratannya tidak neko-neko. Setelah mendaftar, saya justru baru penasaran, publisher.co.id itu situs apaan ya? Pas kutengok........ngek....situs sedang dalam pengembangan. Sepertinya saya baru saja tertipu. Tapi mau diapa mi, sudah terlanjur biodataku masuk database mereka. Entah mau diapakan itu.

Tapi bulan Mei baru-baru ini, publisher.co.id kirim email lagi. Isinya permintaan pasang artikel tentang jual rumah. Cuma disuruh pasang saja, ndak ada syarat lain. Minggu depannya, dikirimi lagi email mengenai pembayaran. Ternyata mereka serius bayarnya. Pembayaran langsung dikirim melalui rekening bank.

Tapi setelah itu, tak ada lagi kabar dari publisher.co.id.

Kamis, 05 Juli 2012

Menjadi Manusia

Kita terlalu sibuk mencari makna. Sampai lupa bahwa hidup ini harus dijalani dan dibiarkan mengalir hingga mencapai samudera yang bernama mati. Kita mencari makna hanya untuk atribut-atribut kecil yang disebut dengan perbedaan, unik, istimewa. Padahal, atribut-atribut seperti itu justru tidak bermakna sama sekali. Memangnya kenapa kalau kita punya gelar berlapis-lapis di depan dan belakang nama? Memangnya kenapa kalau kita memiliki uang yang jumlahnya tidak mampu tertampung oleh Gelora Bung Karno? Memangnya kenapa kalau kita selalu bisa menjadikan orang lain sebagai budak hasrat? Semua hal itu tidak bermakna apa-apa selama benda yang keluar dari lubang belakang badanmu masih berwarna kuning dan memancarkan aroma yang sama dengan gelandangan di bawah Fly Over Jakarta.

Tidak ada yang istimewa dengan menjadi manusia. Tidak ada maknanya sama sekali. Tidak perlu berlebih-lebihan menyanjung manusia.

Juli

Juliana Rumangkitan, lahir bulan Maret. Julius Mardinata, lahir bulan Desember. Fatmawati Yuliani, lahir bulan September.
Juli tidak selamanya berarti Juli. Itu hanyalah sebuah kata. Tidak perlu makna untuk menyebutnya.

Minggu, 01 Juli 2012

Anak S-E-N

Apa ada yang kenal dengan frase itu? Sebuah frase yang merupakan nama seseorang. Memang kedengaran aneh dan seperti tanpa makna. Tapi itu memang nama orang. Nama seorang penulis novel paling absurd yang pernah saya baca.

Setelah Tujuh Wanita Menamparku. Istana Selalu Menghadap ke Timur. Pernah dengar judul novel seperti itu?

Wajar kalau belum pernah dengar. Karena dua novel itu bukanlah novel yang populer seperti Supernova, Ayat-ayat Cinta, atau pun Laskar Pelangi.


Kalau ada yang kenal dan tahu alamat rumah, email, FB, blog, ataupun Twitter Anak S-E-N, tolong beritahu diriku. Saya ingin menyampaikan rasa terimakasih padanya karena telah membuat sebuah novel yang absurd.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...