Rabu, 03 April 2013

Situation Awareness/Situasi Kewaspadaan di bidang Anestesi


Situation Awareness/Situasi Kewaspadaan di bidang Anestesi
Abstrak
Situation awareness (SA) yang akurat dari para petugas medis dibutuhkan guna memberikan pelayan optimal dalam suatu  penatalkasanaan kasus. Pemahamanan mengenai SA dan bpengaruhnya terhadap penatalaksaan kasus merupakan hal yang penting demi keamanan pasien. Artikel ini akan memaparkan konsep SA di bidang anestesi, termasuk hubungannya dengan bidang medis lain yang berkaitan. Faktor-faktor yang berperan dalam meningkatkan suatu SA yang  dicapai melalui suatu pelatihan SA di bidang anestesi akan didiskusikan sebab beberapa kesalahan sering terjadi selama pengembangan SA. Penuli juga akan memaparkan secara singkat strategi untuk mengembangkan SA dalam praktek anestesi keseharian.
Situation awareness (SA) didefinisikan persepsi terhadap unsure-unsur lingkungan termasuk volume waktu dan ruang, pemahaman akan  keberadaan unsur-unsur tersebut dan proyeksi keadaan unsur-unsur  tersebut di masa depan. SA merupakan suatu kemampuan individu untuk mempertahankan representasi internal yang adekuat dari keadaaan suatu lingkungan yang kompleks dan dinamis serta dalam keadaan yang terus berubah setiap detik dan menit. Konsep ini pertama kali digunakan di bidang militer dan penerbangan komersil dan pertama kali dipaparkan  pada akhir tahun 1980an oleh Endsley. Berdasarkan definisi ini, SA kemudia dibagi menjadi 3 tingkat hierarki : persepsi (SA tingkat I), komprehensi (SA tingkat 2) dan proyeksi (SA tingkat 3).

Pada tahun 1995,  konsep SA diperkenalkan ke bidang anestesi oleh  Gaba et al. Kemudian, SA diklasifikasikan sebagai keterampilan non-teknis yang penting dan dimasukkan dalam alat penilaian dan taksonomi Anaesthetistd Non-Technical Skills (ANTS). Kerangka ANTS ini didesain khusus untuk para ahli anestesi dan mengandung 4 keterampilan non-teknis yang utama: kesadaran situasi, pengambilan keputusan, kerjasama tim, dan manajamen masalah.
Pada artikel ini,, akan dibahas mengenai konsep SA dan pentingnya SA dalam pengambilan keputusan yang akuratif,  yang disetai ilustrasi. Selain itu, artikel  ini membahas  berbagai pendekatan daam penilaian SA dan keterampilan yang berkaitan dengan SA. Berdasar dari latar belakang teoritis dan kognitif, penulis mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang mungkin timbul selama pengembangan SA. Penulis juga menyertakan strategi pelatihan SA yang telah diimplementasikan di bidang lain dan kemungkinannya untuk dapat diaplikasikan di bidang anestesi.
Apa itu SA?
Bentuk kata SA telah digunakan dan dapat merujuk pada individu, tim mauun suatu sistem. Berikut ilustrasi untuk membedakan pendekatan yang berbeda tersebut:
Contoh Kasus
Laki-laki 68 tahun datang dengan akut abdomen dan tanda-tanda sepsis. Anestesi general telah diberikan oleh residen anestesi tahun ke-empat untuk tindakan laparatomi eksplorasi. Setelah induksi anestesi, kateter ditempatkan di arteri radialis untuk mengawasi tekanan darah. Kateter jugular internal telah ditempatkan sejak 2 hari sebelumnya.Tiga puluh lima menit setelah embedahan dimulai,perforasi gastrointestinal diidentifikasi sebagai penyebab terjadinya peritonitis. Saat itu, tekanan sistolik pasien 95 ,,Hg dan frekueni jantung 105 kali/menit walaupun telah diberikan noradrenalin dosis rendah dan 1000 ml kristaloid. Ahli bedah menyebutkan ada kecenderungan terjadinya perdarahaan difus dan residen mulai memasukkan fresh frozen plasma. Dua menit setelah pemberian fresh frozen plasma, residen menyadari ahwa tekanan darah pasien semakin menurun dan denyut jantung semakin meningkat. Residen lalu mengamati lapangan operasi dan menanyakan ke ahli bedah tentang ada tidaknya perdarahan akut berat yang tidak terkontrol dan ahli bedah menyatakan tidak ada perdarahan. Dengan dugaan bakterimia dapat mengganggu stabilitas hemodinamik, residen kemudian meningkatkan dosis noradrenalin. Tetapi, tekanan darah sistolik tetap rendah yaitu 60 mmHg, meskipun noradrenalin 2 µg/kg/menit telah diberikan. Residen kemudian memanggil ahli anestesi senior/ di  saat yang sama, residen menyadari bahwa segmen ST pada elektrokardigram menglamai depresi yang progresif. Residen meningkatkan fraksi oksigen yang diinspirasi menjadi 1.0. Residen memberitahukan ahli bedah mengenai kesulitan dalam menstabilkan tekanan darah pasien dan adanya perubahan pada elektrokardiogram. Residen anestesi memperkirakan infark miokard sebagai penyebab masalah tersebut dan memberitahukan ahli bedah untuk bersiap-siap melakukan kompresi dada. Perawat diminta untuk menyiapkan adrenalin untuk pemberian bolus dan berkelanjutan. Beberapa menit kemudian. Ahli anestesi senior masuk ke dalam ruang operasi dan mengorientasi dengan singkat, kemudian memberikan instruksi untuk pemberian adrenalin. Ketika adrenalin diinjeksikan melalui vena sentral, residen menyadari adanya urtikaria di sekitar vena sentral yang kemudian didiskusikan ke ahli anestesi senior. Selanjutnya, ditegakkan diagnosis syok anafilaktik akibat pemberian fresh frozen plasma. Setelah pemberiian penhambat histamine dan glukokortikoid, prosedur operasi dilanjutkan hingga selasai dan pasien pulih tanpa mengalami defisit neurologis.
SA Individu
SA Tingkat I
SA tingkat I (persepsi terhadap keadaan pasien) dapat dilihat pada contoh kasus di mana residen mengumpulkan informasi relevan, mulai dari mengawasi tanda vital pasien (tekanan darah yang rendah denyut jantung, saturasi oksigen, dan elektrokardiogram), lapangan operasi (tidak ada perdarahan) dan keadaan pasien (adanya urtikaria). Informasi tambahan yang dibutuhkan didapatkan melalui komunikasi dengan tim (adanya perdarahan, perforasi intestinal, tidak ada perdarahan akut yang berat).
Kondisi pasien sering statis ataupun berubah dengan sangata lambat sepanjang prosedur anestesi. Namun, saat induksi dan keadaan gawat akibat anestesi, keadaan pasien dapat berubah dengan sangat dinamis. Distribusi perhatian yang tepat sepanjang prosedur anestesi menentukan input sensoris pada para ahli anestesi dan merupakan proses SA tingkat I yang penting. Padakasus kritis seperti yang telah dicontohkan, kegagalan dalam mengamati keadaan pasien akanterjadi jika ahli anestesi tidak menyadari adanya urtikaria (SA tingkat I) saat pemberian adrenalin melalui kateter vena sentral. Kegagalan biasanya terjadi akibat perhatian teralih ke informasi lain yang tampaknya lebih relevan.
SA Tingkat II
SA tingkat II meliputi komprehensi dan pemahaman ahli anestesi mengenai variabel berikut. SA tingkat II merupakan suatu keadaan di mana ahli anestesi yang telah memiliki pengetahuan mengenai SA tingkat I yang kemudian digabung dengan pengetahuan medis, pedoman-pedoman medis, dasar fisiologi dan farmakologi, serta perubahan-perubahan fisiologi yang terjadi dalam suatu prosedur pembedahan. Dengan kemampuan dan pengetahuan yang baik mengai SA tingkat II, ahli anestesi akan mampu mengenali syok anafilaktik sebagai penyebab rendahnya tekanan darah dan urtikaria, pada kasus yang telah dicontohkan. Bersama dengan ahli anestesi senior, diagnosis yang tepat dapat ditegakkan berdasarkan keadaan pasien dan data-data dasar yang sudah ada. SA lebih dari sekadar menemukan data, tatapi juga mengenai pengumpulan data-data tersbut agar dapat dipahami maknanya dan  hubungan dengan situasi yang sedang berlangsung.
