Kamis, 04 April 2013

Refarat Trauma dan Luka Bakar pada Anak



Trauma dan Luka Bakar pada Anak

Emma-Beht Wilson
Jon G MCCormack

Abstrak
Trauma merupakan salah penyebab utama kematian pada anak yang sulit untuk terhindari. Seringkali hal ini terjadi karena kecelakaan bermotor atau terjatuh. Resusitasi yang terkoordinasi pada fase awal setelah trauma dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Pendekatan multi-profesional harus dilakukan pada penatalaksanaan awal anak yang mengalami cedera berat: primary survey dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengatasi berbagai kondisi yang mengancam jiwa terutama yang berkaitan dengan keadaan jalan napas, pernapasan maupun sirkulasi. Setelah dilakukan stabilisasi kardiovaskuler, maka secondary survey harus dilakukan untuk menstrukturisasi pemeriksaan yang lebih terperinci terhadap berbagai jenis cedera lainnya. Beberapa komponen penting yang perlu diperhatikan pada seconday survey adalah terapi cairan, analgesia, termoregulasi dan homeostasis glukosa. Anak yang selamat dari kebakaran biasanya mengalami luka bakar pada jalan napas bagian atas atau secara tidak sengaja menghirup asap kebakaran, sehingga pada semua pasien seperti itu, perlu dilakukan kontrol jalan napas dan ventilasi yang secepatnya. Luka baka dan lepuhan kulit dapat menyebabkan kehilangan cairan serta meningkatkan resiko mortalitas yang diakibatkan oleh komplikasi lanjut. Review ini akan membahas mengenai prinsip primary dan secondary survey pada pasien anak yang mengalami cedera, baik itu yang berkaitan dengan resusitasi cairan maupun ringkasan penatalaksanaan luka bakar pada anak.
Kata kunci: manajemen jalan napas; luka bakar; terapi cairan; pediatric; resusitasi; trauma

Epidemiologi

Di Negara maju, trauma merupakan penyebab 50% mortalitas pada pasien anak. Jumlah kematian anak yang disebabkan oleh trauma sekitar lima kali lebih banyak dari jumlah kematian akibat kanker. Sekitar 98% cedera pada anak disebabkan oleh trauma tumpul: anak yang berusia lebih muda dan bayi seringkali mengalami cedera mayor/berat akibat kecelakaan bermotor dan kebakaan, sedangkan untuk anak yang berusia lebih tua, terutama remaja, cedera lebih sering timbul karena percobaan bunuh diri maupun aktivitas olahraga, dan hal tersebut seringkali mengakibatkan cedera vertebra servikalis.

Sekitar 90% anak yang terlibat dalam kecelakaan bermotor, mengalami traumatic brain injury (TBI), dan sekitar 75% menderita fraktur tulang panjang. Mayoritas pasien-pasien tersebut dapat diberi tatalaksana yang bersifat konservatif dengan luaran hasil yang baik. Angka kejadian polytrauma pediatric di Inggris mencapai 3,7%. Morbiditas kronik hingga saat ini masih menjadi masalah utama dalam kasus trauma pada anak, di mana ada sekitar 10% kasus cacat neurologis permanen ditemukan pada anak berusia 4 tahun yang mengalami TBI.

Namun dalam 20 tahun terakhir, telah terjadi penurunan angka mortalitas sekitar 50% pada kasus trauma dan luka bakar anak. Keberhasilan ini ditunjang oleh kemajuan intervensi diagnostic dan terapeutik, serta adanya peningkatan tindakan pencegahan dan keamanan berkendara.

Primary survey
Kita harus mengaplikasikan metode ABC dalam memeriksa anak yang mengalami cedera. Salah satu hal penting yang harus dilakukan adalah menentukan parameter tanda-tanda vital sesuai dengan usia anak (Tabel 1). Di unit-unit perawatan yang jarang menerima pasien anak yang cedera, maka dapat digunakan alat bantu berupa tape Broselow  dalam penatalaksanaan awal.

