Sabtu, 25 Mei 2013

Quantity Is Not The Matter, They Said.

Sepertinya saya sedang mengalami writter's block, suatu keadaan di mana seorang penulis tidak lagi menjadi dirinya sendiri ketika menulis. Dia lebih memilih menjadi sesuatu yang bukan dirinya, entah itu menjadi hewan, komunis, liberalis, nihilis, atau pluralis, atau yang lainnya. Karena menjadi hal lain, maka seringkali penulis berhenti menulis. Menanti momen yang tepat, nanti mood bagus, tunggu pemilu, kira-kira begitulah cara mereka lari mereka dari writer's block. Mereka tidak berdaya untuk menyingkirkan sawar itu. Banyak dari mereka yang terlena hingga akhirnya tak menulis lagi. Dan penulis amatir seperti saya, biasanya mati karya karena hal ini. Kita bosan menulis hal-hal yang menguras pikiran, lebih tertarik update status fb, ngetwit, perbahrui momen dll. Tak dapat dipungkiri, hal-hal macam itu lebih menarik dari blogging.

Penulis profesional juga sering mengalami kondisi yang sama. Hanya saja, mereka mampu meruntuhkan penghalang itu sebab hal tersebut wajib terjadi demi keberlangsungan karir dan kehidupan mereka. Apalagi di tengah maraknya pembajakan seperti sekarang ini, penulis yang tanpa karya baru bakalan terlindas zaman dan tak pernah muncul lagi.
Kecuali, kalau produk tulisan laku keras, terus diadaptasi jadi film, dipanggil acara talk show, dan tercebur selamanya di dunia macam itu. Tak lagi menulis karya inovatif tidak akan sampai membuat bangkrut. Toh, royalti jalan terus.

Ada beberapa penulis idealis yang dulunya suka mengkritik skenario sinetron. Katanya basi, monoton, norak. Dan saat diawal karir, mereka memang punya karya masterpiece. Namun begitu mereka juga terkenal dan ditawari jadi penulis skenario sinetron stripping, ujung-ujungnya, mereka justru menjadi sesuatu yang dulunya mereka benci. Mereka menulis skenario yang ternyata tidak jauh beda dengan pendahulunya. Writer's block.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...