Selasa, 22 Januari 2013

Aspek K3 Dalam Pengelolaan Limbah Cair Di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar


I.                   PENDAHULUAN
Rumah sakit dan institusi kesehatan lain adalah sebuah bentuk industri jasa yang tidak berbeda dengan industri barang. Komponen manusia, mesin, dan peralatan serta energi merupakan aset industri yang akan menentukan tujuan perusahaan.  Proses  dalam  rumah  sakit  dan  institusi  kesehatan  lain  sangat kompleks bagi dihasilkannya keluaran (output) yang memuaskan dan tentunya dari proses kerja yang sehat dan selamat.
Rumah sakit merupakan pelayanan kesehatan terhadap individu, pasien dan masyarakat dengan inti pelayanan medik baik pencegahan, pemeliharaan, pengobatan dan penyembuhan yang diproses secara terpadu agar mencapai pelayanan kesehatan paripurna.
Disamping kegiatan pelayanan kesehatan untuk penyembuhan pasien, rumah sakit juga menjadi media pemaparan dan atau penularan penyakit bagi para pasien, petugas, pengunjung maupun masyarakat sekitar yang tinggal dekat rumah sakit yang disebabkan oleh agent (komponen penyebab penyakit) yang terdapat dilingkungan rumah sakit. Rumah sakit juga menghasilkan sampah atau limbah yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, baik lingkungan rumah sakit itu sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, didalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan rumah sakit perlu menerapkan upayanya untuk meniadakan atau mengurangi sekecil mungkin dampak negatif.









II.                TUJUAN
a.       Tujuan Umum

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui cara pengolahan limbah cair di RSU Ibnu Sina Makassar.
b.      Tujuan Khusus
1.      Mengetahui cara pengolahan limbah cair Rumah Sakit Ibnu Sina pada tahap pretreatment
2.      Mengetahui cara pengolahan limbah cair Rumah Sakit Ibnu Sina pada tahap primary treatment
3.      Mengetahui cara pengolahan limbah cair Rumah Sakit Ibnu Sina pada tahap secondary treatment
4.      Mengetahui cara pengolahan limbah cair Rumah Sakit Ibnu Sina pada tahap tertiary tretament



3
 
III. TINJAUAN PUSTAKA

1.  Proses Pengolahan Air Limbah

a.  Limbah Cair

1)  Pengertian

Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat, cair dan gas. Limbah cair rumah sakit adalah semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari kegiatan rumah sakit yang kemungkinan mengandung mikroorganisme, bahan kimia beracun dan radioaktif yang berbahaya bagi keseshatan (Kepmenkes RI No. 1204/Menkes/SK/X/2004).
2)  Sumber limbah cair

Menurut jenisnya limbah cair dapat dibagi menjadi tiga golongan. Adapun sumber limbah dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Sumber Limbah menurut Jenisnya

Golongan
Contoh
Gologan ekskresi manusia
Golongan tindakan pelayanan
Golongan penunjang pelayanan
Dahak, air seni, tinja, darah
Sisa kumur, limbah cair pembersih alat medis Limbah cair dari instalasi gizi,limbah cair dari kendaraan,limbah cair dari laundry

Sumber : Sakti A. Siregar, 2005





















b.  Komponen Primer Air Limbah


Elemen biologis dalam sistem perairan berkaitan erat dengan komponen- komponen kimia. Pengetahuan mengenai komponen primer sangat penting untuk menganalisis elemen biologis dan menganalisis efek dari perubahan kualitas air. Komponen-komponen dalam perairan dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok yang disebut zat-zat organik yang terdiri dari senyawa organik alam dan senyawa organik sintetis, bahan-bahan anorganik dan gas. Komponen dasar dari senyawa organik adalah karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor dan sulfur. Tiga dari kelompok senyawa organik adalah protein, karbohidrat dan lipida. Protein merupakan bahan dasar dari sel-sel binatang, yakni sekitar 40-60%. Karakteristik yang diketahui dari protein adalah kandungan nitrogren didalamnya. Karbohidrat merupakan bahan penyusun utama dalam sel tumbuhan dan meliputi selulosa, serat kayu, gula dan tepung. Lipida tidak terlarut dalam air dan meliputi lemak, minyak, dan lilin. Zat-zat organik di dalam air dalam kadar yang rendah dan hanya sebagian kecil dari seluruh jumlah padatan yang  ada. Keberadaan senyawa organik di dalam air akan menimbulkan berbagai masalah, antara lain masalah rasa dan bau. Keberadaaan senyawa organik juga menyebabkan air memerlukan proses pengolahan air bersih yang lebih kompleks, menurunkan kandungan oksigen, serta menyebabkan terbentuknya substansi beracun (Sakti A. Siregar,
2005 : 15).

c.  Karakter Air Limbah

Karakteristik limbah cair dapat diketahui menurut sifat dan karakteristik kimia, biologis dan fisika. Studi karakteristik limbah  perlu dilakukan agar dapat







dipahami  sifat-sifat  tersebut  serta  konsentrasinya  dan  sejauh  mana  tingkat pencemaran  dapat  ditimbulkan  limbah  terhadap  lingkungan  (Perdana  Ginting,
2007 : 45). Dalam menentukan karakteristik limbah maka ada tiga jenis sifat yang harus diketahui yaitu:
1)  Sifat Fisik

a)  Padatan

Dalam limbah ditemukan zat padat yang   secara umum diklasifikasikan kedalam dua kelompok besar yaitu padatan terlarut dan padatan tersuspensi. Padatan tersuspensi terdiri dari partikel koloid dan partikel biasa. Jenis partikel dapat dibedakan berdasarkan diameternya. Jenis padatan terlarut maupun tersuspensi dapat bersifat organis dan anorganis tergantung dari mana sumber limbah. Disamping kedua jenis padatan ini adalagi padatan terendap karena mempunyai diameter yang lebih besar dan dalam keadaan tenang dalam beberapa waktu akan mengendap sendiri karena beratnya. Zat padat tersuspensi yang mengandung zat-zat organik pada umumnya terdiri dari protein, ganggang dan bakteri.
b)  Kekeruhan

