Senin, 29 April 2013

Walking in Mind

Berkelana dengan jalan kaki atau bersepeda. Sepertinya itu rencana yang terdengar bagus. Tanpa bergantung pada gaharnya mesin ber-oli. Hanya berserah pada sol sepatu dan tenaga tungkai. Terasa sekali nuansa kepecinta-alamannya. Menyapa warga pribumi dari pintu ke pintu. Mandi di sungai atau kolam taman kota. Buang hajat di toilet umum atau di alam terbuka. Tidur di warnet 24 jam atau emperan toko. Mengais makanan dari tempat sampah restoran atau ke walimahan dengan modal baju batik. Dikejar-kejar petugas kamtibmas.

Ini kisah seorang walky backpacker atau gembel, sih?
Whatever lah. Kata teman yang pernah keliling Indonesia gaya hidup seorang walky backpacker memang tidak jauh beda gembel. Yang membedakan keduanya hanyalah setangkup benda abstrak yang disebut kebanggaan. Walky backpacker akan sangat bangga menceritakan betapa "gembel"-nya hidup yang dia jalani saat berkelana. Temanku salah satu orang yang suka dengan kebanggaan itu. Mengelabui kamtibmas, mendapatkan makanan gratis, buang hajat tidak karuan, dan serangkaian tindak vandalisme sudah pernah dia lakukan saat berkelana.
Sedangkan gembel justru tidak mau hidup seperti itu. Kalau bisa, mereka justru ingin tukaran hidup dengan para walky backpacker yang telah mapan di dunia asalnya. Hidup gembel semaumu, tapi saya yang tidur di apartemenmu.

Kalau Anda menemukan ada lampu taman kota yang copot atau wc umum yang dipenuhi coretan di lingkungan Anda, mungkin saja temanku pelakunya. Sebetulnya, kalau untuk kondisi seperti itu, lebih baik saya pura-pura saja tidak mengenalnya. Seperti yang biasa dilakukan koruptor saat dipersidangan.
"Apa Anda mengenal saudara X?"
"Saudara X? Siapa itu, apa itu sejenis video?"

Karena jalan hidup seorang walky backpacker terlalu keras ketika diceritakan oleh temanku. Saya jadi pikir-pikir lagi untuk melakukannya. Saya jadi punya ide, kenapa saya tidak keliling Indonesia saja pakai balon udara? Atau sekalian pakai rumah terbang seperti di film Up. Tapi
kata teman, jumlah insidensi orang mati akibat naik balon udara lebih tinggi jika dibanding dengan orang mati ketika buang hajat dengan toilet terbang atau dikejar-kejar kamtibmas. Entah dari mana sumber statistiknya.

Nampaknya, perjalanan keliling dunia yang menyenangkan tanpa resiko memang hanya dapat dilakukan dalam pikiran.

Glosarium:
1. toilet terbang= buang hajat di kantung kresek lalu dilempar.
2. Kamtibmas = keamanan dan ketertiban masyarakat
3. Walky Backpacker = tukang pak barang di belakang yang suka jalan kaki

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...