Jalan napas
Salah satu penyebab utama henti jantung pada pediatric adalah hipoksia miokardial yang merupakan kejadian sekunder dari gangguan jalan napas. Pemeriksaan dan penatalaksanaan yang cepat pada jalan napas, serta imobilisasi vertebra servikalis, merupakan hal yang vital. Beberapa poin kunci dalam manajemen jalan napas antara lain:
·         Imobilisasi spinal secara tepat
·         Manuver jalan napas
·         Pemberian oksigen
·         Pemeriksaan untuk mengetahui ada tidaknya benda asing
Semua pasien yang mengalami cedera harus dianggap mengalami cedera vertebra servikalis, hingga hal tersebut dapat disingkirkan dari diagnosis. Kendaraan paramedik/ambulans harus memiliki alaat imobilisasi spinal (papan spinal/spinal board, collar neck, dan tali penyokong kepala), untuk digunakan dalam pemeriksaan integritas tulang belakang. Pasien anak yang sadar dan mengalami distress akibat nyeri biasanya tidak tahan dengan imobilisasi spinal, sehingga harus dilakukan stabilitasi in-line secara manual.
Terkadang kita harus melakukan sejumlah modifikasi manuver saat mengatasi gangguan jalan napas agar kita dapat meminimalisasi tekanan oada vertebra servikalis. Secara umum, tindakan head tilt dan chin lift bukanlah manuver yang dianjurkan; manuver yang dianjurkan adalah jaw thrust, dan jika perlu, hal tersebut dapat dikombinasikan dengan stabilisasi in-line manual. Jika patensi jalan napas tidak berhasil dipertahankan, maka kita dapat menganggap bahwa terdapat benda asing di jalan napas bagian atas. Inspeksi pada orofaring serta suction merupakan salah satu cara untuk menyingkirkan debris, secret dan benda asing pada jalan napas. Tidak dianjurkan melakukan finger sweeps tanpa inspeksi atau melakukan suction orofaringeal tanpa melihat keadaan jalan napas pasein karena hal tersebut dapat memperparah trauma atau mendorong benda asing semakin ke distal. Jika suction juga gagal mempertahankan patensi jalan napass, maka kita dapat menggunakan alat jalan napas tambahan seperti alat jalan napas orofaringeal/gudel. Saat memasang alat jalan napas orofaringeal, harus dilakukan secara hati-hati untuk meminimalisasi resiko eksarsebasi trauma jaringan lunak. Alat jalan napas nasofaringeal harus dihindari penggunaannya baik pada pasien trauma anak maupun dewasa karena dalam proses pemasangannya, bisa saja alat tersebut masuk ke fosa cranial jika terdapat fraktur basis cranium.
Jika semua langkah di atas gagal mempertahankan patensi jalan napas, maka intubasi endotrakeal dapat dijadikan sebagai pilihan selanjutnya. Tindakan ini harus dilakukan oleh dokter yang berpengalaman, karena pasien anak memiliki struktur jalan napas yang agak berbeda dengan orang dewasa. Seperti yang disebutkan sebelumnya, bahwa rute oral lebih dipilih ketimbang rute nasal dan sebelum intubasi, harus dilakukan pemberian preoksigenasi, agen induksi dan relaksan otot  yang sesuai dengan kondisi pasien pediatric. Semua pasien trauma diasumsikan memiliki isi lambung yang penuh, sehingga harus digunakan teknik intubasi rapid sequence. Obat dan dosis yang digunakan harus disesuaikan dengan kondisi pasien, namun kita harus berhati-hati saat memberikannya pada pasien hipovolemik, sebab hipotensi bisa saja terjadi pada pemberian induksi propofol atau thiopental, sehingga ketamine (1-2 mg/kg IV) dapat digunakan dalam induksi (kecuali terdapat hipertensi intracranial), yang dikombinasikan dengan relaksan otot berupa suxamethonium (1-2 mg/kg).