Sifat keruh air dapat dilihat dengan mata secara langsung karena ada partikel koloidal yang terdiri dari tanah liat, sisa bahan-bahan, protein dan ganggang yang terdapat dalam limbah. Kekeruhan merupakan sifat optis larutan. Sifat keruh membuat hilang nilai estetikanya.







c)  Bau

Sifat bau limbah disebabkan karena zat-zat organik  yang telah berurai dalam    limbah             mengeluarkan        gas-gas              seperti    sulfida   atau   amoniak    yang menimbulkan penciuman tidak enak yang disebabkan adanya campuran dari nitrogen, sulfur dan fosfor yang berasal dari pembusukan protein yang dikandung limbah.  Timbulnya  bau     yang  diakibatkan  limbah  merupakan  suatu  indikator bahwa terjadi proses alamiah.
d)  Temperatur

Limbah     yang    mempunyai     temperatur     panas     akan     mengganggu pertumbuhan biota tertentu. Temperatur yang dikeluarkan suatu limbah cair harus merupakan temperatur alami. Suhu berfungsi memperlihatkan aktivitas kimiawi dan biologis. Pada suhu  tinggi pengentalan  cairan berkurang dan mengurangi sedimentasi. Tingkat zat oksidasi lebih besar daripada suhu tiggi dan pembusukan jarang terjadi pada suhu rendah.
e)  Warna

Warna  dalam  air  disebabkan  adanya  ion-ion  logam  besi  dan  mangan (secara alami), humus, plankton, tanaman air dan buangan. Warna berkaitan dengan kekeruhan dan dengan menghilangkan kekeruhan kelihatan warna nyata. Demikian pula warna dapat disebabkan oleh zat-zat terlarut dan zat tersuspensi. Warna menimbulkan pemandangan yang jelek dalam air limbah meskipun warna tidak menimbulkan racun.







2)  Sifat Kimia

Karakteristik kimia air limbah ditentukan oleh Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD) dan logam-logam berat yang terkandung dalam air limbah. Tes BOD dalam air limbah merupakan salah satu metode  yang  paling  banyak  digunakan  sampai  saat  ini.  Metode  pengukuran limbah dengan cara ini sebenarnya merupakan pengukuran tidak langsung dari
bahan organik. Pengujian dilakukan pada temperatur 200 C selama 5 hari. Kalau

disesuaikan dengan temperatur alami Indonesia maka seharusya pengukuran dapat dilakukan pada lebih kurang 300 C. Pengukuran dengan COD lebih singkat tetapi tidak mampu mengukur limbah yang dioksidasi secara biologis. Nilai-nilai COD selalu lebih tinggi dari nilai BOD.
a)   Biological Oxygen Demand (BOD)

Pemeriksaan BOD dalam limbah didasarkan atas reaksi oksidasi zat-zat organis  dengan  oksigen  dalam  air  dimana  proses  tersebut  dapat  berlangsung karena ada sejumlah bakteri. Diperhitungkan selama dua hari reaksi lebih dari sebagian reaksi  telah  tercapai.  BOD  adalah kebutuhan oksigen  bagi  sejumlah bakteri untuk menguraikan semua zat-zat organik yang terlarut maupun sebagian tersuspensi dalam air menjadi bahan organik yang lebih sederhana. Nilai ini hanya merupakan jumlah bahan organik yang dikonsumsi bakteri. Penguraian zat-zat organis ini terjadi secara alami. Dengan habisnya oksigen terkonsumsi membuat biota  lainnya  yang  membutuhkan  oksigen  menjadi  kekurangan  dan  akibatnya biota yang memerlukan oksigen ini tidak dapat hidup. Semakin tinggi angka BOD semakin sulit bagi makhluk air yang membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup.







b)   Chemical Oxygen Demand (COD)

Pengukuran kekuatan limbah dengan COD adalah bentuk lain pengukuran kebutuhan oksigen dalam air limbah. Metode ini lebih singkat waktuya dibandingkan dengan analisis BOD. Pengukuran ini menekankan kebutuhan oksigen akan kimia dimana  senyawa-senyawa yang diukur adalah bahan-bahan yang tidak dipecah secara biokimia. Adanya racun atau logam tertentu dalam limbah pertumbuhan bakteri akan terhalang dan pengukuran BOD menjadi tidak realistis. Untuk mengatasinya lebih tepat meggunakan analisis COD. COD adalah sejumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat anorganis dan organis               sebagaimana    pada   BOD.   Angka    COD   merupakan    ukuran    bagi pencemaran  air oleh zat anorganik.  Semakin dekat nilai  BOD terhadap COD menunjukkan  bahwa semakin  sedikit  bahan  anorganik  yang              dapat  dioksidasi dengan bahan kima. Pada limbah yang mengandung logam-logam pemeriksaan terhadap BOD tidak memberi manfaat karena tidak ada bahan organik dioksida. Hal ini bisa jadi karena logam merupakan racun bagi  bakteri. Pemeriksaan COD lebih cepat dan sesatannya lebih mudah mengantisipasinya.
Perbandingan  BOD     dengan  COD  pada  umumnya  bervariasi  untuk berbagai jenis limbah. Adapun perbandingan antara BOD dengan COD dapat dilihat pada Tabel 2.







