Selasa, 22 Januari 2013

Refarat Gangguan Haid



GANGGUAN HAID

Syukri La Ranti
I.               PENDAHULUAN
Haid telah lama menjadi pertanda penting dari perkembangan seksual wanita, yang merupakan salah satu tanda nyata dari endokrin wanita dan maturasi sistem reproduksi. Haid spontan dan reguler membutuhkan (a) aksis sistem endokrin hipotalamus- hipofisis- ovarium yang intak; (b) kemampuan endometrium untuk merespon stimulasi hormon steroid; dan (c) aliran keluar yang intak dari genitalia internal ke eksternal. 1
Siklus haid manusia dipengaruhi dari faktor lingkungan dan stresor. Jadi, ketidakteraturan haid tidak selalu mencerminkan hal patologis. Bagaimanapun, pemanjangan atau haid yang hilang persisten dapat menjadi salah satu tanda awal adanya kelainan neuroendokrin atau anatomi. 1
   Siklus menstruasi irreguler sering pada beberapa tahun awal menarche. Bagaimanapun, kebanyakan wanita ovulasi secara reguler dan periode menstruasi menjadi reguler dalam 5- 7 tahun setelah menarche. Pada saat ini, jarak siklus haid yang normal disetujui dalam rentang waktu antara 24 dan 35 hari (rata-rata 28 hari), dengan perdarahan haid terjadi dari 3- 7 hari (rata-rata 4 hari) dan rata-rata kehilangan darah haid 35 ml ( 20 -80 ml). Berbagai perdarahan yang keluar melebihi batas ini dikatakan abnormal. 2

Semua dokter harusnya mengetahui dasar dari proses reproduksi tersebut yang dibutuhkan untuk keberhasilan mencapai ovulasi, fertilisasi dan implantasi. Jumlah abnormalitas dapat mempengaruhi tiap proses tersebut dan menyebabkan infertilitas atau tidak hamil. Pada beberapa perempuan, siklus ovulasi terjadi pada hari ke 25- 35 dimana interval berlanjut sampai hampir 40 tahun antara  waktu menarche dan menopause. Untuk perempuan yang tidak pernah menggunakan kontrasepsi, terdapat sekitar 400 kesempatan untuk hamil, yang dapat terjadi dengan hubungan seksual pada beberapa hari dari 1200 hari (pada hari ovulasi dan 2 hari yang sebelumnya). Fertilisasi dikontrol oleh produksi regulasi dari steroid ovarium yang menyebabkan regenerasi optimal dari endometrium yang mulai dengan berakhirnya mestruasi. 3

II.            SIKLUS HAID
Rangkaian pengaturan fase yang bermanifestasi sebagai haid yang teratur digunakan untuk memastikan hanya satu oosit berovulasi pada satu siklus dan implantasi dari embrio dapat menghentikan proses pelepasan endometrium dan memastikan kelangsungan hidupnya. Haid bulanan merupakan tanda yang nyata dari berbagai tingkat interaksi antara hipotalamus, hipofisis, ovarium, dan uterus berfungsi. Gangguan dari aksis ini pada titik tertentu dapat mengakibatkan gangguan haid. 4
Meskipun istilah siklus haid, sejak haid merupakan kejadian bulanan yang nyata selama fase reproduksi, siklus haid normal paling banyak menggambarkan fase ovarium. Pemilihan dan pertumbuhan folikel dominan mengakibatkan peningkatan konsentrasi dari estrogen di darah, stimulasi pertumbuhan endometrium. Kemudian, melalui LH surge, estrogen ovarium dan progesteron dari korpus luteum menginduksi perubahan sekretori endometrium dan penurunan pada produksi steroid luteal karena tidak adanya kehamilan akibat onset dari haid. Karena itu, penggambaran dari hubungan klinis dari siklus menstruasi harusnya fokus pada fisiologi haid, sementara tidak mengabaikan peran di hipotalamus dan hipofisis dan pada tingkat uterus. 4
Siklus haid diatur oleh keduanya antara endokrin dan parakrin. Secara endokrinologi, ada jalur feedback yang memodulasi pelepasan dari hormon gonadotropin dari hipofisis dengan steroid ovarium sebagai jalur afferen. Beberapa penelitian telah memulai untuk menguraikan rangkaian kompleks dari proses parakrin yang berlangsung dalam jaringan ovarium dan uterus untuk menentukan pengaturan lokal. 4
Siklus haid terdiri dari dua siklus, yaitu siklus ovarium dan siklus endometrium. Siklus ovarium terdiri dari beberapa fase, yaitu : 3,5

