Rabu, 24 April 2013

Siklus Saklit

Dulu waktu masih junior, saya bertemu seorang senior yang getol sekali bicara dan berdebat masalah keagamaan. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus begini, harus begitu. Ringkasnya, dia idealis.
Tapi seiring dengan berjalannya waktu, senior itu perlahan-lahan mulai berubah. Dia justru bertransformasi menjadi suatu mahluk yang 180 derajat berbeda dengan dirinya yang dulu.

Teman-teman sebayanya bilang, dia terlambat nakal. Dulu terlalu aktif beragama, jadi pas merasakan enaknya berbuat tindakan yang berbeda dengan aturan agama, dia malah keterusan.
Tapi menurutku, itu hal yang wajar. Perubahan, dari seorang agamawan jadi pendosa atau penjahat itu biasa. Sejarah mencatat banyak peristiwa seperti itu. Tidak perlu heran. Itu hanya masalah siklus kehidupan.
Saat ini jahat, besok baik. Hari ini setia, lusa selingkuh. Tahun ini beragama, tahun depan atheis. Tidak ada masalah, selama itu tidak merugikan orang lain dan tidak memaksa orang lain untuk ikut ambil bagian.

Sekarang senior itu masih sibuk dengan dunianya yang baru. Bahagia saat menang taruhan atau menemukan wanita baru. Panik saat terlambat pasang taruhan dan ketahuan selingkuh.
What a life.

2 komentar:

Sri Efriyanti az-Zahra Harahap mengatakan...

Nah, tugas kita yang mengingatkan si senior :)
Mungkin kita bisa berkaca dari pengalaman seniornya mbak, kalau melakukan hal kebaikan jangan pakai kata "terlalu". Terlalu semangat, terlalu getol, atau terlalu lainnya. Karena ketika down, susah untuk membangkitkannya kembali.
Lebih baik hal-hal kebaikan itu dilakukan secara bertahap, santai, namun pasti ^^
Sekedar sharing :D

Suka dengan blognya mbak.
Salam kenal...
=Pengeja Langit=

Seiri Hanako mengatakan...

wew parahnya yang degradasii
makanya tobat itu harus dari dalam hati
jangan di bibir saja

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...