Tabel 2. Perbandingan BOD dengan COD

Jenis air buangan
BOD5/COD
Dari rumah tangga
Air sungai Buangan organik Buangan anorganik
0,4-0,6
0,1
0,5-0,65
0,2

Sumber : Perdana Ginting, 2007


c)  Metan

Gas metan terbentuk akibat penguraian zat-zat organik dalam kondisi anaerob pada air limbah. Gas ini dihasilkan oleh lumpur yang membusuk pada dasar kolam, tidak berdebu, tidak berwarna dan mudah terbakar. Metan juga dapat ditemukan pada rawa-rawa dan sawah. Suatu kolam limbah yang menghasilkan gas metan akan sedikit sekali menghasilkan lumpur, sebab lumpur telah habis terolah menjadi gas metan dan air serta CO2.
d)  Keasaman Air

Keasaman air diukur dengan pH meter. Keasaman ditetapkan berdasarkan tinggi   rendahnya  konsentrasi   ion   hidrogen   dalam   air.   Air  buangan   yang mempunyai pH tinggi atau rendah menjadikan air steril dan sebagai akibatnya membunuh mikroorganisme air yang diperlukan untuk keperluan biota tertentu. Demikian juga makhluk-makhluk lain tidak dapat hidup seperti ikan. Air yang mempunyai pH rendah membuat air korosif terhadap bahan-bahan konstruksi besi dengan kontak air.
e)  Alkalinitas

Tinggi rendahnya alkalinitas air ditentukan air senyawa karbonat, garam- garam  hidroksida,  kalsium,  magnesium,  dan  natrium  dalam  air.  Tingginya







kandungan zat-zat tersebut mengakibatkan kesadahan dalam air. Semakin tinggi kesadahan suatu air semakin sulit air berbuih. Untuk menurunkan kesadahan air dilakukan pelunakan air. Pengukuran alkalinitas air adalah pegukuran kandungan ion CaCO3, ion Mg bikarbonat dan lain-lain.
f)   Lemak dan minyak

Kandungan lemak dan minyak yang terkandung dalam limbah bersumber dari  instalasi  yang  mengolah  bahan  baku  mengandung  minyak.  Lemak  dan minyak merupakan bahan organis bersifat tetap dan sukar diuraikan bakteri. Limbah ini membuat lapisan pada permukaan air sehingga membentuk selaput.
g)  Oksigen terlarut

Keadaan oksigen terlarut berlawanan dengan keadaan BOD. Semakin tiggi BOD semakin rendah oksigen terlarut. Keadaan oksigen terlarut dalam air dapat menunjukkan tanda-tanda kehidupan ikan dan biota dalam perairan. Kemampuan air    untuk                 mengadakan        pemulihan secara   alami   banyak        tergantung   pada tersedianya oksigen terlarut. Angka oksigen yang tinggi menunjukkan keadaan air semakin baik. Pada temperatur dan tekanan udara alami kandungan oksigen dalam air  alami  bisa  mencapai  8  mg/liter.  Aerator  salah  satu  alat  yang                    berfungsi meningkatkan  kandungan  oksigen  dalam  air.  Lumut  dan  sejenis  ganggang menjadi  sumber  oksigen  karena  proses  fotosintesis  melalui  bantuan  sinar matahari. Semakin banyak ganggang semakin basar kandungan oksigennya.







h)  Klorida

Klorida merupakan zat terlarut dan tidak menyerap. Sebagai klor bebas berfungsi  desinfektan  tetapi                                                   dalam  bentuk  ion  yang  bersenyawa  dengan  ion natrium menyebabkan air menjadi asin dan dapat merusak pipa-pipa instalasi.
i)   Phospat

Kandungan phospat yang tinggi menyebabkan suburnya algae dan organisme lainnya yang dikenal dengan eutrophikasi. Ini terdapat pada ketel uap yang                               berfungsi  untuk  mencegah  kesadahan.  Pengukuran  kandungan  phospat dalam air limbah berfungsi untuk mencegah tingginya kadar phospat sehingga tumbuh-tumbuhan dalam air berkurang jenisnya dan pada gilirannya tidak merangsang pertumbuhan tanaman air. Kesuburan tanaman ini akan menghalangi kelancaran       arus      air.       Pada            danau          suburnya      tumbuh-tumbuhan  air                             akan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut.
3)  Sifat Biologi

Mikroorganisme ditemukan dalam jenis yang sangat bervariasi hampir dalam            semua               bentuk air     limbah,    biasanya        dengan              konsentrasi    105-108 organisme/ml.     Kebanyakan       merupakan     sel            tunggal  yang        bebas    ataupun berkelompok   dan      mampu                         melakukan       proses-proses         kehidupan (tumbuh, metabolisme, dan reproduksi).
Secara tradisional mikroorganisme dibedakan menjadi binatang dan tumbuhan. Namun, keduanya sulit dibedakan. Oleh karena itu, mikroorganisme kemudian dimasukkan kedalam kategori protista, status yang sama dengan binatang ataupun tumbuhan. Virus diklasifikasikan secara terpisah.