Selama pre-oksigenasi, maka alat imobilisasi servikal harus disingkirkan agar memudahkaan proses indukasi dan pemasangan intubasi. Sehingga dibutuhkan seorang asisten yang bertugas untuk mempertahankan stabilisasi in-line vertebra servikalis. Setelah intubasi, maka collar neck dapat dipasang kembali. Penekanan krikoid harus dilakukan oleh asisten yang lain, dan sebaiknya menggunakan teknik bimanual, sedangkan tangan lainnya diletakkan di belakang vertebra untuk menahan tekanan berlebihan yang berasal dari penekanan kartilago krikoidea. Jika intubasi berhasil dilakukan, maka imobilisasi spinal harus kembali dipertahankan.
Kesulitan atau kegagalan intubasi harus diatasi berdasarkan panduan terpublikasi yang telah disepakati bersama.
 Pernapasan
Hipoksia dan asidosis respiratorik seing kali menyetai gangguan jalan napas pada pasien trauma pediatric. Pemeriksaan respirasi harus meliputi beberapa hal seperti usaha pasien dalam bernapas, seperti pengembangan napas, rintihan, tarikan spasium interkostal atau angulus suprasternal, pergerakan “see-saw” abdominal dan suara tambahan. Semua hal tersebut merupakan penanda adanya peningkatan upaya bernapas. Pola pernapasan yang tidak teratu merupakan salah satu tanda-tanda awal henti napas, sehingga hal ini harus segera diatasi. Trauma tumpul berenegi tinggi dapat menyebabkan kontusio paru-paru tanpa menimbulkan fraktur kosta, dan hal ini dapat mengakibatkan asidosis respirasi, meskipun kita telah mempertahankan patensi jalan napas. Ada sejumlah kesulitan dalam melakukan pengambilan darah arterial guna pemeriksaan keseimbangan asam-basa pada fase awal resusitasi, sehingga strategi ventilasi standar diupayakan agar pasien mendapatkan hiperventilasi ringan, karena semua pasien diasumsikan mengalami asidemia. Gas darah kapiler atau vena sangat bermanfaat dalam manajemen ventilasi pada fase resusitasi akut.
Pada primary survey, kita harus bisa mengeksklusi pneumothoraks massif atau tension pneumothoraks secara klinis  (Gambar 1), sehingga thorakosentesis dapat langsung dilakukan begitu ada kecurigaan terjadi tension pneumothoraks yang berpotensi menimbulkan gagal napas. Pneumothoraks massif yang mendapatkan ventilasi tekanan positif justru akan menimbulkan tension, sehingga kasus seperti ini juga membutuhkan tindakan dekompresi secara cepat. Insersi drain chest tube interkostal harus dilakukan sesegera mungkin setelah thorakosentesis.
Sirkulasi
Pemeriksaan kardiovaskuler dilakukan untuk mencari tanda-tanda syok, dan menentukan perfusi jaringan perifer. Kapasitas kompensasi fisiologis pada anak dapat menyembunyikan tanda-tanda syok. Sehingga meskipun tekanan darah dan denyut jantung masih terlihat dalam batas normal, bisa saja pasien pediatric tengah mengalami syok. Sehingga pemeriksaan perfusi jaringan perifer dapat membantu menentukan adanya hipoperfusi. Kita harus dapat menentukan penyebab dasar timbulnya syok, entah itu karena anafilaktik, sepsis, kardiogenik, maupun hipovolemia. Volume darah normal dapat bervariasi tergantung pada umur pasien. Pada neonates pre-term, jumlah cairan dalam tubuhnya adalah 90 ml/kg
Tujuan resusitasi cairan adalah untuk mengembalikan volume cairan kompartemen tubuh yang normal dan unsur elektrolit yang menyebabkan terjadinya edem jaringan. Tindakan ini harus selalu dititrasi tergantung dari pengamatan klinis dalam respon terapi, baik menggunakan parameter kardiovaskuler dan  sesuai daftar penilaian perfusi organ akhir yang ada dalam table 2. Panduan lokal lebih memilih penggunaan cristaloid ataupun koloid untuk kebutuhan resusitasi, tapi diaripada memikirkan cairan untuk resusitasinya, lebih penting untuk segera meberikan perbaikan volume cairan dan memantau respon terapi tersebut. Resusitasi cairan harus diberikan dengan suhu cairan tidak lebih dari 37oC. Pemberian bolus awal kristaloid isotonic sebanyak 20 ml/kg (baik Cairan salin normal atau cairan hartmann) sesuai untuk keadaan fase akut, yang dimana dapat diulangi dalam 15-20 menit jika diperlukan. Untuk Kegagalan respon terapi lebih dipilih memberikan dua kali bolus kristaloid sebanyak 20 ml/kgbb sesuai dengan perdarahan yang sedang terjadi dan perlu dipertimbangkan pemberian Paket sel darah merah (10-20 ml/kg), dan pada keadaan trauma yang akan dilakukan intervensi bedah mungkin diperlukan untuk mengamankan  hematostasis.