SA Tingkat III
SA tingkat III merupakan tingkat tertinggi dalam hierarki SA dan merupakan tingkatan di mana ahli anestesi akan memproyeksikan perkembangan keadaan pasien dalam waktu dekat , yang bermanfaat dalam manajemen yang dini,adekuat dan proaktif demi mencapai tujuan terapi pasien. Pada contoh kasus, pemberian fresh frozen plasma dalam menangani kecenderungan terjadunya perdarahan dan memberitahu ahli bedah untuk bersiap-siap melakukan kompresi dada merupakan contoh dari pengambilan keputusan dan komunikasi yang merupakan SA tingkat III.
Kesimpulannya, kemampuan para ahli anestesi untuk secara aktif memberikan perhatiannya kepada informasi-informasi dan memahami serta menginterpretasi dengan tepat informasi yang telah dimiliki, dan kemam[uan mereka untuk mengantisipasi perkembangan dari kasus yang sedang ditanganai, berperaan sangat penting dalam penanganan keadaan kritis.
TEAM SA
Ahli anestesi merupakan satu-satunya bagian dari cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan proyeksi individu yang biasa disebut “perawatan pasien”.  Oleh karena itu , konsep SA yang biasanya  digunakan, menjadi obyek yang diperhatikan oleh ahli anestesi dan menjadi proses kognitif yang dikembangkan secara luas. Tujuannya adalah untuk menentukan bagaimana  dan tingkat kehadiran SA dalam suatu tim (Tim SA) dan untuk mempelajari mekanisme yang biasa  digunakan untuk  berbagi peran dalam suatu tim. Tim SA didefinisikan sebagai  “ tingkat kemampuan seseorang dalam hal keikutsertaannya pada suatu tim SA yang membutuhkan tanggung jawab”.
Pada pembahasan ini, tidak cukup apabila seorang anggota tim mendapatkan sedikit informasi justru yang lebih dibutuhkan adalah kepedulian terhadap sekitar yang berkaitan dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.  Namun, tidak semua informasi dibutuhkan untuk dibagi pada setiap individu yang terlibat.Maka teori akan berlebihan apabila dalam SA memiliki kesamaan secara keseluruhan.Hal yang SA lebih butuhkan adalah kehadiran tim yang efektif dalam pembagian informasi yang dibutuhkan pada anggota tim yang terpilih, Oleh karena itu SA  diartikan sebagai “ Tingkat SA pada setiap  anggota tim yang  dibutuhkan dalam SA”.
Pada pendekatan tim yang sangat efektif, kesimpulan sebaiknya berdasarkan informasi yang didapatkan dari seluruh anggota tim. Hal ini akan  menghasilkan rencana tindakan yang efisien, hal yang sebaliknya terjadi apabila  seorang anggota tidak dapat mengantisipasi pertolongan apa yang dibutuhkan oleh anggota tim lain.
Berdasarkan Endley dan Jones, tim SA akan berpengaruh terhadap : (1) Kebutuhan SA yang dibagikan, yang ditetapkan secara spesifik pada suatu tim; (2) Proses pembagian SA, termasuk prioritas kelompok dan perencanaan antisipasi;(3) Mekanisme pembagian SA (seperti  membagi objek  mental  di  antara tim), dan (4) membagi tampilan SA (dapat berupa audio,  visual, dan tampilan lainnya),  komuikasi verbal,  komunikasi non verbal,  dan membagi lingkungan  (gambar 2). Faktor-faktor  ini  berperan dalam mengembangkan  kelompok SA baik yang berokasi di tempat kelompok tersebut maupun bagi kelompok yang berkontribusi waktu atau tempat,seperti pergantian jaga atau ruangan pemulihan,dimana anggotanya ada yang datang dan pergi  (pergantiian kelompok SA).
Merujuk pada keadaan kritis yang telah disebutkan pada awal artikel,  informasi mengenai urtikaria yang terjadi dengan jelas dikomunikasikan dengan ahli anestesi yang lain (bukan dengan ahli bedah walaupun mereka mungkin juga tahu tentang hal ini) dengan tujuan meningkatkan SA tim. Pada contoh kasus, kita juga dapat meihat adanya cross-checking dan menanyakan informasi mengenai ada tidaknya perdarahan akut. Pengawasan pasien tidak hanya dilakukan untuk mengawasi keadaan pasien, tetapi juga merupakan alat yang penting untuk berbagi SA antara sesama ahli anestesi. Dan pada akhirnya, tim yang terdiri dari 2 ahli anestesi, ahli bedah, dan perawat, menggunakan shared mental model (differential diagnosis yaitu syok, patofisiologi dan tujuan terapi)sehingga pengembangan SA tim menjadi lebih efisien.
Keberhasilan dalam mentransfer SA tim dari sekadar teori menjadi praktek dilakukan menggunakan Surgical  Safety Checklist untuk  tim  pelaksana. Dalam suatu tim SA, memenuhi semua checklist dibutuhkan oleh tim untukmencapai tujuan tim dan agar SA mengenai pasien, rencana prosesur, dan komplikasi yang mungkin terjadi dapat diketahui oelh semua anggota tim. Dengan pendekatan tersebut, Haynes et al menemukanbahwa komplikasi perioperatif, infeksi lapangan operasi, angka kejadian pasien dikembalikan ke ruang operasi, dan anga kematian semakin berkurang.
SA yang Terdistribusi
SA yang terdistribusi (Distributed Situation Awareness, DSA), pertama kali diperkenalkan oleh Stanton et al (2006) memiliki konsep yang berbeda dengan SA individu dan SA tim. Stanton mrngatakan bahwa konsep DSA meliputi bukan sekadar individu, tetapi suatu sistem nonstatis yang kompleks, meliputi manusia dan subsistem non-manusia, dan interaksi di antara mereka yang memberikan pemhaman lebih baik mengenai hasil dari suatu  tim. Jadi, pada suatu tim yang terdistribusi (seperti di ruang operasi), proses kognitif muncul pada tingkatan sistem disbanding tingkatan individu.
Baru-baru ini, Fioratou et al meninjau DSA dan kemungkinannya untuk dapat diaplikasikan di bidang anestesi/ penuli mengemukakan bahwa ahli anestesi, ahli bedah, pasienm dan pengawasan pasien merupakan subsistem yang berinteraksi dalam suatu keadaan dinamis, permanen, dan implicit sekaligus eksplisit. Sebagai contoh, anesthesia machine display yang berfungsi menunjukkan keadaan pasien, merupakan mediator antara pasien dan ahli anestesi, dan dapat diklasifikasikan sebagai komunikasi tidak langsung antara keduanya. Fioratou et al, konsep SA terdahulu hanya menggunakan pengawasan pasien yang sederhana dalam mengembangkan SA dan menyimpulkan bahwa pendekatan DSA lebih baik. Namun  pendapat ini masih kontroversial sebab teori SA yang sudah ada mengemukakan bahwa seseorang mengembangkan SA berdasarkan tujuan dan alat-alat di lingkungan sekitar dan komunikasi dari anggota tim yang lain.