Keberadaan bakteri dalam unit pengolahan air limbah merupakan kunci efisiensi proses biologis. Bakteri juga berperan penting dalam mengevaluasi kualitas air (Perdana Ginting, 2007 : 50-57).
d.  Pengolahan Air Limbah

Pengolahan limbah dengan memanfaatkan teknologi pengolahan dapat dilakukan dengan cara fisika, kimia dan biologi atau gabungan dari ketiga sistem pengolahan tersebut. Pengolahan limbah secara biologis dapat digolongkan menjadi pengolahan cara aerob dan pegolahan limbah dengan cara anaerob. Berdasarkan sistem unit operasinya teknologi pengolahan limbah dibagi menjadi unit operasi phisik, unit operasi kimia dan unit operasi biologi. Sedangkan bila dilihat dari tigkatan perlakuan pengolahan maka sistem perlakuan limbah diklasifikasikan menjadi: pretreatment, primary treatment system, secondary treatment system dan tertiary treatment system (Perdana Ginting, 2007 : 63).
1. Pengolahan Awal (Pretreatment). Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah. Beberapa proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah screen and grit removal, equalization and storage, serta oil separation.
2. Pengolahan Tahap Pertama (Primary Treatment). Pada dasarnya, pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang sama dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung. Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama ialah neutralization, chemical addition and coagulation, flotation, sedimentation, dan filtration.
3. Pengolahan Tahap Kedua (Secondary Treatment). Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Peralatan pengolahan yang umum digunakan pada pengolahan tahap ini ialah activated sludge, anaerobic lagoon, tricking filter, aerated lagoon, stabilization basin, rotating biological contactor, serta anaerobic contactor and filter.
4. Pengolahan Tahap Ketiga (Tertiary Treatment). Proses-proses yang terlibat dalam pengolahan air limbah tahap ketiga ialah coagulation and sedimentation, filtration, carbon adsorption, ion exchange, membrane separation, serta thickening gravity or flotation.
1)  Proses Pengolahan Fisika

a)   Screening

Screening  merupakan  tahap  awal  pada  proses  pengolahan  air  limbah. Proses ini  bertujuan  untuk  memisahkan  potongan-potongan  kayu,  plastik,  dan sebagainya. Screen terdiri atas batangan-batangan besi yang berbentuk lurus atau melengkung dan dipasang dengan tingkat kemirigan 750-900 terhadap horisontal.
b)   Grit Chamber

Bertujuan untuk menghilangkan kerikil, pasir, dan partikel-partikel lain yang dapat mengendap di dalam saluran dan pipa-pipa serta untuk melindungi pompa-pompa dan peralatan lain dari penyumbatan.







c)  Equalisasi

Equalisasi laju alir digunakan untuk menangani variasi laju alir dan memperbaiki proses berikutnya. Di samping itu, equalisasi juga bermanfaat untuk mengurangi ukuran dan biaya proses berikutnya. Adapun keuntungan yang diperoleh dari peggunaan equalisasi sebagai berikut:
1.  Pada pegolahan biologi, perubahan beban secara mendadak dapat dihindari dan pH dapat diatur supaya konstan.
2.  Pengaturan bahan-bahan kimia lebih dapat terkontrol.

3.  Pencucian filter lebih dapat teratur.

4.  Performance filter dapat diperbaiki.

Lokasi equalisasi harus dipertimbangkan pada saat pembuatan diagram alir pengolahan limbah. Lokasi equalisasi yang optimal dan sangat bervariasi menurut tipe pengolahan limbah yang dilakukan, karakteristik sistem pegumpulan, dan jenis air limbah.
Pada   beberapa kasus, equalisasi dapat ditempatkan setelah pengolahan primer dan sebelum pengolahan biologis. Equalisasi yang diletakkkan setelah pengolahan primer biasanya disebabkan oleh masalah-masalah ynag ditimbulkan oleh  lumpur  dan  buih.  Dalam  pelaksanaan  equalisasi  dibutuhkan  pengadukan untuk mencegah  pegendapan dan aerasi untuk  menghilangkan bau.  Equalisasi biasanya dilaksanakan bersamaan dengan netralisasi.
d.  Sedimentasi

Sedimentasi  adalah  pemisahan  partikel  dari  air  dengan  memanfaatkan gaya gravitasi. Proses ini bertujuan untuk memperoleh air buangan yang jernih







dan mempermudah proses penanganan lumpur. Dalam proses sedimentasi hanya partikel-partikel yang lebih berat dari air yang dapat terpisah misalnhya, kerikil dan pasir.
Bagian terpenting dalam perencanaan unit sedimentasi adalah mengetahui kecepatan pengendapan dari partikel-partikel yang akan dipindahkan. Kecepatan pegendapan ditentukan oleh ukuran, densitas larutan, viskositas cairan, dan temperatur.
e)  Floatasi

Floatasi atau pengapungan digunakan untuk memisahkan padatan dari air. Unit floatasi digunakan jika densitas partikel lebih kecil dibandingkan dengan densitas air sehingga cenderung megapung. Floatasi antara lain digunakan dalam proses pemisahan lemak dan minyak serta pengentalan lumpur.
2)  Proses Pengolahan Kimia

a)  Netralisasi

Netralisasi adalah reaksi antara asam dan  basa yang menghasilkan air dan garam. Dalam pengolahan air limbah pH diatur antara 6,0-9,5. Di luar kisaran pH tersebut, air limbah akan bersifat racun bagi kehidupan air termasuk bakteri.
Jenis bahan kimia yang dapat ditambahkan tergantung pada jenis dan jumlah air limbah serta kondisi lingkungan setempat. Netralisasi air limbah yang bersifat asam dapat dilakukan dengan penambahan NaOH (natrium hidroksida); sedangkan netralisasi air limbah yang bersifat basa dapat dilakukan dengan penambahan H2SO4 (asam sulfat).