a.       Fase Folikular/ Preovulasi
Selama fase folikular, kadar estrogen meningkat pada pertumbuhan yang paralel dari folikel yang dominan dan peningkatan jumlah dari sel granulosa. Sel granulosa tempat ekslusif dari reseptor FSH. Peningkatan sirkulasi FSH selama fase luteal dari siklus sebelumnya merangsang peingkatan dari reseptor FSH dan kemampuan untuk mengaromatisasi sel theka untuk derivat androstenedion menjadi estradiol. FSH menginduksi enzim aromatase dan pelebaran antrum dari folikel yang bertumbuh. Folikel dengan kelompok sangat berespon terhadap FSH seperti untuk memproduksi dan mengawali tanda dari reseptor LH. Setelah terlihat reseptor LH, sel granulosa preovulasi mulai untuk mensekresi sejumlah progesteron. Sekresi preovulasi progesteron, walaupun jumlahnya terbatas, dipercaya untuk mengirimkan feedback positif pada estrogen utama hipofisis yang menyebabkan atau membantu menambah pelepasan LH. Selama fase folikuler lambat, LH menstimulasi produksi sel theka dari androgen. Terutama androstenedion, yang kemudian dilanjutkan ke folikel dimana mereka dimetabolisme menjadi estradiol. Selama fase folikel awal, sel granulosa juga menghasilkan inhibin B, yang menghambat pelepasan FSH. Karena folikel dominan mulai berkembang, hasil dari estradiol dan inhibin meningkat, menghasilkan penurunan FSH. Penurunan ini bertanggung jawab untuk kegagalan dari folikel lain untuk mencapai preovulasi  tingkat folikel the Graaf selama satu siklus. Jadi, 95 persen dari estradiol plasma diproduksi pada waktu itu disekresi oleh folikel dominan, yang dipersipakan untuk ovulasi. 3
b.      Fase Ovulasi
Ovulasi merupakan peningkatan kadar estrogen yang menghambat pengeluaran FSH, kemudian hipofise mengeluarkan LH (lutenizing hormon). Peningkatan kadar LH merangsang pelepasan oosit sekunder dari folikel. Folikel primer primitif berisi oosit yang tidak matur (sel primordial). Sebelum ovulasi, satu sampai 30 folikel mulai matur didalam ovarium dibawah pengaruh FSH dan estrogen. Lonjakan LH sebelum terjadi ovulasi mempengaruhi folikel yang terpilih. Di dalam folikel yang terpilih, oosit matur dan terjadi ovulasi, folikel yang kosong memulai berformasi menjadi korpus luteum. Korpus luteum mencapai puncak aktivitas fungsional 8 hari setelah ovulasi, dan mensekresi baik hormon estrogen maupun progesteron. 3,5
c.       Fase Luteal / Postovulasi
Setelah terjadi ovulasi, korpus luteum berkembang dari tetai dominan atau folikel de Graff pada proses ini disebut sebagai lutenisasi. Ruptur dari folikel mengawali berbagai perubahan morfologi dan kimiawi mengakibatkan transformasi menjadi korpus luteum. Membran basalis pemisah dari sel granulosa luteal dan theka luteal rusak, dan hari kedua postovulasi, pembuluh darah dan kapiler menembus ke lapisan sel granulosa. Neovaskularisasi yang cepat pada granulosa avaskuler dikarenakan variasi dari faktor angiogenik meliputi faktor pertumbuhan endotel vaskuler dan produksi lain pada respon terhadap LH oleh sel theka lutein dan granulosa lutein. Selama luteinisasi, sel itu mengalami hipertrofi dan meningkat kapasitas mereka untuk mensintesis hormon. PADa wanita, masa hidup dari korpus luteum tegantung pada LH atau Human Chorionic Gonadotropin (hCG). Pada siklus normal wanita, korpus luteum dipertahankan oleh frekuensi rendah, amplitudo tinggi dari sekresi LH oleh gonadotropin pada hipofisis anterior. 3
         
