Rabu, 08 Mei 2013

Manusia Setengah Rusak

Saya mengenal beberapa orang yang suka sekali memakai kedok agama untuk menutupi kerusakannya, pengkhianatannya, kemunafikannya.
Beberapa dari mereka bangga sekali memamerkan ambivalensi tersebut. Yang lain, tetap sok suci. Seolah-olah mereka selalu benar. Tapi kenyataannya, rusak luar dalam. Mereka coba menutupinya dengan jilbab, rosario, wedha, tripitaka, dan jarah.

Apa sulitnya bersikap apa adanya? Tidak perlu sok alim di mulut tapi jahanam di perbuatan.

Lebih mudah berurusan dengan manusia yang delapan persembilan setan atau manusia standar daripada harus mengenal manusia setengah setan.

Pada manusia yang 8/9 setan, atau nyaris setan, kita bisa membuat antisipasi dalam bertindak. Karena semua perilaku mereka tidak ada yang subversif. Mereka tidak butuh kedok atau pencitraan. Sebab mereka serusak-rusaknya rusak. Beda dengan manusia yang hanya separuh setan. Semua tindakan mereka adalah kamuflase. Kita tidak pernah tahu kapan mereka jadi manusia atau setan. Sampai pada akhirnya mereka menusukmu dan kamu hanya bisa bilang, "Sun TV, saya tertipu. Katanya demi Tuhan, tapi ternyata setan."

nb:
kisah ini fiksi belaka.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...