b)  Koagulasi dan flokulasi

Proses koagulasi dan flokulasi adalah konversi dari polutan-polutan yang tersuspensi koloid yang sangat halus di dalam air limbah, menjadi gumpalan- gumpalan yang dapat diendapkan, disaring atau diapungkan. Berikut gambaran mengenai ukuran benda-benda dan waktu yang diperlukan untuk pengendapan dengan jarak satu meter yang dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Waktu   yang Diperlukan oleh Partikel untuk Mengendap dengan

Jarak Satu Meter

Diameter pertikel

(mm)
material
Waktu penegendapan per 1

m
10

1

0,1

0,01

0,001

0,0001

0,00001
Kerikil

Pasir Pasir halus Tanah liat Bakteri
Partikel koloid

Partikel koloid
1 detik

10 detik

2 menit

2 jam

8 hari

2 tahun

20 tahun

Sumber : Sakti A. Siregar 2005


Dari Tabel 3 terlihat bahwa partikel koloid sangat sulit mengendap dan merupakan  bagian  yang  besar  dalam  polutan,  serta  menyebabkan  kekeruhan. Untuk memisahkannya koloid harus diubah menjadi partikel yang berukuran lebih besar melalui proses koagulasi dan flokulasi.







3)  Proses Pengolahan Biologi

Secara umum proses pegolahan biologi menjadikan pengolahan air limbah secara  modern  lebih  terstruktur,  tergantung  pada  syarat-syarat  air  yang  harus dijaga atau jenis air limbah yang harus dikelola.
Pengolahan air limbah secara biologi bertujuan untuk membersihka zat-zat organik  atau  mengubah  bentuk  zat-zat  organik  menjadi  bentuk-bentuk  yang kurang berbahaya.
Proses pengolahan secara biologi juga bertujuan untuk meggunakan kembali zat-zat organik yang terdapat dalam air limbah.
2.  Pemeriksaan Limbah Olahan

a.   Chemical Oxygen Demand (COD)

Pengukuran kekuatan limbah dengan COD adalah bentuk lain pengukuran kebutuhan oksigen dalam air limbah. Metode ini lebih singkat waktuya dibandingkan dengan analisis BOD. Pengukuran ini menekankan kebutuhan oksigen akan kimia dimana  senyawa-senyawa yang diukur adalah bahan-bahan yang tidak dipecah secara biokimia (Perdana Ginting, 2007 : 50).
Pemeriksaan COD, dilakukan sebagai suatu ukuran pencemaran dari air limbah. Hal ini,untuk mengukur oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat  orgaik.  Metode  pemeriksaan  dilakukan  dengan  titrasi  di  laboratorium (tanpa refluks) dengan prinsip analisis sebagai berikut; pemeriksaan parameter COD ini menggunakan oksidator potassium dikromat yang berkadar asam tinggi dan           dipertahankan         pada                  temperature               tertentu.   Penambahan    oksidator    ini menjadikan  proses   oksidasi   bahan   organic   menjadi   air   dan   CO2,  setelah







pemanasan. Perbedaan Kadar BOD, COD, TSS maka sisa dikromat diukur. Pengukuran ini dengan jalan titrasi, oksigen yang ekifalen dengan dikromat inilah yang menyatakan COD dalam satuan ppm (Mahida, 1994 : 32).
b.   Biological Oxygen Demand (BOD)

Pemeriksaan BOD dalam limbah didasarkan atas reaksi oksidasi zat-zat organis  dengan  oksigen  dalam  air  dimana  proses  tersebut  dapat  berlangsung karena ada sejumlah bakteri. Diperhitungkan selama dua hari reaksi lebih dari sebagian reaksi telah tercapai (Perdana Ginting, 2007 : 50).
Pemeriksaan BOD merupakan salah satu dari pemeriksaan ujicoba-ujicoba yang paling penting untuk menentukan daya cemar air limbah. Pemeriksaan biokimia yang mengukur zat-zat organik yang kemungkinan akan dioksidasi oleh kegiatan-kegiatan bakteri aerobik dalam masa 5 hari pada 200C. Metode pemeriksaanya dengan Winkler (Titrasi di Laboratorium), dan menggunakan prinsip analisis sebagai berikut; Pemeriksaan parameter BOD didasarkan pada reaksi oksidasi zat organik dengan oksigen di dalam air dan proses tersebut berlangsung karena adanya bakteri aerobik. Untuk menguraikan zat organik memerlukan waktu ± 2 hari untuk 50% reaksi, 5 hari untuk 75% reaksi tercapai
dan  20  hari  untuk  100%  reaksi  tercapai.  Dengan  kata  lain  tes  BOD  berlaku sebagai simulasi proses biologi secara alamiah, mula-mula diukur DO nol dan setelah mengalami inkubasi selama 5 hari pada suhu 20 °C atau 3 hari pada suhu
25°C–27°C diukur lagi DO air tersebut. Perbedaan DO air tersebut yang dianggap sebagai konsumsi oksigen untuk proses biokimia akan selesai dalam waktu 5 hari







dipergunakan dengan anggapan segala proses biokimia akan selesai dalam waktu

5 hari, walau sesungguhnya belum selesai (Sakti A. Siregar, 2005 : 106). c.   Total Suspended Solid (TSS)
Menurut Sakti A. Siregar (2005), TSS yaitu jumlah berat zat yang tersuspensi dalam volume tertentu di dalam air ukurannya mg/l. Pengukuran TSS dapat dilakukan sebagai berikut :
a) Menyiapkan kertas saring dan cawan penguapan dipananskan dengan suhu