          Sedangkan siklus endometrium terbagi dalam beberapa fase, yaitu: 5
a.         Fase Menstruasi
Implantasi atau nidasi ovum yang dibuahi terjadi sekitar 7 sampai 10 hari setelah ovulasi. Apabila tidak terjadi pembuahan dan implantasi, korpus luteum yang mensekresi estrogen dan progesteron menyusut. Seiring penyusutan kadar estrogen dan progesteron yang cepat, arteri spiral menjadi spasme, sehingga suplai darah ke endometrium fungsional terhenti dan terjadi nekrosis. Lapisan fungsional terpisah dari lapisan basal dan perdarahan menstruasi dimulai. Pada fase ini, endometrium terlepas dari dinding uterus dengan disertai pendarahan dan lapisan yang masih utuh hanya stratum basale. Rata-rata fase ini berlangsung selama lima hari (rentang 3-6 hari). Pada awal fase menstruasi kadar estrogen, progesteron, LH (Lutenizing Hormon) menurun atau pada kadar terendahnya selama siklus dan kadar FSH (Folikel Stimulating Hormon) baru mulai meningkat. 5
b.      Fase Proliferasi
Fase proliferasi merupakan periode pertumbuhan cepat yang berlangsung sejak sekitar hari ke-5 sampai hari ke-14 dari siklus haid, misalnya hari ke-10 siklus 24 hari, hari ke-15 siklus 28 hari, hari ke-18 siklus 32 hari. Permukaan endometrium secara lengkap kembali normal sekitar empat hari atau menjelang perdarahan berhenti. Dalam fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal ± 3,5 mm atau sekitar 8-10 kali lipat dari semula, yang akan berakhir saat ovulasi. Fase proliferasi tergantung pada stimulasi estrogen yang berasal dari folikel ovarium. 5
c.       Fase Sekresi
Fase sekresi berlangsung sejak hari ovulasi sampai sekitar tiga hari sebelum periode menstruasi berikutnya. Pada akhir fase sekresi, endometrium sekretorius yang matang dengan sempurna mencapai ketebalan tertentu dan halus. Endometrium menjadi kaya dengan darah dan sekresi kelenjar. 5
GAMBAR SIKLUS HAID
(dikutip dari kepusatakaan 5)





III.         KLASIFIKASI GANGGUAN HAID
Gangguan haid dan siklusnya khususnya dalam masa reproduksi dapat digolongkan dalam: 6
1.       Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada haid:
a.       Hipermenore atau menoragia
b.      Hipomenore
2.       Kelainan siklus:
a.       Polimenore
b.      Oligomenore
c.       Amenore
3.       Gangguan lain yang ada hubungan dengan haid: Dismenore

III.1      Hipermenore/Menoragia
Hipermemore ialah perdarahan haid yang lebih banyak dari normal, atau lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari). Pasien dengan menoragi biasanya mengeluh peningkatan perdarahan menstruasi sehingga membutuhkan perawatan yang lebih baik. 6
Adapun etiologi gangguan tersebut: 4, 6, 7
·           Uterus
a)      Fibroid
b)      Polip endometrium
c)      Endometriosis
d)     Pelvic Inflammatory Disease
·            Sistemik
a)      Gangguan koagulasi
b)      Penyakit Von Willebrand
c)      Idiopathic Thrombocytopaenia Purpura
d)     Defisiensi faktor V,VII,X dan XI
e)      Hipotiroid
·           Iatrogenik
a)         Kontrasepsi progesteron
b)    Alat kontrasepsi dalam rahim
c)     Antikoagulan