Akses interavena harus diberikan pada semua anak dengan riwayat trauma yang signifikan, bahkan jika pasien datang dengan kondisi kardiovaskuler yang stabil. Secara anatomi Vena cubiti media dan vena saphena magna relatif konstan. Vena-vena di bagian distal tangan dan kaki relatif sulit untuk di akses pada anak yang hipovolemik, dan vena di kulit kepala tidak direkomendasikan untuk resusitasi pada keadaan trauma. Penggunaan vena-vena sentral, vena femoralis dan vena jugularis, sebisa mungkin di hindari pada fase awal agar dapat digunakan dalam pemasangan akses vena sentral untuk pemberian agan vasoaktif. Jika akses vena perifer tidak bisa didapatkan dalam tiga kali percobaan selama kurang dari tiga menit pada anak usia diatas 6 tahun yang hampir mati dan tidak berespon maka direkomendasikan untuk melakukan pengaksesan ruang intraosseus. Tindakan ini dilakukan menggunakan jarum intraoseus 16 G atau menggunakan EZ-IO dengan jarum pink hub 15 mm ( pada pasien dengan  berat 3-39 kg), dilakukan 1-3 cm dibawah tuberositas tibialis pada aspek anteromedial tibia. Femur bagian distal dan Krista iliaka dapat digunakan jika terjadi cedera pada tibia. Darah (sumsum) dapat di ambil dan digunakan untuk pemeriksaan profil biokimia.  Cairan dan obat dapat diberikan melalui akses intravena. Oleh  karena adanya resiko emboli lemak, osteomielitis dan sindroma kompartemen, maka saat didapatkan akses intravena yang sesuai dan aman,  akses intraoseus harus dihentikan sesegera mungkin setelah fase resusitasi emergensi.
Pemberian obat-obatan untuk mendukung sirkulasi selama survey primer harus dibatasi pada agen-agen yang digunakan untuk keadaan henti jantung, terutama epinefrin 10 mikrogram /kgBB dan pada beberapa keadaan, atropine 20 mikrogram/kgBB . Keadaan hipoksia harus selalu terlebih dahulu disingkirkan pada anak dengan kondisi bradikardi. pemberian bikarbonat harus diberikan secara hati-hati pada keadann trauma dengan asidosis metabolic sebagai indicator adanya hipoksia organ akhir, dan penatalaksanaan harus secara langsung memperbaiki hal ini, dibandingkan modulasi pH plasma jangka pendek.
“DEFGHI”
Setelah penilaian awal dan tatalaksana “ABC” pada pasien anak yang mengalami trauma ada beberapa aspek yang perlu dinilai sebelum melanjutkan ke pemeriksaan mendetail pada survey sekunder. harus dipertimbangan pula pemberian analgesik selama fase ini.