1050C selama 1 jam. Kemudian diambil dan didinginkan ke dalam desikator selama ± 15 menit lalu ditimbang untuk mengetahui beratnya.
b) Mengukur air limbah batik sebanyak 1000 ml.Liter, 6 ml/L EM-4 dan 6 gram/L

starbio.

c) Mengambil air limbah sebanyak 100 ml/L, 6 ml/L EM-4 dan 100 ml/L air limbah, 6 gram/L starbio.
d) Kemudian masing-masing sampel dicampur merata lalu amati keduanya antara air limbah yang dicampur 6 ml/L EM-4 dan 6 gram/L starbio, terdapat endapan airnya keruh atau tidak.
e) Menyaring amsing- masing sampel dengan kertas saring yang sudah diketahui beratnya  lalu  masukkan  ke  dalam  oven  dengan  suhu  1050C  selama  1  jam, kemudian dinginkan dalam desikator selama ±15 menit lalu ditimbang untuk mengethaui beratnya.
f) TSS dihitung dengan menggunakan rumus : (B - A) Mg/1 zat padat terlarut = C x 1000
A = berat cawan dan residu sesudah pemanasan 1050 C (mg)







B = berat cawan kosong (mg) C = M1 sampel
d.  pH

pH  menyatakan  intensitas  keasaman  atau  alkalinitas  dari  suatu  cairan encer, dan mewakili konsentrasi hidrogen ionnya. pH dapat ditentukan dengan mudah dengan mempermudah petunjuk-petunjuk colorimetric, petunjuk-petunjuk ini memberikan suatu ketepatan pada kira-kira 0,2 unit. Pengukuran pH adalah sesuatu yang penting dan praktis, karena banyak reaksi-reaksi kimia dan biokimia yang penting terjadi pada tingkat pH yang khusus atau pada lingkungan pH yang sangat sempit. Untuk pengukuran yang lebih tepat dapat digunakan sebuah potentioner yang mengukur kekuatan listrik yang dikeluarkan oleh ion-ion –H. Apabila hasil pengukuran menunjukkan kadar pH melebihi baku mutu,     maka dapat  dilakukan  upaya  untuk  menurunkan  kadar  dengan  cara                                               penggunaan reverse osmosis selain dapat menghasilkan air murni / tanpa mineral juga dapat menurunkan pH air dari 7 menjadi 6,5 hingga 5,0 (Mahida, 1994 : 37).
e.  Phosphat

Keberadaan phosphat yang berlebihan di badan air menyebabkan suatu fenomena  yang  disebut  eutrofikasi  (pengkayaan  nutrien).  Untuk  mencegah kejadian tersebut,  air limbah  yang  akan  dibuang harus diolah terlebih dahulu untuk mengurangi kandungan phosphat sampai pada nilai tertentu (baku mutu efluen 2 mg/l). Dalam pengolahan air limbah, phosphat dapat disisihkan dengan proses  fisika-kimia  maupun  biologis.  Penyisihan  phosphat  secara  presipitasi







kimiawi    dapat    dilakukan    dalam    filter    teraerasi    secara    biologis    dengan menambahkan FeSO4.7H2O (Clark et al., 1997).
Media yang digunakan adalah plastik dengan luas permukaan spesifik 275 m2/m3 dan porositas 0,95. Penambahan presipitan pada filter biologis ini tidak mempengaruhi  secara signifikan  penyisihan  BOD, COD,  NH4,  TKN dan  SS, tetapi mampu meningkatkan efisiensi penyisihan fosfat dari 35,5 % menjadi 85,3
%. Ratio P : Fe optimum yang didasarkan pada pertimbangan paling efisien dan ekonomis adalah 1 : 1,25. Penyisihan fosfat dalam fluidized bed reactor (FBR) menggunakan pasir kuarsa dapat menghasilkan kristal struvite (MgNH4PO4). Penyisihan dengan kristalisasi ini dilakukan dengan aerasi kontinyu dan dapat mencapai efisiensi 80% dalam waktu 120 - 150 menit (Battistoni, et al., 1997).
Ada   beberapa   cara    yang   dapat    digunakan   untuk   mengoptimalkan penurunan konsentrasi Phosphat antara lain:

1)   Enhanced Biological Phosphorus Removal (EBPR)


Menurut (Hammer, 1996 dalam Strom 2006) Enhanced biological phosphorus removal (EBPR) adalah pengembangan dari biological phosphorus removal dengan metode dan proses untuk mereduksi konsentrasi Phosphat dari outlet pengolahan biologis konvensional. EBPR memiliki kinerja yang sangat baik dengan menghasilkan effluent <0,1 mg/l (Strom, 2006). Untuk menurunkan konsentrasi Phosphat ada alternatife lain yaitu EBPR yang menggunakan proses anaerobic. Telah diketahui bahwa poly Phosphat accumulating organisms (PAOs) dan volatile fatty acids (VFAs) digunakan oleh Bio-P bacteria pada kondisi anaerobic                   sebagai    sumber    energy    (Tanyi,    2006).    EBPR    menggunakan







Acinetobacter dan Microthrix parvicella karena bisa menyimpan Phosphate dalam bentuk poly Phosphate untuk perkembangannya (Atur, 2007). Kedua bacteri tersebut dapat bertahan dalam kondisi anaerobic karena memiliki poly-P, PAO juga memberikan keuntungan pada kondisi anaerobic dengan menggunakan VFA dan energi dari poly-P.
2)   Sequencing Anoxic/Anaerobic Membrane Bioreactor (SAM)