Langkah- langkah untuk penegakan diagnosis: 4
·           Anamnesis
a)         Berapa lama waktu menstruasinya?
b)        Apakah ada gumpalan?
c)         Berapa lama biasanya mestruasinya berlangsung dan seberapa sering terjadi?
d)        Apakah terdapat perubahan antara mensturasinya?
e)         Apakah ada perdarahan setelah berhubungan?
f)         Apakah ada nyeri pinggang atau dispareunia?
g)        Kontrasepsi apa yang telah digunakan?
·         Pemeriksaan 4, 7
a)      Papsmear
b)      Hematologi dan biokimia
Darah rutin harus dilakukan pada pasien yang mengeluh menoragia karena sering menimbulkan anemia. Pemeriksaan terhadap gangguan pembekuan hanya dilakukan jika terdapat indikasi klinis, misalnya, menoragi sejak menarche dan riwayat perdarahan sejak lahir.
c)      Imaging
Transvaginalsonografi (TVS) biasanya menjadi pemeriksaan utama. TVS mengukur ketebalan endometrium dan mendiagnosa polip dan leiomioma dengan sensitivitas 80% dan spesifitas 69%
d)     Pengambilan sampel endometrium
Tujuan pengambilan sampel endometrium pada menoragia adalah untuk menyingkirkan atau mendiagnosis kanker atau hiperplasia endometrium. Pengambilan sampel endometrium direkomendasikan pada wanita dengan umur lebih dari 40 tahun dan mereka dengan peningkatan risiko keganasan endometrium. Risiko-risiko tersebut berupa obesitas, DM, hipertensi, anovulasi kronik, nulipara dengan riwayat infertilitas, riwayat keluarga dengan kanker endometrium. Pada wanita muda pengambilan sampel endometrium juga bisa sebagai indikasi jika terjadi perdarahan abnormal  yang tidak membaik dengan pemberian obat. Metode yang umum digunakan yaitu dengan aspirasi kuretase, dilatasi dan kuretase, histeroskopi.

Tujuan terapi adalah untuk menurunkan kehilangan darah, menurunkan risiko anemia dan meningkatkan kualitas hidup. Terapi medis diindikasikan ketika ada tanda abnormalitas pelvis dan wanita tersebut ingin mempertahankan fertilitasnya. 4
Terapi medis dapat dibagi menjadi 2 kelas utama, yaitu nonhormonal dan hormonal.
·               Terapi Nonhormonal 4
Terapi nonhormonal diberikan ketika sedang terjadi menstruasi dan harus menjadi lini pertama dalam penanganan yaitu menggunakan NSAID seperti asam mefenamat atau antifibrinolitik seperti asam traneksamat.
NSAID memiliki kandungan untuk menghambat pembentukan prostaglandin dan juga mengikat reseptor prostaglandin yang meningkat pada uterus wanita dengan menoragi. Banyaknya darah yang hilang akibat menstruasi juga telah dievaluasi untuk jenis NSAID seperti naproxen, ibuprofen, sodium diclofenac, dan flurbiprofen.
Dosis optimal sangat sulit untuk ditentukan. Beberapa peneilitian telah menganalisa regimen mulai dari menstruasi hari pertama dan dilanjutkan sampai 5 hari atau sampai menstruasi berhenti. Efek samping yang umum dengan penggunaan NSAID adalah iritasi saluran gastrointestinal dan inhibisi agregasi platelet. Penghambat spesifik COX-2 mungkin dapat efektif pada pengobatan menoragia, tetapi masih terdapat ketidak jelasan mengenai keamanan dari obat ini. Obat lain yang dapat diberikan selain NSAID adalah antifibrinolitik karena pada kasus menoragia terdapat peningkatan aktivitas fibrinolitik endometrium.
·               Terapi Hormonal 4
Untuk terapi hormonal terdiri dari progestogen, estrogen, gonadotropin-releasing hormon agonist, AKDR dengan hormon seperti levonorgestrel, anti-progestational agents,
·               Operasi 4
Operasi mungkin diperlukan pada kasus-kasus seperti polip, fibroid, atau ada massa pada endometrium. Tindakannya bisa melalui pengangkatan polip pada endometrium, ablasi endometrium, myomektomi, hingga histerektomi.