Berdasarkan pembahasan sebelumnya mengenai insiden krits, dokter anestesi harus memantau elektrokardiogram dan, pada waktu tertentu, dapat menyarankan pada residen untuk menyuntikkan adrenaline. Selama penyuntikan obat, residen harus memperhatikan perkembangan urtikaria dan melaporkannya pad residen, terutama untuk memastikan bahwa diagnosis telah berubah dan respon terapi telah adekuat. Hal-hal yang harus ada pada DSA antara lain: (1) pengetahuan mengenai sistem yang terdistribusi (beberapa informasi yang diberikan oleh pasien [seperti keluhan urtikaria], beberapa informasi lain diperoleh secara teknis [seperti elektrokardiogram] atau informasi yang ditemukan oleh anggota tim penolong); dan (2) terdapat komunikasi implicit mengenai diagnosis banding yang dapat dipertimbangkan sebagai diagnosis kerja. Contoh mengenai perspektif DSA yang melibatkan subsistem dalam sistem ruang operasi dapat dilihat pada gambar 3.
Sebagai kesimpulan, DSA lebih difokuskan pada sistem SA dan analisis terhadap interaksi antara subsistem (manusia dan non-manusia) sehingga kita dapat memahami perubahan SA. Sebaliknya, pendekatan SA tradisional lebih terfokus pada beberapa individu yang secara bersama-sama mengembangkan sistem SA dan saling berbagi SA. Model tim SA harus mampu memberikan pemahaman yang eksplisit mengenai beberapa proses yang digunakan oleh tim untuk mencapai SA. Selain itu, model tersebut harus mampu menguraikan beberapa cara untuk memperoleh informasi SA yang relevan, seperti dengan cara mengobservasi informasi yang sama mengenai lingkungan tempat beraktivitas atau melalui upaya berbagi model mental yang dapat diperoleh melalui pelatihan tertentu.
Pemeriksaan SA
Pemeriksaan SA dapat dikuatifikasi berdasarkan  hasil simulasi maupun situasi klinis. Melalui kuantifikasi, kita dapat memahami berbagai faktor yang mempengaruhi yang berkontribusi terhadap SA. Kami menyediakan sarana yang berbeda untuk memeriksa SA dalam kondisi anestesua atau SA yang cocok untuk situasi anestesia, hanya saja hingga sekarang, sarana tersebut masih jarang digunakan. Ada dua metode yang dapat digunakan untuk memeriksa SA. Yakni metode direk/langsung dan metode indirek/tak langsung. Metode langsung digunakan untuk mengukur SA; medote tidak langsung digunakan untuk memproses indikasi, perilaku dan beberapa parameter tindakan yang dianggap berperan dalam SA.
Pemeriksaan Langsung/Direk pada SA
Pemeriksaan langsung/direk pada SA dapat dilakukan secara objektif atau subjektif. Pemeriksaan SA langsung yang objektif dapat divalidasi dan diaplikasikan pada berbagai daerah, termasuk berbagai bidang medis lainnya. Contoh pemeriksaan SA direk/ langsung yang objektif adalah Situation Awareness Global Assessment Technique (SAGAT). SAGAT didesain untuk memeriksa berbagai tingkatan SA dengan menggunakan kuisioner yang bersifat spesifik terhadap skenario tertentu.
 















Gambar 3 Dalam arah pendekatan kesadaran terhadap situasi, seluruh sistem dianggap berfungsi dalam mengembangkan kesadaran situasi dan setelah mengidentifikasi subsistem dalam sistem ini, interaksi antara subsistem merupakan objek utama analisis. Hal ini terdiri dari subsistem manusia dan bukan manusia yang berinteraksi dengan cara yang berbeda. Gambar tersebut mengilustrasikan contoh subsistem dalam sistem ruangan operasi dan contoh interaksinya. Tipe interaksi antara subsistem bervariasi: dimulai dengan pemberian plasma beku segar (FFP),  plasma beku segar bekerja pada pasien dan mempengaruhi penunjukkan status pasien pada alat monitor pasien yang memberikan informasi kepada residen anestesi. Residen secara konsekuen  mengumpulkan informasi dengan melihat lapangan operasi dan alat penghisap dan dengan bertanya kepadadokter bedah. Selain itu, dia memanggil konsultan anestesi dan meningkatkan dosis noradrenalin pada perfusor yang bekerja pada pasien.
Hanya satu penelitian di bidang kedokteran yang menilai langsung tentang SA. Hugan dkk menggunakan SAGAT dalam kurikulum bantuan hidup trauma lanjutan yang menginvestigasi 16 sukarelawan dengan tingkat keahlian yang berbeda-beda. Setiap orang harus menyelesaikan 3 skenario standar yang berbeda. Pada titik acak, skenario dibekukan dan setiap subjek harus menjawab pertanyaan SAGAT yang menilai pengetahuan mereka pada setiap aspek situasi yang relevan dengan SA. Skor SAGAT digunakan tergantung pada keahlian subjek dan berkorelasi dengan skor checklist terdahulu.
Skenario yang digunakan pada penelitian ini dirancang untuk pelatihan bantuan hidup trauma lanjutan dan oleh karenanya membutuhkan peserta untuk menggunakan algoritma standar. Dalam pengaturan ini, SAGAT memberikan validitas yang cukup bagus. keterbatasan penggambaran dampak SA pada kinerja adalah bahwa hubungan antara SA dan skor kinerja tidak dianalisis secara bebas dari keahlian setiap subjek yang diteliti. Sayangnya, penulis tidak menspesifikasikan kebutuhan SA untuk setiap tingkatan SA. Oleh karena itu, sejauh mana tingkat SA berpengaruh terhadap skor SAGAT masih belum jelas. Proses perancangan dan skoring kebutuhan SAGAT , khususnya pada tingkat pemahaman dan projeksi yang lebih lanjut, mungkin akan jauh lebih menantang terhadap pelatihan insiden kritis anestesi, dimana skenario tergantung pada proses pengambilan keputusan oleh peserta. Aspek lain yang lebih menarik adalah campur tangan yang disebabkan oleh pembeku skenario. Pada penelitian Hogan dkk, hanya 12% partisipan yang dilaporkan terpengaruh oleh pembeku dengan mempengaruhi konsentrasi dan kinerja. Penelitian pada bagian lain menegaskan bahwa campur tangan prosedur pembekuan perlu diabaikan dan tidak mempengaruhi penilaian kinerja peserta dalam simulasi.
Tabel 1 teknik penilaian situasi kesadaran
Tingkat 1 (persepsi)
Bagaimana tekanan darah pasien?
Apakah tekanan darah pasien menurun dalam 2 menit terkahir
Obat apa yang telah kamu berikan?
Berapa dosis noreadrenalin yang diberikan?
Bagaimana tekanan udara sebenarnya?
Berapa banyak darah pada alat penghisap?
Tingkat II (pemahaman)
Apakah pasien bereaksi secara adekuat terhadap obat yang kamu berikan?
Apakah cairan yang kamu berikan telah cukup?
Apakah tekanan perfusi pasien telah cukup?
Apa sebab terjadinya ketidakmampuan hemodinamik?
Apa sebab terjadinya ventikel ekstrasistol?
Tingkat III (proyeksi)
Apakah Anda berharap tekanan darah pasien anda meningkat, tetap sama, atau menurun?
Apakah Anda menyangka pasien anda menderita serangan jantung?
Apakah Anda membutuhkan transfusi dengan plasma segar beku?
Contoh pertanyaan SAGAT yang sesuai saat terjadi insiden  kritis. Jawaban harus dinilai sebagai benar atau salah, jawaban benar mendasarkan pada apa yang sebenarnya terjadi dalam skenario tersebut. Biasanya, nilai jawaban yang berbeda kurang dari 10% dari nilai yang sebenarnya dianggap benar.
SAGAT = Situation Awareness Global Assessment Technique.
Reader dkk, menggunakan pnedekatan yang cukup berbeda dengan tim investigasi SA. Sebanyak 44 anggota dalam suatu unit perawatan intensif dinilai untuk akurasi mereka dalam memprediksi hasil pasien dalam 48 jam berikutnya (SA tingkat II). Untuk tujuan ini, para peserta diminta untuk menilai kemungkinan kerusakan yang dialami pasien, sistem urinari dan defekasi pasien, kebutuhan akan bantuan ventilator dan kelangsungan hidup pasien. Angka ini nantinya dibandingkan dengan hasil pasien yang bersangkutan. Pendekatan ini yang obyektif skor SA, mirip dengan SAGAT. Akan tetapi, mungkin masih cukup sulit diterapkan dimana perubahan dapat terjadi dalam beberapa menit bukan dalam hitungan hari seperti pada kasus yang terjadi selama insiden kritis anestesi.
