Minggu, 26 Mei 2013

Kaki Bukit

Jika definisi bahagia adalah bisa hidup seperti Adele, Justin Bieber, Abdul Rizal Bakri, atau mungkin Arya Wiguna, maka saya tidak tertarik mengejarnya.
Mengejar kebahagiaan macam itu sepertinya telalu melelahkan.
Di dunia yang mengagungkan kebahagiaan manifest, kebahagiaan yang dapat terjamah, orang sepertiku hanya akan dianggap pemalas, tidak ingin maju, tidak punya mimpi. Whatever, lah.

Kalau memang bahagia adalah salah satu pencarian tertinggi dari umat manusia, maka kebahagiaan yang kucari adalah jenis kebahagiaan yang senyap.
Bisa bekerja di tempat yang damai, kemudian pulang ke rumah, bertemu keluarga, makan bersama, lalu tidur. Itu sudah cukup.

Saya tidak bisa membayangkan betapa kerasnya hidup yang dialami oleh Justin Bieber. Keliling dunia, bertemu pers, jumpa fans, lalu menyanyi, menari, nyaris tiap waktu habis bersama orang lain yang tidak dikenal. Tak ada waktu untuk menyendiri dan bersama orang yang kita percayai, hidup seperti itu bisa membuatku gila.

Sejak SD sampai kuliah, saya selalu berpikir, kenapa saya tidak bisa seperti orang lain, yang ingin liburan ke tempat-tempat baru, ke tempat yang mendapat bintang lima dari majalah tour and traveling, ke tempat-tempat yang kata orang menarik. Saya pernah mencoba menjadi seperti orang lain, liburan ke tempat highly recomended menariknya. Tapi begitu sampai di sana, saya merasa datar, dan berpikir, "di mana sisi menariknya tempat ini? Tinggal di rumah dan bikin rusuh sama adik sepertinya lebih menarik dari tempat ini." Sejak saat itu, saya tidak lagi berniat jalan-jalan.

Mereka bilang, orang sepertiku adalah tipikal Settler. Selamanya terus begitu, tidak akan pernah mencapai puncak. Mengapa harus mencapai puncak jika kita bisa hidup bersama keluarga yang menyayangi kita di kaki bukit? Biarlah mereka semua berlomba-lomba ke puncak, agar kaki bukit lebih tenang, lebih damai.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...