III. 2    Hipomenore
Hipomenore ialah perdarahan haid yang lebih pendek dan/atau lebih kurang dari biasa (kurang dari 2 hari). Penurunan jumlah darah menstruasi biasanya efek samping umum dari kontrasepsi hormonal, seperti kontrasepsi pil, AKDR hormonal, atau hormonal implan. 6
Adapun etiologi gangguan tersebut : 6
·         Sindrom Asherman yaitu terjadi adhesi intrauterin
·         Uterus: Bisa disebabkan oleh karena ukuran rongga uterus mengecil misalnya karena miomektomi
·         Emosional dan psikologi

Langkah- langkah penegakan diagnosis :
·         Anamnesis
·         Laboratorium
Jumlah FSH, LH, estrogen, prolactin.
·         USG
Untuk melihat ketebalan dari endoemtrium

Tidak ada terapi yang khusus kecuali jika ditemukan sebab yang nyata, terapi terdiri atas menenangkan penderita. Adanya hipomenore tidak mengganggu fertilitas.

III. 3      Polimenore
Pada polimenorea siklus haid lebih pendek dari biasa (kurang dari 21 hari). Perdarahan kurang lebih sama atau lebih banyak dari haid biasa. Hal yang terakhir ini diberi nama polimenoragia atau epimenoragia. 6
Polimenorea dapat disebabkan oleh gangguan hormonal yang mengakibatkan gangguan ovulasi, atau menjadi pendeknya masa luteal. Sebab lain ialah kongesti ovarium karena peradangan, endometriosis, dan sebagainya. 6

III. 4      Oligomenore
Di sini siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari. Apabila panjangnya siklus lebih dari 3 bulan, hal itu sudah mulai dinamakan amenore. Perdarahan pada oligomenore biasanya berkurang. 6
Oligomenore dan amenore sering kali mempunyai dasar yang sama, perbedaannya terletak dalam tingkat. Pada kebanyakan kasus oligomenorea kesehatan wanita tidak terganggu, dan fertilitas cukup baik. Siklus haid biasanya juga ovulatoar dengan masa proliferasi lebih panjang dari biasa. 6
III. 5      Amenore
Amenore adalah tidak adanya haid. Amenore yang fisiologis terjadi pada wanita yang belum puber, sementara hamil dan laktasi, dan sesudah menopause. Amenore patologik terjadi pada 5% usia wanita yang reproduktif. Penderita yang mengalami amenore harus diperiksa lebih lanjut untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya. 6, 9
Penyebab umum amenore: 1
·         Defek Hipotalamus
§  Defek pada transportasi GnRH. Adanya gangguan pada transportasi GnRH dari hipotalamus ke hipofisis bisa diakibatkan oleh trauma, kompresi, radiasi, tumor, infeksi.
§  Defek pada produksi GnRH. Akibat adanya penurunan pada produksi GnRH maka LH dan FSH yang dapat dilepas sangat sedikit atau bahkan tidak ada, akibatnya tidak terjadi pembentukan folikel, tidak terjadi pembentukan estradiol, dan terjadilah amenore. Hal ini terjadi pada wanita yang belum puber, dan yang terlambat puber seperti anorexia nervosa, stress berat, penurunan berat badan secara ekstrim, kegiatan olahraga berlebihan, dan hiperprolaktinemia. Kadang juga penyebabnya masih idiopatik.1
§  Defisiensi GnRH kongenital. Disebut juga hipogonadotopik hipogonadisme idiopatik ketika terjadi fenomena terisolasi, dan Kallmann’s Syndrome ketika berhubungan dengan anosmia.
·         Defek Hipofisis 1
§  Disfungsi hipofisis kongenital. Kondisi ini sangat jarang terjadi
§  Disfungsi hipofisis didapat. Sindrom Sheehan yang ciri-cirinya adalah amenore pasca melahirkan, yang terjadi akibat nekrosis hipofisis akibat perdarahan hebat dan hipotensi, tetapi hal ini sangat jarang terjadi. Operasi dan pemaparan radiasi akibat tumor hipofisis juga dapat menyebabkan amenore.
·         Disfungsi Ovarium 1
Hal yang paling sering terjadi ialah disgenesis gonad. Gangguan ini biasa berhubungan dengan abnormalitas kromoson, yang mengakibatkan gangguan perkembangan gonad, deplesi prematur dari folikel ovarium dan oosit, dan tidak adanya sekresi estradiol.
Kegagalan ovarium primer ditandai dengan meningkatnya gonadotropin dan rendahnya estradiol (hipergonadotropic hipogonadisme). Kegagalan ovarium sekunder hampir selalu diakibatkan oleh disfungsi hipotalamus dan ditandai dengan normal atau rendahnya gonadotropin dan rendahnya estradiol (hipogonadotropic hipogonadisme)
Gangguan gonad dapat juga mengakibatkan disgenesis ovarium (sindrom Turner), sindrom testicular feminization.