Untuk membandingkan proses fisik (filtrasi) antara biosand filter dengan teknologi alternative SAM (Sequencing anoxic/anaerobic membrane bioreactor) yang merupakan pengembangan dari Enhanced biological phosphorus removal (EBPR) dengan menggunakan filter papper 0,4 μm dan telah diuji kemampuanya. SAM sangat stabil dan efektif untuk menurunkan konsentrasi Phosphate hingga
93% (Hong Ahn,2003). Sendangkan pada biosand filter Dengan ukuran media

0,25 mm, maka partikel berukuran > 20 μm akan tertahan pada media. Koloid (0,001-1 μm) dan bakteri (1 μm) tidak dapat disisihkan dengan mekanisme ini. Mechanical straining terjadi pada permukaan filter sampai kedalaman 5 cm. Klasifikasi Phosphate berdasarkan sifat fisis adalah fosfat terlarut, fosfat tersuspensi                         (tidak       terlarut),       dan       fosfat       total       (terlarut       dan tersuspensi)(Alaerts,1984).
f.   Amonia Bebas

Metode   standar   untuk   menentukan   amonia   bebas   dalam   air   dapat dilakukan  dengan  prosedur  Kjeldahl,  namun  prosedur  pemeriksaan  ini  sangat rumit  dan  membutuhkan  banyak  waktu,  yakni  sekitar  enam  jam.  Prosedur Kjeldahl terdiri dari beberapa langkah. Pada prosedur ini, seluruh senyawa amonia







bebas  diuraikan  secara  kimia  dengan  menggunakan  campuran  asam  sulfur, merkuri sulfat, dan potasium sulfat. Selanjutnya, amonia dan bentukan yang baru di  destilasi  dengan  penambahan  NaOH  ke  dalam  larutan  asam  borat.  Kadar amonia dapat diketahui  dengan  cara titrasi menggunakan  asam sulfur 0,02 N (Sakti A. Siregar, 2005 : 108).
g.  Suhu

Suhu air limbah biasanya ±300C dari suhu udara. Pengukuran dilakukan membelakangi sinar matahari, sehingga panas yang diukur tidak terpengaruh oleh sinar matahari. Temperatur air limbah akan mempengaruhi kecepatan reaksi kimia serta tata kehidupan dalam air, sehingga perlu dilakukan pengukuran suhu di unit pengolahan  limbah.  Pengukuran  suhu  dilakukan  insitu  di  bak  equalisasi,  bak aerasi,  dan  outlet.  Pengukuran  suhu  menggunakan  thermometer  berdasarkan prinsip pemuaian. Praktikum ini dilakukan pada pagi hari, yaitu pukul 13.00 sehingga nilai suhu yang diperoleh sedang.












IV. BAHAN DAN CARA
1. Peralatan yang Diperlukan
Peralatan yang diperlukan untuk melakukan walk through survey (survei jalan sepintas) dalam rangka untuk survei kesehatan dan kedokteran kerja di instalasi pengolahan limbah cair RSU Ibnu Sina antara lain :
a.    Alat tulis menulis
       Berfungsi sebagai media untuk pencatatan selama survei jalan sepintas.
b.    Kamera
       Berfungsi sebagai alat untuk memotret keadaan instalasi pengolahan limbah cair RSU Ibnu Sina
c.    Check List
       Berfungsi sebagai alat untuk mendapatkan data primer mengenai survei jalan sepintas yang dilakukan.

2. Cara Pemantauan
Kami merencanakan untuk memantau dan mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan kesehatan dan kedokteran kerja pada instalasi pengolahan limbah cair di RSU Ibnu Sina. Pemantauan ini dilakukan dengan metode walk through  survey dengan menggunakan check list.

     a. Lokasi
Lokasi survei kesehatan dan kedokteran kerja yang kami jalankan adalah instalasi pengolahan limbah cair RSU Ibnu Sina Makassar.

b. Biaya
Biaya yang digunakan pada survei kesehatan dan kedokteran kerja ini adalah swadaya.








C. JADWAL
          Waktu pelaksanaan survei kesehatan dan kedokteran kerja ini pada tanggal   2-8 Januari 2012 dengan agenda sebagai berikut:

No.
Tanggal
Kegiatan
1.

2.

3.

4

5.

6.
 2 Januari 2012
3 Januari 2012
4 Januari 2012
5 Januari 2012
6 Januari 2011
7 Januari 2011
-   Melapor ke bagian K3 RS Ibnu Sina
-   Pengarahan kegiatan
-   Pembuatan proposal

-   Pembuatan proposal

-   Walk Through Survey

-   Pembuatan laporan Walk Through Survey

-   Presentasi laporan Walk Through Survey












LAMPIRAN
CHECK LIST KESEHATAN DAN  KESELAMATAN KERJA DI INSTALASI PENGELOLAAN LIMBAH RSU IBNU SINA
UNIT / INSTALASI / RUANGAN       : Pengelolaan Limbah Cair
HARI / TANGGAL                        : Kamis / 5 Januari 2012

PROSEDUR KERJA UMUM
No
Point Perhatian
Ya
Tidak
Keterangan
1
Apakah ada standar prosedur operasional untuk pengelolaan limbah di instalasi ini?
ü


2
Apakah petugas kesehatan mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan atau prosedur?
ü


3
Apakah petugas instalasi menggunakan alat perlindungan diri ketika bekerja?
ü


PRETREATMENT
No.
Perihal
Ya
Tidak
Keterangan
1
Limbah cair harus dikumpulkan dalam kontainer yang sesuai dengan karakteristik bahan kimia dan radiologi, volume, dan prosedur penanganan dan penyimapangannya
ü