D: disabilitas (keterbatasan): Tingkat kesadaran akan dinilai secara otomatis saat menilai jalan nafas dan sistem pernafasan  tetapi dibutuhkan adanya modifikasi penilaian skala koma Glasgow (GCS) untuk anak (table 3), dan ukuran, kesimetrisan dan respon pupil harus di nilai sebelum menyelesaikan survey primer. Pada keadaan hipotensi atau GCS kurang atau sama dengan 6 saat masuk merupakan predictor yang signifikan terhadap kondisi hasil akhir yang buruk. Pada anak yang usianya kurang dari 18 bulan, fontanella anterior dapat menjadi indikator keadaan volume dan tekanan intracranial, dengan adanya penonjolan frontanella pada kasus trauma kepala meningkatkan kecurigaan adanya hematom intracranial.
E: Exposure dan environment (paparan dan  lingkungan): baik dewasa, bayi maupun anak  mudah terjadi hipotermi selama resusitasi. Hipotermi merupakan hasil dari adanya vasokonstriksi , asidosis dan koagulopati. Pasien mendapatkan paparan penuh sebagai bagian dari proses resusitasi, menyediakan alat-alat ini tidak menghalangi penggunaan selimut hangat atau matras penghangat. Cairan infuse yang diberikan selama resusitasi trauma harus dihangatkan hingga sama dengan temperature tubuh.
F : Fluid dan foley : Setelah memberikan resusitasi bolus awal, harus dipertimbangkan pemberian cairan tambahan. walaupun tidak serupa dengan respon stres hiperglikemi, mungkin penting pemberian cairan yang mengandung glukosa pada bayi yang kecil, yang diberikan melalui infus yang berbeda dari bolus resusitasi untuk meminimalisir resiko pada pemberian cairan hipotonik. semua anak-anak dengan penyakit kritis, baik itu keadaan trauma atau lainnya, harus dilakukan pemasangan kateter urin dan pada kasus dengan trauma pelvic pemasangan harus dilakukan oleh bedah urologi anak.
G: glucose and gastric (gula dan lambung): semua pasien  harus mendapatkan pemeriksaan kadar gula darah saat perawatan selama survey primer, yang mana harus dilakukan sebagai suatu prioritas pada anak kecil dan bayi dan semua pasien dengan waktu pemindahan yang lama dari tempat kecelakaan. Pemberian ventilasi dengan kantung sungkup pada anak kecil dapat mengakibatkan peningkatan tekanan lambung, karena itu setelah mengamankan jalan nafas, tindakan yang juga berguna adalah melakukan dekompresi abdomen guna membantu ventilasi yang telah diberikan dan penilaian abdomen kedepannya. Pada keadaan trauma hal tersebut harus dilakukan menggunakan selang orogastrik untuk alasan yang telah diterangkan sebelumnya. Tindakan tersebut dapat digantikan dengan pemasangan selang nasogastrik setelah cedera basisi kranii telah disingkirkan
H : history (riwayat):  Informasi lebih lanjut yang terkait dengan kejadian seputar kecelakaan  sering didapatkan dari upaya tim resusitasi.untuk berkomunikasi dengan anggota layanan darurat mengenai mekanisme dan kondisi saat pasien ditemukan . Jika orang tua pasien atau orang lain yang berhubungan dengan pasien hadir ditempat maka mereka dapat meberikan informasi mengenai riwayat medis pasien pada fase ini.
I: Intvestigations (penyelidikan) : setelah akses intavena didapatkan, darah harus diambil untuk pemeriksaan profil hematologi, biokimia dan pembekuan darah selanjutnya sampel tersebut harus segera dikirimkan untuk pemeriksaan kecocokan  guna transfuse darah. Pencitraan yang dilakukan selama survey primer biasanya adalah “trauma series” dari tulang belakang bagian cervical, thorax dan pelvic. Tidak diperlukan pencitraan terhadap extremitas selama survey primer kecuali jika cedera pada extremitas tersebut ikut berperan dalam menyebabkan ketidak stabilan hemodinamik. Pada bagian kegawatdaruratan pasien dewasa, terdapat peningkatan penggunaan pencitraan FAST (Focussed abdominal sonography in trauma ) untuk menilai adanya cairan bebas intraabdomen, dimana pencitraan ini memiliki spesifitas dan sensitivitas sebesar lebih dari 90 %  berdasarkan laporan pada keadaan trauma anak.