Amenore terbagi menjadi amenore primer dan amenore sekunder.
a.         Amenore primer
Amenore primer ialah apabila seseorang tidak mendapat haid di atas umur 16 tahun atau tidak mendapat haid diatas 13 tahun dimana tidak adanya pertumbuhan dan perkembangan seks sekunder. Biasanya merupakan hasil dari genetik dan abnormalitas anatomi. 8
Etiologi tersering dari amenore primer : 8
§   Abnormalitas kromosom yang menyebabkan disgenesis gonadal
§   Psikologik akibat keterlambatan puberitas
§   Mullerian agenesis
§   Transvers septum vagina atau himen imperforata
§   Tidak adanya produksi Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) oleh hipotalamus
§   Anorexia nervosa
§   Hipopituitarism
Diagnosis :
§  Anamnesis 6, 8
Dapat ditanyakan bagaimana tanda-tanda pubertas, riwayat keluarga dengan gangguan pubertas, adanya tanda-tanda stres seperti perubahan berat badan atau perubahan pola makan, apakah ada kemungkinan kehamilan, apakah ada menderita penyakit akut atau menahun dan penyakit metabolik.
§  Pemeriksaan Fisis  6,8
Mengevaluasi perkembangan pubertas termasuk tinggi,  berat, payudara, apakah ada tanya hirsutisme, pemeriksaan ginekologi.
§  USG 8
Untuk melihat apakah ada kelainan kongenital pada uterus, ovarium dan serviks.
Penatalaksanaan
Penanganan pada amenore primer ditujukan langsung terhadap kelainan yang terjadi, membantu penderita untuk mendapatkan fertilitas, dan mencegah komplikasi dari penyakit. Untuk kelainan anatomi kongenital biasanya dibutuhkan operasi. Untuk kegagalan ovarium bisa diberikan terapi pengganti hormonal.




b.        Amenore sekunder
Amenore sekunder ialah tidak adanya haid selama 3 siklus haid pada wanita yang sebelumnya pernah mendapat haid atau selama 6 bulan berturut-turut. Amenore sekunder terjadi pada 0,7% – 3% wanita. 8
Etiologi : 8
·           Disfungsi hipotalamus
·           Polycystic Ovarian Syndrome
·           Kelainan hipofisis
·           Kegagalan ovarium prematur
·           Sindrom Asherman
·           Faktor emosional dan stress
Diagnosis
§  Anamnesis 8
·         Riwayat stress (perubahan berat badan, pola makan)
·         Penggunaan obat-obat yang berhubungan dengan amenore
·         Gejala-gejala penyakit hipotalamus-hipofisis yaitu sakit kepala, gangguan penglihatan, cepat lelah, poliuri dan polidipsi.
·         Gejala-gejala defisiensi estrogen, seperti vagina kering, gangguan tidur atau penurunan libido
§  Tes Kehamilan 8
Tes kehamilan adalah langkah pertama dalam mengevaluasi amenore sekunder. Pengukuran serum beta hCG adalah tes yang paling sensitif.
§  Pemeriksaan Fisis 8
Pengukuran berat badan, tinggi badan, tanda-tanda penyakit lain, penilaian dari kulit, payudara, dan jaringan gential harus diperhatikan untuk mengevaluasi defisiensi estrogen. Permeriksaan payudara untuk melihat apakah terdapat galaktorea, pemeriksaan kulit untuk melihat hirsutism, jerawat, stria vitiligo.
§  Laboratorium 8
Selain pemeriksaan beta hCG, juga harus diperiksa serum prolaktin, thyrotropin, FSH. Pemeriksaan TSH dan FT4 dilakukan karena hipotiroid dapat menyebabkan hiperprolaktinemia yang dapat mengakibatkan terjadinya amenore.
Penatalaksanaan 8
Pada wanita yg atletik harus dikonsultasikan tentang pemberikan intake kalori yang lebih tinggi atau mengurangi latihan. Untuk wanita nonatletik yang kurus harus diberikan konsultasi tentang nutrisi dan pengobatan masalah pola makannya. Hiperprolaktinemia diterapi dengan dopamin agonis seperti bromokriptin. Bromokriptin akan berikatan dan menstimulasi reseptor dopamin (D2) dan sel laktotroph adenomatous dalam keadaan normal. Terapi ini akah menghasilkan normoprolaktinemia atau mengembalikan menstruasi. Kegagalan ovarium diterapi dengan terapi pengganti hormonal. Sindrom Asherman diterapi dengan melisiskan adhesi melalui histeroskopi.