2
Saluran pembuangan limbah harus menggunakan sistem saluran tertutup, kedap air, dan limbah harus mengalir dengan lancar, serta terpisah dengan saluran air hujan

ü
Limbah cair tergabung dengan air hujan dialirkan ke sungai
3

Rumah sakit harus memiliki instalasi pengolahan limbah cair sendiri atau bersama-sama secara kolektif dengan bangunan disekitarnya yang memenuhi persyaratan teknis, apabila belum ada atau tidak terjangkau sistem pengolahan air limbah
perkotaan.
ü







PRIMARY TREATMENT
4
Perlu dipasang alat pengukur debit limbah cair untuk mengetahui debit harian limbah yang dihasilkan
ü


5
Air limbah dari dapur harus dilengkapi penangkap lemak dan saluran air limbah harus dilengkapi/ditutup dengan gril
ü


SECONDARY TREATMENT
6
Air limbah yang berasal dari laboratorium harus diolah di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), bila tidak mempunyai IPAL
harus dikelola sesuai kebutuhan yang berlaku melalui kerjasam dengan pihak lain atau pihak yang berwenang.
ü


7
Frekuensi pemeriksaan kualitas limbah cair terolah (effluent) dilakukan setiap bulan sekali untuk swapantau dan minimal 3
bulan sekali uji petik sesuai dengan ketentuan yang berlaku
ü


TERTIARY TREATMENT
8
Parameter radioaktif diberlakukan bagi rumah sakit sesuai dengan bahan radioaktif yang dipergunakan oleh rumah sakit yang
Bersangkutan
ü









V. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada tanggal 5 Januari 2012 dilakukan survey pengelolaan limbah cair di Rumah Sakit Ibnu Sina dan diperoleh hasil sebagai berikut:
Pengelolaan limbah cair di RS Ibnu Sina sudah memiliki standar operasional prosedur yang telah diketahui oleh semua petugas yang bertugas di instalasi tersebut. Petugas selalu menggunakan alat perlindungan diri berupa masker dan sarung tangan ketika sedang bertugas. Selain itu mereka selalu mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan pekerjaan pengelolaan limbah. 





Gambar 1: Skema Pengolahan Limbah di RS Ibnu Sina
Limbah cair  dari RS Ibnu Sina berasal dari ruang dapur, ruang laundry, dan area rumah sakit lain seperti ruang perawatan, ruang tindakan, dan poliklinik. Limbah cair tersebut dikumpulkan dalam kontainer yang sesuai dengan karakteristik bahan kimia dan radiologi, volume, dan prosedur penanganan dan penyimpanannya. Saluran pembuangan limbah menggunakan sistem saluran tertutup, kedap air, dan limbah mengalir dengan lancar, serta terpisah dengan saluran air hujan. Hanya saja sistem saluran tertutup tersebut, mengalami sejumlah kerusakan pada beberapa pipa. Rumah Sakit Ibnu Sina ini memiliki instalasi pengolahan limbah cair sendiri atau bersama-sama secara kolektif dengan bangunan di sekitarnya yang memenuhi persyaratan teknis.




Gambar 2: Pipa yang rusak







 









Gambar 3. Tempat Pembuangan Limbah Akhir
Air limbah dari dapur dilengkapi penangkap lemak dan saluran air limbah dilengkapi/ditutup dengan gril. Air limbah yang berasal dari laboratorium diolah  sesuai kebutuhan yang berlaku melalui kerjasama dengan pihak lain atau pihak yang berwenang. Frekuensi pemeriksaan kualitas limbah cair terolah (effluent) dilakukan setiap bulan sekali untuk swapantau dan minimal 3 bulan sekali uji petik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

















Gambar 4. Tempat Pembuangan LImbah Cair di Ruangan   Dapur
 

Gambar 5. Tempat Pembuangan LImbah Cair Di Ruangan   Laboratorium
 
 









Parameter radioaktif diberlakukan bagi rumah sakit sesuai dengan bahan radioaktif yang dipergunakan oleh RS Ibnu Sina. Adapun parameter penilaian BOD, COD, TSS, Fosfat dan Amonia tidak dilakukan. Hanya pemeriksaaan PH yang dilakukan tiap bulan sekali.










VI. KESIMPULAN
1.      Cara pengolahan limbah cair Rumah Sakit Ibnu Sina pada tahap pretreatment meliputi proses pengumpulan limbah cair dari instalasi dapur, laundry dan perawatan melalui suatu sistem penyaluran yang tertutup.
2.      Cara pengolahan limbah cair Rumah Sakit Ibnu Sina pada tahap primary treatment antara lain pengukuran debit limbah cair harian dan pemisahan limbah cair dari lemak dengan menggunakan grip tertutup.
3.      Cara pengolahan limbah cair Rumah Sakit Ibnu Sina pada tahap secondary treatment meliputi proses pemilahan limbah cair biologis seperti yang berasal dari laboratorium serta melakukan pemantauan limbah biologis setiap bulan.
4.      Cara pengolahan limbah cair Rumah Sakit Ibnu Sina pada tahap tertiary tretament  dengan cara pengukuran parameter radioaktif dan pemeriksaaan PH yang dilakukan tiap bulan sekali.
VII. SARAN
Sebaiknya sistem penyaluran air tertutup yang mengalami kerusakan, segera diperbaiki. Agar kesehatan dan keselamatan pekerja, maupun penghuni rumah sakit lainnya lebih terjamin.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...