Survey sekunder
Survey sekunder  dilakukan jika telah tercapai kondisi cardiorespirasi yang stabil pada pasien, tanpa perlu menunggu keadaan normalisasi. Jika keadaan tidak stabil muncul, survey sekunder dapat ditangguhkan hingga keadaan yang mengancam jiwa dapat ditangani. Idealnya, pendekatan multidisipliner dengan spesialisasi terkait untuk setiap area spesifik yang di periksa harus dilibatkan pada survey sekunder ini. Telah dibuktikan adanya peningkatan pencapaian Hasil akhirdengan keterlibatan dini dari para spesialis ini. Metode yang paling sesuai untuk survey sekunder ini adalah dengan mngadopsi pendekatan “top-to-toe” dengan pencitraan terfokus, guna meyakinkan bahwa semua sistem telah diperiksa, demi meminimalkan resiko melewatkan cedera yang hampir tidak Nampak.
Kepala dan leher
pemeriksaan lengkap dari wajah, kulit kepala dan leher harus mencakup penilaian cedera luar dan dalam. Mungkin tepat untuk melakukan penjahitan laserasi kulit kepala pada tahap ini yang dapat menyebabkan hipovolemi pada anak.
dua pertiga dari cedera tulang belakang cervical adalah pada region C1-C4 dengan 40% diantaranya diklasifikasikan menjadi SCIWORA (Spinal cord injury without radiological abnormality). Sekitar 40% pasien dengan cedera tulang belakang cervical juga akan mengalami cedera otak, karenanya hal tersebut harus menjadi dasar kecurigaan yang tinggi terhadap adanya cedera lain jika ditemukan adanya lesi spinal. Banyak prinsip-prinsip dari panduan saat ini dalam penanganan kasus cedera cervical potensial pada pasien dewasa yang menggunakan anastesi diterapkan pula pada pasien anak. terdapat ketidak sepakatan mengenai modalitas pencitraan optimal yang tepat, terdapat penemuan bahwa pasien dengan cedera yang nyata atau penurunan kesadaran akibat trauma kapitis maupun akibat penggunaan anastesi dengan pemeriksaan foto polos x-ray bahkan jika pada pemeriksaan foto tiga posisi tidak cukup kuat untuk menyingkirkan cedera cervical dan baik menggunakan CT tulang belakang ataupun MRI dapat digunakan. Ketika diagnosis sulit ditegakkan imobilisasi spinal harus di lakukan.
Thorax dan abdomen
Pemeriksaan mendetail terhadap cedera yang tersembunyi harus dilakukan, sebagai contoh pneumothorax atau hematothorax kecil yang mmerlukan drainase. Sebuah pemeriksaan Echokardiografi menjadi bernilai jika ada dugaan  kontusio otot jantung atau pericardial. Cedera struktur mediastinal akibat trauma tumpul lebih jarang terjadi pada anak dibandingkan pasien dewasa.

Ekstremitas
Pemeriksaan integritas serta imbobilisasi dan pencitraan radiologi musculoskeletal maupun neurovaskuler ekstremitas harus dilakukan secara menyeluruh.
Vertebra
Pemeriksaan vertebra servikalis merupakan salah satu pemeriksaan utama yang harus dilakukan. Biasanya pemeriksaan pada region ini harus dilakukan dengan manuver “log-roll”. Tonus anal (indicator fungsi sacral) juga harus diperiksa, dan sebaiknya, jangan menggunakan papan imobilisasi spinal yang terlalu keras untuk mencegah ulkus dekubitus.