III. 6      Dismenore
Dismenore adalah nyeri menstruasi, biasanya terasa kram dan berpusat pada perut bagian bawah. Dismenore juga sering menjadi suatu sindrom atau kumpulan gejala-gejala seperti nausea, vomiting, sakit kepala, cepat lelah, diare, pingsan, nyeri perut bawah, mood yang berubah-ubah, nyeri punggung, dan pusing. Kumpulan gejala ini biasanya muncul 24- 48 jam  sebelum atau saat menstruasi dan maksimal 48 jam setelah itu. Nyeri pelvis berhubungan dengan menstruasi sebagai reaksi fisiologis dari terjadinya ovulasi, premenstrual sindrom, dismenore primer atau sekunder. 9, 10
Dismenore termasuk salah satu kasus terbanyak dari banyak kelainan ginekologi. Perkiraan insidensi dari wanita yang sedang menstruasi bervariasi dari 3% hingga 90%, tergantung dari populasi yang diteliti dan kriteria yang digunakan untuk mendefinisikan dismenore.  Wanita dengan riwayat menarche pada usia yang lebih muda dan memiliki perdarahan yang berat pada periodenya beresiko menderita dismenore. 9, 10
Dismenore terbagi menjadi 2 kategori, yaitu primer dan sekunder. 9, 10
a.         Dismenore Primer
Pada dismenore primer, tidak terdapat tanda kelainan klinis yang dapat dideteksi (idiopatik). Biasanya dimulai saat siklus ovulatori dari umur 6 – 12 bulan sampai 2 tahun setelah menarche dan terus memberat, memuncak saat usia 23 sampai 27 tahun, kemudian nyerinya mulai menurun. 9
Nyeri dismenore primer biasanya pada bagian tengah bawah, dan mungkin menjalar ke punggung atau sela paha bagian dalam. Rasa tidak nyaman mulai 2 hari sebelum, saat, atau sesudah onset dari menstruasi. Nyeri bisa berat pada hari pertama dan biasanya bertahan tidak lebih dari 48 jam. Nyeri bisa bersamaan dengan peningkatan darah menstruasi dan gejala-gejala tadi. Nyeri biasanya progresif dari tahun ke tahun, kemudian mulai menurun setelah umur 27 tahun atau pada saat hamil. 9
Etiologi 9, 10
·           Peningkatan produksi dan pelepasan prostaglandin uterus (PGE2 dan PGF2). Peningkatan prostaglandin selama menstruasi memberikan peningkatan aktivitas uterus yang abnormal yang menghasilkan iskemi pada uterus dan memberikan rasa nyeri.
·           Faktor perilaku dan psikologi. Menurut beberapa penelitian, hubungan dismenore dan faktor psikologi masih relatif kecil.
·           Faktor serviks. Penelitian mendapatkan terdapat penyempitan yang signifikan dari kanalis servikalis pada beberapa wanita yang mengalami dismenore.
·           Faktor hormonal.
·           Faktor lainnya seperti anemia, cepat lelah, penyakit sistemik seperti DM, TB dapat dihubungkan dengan insidens terjadinya dismenore primer.
Penatalaksanaan 9
1.      NSAID
Contoh obat NSAID yang bagus digunakan ialah Asam Mefenamat 500 mg per oral, Ibuprofen 400 mg, 600 mg, 800 mg per oral, dan Naproxen Sodium 550 mg dosis awal per oral.. Kontraindikasinya pada penderita tukak lambung, asma, hipersensivitas pada obat NSAID, dan penyakit hati atau ginjal.
2.      Menghambat Ovulasi.
Kontrasepsi oral bisa diberikan pada penderita yang ingin menggunakan kontrasepsi untuk mengendalikan nyeri, tidak sembuh dengan penggunaan NSAID, dan tidak mempunyai kontraindikasi untuk menggunakan kontrasepsi pil.
Kontrasepsi pil kombinasi (tinggi progesteron, rendah estrogen) telah digunakan untuk mengobati dismenore primer dengan hasil yang memuaskan.