Di luar bidang kesehatan, pengukuran SA telah berkembang dan telah dibandingkan dengan sistem SAGAT dengan menghubungkan validitas dan reliabilitasnya. Teknik penilaian kesadaran situasi hanya merupakan alat saja. Angka Peserta post hoc 10 dimensi (tabel 2) pada 7 poin skala Likert, dimana poin 1=rendah dan 7=tinggi. Alat tersebut tidak mengganggu dan menggunakan pertanyaan  yang tidak memerlukan penyesuaian dengan skenario. Angka post hoc memungkinkan penerapannya dalam pengaturan klinis. Terdapat keuntungan yang utama untuk digunakan dalam anestesi.  Namun, SA yang diukur secara subyektif melalui teknik penilaian kesadaran situasi ternyata tidak memiliki hubungan dengan pengukuran SA menggunakan SAGAT. Sehingga, masalah yang terpenting adalah berkaitan dengan validitas dan sensitivitas teknik penilaian kesadaran situasi dan sangat berhubungan dengan langkah-langkah beban kerja yang telah dicapai.
Tabel 2: Teknik penilaian kesadaran situasi
Keakraban dengan situasi
Fokus perhatian
Jumlah informasi
Informasi yang berkualitas
Ketidakstabilan situasi
Konsentrasi perhatian
Kompleksitas situasi
Keragaman situasi
Stimulasi
Kapasitas cadangan mental
Teknik penilaian Kesadaran situasi menggunakan 10 ukuran yang berbeda
Masalah yang utama dari penilaian retrospekstif SA adalah dimana subjek mungkin telah memperoleh pengetahuan tambahan yang signifikan tentang isi skenario pada tingkat pemahaman dan persepsi SA setelah menyelesaikan skenario tertentu. Ini diduga menjadi sumber penting dari adanya efek  bias. Selain itu, orang seringkali tidak menyadari adanya penilaian yang salah atau melewatkan informasi kunci (yaitu, mereka tidak tahu apa yang mereka tidak tahu), sehingga membatasi angka validitas. 
Pada prinsipnya, SA dapat dinilai secara objektif dan secara langsung dalam anestesi dengan menggunakan SAGAT. Akan tetapi, pertanyaan SAGAT yang valid menginvestigasi SA dalam skenario anestesi yang bergantung pada dinamika pengambilan keputusan yang sebaiknya perlu dikembangkan. Karena SAGAT memerlukan keadaan beku, sehingga ini hanya sesuai dalam lingkungan simulasi. Penlaian yang subjektif kurang mengganggu namun mungkin mendapat validitas yang cukup. Dalam pengaturan sebenarnya, teknik lain mungkin lebih baik, seperti pemeriksaan secara bersamaan, yang memberikan pertanyaan SAGAT secara lisan satu persatu selama simulasi tanpa membekukan skenario, atau proses pengukuran yang didiskusikan pada paragraf berikutnya. Vidulich, dengan meninjau sejumlah besar penelitian yang menggunakan SAGAT, menemukan bahwa ini memiliki sensitivitas yang baik dan memberikan informasi diagnostik yang lebih rinci melampaui apa yang tersedia dari ukuran kinerjanya sendiri.
Penilaian Perilaku Sebagai Indikator Tidak Langsung Dari SA
Skala ANTS dirancang dan divalidasi untuk penilaian keterampilan non-teknis dan mengevaluasi penanda perilaku SA. Pengamat terlatih menggunakan standar kuesioner untuk menilai para peserta. Satu dari empat subkategori mengevaluasi perilaku (mengumpulkan informasi, mengenali dan memahami serta mengantisipasi) terkait dengan SA. Skala ini telah digunakan untuk menilai efek pelatihan dan membandingkan efektivitas metode tanya jawab yang berbeda. Keterbatasan skala ANTS yang utama adalah bahwa reliabilitas setiap penilai bervariasi di seluruh penelitian. Hal yang paling mungkin disebabkan kesulitan dalam menangani skala dan perbedaan dalam kualitas pelatihan pengamat. Pelatihan  selama dua hari direkomendasikan untuk penilai yang sudah akrab dengan konsep keterampilan non-teknis.
Skala lain yang berlaku untuk mengevaluasi secara subjektif keterampilan non-teknis adalah skala penilaian global Otawa, yang menggunakan 7 poin skala Likert dengan satu  item yang ditunjuk untuk  menilai SA. Dibandingkan dengan skala ANTS, data tentang validitas dan reliabilitas antar penilai cukup langka.
Baik skala ANTS dan skala penilaian global Otawa mengunakan penilaian pengamat dan dapat digunakan dalam pengaturan klinis. Hal ini dimaksudkan untuk menilai keterampilan non-teknis secara umum dan tidak dirancang untuk menilai SA secara spesifik. Sejauh ini, masih belum jelas sejauh mana penanda perilaku dalam skala ini dalam memberikan penilaian terhadap SA dan apakah penilaian pengamat dipengaruhi oleh penilaian terhadap aspek lain dari skala tersebut (pengambilan keputusan, kerjasama tim dan pengaturan tugas). Penilaian akan datang diperlukan untuk memvalidasi SA yang terkait dengan skala penilaian perilaku terhadap kerja SA dalam medis.
Dalam Analisis perilaku lain, selain skala yang telah disebutkan di atas, Hazlehurst dkk menjelaskan bagaimana SA berkembang dari komunikasi terkoordinasi antara dokter bedah dan perfusionist selama operasi jantung. Para penulis mengidentifikasi enam jenis pertukaran verbal (yaitu, arah, status, kesadaran, pembagian tujuan, pemecahan masalah, dan penjelasan) yang memfasilitasi kinerja tim dengan meningkatkan SA. Ini merupakan contoh penelitian yang meneliti proses SA namun tidak mencapai tingkat atau kualitas SA.
Penilaian Kinerja Sebagai Indikator Tidak Langsung Dari SA
Menurut teori Endsley tentang SA dan temuan Hogan dkk, kinerja yang baik umumnya didasarkan pada SA yang baik (kecuali faktor keberuntungan). Dalam anestesi, berbagai langkah-langkah telah diterapkan untuk menilai kinerja. Simulasi teknologi memberikan lingkungan kerja yang sangat realistis yang memungkinkan evaluasi pembanding dari kinerja menggunakan skenario standar.  Dalam berbagai studi, termasuk anestesi pediatrik, daftar checlist  telah diterapkan untuk menilai kuantitas tugas diagnostik dan terapi.  Penilaian lain dari potensi minat adalah penilaian hasil simulasi pasien atau waktu antara onset masalahnya dan saat pendeteksian atau saat pemberian pengobatan defenitif. Meskipun studi tersebut berguna untuk menilai kinerja secara keseluruhan terkait dengan tampilan baru atau kurikulum pelatihan, mereka tidak secara langsung memberikan informasi tentang subjek SA sendiri dan hasilnya.  Penilaian pandangan Perilaku sebagai penilaian Proses SA juga dapat disimpulkan dari teknik seperti pengamatan  mata untuk mengetahui jenis proses yang digunakan orang untuk mengumpulkan informasi dalam lingkungan mereka. Hal ini dapat digunakan untuk menentukan apakah diberikan perhatian terhadap data tertentu yang relevan untuk mengembangkan keakuratan SA. Idenya adalah bahwa teknik pengumpulan informasi mungkin lebih efektif daripada yang lain, dan bahwa memahami apa yang orang lihat (atau mengabaikan) dapat memberikan wawasan kita terhadap SA.