Luka Bakar
Anak yang berusia di bawah 4 tahun cederung lebih mudah mengalami luka lepuhan. Luka bakar yang signifikan pada anak dapat terjadi jika luka tersebut melebihi 10% area permukaan tubuh (BSA). Dan salah satu predictor mortalitas dan trauma inhalasi adalah riwayat luka bakar yang melebihi 30% BSA dan usia pasien di bawah 4 tahun. Ahli bedah plastic pediatric harus segera dikirimi konsul sebagai salah satu manajemen awal luka bakar pada anak yang luasnya lebih dari 10% BSA, dan sebaiknya pasien seperti ini dirujuk ke rumah sakit berfasilitas lengkap.
scan0006.tif
Gambar 2: Cara menghitung BSA
Pemeriksaan
Anak yang mengalami luka bakar harus diatasi sesuai dengan metode ABC seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Dan sebagai bagian dari secondary suvey, maka BSA harus diperkirakan, dan kita dapat menggunakan bantuan diagram untuk memudahkan penghitungan (Gambar 2). Terkadang, pasien yang mengalami luka bakar membutuhkan manajemen jalan napas darurrat, baik itu karena cedera thermal pada jalan napas maupun karena kegagalan pernapasan akibat cedera parenkim. Statistic menunjukkan bahwa hanya sekitarr 10% kasus luka bakar pada anak yang membutuhkan intubasi, dan sekitar 50% membutuhkan trakeostomi. Kegagalan respirasi dapat menggandakan angka mortalitas cedera luka bakar dan sehingga untuk menurunkan angka mortalitas hingga separuhnya, maka dibutuhkan tindakan eksisi dan grafting, yang dikombinasikan dengan strategi proteksi paru-paru.
Penatalaksanaan yang Bersifat Segera
Algoritma manajemen ABC harus dilakukan pada semua pasien trauma. Intubasi biasanya sulit diaplikasikan pada pasien luka  bakar karena adanya cedera jalan napas dan edema laring. Induksi inhalasi anestesi dapat menjadi salah satu cara untuk mengatasinya. Namun induksi intravena dapat dipertimbangkan sebagai pilihan lain. Penggunaan suxamethonium harus dipertimbangkan, terkait dengan efek hiperkalemia yang dapat ditimbulkan oleh obat ini, meskipun kemungkinan besar hal ini tidak akan mempengaruhi prosedur penatalaksanaan awal pada pasien. Semua pasien luka bakar pada kepala dan leher harus ditangani oleh seorang dokter senior yang telaah berpengalaman dalam prosedur jalan napas.
Sebagai salah satu komponen utama resusitasi, maka kita harus memberikan tatalaksana berupa pemasangan jalur IV untuk menstabilisasi kardiovaskuler. Proses pemasangan akses IV pada pasien luka bakar biasanya mempunyai tantangan tersendiri, namun kita harus menghindari pemasangan akses di area yang mengalami luka bakar. Terkadang kita memerlukan prosedur kanulasi intraosseus dengan dipandu oleh ultrasonografi, agar kita dapat mencapai akses sentral. Kehilangan cairran harus diganti dengan menggunakan larutan kristaloid yang agresif, dan dosisnya didasarkan pada rumus yang telah disepakati bersama (Kotak 1). Terkadang transfuse darah dibutuhkan pada resusitasi awal dan pemeriksaan hemoglobin harus dilakukan sesegera mungkin. Luka bakar harus segera ditangani untuk menurunkan jumlah cairan yang hilang, mencegah komplikasi infektif, dan resiko hipotermia.
scan0007.tif
Kotak 2: Rumus Parkland
Rujuk Ke Pusat Perawatan Definitif
Perujukan anak yang mengalami cedera tak akan dibahas secara rinci pada artikel ini, namun tindakan ini harus dilakukan setelah secondary survey. Perujukan dapat dilakukan ke ruang operasi, unit rawat intensif (ICU), bangsal, atau rumah sakit lain yang fasilitasnya lebih lengkap. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa luaran hasil pasien dapat meningkat pada kasus luka bakar pasien yang mengalami proses perujukan ke fasilitas yang lebih lengkap oleh tim khusus pediatric. Dalam melakukan perujukan, maka hal penting yang harus diperhatikan adalah komunikasi multidisiplin dan dokumentasi resusitasi serta segala hal yang berkaitan dengan kondisi pasien. 

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...