3.      AKDR
AKDR mengandung progesteron (Progestasert) mungkin dapat menurunkan nyeri dismenore. Tetapi, penggunaannya juga dapat menyebabkan rasa nyeri dan menimbulkan efek samping lain.
4.      Betamimetic agen
Terbutalin dapat menurunkan rasa nyeri yang signifikan pada beberapa penderita. Tetapi, memiliki banyak efek samping seperti tremor, palpitasi, dan peningkatan kehilangan darah haid.
5.      Akupuntur dan akupresur
Lokasi akupresur pada tangan di sela-sela antara ibu jari dan telunjuk, area lumbosacral, dan 3 cm di atas malelous medial.

b.      Dismenore Sekunder 9
Adalah nyeri menstruasi yang disebabkan oleh proses patologi pada pelvis. Nyeri yang terjadi pada haid pertama atau setelah umur 25 tahun tanpa gejala-gejala yang disebut di awal tadi, perlu dipikirkan kelainan anatomi.
Penyebabnya sangat banyak seperti adenomiosis, endometriosis, fibroid intramural atau submukosa , polip endometrium dan endoserviks, AKDR, Pelvic Inflammatory Disease (PID), kelainan kongenital uterus, dan lain-lain.
Gejala dan pola nyerinya tergantung dari penyebabnya. Penting untuk menentukan usia saat pertama kali nyeri, lama nyerinya, gejala-gejala ian, sifat tidak nyaman, dan hubungannya dengan siklus haidnya. Dismenore sekunder harus dicurigai jika nyeri haid mulai setelah umur 20 tahun. Sifatnya ialah nyeri panggul yang konstan yang kadang menjalar hingga ke belakang. Kadang dihubungkan dengan infertilitas dan dispareunia. 9
Untuk menegakkan diagnosis, langkah-langkahnya sama seperti dismenore primer. Sedangkan penanganannya disesuaikan dengan penyebabnya.




DAFTAR PUSTAKA


1.      DeCherney AH, Nathan L., Goodwin TM. Current Diagnosis & Treatment Obstetric & Gynecology, Tenth Edition. United States: The McGraw-Hill Companies; 2007. p. 342- 3.
2.      Hopkins Michael and Meniru Godwin. Abnormal Uterine Bleeding. In: Curtin M, Overholt S., and Hopkins M, editors. Glass’ Office Gynecology Sixth Edition. London: Lippincott Williams and Wilkins; 2006. p. 177 -8.
3.      Gilstrap Larry and Wenstrom Katharine. Williams Obstetrics. Twenty-Second Edition. United States: The McGraw-Hill Companies; 2005. p. 26-7.
4.      Ledger William. The menstrual cycle. In: Edmonds Keith editor. Dewhurst’s Textbook of Obstetric and Gynecology Seventh Edition.. United States: Blackwell Publishing; 2007. p. 348.
6.      Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2007. p. 203- 33.
7.      Pitkin J, Peattie A, and Magowan B. Obstetrics and Gynaecology. United States: Churchill Livingstone; 2006. p. 122-5.
8.      Chan PD and Johnson Susan. Gynecology and Obstetrics. United States: Current Clinical Strategies Publishing; 2004. p 29- 34.
9.      Tilton Patti. Dysmenorrhea. In: Haven Carol and Sullivan Nancy, editors. Manual of Outpatient Gynecology 4th Edition. United States: Lippincott Williams & Wilkins; 2002. p. 140-5.
10.  Speroff, Leon and Fritz, Marc. Clinical Gynecologic Endocrinology & Infertility, &&th Edition. United States: Lippincott Williams & Wilkins; 2005. p. 540- 3.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...