Sebagai contoh, Liu dkk, mengamati pandangan perilaku dokter anestesi dalam menilai dampak dari tampilan head-mounted holographic dalam pemantauan data tentang distribusi visual. Serupa dengan studi simulasi tersebut, peserta dengan tampilan head-mounted menghabiskan lebih banyak waktu dalam melihat pasien dan lapangan operasi dan sedikit waktu untuk melihat alat pemantau karena informasi utama yang tersedia tanpa melihat layar monitor pasien.  Namun, pengamatan pada rekaman video dari arah pandangan mungkin kurang akurat dalam menilai SA karena pengamat tidak dapat membedakan apakah peserta memandang pasien atau melihat pada parameter yang disediakan oleh layar head-mounted yang diproyeksikan dan tumpang tindih terhadap pasien.
Baru-baru ini, alat head-mounted eye-tracking telah digunakan untuk menilai perhatian visual secara obyektif sebagai proses yang mendasari SA selama insiden kritis tersimulasi. Apakah insiden kritis terjadi atau tidak tetap saja memiliki dampak yang signifikan terhadap pembagian perhatian visual. Penelitian ini menunjukkan bahwa pandangan perilaku disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan dan pemeliharaan SA dan proses adopsi ini bergantung pada pengalaman.
Dengan demikian, arah perhatian visual anestesi dapat menentukan persepsi ahli anestesi dan berpengaruh terhadap input sensorik. Pengamatan mata menyediakan penilaian perhatian visual yang objektif dengan temporal atas dan resolusi ruang. Bagaimana dan sejauh mana keahlian mempengaruhi pandangan perilaku dan apakah ada pandangan perilaku tertentu yang dioptimalkan untuk meningkatkan SA dalam bidang anestesiologi masih belum jelas dan membutuhkan penyelidikan lebih lanjut. Sejauh ini, pengamatan mata dan penilaian SA lainnya masih belum diterapkan bersama-sama dalam studi penyedia layanan kesehatan. Kombinasi pengamatan mata dan SAGAT secara bersamaan dapat menentukan informasi apa yang telah dilihat dan untuk apa informasi ini dirasakan dan dipahami oleh individu. Di bidang lain, pengamatan mata telah digunakan untuk mempelajari kebutaan yang tidak diduga sebelumnya sehubungan dengan pergerakan mata.
Keahlian
Dokter anestesi (dan dokter dari semua spesialisasi lainnya) menetapkan SA melalui informasi yang diperoleh dari layar monitor, pengamatan langsung, dan komunikasi dengan tim. Saat ini telah jelas bahwa cara informasi dikumpulkan dan diproses sangat tergantung pada keahlian. Jelas, beberapa dokter anestesi jauh lebih mampu mendapatkan SA tingkat tinggi, sedangkan yang lain mungkin cukup menggunakan informasi yang sama. Perbedaan Tingkat SA 10 kali ditemukan pada 25 pilot yang berpengalaman, yaitu SA pilot dengan skor tertinggi 10 kali lipat dari skor SA pilot terendah. Angka skor SA yang signifikan ini sangat dapat dipercaya dengan ratio uji test ulang 0.99, 0.98, 0.98 dan 0.92 pada empat pilot yang berpartisipasi dalam 24 simulasi percobaan. Perbedaan ini diakibatkan oleh adanya perbedaan kapabilitas kognitif, termasuk kemampuan berbagi perhatian, kemampuan dalam mencocokkan pola dan kemampuan  mengenai ruang. Selain itu, dasar pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dengan pelatihan dan pengalaman sangatlah penting untuk pengembangan efektivitas SA. Keahlian dicirikan dengan kemampuan mereka untuk mendapatkan SA dengan sedikit usaha,  lebih cepat, dan lebih lengkap, dan akan mencapai tingkat pemahaman dan proyeksi yang lebih tinggi.
Model SA menunjukkan faktor-faktor individu berikut yang menentukan apakah SA yang baik telah dicapai.
1.      Kapasitas : setiap individu memiliki kapasitas yang terbatas untuk mengikuti semua informasi yang diberikan
2.      Memori kerja: perkembangan SA memberikan kerja memori untuk menyimpan, mengintegrasi dan memproses informasi yang diterima dan untuk terus memperbarui model mental tentang apa yang terjadi. Seperti ketika kapasitas kerja memori yang berlebihan, maka beberapa informasi penting mungkin akan dilupa atau  mungkin tidak terintegrasi terhadap pengembangan SA pada tingkat yang lebih tinggi.
3.      Pengolahan berbasis tujuan dan  berbasis data: dalam proses berbasis tujuan dari atas-bawah, tujuan dokter anestesi (status ideal pasien) akan mengarah langsung pada aspek lingkungan. Pada proses pengolahan berbasis data dari bawah-atas, perhatian dokter anestesi diarahkan pada seluruh informasi yang relevan dan perhatiannya akan ditangkap oleh informasi penting atau informasi kunci yang mungkin mengindikasikan bahwa strategi yang untuk mencapai tujuan harus diubah atau mengubah tujuan itu sendiri. Endsley mempertimbangkan sebuah roda akan berjalan antara proses tujuan dan data yang menjadi kunci dasar SA. Pentingnya hal  ini dijelaskan oleh sebuah pelatihan managemen sumberdaya krisis anestesi untuk mengevaluasi ulang situasi secara berkala.
4.       Harapan :  harapan, apakah benar atau tidak, dapat mempengaruhi pencarian informasi secara visual, persepsi informasi dan konsekuensi dari semakin tingginya tingkat SA.
5.      Model mental : ini terdiri dari mekanisme kognitif untuk untuk menafsirkan dan memproyeksikan peristiwa di bidang kompleks. Mereka adalah bagian dari memori jangka panjang dan berfungsi untuk menghindari keterbatasan kerja memori. Selama perkenalan contoh kasus dijelaskan sebelumnya, model mental yang berguna mungkin terdiri dari lima atau enam diagnsosi banding dari penyebab shock dengan tanda-tanda yang khas. Jika dokter anestesi memiliki suatu model mental, ia mungkin mampu aktif mencari urtikaria untuk memverifikasi atau mengecualikan diagnosis tetapi tidak harus mencari tahu makna urtikaria dalam sistem kerja memori.
6.      Penyesuaian  pola : dalam situasi yang mirip dengan situasi sebelumnya, proses perbaikan SA akan berkembang lebih cepat, karena beberapa informasi akan diingat kembali sesuai dengan epidsode sebelumnya. Beban kerja kognitif jauh lebih sedikit untuk anestesi yang memiliki kemampuan penyesuaian pola yang baik. Dalam contoh kasus, ketika residen menemukan adanya segmen ST pada elektrokardiogram yang semakin memburuk. Bersama dengan adanya ventrikel ekstrasistol dan tekanan darah rendah, dia akan berpikiran sama dengan situasi sebelumnya pada pasien dari syok kardiogenik yang ia jumpai sewaktu  masih bekerja sebagai seorang dokter UGD.  Berdasarkan pengalaman ini, residen segera menyimpulkan bahwa infark myokard dan syok kardiogenik merupakan penyebab kerusakan pada pasien.  Pencocokan pola tersebut dapat hampir dilakukan secara seketika dan mudah.
7.      Otomatisitas : otomatisitas dapat mengurangi beban kognitif dalam melakukan tugas fisisk atau kognitif tertentu dan dengan demikian dapat membebaskan pikiran, menyediakan lebih banyak sumber daya atas perhatian dan kerja memori. Misalnya, jika gambaran elektrokardiogram tiba-tiba menjadi datar, dokter anestesi yang berpengalaman akan secara otomatis melihat ke arah oksimeter denyut nadi untuk memverifikasi apakah gambaran elektrokardiogram tersebut hanya artefak atau memperlihatkan keadaan pasien yang betul asistolik. Bergantian, melakukan tugas-tugas fisik yang berulang-ulang, seperti menjahit secara otomatis akan membebaskan perhatian dari memikirkan masalah lain selama operasi. Tindakan ini dapat terjadi tanpa menggunakan kerja memori, membebaskannya terhadap SA.
8.      Keterampilan belajar : pada akhirnya, terdapat beberapa kemampuan belajar yang spesifik pada bidang tertentu dan mendukung akurasi SA; sebagai contoh, mahasiswa kedokteran belajar tentang bagaimana menginterpretasikan perubahan spesifik dari morfologi dari elektrokardiogram dan untuk mendapatkan diagnosis.
Untuk menggunakan semua item tersebut secara bersama-sama, kami telah mengadaptasi karya Endsley dan Gaba dkk, untuk membuat kerangka kerja SA dalam perawatan kesehatan yang menghubungkan SA terhadap kinerja (gambar 4).
SA Error
Dari sudut pandang teoretis,  kegagalan dalam anestesi,  Perawatan intensif, dan obat-obatan darurat dapat terjadi pada setiap tingkat SA, dan SA bisa saja tidak lengkap, tidak akurat, atau keduanya: Informasi mungkin tidak terdeteksi atau tidak terkumpul dengan benar (SA tingkat I), atau situasi ini tidak dipahami, meskipun semua informasi yang relevan tersedia (SA tingkat II), atau tidak diantisipasi, meskipun situasinya telah dipahami (SA tingkat II).

Gambar. 4. Kerangka situasi kesadaran dokter anestesi (SA). (Diadaptasi dari Endsley MR: Menuju teori kesadaran situasi dalam sistem dinamis. Hum Faktor 1995, 37:32-64, dan Gaba DM, Howard SK, Small SD: kesadaran Situasi dalam
anestesiologi. Hum Faktor 1995,. 37:20-31) Kerangka kerja ini menggambarkan bahwa SA merupakan pusat untuk pengambilan keputusan dan kinerja. Tingkat persepsi ditentukan oleh input sensorik dan input sensorik berkembang dari bagaimana perhatian diarahkan, sadar dan tidak sadar. SA pada tingkat yang lebih tinggi dapat dicapai dengan mengintegrasikan data yang dirasakan dengan informasi dari memori jangka panjang seperti pedoman medis, tujuan terapi, model mental, pengetahuan medis pada umumnya, dan dengan pola penyesuaian dengan situasi prototipikal. Ada juga berbagai faktor eksternal yang dapat mempengaruhi, secara positif dan negatif, apakah tingkat SA yang memadai dapat diperoleh. Karena situasi berubah dari waktu ke waktu, maka evaluasi ulang secara terus menerus wajib dilakukan untuk menciptakan SA yang sebenarnya. Dimensi di bidang abu-abu telah dinilai dalam literatur yang berhubungan dengan SA, yang menggambarkan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi SA atau berhubungan dengan SA dapat dinilai secara bersamaan dalam sesi simulasi yang sama, seperti SA, beban kerja, perilaku,  perhatian visual, dan kinerja.
Diharapkan,meskipun situasi yang ada sepenuhnya telah diketahui (SA level III). Akibatnya, bagian buruk SA yang dipakai untuk pengambilan keputusan dapat menyebabkan hasil yang buruk.
SA tingkat I
Pada SA tingkat I, dokter anestesi kurang mendapat informasi yang dibutuhkan (SA tidak lengkap). Jenis kesalahan ini disebabkan oleh terhalangnya pemeriksaan (misalnya, karena alat pelindung mata atau telinga), hal ini menyebabkan kurangnya informasi yang tersedia,  atau informasi yang ada malah tidak dibutuhkan. Dalam pelatihan kegawatdaruratan, dokter anestesi tidak memperhatikan adanya urtikaria karena memakai pelindung mata. Kesalahan lain di tingkat I adalah ketidakuratan SA , di mana nilai yang ditaksir tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya, pada keracunan karbon monoksida, nilai saturasi oksigen yang terukur dan nilai yang di ditaksir sangat berbeda apabila diukur menggunakan alat oksimeter. Dokter anestesi hanya fokus pada sebagian data yang tersedia dan  mengabaikan sebagian data lain yang lebih penting. Pada kasus lain, terjadi kesalahan saat membaca label pada alat injeksi karena labelnya sangat mirip dengan label obat lain sehingga terjadi kesalahan pemberian obat.
SA tingkat II
Kesalahan pada SA tingkat II terjadi ketika isyarat yang ada tidak terintegrasi dan dipahami dengan benar. Serupa dengan SA tingkat I, SA di tingkat II bisa menjadi tidak lengkap atau tidak akurat. Endsley menjelaskan  berbagai alasan yang ikut berkontribusi : pemilihan alat peraga yang salah, atau kesalahan untuk mengenali situasi prototipikal. Klein menjelaskan bahwa kesalahan dalam pengambilan keputusan medis terjadi saat menafsirkan gejala-gejala yang ada menjadi diagnosis walaupun gejala jelas mengindikasikan diagnosis yang berbeda.65 Ini adalah contoh kesalahan penggunaan alat untuk menginterpretasikan informasi yang adaJika tidak ada alat peraga yang tersedia untuk situasi tertentu karena merupakan sesuatu yang baru bagi dokter anestesi (alat peraga tidak ada), SA tingkat II harus menggunakan ingatan, dan kesalahan dapat terjadi karena ingatan bersifat terbatas, terutama akibat beban kognitif kerja yang tinggi. Seseorang  tidak bisa mencari tahu apa yang terjadi dengan cepat apabila peristiwa tersebut  belum pernah didapatkan sebelumnya.
SA tingkat III
Pada SA tingkat III, perkiraan  tentang perkembangan keadaan pasien  menjadi  tidak lengkap atau tidak akurat meskipun keadaan pasien saat ini sepenuhnya telah diketahui. Contohnya  ketika dokter anestesi salah saat mempertimbangkan bahwa dibutuhkannya transfusi darah pada saat operasi, sehingga kantong darah transfusi  tidak datang tepat waktu. Dalam kasus lain, dokter anestesi tidak dapat mempertimbangkan kemungkinan masalah jantung meskipun terdapat penurunan tekanan darah dan masalah elektrokardiografi. Buat para pemula,dituntut memiliki SA yang adekuat dan seringkali tidak lengkap, dan terjadi kesalahan karena keterbatasan perhatian dan kemampuan ingatan saat kerja atau kurangnya alat peraga. Bagaimana kita bisa membuat mereka ahli dalam kemampuan SA?
PELATIHAN
Untuk saat ini, Masih belum jelas bagaimana dan sejauh mana  keterampilan yang dibutuhkan untuk mengembangkan SA dan jenis pelatihan apa yang harus dilaksanakan untuk mencapai  peningkatan kemampuan SA yang optimal pada penyedia layanan kesehatan. Untuk  beberapa tingkatan, beberapa faktor individu yang memudahkan pengembangan SA diajarkan selama residensi disertai pelatihan lainnya seperti Pelatihan Manajemen Sumber Krisis Anestesi .  
Usaha awal untuk mengembangkan dan mengevaluasi pelatihan formal SA dilakukan pada mahasiswa akhir tahun bagian anestesi, sebuah penelitian terbaru21 Digunakan SAGAT selama simulasi kasus sepsis berat dengan desain pretest/ posttest. Hasil dari  pelatihan simulator akan dibandingkan dengan metode kelas berbasis  dalam hal melatih keterampilan SA. Selama pembekalan pelatihan tersebut, diajarkan diagnosis dan pengobatan sepsis  berdasarkan skenario masing-masing, namun tidak ada keterampilan nonteknis seperti SA yang dianggap. Metode kelas elas berbasis terdiri dari kuliah teori  tentang SA, diskusi berbasis video tentang tim SA  pada situasi henti jantung, dan pelatihan psikologis  yang berbeda-beda. Berdasarkan skor SAGAT, pelatihan simulator tetapi bukan pelatihan kelas berbasis SA, terjadi sedikit peningkatan peserta SA. Pada pertanyaan  SAGAT, pertanyaan pemahaman tidak dianggap,  dan pertanyaan proyeksi yang digunakan hanya selama istirahat kasus kedua.
Pada dekade terakhir, terdapat berbagai upaya untuk melaksanakan pelatihan formal SA dengan tujuan meningkatkan kinerja dalam penerbangan dan bidang lainnya.66 Pelatihan ini dilakukan untuk meningkatkan keterampilan kognitif dan membangun struktur kognitif yang  diperlukan untuk SA tingkat tinggi. Dalam paragraf selanjutnya,  kami menyajikan metode pelatihan yang telah diterapkan pada bidang lain yang dapat menjadi pertimbangan untuk meningkatkan SA  pada bagian anestesi.
Kelas berbasis Instruksi
Merupakan salah satu metode yang digunakan pada pelatihan individu dan tim mengenai  SA dan bahaya yang terjadi apabila terjadi ketidakakuratan SA. 67 Untuk mewujudkan ini, digunakan gabungan dari kelas berbasis instruksi dan  individu atau pelatihan tim. Robinson, 68 Misalnya, sebuah program pelatihan SA selama 2 hari untuk pilot mengenai strategi manajemen kesalahan. 69,70 Setelah menerima pelatihan, para pilot dinilai memiliki keterampilan tim yang lebih baik dan secara signifikan mempunyai SA yang lebih di tingkat III. Nantinya, program ini dilaksanakan pada dua maskapai penerbangan besar Eropa. Sembilan puluh sembilan persen  dari pilot melaporkan pelatihan ini sangat berguna, dan  sebagian besar dari mereka menggunakan hasil pelatihan  ini selama mereka bekerja.71
Pelatihan Berbasis Komputer
Metode lain untuk menjadi SA yang baik yaitu memusatkan pelatihan pada pengetahuan dasar dan skil melalui program pelatihan berbasis komputer dimana dilakukan  pelatihan kognitif tertentu yang dibutuhkan. McKenna dan Crick meningkatkan SA seorang supir sampai tingkat III melalui penayangan video yang menampilkan adegan mengemudi. Saat istirahat, peserta diharapkan mampu memproyeksikan apa yang akan terjadi kemudian.72, 73 Bolstad et al. Merancang desain modul pelatihan berbasis komputer berbasis komputer untuk melatih keterampilan dasar tertentu bagi pilot penerbangan sipil yang masih pemula. Modul pelatihan membahas penyelengaraan checklist, komunikasi, keterampilan psikomotor, keterampilan membagi perhatian, perencanaan penerbangan, dan perencanaan yang tak terduga.74, 75 Contoh lain adalah penjelasan Strater et al, 76 yang mempresentasikan sebuah alat berbasis komputer pribadi untuk meningkatkan SA pada  petugas infanteri. Dengan menggunakan metode multimedia yang berbasis komputer, peserta akan yang dihadapkan pada banyak situasi dalam waktu singkat agar peserta mampu mengingat situasi  yang bersifat prototipikal dan mampu mengenali isyarat kegawatdaruratan. Selain itu, alat tersebut akan meminta peserta untuk membuat keputusan operasional lengkap menggunakan "Apa? Jadi apa? Sekarang apa ?”. Artinya, para peserta akan belajar  memikirkan kebutuhan SA mereka dalam hal : Informasi apa yang saya miliki atau yang masih saya perlukan? Apakah informasi ini penting untuk mencapai  tujuan saya? apa yang akan terjadi berikutnya atau apa yang harus saya persiapkan untuk menangani keadaan selanjutnya? 76 Sebuah penelitian yang menjelaskna tentang pelatihan ini, Strater et al. mendapatkan bahwa para pemimpin infantri yang mengikuti pelatihan, secara signifikan memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk jatuh ke dalam perangkap pada skenario latihan dimana mereka melakukan penyerangan ke perkemahan pengungsi sipil.76
Review Sistem SA Menggunakan Lingkungan Yang Sebenarnya
Metode lain yang menarik lainnya yang digunakan dalam simulasi bagian anestesi adalah review sistem SA menggunakan lingkungan yang sebenarnya.66 Pelatihan ini terdiri dari alat pengukur perilaku yang menilai tindakan individu maupun tindakan tim, Alat pengukur komunikasi yang nantinya akan mengevaluasi komunikasi tim, dan alat tanya jawab SA yang memungkinkan penilaian langsung SA pada individu dan tim.77,78 Hasil penilaian akan ditampilkan setelah sesi pembekalan sehingga peserta nantinya mengerti sejauh mana mereka sudah bisa atau belum untuk membentuk SA selama kegiatan tersebut dan mengapa hal itu bisa terjadi. Pelatihan ini juga menggunakan metode tanya jawab yang lebih efektif terhadap pelatihan SA, pelatihan ini memiliki template tanya jawab yang bagus untuk para peserta dan mampu memberikan umpan balik positif. Walaupun alat yang digunakan pada metode pelatihan ini mendapat penilaian subjektif yang positif dari para peserta, akan tetapi belum divalidasi secara ekstensif.66
Pelatihan Prinsip
Hal-hal yang penting pada pelatihan prinsip 66 mencakup pelatihan tentang manajemen dan prioritas, perilaku self-checking, keterampilan dasar untuk menemukan informasi yang dibutuhkan, kesalahan SA yang sering dilakukan, kemampuan membagi perhatian, perilaku gawat darurat dan komunikasi yang merupakan bagian penting bagi tim SA, pengembangan alat peraga, dan umpan balik yang baik atau buruk peserta SA selama pelatihan yang berhubungan dengan ide-ide perbaikan, membuat alat peraga untuk mengembangkan tim SA secara langsung. Dan pelatihan tim untuk mengecek kemampuan SA mereka.
Peserta dituntut ke arah ancaman dan metode managemen kesalahan yang telah dikembangkan dengan tujuan untuk meningkatkan keselamatan penerbangan. Metode ini menggunakan kerangka kerja sehingga mudah memahami peran manusia dalam kompleks lingkungan yang dinamis dan mampu memberikan penjelasan tambahan yang mendukung prinsip-prinsip budaya keselamatan kerja.79
Penerapan di Anestesi
Penelitian yang telah dilakukan di bagian anestesi, 21 juga dari bagian lain seperti penerbangan, menunjukkan bahwa fokus pelatihan SA merupakan metode yang menjanjikan dalam hal peningkatan layanan kesehatan sehingga nantinya akan membentuk individu SA dan tim SA serta akan meningkatkan kinerja yang lebih baik selama perawatan pasien. Semua  metode tersebut tampaknya dapat diterapkan di bagian anestesi. Selain itu, bagian anestesi mempunyai pengalaman selama dua dekade dalam bidang pelayanan kesehatan tingkat tinggi kepada pasien dan teknik pembekalan yang diberikan merupakan sarana yang baik dalam pelatihan SA.
Metode ini lebih baik dibandingkan Pelatihan Manajemen Krisis Anestesi. Meskipun terdapat pembahasan tentang SA dan faktor penting lain dalam Pelatihan Manajemen Krisis Anestesi, pelatihan SA berfokus secara ekstensif pada pengembangan pengetahuan dasar dan keterampilan kognitif yang secara langsung dapat meningkatkan kemampuan SA. Langkah awal pelatihan SA di bagian anestesi terdiri dari  pelajaran teori tentang konsep SA, dengan demikian meningkatkan kepekaan dokter anestesi terhadap faktor-faktor yang membahayakan atau  dapat mengembangkan kemampuan SA. Untuk pelaksanaan pelatihan SA  pada pelatihan berbasis simulasi, pembekalan yang diberikan  harus fokus pada keterampilan dan perilaku yang berhubungan dengan SA.
teknik pelatihan berbasis komputer yang telah dibahas di atas dapat diadaptasi untuk penerapan SA dalam anestesi. Namun, penelitian yang detail dan sistematis  pada kasus biasa atau gawat darurat yang berkenaan dengan SA pada pelayanan kesehatan masih kurang. Oleh karena itu, pelaksanaan SA pada bidang tertentu dan sasaran pelatihan SA pada bagian anestesi masih membutuhkan cukup penelitian.
Menampilkan Perkembangan Pasien
Mengamati perkembangan pasien sangat penting terutama selama fase operasi, tetapi akan memakan banyak waktu dan merupakan hal yang rutin selama prosuder anestesi.9 Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya, pemantauan pasien akan memberikan banyak informasi yang diperlukan untuk mendapatkan SA yang akurat. Oleh karena itu, bidang ilmiah lain yang sangat menarik dan sedang berkembang membahas desain pemantauan perkembangan pasien.
Sampai saat ini, pemantauan perkembangan pasien secara rutin dan eksklusif berdasarkan pada desain sensor tunggal, indikator tunggal. Dengan tampilan seperti itu, bagian anestesi harus memantau beberapa variabel dan mengintegrasikan mereka secara mental untuk mendapatkan keadaan pasien  sekarang yang sebenarnya. Namun dengan kondisi seperti itu, bisa saja terjadi overloading terutama jika perhatian dan memori pemeriksa memiliki keterbatasan. Dengan demikian, penggunaan variabel tunggal dalam memonitor SA bisa saja memberikan hasil yang meragukan.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, maka dilakukan beberapa penelitian empiris untuk memperkuat SA dengan cara menyediakan alat pantau yang dapat memeriksa semua tindakan yang telah dilakukan, bukan saja SA. Pada tahun 2008, Gorges dan Staggers melakukan peninjauan untuk mengevaluasi alat pantau fisiologis. Melalui tinjauan tersebut ditemukan bahwa 18 dari 31 penelitian, yang fokus penelitiannya adalah mengevaluasi lamanya tindakan penolong untuk mendiagnosis atau waktu yang dibutuhkan untuk membuat keputusan medis, lebih mendukung penggunaan tampilan monitor terbaru jika dibandingkan dengan tampilan grafik atau suara. Akurasi diagnosis dan pembuatan keputusan klinis dapat diperbaiki dengan tampilan baru tersebut.
Dari penelitian terbaru, Charabati dkk membandingkan empat jenis tampilan desain grafis yang dapat digunakan untuk memantau sistem yang berhubungan dengan kedalaman analgesia, hypnosis, dan blokade neuromuskuler. Parameter utama penelitian ini adalah jumlah waktu yang dibutuhkan oleh dokter untuk melakukan pendeteksian dan verbalisasi grafik secara tepat, sedangkan parameter sekunder penelitian ini adalah beban kerja yang dinilai berdasarkan national Aeronautics and Space Administration Task Load index. Kombinasi angka dan grafik pada monitor, dapat memberikan waktu deteksi yang lebih singkat serta beban kerja yang lebih ringan. Tampilan monitor terbaru memiliki gambaran yang menyerupai tampilan monitor tradisional yang masih menggunakan satu jenis indikator sensor.
Pada penelitian lain, Liu dkk dan Sanderson dkk menginvestigasi pernanan tampilan audiotorik dan beberapa tampilan lainnya dalam situasi simulasi dan lingkungan operasi yang nyata. Tampilan audiotorik dapat meningkatkan kemampuan dalam mendeteksi berbagai situasi yang membahayakan, sedangkan tampilan lainnya tidak terlalu cepat dalam mendeteksi semua bahaya tersebut. Dokter anestesi yang menggunakan tampilan monitor yang terpasang di kepala lebih mudah terdistraksi sehingga lebih lambat dalam mendeteksi bahaya.
Zhang dkk membandingkan tampilan monitor indicator tinggal dengan tampilan monitor yang terintegrasi pada variabel hemodinamika berdasarkan fisiologi jantung. Ada empat jenis scenario uji yang tersedia pada monitor terintegrasi, yakni iskemia miokardial, aritmia, hipovolemia, dan bronkospasme. Zhang dkk tidak menemukan adanya superioritas tampilan monitor yang terintegrasi jika dibandingkan dengan tampilan monitor tradisional. Kemungkinan besar hal tersebut terjadi karena para pengguna tampilan terbaru masih belum familiar dengan alat tersebut. Oleh karena itu, proses pelatihan merupakan hal yang penting dalam penggunaan monitor jenis baru.
Kiefer dan Hoeft menyebutkan bahwa banyak penelitian yang mendukung penggunaan tampilan monitor terbaru karena waktu penggunaanya lebih singkat disbanding yang lama. Namun mereka menyarankan agar para pengguna monitor sebaiknya dilatih selama beberapa bulan dan melakukan uji tanpa bias. Endsley dan Jones merekomendasikan agar tampilan monitor tradisional (Data SA tingkat I) tetap digunakan sebagai tampilan yang terintegrasi, karena kita masih perlu memahami parameter secara individual sebelum mencari informasi lebih lagi.
Sintesis
SA yang baik merupakan salah satu hal penting dalam membuat keputusan klinis. SA yang baik akan meningkatkan kemampuan penolong dalam penatalaksanaan pasien selama tindakan anesthesia, perawatan intensif, dan kedokteran darurat. Sejauh ini, penelitian mengenai SA pada bidang anesthesia belum seintensif penelitian di bidang lainnya.  SA dapat berkembang menjadi lebih akurat, menyeluruh, dan progresif jika keahlian anesthesia dilibatkan dalam proses pengembangan tersebut. Keterampilan utama dalam SA hanya dapat diperoleh melalui pengalaman dan latihan. Salah satu tujuan utama pengembangan SA adalah meningkatkan kemampuan para penolong melalui latihan terfokus yang sesuai dengan keterampilan SA yang spesifik pada bidang tertentu, seperti anesthesia. Untuk pengembang program latihan formal, maka pertama-tama, kita harus mampu mengidentifikasi faktor-faktor anesthesia tertentu yang dapat mempengaruhi SA baik dalam kondisi penelitian maupun situasi klinis, sehingga program pelatihan dapat disusun secara tepat. Sudah ada banyak penelitian mengenai peranan SA dalam bidang anestesiologi, baik yang berupa simulasi maupun yang melibatkan lingkungan kerja yang nyata. Penelitian-penelitian tersebut menggunakan alat ukur yang bersifat langsung dan objektif dalam mengukur SA.
Perancangan sarana diagnostik dan pemantauan yang baik dapat meningkatkan penggunaan SA pada berbagai bidang. Melalui tinjauan ini, kami secara ringkas memfokuskan pada perancangan monitor pasien dan membahasa penelitian-penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan alat pemantau terbaru. Target utama pengembangan monitor terbaru adalah untuk mempermudah perkembangan SA. Penelitian dari bidang lain telah menunjukkan bahwa tampilan monitor dapat memberikan informasi secara langsung mengenai SA tingkat II dan  tingkat III, dengan begitu, beban kerja dan kesalahan dapat diminimalisasi. Dalam bidang anesthesia, data tingkat rendah dapat dikombinasikan dengan model yang berbasis fisiologi, sehingga kita dapat memperoleh tampilan hasil yang lebih baik (sebagai contoh, penggunaan informasi grafik dapat mengurangi beban kerja dokter anesthesia). Kita juga dapat menggunakan sensor tunggal yang dikombinasikan dengan model fisiologi manusia, dengan begitu, dokter bisa lebih mudah memantau keadaan pasien secara komprehensif.
Sebagai kesimpulan, SA harus dikenali sebagai salah satu komponen penting dalam membuat keputusan yang berhubungan langsung dengan tindakan medis. Beberapa keterampilan dan perilaku yang mempengaruhi SA telah dijelaskan pada berbagai penelitian. Semua temuan penelitian tersebut dapat diaplikasikan pada bidang anestesi. Hanya saja, belum ada yang spesifik membahas mengenai SA pada anesthesia. Dengan demikian, masih ada banyak ruang untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan SA dalam kondisi perioperatif, baik secara individual maupun secara tim. Semua keputusan yang kami buat pada SA didasarkan atas perkembangan dan evaluasi teknologi baru. Terakhir, beberapa metode latihan dari berbagai bidang lain yang sengaja dirancang untuk meningkatkan kemampuan SA, dapat diaplikasikan juga pada bidang anesthesia. 

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...